Dunia perkuliahan sering kali dipersepsikan sebagai masa-masa paling emas dalam hidup.
Kampus bukan lagi sekadar tempat menuntut ilmu di dalam ruang kelas, melainkan arena seluas-luasnya untuk mengeksplorasi potensi diri.
Mulai dari bergabung dengan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa), kepanitiaan acara kampus, lomba tingkat nasional, magang di perusahaan ternama, hingga mengikuti program pertukaran mahasiswa ke luar negeri.
Namun, di balik melimpahnya kesempatan tersebut, ada satu bayang-bayang fenomena psikologis yang kian marak mengintai mahasiswa modern: Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal.
Ketika “Ikut-Ikutan” Menjadi Beban
Pernahkah kamu merasa cemas saat melihat Instastory teman seangkatan yang baru saja lolos magang di multinational company?
Atau merasa minder saat scroll LinkedIn dan melihat pencapaian orang lain yang berturut-turut?
Rasa cemas itu mendorong kita untuk mengambil semua kesempatan yang ada.
Senin sampai Jumat diisi dengan jadwal kuliah padat, malam harinya rapat organisasi hingga larut, akhir pekan diisi kegiatan sukarela (volunteer), sementara sela-sela waktu digunakan untuk mengejar deadline tugas.
Baca Juga: Fenomena FOMO dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Generasi Z
Keinginan untuk selalu ada di setiap tempat dan tidak ingin tertinggal tren karier justru menjadi pintu masuk utama menuju burnout (kelelahan fisik dan mental secara ekstrem).
Mahasiswa sering kali terjebak dalam prasangka bahwa “semakin sibuk, semakin produktif”.
Padahal, kesibukan yang didasari rasa takut tertinggal—bukan atas kesadaran dan kapasitas diri—hanya akan menguras energi tanpa memberikan makna yang substansial.
Tanda-Tanda Kamu Mulai Terjebak FOMO Kampus
Bagaimana mengetahui apakah aktivitasmu di kampus didasari oleh motivasi yang sehat atau sekadar FOMO? Coba refleksikan beberapa poin berikut:
- Menyebut “Ya” pada Semua Ajakan: Kamu sulit menolak tawaran masuk kepanitiaan atau proyek, meski sadar kapasitas waktumu sudah penuh.
- Belajar/Berorganisasi Demi Validasi: Fokus utamanya bukan lagi proses belajar, melainkan pengakuan sosial atau sekadar menambah deretan poin di CV.
- Cemas Saat Beristirahat: Ketika tidak ada kegiatan, kamu justru merasa bersalah dan menganggap dirimu “pemalas”.
- Penurunan Performa: Karena terlalu banyak hal yang dipegang, kualitas akademik dan kesehatan fisik justru mulai merosot.
Baca Juga: Burnout pada Mahasiswa: Ketika Tekanan Akademik Menggerus Kesehatan Mental Generasi Muda
Dari FOMO Menuju JOMO: Mengambil Alih Kendali
Merasa tertinggal adalah hal yang manusiawi. Namun, membiarkan rasa takut tersebut mengendalikan arah perkuliahanmu adalah langkah yang keliru.
Mahasiswa perlu belajar mengubah pola pikir dari FOMO menjadi JOMO (Joy of Missing Out)—yaitu kenyamanan dan kebahagiaan untuk fokus pada jalur hidup sendiri tanpa perlu mengkhawatirkan apa yang dilakukan orang lain.
Berikut beberapa langkah praktis yang bisa kamu terapkan:
1. Tentukan Skala Prioritas Utama
Perkuliahan adalah maraton, bukan lari sprint. Ketahui tujuan utamamu di kampus.
Jika fokus utamamu semester ini adalah memperbaiki IPK atau persiapan skripsi, maka batasi keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler.
2. Terapkan Digital Detox secara Berkala
Pemicu utama FOMO adalah media sosial. Cobalah untuk membatasi durasi penggunaan aplikasi seperti Instagram atau LinkedIn, terutama di jam-jam sebelum tidur.
Ingatlah bahwa apa yang ditampilkan orang lain di media sosial umumnya hanyalah highlight atau sisi terbaiknya saja.
Baca Juga: FOMO Berujung Toxic Productivity: Sisi Gelap Tren Study Account pada Media Sosial X
3. Belajar Berani Mengatakan “Tidak”
Menolak tawaran organisasi atau ajakan main bukanlah tanda bahwa kamu tidak suportif atau lemah.
Itu adalah bentuk batasan diri (boundaries) yang sehat untuk menjaga kesehatan mentalmu.
4. Hargai Proses dan Pacing Diri Sendiri
Setiap orang memiliki garis start dan garis finish yang berbeda.
Keberhasilan temanmu di satu bidang tidak mengurangi potensi keberhasilanmu di bidang yang lain.
Focus on your own growth!
Menjadi mahasiswa aktif dan berprestasi tentu hal yang membanggakan.
Namun, ingatlah bahwa kesehatan mental dan fisikmu adalah aset paling berharga.
Jangan sampai ambisi untuk meraih segalanya justru membuatmu kehilangan hal paling esensial dalam dinamika dunia kampus: proses menikmati pembelajaran itu sendiri.
Yuk, mulai selektif dalam memilih kegiatan dan beranikan diri untuk melangkah sesuai dengan ritmemu sendiri!
Penulis:
1. Amelia Vega (2422027)
2. Janesa Ndiparti Saputri (2422021)
3. Lea Putra Karuna (2322045)
Mahasiswa Universitas Katolik Musi Charitas
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













