Pengaruh Penggunaan Media Sosial Berlebih terhadap Kesehatan Mental Remaja

penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental remaja
Pengaruh Penggunaan Media Sosial Berlebih terhadap Kesehatan Mental Remaja. Sumber: MMI.

Di zaman sekarang, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi remaja. Media sosial digunakan untuk berkomunikasi, mencari informasi, mengikuti perkembangan zaman, dan mengekspresikan diri.

Melalui media sosial, kita juga dapat menjalin hubungan dengan teman atau orang lain meskipun berada di tempat yang berbeda. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan media sosial juga dapat memberikan dampak terhadap kesehatan mental.

Salah satu dampak yang dapat terjadi adalah kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ketika melihat unggahan tentang penampilan, prestasi, atau kehidupan orang lain, sebagian remaja mungkin merasa kurang percaya diri.

Selain itu, komentar negatif dan keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain juga dapat menimbulkan tekanan emosional. Oleh karena itu, penting untuk memahami hubungan penggunaan media sosial dengan kesehatan mental remaja agar teknologi dapat dimanfaatkan secara lebih bijak.

Menurut World Health Organization (WHO, 2025), sekitar satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun di dunia mengalami kondisi kesehatan mental. Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental merupakan hal penting yang perlu diperhatikan selama masa remaja.

Baca Juga: Hidup atau Sekadar Bertahan? Ketika Standar Kebahagiaan Media Sosial Menggeser Makna dan Tujuan Hidup

Selain itu, penelitian Sala, Porcaro, dan Gómez (2024) dalam jurnal Computers in Human Behavior Reports membahas manfaat dan risiko penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental serta kesejahteraan remaja.

Media sosial dapat membantu remaja memperoleh informasi dan dukungan sosial, tetapi juga dapat memberikan dampak negatif jika digunakan dengan cara yang kurang sehat. Pengaruhnya bisa berbeda pada setiap individu, tergantung pada cara penggunaan, kondisi diri, dan lingkungan sosialnya.

Salah satu hal yang dapat mempengaruhi kesehatan mental remaja adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Banyak orang membagikan momen menyenangkan atau pencapaian mereka sehingga kehidupan yang terlihat di media sosial terkadang tampak sempurna.

Jika terlalu sering membandingkan diri, sebagian remaja dapat merasa kurang percaya diri atau tidak puas dengan kehidupannya sendiri. Padahal, unggahan di media sosial belum tentu menunjukkan keseluruhan kehidupan seseorang.

Selain itu, keinginan untuk mendapatkan banyak suka, komentar, dan pengikut juga dapat menimbulkan tekanan. Sebagian orang mungkin merasa kecewa ketika unggahannya tidak mendapatkan respons sesuai harapan.

Komentar negatif dan perundungan siber (cyberbullying) juga dapat membuat seseorang merasa sedih, malu, atau tidak nyaman.

Baca Juga: Apakah Algoritma Merusak Fokus Kita? Mengkritisi Budaya Micro-Dopamine Pada Generasi Muda

Penggunaan media sosial secara berlebihan juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama waktu tidur dan belajar. Misalnya, seseorang terlalu asyik melihat video hingga larut malam sehingga waktu istirahatnya berkurang.

Jika kebiasaan tersebut terus berulang, seseorang dapat merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan kesulitan mengelola emosi. Meskipun demikian, dampak media sosial tidak selalu sama pada setiap orang karena dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Untuk mengurangi dampak negatif media sosial, remaja perlu belajar mengatur waktu penggunaannya agar tidak mengganggu waktu belajar, istirahat, dan kegiatan lainnya. Kita juga perlu memahami bahwa kehidupan setiap orang berbeda sehingga tidak perlu menjadikan unggahan orang lain sebagai ukuran untuk menilai diri sendiri.

Selain itu, penting untuk memilih konten yang positif dan bermanfaat, seperti informasi pendidikan atau pengembangan diri. Remaja juga perlu belajar mengenali dan mengelola emosi ketika menemukan konten yang membuat dirinya merasa tidak nyaman.

Mengurangi penggunaan media sosial sebelum tidur serta memperbanyak kegiatan secara langsung bersama keluarga dan teman juga dapat membantu menjaga keseimbangan kehidupan sehari-hari.

Dukungan dari keluarga dan teman juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Jika seseorang mengalami masalah emosional yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, ia dapat bercerita kepada orang terpercaya atau mencari bantuan dari tenaga profesional. Dengan demikian, remaja dapat belajar menggunakan media sosial secara lebih sehat dan bertanggung jawab.

Baca Juga: Sayangi Tanpa Mengekang: Mengapa Anak Butuh Boundaries dari Orang Tuanya

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki dampak positif dan negatif terhadap kesehatan mental remaja.

Media sosial dapat memudahkan komunikasi dan memberikan informasi yang bermanfaat, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan sosial, menurunkan kepercayaan diri, dan mengganggu waktu istirahat jika digunakan secara berlebihan.

Media sosial tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi perlu digunakan secara bijak dan sesuai kebutuhan. Kita perlu belajar memahami diri sendiri, mengelola emosi, serta tidak mudah membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain di internet.

Sebagai mahasiswa Psikologi, saya menyadari bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga kita perlu memahami kondisi setiap individu dengan baik.

Dengan penggunaan media sosial yang sehat dan dukungan dari lingkungan sekitar, remaja diharapkan dapat memanfaatkan teknologi secara positif tanpa mengabaikan kesehatan mentalnya.


Penulis:

Dhea Naura Ayu Aringan Ghofur
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *