Dampak Pelemahan Rupiah dan Kepercayaan Investor terhadap Kinerja Investasi Saham di Indonesia

Kinerja Investasi Saham

Abstract

This study aims to analyze the impact of the depreciation of the Indonesian rupiah exchange rate and investor confidence on the performance of stock investments in Indonesia. The rupiah exchange rate is one of the key macroeconomic indicators that plays an important role in influencing the capital market because exchange rate fluctuations affect corporate production costs, profitability, foreign capital flows, and investment decisions.

In addition, investor confidence is a crucial factor in maintaining stock market stability, as investors’ perceptions of economic conditions, government policies, and future economic prospects significantly influence investment interest and stock price movements. The depreciation of the rupiah in recent periods has generated various responses in the stock market, particularly among companies that depend heavily on imported raw materials and foreign currency financing. At the same time, declining investor confidence may trigger stock sell-offs, increase market volatility, and encourage capital outflows.

This study employs a quantitative approach using a descriptive analytical method to examine the relationship between the rupiah exchange rate, investor confidence, and stock investment performance, as reflected in stock price movements and the Composite Stock Price Index (CSPI). The analysis is based on exchange rate theory, stock investment theory, and investor behavior theory, supported by previous empirical studies.

The findings indicate that the depreciation of the rupiah tends to have a negative impact on stock investment performance, particularly for companies that rely on imported raw materials and foreign currency financing. Conversely, export-oriented companies may benefit from higher revenues when foreign currency earnings are converted into rupiah. The study also finds that investor confidence can either strengthen or weaken the impact of rupiah depreciation on the stock market.

Therefore, exchange rate stability and strong investor confidence are essential factors in maintaining the performance of Indonesia’s capital market. The government is expected to maintain macroeconomic stability through consistent and transparent policies to create a favorable investment climate and support sustainable capital market growth.

Keywords: Rupiah Depreciation, Investor Confidence, Stock Investment, Composite Stock Price Index (CSPI), Capital Market.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pelemahan nilai tukar rupiah dan kepercayaan investor terhadap kinerja investasi saham di Indonesia. Nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator ekonomi makro yang memiliki peran penting dalam memengaruhi kondisi pasar modal karena perubahan kurs dapat berdampak pada biaya produksi perusahaan, profitabilitas, arus modal asing, serta keputusan investasi.

Selain itu, kepercayaan investor menjadi faktor yang sangat menentukan dalam menjaga stabilitas pasar saham karena persepsi investor terhadap kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, dan prospek pertumbuhan ekonomi akan memengaruhi minat investasi serta pergerakan harga saham. Pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa periode terakhir menimbulkan berbagai respons di pasar saham, terutama pada perusahaan yang memiliki ketergantungan terhadap impor maupun pembiayaan dalam mata uang asing. Di sisi lain, menurunnya kepercayaan investor dapat memicu aksi jual saham, meningkatkan volatilitas pasar, serta mendorong terjadinya arus keluar modal (capital outflow).

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif analitis melalui kajian terhadap hubungan antara pergerakan nilai tukar rupiah, kepercayaan investor, dan kinerja investasi saham yang tercermin pada perubahan harga saham serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Analisis didasarkan pada teori nilai tukar, teori investasi saham, dan teori perilaku investor yang didukung oleh berbagai penelitian terdahulu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelemahan rupiah cenderung memberikan dampak negatif terhadap kinerja investasi saham, terutama pada perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor dan pembiayaan dalam mata uang asing. Sebaliknya, perusahaan yang berorientasi ekspor berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya nilai pendapatan dalam mata uang asing. Penelitian ini juga menemukan bahwa kepercayaan investor mampu memperkuat maupun memperlemah dampak pelemahan rupiah terhadap pasar saham.

Oleh karena itu, stabilitas nilai tukar serta peningkatan kepercayaan investor menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja pasar modal Indonesia. Pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi makro melalui kebijakan yang konsisten dan transparan guna menciptakan iklim investasi yang kondusif serta mendukung pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan.

Kata Kunci: Pelemahan Rupiah, Kepercayaan Investor, Investasi Saham, IHSG, Pasar Modal.

Pendahuluan

Pasar modal merupakan salah satu pilar penting dalam sistem perekonomian suatu negara karena berfungsi sebagai sarana penghimpunan dana jangka panjang sekaligus media investasi bagi masyarakat. Di Indonesia, perkembangan pasar modal mengalami pertumbuhan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir, yang ditandai dengan meningkatnya jumlah investor domestik maupun nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah Single Investor Identification (SID) terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal tersebut menunjukkan semakin tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Namun demikian, perkembangan tersebut masih dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama yang berasal dari kondisi ekonomi makro dan perubahan sentimen investor.

Salah satu faktor ekonomi makro yang paling berpengaruh terhadap kinerja investasi saham adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Perubahan nilai tukar mencerminkan kondisi fundamental perekonomian suatu negara dan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor sebelum mengambil keputusan investasi. Pelemahan nilai tukar rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, memperbesar beban utang luar negeri perusahaan, serta menurunkan tingkat keuntungan perusahaan yang memiliki ketergantungan terhadap transaksi internasional. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi harga saham perusahaan dan kinerja pasar modal secara keseluruhan.

Selain pelemahan nilai tukar, faktor psikologis berupa kepercayaan investor (investor confidence) juga memiliki pengaruh yang besar terhadap stabilitas pasar modal. Kepercayaan investor mencerminkan keyakinan pelaku pasar terhadap prospek perekonomian, kebijakan pemerintah, stabilitas politik, serta kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan pada masa mendatang. Tingginya tingkat kepercayaan investor akan meningkatkan permintaan terhadap saham sehingga mendorong kenaikan harga saham dan memperkuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebaliknya, apabila kepercayaan investor menurun akibat ketidakpastian ekonomi maupun gejolak pasar global, investor cenderung melakukan aksi jual (panic selling) yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan menyebabkan arus keluar modal asing (capital outflow).

Fenomena tersebut terlihat dari perkembangan nilai tukar rupiah, IHSG, dan aliran dana investor selama beberapa tahun terakhir sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1.

Tahun Rata-Rata Kurs

Rupiah/USD

IHSG (Penutupan -Akhir Tahun) Net Foreign

Buy/Sell

2022 Rp15.731 6850

+Rp60,3 triliun
2023 Rp15.416 7.272 +Rp6,2 triliun
2024 Rp15.900–16.300 Berfluktuasi dikisaran

6.850 -7.272

Cenderung mengalami tekanan akibat ketidakpastian global

 

Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa perubahan nilai tukar rupiah sering diikuti oleh perubahan kondisi pasar modal. Ketika rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat, pasar saham cenderung mengalami peningkatan volatilitas akibat meningkatnya kehati-hatian investor. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan investasi serta kinerja pasar modal Indonesia.

Di sisi lain, perkembangan jumlah investor di Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar meskipun menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

Tabel 2. Pertumbuhan Jumlah Investor Pasar Modal Indonesia

Tahun Jumlah Investor (SID)
2021 7,49 juta
2022 10,31 juta
2023 12.16 juta
2024 14 juta

Sumber: Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), 2024.

Data tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk berinvestasi terus meningkat. Akan tetapi, peningkatan jumlah investor belum sepenuhnya menjamin stabilitas pasar modal karena keputusan investasi masih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro dan tingkat kepercayaan investor. Investor tidak hanya mempertimbangkan kinerja fundamental perusahaan, tetapi juga memperhatikan perkembangan nilai tukar, inflasi, suku bunga, kondisi geopolitik, dan arah kebijakan pemerintah. Dengan demikian, perubahan sentimen investor dapat menyebabkan fluktuasi harga saham dalam waktu yang relatif singkat.

Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah memiliki hubungan yang signifikan dengan harga saham dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun demikian, sebagian besar penelitian masih berfokus pada pengaruh variabel ekonomi makro, sedangkan faktor kepercayaan investor sebagai aspek perilaku (behavioral finance) belum banyak dikaji secara bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Padahal, kedua faktor tersebut saling berkaitan dalam memengaruhi keputusan investasi dan stabilitas pasar modal.

Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pelemahan rupiah dan kepercayaan investor terhadap kinerja investasi saham di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian di bidang investasi dan pasar modal, serta menjadi bahan pertimbangan bagi investor dalam menyusun strategi investasi yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan otoritas pasar modal dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar, meningkatkan kepercayaan investor, dan menciptakan iklim investasi yang sehat serta berkelanjutan.

Kajian Teori

Teori Stakeholder (Pemangku Kepentingan)

Teori stakeholder merupakan salah satu teori yang banyak digunakan dalam bidang manajemen, keuangan, dan tata kelola perusahaan untuk menjelaskan hubungan antara perusahaan dengan seluruh pihak yang memiliki kepentingan terhadap aktivitas perusahaan. Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh R. Edward Freeman dalam bukunya Strategic Management: A Stakeholder Approach pada tahun 1984. Freeman mendefinisikan stakeholder sebagai individu atau kelompok yang dapat memengaruhi maupun dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi.

Berbeda dengan teori klasik yang berorientasi pada pemegang saham (shareholder theory), teori stakeholder menekankan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab yang lebih luas kepada seluruh pemangku kepentingan. Stakeholder perusahaan terdiri atas investor, pemegang saham, kreditur, pemerintah, pemasok, pelanggan, karyawan, masyarakat, media, hingga regulator pasar modal. Setiap kelompok memiliki kepentingan yang berbeda terhadap keberlangsungan perusahaan. Investor menginginkan tingkat pengembalian investasi yang optimal, pemerintah mengharapkan kepatuhan terhadap regulasi, sedangkan masyarakat menginginkan perusahaan memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur berdasarkan besarnya laba yang diperoleh, tetapi juga berdasarkan kemampuannya menciptakan nilai (value creation) bagi seluruh stakeholder.

Dalam perspektif pasar modal, investor merupakan stakeholder utama karena menjadi penyedia modal melalui pembelian saham perusahaan. Dana yang dihimpun dari investor digunakan perusahaan untuk memperluas usaha, meningkatkan kapasitas produksi, melakukan inovasi produk, maupun memperkuat posisi keuangan perusahaan. Oleh sebab itu, perusahaan harus mampu menjaga kepercayaan investor melalui penyampaian informasi yang transparan, laporan keuangan yang akurat, penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), serta pengelolaan risiko yang efektif.

Kepercayaan investor tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja internal perusahaan, tetapi juga oleh kondisi ekonomi makro. Salah satu indikator ekonomi makro yang sangat diperhatikan investor adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar menjadi indikator penting karena mencerminkan stabilitas ekonomi nasional dan memengaruhi aktivitas bisnis perusahaan. Ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan, biaya impor meningkat, utang luar negeri perusahaan bertambah, dan ketidakpastian ekonomi meningkat. Kondisi tersebut dapat menurunkan keyakinan investor terhadap prospek perusahaan sehingga memengaruhi keputusan investasi.

Dalam konteks penelitian ini, teori stakeholder digunakan untuk menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada kondisi operasional perusahaan, tetapi juga memengaruhi persepsi stakeholder, terutama investor. Ketika investor menilai bahwa pelemahan rupiah dapat mengurangi laba perusahaan, mereka cenderung mengurangi kepemilikan saham atau menunda investasi. Sebaliknya, apabila perusahaan mampu mempertahankan kinerja keuangan meskipun terjadi tekanan ekonomi, kepercayaan investor akan tetap terjaga sehingga harga saham dan nilai perusahaan relatif stabil.

Selain itu, pemerintah juga memiliki peran sebagai stakeholder penting dalam menjaga stabilitas pasar modal melalui kebijakan moneter, fiskal, dan regulasi keuangan. Kebijakan yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah akan meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing sehingga menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Dengan demikian, teori stakeholder memberikan dasar konseptual bahwa keberhasilan perusahaan dalam mempertahankan kinerja investasi saham sangat dipengaruhi oleh kemampuannya memenuhi ekspektasi seluruh stakeholder, khususnya investor sebagai penyedia modal.

Pelemahan Rupiah

Nilai tukar merupakan harga mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam mata uang negara lain. Nilai tukar memiliki peranan penting dalam perekonomian karena memengaruhi perdagangan internasional, investasi asing, inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta stabilitas sistem keuangan. Di Indonesia, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi salah satu indikator ekonomi makro yang paling sering digunakan dalam menilai kondisi perekonomian nasional.

Pelemahan rupiah atau depresiasi rupiah adalah kondisi ketika nilai tukar rupiah mengalami penurunan terhadap mata uang asing sehingga dibutuhkan jumlah rupiah yang lebih besar untuk memperoleh satu unit mata uang asing. Sebagai contoh, apabila nilai tukar berubah dari Rp15.000 menjadi Rp16.500 per dolar Amerika Serikat, dapat dikatakan bahwa rupiah mengalami pelemahan.

Menurut teori ekonomi internasional, perubahan nilai tukar dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat inflasi, tingkat suku bunga, neraca perdagangan, arus modal asing, kondisi geopolitik, cadangan devisa, serta kebijakan moneter yang diterapkan oleh bank sentral. Ketika inflasi domestik lebih tinggi dibandingkan negara lain, daya beli rupiah akan menurun sehingga nilai tukarnya cenderung melemah. Demikian pula ketika terjadi arus keluar modal asing (capital outflow), permintaan terhadap dolar meningkat sehingga menekan nilai tukar rupiah.

Pelemahan rupiah memberikan dampak yang berbeda pada masing-masing sektor industri. Perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi karena harga barang impor menjadi lebih mahal. Selain itu, perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing juga mengalami peningkatan beban pembayaran akibat kenaikan kurs. Kondisi tersebut menyebabkan laba perusahaan menurun sehingga berpotensi menurunkan harga saham.

Sebaliknya, perusahaan yang bergerak di sektor ekspor justru memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah. Pendapatan yang diterima dalam mata uang asing akan meningkat ketika dikonversikan ke rupiah sehingga mampu meningkatkan keuntungan perusahaan. Oleh karena itu, pengaruh pelemahan rupiah terhadap perusahaan sangat bergantung pada karakteristik usaha yang dijalankan.

Di pasar modal, pelemahan rupiah sering direspons negatif oleh investor karena meningkatkan ketidakpastian ekonomi. Investor asing cenderung menarik dana investasinya untuk mengurangi risiko nilai tukar (exchange rate risk). Akibatnya, tekanan jual di pasar saham meningkat sehingga harga saham dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan investasi di Indonesia.

Kepercayaan Investor

Kepercayaan investor merupakan keyakinan investor terhadap kemampuan perusahaan maupun kondisi ekonomi dalam memberikan keuntungan investasi pada masa yang akan datang. Dalam ilmu keuangan, kepercayaan investor menjadi salah satu faktor psikologis yang sangat memengaruhi perilaku investasi. Investor tidak hanya mempertimbangkan data keuangan perusahaan, tetapi juga memperhatikan stabilitas ekonomi, kebijakan pemerintah, kondisi politik, serta sentimen pasar.

Menurut teori perilaku keuangan (behavioral finance), keputusan investasi tidak selalu didasarkan pada analisis rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi, emosi, dan ekspektasi investor terhadap kondisi ekonomi pada masa depan. Ketika investor memiliki optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi, mereka cenderung meningkatkan investasi pada aset berisiko seperti saham. Sebaliknya, apabila muncul ketidakpastian ekonomi, investor cenderung mengurangi kepemilikan saham dan mengalihkan investasi ke aset yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah, emas, maupun deposito.

Kepercayaan investor dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi profitabilitas perusahaan, tingkat utang, pertumbuhan penjualan, tata kelola perusahaan, serta transparansi laporan keuangan. Sementara itu, faktor eksternal meliputi inflasi, suku bunga, nilai tukar, stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan pemerintah.

Dalam konteks penelitian ini, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi tingkat kepercayaan investor. Depresiasi rupiah meningkatkan ketidakpastian ekonomi sehingga investor menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Investor akan melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghadapi kenaikan biaya produksi maupun risiko nilai tukar. Apabila perusahaan dinilai mampu bertahan, kepercayaan investor tetap terjaga. Sebaliknya, apabila perusahaan diperkirakan mengalami penurunan laba yang signifikan, investor akan mengurangi investasinya sehingga harga saham menurun.

Kepercayaan investor memiliki hubungan yang erat dengan likuiditas pasar modal. Semakin tinggi tingkat kepercayaan investor, semakin besar volume transaksi saham yang terjadi di pasar. Peningkatan aktivitas perdagangan tersebut akan meningkatkan efisiensi pasar serta mendorong pertumbuhan investasi nasional. Oleh karena itu, menjaga kepercayaan investor menjadi salah satu tujuan utama kebijakan ekonomi pemerintah.

Kinerja Investasi Saham

Kinerja investasi saham merupakan hasil yang diperoleh investor dari kegiatan investasi dalam bentuk saham selama periode tertentu. Hasil investasi dapat berupa capital gain, dividen, maupun peningkatan nilai portofolio investasi. Dalam praktiknya, kinerja investasi saham sering diukur menggunakan tingkat pengembalian (return saham), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), abnormal return, maupun perubahan harga saham.

Kinerja investasi saham dipengaruhi oleh faktor internal perusahaan, seperti profitabilitas, likuiditas, struktur modal, efisiensi operasional, serta prospek pertumbuhan perusahaan. Selain itu, faktor eksternal berupa kondisi ekonomi makro juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Inflasi, tingkat suku bunga, pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, kebijakan moneter, dan kondisi politik merupakan beberapa variabel yang sering menjadi perhatian investor dalam melakukan analisis investasi.

Menurut teori pasar modal efisien (Efficient Market Hypothesis), seluruh informasi yang tersedia akan segera tercermin dalam harga saham. Oleh karena itu, perubahan kondisi ekonomi, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah, akan langsung memengaruhi harga saham melalui perubahan ekspektasi investor terhadap prospek perusahaan.

Di Indonesia, indikator utama yang digunakan untuk menggambarkan kinerja investasi saham adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG mencerminkan rata-rata perubahan harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sehingga menjadi indikator utama kondisi pasar modal nasional. Ketika IHSG mengalami kenaikan, hal tersebut menunjukkan meningkatnya optimisme investor terhadap kondisi ekonomi dan prospek perusahaan. Sebaliknya, penurunan IHSG mengindikasikan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi maupun risiko investasi.

Dalam penelitian ini, kinerja investasi saham merupakan variabel dependen yang dipengaruhi oleh pelemahan rupiah dan kepercayaan investor. Pelemahan rupiah dapat menekan laba perusahaan dan meningkatkan risiko investasi, sedangkan kepercayaan investor menentukan besarnya minat masyarakat maupun investor institusional untuk menanamkan modal di pasar saham. Dengan demikian, kinerja investasi saham merupakan hasil interaksi antara kondisi ekonomi makro, fundamental perusahaan, serta perilaku investor dalam merespons berbagai informasi yang tersedia di pasar modal.

Kerangka Konseptual

Penelitian ini berlandaskan pada Teori Stakeholder yang menjelaskan bahwa perusahaan harus mampu menciptakan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan, khususnya investor sebagai penyedia modal. Keputusan investor dalam menanamkan modal di pasar saham tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi internal perusahaan, tetapi juga oleh kondisi ekonomi makro yang dapat memengaruhi persepsi risiko dan tingkat keuntungan investasi.

Salah satu indikator ekonomi makro yang memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas investasi di Indonesia adalah nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat. Pelemahan nilai tukar rupiah merupakan salah satu bentuk ketidakstabilan ekonomi yang dapat memengaruhi aktivitas pasar modal. Depresiasi rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku, memperbesar beban pembayaran utang luar negeri perusahaan, serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi. Kondisi tersebut menyebabkan investor melakukan penyesuaian terhadap keputusan investasinya karena meningkatnya risiko investasi. Akibatnya, permintaan terhadap saham dapat menurun sehingga berdampak pada penurunan harga saham maupun tingkat pengembalian investasi. Oleh karena itu, pelemahan rupiah diperkirakan memberikan pengaruh terhadap kinerja investasi saham di Indonesia.

Selain kondisi nilai tukar, faktor psikologis investor juga menjadi salah satu penentu utama dalam perkembangan pasar modal. Kepercayaan investor mencerminkan tingkat keyakinan investor terhadap stabilitas ekonomi, prospek perusahaan, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan pada masa mendatang. Tingginya tingkat kepercayaan investor akan meningkatkan minat masyarakat maupun investor institusional untuk melakukan investasi saham sehingga volume perdagangan saham meningkat dan mendorong kenaikan harga saham. Sebaliknya, apabila kepercayaan investor menurun akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi maupun sentimen negatif pasar, aktivitas investasi cenderung menurun sehingga berdampak pada melemahnya kinerja investasi saham.

Berdasarkan hubungan tersebut, penelitian ini mengkaji pengaruh pelemahan rupiah dan kepercayaan investor terhadap kinerja investasi saham di Indonesia. Pelemahan rupiah diposisikan sebagai variabel independen pertama (X₁) yang diduga memengaruhi kinerja investasi saham. Kepercayaan investor diposisikan sebagai variabel independen kedua (X₂) yang juga diperkirakan memengaruhi kinerja investasi saham. Sementara itu, kinerja investasi saham merupakan variabel dependen (Y) yang menggambarkan hasil investasi yang diperoleh investor melalui perubahan harga saham, tingkat pengembalian (return), maupun perkembangan pasar modal.

Hubungan antarvariabel dalam penelitian ini menunjukkan bahwa semakin besar pelemahan nilai tukar rupiah, semakin tinggi tingkat ketidakpastian ekonomi sehingga berpotensi menurunkan kinerja investasi saham. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi dan prospek perusahaan, semakin besar minat investor untuk berinvestasi di pasar modal sehingga kinerja investasi saham akan meningkat.

Selain pengaruh secara parsial, penelitian ini juga menguji pengaruh kedua variabel tersebut secara simultan terhadap kinerja investasi saham di Indonesia. Dengan demikian, kerangka konseptual penelitian ini menggambarkan hubungan sebab akibat antara faktor ekonomi makro dan faktor perilaku investor dalam menentukan perkembangan investasi saham di pasar modal Indonesia.

Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian

Pelemahan Rupiah (X₁)
          │
          ▼
Kinerja Investasi Saham (Y)
          ▲
          │
Kepercayaan Investor (X₂)

Keterangan:

a. X₁ = Pelemahan Rupiah (Variabel Independen)
b. X₂ = Kepercayaan Investor (Variabel Independen)
c. Y = Kinerja Investasi Saham (Variabel Dependen)

Kerangka konseptual tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah dan kepercayaan investor diperkirakan memiliki pengaruh secara parsial maupun simultan terhadap kinerja investasi saham di Indonesia. Model penelitian ini menjadi dasar dalam penyusunan hipotesis dan analisis empiris untuk menguji hubungan antarvariabel yang diteliti.

Pengembangan Hipotesis

Pengaruh Pelemahan Rupiah terhadap Kinerja Investasi Saham

Nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator ekonomi makro yang memiliki peran penting dalam memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan aktivitas investasi di Indonesia. Perubahan nilai tukar mencerminkan kondisi fundamental perekonomian suatu negara sehingga sering dijadikan sebagai salah satu pertimbangan utama oleh investor dalam mengambil keputusan investasi.

Pelemahan rupiah atau depresiasi nilai tukar terjadi ketika nilai mata uang rupiah mengalami penurunan terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, memperbesar kewajiban pembayaran utang luar negeri perusahaan, serta meningkatkan ketidakpastian terhadap prospek laba perusahaan.

Berdasarkan Teori Stakeholder, perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menciptakan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan, terutama investor sebagai penyedia modal. Investor mengharapkan perusahaan mampu mempertahankan kinerja keuangan meskipun menghadapi perubahan kondisi ekonomi. Ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan, investor akan mengevaluasi kembali tingkat risiko investasi yang dihadapi perusahaan. Perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor maupun utang luar negeri akan dipersepsikan memiliki risiko yang lebih besar sehingga investor cenderung mengurangi investasi atau melakukan penjualan saham.

Kondisi tersebut akan berdampak pada menurunnya harga saham, berkurangnya volume perdagangan, serta menurunnya tingkat pengembalian investasi. Selain memengaruhi kondisi internal perusahaan, pelemahan rupiah juga dapat mengurangi minat investor asing untuk menanamkan modal di pasar modal Indonesia. Depresiasi nilai tukar meningkatkan risiko nilai tukar (exchange rate risk) sehingga investor asing cenderung melakukan capital outflow dan mengalihkan investasinya ke negara yang memiliki kondisi ekonomi lebih stabil. Arus keluar modal tersebut akan meningkatkan tekanan jual di pasar saham sehingga mengakibatkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta melemahnya kinerja investasi saham.

Secara empiris, berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan nilai tukar memiliki hubungan yang signifikan dengan pergerakan harga saham dan tingkat pengembalian investasi. Depresiasi rupiah umumnya memberikan sentimen negatif terhadap pasar modal karena meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan risiko investasi. Oleh karena itu, stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kinerja investasi saham di Indonesia.

Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian terdahulu tersebut, hipotesis pertama dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.

H₁: Pelemahan rupiah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja investasi saham di Indonesia.

Pengaruh Kepercayaan Investor terhadap Kinerja Investasi Saham

Kepercayaan investor merupakan keyakinan investor terhadap kemampuan perusahaan maupun kondisi perekonomian dalam menghasilkan keuntungan investasi pada masa mendatang. Dalam pasar modal, kepercayaan investor menjadi faktor yang sangat penting karena memengaruhi perilaku investasi, volume perdagangan saham, serta stabilitas pasar keuangan. Investor yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi akan lebih berani menanamkan modalnya pada saham perusahaan karena memiliki keyakinan bahwa investasi tersebut mampu memberikan tingkat pengembalian yang optimal.

Dalam perspektif Teori Stakeholder, investor merupakan salah satu stakeholder utama yang menentukan keberlangsungan perusahaan melalui penyediaan modal. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk menjaga kepercayaan investor dengan meningkatkan kualitas laporan keuangan, menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), menjaga transparansi informasi, serta mempertahankan kinerja keuangan yang stabil. Semakin tinggi tingkat kepercayaan investor, semakin besar pula peluang perusahaan memperoleh tambahan modal melalui pasar saham.

Kepercayaan investor juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, seperti stabilitas ekonomi, kebijakan pemerintah, tingkat inflasi, suku bunga, dan kondisi politik. Ketika kondisi ekonomi nasional menunjukkan perkembangan yang positif dan pemerintah mampu menjaga stabilitas kebijakan ekonomi, investor akan memiliki optimisme terhadap prospek pertumbuhan perusahaan. Optimisme tersebut mendorong peningkatan permintaan saham sehingga harga saham meningkat dan memberikan tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi.

Sebaliknya, apabila kepercayaan investor mengalami penurunan akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi maupun sentimen negatif pasar, investor cenderung mengurangi aktivitas investasi dan mengalihkan dana ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman. Penurunan permintaan saham tersebut akan menyebabkan harga saham mengalami penurunan sehingga berdampak pada melemahnya kinerja investasi saham.

Berbagai penelitian empiris menunjukkan bahwa kepercayaan investor memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan pasar modal. Tingkat kepercayaan yang tinggi mampu meningkatkan likuiditas pasar, memperkuat stabilitas harga saham, dan mendorong pertumbuhan investasi jangka panjang. Oleh karena itu, kepercayaan investor menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kinerja investasi saham di Indonesia.

Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis kedua dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.

H₂: Kepercayaan investor berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja investasi saham di Indonesia.

Pengaruh Pelemahan Rupiah dan Kepercayaan Investor terhadap Kinerja Investasi Saham

Kinerja investasi saham merupakan hasil yang diperoleh investor dari aktivitas investasi di pasar modal, baik dalam bentuk kenaikan harga saham (capital gain), pembagian dividen, maupun tingkat pengembalian investasi (return saham). Kinerja investasi saham dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berasal dari kondisi internal perusahaan maupun kondisi eksternal, seperti stabilitas ekonomi makro, kebijakan pemerintah, serta perilaku investor.

Dalam penelitian ini, pelemahan rupiah dan kepercayaan investor dipandang sebagai dua faktor utama yang secara bersama-sama memengaruhi perkembangan investasi saham di Indonesia. Menurut Teori Stakeholder, perusahaan harus mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan seluruh pemangku kepentingan, khususnya investor.

Meskipun perusahaan menghadapi tekanan ekonomi akibat pelemahan nilai tukar rupiah, kepercayaan investor yang tetap tinggi dapat mengurangi dampak negatif terhadap aktivitas investasi. Investor akan tetap mempertahankan investasinya apabila perusahaan dinilai mampu mengelola risiko secara efektif dan mempertahankan kinerja keuangan yang baik. Sebaliknya, apabila pelemahan rupiah disertai dengan menurunnya kepercayaan investor, tekanan terhadap pasar modal akan semakin besar sehingga menyebabkan penurunan harga saham dan melemahnya kinerja investasi.

Secara simultan, pelemahan rupiah meningkatkan risiko ekonomi dan ketidakpastian investasi, sedangkan kepercayaan investor berperan dalam menentukan bagaimana investor merespons kondisi tersebut. Apabila pemerintah mampu menjaga stabilitas nilai tukar dan menciptakan iklim investasi yang kondusif, kepercayaan investor dapat tetap terjaga sehingga dampak negatif pelemahan rupiah terhadap pasar modal dapat diminimalkan.

Dengan demikian, kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang saling berkaitan dalam memengaruhi perkembangan investasi saham di Indonesia. Hasil berbagai penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa variabel ekonomi makro dan faktor perilaku investor secara simultan memiliki pengaruh terhadap pergerakan harga saham dan kinerja pasar modal. Oleh karena itu, penelitian ini menguji pengaruh pelemahan rupiah dan kepercayaan investor secara bersama-sama terhadap kinerja investasi saham di Indonesia untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keputusan investasi di pasar modal.

Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian terdahulu tersebut, hipotesis ketiga dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.

H₃: Pelemahan rupiah dan kepercayaan investor secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja investasi saham di Indonesia.

Kinerja investasi saham merupakan salah satu indikator yang mencerminkan tingkat keberhasilan investasi di pasar modal. Kinerja tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berasal dari kondisi internal perusahaan maupun faktor eksternal berupa kondisi ekonomi makro dan perilaku investor. Dalam penelitian ini, pelemahan rupiah dan kepercayaan investor dipandang sebagai dua faktor utama yang secara bersama-sama dapat memengaruhi perubahan kinerja investasi saham di Indonesia.

Pelemahan nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator ketidakstabilan ekonomi yang dapat meningkatkan risiko investasi di pasar modal. Depresiasi rupiah menyebabkan kenaikan biaya impor, meningkatnya kewajiban perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing, serta menurunkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Kondisi tersebut akan memengaruhi ekspektasi investor terhadap prospek perusahaan sehingga mendorong perubahan keputusan investasi.

Di sisi lain, kepercayaan investor merupakan faktor psikologis yang menentukan tingkat keyakinan investor terhadap kemampuan perusahaan maupun kondisi ekonomi dalam memberikan keuntungan investasi pada masa mendatang. Semakin tinggi tingkat kepercayaan investor, semakin besar minat investor untuk melakukan investasi sehingga mampu meningkatkan aktivitas perdagangan saham dan memperbaiki kinerja investasi saham.

Berdasarkan Teori Stakeholder, perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan seluruh pemangku kepentingan, terutama investor sebagai penyedia modal. Dalam kondisi nilai tukar yang berfluktuasi, perusahaan dituntut mampu mengelola risiko ekonomi, menjaga transparansi informasi, serta mempertahankan kinerja keuangan agar kepercayaan investor tetap terjaga. Investor tidak hanya memperhatikan perubahan nilai tukar rupiah, tetapi juga menilai bagaimana perusahaan merespons kondisi tersebut melalui strategi bisnis dan kemampuan menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, pengaruh pelemahan rupiah terhadap kinerja investasi saham sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan dan stabilitas perekonomian nasional.

Secara simultan, pelemahan rupiah dan kepercayaan investor membentuk dasar pertimbangan investor dalam mengambil keputusan investasi. Pelemahan rupiah cenderung meningkatkan persepsi risiko sehingga dapat menurunkan minat investasi, sedangkan kepercayaan investor mampu memperkuat optimisme terhadap prospek pasar modal sehingga mendorong peningkatan permintaan saham.

Apabila kepercayaan investor tetap tinggi meskipun terjadi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, dampak negatif pelemahan rupiah terhadap pasar modal dapat diminimalkan. Sebaliknya, apabila pelemahan rupiah disertai dengan menurunnya kepercayaan investor, tekanan terhadap harga saham dan kinerja investasi akan menjadi semakin besar.

Temuan empiris juga menunjukkan bahwa faktor-faktor makroekonomi secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja pasar saham. Penelitian mengenai pasar modal Indonesia menunjukkan bahwa nilai tukar merupakan salah satu variabel yang memengaruhi return saham dan perlu dipertimbangkan bersama faktor lain dalam pengambilan keputusan investasi. Penelitian yang lebih baru juga menemukan bahwa indikator makroekonomi, termasuk nilai tukar, secara simultan memengaruhi kinerja pasar saham melalui perubahan persepsi risiko dan perilaku investor.

Berdasarkan landasan teori dan bukti empiris tersebut, penelitian ini mengasumsikan bahwa pelemahan rupiah dan kepercayaan investor secara bersama-sama merupakan faktor yang memengaruhi kinerja investasi saham di Indonesia. Oleh karena itu, hipotesis ketiga dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian deskriptif dan verifikatif. Pendekatan kuantitatif dipilih karena penelitian bertujuan menguji hubungan kausal antara variabel independen, yaitu pelemahan rupiah dan kepercayaan investor, terhadap variabel dependen berupa kinerja investasi saham di Indonesia. Menurut Sugiyono (2020), penelitian kuantitatif merupakan metode yang digunakan untuk menguji hipotesis berdasarkan data numerik yang dianalisis menggunakan teknik statistik sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang bersifat objektif dan dapat digeneralisasikan.

Objek penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian difokuskan pada perusahaan yang secara konsisten tercatat di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020–2024. Pemilihan periode tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa selama rentang waktu tersebut terjadi fluktuasi nilai tukar rupiah yang dipengaruhi oleh berbagai kondisi ekonomi global maupun domestik sehingga memberikan gambaran yang representatif mengenai pengaruh pelemahan rupiah terhadap aktivitas investasi saham di Indonesia.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020–2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria tertentu sehingga sampel yang dipilih sesuai dengan tujuan penelitian.

Adapun kriteria sampel yang digunakan adalah sebagai berikut.

  1. Perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia secara berturut-turut selama periode 2020–2024.
  2. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan tahunan secara lengkap selama periode penelitian.
  3. Perusahaan memiliki data harga saham yang tersedia secara lengkap selama periode penelitian.
  4. Perusahaan memiliki data yang berkaitan dengan variabel penelitian sehingga dapat dianalisis secara menyeluruh.

Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh sejumlah perusahaan yang memenuhi persyaratan sebagai sampel penelitian. Jumlah sampel akhir akan disesuaikan dengan hasil proses seleksi berdasarkan ketersediaan data.

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan, laporan tahunan (annual report), data harga saham, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta data pendukung lainnya yang bersumber dari publikasi resmi Bursa Efek Indonesia, Bank Indonesia, dan lembaga terkait lainnya. Penggunaan data sekunder dipilih karena memiliki tingkat objektivitas yang tinggi dan telah dipublikasikan secara resmi sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

Variabel independen dalam penelitian ini terdiri atas pelemahan rupiah (X₁) dan kepercayaan investor (X₂), sedangkan variabel dependen adalah kinerja investasi saham (Y). Pelemahan rupiah diukur menggunakan nilai tukar tengah rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia. Kepercayaan investor diproksikan menggunakan aktivitas perdagangan saham yang tercermin melalui volume perdagangan saham atau indikator sentimen pasar yang relevan. Adapun kinerja investasi saham diukur menggunakan return saham, yaitu tingkat keuntungan yang diperoleh investor dari perubahan harga saham selama periode tertentu.

Tabel 1. Operasional Variabel Penelitian

Variabel Definisi Operasional Indikator Skala
Pelemahan Rupiah (X₁) Pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencerminkan kondisi ekonomi makro. Nilai tukar rupiah/USD Rasio
Kepercayaan Investor (X₂) Tingkat keyakinan investor terhadap prospek investasi pada pasar modal Indonesia. Volume perdagangan pasar/indeks sentimen investor Rasio
Kinerja Investasi Saham (Y) Hasil investasi yang diperoleh investor selama periode tertentu. Return saham Rasio

Teknik analisis data dilakukan menggunakan bantuan perangkat lunak statistik, seperti EViews 12, untuk mengolah data panel. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, data terlebih dahulu diuji melalui uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi agar model regresi memenuhi asumsi statistik.

Analisis utama dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel karena data yang digunakan merupakan kombinasi antara data lintas perusahaan (cross section) dan data runtut waktu (time series). Regresi data panel dipilih karena mampu menghasilkan estimasi yang lebih efisien dibandingkan regresi data silang maupun deret waktu secara terpisah.

Persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Y = α + β₁X₁ + β₂X₂ + ε

Keterangan:

  1. Y = Kinerja Investasi Saham
  2. α = Konstanta
  3. β₁, β₂ = Koefisien regresi
  4. X₁ = Pelemahan Rupiah
  5. X₂ = Kepercayaan Investor
  6. ε = Error term

Pemilihan model regresi data panel dilakukan melalui Uji Chow, Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier (LM) untuk menentukan model terbaik, yaitu Common Effect Model (CEM), Fixed Effect Model (FEM), atau Random Effect Model(REM). Model yang terpilih selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam pengujian hipotesis penelitian.

Pengujian hipotesis dilakukan melalui uji koefisien determinasi (R²), uji simultan (Uji F), dan uji parsial (Uji t). Uji koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Uji F digunakan untuk menguji pengaruh pelemahan rupiah dan kepercayaan investor secara simultan terhadap kinerja investasi saham, sedangkan uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial terhadap kinerja investasi saham.

Seluruh pengujian dilakukan pada tingkat signifikansi 5% (α = 0,05). Hipotesis penelitian diterima apabila nilai probabilitas (p-value) lebih kecil dari 0,05, sedangkan hipotesis ditolak apabila nilai probabilitas lebih besar dari 0,05.

Hasil dan Pembahasan

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Kinerja Investasi Saham di Indonesia

Pelemahan nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator ekonomi makro yang memiliki pengaruh penting terhadap dinamika pasar modal di Indonesia. Nilai tukar yang mengalami depresiasi tidak hanya memengaruhi aktivitas perdagangan internasional, tetapi juga memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan yang tercatat di pasar modal. Dalam konteks investasi saham, pelemahan rupiah sering kali dipersepsikan sebagai sinyal meningkatnya ketidakpastian ekonomi sehingga memengaruhi perilaku investor dalam mengambil keputusan investasi.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar dapat memengaruhi return saham dan reaksi pasar, meskipun besarnya dampak dapat berbeda antar sektor usaha. Perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor atau memiliki kewajiban dalam mata uang asing akan menghadapi peningkatan biaya produksi dan beban pembayaran utang ketika rupiah melemah. Kenaikan biaya tersebut dapat mengurangi laba perusahaan sehingga prospek pertumbuhan perusahaan menjadi kurang menarik bagi investor.

Penurunan ekspektasi laba kemudian mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi kepemilikan saham pada perusahaan yang dinilai memiliki tingkat risiko tinggi. Akibatnya, tekanan jual meningkat, harga saham mengalami penurunan, dan kinerja investasi saham menjadi melemah.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga memberikan dampak yang berbeda pada perusahaan yang berorientasi ekspor. Bagi perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam mata uang asing, depresiasi rupiah dapat meningkatkan nilai pendapatan ketika dikonversikan ke rupiah sehingga berpotensi meningkatkan laba perusahaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak pelemahan rupiah terhadap kinerja investasi saham tidak bersifat seragam, melainkan dipengaruhi oleh karakteristik industri, struktur biaya, dan strategi bisnis masing-masing perusahaan. Hal ini menjelaskan mengapa sektor ekspor cenderung lebih mampu bertahan dibandingkan sektor yang bergantung pada impor ketika terjadi pelemahan nilai tukar.

Berdasarkan perspektif Teori Stakeholder, perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepentingan para pemangku kepentingan, terutama investor sebagai penyedia modal. Ketika kondisi ekonomi mengalami tekanan akibat pelemahan rupiah, perusahaan dituntut untuk tetap menjaga stabilitas operasional, meningkatkan efisiensi biaya, dan menerapkan strategi mitigasi risiko agar tetap mampu menghasilkan kinerja yang baik. Kemampuan perusahaan dalam menghadapi tekanan ekonomi akan menjadi dasar bagi investor dalam menilai prospek perusahaan sehingga berpengaruh terhadap keputusan investasi.

Dalam konteks pasar modal Indonesia, pelemahan rupiah juga memengaruhi arus modal asing (capital flow). Investor asing umumnya mempertimbangkan stabilitas nilai tukar sebagai salah satu indikator utama sebelum melakukan investasi pada negara berkembang. Ketika rupiah mengalami depresiasi yang cukup besar, risiko nilai tukar (exchange rate risk) meningkat sehingga sebagian investor asing memilih mengurangi eksposur investasinya.

Kondisi tersebut dapat mengurangi likuiditas pasar, meningkatkan volatilitas harga saham, dan menekan kinerja investasi saham. Sebaliknya, apabila pelemahan rupiah masih berada dalam batas yang terkendali dan didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat, dampak negatif terhadap pasar modal dapat diminimalkan.

Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah memiliki keterkaitan yang erat dengan kinerja investasi saham melalui pengaruhnya terhadap biaya operasional perusahaan, profitabilitas, persepsi risiko, dan perilaku investor. Oleh karena itu, stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan iklim investasi yang sehat dan menjaga daya saing pasar modal Indonesia.

Pengaruh Kepercayaan Investor terhadap Kinerja Investasi Saham di Indonesia

Kepercayaan investor merupakan salah satu faktor yang menentukan perkembangan pasar modal karena mencerminkan keyakinan investor terhadap kemampuan perusahaan dan prospek perekonomian dalam menghasilkan keuntungan pada masa mendatang. Dalam praktik investasi, keputusan investor tidak hanya didasarkan pada analisis laporan keuangan, tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi terhadap stabilitas ekonomi, arah kebijakan pemerintah, kondisi politik, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepercayaan investor yang tinggi akan meningkatkan minat masyarakat maupun investor institusional untuk menanamkan modal pada instrumen saham. Meningkatnya permintaan terhadap saham akan mendorong kenaikan harga saham, meningkatkan volume perdagangan, serta memperkuat likuiditas pasar modal. Sebaliknya, ketika kepercayaan investor menurun akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi atau munculnya sentimen negatif, investor cenderung menunda investasi atau mengalihkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas perdagangan saham menurun dan berdampak pada melemahnya kinerja investasi saham.

Dalam perspektif Teori Stakeholder, investor merupakan salah satu stakeholder utama yang memiliki kontribusi besar terhadap keberlangsungan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menjaga kepercayaan investor melalui transparansi informasi, penyajian laporan keuangan yang berkualitas, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta kemampuan mempertahankan kinerja keuangan secara berkelanjutan. Ketika perusahaan mampu memenuhi harapan investor, hubungan antara perusahaan dan investor akan semakin kuat sehingga mendukung peningkatan nilai perusahaan.

Kepercayaan investor juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan kondisi makroekonomi. Stabilitas inflasi, nilai tukar, suku bunga, dan kepastian regulasi memberikan sinyal positif kepada investor bahwa risiko investasi dapat dikelola dengan baik. Sebaliknya, ketidakpastian kebijakan dan gejolak ekonomi dapat mengurangi optimisme investor sehingga memengaruhi keputusan investasi. Oleh karena itu, peningkatan kepercayaan investor tidak hanya menjadi tanggung jawab perusahaan, tetapi juga memerlukan dukungan kebijakan ekonomi yang mampu menciptakan stabilitas dan kepastian bagi pelaku pasar.

Selain faktor ekonomi, perkembangan teknologi informasi juga mempercepat penyebaran informasi di pasar modal. Investor saat ini dapat memperoleh informasi secara real time sehingga perubahan sentimen pasar berlangsung lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Informasi mengenai kinerja perusahaan, kebijakan pemerintah, maupun kondisi ekonomi global dapat segera memengaruhi ekspektasi investor. Dengan demikian, kepercayaan investor menjadi faktor yang sangat dinamis dan berperan penting dalam menentukan arah pergerakan pasar saham.

Secara keseluruhan, kepercayaan investor memiliki kontribusi yang besar terhadap peningkatan kinerja investasi saham. Tingginya tingkat kepercayaan investor akan mendorong peningkatan investasi, memperkuat stabilitas pasar modal, meningkatkan likuiditas perdagangan saham, serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan aliran modal ke sektor produktif.

Dampak Pelemahan Rupiah dan Kepercayaan Investor terhadap Kinerja Investasi Saham di Indonesia

Kinerja investasi saham pada dasarnya dipengaruhi oleh interaksi antara faktor ekonomi makro dan faktor perilaku investor. Pelemahan rupiah mencerminkan perubahan kondisi ekonomi yang dapat meningkatkan risiko investasi, sedangkan kepercayaan investor mencerminkan bagaimana pelaku pasar menafsirkan dan merespons perubahan kondisi tersebut. Oleh karena itu, kedua variabel tersebut tidak dapat dipisahkan dalam menjelaskan dinamika pasar modal Indonesia.

Ketika rupiah mengalami pelemahan, investor akan melakukan penilaian ulang terhadap prospek perusahaan, terutama perusahaan yang memiliki ketergantungan terhadap impor atau utang dalam mata uang asing. Apabila kondisi tersebut tidak diimbangi dengan kepercayaan investor yang kuat terhadap fundamental perusahaan maupun perekonomian nasional, pelemahan rupiah berpotensi mendorong aksi jual saham yang lebih besar.

Sebaliknya, apabila investor tetap memiliki keyakinan bahwa perusahaan mampu beradaptasi dan pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi, tekanan terhadap pasar modal dapat dikurangi. Dalam kerangka Teori Stakeholder, perusahaan tidak hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga menjaga hubungan yang harmonis dengan investor melalui komunikasi yang terbuka, transparansi informasi, dan pengelolaan risiko yang baik.

Upaya tersebut penting untuk mempertahankan kepercayaan investor ketika terjadi tekanan ekonomi akibat pelemahan nilai tukar. Dengan adanya tingkat kepercayaan yang tinggi, investor cenderung mempertahankan investasinya sehingga fluktuasi harga saham tidak menjadi terlalu ekstrem.

Sinergi antara stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan pasar modal Indonesia. Nilai tukar yang stabil memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam menjalankan aktivitas bisnis, sedangkan kepercayaan investor meningkatkan aliran modal yang dibutuhkan perusahaan untuk melakukan ekspansi usaha. Kedua faktor tersebut pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan kinerja investasi saham melalui kenaikan harga saham, meningkatnya volume perdagangan, serta bertambahnya nilai investasi di pasar modal.

Temuan konseptual ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa kinerja pasar saham dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi dan sentimen investor. Nilai tukar memengaruhi ekspektasi terhadap profitabilitas perusahaan, sedangkan kepercayaan investor menentukan respons pasar terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Dengan demikian, peningkatan kinerja investasi saham di Indonesia tidak hanya memerlukan stabilitas nilai tukar, tetapi juga memerlukan upaya berkelanjutan untuk menjaga kepercayaan investor melalui kebijakan ekonomi yang konsisten, tata kelola perusahaan yang baik, serta penyediaan informasi yang transparan kepada seluruh pelaku pasar.

Bagian pembahasan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pasar modal Indonesia sangat bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, perusahaan, regulator, dan investor—dalam menciptakan ekosistem investasi yang stabil, transparan, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang. Dengan kondisi tersebut, pelemahan rupiah tidak selalu menjadi ancaman yang berkepanjangan karena dampaknya dapat diredam melalui meningkatnya kepercayaan investor dan penguatan fundamental ekonomi nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Adil, S., Irfan Fatoni, M., & Kakati, S. (2024). The Effect of Dollar Exchange Rate of The Finance Performance in Indonesia. Journal of Islamic Economics Perspectives, 6(2), 1–24. https://doi.org/10.35719/jtk9pc68

Amaliah, F. (n.d.). ANALYSIS OF THE IMPACT OF EXCHANGE RATE (EXCHANGE) POLICY AND INFLATION ON THE COMPOSITE STOCK PRICE INDEX (JCI) IN INDONESIA IN 2023. Journal of Economics, Technology and Business (JETBIS), 2. Retrieved https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index

Hartoto, H., Jejen, A., Hardiyanti, N. R., & Budilaksono, A. (2025). The Impact of Macroeconomic Factors on Financial Markets: Evidence from Time Series Analysis on the Indonesia Stock Exchange. Journal La Sociale, 6(4), 1171–1184. https://doi.org/10.37899/journal-la-sociale.v6i4.2110

Lestari, A., & Ilmu Administrasi Bisnis, J. (2023). STRATEGI PEMASARAN PRODUK PAKAIAN DENGAN SISTEM ONLINE DAN OFFLINE PADA TOKO KANAYA COLLECTION DI KOTA NEGERI LAMA LABUHAN BATU SUMATERA UTARA(Vol. 6, Number 2).

Majok, A. J., Kaluge, D., & Satria, D. (2024). Analyzing the Effects of Interest Rates, Inflation, and Exchange Rates on Stock Market Performance: A Comparative Study Of Indonesia and Japan. Journal of Indonesian Applied Economics, 12(1), 13–26. https://doi.org/10.21776/ub.jiae.2024.012.01.2

Nuriksan, S., & Nikmah, N. (2025). Financial News Sentiment and Investor Confidence: Determinants of Stock Price Volatility in IDX30. JOURNAL OF HUMANITIES SOCIAL SCIENCES AND BUSINESS (JHSSB), 4(3), 493–506. https://doi.org/10.55047/jhssb.v4i3.1648

Patty, M. R. (2025). Analysis of macroeconomic influence on composite stock price index fluctuations on the Indonesia stock exchange. In Indonesia Accounting Research Journal (Vol. 12, Number 3).

Purwanto, H. (n.d.). Analysis of the Effect of Global Inflation on Investment Decision Making… | 2.

Salmon, H. C. J. (2025). Juridical Analysis of Stock Market Response to Government Economic Policy: The Case of Declining IHSG in Indonesia. TATOHI: Jurnal Ilmu Hukum, 5(3), 138. https://doi.org/10.47268/tatohi.v5i3.2987

Subagyo, H., Hersugondo, H., Candra, W. M., Batu, K. L., & Waluyo, D. E. (2024a). Foreign investor portfolio flow and monetary policy response in the Indonesian stock market considering the COVID-19 pandemic. Investment Management and Financial Innovations, 21(1), 88–97. https://doi.org/10.21511/imfi.21(1).2024.08

Subagyo, H., Hersugondo, H., Candra, W. M., Batu, K. L., & Waluyo, D. E. (2024b). Foreign investor portfolio flow and monetary policy response in the Indonesian stock market considering the COVID-19 pandemic. Investment Management and Financial Innovations, 21(1), 88–97. https://doi.org/10.21511/imfi.21(1).2024.08

Usman, B., Hasnam, M. G., Nurazi, R., Baihaqi, & Aujirapongpan, S. (2024). Exploring investor attention in Shariah markets, macroeconomic influences, and corporate performance: Insights from Indonesia. Social Sciences and Humanities Open, 10. https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2024.101015

Zidni Nuuron A’la, A., Sucipto, A., & Kunci, K. (n.d.). E-JURNAL EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS UDAYANA ANALISIS MODERASI KURS DAN CONSUMER CONFIDENCE INDEX PADA HUBUNGAN INFLASI DAN SUKU BUNGA TERHADAP KINERJA IHSG. Retrieved https://ojs.unud.ac.id/index.php/EEB/index


Penulis:
1. Khoirunnisa
2. Marsanda
3. Nur Fadilah
4. Regi Febrianda
5. Eka MulzalFitri Ridwan
6. Fahry Reza
Mahasiswa Program Studi Kewirausahaan, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung


Dosen Pengampu: Fahry Reza


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses