Bayangkan saat kita membuka media sosial selama lima menit. Dalam waktu singkat tersebut, kita dapat melihat potongan kehidupan orang lain: teman yang baru diterima kerja, seseorang yang lulus tepat waktu, pasangan yang tampak hidup bahagia, hingga mereka yang terlihat telah menemukan arah dan tujuan hidupnya. Tanpa disadari, berbagai pencapaian tersebut perlahan membentuk gambaran tentang seperti apa standar kehidupan yang dianggap ideal dan layak untuk dicapai. Akibatnya, tidak sedikit orang yang mulai menilai dan membandingkan kehidupan dirinya dengan kehidupan orang lain. Di tengah banjir pencapaian yang terus bermunculan, muncullah pertanyaan yang jarang diungkapkan secara terbuka, “Mengapa ketika semua orang terlihat baik-baik saja, saya justru merasa tertinggal atau bahkan kehilangan arah?” dan mengapa semakin banyak orang merasa kosong, justru saat mereka sedang berusaha mengejar semua hal yang dianggap sebagai ukuran kesuksesan tersebut?
Ketika Media Sosial Menjadi Standar Kehidupan
Di era digitalisasi, media sosial menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama pada generasi muda. Banyak orang memulai harinya dengan membuka media sosial dan terus memeriksanya di sela-sela aktivitas. Tanpa disadari, kehidupan orang lain yang dibagikan di media sosial sering dijadikan standar mengenai seperti apa hidup “ideal” dan “bahagia”. Melihat pencapaian, gaya hidup, hubungan, hingga produktivitas orang lain dapat memicu kita untuk terus membandingkan diri sendiri.
Kejadian ini juga berkaitan dengan munculnya Fear of Missing Out (FoMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman atau pencapaian orang lain. Kita merasa harus selalu mengikuti tren, terus aktif, dan terlihat produktif agar tidak merasa tertinggal. Akibatnya, banyak orang menjalani hidup berdasarkan validasi sosial dibanding memahami apa yang sebenarnya mereka butuhkan dan inginkan dalam hidup.
Dari sisi lain, media sosial juga sering digunakan sebagai pelarian dari rasa bosan, kesepian, atau kekosongan emosional. Aktivitas scrolling menjadi rutinitas otomatis yang dilakukan berulang kali, bahkan tanpa tujuan yang jelas. Hal tersebut membuat kita tampak menjalani aktivitas seperti biasa, tetapi secara emosional merasa lelah, kosong, dan kehilangan arah hidup (Bengtsson & Johansson, 2022).
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah kehidupan digital yang terlihat ramai dan terkoneksi, masih banyak orang yang sebenarnya belum menemukan makna dan tujuan hidupnya sendiri.
Makna Hidup, FoMO, dan Kehampaan Psikologis
Makna hidup merupakan salah satu kebutuhan mendasar manusia dalam menjalani kehidupan. Menurut Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning, manusia pada dasarnya memiliki dorongan utama untuk menemukan arti dan tujuan hidupnya. Frankl menyebut dorongan tersebut sebagai will to meaning, yaitu keinginan manusia untuk memahami alasan mengapa ia hidup dan apa tujuan yang ingin dicapai. Dalam pandangan Frankl, manusia tidak hanya mencari kesenangan atau menghindari penderitaan, tetapi lebih dari itu, manusia membutuhkan kehidupan yang bermakna (Frank,1985).
Frankl menjelaskan bahwa manusia tetap dapat menemukan makna hidup bahkan dalam situasi yang sulit di lupakan. Menurutnya, seseorang yang memiliki alasan untuk hidup akan lebih mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan dan tantangan kehidupan “those who have a ‘why’ to live, can bear with almost any ‘how’” (Frank,1985).
Sebaliknya, ketika individu gagal menemukan makna hidup, maka dapat muncul kondisi yang disebut existential vacuum (kehampaan eksistensial). Kondisinya ditandai dengan perasaan kosong, kehilangan tujuan, kebingungan arah hidup, serta munculnya ketidakpuasan dalam kehidupan. Kehampaan eksistensial sering terjadi ketika manusia terlalu berfokus pada pencapaian eksternal tanpa memahami makna personal dalam hidupnya. Dalam konteks kehidupan modern, fenomena ini dapat terlihat pada individu yang menjadikan standar kebahagiaan di media sosial sebagai tujuan utama hidup. Banyak orang berusaha mengikuti standar kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial, namun ketika tujuan tersebut berhasil dicapai, rasa puas yang muncul sering kali hanya sementara. Pada akhirnya, perasaan kosong tetap muncul karena yang dicari sebenarnya bukan sekadar pengakuan dari orang lain, melainkan makna yang berasal dari dalam diri sendiri.
Di sinilah munculnya fenomena Fear of Missing Out (FoMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman atau pencapaian orang lain. Individu menjadi terus membandingkan dirinya dengan kehidupan yang ditampilkan di media sosial sehingga muncul tekanan psikologis dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Ketika tujuan hidup hanya berorientasi pada pengakuan sosial atau kesenangan sesaat, individu berisiko kehilangan arah hidup dan mengalami kehampaan psikologis (Maulida, 2025).
Dalam perspektif Psikologi Positif, tujuan hidup (purpose in life) merupakan salah satu faktor utama yang mendukung kesejahteraan psikologis. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda yang memiliki tujuan hidup yang jelas cenderung lebih mampu menghadapi tekanan sehari-hari, merasa lebih puas dengan hidupnya, dan memiliki risiko depresi yang lebih rendah. Dengan kata lain, bukan sekadar kebahagiaan sesaat yang penting, tetapi kemampuan menemukan arah dan makna dalam hidup yang membantu seseorang bertahan dan berkembang. Temuan ini menunjukkan bahwa fokus pada tujuan hidup pribadi, bukan hanya pencapaian eksternal atau validasi sosial, dapat meningkatkan kualitas kehidupan secara signifikan (Barcaccia et al., 2023).
Menariknya, perasaan puas terhadap hidup ternyata tidak selalu berasal dari pencapaian besar seperti mendapatkan pekerjaan impian, lulus tepat waktu, atau memiliki kehidupan yang sempurna. Penelitian Wolfram (2023) menunjukkan bahwa kepuasan hidup lebih banyak dirasakan ketika seseorang merasa kehidupannya memiliki makna. Artinya, seseorang dapat tetap merasa bahagia meskipun hidupnya tidak selalu berjalan sesuai harapan, selama ia memahami apa yang penting dan bernilai bagi dirinya. Temuan ini menjelaskan mengapa tidak sedikit orang yang tetap merasa kosong meskipun berhasil mencapai berbagai target yang selama ini mereka kejar. Ketika pencapaian hanya dijadikan sebagai tujuan akhir tanpa disertai makna yang lebih dalam, rasa puas yang muncul sering kali hanya bersifat sementara (Wolfram, 2023).
Era Digital dan Pencarian Validasi Sosial
Era digital memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan manusia, mulai dari akses informasi, komunikasi, hingga hiburan. Namun, di balik segala kemudahan dan serba cepat, kita tetap harus memberikan boundaries (batasan) penggunaan media sosial, karena media sosial juga menciptakan ruang perbandingan sosial yang berlangsung setiap hari. Kita tidak hanya melihat kehidupan orang lain, tetapi juga secara tidak sadar menilai diri berdasarkan apa yang mereka lihat di media sosial.
Standar kebahagiaan yang tersebar di media sosial sering kali membuat kita merasa bahwa hidup yang baik harus selalu produktif, menyenangkan, dan penuh pencapaian. Ketika realita hidup tidak sesuai dengan gambaran tersebut, maka akan lebih mudah merasa gagal, tertinggal, atau tidak cukup baik. Kondisi ini dapat memicu FoMO, kecemasan, dan menurunnya kesejahteraan psikologis. Penggunaan media sosial yang terus-menerus dapat membuat kita kehilangan ruang untuk melakukan refleksi diri. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk memahami diri sendiri justru malah lebih banyak dihabiskan untuk mengonsumsi kehidupan orang lain. Akhirnya, kita berujung menjadi lebih fokus mengejar pengakuan sosial dibanding menemukan makna hidup yang benar-benar berasal dari dirinya sendiri (Maulida, 2025; Bengtsson & Johansson, 2022).
Di tengah era digitalisasi yang membuat kita semakin mudah terhubung dengan kehidupan orang lain, banyak orang tanpa sadar mulai menjadikan standar yang ada di media sosial sebagai tolok ukur kebahagiaan dan kesuksesan. Padahal, mengejar kehidupan yang terlihat ideal belum tentu membuat seseorang merasa puas atau bermakna. Ketika fokus hanya tertuju pada validasi sosial dan pencapaian yang bersifat eksternal, perasaan kosong, kehilangan arah, dan ketidakpuasan lebih mudah muncul. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk sesekali berhenti membandingkan diri dengan orang lain, memberi ruang untuk mengenal diri sendiri, serta menemukan tujuan hidup yang sesuai dengan nilai dan makna pribadi. Pada akhirnya, hidup yang bermakna bukan tentang seberapa sempurna hidup kita terlihat di media sosial, melainkan tentang memahami alasan mengapa kita menjalani hidup dan ke mana kita ingin melangkah.
Penulis:
1. Maulidya Rahmania Azzahra
2. Dyondi Gilang Ramadhan
3. Laila Meiliyandrie Indah Wardani
Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Bengtsson, S., & Johansson, S. (2022). The meanings of social media use in everyday life: Filling empty slots, everyday transformations, and mood management. Social Media + Society, 8(4), 1–11. https://doi.org/10.1177/20563051221130292
Barcaccia, B., Baiocco, R., Salvati, M., Vecchio, G. M., Pallini, S., & Schneider, B. H. (2023). Purpose in life as an asset for well-being and a protective factor against depression in adolescents. Frontiers in Psychology, 14, 1250279. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1250279
Frankl, V. E. (1985). Man’s search for meaning. Washington Square Press.
Maulida, F. (2025). Peran fear of missing out (FoMO) dan regulasi emosi untuk memprediksi kesejahteraan psikologis pada pengguna media sosial. Jurnal Diversita, 11(1), 110–118. https://doi.org/10.31289/diversita.v11i1.14707
Wolfram, H. J. (2023). Meaning in life, life role importance, life strain, and life satisfaction. Current Psychology, 42(35), 29905–29917. https://doi.org/10.1007/s12144-022-04031-9
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













