Meninggalkan rumah untuk kuliah di kota lain terdengar menyenangkan sampai akhirnya kamu benar-benar mengalaminya.
Tidak ada lagi suara orang tua yang membangunkan pagi hari, makanan rumah yang tersedia di meja, teman lama yang bisa ditemui kapan saja, atau kamar yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat paling nyaman.
Sebagai gantinya, kamu harus menghadapi kamar kos baru, teman-teman yang belum dikenal, jadwal kuliah yang berbeda, tugas yang mulai berdatangan, dan lingkungan yang mungkin terasa asing.
Pada kondisi seperti inilah homesick sering muncul.
Kamu mungkin tiba-tiba ingin pulang, lebih sering memikirkan keluarga, merasa kesepian meskipun sedang bersama banyak orang, atau kehilangan semangat menjalani aktivitas di tempat baru.
Perasaan seperti ini bukan pengalaman yang hanya dialami satu atau dua mahasiswa.
Penelitian Siti Azzahra Sumayya, Mirna Nur Alia Abdullah, dan Muhammad Retsa Rizaldi Mujayapura dari Universitas Pendidikan Indonesia menyebut homesickness sebagai fenomena yang umum dialami mahasiswa baru, khususnya mereka yang harus meninggalkan keluarga dan daerah asal untuk menempuh pendidikan di kota lain.
Lalu, apa yang bisa kamu lakukan ketika mulai merasa homesick?
1. Jangan Buru-Buru Menganggap Ada yang Salah dengan Dirimu
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan.
Homesick bukan sekadar ingin pulang ke rumah.
Penelitian Trinanda Linggayuni Istanto dan Agustina Engry dalam EXPERIENTIA: Jurnal Psikologi Indonesia menjelaskan homesickness sebagai tekanan yang muncul akibat perpisahan dari rumah ketika seseorang berada di lingkungan baru. Kondisi ini sering terjadi pada mahasiswa rantau, terutama ketika menjalani tahun pertama perkuliahan.
Kamu mungkin bukan hanya merindukan bangunan bernama rumah.
Hal yang dirindukan bisa berupa masakan orang tua, suasana kamar, teman lama, hewan peliharaan, kebiasaan makan bersama keluarga, atau sekadar perasaan bahwa kamu mengenal semua yang ada di sekitarmu.
Sekarang hampir semuanya berubah.
Karena itu, berikan kesempatan kepada diri sendiri untuk beradaptasi.
Tidak perlu memaksakan diri harus langsung merasa betah hanya karena teman kosmu terlihat sudah mempunyai banyak teman.
Setiap orang mempunyai proses adaptasi yang berbeda.
2. Mulai Bangun Rutinitas di Tempat Baru
Salah satu hal yang hilang ketika mahasiswa pindah dari rumah adalah rutinitas yang selama ini terasa biasa.
Dahulu mungkin ada jam makan bersama keluarga, waktu berangkat sekolah, tempat membeli makanan favorit, atau kegiatan rutin bersama teman.
Ketika pindah ke kos, sebagian besar pola tersebut berubah.
Cobalah membangun rutinitas baru secara perlahan.
Mulai dari hal sederhana: bangun pada waktu yang relatif sama, sarapan sebelum kuliah, membereskan kamar, menentukan waktu belajar, berolahraga, atau mencari tempat makan yang nyaman di sekitar kampus.
Rutinitas membuat lingkungan yang awalnya asing perlahan terasa lebih familiar.
Kamu tidak harus memenuhi jadwal dengan kegiatan dari pagi sampai malam. Sisakan waktu untuk beristirahat dan melakukan sesuatu yang kamu sukai.
Tujuannya bukan membuat diri sibuk agar lupa rumah, tetapi membangun kehidupan baru yang terasa nyaman untuk dijalani.
3. Tetap Hubungi Keluarga, tetapi Berikan Ruang untuk Kehidupan Barumu
Ketika rindu rumah datang, keinginan pertama biasanya mengambil ponsel dan menelepon keluarga.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Bercerita tentang kuliah, menanyakan kabar orang tua, atau sekadar melihat suasana rumah melalui video call dapat membantu menjaga hubungan ketika kamu berada jauh.
Namun, jangan sampai seluruh kehidupanmu di tempat baru hanya dihabiskan untuk menunggu kesempatan pulang atau terus memikirkan kehidupan di rumah.
Tidak ada aturan bahwa mahasiswa hanya boleh menelepon orang tua sekali sehari atau beberapa kali seminggu. Kebutuhan setiap orang berbeda.
Yang lebih penting adalah mencari pola komunikasi yang membuatmu merasa didukung tanpa membuatmu menutup diri dari lingkungan baru.
Setelah menelepon keluarga, cobalah kembali menjalani aktivitasmu: makan bersama teman kos, mengerjakan tugas di perpustakaan, berjalan-jalan mengenal lingkungan kampus, atau berbicara dengan teman sekelas.
Rumah tetap menjadi bagian penting dari hidupmu. Namun, pada saat yang sama, kamu sedang membangun kehidupan baru.
4. Jangan Menghadapi Homesick Sendirian
Salah satu cara yang dapat membantu mahasiswa rantau menghadapi homesick adalah mempunyai orang lain yang bisa diajak berbicara.
Tidak harus langsung mempunyai banyak teman.
Satu atau dua teman yang membuatmu nyaman bercerita sudah dapat menjadi awal yang baik.
Hal ini juga didukung penelitian di Indonesia.
Rohmatun dalam penelitian terhadap mahasiswa Departemen Teknologi Industri Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro menemukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dan homesickness. Artinya, semakin baik dukungan sosial yang diperoleh mahasiswa dari teman sebaya, kecenderungan homesickness ditemukan semakin rendah.
Temuan serupa muncul dalam penelitian Sherly Khoirun Nikmatis Stani dan Zamroni terhadap 120 mahasiswa rantau di Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
Penelitian tersebut menyimpulkan:
“Semakin tinggi tingkat dukungan sosial yang diterima, maka semakin rendah tingkat homesickness.”
Sumber: Jurnal Takaya Universitas Islam Sultan Agung
Kamu bisa mulai membangun hubungan sosial dari lingkungan yang paling dekat.
Ajak teman sekelas makan setelah kuliah. Belajar bersama sebelum ujian. Mengobrol dengan teman kos. Ikut komunitas sesuai hobi.
Tidak perlu memaksakan diri menjadi mahasiswa yang mempunyai banyak teman.
Yang dibutuhkan adalah hubungan sosial yang membuatmu merasa mempunyai tempat untuk berbagi.
5. Buat Kamar Kos Terasa seperti Ruang Milikmu
Jangan meremehkan kenyamanan kamar kos.
Kamu mungkin akan menghabiskan cukup banyak waktu di sana selama kuliah. Karena itu, kamar yang awalnya terasa seperti tempat asing perlu perlahan diubah menjadi ruang yang nyaman.
Tidak harus melakukan dekorasi mahal.
Kamu bisa membawa foto keluarga, buku favorit, bantal dari rumah, tanaman kecil, atau benda sederhana yang mempunyai arti personal.
Setelah itu, kenali lingkungan di sekitar tempat tinggalmu.
Cari tempat makan yang cocok, minimarket, laundry, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, tempat olahraga, halte, perpustakaan, atau kedai kopi yang nyaman untuk mengerjakan tugas.
Semakin mengenal lingkungan, semakin sedikit hal yang terasa asing.
Suatu saat mungkin kamu akan menyadari bahwa jalan dari kos menuju kampus yang dahulu terasa asing sudah menjadi rute yang bisa ditempuh tanpa berpikir.
Adaptasi sering kali berlangsung melalui perubahan-perubahan kecil seperti itu.
6. Berikan Kesempatan pada Diri Sendiri untuk Mencoba Hal Baru
Kuliah bukan hanya tentang berpindah dari ruang kelas sekolah ke ruang kelas universitas.
Kampus menawarkan lingkungan yang jauh lebih luas.
Ada organisasi mahasiswa, komunitas olahraga, kelompok penelitian, kegiatan seni, organisasi daerah, kegiatan sosial, hingga berbagai komunitas berdasarkan minat tertentu.
Kamu tidak harus mengikuti semuanya.
Pilih kegiatan yang memang membuatmu tertarik.
Bergabung dengan komunitas juga dapat membuka kesempatan bertemu orang-orang yang mempunyai minat serupa.
Hal tersebut penting karena dukungan sosial memang berhubungan dengan proses adaptasi mahasiswa baru.
Penelitian Uthia Estiane yang melibatkan 203 mahasiswa baru Universitas Airlangga menemukan adanya pengaruh dukungan sosial sahabat terhadap penyesuaian sosial mahasiswa baru di lingkungan perguruan tinggi.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa pemilihan sumber dukungan sosial yang baik dapat membantu mahasiswa baru menyesuaikan diri secara sosial dengan lingkungan perguruan tinggi.
Jadi, mencoba aktivitas baru bukan sekadar cara mengalihkan pikiran dari rumah.
Aktivitas tersebut juga dapat menjadi pintu untuk menemukan lingkungan sosial baru yang membuat kehidupan kampus terasa lebih menyenangkan.
7. Cari Bantuan Jika Homesick Sudah Mengganggu Kehidupan Sehari-hari
Homesick biasanya dapat berkurang seiring seseorang semakin mengenal dan merasa nyaman dengan lingkungan barunya.
Namun, jangan mengabaikannya apabila perasaan tersebut semakin berat.
Perhatikan apakah kamu mulai kehilangan minat melakukan aktivitas, terus menghindari interaksi sosial, kesulitan mengikuti perkuliahan, mengalami perubahan tidur atau makan yang mengganggu, atau merasa tekanan emosional berlangsung terus-menerus.
Pada kondisi seperti itu, tidak perlu memaksakan diri menyelesaikan semuanya sendirian.
Cari tahu apakah kampus menyediakan layanan konseling mahasiswa. Kamu juga dapat berbicara dengan dosen pembimbing akademik atau orang yang dipercaya untuk membantu menemukan layanan yang sesuai.
Jika diperlukan, kamu dapat berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan profesional.
Mencari bantuan bukan berarti kamu gagal menjadi mahasiswa rantau. Justru kamu sedang mengambil tindakan ketika menyadari bahwa ada kondisi yang mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Homesick Tidak Harus Membuatmu Membenci Kehidupan di Perantauan
Ketika baru beberapa minggu tinggal jauh dari keluarga, satu semester bisa terasa sangat panjang.
Kamu mungkin sering menghitung berapa hari lagi menuju libur semester.
Itu tidak masalah.
Namun, jangan sampai terlalu sibuk menunggu waktu pulang sehingga melewatkan kehidupan yang sedang berlangsung di depanmu.
Kenali teman-teman baru. Jelajahi lingkungan kampus. Cari makanan favorit baru. Ikuti kegiatan yang menarik. Belajar mengatur uang sendiri. Sesekali tersesat ketika mencari ruang kuliah pun nantinya bisa menjadi cerita.
Rumah tidak akan kehilangan artinya hanya karena kamu mulai nyaman di tempat lain.
Justru proses merantau dapat membuatmu mempunyai dua tempat yang berarti: rumah yang selalu dirindukan dan lingkungan baru tempat kamu belajar menjadi lebih mandiri.
Kesimpulan
Homesick merupakan pengalaman yang dapat muncul ketika mahasiswa harus meninggalkan keluarga dan lingkungan yang selama ini familiar.
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan penting dengan homesickness dan proses penyesuaian mahasiswa. Penelitian terhadap mahasiswa rantau Universitas Islam Sultan Agung menemukan bahwa semakin tinggi dukungan sosial, semakin rendah homesickness. Penelitian terhadap mahasiswa Universitas Diponegoro juga menemukan hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dan homesickness.
Karena itu, cara mengatasi homesick tidak harus selalu berupa strategi yang rumit.
Mulailah dari membangun rutinitas, tetap berkomunikasi dengan keluarga, mengenal lingkungan baru, mencari teman yang nyaman, mengikuti kegiatan yang kamu sukai, dan memberikan waktu kepada diri sendiri untuk beradaptasi.
Jika kondisi tersebut sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan profesional.
Kamu tidak perlu berhenti merindukan rumah agar bisa menikmati kehidupan sebagai mahasiswa. Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk tetap menjalani kehidupan di tempat baru meskipun rumah tetap menjadi tempat yang selalu ingin kamu kunjungi.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















