Hidup di kota besar memaksa kita untuk selalu bergerak dengan cepat. Jadwal yang sibuk, beban kerja yang tinggi, kurangnya istirahat, dan udara yang tercemar sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, urusan makanan sering kali terabaikan.
Makanan cepat saji dan camilan instan sering dipilih karena lebih mudah dan praktis, sementara sayuran, buah, dan makanan yang kaya serat semakin sedikit muncul di meja makan. Kebiasaan ini mungkin terlihat kecil, tetapi bisa memengaruhi kesehatan pencernaan, yang sangat berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh.
Oleh karena itu, esai ini berpendapat bahwa pangan fungsional berbasis probiotik lokal dapat dikembangkan dan disebarkan lebih luas sebagai salah satu cara untuk menjaga daya tahan tubuh masyarakat perkotaan, selama tetap menjadi bagian dari rangkaian gaya hidup sehat, bukan penggantinya.
Argumen pertama didasarkan pada hubungan antara usus dan sistem kekebalan tubuh. Sebagian besar sistem kekebalan tubuh manusia terletak di sekitar sistem pencernaan, dan di dalamnya tinggal triliunan mikroba yang disebut mikrobiota usus.
Ketika komposisinya seimbang, mikrobiota membantu menjaga kinerja pencernaan dan berkomunikasi dengan sistem kekebalan tubuh. Kalau keseimbangannya terganggu, kondisi tersebut disebut disbiosis, dan kesehatan pencernaan bisa terganggu juga.
Baca Juga: “Retort” Metode Sterilisasi Pangan Komersil
Gaya hidup urban berpotensi mendorong ketidakseimbangan tersebut. Pola makan yang banyak mengandung gula dan lemak, kurangnya asupan serat, kurangnya tidur, serta stres yang konstan biasanya terkait dengan perubahan kondisi usus.
Hubungan antar faktor tersebut memang rumit dan tidak bisa dijelaskan dengan satu penyebab saja yang berlaku untuk semua orang. Namun, masalahnya jelas: merawat usus berarti juga merawat daya tahan tubuh, hal ini perlu diperhatikan oleh masyarakat perkotaan.
Argumen kedua menyangkut sumber probiotik itu sendiri. Indonesia memiliki banyak mikroorganisme yang bisa digunakan dalam industri makanan. Salah satu contohnya adalah Lactobacillus plantarum Dad-13, bakteri asli Indonesia yang sudah diteliti sebagai kultur starter untuk membuat yoghurt fungsional.
Penelitian lain menunjukkan bahwa cokelat yang mengandung strain tersebut dapat mengubah susunan bakteri di usus anak-anak yang mengalami kekurangan gizi di Lombok, seperti yang diteliti dalam uji acak bersifat ganda yang dilakukan oleh Rahayu dan tim pada tahun 2024.
Baca Juga: STE(A)M – Think Globally, Act Locally: Plant-Based Food dari Pangan Lokal
Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa penelitian probiotik di dalam negeri bukan hanya sekadar pembicaraan. Membangun budaya makanan sendiri juga berarti mengurangi ketergantungan pada makanan dari luar negeri dan memberi ruang bagi industri pangan dalam negeri untuk berkembang dan menciptakan inovasi.
Di sisi lain, harus diakui bahwa sumber daya lokal sendiri belum cukup menjamin manfaatnya. Setiap jenis strain harus dipastikan melalui penelitian yang benar, termasuk kemampuannya bertahan selama proses pengolahan dan penyimpanan, serta keamanannya untuk dikonsumsi oleh pengguna.
Mungkin ada yang penasaran, apakah produk pangan probiotik hanya sekadar tren yang dikemas dengan istilah ilmiah saja? Keraguan ini cukup wajar. Probiotik bukan merupakan obat dan bukan pengganti pengobatan medis yang dilakukan oleh dokter.
Yoghurt atau produk fermentasi lain tidak akan menetralkan efek pola makan buruk dan begadang setiap hari. Edukasi juga penting agar konsumen memahami bahwa pangan probiotik adalah pelengkap dari pola makan seimbang, asupan serat yang cukup, tidur yang memadai, aktivitas fisik, dan pengelolaan stres.
Menjaga imunitas di tengah kehidupan kota memang tidak bisa mengandalkan satu jalan pintas saja. Namun, kita bisa memulai dari sistem pencernaan, dan pangan fungsional berbasis probiotik lokal menawarkan cara yang praktis untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan tubuh.
Probiotik lokal seperti Lactobacillus plantarum Dad-13 dapat menjadi inovasi yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat sekaligus kebanggaan bagi sumber daya hayati Indonesia.
Penulis: Nisha Radiva Aulia
Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang
Dosen Pengampu: Musaffak, S.Pd., M.Pd.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















