Fenomena FOMO dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Generasi Z

gangguan kesehatan mental di era digital
Ilustrasi Generasi Z dan Media Sosial (Foto: Dok. Penulis)

Apa itu FOMO? FOMO adalah kecemasan sosial yang muncul dari keinginan untuk selalu mengikuti aktivitas orang lain, serta kekhawatiran melewatkan pengalaman seru.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis pada 2004, namun fenomenanya telah lama dikenal dalam psikologis sosial sebagai dorongan agar tidak ketinggalan zaman.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di era media sosial FOMO berkembang pesat didorong oleh algoritma yang membuat kita terus terusan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di mata kita.

Mengapa Gen Z paling rentan terhadap FOMO? Gen Z mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 adalah generasi pertama yang tumbuh bersama smartphone dan media sosial.

Kebutuhan sosial sangat tinggi pada masa remaja, sehingga tekanan untuk selalu update dan tidak tertinggal dari teman sebaya menjadi sangat kuat.

Data global menunjukkan sekitar 56% pengguna media sosial mengalami FOMO, dan di Indonesia 23,3% mahasiswa mengaku merasakannya.

Sajian konten selektif dan budaya oversharing memperkuat perasaan tidak cukup dan ketidakpuasan diri.

Di tengah banyaknya informasi dan tren yang silih berganti di media sosial, Generasi Z hidup dalam lingkaran kecemasan baru.

FOMO atau Fear of Missing Out, fenomena ini bukan sekedar rasa ingin tahu, melainkan kegelisahan karena takut tertinggal dari apa yang sedang ramai di dunia maya.

Setiap notifikasi, story, dan unggahan orang lain menjadi pemicu perasaan bahwa ada sesuatu yang lebih seru, lebih penting, dan lebih layak untuk diikuti dan jika tidak, kita merasa tertinggal.

Di era digital saat ini, tidak sulit menemukan remaja yang merasa gelisah ketika melihat teman temannya mengunggah aktivitas menarik di media sosial.

Mulai dari liburan, pencapaian akademik, hingga gaya hidup semua tersaji secara instan di layar smartphone.

Banyak dari mereka khawatir tidak cukup berharga dan takut kehilangan momen penting.

Contoh sederhana dapat dilihat ketika seseorang terus menerus membuka media sosial hanya untuk memastikan dirinya tidak ketinggalan tren atau aktivitas teman sekitarnya.

Bahkan, tidak jarang mereka memaksakan diri untuk ikut dalam suatu kegiatan, meskipun sebenarnya mereka tidak mempunyai minat atau kemampuan, hanya agar tetap dianggap “update”.

Hal ini menunjukkan bahwa tekanan sosial di dunia digital sangat memengaruhi perilaku Generasi Z.

Fenomena FOMO telah menjadi tantangan besar bagi kesehatan mental Generasi Z, didorong oleh budaya media sosial yang intens dan kebutuhan sosial yang tinggi. 

Dampaknya sangat luas, banyak penelitian dan pengamatan menunjukkan bahwa individu yang mengalami FOMO cenderung memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi, memicu perasaan tidak percaya diri yang bisa memperkuat rendahnya self-esteem, sulit merasa puas dengan diri sendiri dan mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain, mendorong kecanduan media sosial dan perilaku kompulsif.

Solusi dari literasi digital hingga peran keluarga sangat dibutuhkan untuk membangun generasi muda yang lebih sehat secara mental.

Selain itu penggunaan media sosial yang berlebihan akibat FOMO juga dapat mengganggu kualitas tidur.

Generasi Z yang harusnya berada pada fase produktif justru terjebak dalam siklus overthinking dan ketergantungan pada dunia digital.

Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menghambat perkembangan emosional dan sosial mereka.

Dari berbagai fenomena tersebut dapat disimpulkan bahwa FOMO merupakan salah satu tantangan nyata bagi kesehatan mental Generasi Z di era digital.

Oleh karena itu, penting bagi individu untuk mengelola penggunaan media sosial secara bijak, meningkatkan kesadaran diri, serta membangun rasa syukur terhadap apa yang dimiliki.

Dengan demikian, Generasi Z dapat tetap memanfaatkan teknologi tanpa harus terjebak dalam tekanan sosial yang merugikan.

Dengan edukasi, dukungan sosial, dan perubahan desain platform digital mari jadikan kesehatan mental generasi muda sebagai prioritas bersama.


Penulis: Devara Aryasta Harahap
Mahasiswa Prodi Akuntansi, Universitas Pamulang


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses