Aplikasi Teknologi Active Packaging dan Desain Kemasan Plastik untuk Mencegah Jamur pada Beras 5 Kg

active packaging untuk mencegah jamur pada beras
Penerapan teknologi active packaging bukan sekadar inovasi kemasan, melainkan bentuk investasi strategis bagi industri pangan untuk menjamin mutu produk serta melindungi kesehatan konsumen secara berkelanjutan. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Beras merupakan bahan pangan pokok utama yang membutuhkan penanganan pascapanen serta penyimpanan yang tepat untuk mempertahankan kualitas dan keamanannya. Namun, dalam rantai distribusi hingga tingkat konsumen, penurunan kualitas masih kerap terjadi.

Salah satu kasus yang sering dijumpai adalah munculnya gumpalan beras berjamur di bagian dasar kemasan plastik berukuran 5 kg. Fenomena ini mengindikasikan adanya masalah migrasi kelembapan (moisture migration) selama penyimpanan.

Sebagai bahan pangan higroskopis, beras sangat mudah menyerap uap air dari lingkungan sekitar. Kadar air beras yang melebihi batas aman, yaitu kurang lebih 14%, dapat memicu pertumbuhan mikroorganisme perusak mutu (Putri dkk., 2023).

Oleh karena itu, muncul pertanyaan mengenai alasan bagian dasar kemasan plastik menjadi area yang paling rentan ditumbuhi jamur serta cara teknologi active packaging mengatasi permasalahan tersebut.

Berdasarkan permasalahan ini, penerapan inovasi active packaging serta pengawasan permeabilitas uap air pada kemasan plastik merupakan solusi teknologis untuk mencegah kondensasi lokal dan pertumbuhan jamur.

Kerusakan mutu beras akibat pertumbuhan kapang erat kaitannya dengan kondisi kelembapan dan karakteristik fisik beras.

Secara ilmiah, beras yang disimpan pada kondisi lingkungan dengan kelembapan relatif tinggi serta kadar air di atas 14% sangat rentan mengalami kerusakan fisik dan penurunan kualitas organoleptik akibat aktivitas mikrobiologi (Ratnawati dkk., 2013).

Jamur kontaminan seperti Aspergillus sp. berkembang pesat pada tumpukan beras yang lembap dan berisiko menghasilkan racun mikotoksin yang berbahaya bagi kesehatan.

Kondisi ini diperparah oleh karakteristik material kemasan plastik konvensional, seperti polyethylene (PE) atau polypropylene (PP), yang tidak memiliki sistem sirkulasi udara internal yang optimal ketika terjadi perubahan suhu ekstrem antara lingkungan luar dan bagian dalam kemasan.

Penjamuran yang terkonsentrasi di dasar kemasan terjadi akibat mekanisme migrasi kelembapan (moisture migration) atau kondensasi uap air lokal.

Saat kemasan beras diletakkan langsung di atas permukaan lantai yang dingin tanpa menggunakan alas (pallet), terjadi perpindahan panas dan fluktuasi suhu yang memicu pengembunan di dasar kantong.

Di samping itu, nilai laju transmisi uap air atau Water Vapor Transmission Rate (WVTR) pada plastik kemasan yang tidak terukur dengan presisi menyebabkan uap air terperangkap di area bawah (Ikasari dkk., 2021).

Akibatnya, nilai aktivitas air dan kadar air beras pada lapisan dasar meningkat melampaui batas kritis, yang kemudian menjadi media ideal bagi spora jamur untuk berkecambah.

Untuk mengatasi permasalahan ini, pendekatan teknologi pangan menawarkan solusi berupa penerapan active packaging.

Teknologi ini dilakukan dengan menambahkan kantong penyerap kelembapan (moisture absorber atau desiccant) berbahan aktif, seperti silika gel atau activated clay, di dalam kemasan untuk menyerap uap air berlebih dan menahan kenaikan kadar air bahan (Pratama dkk., 2023).

Selain penggunaan kemasan aktif, industri pengolahan beras perlu menerapkan pemilihan material plastik dengan spesifikasi nilai permeabilitas uap air atau WVTR yang terhitung secara akurat.

Solusi teknis ini juga harus didukung dengan edukasi rantai pasok mengenai pentingnya penggunaan alas (pallet) kayu atau plastik selama proses distribusi dan penyimpanan agar kemasan tidak berkontak langsung dengan lantai dingin (Rachmawati dkk., 2025).

Secara keseluruhan, permasalahan beras berjamur di dasar kemasan plastik 5 kg dapat diatasi secara komprehensif melalui pendekatan ilmu dan teknologi pangan, khususnya melalui rekayasa kemasan dan kontrol kelembapan (Pratama dkk., 2023).

Kombinasi antara kontrol nilai Water Vapor Transmission Rate (WVTR) pada plastik kemasan, aplikasi penyerap kelembapan (moisture absorber), serta penerapan standar penyimpanan berbasis alas pallet dinyatakan efektif dalam menjaga mutu, kesegaran, dan keamanan beras dari kontaminasi kapang (Ikasari dkk., 2021; Rachmawati dkk., 2025).

Penerapan teknologi active packaging bukan sekadar inovasi kemasan, melainkan bentuk investasi strategis bagi industri pangan untuk menjamin mutu produk serta melindungi kesehatan konsumen secara berkelanjutan.

 


active packaging untuk mencegah jamur pada beras

Penulis: Chintya Kusuma Hapsari
Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Muhammadiyah Malang


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *