Judul buku: Filsafat Pendidikan: Dasar Teoritis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern
Penulis: Dr. Teguh Triwiyanto, M.Pd.
Penerbit: Bumi Aksara
Tahun terbit: 2026
ISBN: 978-623-506-170-2
Tebal: 253 halaman pada edisi yang diulas
Pendidikan dan Pertanyaan yang Sering Dilupakan
Apa sebenarnya tujuan pendidikan? Apakah pendidikan hanya tentang membuat seseorang menjadi pintar? Apakah keberhasilan pendidikan cukup diukur melalui nilai ujian, kelulusan, atau kemampuan peserta didik menyelesaikan soal?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi sebenarnya membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar. Pendidikan selalu berhubungan dengan pertanyaan mengenai manusia, pengetahuan, nilai, kehidupan, serta masa depan. Karena itu, membicarakan pendidikan tanpa membicarakan filsafat sama halnya dengan menjalankan sebuah perjalanan tanpa benar-benar mengetahui ke mana tujuan akhirnya.
Pertanyaan mendasar semacam itulah yang membuat buku Filsafat Pendidikan: Dasar Teoritis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern karya Dr. Teguh Triwiyanto, M.Pd. menarik untuk dibaca. Buku ini hadir ketika dunia pendidikan sedang menghadapi perubahan yang sangat cepat. Teknologi digital berkembang, cara belajar berubah, sumber pengetahuan semakin mudah diperoleh, dan peran guru pun mengalami pergeseran.
Di tengah perubahan tersebut, filsafat pendidikan menjadi penting bukan karena menawarkan jawaban sederhana untuk semua persoalan pendidikan, melainkan karena membantu kita kembali bertanya: untuk apa semua perubahan itu dilakukan?
Buku ini diterbitkan oleh Bumi Aksara dan tercatat sebagai buku referensi karya Teguh Triwiyanto. Data Perpustakaan Nasional mencatat judul dan ISBN buku ini dalam daftar terbitan tahun 2025, sementara SINTA mencatatnya sebagai buku referensi karya Teguh Triwiyanto.
Dari Teori Menuju Praktik Pendidikan
Kekuatan utama buku ini dapat dilihat dari judulnya sendiri: Dasar Teoritis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern. Frasa tersebut menunjukkan bahwa filsafat pendidikan tidak ditempatkan semata-mata sebagai pembahasan yang jauh dari kehidupan sekolah. Selama ini, filsafat terkadang dipersepsikan sebagai sesuatu yang sulit, abstrak, dan penuh istilah yang hanya cocok dibahas di ruang perkuliahan. Padahal, pertanyaan filosofis sebenarnya hadir dalam hampir setiap keputusan pendidikan.
Ketika seorang guru menentukan tujuan pembelajaran, misalnya, terdapat pertanyaan filosofis di baliknya: kemampuan seperti apa yang perlu dimiliki peserta didik? Ketika guru memilih metode pembelajaran tertentu, terdapat pandangan mengenai bagaimana manusia belajar. Ketika sekolah menentukan aturan dan nilai yang harus ditanamkan kepada siswa, terdapat pandangan mengenai manusia seperti apa yang ingin dibentuk melalui pendidikan.
Dengan demikian, filsafat pendidikan bukan sekadar pembahasan mengenai teori-teori pemikiran. Filsafat menjadi semacam “kacamata” untuk melihat pendidikan secara lebih mendalam.
Hal tersebut menjadi relevan dalam konteks pendidikan modern. Perubahan teknologi sering kali membuat perhatian pendidikan berpusat pada pertanyaan “apa teknologi terbaru yang dapat digunakan?”. Padahal, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah “mengapa teknologi tersebut digunakan?” dan “apakah penggunaannya benar-benar membantu peserta didik belajar?”
Pertanyaan kedua inilah yang membuat filsafat tetap memiliki tempat di tengah perkembangan teknologi pendidikan.
Ketika Teknologi Tidak Cukup Menjadi Jawaban
Saat ini, peserta didik dapat memperoleh informasi hanya melalui telepon pintar. Video pembelajaran tersedia dalam jumlah yang sangat banyak. Buku digital dapat dibaca tanpa harus datang ke perpustakaan. Kecerdasan buatan juga mulai memasuki ruang pendidikan.
Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat seseorang memiliki pengetahuan yang bermakna.
Di sinilah pemikiran filosofis mengenai pendidikan menjadi penting. Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan informasi dari sumber kepada peserta didik. Pendidikan berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami informasi, menilai kebenarannya, menggunakannya, serta menghubungkannya dengan kehidupan.
Dalam konteks sekolah dasar, misalnya, penggunaan media digital seharusnya tidak berhenti pada perubahan dari buku cetak menjadi layar digital. Jika media digital hanya membuat peserta didik membaca materi yang sama melalui perangkat berbeda, maka perubahan teknologinya mungkin besar, tetapi perubahan pengalaman belajarnya belum tentu berarti.
Media pembelajaran seharusnya membantu peserta didik mengamati lingkungan, mengajukan pertanyaan, mencari informasi, melakukan penyelidikan, mengolah data, serta merefleksikan pengalaman belajar. Dengan kata lain, teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana untuk mencapai tujuan pendidikan, bukan menjadi tujuan itu sendiri. Perspektif semacam ini membuat gagasan dalam buku Triwiyanto memiliki keterkaitan dengan perkembangan pendidikan digital. Pendidikan modern tidak cukup hanya modern dalam perangkatnya. Ia juga perlu memiliki dasar pemikiran yang jelas mengenai manusia dan tujuan pendidikan.
Baca Juga: Filsafat Pendidikan dalam Memahami Hakikat Pendidikan
Guru Bukan Sekadar Penyampai Materi
Salah satu persoalan yang juga dapat direnungkan melalui filsafat pendidikan adalah posisi guru.
Perubahan teknologi membuat informasi semakin mudah diperoleh. Peserta didik bahkan dapat menemukan berbagai materi pembelajaran tanpa menunggu penjelasan guru. Dalam situasi seperti ini, apakah guru menjadi tidak penting?
Justru sebaliknya. Ketika informasi semakin melimpah, peran guru semakin penting dalam membantu peserta didik memahami, menyaring, dan menggunakan informasi tersebut.
Guru tidak hanya bertugas menjelaskan materi, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik berkembang sebagai manusia. Guru membantu peserta didik bertanya, berdiskusi, menguji informasi, memahami perbedaan, dan mengambil tanggung jawab terhadap proses belajarnya.
Pemikiran tersebut juga menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari nilai. Seorang peserta didik tidak hanya perlu mengetahui sesuatu, tetapi juga perlu mempertimbangkan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.
Seorang siswa mungkin mengetahui bahwa sampah dapat mencemari lingkungan. Namun, pengetahuan tersebut belum otomatis menghasilkan perilaku peduli lingkungan. Pendidikan perlu membantu siswa menghubungkan pengetahuan dengan sikap dan tindakan.
Pada titik ini, pendidikan menjadi lebih dari sekadar kegiatan akademik.
Pendidikan yang Dekat dengan Kehidupan
Pendidikan akan kehilangan sebagian maknanya jika peserta didik merasa bahwa apa yang dipelajari di sekolah tidak berhubungan dengan kehidupannya.
Karena itu, salah satu gagasan penting yang dapat dikembangkan dari pembacaan buku ini adalah pentingnya menghadirkan pengalaman nyata dalam pendidikan. Lingkungan sekitar dapat menjadi ruang belajar yang kaya.
Anak-anak tidak harus selalu memahami lingkungan melalui gambar yang terdapat dalam buku. Mereka dapat mengamati pohon di halaman sekolah, melihat interaksi makhluk hidup, mengidentifikasi masalah sampah, mengamati kebersihan lingkungan, atau mempelajari pengelolaan sampah di lingkungan sekitar.
Pembelajaran seperti itu memperlihatkan bahwa pendidikan memiliki hubungan langsung dengan kehidupan.
Dalam konteks lokal, pembelajaran dapat memanfaatkan lingkungan yang dekat dengan peserta didik sebagai sumber belajar. Misalnya, kawasan Kebon Rojo di Blitar dapat menjadi konteks untuk mempelajari ekosistem, hubungan antara makhluk hidup dan lingkungannya, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan pendekatan semacam ini, peserta didik tidak hanya mempelajari definisi ekosistem dari buku. Mereka dapat melihat bagaimana konsep tersebut hadir dalam lingkungan yang mereka kenal.
Di sinilah filsafat pendidikan menemukan relevansinya dalam praktik. Pendidikan bukan hanya mengenai apa yang diketahui peserta didik, tetapi juga mengenai bagaimana pengetahuan tersebut berhubungan dengan pengalaman hidup mereka.
Baca Juga: Hakikat Filsafat Pendidikan: Antara Teori dan Realita
Membaca Pendidikan secara Lebih Manusiawi
Hal lain yang menarik dari buku ini adalah kemungkinan untuk melihat pendidikan dari perspektif yang lebih luas. Peserta didik bukan sekadar angka dalam daftar nilai. Mereka adalah manusia yang memiliki pengalaman, potensi, kebutuhan, lingkungan sosial, dan cara belajar yang berbeda.
Cara pandang tersebut penting karena pendidikan sering kali terjebak pada ukuran-ukuran yang mudah dihitung. Nilai ujian mudah dibandingkan. Jumlah tugas mudah dihitung. Persentase kelulusan mudah dilaporkan.
Namun, tidak semua hal yang penting dalam pendidikan dapat direduksi menjadi angka.
Rasa ingin tahu, kepedulian terhadap lingkungan, kemampuan bekerja sama, keberanian mengemukakan pendapat, tanggung jawab, dan kemampuan merefleksikan pengalaman merupakan bagian dari perkembangan peserta didik yang juga penting.
Pendidikan yang hanya mengejar hasil akademik berisiko mengabaikan dimensi manusiawi tersebut.
Filsafat pendidikan membantu mengingatkan bahwa setiap sistem pendidikan pada akhirnya berhadapan dengan manusia. Karena itu, pembicaraan mengenai kurikulum, teknologi, metode, evaluasi, dan media pembelajaran seharusnya selalu kembali pada pertanyaan mengenai perkembangan manusia yang hendak diwujudkan.
Kelebihan dan Catatan untuk Pembaca
Sebagai buku yang mengangkat filsafat pendidikan, salah satu kelebihannya adalah relevansinya dengan persoalan pendidikan. Buku ini dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa kependidikan maupun pendidik untuk melihat pendidikan tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi konseptual.
Judul yang menggabungkan “dasar teoritis” dan “praktik pendidikan modern” juga memberikan arah pembacaan bahwa filsafat tidak seharusnya berhenti sebagai teori. Konsep-konsep filosofis perlu dibawa kembali pada realitas pendidikan.
Buku ini juga relevan dibaca oleh calon guru. Mahasiswa pendidikan sering kali disibukkan dengan pertanyaan mengenai metode mengajar, penyusunan perangkat pembelajaran, asesmen, dan media pembelajaran. Semua itu penting, tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: guru seperti apa yang ingin kita bentuk, dan peserta didik seperti apa yang ingin kita lahirkan melalui pendidikan?
Meski demikian, pembaca yang belum terbiasa membaca kajian filsafat mungkin membutuhkan konsentrasi lebih untuk memahami gagasan-gagasan yang bersifat konseptual.
Buku filsafat memang tidak selalu dapat dibaca dengan cara yang sama seperti buku populer. Beberapa bagian perlu direnungkan, dibandingkan dengan pengalaman pendidikan yang ditemui sehari-hari, bahkan mungkin dibaca kembali.
Namun, justru proses tersebut merupakan bagian dari pengalaman membaca buku filsafat. Pembaca tidak hanya menerima informasi, tetapi diajak berhenti sejenak dan mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Filsafat Pendidikan di Tengah Perubahan Zaman
Pada akhirnya, relevansi buku ini tidak terletak pada kemampuannya memberikan resep tunggal untuk menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan. Nilainya justru terletak pada kemampuannya mengajak pembaca kembali ke pertanyaan-pertanyaan dasar.
Di tengah perkembangan teknologi, kita perlu bertanya untuk apa teknologi digunakan. Di tengah perubahan kurikulum, kita perlu bertanya tujuan apa yang hendak dicapai. Di tengah tuntutan prestasi akademik, kita perlu bertanya manusia seperti apa yang sedang kita bentuk.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan selalu memiliki dimensi filosofis.
Buku Filsafat Pendidikan: Dasar Teoritis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern menjadi relevan karena pendidikan saat ini berada pada situasi yang terus berubah. Teknologi dapat berubah, kurikulum dapat berubah, metode pembelajaran dapat berkembang, tetapi kebutuhan untuk memahami makna pendidikan tetap ada.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya persoalan bagaimana mengajar, tetapi juga mengapa kita mengajar dan untuk siapa pendidikan itu diselenggarakan.
Pertanyaan tersebut mungkin tidak memiliki satu jawaban yang selesai untuk selamanya. Justru karena itulah filsafat pendidikan tetap penting. Ia mengajarkan bahwa pendidikan bukan sesuatu yang cukup dijalankan secara otomatis, melainkan sesuatu yang perlu terus dipikirkan, dipertanyakan, dan direfleksikan.
Dan mungkin, di tengah pendidikan yang semakin cepat bergerak menuju dunia digital, kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya “untuk apa?” justru menjadi salah satu bentuk pendidikan yang paling penting.
Penulis: Ananda Zahra (NIM : 230151610242)
Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Malang (UM)
Dosen Pengampu: Dr. Teguh Triwiyanto, M.Pd.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














