KKN Sisdamas UIN SGD Bandung Kelompok 04 Petakan Masalah, Potensi, dan Harapan Warga Desa Margamulya

KKN Sisdamas
Mahasiswa KKN Sisdamas UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kelompok 04 berfoto bersama warga Desa Margamulya usai pelaksanaan forum Rembug Tingkat Musyawarah (RTM). Kegiatan ini menjadi langkah awal pemetaan masalah, potensi, dan harapan warga dalam rangka penyusunan program pemberdayaan masyarakat berbasis metode Sisdamas. (Foto: Dok. Penulis)

Bandung, MMI — Sebagai bagian dari rangkaian Siklus 1 Program Sistem Pemberdayaan Masyarakat (Sisdamas), Kelompok 04 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung turun langsung ke tengah masyarakat Desa Margamulya, Kecamatan Pasirjambu (25/07/2026).

Melalui forum Rembug Tingkat Musyawarah (RTM) bersama warga, mahasiswa berhasil memetakan tiga hal penting, yaitu persoalan yang masih membelit warga, potensi tersembunyi yang siap digali, dan harapan besar yang ingin diwujudkan bersama.

Siklus 1 dalam metode Sisdamas dikenal sebagai tahap “mendengar”. Mahasiswa tidak datang membawa program siap pakai, melainkan duduk bersama warga, menyerap keluhan, dan menemukan kekuatan yang selama ini belum tergarap secara maksimal.

Dari proses itulah sejumlah temuan menarik muncul ke permukaan.

“Siklus I merupakan forum rembug warga yang bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan, potensi, dan harapan masyarakat. Hasil dari forum ini menjadi dasar dalam menyusun program kerja yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga,” ungkap Aeril selaku Ketua Kelompok 04.

KKN Sisdamas
Mahasiswa KKN Sisdamas UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kelompok 04 bersama warga Desa Margamulya menyusun peta sosial melalui forum Rembug Tingkat Musyawarah (RTM). Dalam kegiatan ini, warga mengidentifikasi berbagai persoalan, potensi, dan harapan sebagai dasar penyusunan program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (Foto: Dok. Penulis)

Gelapnya Gang dan Sampah Menumpuk: Persoalan yang Menunggu Solusi

Dari hasil rembug warga, setidaknya ada lima persoalan utama yang mengemuka. Penerangan jalan di sejumlah gang dinilai masih minim sehingga membuat aktivitas warga pada malam hari kurang nyaman dan rawan.

Persoalan sampah juga menjadi keluhan yang tak kalah serius. Warga mengaku kesulitan mengelola sampah rumah tangga karena belum tersedianya tempat pembuangan di setiap Rukun Tetangga (RT).

Selain itu, semangat gotong royong warga dirasa perlu dihidupkan kembali. Begitu pula sistem keamanan lingkungan (siskamling) yang belakangan mulai meredup aktivitasnya.

Dari Ubi Jalar hingga Kesenian Ngadengung: Potensi yang Menanti Sentuhan

Di balik berbagai persoalan tersebut, Desa Margamulya ternyata menyimpan potensi yang cukup menjanjikan. Tradisi ronda malam yang sempat vakum dinilai dapat dihidupkan kembali sebagai solusi atas melemahnya siskamling.

Baca Juga: Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia: Makna, Fungsi, dan Penerapannya

Dari sisi ekonomi, komoditas ubi jalar menjadi andalan warga yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih jauh, mulai dari diolah menjadi bolu ubi hingga camilan khas seperti rangginang beras.

Desa ini juga memiliki modal kuat di sektor pertanian, perikanan, serta potensi desa wisata dan home industry yang selama ini belum tergarap secara optimal.

Tidak hanya itu, kesenian tradisional ngadengung masih hidup di tengah masyarakat dan berpotensi menjadi identitas budaya sekaligus daya tarik desa.

Menariknya, isu sampah yang semula menjadi masalah justru dipandang sebagai peluang. Rencana pelatihan pemberdayaan sampah plastik pun mengemuka sebagai salah satu program potensial untuk mengubah limbah menjadi nilai ekonomi baru bagi warga.

Baca Juga: Pemuda Desa Sukamaju Ubah Sampah Plastik Menjadi Paving Block Bernilai Jual

Kompak, Bersih, dan Rukun: Harapan Warga untuk Margamulya

Dari seluruh proses penggalian data, harapan warga tergambar dengan jelas. Warga menginginkan kekompakan dalam mengelola sampah, lingkungan yang bersih, serta hasil pertanian yang terus meningkat.

Kerukunan antarwarga juga menjadi harapan yang berulang kali disampaikan, termasuk keinginan agar anak-anak semakin rajin mengaji sebagai bekal generasi muda desa.

Warga juga berharap adanya pengadaan tempat sampah di setiap RT serta kembali aktifnya kewajiban menjalankan siskamling sebagai bentuk kepedulian bersama dalam menjaga keamanan lingkungan.

Langkah Awal Menuju Perubahan

Pemetaan masalah, potensi, dan harapan ini menjadi pijakan penting bagi Kelompok 04 KKN Sisdamas UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam menyusun program kerja pada siklus-siklus selanjutnya.

Dengan melibatkan warga sejak tahap awal, diharapkan program yang lahir benar-benar berasal dari kebutuhan riil masyarakat Desa Margamulya, bukan sekadar program dari luar yang dipaksakan.

Ke depan, sinergi antara mahasiswa dan warga diharapkan mampu mengubah persoalan sampah dan minimnya penerangan menjadi kisah sukses pemberdayaan.

Selain itu, potensi ubi jalar, kesenian ngadengung, dan desa wisata Margamulya diharapkan dapat terangkat ke panggung yang lebih luas.

 


Penulis:
Peserta KKN Mitra Orda Kabupaten Bandung Kelompok 04, Desa Marga Mulya
Indah Ayudia
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
Alfina Az Zahra
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses