Bagi anak muda Generasi Z di zaman sekarang, menerima pekerjaan dengan konsekuensi “siap ditempatkan di mana saja” merupakan bagian dari perjalanan membangun karier. Kesempatan kerja bisa membawa mereka jauh dari kampung halaman, bahkan ke pulau dengan kebiasaan dan latar belakang budaya yang berbeda.
Namun, menerima pekerjaan di tempat baru bukan hanya soal kesiapan menjalankan tugas dan tanggung jawab. Ada proses penyesuaian lain yang tidak kalah penting, yaitu belajar memahami lingkungan sosial dan budaya tempat mereka bekerja.
Seorang pekerja muda tidak memandang gender laki-laki ataupun perempuan yang berasal dari Pulau Jawa dan kemudian ditempatkan di daerah lain di Indonesia. Ia mungkin perlu beradaptasi dengan logat setempat, kebiasaan berkomunikasi, cara membangun kedekatan, hingga pola interaksi dengan rekan kerja.
Hal-hal yang sebelumnya terasa biasa baginya mungkin memiliki makna berbeda bagi orang lain. Sebaliknya, kebiasaan rekan kerja di tempat baru juga mungkin terasa asing baginya.
Dalam lingkungan kerja yang mempertemukan orang-orang dari berbagai daerah, perbedaan budaya tidak selalu menjadi persoalan. Tantangan justru dapat muncul ketika seseorang menafsirkan kebiasaan orang lain hanya berdasarkan sudut pandangnya sendiri.
Misalnya, seorang pekerja yang terbiasa berbicara secara langsung mungkin menganggap gaya komunikasinya sebagai bentuk keterbukaan. Namun, rekan kerja yang memiliki kebiasaan komunikasi berbeda bisa saja menangkapnya sebagai sikap yang terlalu keras.
Sebaliknya, seseorang yang cenderung berhati-hati dalam menyampaikan pendapat mungkin dianggap kurang tegas, padahal ia hanya memiliki cara berkomunikasi yang berbeda.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kesalahpahaman tidak selalu berawal dari niat buruk. Terkadang, kita terlalu cepat menggunakan kebiasaan sendiri sebagai ukuran untuk menilai orang lain.
Ketika penilaian tersebut tidak disertai keinginan untuk memahami konteksnya, perbedaan yang sebenarnya wajar dapat berkembang menjadi prasangka. Kita tidak lagi melihat perilaku seseorang sebagai sesuatu yang perlu dipahami, melainkan menganggapnya sebagai gambaran sifat orang dari daerah tertentu.
Padahal, cara berkomunikasi seseorang juga dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman, situasi, dan lingkungan tempat ia dibesarkan.
Fenomena ini dapat dipahami melalui Teori Identitas Sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel. Dalam kajian psikologi sosial, identitas seseorang tidak hanya terbentuk dari karakteristik pribadinya, tetapi juga dari keanggotaannya dalam kelompok sosial (Tajfel, 1979).
Baca Juga: Kekuatan Diri: Modal Utama Menghadapi Tantangan Dunia Kerja
Dalam kehidupan kerja, kelompok tersebut dapat berkaitan dengan asal daerah, bahasa, kebiasaan, atau latar belakang budaya. Tanpa disadari, seseorang dapat membedakan antara kelompok yang dirasakannya sebagai bagian dari dirinya sendiri (ingroup) dan kelompok yang dianggap berbeda (outgroup).
Temuan penelitian juga memberikan gambaran bahwa hubungan antarkelompok dapat diperbaiki melalui interaksi yang tepat. Pettigrew dan Tropp (2006), melalui meta-analisis terhadap 515 penelitian dengan 713 sampel independen, menemukan bahwa kontak antarkelompok pada umumnya berkaitan dengan berkurangnya prasangka.
Temuan ini relevan dengan lingkungan kerja yang mempertemukan karyawan dari berbagai latar belakang budaya. Kesempatan untuk bekerja sama dan mengenal rekan kerja secara langsung dapat membantu seseorang melihat individu di balik identitas kelompoknya.
Pembedaan tersebut sebenarnya merupakan bagian dari cara manusia memahami lingkungan sosialnya. Namun, persoalan dapat muncul ketika kedekatan dengan kelompok sendiri berkembang menjadi kecenderungan untuk menganggap kelompok sendiri lebih baik atau lebih mudah dipercaya, sementara kelompok lain dinilai berdasarkan asumsi yang belum tentu benar.
Dalam lingkungan kerja, kecenderungan ini berpotensi memengaruhi cara seseorang membangun hubungan, menilai rekan kerja, atau menafsirkan perilaku yang berbeda dari kebiasaannya.
Karena itu, bekerja dalam lingkungan yang beragam menuntut lebih dari sekadar kemampuan menyesuaikan diri. Kita juga perlu menyadari bahwa sudut pandang pribadi bukanlah satu-satunya cara untuk memahami suatu perilaku.
Rekan kerja yang berbeda budaya tidak harus memiliki kebiasaan yang sama dengan kita agar dapat bekerja sama dengan baik. Ketika kita bersedia bertanya, mendengarkan, dan memahami konteks sebelum memberikan penilaian, perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk belajar, bukan alasan untuk membatasi hubungan profesional.
Membangun lingkungan kerja yang bebas prasangka tidak cukup hanya dengan meminta setiap karyawan untuk saling menghargai. Salah satu hal yang perlu dimulai dari diri sendiri adalah membangun sikap open-minded, yaitu kesediaan untuk memahami cara pandang yang berbeda tanpa terburu-buru memberikan penilaian.
Ketika bekerja dengan orang dari latar belakang budaya yang beragam, kita perlu menyadari bahwa kebiasaan yang berbeda tidak selalu berarti salah atau kurang baik. Bisa jadi, kita hanya belum terbiasa dengan cara orang lain berkomunikasi dan berinteraksi.
Sikap ini sejalan dengan upaya mengurangi prasangka antarkelompok. Jika identitas kelompok dapat memengaruhi cara kita memandang orang lain, maka kita perlu belajar memeriksa kembali asumsi yang kita miliki.
Baca Juga: Pola Komunikasi Mahasiswa Perantau dalam Adaptasi Lingkungan Sosial di Kampus
Alih-alih langsung menganggap rekan kerja tidak ramah karena gaya komunikasinya berbeda, misalnya, kita dapat mencoba bertanya, mendengarkan, dan memahami situasinya terlebih dahulu.
Namun, keterbukaan pikiran perlu didukung oleh lingkungan kerja yang adil. Organisasi perlu membagi tugas berdasarkan kompetensi, menerapkan standar penilaian kinerja yang objektif, serta memberikan kesempatan kepada karyawan dari berbagai latar belakang untuk berkolaborasi.
Ruang dialog dan mekanisme pengaduan yang aman juga penting agar kesalahpahaman maupun diskriminasi dapat ditangani dengan baik.
Keberagaman di tempat kerja tidak secara otomatis menciptakan hubungan yang harmonis. Dibutuhkan kemauan untuk saling memahami, keterbukaan dalam menerima perbedaan, dan kesadaran untuk memeriksa kembali penilaian yang kita miliki terhadap orang lain.
Bagi siapa pun yang bekerja jauh dari daerah asalnya, perjumpaan dengan budaya yang berbeda dapat menjadi kesempatan untuk belajar melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.
Pada akhirnya, lingkungan kerja yang sehat bukanlah lingkungan yang menuntut semua orang menjadi sama, melainkan tempat setiap individu dapat berkontribusi, berkembang, dan dihargai secara adil tanpa dibatasi oleh prasangka terhadap asal-usulnya.
Penulis: Ervina Ihsa Kumalasari
Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata
Dosen Pengampu:
1. M. Suharsono, M.Si.
2. Kinanti Widyaningsih, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Tajfel, H. (1979). Individuals and groups in social psychology. British Journal of Social and Clinical Psychology, 18(2), 183–190. https://doi.org/10.1111/j.2044-8260.1979.tb00324.x
Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2006). A meta-analytic test of intergroup contact theory. Journal of Personality and Social Psychology, 90(5), 751–783. https://doi.org/10.1037/0022-3514.90.5.751
Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2008). How does intergroup contact reduce prejudice? Meta-analytic tests of three mediators. European Journal of Social Psychology, 38(6), 922–934. https://doi.org/10.1002/ejsp.504
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















