Internet membuat mahasiswa semakin mudah menemukan informasi. Cukup mengetik beberapa kata kunci di mesin pencari, berbagai artikel, berita, jurnal, blog, hingga unggahan media sosial dapat ditemukan dalam hitungan detik.
Kemudahan tersebut membantu proses belajar, tetapi sekaligus menghadirkan persoalan baru: tidak semua informasi yang tersedia di internet memiliki tingkat kredibilitas yang sama.
Sebuah artikel dapat terlihat profesional, berada di halaman pertama mesin pencari, atau ditulis dengan bahasa yang meyakinkan. Namun, hal tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa informasi di dalamnya akurat dan layak dijadikan referensi.
Kemampuan mengevaluasi informasi merupakan bagian penting dari literasi media dan informasi. UNESCO menempatkan kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis sebagai kompetensi penting dalam menghadapi lingkungan informasi digital.
Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah sebuah media online layak dijadikan referensi?
Media Online Tidak Otomatis Menjadi Sumber Akademik
Hal pertama yang perlu dipahami mahasiswa adalah perbedaan antara sumber informasi dan sumber akademik.
Media online dapat memberikan informasi mengenai suatu peristiwa, kebijakan, fenomena sosial, perkembangan teknologi, ekonomi, pendidikan, maupun berbagai isu aktual lainnya.
Namun, artikel media online tidak otomatis memiliki kedudukan yang sama dengan jurnal ilmiah, buku akademik, laporan penelitian, atau publikasi resmi lembaga pemerintah.
UNESCO membedakan sumber informasi menjadi sumber primer, sekunder, dan tersier. Jurnal penelitian, laporan penelitian, data statistik asli, dan hasil penelitian dapat menjadi sumber primer. Artikel jurnalistik dapat berfungsi sebagai sumber sekunder ketika merangkum atau mengutip informasi dari sumber lainnya.
Karena itu, kelayakan sebuah sumber sangat bergantung pada tujuan penggunaannya.
Jika mahasiswa sedang membahas peristiwa aktual, pemberitaan media dapat menjadi referensi yang relevan. Namun, jika membutuhkan landasan teori atau bukti ilmiah, jurnal akademik dan penelitian biasanya lebih tepat digunakan.
1. Periksa Identitas Media
Langkah pertama adalah mengetahui siapa yang menerbitkan informasi tersebut.
Media yang memiliki pengelolaan jelas biasanya menyediakan informasi mengenai organisasi atau pihak yang bertanggung jawab terhadap penerbitan konten.
Kamu dapat memeriksa halaman seperti:
- Tentang Kami;
- Redaksi;
- Kontak;
- Pedoman Media Siber;
- Kebijakan Privasi; dan
- informasi mengenai perusahaan atau organisasi penerbit.
Identitas tersebut membantu pembaca mengetahui pihak yang bertanggung jawab terhadap informasi yang diterbitkan.
Dalam konteks pers Indonesia, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 mendefinisikan perusahaan pers sebagai badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers, termasuk perusahaan media cetak, elektronik, kantor berita, dan perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan atau menyalurkan informasi.
Namun, identitas penerbit tetap bukan satu-satunya indikator kualitas sebuah artikel. Isi dan sumber informasi yang digunakan juga harus diperiksa.
2. Periksa Siapa Penulis Artikelnya
Identitas penulis menjadi salah satu aspek yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kredibilitas informasi.
Perhatikan apakah artikel mencantumkan nama penulis, editor, atau pihak yang bertanggung jawab terhadap konten.
Jika tersedia profil penulis, kamu juga dapat memeriksa latar belakang dan kompetensinya.
Hal ini menjadi semakin penting ketika artikel membahas bidang khusus seperti kesehatan, hukum, keuangan, pendidikan, teknologi, atau ilmu pengetahuan.
UNESCO memasukkan penulis dan penerbit sebagai elemen yang perlu diperhatikan ketika mengevaluasi reliabilitas sebuah sumber informasi.
Namun, nama penulis terkenal juga tidak berarti seluruh tulisannya harus diterima tanpa pemeriksaan. Argumen dan informasi tetap perlu dinilai berdasarkan bukti yang digunakan.
3. Perhatikan Sumber yang Digunakan dalam Artikel
Artikel yang kredibel seharusnya memungkinkan pembaca mengetahui dasar dari informasi yang disampaikan.
Misalnya, sebuah artikel menyebut:
“Jumlah mahasiswa di Indonesia mengalami peningkatan.”
Pertanyaan berikutnya adalah: berdasarkan data siapa?
Informasi tersebut akan lebih mudah diverifikasi jika artikel menyebut sumber seperti data pemerintah, perguruan tinggi, laporan penelitian, jurnal ilmiah, atau lembaga yang memiliki kompetensi pada bidang tersebut.
Sebaliknya, kamu perlu lebih berhati-hati terhadap klaim seperti:
“Berdasarkan penelitian…”
“Menurut para ahli…”
“Data menunjukkan…”
jika artikel sama sekali tidak menjelaskan penelitian, ahli, atau data yang dimaksud.
Semakin penting sebuah klaim, semakin penting pula pembaca mengetahui sumber yang mendasarinya.
4. Periksa Tanggal Publikasi dan Pembaruan
Informasi dapat berubah.
Artikel mengenai teknologi, biaya pendidikan, peraturan pemerintah, beasiswa, pajak, harga produk, kesehatan, atau kebijakan publik dapat menjadi tidak akurat jika menggunakan informasi lama.
Karena itu, perhatikan tanggal publikasi dan, apabila tersedia, tanggal pembaruan artikel.
UNESCO juga memasukkan kemutakhiran informasi sebagai salah satu unsur dalam mengevaluasi relevansi dan reliabilitas sumber.
Artikel lama bukan berarti tidak berguna. Artikel tersebut mungkin tetap relevan untuk memahami sejarah atau perkembangan suatu persoalan.
Namun, jika digunakan untuk menjelaskan kondisi terkini, informasi lama sebaiknya dibandingkan dengan sumber terbaru.
5. Bedakan Fakta, Pendapat, dan Interpretasi
Salah satu kemampuan penting dalam membaca media adalah membedakan fakta dari opini.
Perhatikan kalimat berikut:
“Universitas A memiliki 25.000 mahasiswa.”
Pernyataan tersebut dapat diperiksa melalui data.
Bandingkan dengan:
“Universitas A merupakan kampus terbaik untuk mahasiswa.”
Pernyataan kedua mengandung penilaian yang membutuhkan kriteria tertentu.
Masalah muncul ketika opini disampaikan seolah-olah merupakan fakta.
Kata seperti terbaik, paling bagus, paling terpercaya, termurah, paling berkualitas, paling aman, dan sejenisnya seharusnya memiliki dasar yang dapat diperiksa apabila digunakan sebagai klaim faktual.
Pembaca perlu mengetahui apakah suatu pernyataan berasal dari data, pengalaman pribadi, analisis penulis, atau materi promosi.
6. Periksa Apakah Artikel Memiliki Kepentingan Komersial
Tidak semua artikel di internet diterbitkan semata-mata untuk tujuan jurnalistik atau pendidikan.
Sebagian konten dibuat untuk pemasaran, kerja sama komersial, advertorial, afiliasi, atau promosi produk dan layanan tertentu.
Keberadaan kepentingan komersial tidak otomatis membuat informasi salah. Namun, pembaca perlu mengetahuinya agar dapat memahami konteks artikel.
Misalnya, artikel yang membahas sebuah produk kemudian mengarahkan pembaca membeli produk tersebut memiliki konteks berbeda dengan penelitian independen yang membandingkan beberapa produk berdasarkan metodologi tertentu.
Karena itu, perhatikan apakah artikel memberikan informasi secara proporsional atau justru berulang kali mengarahkan pembaca menuju produk, perusahaan, maupun layanan tertentu.
7. Jangan Menilai Kredibilitas Hanya dari Tampilan Website
Website dengan desain profesional belum tentu memiliki informasi berkualitas.
Sebaliknya, website milik institusi pendidikan atau peneliti terkadang memiliki desain sederhana tetapi memuat data yang sangat bernilai.
Elemen visual seperti logo, desain modern, foto berkualitas tinggi, sertifikat yang ditampilkan, atau jumlah pengikut media sosial sebaiknya tidak dijadikan indikator utama kredibilitas.
Fokus utama tetap pada:
siapa yang menerbitkan informasi, siapa yang menulisnya, apa sumbernya, kapan diterbitkan, dan apakah klaimnya dapat diverifikasi.
8. Bandingkan Informasi dengan Sumber Lain
Salah satu cara paling sederhana untuk menguji informasi adalah melakukan cross-check.
Jangan langsung mempercayai sebuah klaim hanya karena muncul pada satu website.
Cari informasi serupa melalui sumber lain yang independen.
Misalnya, jika sebuah artikel membahas perubahan kebijakan pemerintah, periksa juga website kementerian atau lembaga pemerintah terkait.
Jika artikel membahas hasil penelitian, cari penelitian aslinya.
Jika membahas statistik, cari sumber data primernya.
Jika membahas peristiwa aktual, bandingkan pemberitaan dari beberapa media.
Penelitian mengenai jurnalisme media online juga menempatkan verifikasi fakta sebagai aspek penting untuk mengatasi persoalan akurasi pemberitaan.
9. Waspadai Judul yang Terlalu Sensasional
Judul dibuat untuk membantu pembaca memahami isi artikel. Namun, dalam praktiknya, sebagian website menggunakan judul yang sangat provokatif untuk mendapatkan klik.
Misalnya:
“FAKTA MENGEJUTKAN yang Tidak Pernah Kamu Ketahui!”
atau:
“Nomor 5 Bikin Kamu Tidak Percaya!”
Judul seperti itu tidak otomatis menunjukkan informasi palsu, tetapi sebaiknya membuat pembaca lebih kritis.
Bandingkan judul dengan isi artikel.
Apakah isi benar-benar mendukung klaim pada judul? Apakah terdapat data yang memadai? Apakah konteks informasi dijelaskan?
Jangan hanya membaca judul sebelum menyimpulkan atau membagikan informasi.
10. Telusuri Sumber Primer Jika Memungkinkan
Media online sering berfungsi sebagai perantara informasi.
Misalnya, sebuah media memberitakan hasil survei dari lembaga tertentu. Jika informasi tersebut akan digunakan dalam tugas akademik, akan lebih baik jika mahasiswa mencari laporan survei aslinya.
Prinsip yang sama berlaku untuk:
Media → laporan penelitian → penelitian asli.
atau:
Media → pernyataan pemerintah → dokumen resmi pemerintah.
Semakin dekat sumber yang digunakan dengan informasi asli, semakin mudah mahasiswa memeriksa konteks dan keakuratannya.
Apakah Media Online Boleh Digunakan untuk Tugas Kuliah?
Jawabannya: boleh, tergantung tujuan dan jenis informasi yang dibutuhkan.
Media online dapat berguna untuk mencari informasi mengenai peristiwa aktual, pernyataan tokoh, perkembangan kebijakan, fenomena masyarakat, atau bahan awal untuk memahami suatu isu.
Namun, untuk pembahasan akademik yang membutuhkan teori, metodologi, atau bukti ilmiah, mahasiswa sebaiknya memprioritaskan sumber seperti:
- jurnal ilmiah;
- buku akademik;
- laporan penelitian;
- publikasi perguruan tinggi;
- data statistik resmi;
- dokumen pemerintah; dan
- publikasi lembaga yang memiliki kompetensi pada bidang terkait.
Media online dapat digunakan sebagai pelengkap, bukan selalu sebagai sumber utama.
Gunakan Pertanyaan Sederhana Ini sebelum Mengutip
Sebelum memasukkan sebuah artikel internet ke tugas kuliah, tanyakan:
- Siapa yang menulis?
- Siapa yang menerbitkan?
- Kapan diterbitkan?
- Dari mana datanya berasal?
- Apakah klaimnya dapat diverifikasi?
- Apakah ada kepentingan komersial?
- Apakah sumber lain mengatakan hal yang sama?
- Apakah ada sumber primer yang lebih baik?
Jika sebagian besar pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab, sebaiknya cari sumber lain.
Kredibel Bukan Berarti Harus Selalu Dipercaya
Tidak ada sumber informasi yang seharusnya diterima secara otomatis tanpa evaluasi.
Media besar dapat melakukan kesalahan. Institusi dapat memperbarui data. Penelitian dapat memiliki keterbatasan. Penulis dapat memiliki perspektif tertentu.
Karena itu, literasi informasi bukan sekadar kemampuan menentukan website mana yang “terpercaya” dan mana yang “tidak terpercaya”.
Kemampuan yang lebih penting adalah mengetahui bagaimana sebuah informasi harus diperiksa.
Data Kominfo mengenai literasi digital Indonesia pada 2022, misalnya, menunjukkan hanya sekitar 47,8 persen responden yang menyatakan mengecek informasi berupa gambar, video, berita, situs, atau unggahan media sosial yang mereka terima.
Kebiasaan melakukan verifikasi menjadi semakin penting ketika jumlah sumber informasi digital terus bertambah.
Kesimpulan
Media online dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi kelayakannya sebagai referensi tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan tampilan website, popularitas, posisi di mesin pencari, atau gaya penulisannya.
Periksa identitas penerbit dan penulis, sumber data, tanggal publikasi, konteks informasi, kemungkinan kepentingan komersial, serta kesesuaian informasi dengan sumber lain.
Untuk kebutuhan akademik, prioritaskan sumber primer dan sumber ilmiah ketika tersedia. Media online dapat digunakan untuk melengkapi informasi, terutama ketika membahas perkembangan aktual.
Pada akhirnya, pertanyaan yang sebaiknya diajukan bukan hanya “Apakah media ini terpercaya?”, tetapi juga “Apakah informasi dalam artikel ini dapat diverifikasi dan tepat digunakan untuk kebutuhan saya?”
Kebiasaan tersebut membantu mahasiswa menjadi pembaca yang lebih kritis sekaligus mengurangi risiko menggunakan informasi yang tidak akurat sebagai dasar tugas, penelitian, maupun pengambilan keputusan.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














