Pencarian Identitas di Era Digital: Dilema antara menjadi diri sendiri vs. Memenuhi ekspektasi netizen/sosmed

Jati Diri Digital

Di masa kini yang serba digital, media sosial telah berkembang bukan hanya menjadii tempat menyimpan kenangan, tapi sudah jadi ajang utama banyak orang untuk mencari jati diri.

Ini terjadi karena mereka merasa identitas aslinya belum cocok sama standar di media sosial. Walaupun dunia maya kasih banyak ruang buat berekspresi, kebebasan ini malah bikin bingung: apakah kita benar benar menunjukkan diri sendiri, atau kita bikin citra palsu biar disukai orang lain?

Panggung Media Sosial dan Pengesahan Cepat

Sebagai makhluk sosial, manusia secara sosial membutuhkan penerimaan dan pengakuan dari orang lain. Di era digital ini, media sosial telah mengambil alih fungsi interaksi sosial, memanfaatkan mekanisme psikologis melalui penyediaan like, jumlah pengikut, dan bagian komentar sebagai bentuk pengesahan instan yang berfungsi sebagai tolak ukur penerimaan sosial yang bersifat real-time.

Menerima komentar yang baik atas sebuah unggahan dapat menimbulkan perasaan gembira, kepuasan, dan pengakuan. Sebaliknya, ketika unggahan tidak mendapatkan apresiasi yang memadai, dapat muncul kecemasan, keraguan, bahkan ketakutan akan tidak diakui oleh orang lain.

BACA JUGA: Transformasi Digital dan Efisiensi Rantai Pasok: Peran Penerapan Enterprise Resource Planning (ERP) pada Industri PT Lion Super Indo

Hal ini pada akhirnya memunculkan pertanyaan diri yang mendorong seseorang untuk melakukan berbagai upaya guna memenuhi harapan orang lain dan memperoleh apresiasi positif.

Tekanan Harapan dan Identitas yang Terpecah

Orang-orang cenderung selalu menunjukkan diri yang sempurna di depan umum, ini disebut fenomena curated self. Ini berarti menampilkan diri yang sudah dipilih, diperbaiki, dan diatur baik-baik agar disukai banyak orang di internet.

Momen kehidupan tidak diperlihatkan begitu saja, tapi diubah agar cocok dengan gaya, tampilan, dan aturan yang ada di media sosial.

Padahal, ada masalah besar ketika kenyataan hidup di dunia nyata tidak sejalan dengan cepatnya, cantiknya, dan sempurnanya apa yang terlihat di media sosial.

  1. Pecahnya Jati Diri Akibat Media Sosial

Terus-terusan kepo dan dituntut oleh media sosial lama-lama orang jadi tertekan secara kejiwaan. Jati diri yang asli lama-lama terpecah jadi beberapa kepribadian yang saling bertabrakan:

  • Di media sosial, orang kelihatannya selalu ceria, hidupnya tertata rapi, bahagia, pede banget, sukses, dan banyak diidolakan orang lain.
  • Padahal, aslinya di dunia nyata, dia sering merasa capek, gagal, ragu-ragu, dan punya banyak kekurangan sebagai manusia biasa.
  1. Dampak Penting Bagi Kesehatan Jiwa dan Diri Terbelahnya diri gara-gara tekanan ekspektasi orang-orang di dunia maya ini berdampak besar buat seseorang:
  • Capek Batin: Orang jadi gampang capek emosi dan pikirannya karena terus-terusan pura-pura pakai topeng demi menjaga cerita hidup yang sempurna sesuai harapan netizen.
  • Krisis Autentisitas: Kesulitan dalam mengidentifikasi minat, nilai, dan perasaan diri yang sesungguhnya. Orang bisa jadi merasa jauh dari diri sendiri karena terbiasa mengikuti apa yang diharapkan orang lain.
  • Takut Tidak Diterima: Rasa cemas yang besar muncul saat mau mengutarakan pendapat sendiri atau menunjukkan sisi rentan. Ini karena takut dinilai buruk, dikritik, atau diacuhkan oleh orang-orang di internet.

Akibatnya, kepribadian jadi tidak berkembang dengan baik. Ada orang yang dapat banyak pujian dan kekaguman dari banyak orang di media sosial, tapi di saat yang sama merasa gelisah, hampa, dan kehilangan jati diri begitu interaksi online selesai.

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Ramainya Dunia Maya

Menghadapi tuntutan dari banyak orang di internet bukan berarti harus benar-benar keluar dari dunia maya. Media sosial itu sendiri tidaklah buruk, ia bisa jadi tempat yang baik asalkan kita bisa mengendalikan cara pakainya.

Yang terpenting bukan seberapa pintar kita mengikuti tren, tapi seberapa sadar diri kita dan berani membuat batasan yang baik. Kita harus tetap memikirkan apakah ini akan membuat saya lupa diri atau tidak.

  • Beranilah untuk Mengedit Feed: Kamu memiliki dirimu dan berwenang atas apa yang matamu lihat setiap hari. Jangan ragu untuk berhenti mengikuti, membisukan, atau memblokir akun yang terus menerus membuatmu merasa tidak nyaman, tidak berharga, atau terbebani standar hidup yang tidak realistis.
  • Mengubah Patokan Nilai Diri: Pahami sepenuhnya bahwa harga dirimu tidak pernah ditentukan oleh algoritma, jumlah suka, atau komentar orang di internet. Pengakuan terbesar justru datang dari penerimaan diri sendiri dan hubungan yang tulus dengan orang terdekat di dunia nyata.
  • Menerima Ketidaksempurnaan: Berani menjadi diri sendiri dan tampil apa adanya jauh lebih membebaskan daripada terus berpura-pura sempurna. Memperlihatkan proses belajar, kegagalan, dan sisi manusiamu yang sesungguhnya tidak akan membuatmu terlihat lemah, malah justru menunjukkan kekuatan identitasmu yang otentik.

Mencari jati diri di era digital merupakan ujian seberapa jauh kita bisa tetap menjadi diri sendiri di tengah godaan pengakuan instan.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat, dan orang lain akan selalu punya standar yang berubah-ubah mengikuti tren. Mengejar kepuasan orang lain adalah usaha tanpa akhir yang hanya akan menguras energimu.

Menjadi diri sendiri tak selalu berpatok pada media sosial saat posting video atau foto harusi mendapat like banyak dan komentar positif dari netizen yang hanya memberi kepuasan dan kesenangan sesaat pada diri kita, tapi kejujuran pada diri sendiri akan memberikan ketenangan dan kebebasan tak perlu dibeli validasi digital manapun.


Penulis: Puspa Putri Erli Anto
Mahasiswi Program Studi Perpajakan, Universitas Airlangga (UNAIR)


Editor: Darsono. AR

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *