Abstrak
Mahasiswa perantau yang datang dari desa untuk melanjutkan pendidikan demi masa depan perlu beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Penelitian konseptual ini mau mengkaji dan bikin rumusan tentang gaya komunikasi yang dipakai mahasiswa rantau biar bisa ngegaul dan diterima di kampus.
Adaptasi sosial itu dianggap sebagai proses penyesuaian yang terus-menerus, yang dipengaruhi oleh dua cara komunikasi pokok: komunikasi langsung tatap muka dan komunikasi lewat media.
Mahasiswa rantau sering terkejut dengan budaya yang membuat mereka harus pindah dari pola berbicara dengan keluarga di kampung ke pola berinteraksi sama temen dan kelompok di kampus sebagai cara mengurangin rasa bingung dan enggak yakin. Konsep utama yang dibahas adalah Teori Pengurangan Ketidakpastian dan Teori Akulturasi Komunikasi.
Hasilnya, cara komunikasi yang paling sukses adalah dengan ngeimbangin interaksi sama orang luar (seperti temen lokal) dan interaksi sama kelompok sendiri (seperti sesama perantau). Cara adaptasi terbaiknya lewat komunikasi gabungan yang memakai teknologi digital sebagai alat bantu buat mendekatkan diri, bukan sebagai penghalang, terhadap obrolan tatap muka yang super penting buat penyesuaian jangka panjang.
Artikel ini menyarankan pembuat model komunikasi di kampus yang lebih mengutamakan pertemuan langsung antarbudaya.
Kata Kunci: Mahasiswa Perantau, Penyesuaian Diri di Lingkungan Sosial, Gaya Berkomunikasi, Komunikasi Langsung, Mengurangi Rasa Bingung.
Pendahuluan
Latar Belakang
Saat ini, banyak anak muda di Indonesia meninggalkan desa asal mereka dan pergi ke kota-kota besar (biasa disebut merantau) hanya demi melanjutkan pendidikan tinggi. Mereka datang dengan membawa adat istiadat, bahasa, serta pola hidup yang beragam.
Meskipun perpindahan ini dapat membuka peluang masa depan yang cerah, perpindahan ini sering kali menimbulkan masalah psikologis dan sosial ketika mereka harus beradaptasi di lingkungan baru.
Proses penyesuaian di universitas bukan hanya soal materi kuliah, tetapi juga kemampuan mahasiswa pendatang untuk mencari teman, memahami norma sosial di kampus, dan benar-benar merasa terintegrasi dalam komunitas yang baru.
Jika gagal beradaptasi, mahasiswa perantau bisa merasa kesepian, stres, bahkan sampai putus kuliah. pada titik inilah komunikasi berperan krusial. Komunikasi adalah sarana utama untuk mengatasi kebingungan, memahami suasana sekitar, dan menjalin persahabatan.
Cara mahasiswa pendatang berkomunikasi di tempat baru sangat memengaruhi keberhasilan mereka dalam beradaptasi. Mereka perlu mengelola dua bentuk komunikasi sekaligus, yaitu mempertahankan ikatan dengan keluarga di desa (biasanya melalui telepon atau chatting) dan menumbuhkan hubungan baru dengan teman-teman di kampus (sering lewat percakapan tatap muka).
Rumusan Masalah
Meski komunikasi itu krusial, kita belum sepenuhnya paham bagaimana gaya berkomunikasi mahasiswa yang merantau itu berkembang seiring mereka beradaptasi. Khususnya, artikel ini menyoroti:
- Bagaimana pola komunikasi mahasiswa pendatang bergeser dari saat pertama kali tiba (ketika menghadapi culture shock) hingga mereka benar-benar merasa diterima di lingkungan kampus?
- Apakah pola komunikasi yang dapat berpengaruh pada kecepatan dan kualitas adaptasi mahasiwa perantau?
- Skema atau strategi komunikasi macam apa yang bisa dirancang supaya mahasiswa perantau lebih lancar menyesuaikan diri?
Tujuan
- Mengkaji bagaimana pola komunikasi mahasiswa yang merantau berubah seiring proses penyesuaian diri mereka, dengan merujuk pada teori adaptasi antarbudaya.
- Menjelaskan fungsi spesifik dari komunikasi tatap muka dan komunikasi melalui media dalam membantu mengurangi kebingungan di area kampus.
- Membuat kerangka konseptual mengenai pendekatan komunikasi yang terintegrasi dan fleksibel, yang bisa dijadikan landasan untuk riset lanjutan atau inisiatif dukungan praktis di universitas.
Pembahasan
A. Ide Utama tentang Mahasiswa Perantau dan Cara Mereka Menyesuaikan Diri di Lingkungan Baru
A.1 Apa Itu Mahasiswa Perantau
Mahasiswa perantau itu orang yang meninggalkan rumahnya jauh-jauh hanya untuk kuliah. Yang membedakannya adalah perbedaan besar antara kebiasaan di daerah asalnya dengan yang ada di tempat kuliah, sering kali bikin kaget karena budaya yang berbeda.
Adaptasi sosial sendiri adalah proses seseorang menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar, termasuk aturan dan norma di kampus. Berdasarkan pendapat Berry tahun 1997, ada dua macam penyesuaian: yang mental, yakni merasa betah, dan yang sosial-budaya, yaitu bisa bergaul dan ikut acara-acara.
A.2 Teori Pengurangan Ketidakpastian
Teori ini dari Berger dan Calabrese pada 1975 sangat membantu memahami bagaimana mahasiswa berkomunikasi untuk menyesuaikan diri. Saat pertama kali di kampus, mereka sering kali bingung sekali, entah cara bersikap yang tepat atau siapa saja yang bisa jadi teman.
Komunikasi, khususnya ngobrol langsung dengan orang baru atau yang sudah paham situasi, jadi jalan utama buat cari info, kurangi kebingungan, dan bayangin gimana interaksi selanjutnya. Dengan begitu, mereka berusaha biar lebih yakin dan merasa aman di lingkungan sosial.
B. Dimensi Pola Komunikasi Adaptif
Cara berkomunikasi mahasiswa perantau dibagi menjadi tiga bagian utama yang saling terkait.
B.1 Komunikasi Interpersonal (CIP)
CIP adalah obrolan tatap muka antara dua orang atau dalam kelompok kecil. Ini adalah cara paling penting untuk beradaptasi. CIP memungkinkan tanggapan langsung, sehingga mereka dapat mengubah perilaku saat itu juga, dan membantu membangun ikatan emosional (perasaan dekat) yang dibutuhkan untuk penyesuaian mental.
Di kampus, CIP terjadi di kelas, organisasi, dan asrama. Kualitas obrolan langsung (CIP), terutama dengan teman lokal atau senior, sangat berkaitan erat dengan seberapa baik mereka diterima di kampus.
B.2 Komunikasi Kelompok (CK)
Komunikasi kelompok ini dapat terjadi di lingkungan resmi, seperti BEM atau panitia acara, maupun di kelompok informal, seperti tim belajar atau kumpulan mahasiswa perantau dari satu daerah. Kelompok perantau itu sendiri, yang sering disebut sebagai in-group, biasanya memberikan dukungan emosional yang kuat.
Baca juga: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM): Tujuan, Tugas, Peran & Fungsi
Mereka membuat mahasiswa perantau merasa bahwa pengalaman culture shock yang mereka alami itu sangat wajar, dan menjadi semacam tempat berlindung sementara. Namun, agar mahasiswa perantau dapat beradaptasi dengan baik harus dapat berpindah dari komunitas sendiri atau komunitas tertutup kekomunitas luar atau yang lebih terbuka di organisasi kampus.
B.3 Komunikasi Bermediasi Komputer (CMC) dan Peran Teknologi
Komunikasi Bermediasi (CBM) merupakan segala bentuk interaksi yang dilakukan dengan memanfaatkan perangkat dan platform digital (seperti panggilan telepon, media sosial, atau aplikasi perpesanan instan).
Penggunaan CBM oleh mahasiswa perantau di lingkungan kampus menciptakan perubahan yang menuju pada tantangan baru:
1. Fungsi Mengontrol
Dimana mengajarkan mahasiswa perantau dalam mengontrol emosi terlebih mereka harus jauh dari orangtua dan teman lama, lalu mereka harus dapat beradaptasi dengan cepat di lingkungan kampus atau lingkungan baru.
2. Fungsi Pembatas
Sebaliknya, ketergantungan yang berlebihan terhadap CBM dapat berperan sebagai penghambat. Mahasiswa lebih dominan memilih untuk berkomunikasi melalui media sosial karena mereka memiliki rasa ketidakpercayaan diri atau merasa insecure kepada lawan bicara mereka. Akibatnya, mereka terkendala beradaptasi dengan lingkungan baru karena lebih menghindari pertemuan secara langsung.
C. Teori Komunikasi dengan Kebudayaan Asing
Menurut Kim (2001) mengatakan dalam Teori Penyesuain Komunikasi. Adaptasi adalah proses dua arah antara mahasiswa perantau dalam berkomunikasi di kampus. Mahasiswa beradaptasi dikampus tidak hanya sekedar kemauan diri sendiri melainkan bergantung pada keterbukaan komunitas-komunnitas di kampus.
Cara berkomunikasi mahasiswa perantau berkembang melalui pemahaman menanggapi lawan bicaranya dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru atau kampus.
D. Perubahan Cara Berkomunikasi dalam Tahapan Adaptasi
Proses penyesuaian sosial mahasiswa perantau bisa dilihat dalam tiga tahap utama, diman cara komunikasi dan strategi yang dipakai berbeda-beda:
D.1 Tahap Orientasi (Bulan 1-3)
Mahasiswa perantau pada awalnya pasti memiliki rasa keterkejutan akan budaya baru dan rasa bigung yang tinggi. Cara mereka melawan rasa keterkejutan itu dengan cara menggunakan teknologi untuk menemani mereka contohnya: sleepcall dengan orangtua dan teman.
Ketika sudah berada fase dua bulan dan tiga bulan mereka sudah mulai biasa berkomunikasi tatap muka dengan komunitas lingkungan kampus tersebut terutama kepada sesama perantau.
D.2 Tahap Eksplorasi dan Perasaan Tidak Nyaman (Bulan 4-12)
Mahasiswa perantau awalnya memiiki perasaan tidak nyaman terhadap lingkungan kampus karena perbedaan kebiasaan atau takut berkomunikasi dengan orang baru. Hal ini tidak bisa dilakukan terus-menerus oleh karena itu mereka mengambil tindakan untuk bergabung keroganisasi atau kepanitiaan untuk bisa dapat bersosialisasi dengan baik.
E. Model Komunikasi Adaptif Terintegrasi
Berdasarkan analisis kami, artikel ini mengusulkan Model Komunikasi Adaptif Terintegrasi sebagai kerangka pemikiran untuk penyesuaian sosial mahasiswa perantau. Model ini menekankan perlunya keseimbangan dan kerjasama antara komunikasi interpersonal dan komunikasi bermediasi, yang dipengaruhi oleh kecakapan komunikasi dan penerimaan lingkungan kampus.
- Mahasiswa perantau harus paham terhadap perbedaan budaya asing, mampu menanggapi kebudayaan yang berbeda-beda, mengubah kebiasaan logat berbicara. Hal ini, dapat membantu mahasiswa perantau untuk berkomunikasi dengan mudah dilingkungan kampus.
- Komunikasi bermediasi seharusnya digunakan mahasiswa perantau dalam mengurangi tekanan emosi, sehingga mereka mampu melakukan komunikasi interpersonal atau komunikasi secara langsung dengan baik tanpa rasa takut dilingkungan kampus.
- Ketika lingkungan dikampus memiliki keramahan yang tinggi terhadap mahasiswa perantau atau melakukan obrolan langsung dengan mahasiswa perantau tersebut dapat mempermudah mereka dalam beradaptasi.
F. Hambatan Komunikasi dan Cara Mengatasinya
Hambatan komunikasi bagi mahasiswa perantau meliputi:
F.1 Perbedaan Logat atau Bahasa
Perbedaan terhadap logat atau bahasa menimbulkan kesalahpahaman antar kebudayaan. Karena, di Indonesia memiliki kubudayaan yang berbeda-beda.
F.2 Kekhawatiran berbicara lintas budaya
Karena Indonesia memiliki kebudayaan, suku,ras,bahasa,agama yang berbeda-beda membuat mahasiswa perantau lebih cenderung takut berkomunikasi dikampus atau lingkungan dengan secara langsung. Karena, dikhwatirkan dapat menyinggung orang yang memiliki perbedaan kebudayaan,suku,ras,bahasa bahkan agama dengan mahasiswa perantau.
F.3 Ketergantungan Terhadap Teknologi
Ketergantungan terhadap teknologi ini dapat mempersulitkan mahasiswa perantau dalam berkomunikasi secara langsung dengan lingkungan baru atau kampus. Karena, mereka lebih percaya diri berkomunikasi melalui media sosial atau tidak secara langsung.
Untuk mengatasi hambatan ini, cara adaptif yang dapat dilakukan adalah:
- Mencari informasi secara aktif. Menggunakan obrolan langsung untuk mencari tau tentang aturan sosial dan norma kampus.
- Mengatur diri dalam komunikasi. Membatasi seberapa sering menggunakan media sosial untuk berkomunikasi yang tidak penting dijam-jam sibuk agar terpaksa terlibat dalam obrolan langsung.
- Bergabung dengan kelompok penghubung. Lebih memprioritaskan bergabung dalam organisasi yang punya tujuan jelas daripada sekedar kelompok yang didasarkan pada kesamaan daerah asal.
Penutup
A. Kesimpulan
Adaptasi mahasiswa perantau di kampus atau lingkungan baru mengatur perubahan cara mereka berkomunikasi dari awalnya yang tidak percaya diri atau takut menjadi terbiasa. Awalnya, mereka lebih banyak menggunakan media sosial untuk berkomunikasi sebagai bantuan emosi saat tahap awal, lalu pindah ke obrolan langsung dengan orang luar atau komunitas kampus saat tahap eksplorasi.
Agar sukses beradptasi dalam jangka panjang, mahasiswa perantau harus pintar, ditandai dengan sikap yang terbuka dan empati terhadap budaya yang lain, untuk mengurangi rasa bigung atau takut.
Model komunikasi adaptif terintegrasi yang diajukan menekankan perlunya kerjasama antara menjaga hubungan erat dengan sesama perantau melalui komunikasi mediasi yang terkontrol, sambil memperluas hubungan melalui obrolan langsung yang lebih terbuka.
Cara komunikasi yang paling berhasil adalah seimbang, memungkinkan mahasiswa perantau mendapat dukungan dari rumah tanpa menghilangkan kesempatan untuk berinteraksi dan bergabung sepenuhnya dengan lingkungan baru.
B. Saran
Berdasarkan pemikiran konseptual ini,ada beberapa saran untuk diterapkan dan diteliti di masa depan:
1. Tindakan Kampus
Kampus perlu membuat program orientasi yang tidak hanya memberi informasi, tetapi juga mendorongobrolan langsung (CIP) yang berguna antara mahasiswa perantau dan mahasiswa lokal, seperti program teman pendamping lintas budaya.
2. Fokus Penelitian Selanjutnya
Penelitian selanjutnya harus menguji variabel-variabel dalam Model Komunikasi Adaptif Terintegrasi, terutama mengukur apakah seringnya memakai CBM yang tidak penting benar-benar berhubungan negatif dengan pembentukan ikatan penghubung.
3. Pelatihan Literasi Media Adaptif
Perlu dibuat modul pelatihan bagi mahasiswa perantau tentang cara menggunakan CBM secara cerdas (misalnya, membuat jadwal khusus untuk telepon keluarga) untuk mengurangi dampak buruk media sebagai penghalang.
Penulis:
- Happy Inriani br Sitorus
- Ropinta Uli Siregar
Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Riau
Dosen Pengampu: Ere Mardella
Referensi
Abidin, M. S., & Kurniawan, R. (2020). Dinamika Komunikasi Lintas Budaya dan Adaptasi Sosial Mahasiswa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Berger, C. R., & Calabrese, R. J. (1975). Some explorations in initial interaction and beyond: Toward a developmental theory of interpersonal communication. Human Communication Research, 1(2), 99-112.
Berry, J. W. (1997). Immigration, acculturation, and adaptation. Applied Psychology: An International Review, 46(1), 5-68.
Gudykunst, W. B. (1995). Anxiety/uncertainty management (AUM) theory: Current status and a proposed reformulation. Journal of Intercultural Relations, 19(5), 83-112.
Kim, Y. Y. (2001). Becoming intercultural: An integrative theory of communication and cross-cultural adaptation. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2011). Theories of human communication (10th ed.). Long Grove, IL: Waveland Press.
Mulyana, D. (2018). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasution, M. N. (2019). Peran Komunikasi Antar Pribadi dalam Proses Adaptasi Mahasiswa Perantauan. Jurnal Ilmu Komunikasi, 8(2), 150-165.
Putro, W. E. (2021). Culture Shock dan Mekanisme Koping Komunikasi Mahasiswa Baru. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rosyidah, R. (2017). Pola Adaptasi Sosial Mahasiswa Perantau Etnis Sunda di Kota Malang. Jurnal Sosiologi Pendidikan, 6(1), 45-56.
Santoso, L. B., & Wijaya, A. (2016). Modal Sosial dan Integrasi Kelompok Migran Pendidikan. Surabaya: Airlangga University Press.
Sarwono, S. (2015). Psikologi Sosial: Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Subagyo, S. (2022). Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial terhadap Kualitas Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Perantau. Jurnal Kajian Komunikasi, 11(1), 30-45.
Turner, J. C. (1982). Towards a cognitive redefinition of the social group. In H. Tajfel (Ed.), Social identity and intergroup relations (pp. 1515-40). Cambridge: Cambridge University Press.
Wulandari, S. P., & Harsono, M. A. (2020). Akulturasi Komunikasi dan Kesejahteraan Subjektif Mahasiswa Perantau. Jurnal Komunikasi Massa, 9(2), 88-102.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












