PKM UNPAM Praktik Mengelola Uang Saku dan Tantangan Belanja Pintar agar Tidak Boncos

Pengelolaan Uang Saku
PKM UNPAM Praktik Mengelola Uang Saku dan Tantangan Belanja Pintar agar Tidak Boncos. Sumber: Penulis.

Abstrak

Generasi muda saat ini rentan terhadap ancaman gaya hidup hedonisme dan perilaku konsumtif yang berdampak pada tingginya angka keterlibatan mereka dalam jeratan pinjaman online. Artikel ini menguraikan langkah preventif melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada edukasi literasi finansial dasar, yakni pengelolaan uang saku.

Pendekatan edukasi mencakup penanaman kesadaran akan pentingnya manajemen keuangan, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan semata, pembuatan rencana pengeluaran sederhana, serta pembentukan kebiasaan menabung secara konsisten. Melalui upaya ini, diharapkan generasi muda dapat membentengi diri dari arus materialisme dan tumbuh menjadi individu yang mandiri, bijak secara finansial, dan bertanggung jawab atas masa depannya.

Kata Pembuka

Sebagai wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kami menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada peningkatan literasi finansial generasi muda. Kegiatan edukasi ini dilaksanakan pada 25 April 2026 di Yayasan Berkah Qur’an Empati.

Pengelolaan Uang Saku

Di bawah arahan dosen pembimbing Rananda Septanta, S.E., M.Ak., saya, Ibnu Rayhan, bersama rekan-rekan saya, yaitu Adinda Putri, Fadhil Rizki Ibrahim, dan Siti Umu Kulsum, mengangkat tema “Edukasi Pengelolaan Uang Saku” sebagai langkah preventif untuk mencegah gaya hidup hedonisme dan perilaku konsumtif sejak dini.

Baca Juga: Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang Sosialisasikan Pentingnya Pencatatan Keuangan di PKBM Global Lentera Kasih

Pendahuluan

Gaya hidup adalah sebuah pola konsumsi yang merefleksikan pilihan seseorang tentang bagaimana mereka menghabiskan uang dan waktu. Perspektif pemasaran gaya hidup mengungkapkan bahwa orang menggolongkan diri berdasarkan hal yang mereka sukai dan bagaimana mereka memilih untuk menghabiskan sebagian pendapatan mereka.

Sayangnya, fenomena materialisme, pragmatisme, dan hedonisme makin menggejala dalam kehidupan bermasyarakat dan mengikis moralitas, khususnya pada generasi muda atau generasi milenial.

Jika dilihat secara bahasa, hedonisme berasal dari bahasa Yunani “Hedone” yang berarti kesenangan, di mana kebahagiaan hanya didapatkan dengan mencari kesenangan pribadi sebanyak-banyaknya. Tokoh utama pencetus paham ini adalah Aristippos dari Kyrene (433–355 SM) yang menjawab pertanyaan Sokrates bahwa tujuan hidup terbaik adalah “kesenangan”.

Kondisi hedonisme ini banyak ditemukan pada pelajar dan mahasiswa. Akibat dari sikap hedonisme tersebut adalah maraknya pinjaman online (pinjol) pada anak muda. Menurut data OJK, utang ke pinjol dilakukan oleh 18 juta warga Indonesia, dengan penerima pinjaman paling banyak berada pada rentang usia 19–24 tahun.

Menyadari urgensi tersebut, edukasi pengelolaan keuangan sejak dini melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menjadi sebuah langkah krusial untuk mencegah generasi muda jatuh ke dalam lubang pemborosan.

Baca Juga: Bekali Generasi Muda Hadapi Tantangan Finansial, Mahasiswa Universitas Pamulang Gelar Edukasi Manajemen Keuangan Pribadi

Urgensi Pengelolaan Uang Saku

Mengatur uang saku merupakan suatu keterampilan dasar yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, sering kali uang saku habis dalam waktu yang sangat singkat.

Terdapat pola pikir keliru di kalangan pelajar bahwa uang saku ditujukan hanya untuk dihabiskan karena akan selalu ada penerimaan berikutnya. Habisnya uang saku sebelum waktunya sering kali disebabkan oleh manajemen pengeluaran yang buruk serta kebiasaan membeli barang-barang kecil secara tidak sadar.

Oleh karena itu, pembelajaran mengenai pengelolaan uang saku sangat penting agar dana tersebut tidak cepat habis serta untuk menumbuhkan kebiasaan menabung yang membentuk karakter hemat dan mandiri.

Memahami Kebutuhan vs Keinginan

Tantangan utama dalam melawan arus konsumtif adalah kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan didefinisikan sebagai sesuatu yang esensial dan harus dipenuhi agar manusia dapat melangsungkan hidupnya, seperti makan, minum, dan tempat lain.

Di sisi lain, keinginan merupakan sesuatu yang diharapkan, tetapi ketiadaannya tidak akan mengganggu kelangsungan hidup secara signifikan.

Sebagai ilustrasi, makan pada waktu istirahat adalah sebuah kebutuhan, tetapi membeli minuman kekinian secara terus-menerus merupakan sebuah keinginan yang dipicu oleh godaan lingkungan.

Ajaran agama Islam juga melarang keras seseorang melakukan hal yang sia-sia, termasuk dalam menggunakan harta kekayaannya, yang mana kegiatan berkonsumsi harus dilihat dari kebutuhan dan manfaatnya. Oleh sebab itu, sangat penting untuk melatih pengendalian diri dengan mempertanyakan urgensi dari sebuah barang sebelum membelinya.

Baca Juga: Literasi Keuangan: Kunci bagi Investor Pemula dalam Memilih Reksadana Pasar Uang Secara Bijak

Perencanaan Keuangan dan Budaya Menabung

Langkah selanjutnya adalah menerapkan perencanaan keuangan yang sederhana dengan mengalokasikan uang saku ke dalam beberapa pos pengeluaran. Mencatat pengeluaran harian akan meningkatkan kesadaran bahwa pengeluaran dalam nominal kecil yang sering kali diabaikan justru merupakan faktor utama yang paling cepat menghabiskan anggaran.

Selain itu, membangun kebiasaan menabung adalah elemen krusial lainnya. Praktik menabung yang hanya mengandalkan sisa uang saku sering kali menghambat proses akumulasi dana.

Sebaliknya, penyisihan uang saku dalam jumlah kecil secara rutin setiap hari merupakan metode yang efektif untuk melatih konsistensi.

Kesimpulan

Pengelolaan uang saku sejak dini merupakan langkah fundamental untuk mencapai kebijaksanaan dalam mengatur keuangan. Melalui pemahaman akan perbedaan kebutuhan dan keinginan serta pembiasaan menabung, kebiasaan pemborosan dan sikap hedonisme dapat dihindari.

Tujuan utamanya adalah untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan kehidupan di masa depan dengan sikap yang mandiri dan penuh tanggung jawab.


Penulis:
1. Ibnu Rayhan (251011200653)
2. Adinda Putri (251011200655)
3. Fadhil Rizki Ibrahim (251011201564)
4. Siti Umu Kulsum (251011201568)
Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Rananda Septanta, S.E., M.Ak.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses