Mengubah Insecure Menjadi Bersyukur: dari Perasaan Tidak Aman menjadi Tenang

Mengubah Insecure Menjadi Bersyukur: dari Perasaan Tidak Aman menjadi Tenang
Mengubah Insecure Menjadi Bersyukur: dari Perasaan Tidak Aman menjadi Tenang

Banyak orang tidak menyadari bahwa kunci ketenangan hidup justru terletak pada kemampuan mengubah insecure menjadi bersyukur. Rasa tidak percaya diri sering muncul tanpa disadari, apalagi ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial.

Perasaan tidak aman ini kemudian membuat seseorang merasa kurang, tidak cukup baik, dan terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Padahal, setiap individu telah Allah ﷻ ciptakan sempurna sesuai takdir dan tujuan-Nya. Saat kita belajar mensyukuri apa yang sudah dimiliki, hati menjadi lebih tenang dan pikiran pun terasa ringan.

Perasaan insecure adalah hal yang sangat manusiawi. Siapa pun bisa mengalaminya, mulai dari remaja hingga orang dewasa. Namun, jika dibiarkan tanpa kendali, insecurity bisa berubah menjadi penyakit hati yang menggerogoti kepercayaan diri.

Banyak anak muda zaman sekarang merasa cemas, takut gagal, dan sulit menerima kekurangan yang dimiliki. Padahal Allah ﷻ sudah berfirman dalam QS. At-Tin ayat 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan tersendiri yang tidak dimiliki orang lain.

Saat seseorang mulai mengubah insecure menjadi bersyukur, maka ia sedang melatih hatinya untuk fokus pada nikmat, bukan kekurangan. Ia berhenti memikirkan apa yang tidak dimiliki dan mulai menghargai apa yang sudah Allah ﷻ karuniakan.

Sikap ini akan melahirkan energi positif yang menenangkan hati dan menambah rasa cinta kepada Sang Pencipta. Hidup pun terasa lebih bermakna karena dijalani dengan penuh keikhlasan dan rasa cukup.

Itulah awal perjalanan spiritual menuju kebahagiaan sejati—saat kita berhenti membandingkan dan mulai menghargai setiap nikmat yang Allah ﷻ titipkan.

Baca juga: Kirim Tulisan ke Media Mahasiswa Indonesia: 100% Diterbitkan!

1. Mengapa Banyak Orang Merasa Insecure

Rasa insecure bisa muncul kapan saja, terutama ketika seseorang merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi diri atau lingkungan. Fenomena ini makin sering terjadi karena tekanan sosial yang semakin tinggi.

Banyak orang berusaha tampil sempurna, seolah hidupnya harus selalu dibandingkan dengan standar orang lain. Akibatnya, perasaan tidak percaya diri menjadi semakin kuat, bahkan bisa menimbulkan stres dan gangguan pada kesehatan mental.

Kehidupan modern membawa banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru yang memengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Paparan media sosial misalnya, membuat banyak orang lebih sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna.

Padahal, yang terlihat di layar hanyalah potongan kecil dari realitas. Ketika seseorang tidak mampu membedakan antara kenyataan dan ekspektasi, maka lahirlah perasaan tidak aman dan kurang percaya diri yang kita sebut insecure.

Sebagai umat Islam, penting untuk memahami bahwa rasa insecure bukanlah sesuatu yang harus dipelihara. Allah ﷻ telah memberi setiap manusia kemampuan, kelebihan, dan potensi yang unik.

Tantangannya adalah bagaimana kita bisa mengenali anugerah itu, bersyukur atasnya, serta menggunakannya untuk hal-hal positif. Ketika rasa syukur tumbuh, hati menjadi lebih lapang, hidup terasa tenang, dan kepercayaan diri pun perlahan tumbuh kembali.

Baca juga: Insecure dan Obsesi dalam Dunia Thrift Shop: Analisis Psikologis

2. Makna Bersyukur dalam Pandangan Islam

Setiap manusia tentu pernah merasakan masa sulit yang membuatnya lupa untuk bersyukur. Padahal, rasa syukur adalah sumber kekuatan terbesar bagi hati dan pikiran. Islam menempatkan syukur sebagai salah satu nilai tertinggi yang menandakan kedewasaan spiritual seseorang.

Bersyukur bukan hanya ucapan di bibir, melainkan bentuk kesadaran mendalam bahwa segala nikmat, bahkan yang kecil sekalipun, berasal dari Allah ﷻ.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali sibuk memikirkan kekurangan yang dimiliki hingga lupa mensyukuri kelebihan yang ada. Perasaan seperti ini membuat seseorang lebih mudah terjebak pada sikap negatif dan sulit merasa cukup.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari harta atau rupa, melainkan dari hati yang mampu menerima takdir Allah ﷻ dengan lapang dada. Bersyukur menumbuhkan ketenangan, memperkuat kepercayaan, dan menjauhkan kita dari penyakit hati seperti iri dan dengki.

Hakikat Syukur Menurut Al-Qur’an dan Hadis

Makna syukur dalam Islam memiliki kedalaman spiritual yang luar biasa. Kata syukur berasal dari bahasa Arab شكر (syukr) yang berarti “mengakui dan menampakkan nikmat.”

Seorang Muslim yang bersyukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga memanfaatkan setiap nikmat untuk hal-hal positif yang diridhai Allah ﷻ. Seperti firman-Nya dalam QS. Ibrahim ayat 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa rasa syukur bukan hanya membawa ketenangan, tetapi juga membuka pintu rezeki dan nikmat baru. Allah ﷻ menjanjikan tambahan kebaikan bagi hamba yang tahu berterima kasih. Bahkan, dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah ﷻ yang telah diberikan kepadamu.”

Hadis ini menegaskan pentingnya berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan kekurangan, ia akan kehilangan kemampuan untuk menikmati nikmat yang Allah ﷻ titipkan.

Sebaliknya, ketika ia belajar mensyukuri setiap hal kecil, maka rasa tenang akan memenuhi hati.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa syukur terdiri dari tiga hal: pengakuan dengan hati, ucapan dengan lisan, dan amal dengan perbuatan. Artinya, rasa syukur tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata seperti membantu sesama, beribadah dengan ikhlas, dan menjaga amanah.

Hubungan Syukur dan Ketenangan Jiwa

Bersyukur memiliki hubungan erat dengan ketenangan jiwa. Seseorang yang rajin bersyukur akan memiliki hati yang lembut dan pikiran yang jernih. Ia tidak mudah cemas, tidak cepat iri, dan mampu menikmati setiap proses kehidupan yang dijalani.

Syukur menjadi obat terbaik bagi perasaan tidak aman dan rasa rendah diri yang sering menimbulkan insecure.

Ketika seseorang belajar menerima segala hal yang telah Allah ﷻ tetapkan, ia sedang melatih jiwanya untuk tenang dan sabar.

Hati yang bersyukur memancarkan energi positif yang menular ke sekitar, membuat hubungan sosial menjadi lebih harmonis. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 152, Allah ﷻ berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah Aku, Aku pun akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku).”

Ayat ini menegaskan bahwa bersyukur membuat hubungan antara hamba dan Penciptanya semakin dekat. Saat seseorang terbiasa mengingat Allah ﷻ, ia akan merasa aman, tenang, dan terlindungi.

Rasa syukur juga membantu mengatasi perasaan tidak percaya diri karena hati dipenuhi kesadaran bahwa semua yang terjadi sudah berada dalam kendali Allah ﷻ.

Dalam konteks kehidupan modern, syukur juga bisa menjadi terapi bagi kesehatan mental. Banyak penelitian menunjukkan bahwa orang yang terbiasa bersyukur memiliki tingkat stres lebih rendah dan kualitas tidur yang lebih baik.

Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai Islam sangat relevan untuk menjaga keseimbangan hidup manusia, baik secara spiritual maupun psikologis.

Baca juga: Cara Mengatasi Insecure dalam Perspektif Al-Qur’an

3. Mengubah Insecure Menjadi Bersyukur

Perasaan insecure sering muncul ketika seseorang terlalu fokus pada kekurangan yang dimiliki. Ia merasa tidak cukup baik, tidak layak, bahkan kadang meragukan nikmat yang Allah ﷻ berikan. Padahal, setiap manusia memiliki potensi unik yang tidak dimiliki orang lain.

Ketika kita belajar mengubah insecure menjadi bersyukur, artinya kita sedang menata ulang cara pandang terhadap diri sendiri. Kita berhenti memikirkan hal-hal yang tidak bisa diubah, lalu mulai fokus memperbaiki apa yang masih bisa dikembangkan.

Dalam Islam, setiap keadaan—baik itu senang maupun sedih—adalah bagian dari ujian yang Allah ﷻ siapkan untuk menguatkan iman. Rasa insecure dapat diatasi ketika hati dan pikiran diarahkan kepada perintah Allah ﷻ untuk bersyukur. Seperti disebutkan dalam QS. Ali ‘Imran ayat 139:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang beriman.”

Ayat ini mengajarkan agar kita tidak tenggelam dalam kesedihan dan rasa tidak percaya diri. Allah ﷻ menegaskan bahwa orang beriman memiliki kedudukan mulia, asalkan ia yakin terhadap ketetapan-Nya.

Langkah-Langkah Islami untuk Mengatasi Rasa Insecure

Rasa insecure tidak bisa hilang dalam semalam. Namun, Islam telah memberikan banyak petunjuk agar manusia mampu mengatasinya dengan cara yang lembut dan penuh hikmah. Beberapa langkah islami berikut dapat membantu kita mengubah perasaan tidak aman menjadi rasa syukur yang menenangkan:

1. Perkuat hubungan dengan Allah ﷻ

Rasa tenang berasal dari hati yang selalu ingat kepada Allah ﷻ. Setiap kali perasaan tidak aman muncul, cobalah berzikir atau membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28, Allah ﷻ berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Ayat ini menjelaskan bahwa ketenangan sejati tidak datang dari validasi manusia, melainkan dari kedekatan dengan Pencipta.

2. Fokus pada nikmat yang sudah dimiliki

Banyak orang merasa kurang karena sering membandingkan kehidupan orang lain di media sosial. Padahal, kebahagiaan sejati bukan berasal dari apa yang tampak, melainkan dari rasa syukur atas apa yang sudah dimiliki. Saat kamu berhenti membandingkan diri dengan orang lain, hati menjadi lebih damai dan perasaan tidak aman pun perlahan diatasi.

3. Perbaiki niat dan pola pikir

Setiap kali perasaan tidak percaya diri muncul, katakan pada diri sendiri bahwa kamu berharga di mata Allah ﷻ. Ubah cara berpikir negatif menjadi positif, karena setiap ujian membawa hikmah. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki tujuan.

4. Jauhi perasaan iri dan dengki

Iri adalah penyakit hati yang membuat seseorang sulit bersyukur. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah kalian saling iri, saling membenci, dan saling memutuskan hubungan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Dengan menjauhi iri, kita membuka ruang di hati untuk bersyukur dan menerima takdir Allah ﷻ dengan ikhlas.

Belajar Menerima Diri dan Menghargai Kelebihan yang Dimiliki

Setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, bahkan para nabi pun diuji dengan berbagai kekurangan agar menjadi contoh kesabaran bagi umatnya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menerima diri apa adanya.

Menerima diri bukan berarti menyerah, tetapi tanda bahwa kita memahami siapa diri kita sebenarnya.

Ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri, ia akan berhenti memikirkan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Ia mulai fokus pada potensi yang bisa dikembangkan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak meremehkan nikmat sekecil apa pun, bahkan hanya dengan tersenyum kepada saudara seiman. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang dimiliki, sekecil apa pun, memiliki nilai di sisi Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 22:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, serta perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman manusia adalah bentuk kasih sayang Allah ﷻ. Maka, jangan merasa rendah karena perbedaan fisik atau keadaan hidup. Justru, syukurilah keunikan yang Allah ﷻ berikan dan jadikan itu sebagai kekuatan untuk berbuat baik.

Menumbuhkan Sikap Positif dan Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Salah satu penyebab utama munculnya rasa insecure adalah kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Media sosial sering kali memperlihatkan sisi terbaik seseorang tanpa menunjukkan perjuangan di baliknya.

Akibatnya, banyak orang merasa gagal hanya karena melihat kesuksesan orang lain. Padahal, Islam mengajarkan agar kita fokus memperbaiki diri, bukan bersaing secara tidak sehat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang melihat orang yang lebih tinggi darinya dalam urusan dunia, hendaklah ia juga melihat kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa cara terbaik untuk menjaga hati tetap tenang adalah dengan melihat ke bawah, bukan ke atas. Saat kita berhenti membandingkan, hati menjadi lebih aman dan damai.

Selain itu, menumbuhkan sikap positif juga berarti belajar menghargai proses. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk tumbuh dan berhasil.

Ketika hati dipenuhi rasa syukur, energi positif akan mengalir ke seluruh aspek kehidupan—dari cara berpikir hingga cara berinteraksi. Kita pun menjadi pribadi yang lebih kuat, percaya diri, dan bahagia menjalani hidup apa adanya.

Baca juga: Kurangnya Rasa Kepercayaan Diri atau Insecure

4. Manfaat Bersyukur untuk Kesehatan Mental dan Sosial

Bersyukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah” setiap kali mendapat rezeki. Lebih dari itu, bersyukur adalah kemampuan untuk menerima segala hal—baik maupun buruk—sebagai bagian dari kasih sayang Allah ﷻ

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang kehilangan ketenangan karena terlalu sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki. Padahal, kunci kebahagiaan justru terletak pada rasa cukup.

Ketika hati terbiasa bersyukur, seseorang akan lebih mudah mengendalikan emosi dan berpikir jernih. Ia tidak mudah cemas, tidak mudah tersinggung, dan tidak terlalu memikirkan kekurangan yang dimiliki.

Bersyukur juga melatih diri untuk fokus pada hal-hal positif sehingga pikiran menjadi lebih sehat. Dalam jangka panjang, sikap ini berdampak besar pada kesehatan mental, hubungan sosial, bahkan fisik seseorang.

Hati dan Pikiran Lebih Tenang

Salah satu manfaat terbesar dari bersyukur adalah ketenangan hati dan pikiran. Ketika seseorang menerima segala ketetapan Allah ﷻ dengan lapang dada, ia tidak lagi terbebani oleh penyesalan atau kecemasan berlebih.

Rasa syukur membantu kita memahami bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Allah ﷻ yang penuh hikmah.

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 152:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah Aku, Aku pun akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku).”

Ayat ini menegaskan bahwa ketika seseorang rajin bersyukur, Allah ﷻ akan selalu mengingatnya. Hati pun terasa aman karena yakin bahwa hidupnya berada di bawah perlindungan-Nya.

Itulah sebabnya, bersyukur dapat menjadi cara ampuh untuk mengatasi perasaan tidak aman dan menguatkan kepercayaan diri.

Dari sisi psikologis, para ahli kesehatan mental menjelaskan bahwa rasa syukur mampu menurunkan tingkat stres dan depresi. Ketika seseorang membiasakan diri menghitung nikmat, otak akan lebih banyak memproduksi hormon dopamin dan serotonin—dua zat kimia yang berperan penting dalam menimbulkan rasa bahagia.

Artinya, bersyukur bukan hanya perintah spiritual, tetapi juga terapi ilmiah yang menenangkan hati dan pikiran.

Selain itu, bersyukur juga membuat seseorang berhenti memikirkan hal-hal negatif. Ia lebih fokus pada proses, bukan hasil. Setiap kegagalan dipandang sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membawa pelajaran berharga.

Ketika pikiran menjadi lebih tenang, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih seimbang dan penuh energi positif.

Hidup Lebih Damai dan Penuh Energi Positif

Bersyukur tidak hanya menenangkan batin, tetapi juga memancarkan energi positif yang memengaruhi hubungan sosial. Seseorang yang rajin bersyukur akan memiliki aura ketulusan dan empati yang kuat.

Ia lebih mudah tersenyum, lebih sabar menghadapi orang lain, dan lebih mampu memaafkan. Inilah yang membuat hidup terasa lebih damai.

Dalam kehidupan bermasyarakat, orang yang bersyukur biasanya lebih mudah diterima oleh lingkungan sekitarnya. Ia tidak suka mengeluh, tidak iri, dan selalu berusaha menebar kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa rasa syukur dan sabar adalah dua sisi dari koin yang sama. Keduanya menuntun manusia menuju kedamaian sejati.

Orang yang mampu menggabungkan keduanya akan selalu tenang dalam menghadapi ujian hidup, karena ia yakin setiap peristiwa memiliki hikmah yang besar.

Selain memperbaiki hubungan sosial, bersyukur juga berdampak positif bagi tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering bersyukur memiliki tekanan darah lebih stabil, tidur lebih nyenyak, dan daya tahan tubuh lebih kuat.

Hal ini terjadi karena pikiran positif mampu menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol. Jadi, ketika hati dipenuhi rasa syukur, bukan hanya jiwa yang sehat, tetapi tubuh pun ikut merasakan manfaatnya.

Islam mengajarkan bahwa kehidupan yang damai berawal dari hati yang bersih. Dengan memperbanyak syukur, seseorang akan lebih mudah menghindari penyakit hati seperti iri, sombong, dan dengki. Hidup pun terasa ringan karena dijalani dengan penuh keikhlasan.

Bersyukur membuat kita sadar bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik nikmat maupun ujian, adalah bagian dari kasih sayang Allah ﷻ untuk mendekatkan hamba-Nya kepada kebaikan.

  1. Baca juga: Insecure Terhadap Diri Sendiri. Apakah perlu?

5. Dalil Al-Qur’an dan Sunnah Tentang Pentingnya Bersyukur

Islam menempatkan rasa syukur sebagai pondasi utama kehidupan seorang mukmin. Setiap nikmat, sekecil apa pun, merupakan tanda cinta dari Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Karena itu, bersyukur bukan hanya ibadah hati, tetapi juga bentuk keimanan yang nyata.

Dalam setiap ayat dan hadis, Allah ﷻ dan Rasul-Nya berulang kali mengingatkan agar manusia tidak kufur terhadap nikmat. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk terus bersyukur agar hidup terasa lebih tenang dan penuh keberkahan.

Rasa syukur bukan sekadar ucapan, tetapi cermin keyakinan. Orang yang bersyukur tahu bahwa semua yang dimilikinya bukan hasil usaha semata, melainkan pemberian dari Sang Pencipta. Kesadaran inilah yang menumbuhkan kepercayaan diri, menguatkan iman, dan membantu mengatasi rasa insecure.

Ayat dan Hadis Pilihan

Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keutamaan bersyukur. Salah satunya terdapat dalam QS. An-Nahl ayat 78:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”

Ayat ini menjelaskan bahwa sejak lahir manusia telah dianugerahi kemampuan luar biasa oleh Allah ﷻ SWT. Semua itu diberikan agar kita belajar menghargai dan mensyukuri nikmat kehidupan.

Allah juga menegaskan dalam QS. Luqman ayat 12:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah.’ Barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa kufur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”

Ayat ini menegaskan bahwa manfaat bersyukur sebenarnya kembali kepada diri sendiri. Allah ﷻ tidak membutuhkan ucapan terima kasih kita, justru kitalah yang diuntungkan ketika hati penuh syukur.

Rasulullah ﷺ juga mencontohkan makna syukur dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah hadis disebutkan, ketika beliau ditanya mengapa salat malamnya begitu lama hingga kaki bengkak, Rasulullah ﷺ menjawab:

“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa rasa syukur bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui amal saleh. Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya di jalan kebaikan.

Hikmah yang Bisa Diambil dari Ajaran Islam

Bersyukur memiliki hikmah yang sangat luas, baik dari sisi spiritual maupun psikologis. Dalam konteks kehidupan modern yang penuh tekanan, rasa syukur menjadi benteng kuat yang melindungi hati dari perasaan insecure, iri, dan kecewa.

Orang yang bersyukur tidak mudah terguncang ketika menghadapi ujian, karena ia memahami bahwa setiap kesulitan pasti membawa kebaikan tersembunyi.

Sikap ini juga mengajarkan kita untuk lebih fokus pada kelebihan yang dimiliki daripada terus memikirkan kekurangan. Ketika seseorang berhenti mengeluh dan mulai menghargai nikmat, ia sedang menumbuhkan rasa cinta kepada Allah ﷻ. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam QS. Ibrahim ayat 7:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Ayat ini mengandung janji sekaligus peringatan. Siapa yang bersyukur akan mendapat tambahan nikmat, sedangkan siapa yang kufur akan kehilangan ketenangan hati.

Selain itu, rasa syukur juga membantu manusia menghindari penyakit hati yang sering kali menjadi akar dari insecure.

Ketika kita percaya bahwa semua yang terjadi adalah ketetapan Allah ﷻ yang terbaik, maka hati akan merasa aman dan tenang. Energi positif pun terpancar ke seluruh aspek kehidupan, membuat seseorang lebih bersemangat menjalani hidup.

Dengan memahami dalil dan hikmah ini, kita dapat menyadari bahwa bersyukur bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan spiritual yang menjaga kesehatan mental, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah ﷻ.

Kesimpulan: Mengubah Insecure Menjadi Bersyukur

Setiap manusia pasti pernah merasa insecure — perasaan tidak percaya diri yang membuat hati gelisah dan pikiran tidak tenang. Namun, saat kita belajar mengubah insecure menjadi bersyukur, hidup akan terasa lebih damai dan penuh makna.

Rasa syukur menumbuhkan kepercayaan diri sejati, bukan karena kita merasa sempurna, tetapi karena kita sadar bahwa segala yang dimiliki adalah karunia Allah ﷻ.

Insecure muncul ketika seseorang terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial memperburuk hal ini karena menampilkan kehidupan orang lain seolah tanpa kekurangan. Padahal, setiap orang punya jalan hidup dan ujian masing-masing.

Ketika seseorang mulai berhenti membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain, maka hatinya akan terbebas dari perasaan tidak aman dan perasaan tidak percaya diri.

Bersyukur berarti menerima apa adanya, berusaha semampunya, dan tetap bahagia meski banyak kekurangan. Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik sebagaimana firman Allah ﷻ dalam QS. At-Tin ayat 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ


“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Ayat ini menegaskan bahwa setiap orang sudah sempurna menurut takaran Allah ﷻ. Jadi, tidak perlu merasa kurang atau minder. Tugas kita adalah menjaga, mengembangkan, dan mensyukuri semua yang telah dimiliki.

Ketika seseorang berusaha mengubah insecure menjadi bersyukur, maka ia sedang menapaki jalan spiritual yang menenangkan hati dan pikiran. Ia belajar menghargai setiap nikmat yang Allah ﷻ berikan — baik besar maupun kecil.

Ia sadar bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari memiliki segalanya, tetapi dari hati yang mampu menerima apa adanya.

Rasa syukur juga dapat menambah energi positif dalam diri. Orang yang bersyukur cenderung lebih bahagia, lebih sehat secara mental, dan memiliki hubungan sosial yang baik.

Mereka tidak mudah mengeluh, tidak terjebak dalam memikirkan kekurangan yang dimiliki, serta mampu melihat hikmah di balik setiap ujian.

Sebaliknya, perasaan insecure yang dibiarkan tanpa usaha untuk diatasi dapat menjadi penyakit hati. Hati yang dipenuhi rasa iri, kecewa, dan kurang bersyukur akan membuat seseorang jauh dari ketenangan.

Itulah mengapa Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk selalu bersyukur, sebagaimana dalam QS. Ibrahim ayat 7, bahwa siapa yang bersyukur akan Allah ﷻ tambahkan nikmatnya.

Jadi, ubah insecure menjadi bersyukur adalah langkah penting menuju kehidupan yang lebih bermakna. Saat seseorang belajar bersyukur, ia tidak lagi sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain, tetapi fokus pada memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah ﷻ.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apa arti sebenarnya dari insecure menurut Islam?

Jawaban:
Insecure adalah perasaan tidak aman atau kurang percaya diri terhadap diri sendiri. Dalam pandangan Islam, perasaan seperti ini bisa menjadi bentuk ketidaksyukuran terhadap nikmat Allah ﷻ. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan agar setiap hamba menerima dan mencintai dirinya sebagaimana Allah ﷻ menciptakannya.

2. Bagaimana cara mengatasi rasa insecure menurut ajaran Islam?

Caranya adalah dengan memperbanyak dzikir, bersyukur atas nikmat yang Allah ﷻ berikan, serta berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Fokuslah pada kelebihan yang dimiliki dan manfaatkan untuk kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” (HR. Muslim)

3. Apakah rasa insecure bisa menjadi dosa?

Perasaan insecure itu manusiawi, tetapi jika berlebihan hingga membuat seseorang kufur terhadap nikmat Allah ﷻ, maka bisa menjadi dosa. Allah ﷻ tidak menyukai hamba yang mengeluh dan tidak bersyukur. Oleh karena itu, segera sadari perasaan itu dan gantilah dengan rasa syukur.

4. Apa manfaat bersyukur bagi kesehatan mental?

Bersyukur dapat mengurangi stres, kecemasan, dan depresi. Orang yang terbiasa bersyukur memiliki hati yang lebih tenang, tidur lebih nyenyak, dan hubungan sosial yang lebih harmonis. Secara ilmiah, rasa syukur juga meningkatkan hormon kebahagiaan dalam otak.

5. Bagaimana cara menumbuhkan rasa syukur setiap hari?

Mulailah hari dengan menyebut nikmat-nikmat kecil yang telah Allah ﷻ berikan — seperti udara segar, tubuh yang sehat, dan keluarga yang penuh kasih. Lalu, akhiri hari dengan doa dan ucapan “Alhamdulillah.” Dengan cara itu, hati akan terlatih untuk selalu bersyukur, bukan mengeluh.

Penutup dan Pesan Akhir

Hidup akan terasa lebih indah ketika kita belajar melihat nikmat, bukan kekurangan. Allah ﷻ tidak pernah menciptakan manusia sia-sia. Setiap orang punya kelebihan yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Jangan biarkan insecure mencuri kebahagiaanmu.

Cobalah renungkan, seberapa banyak nikmat yang Allah ﷻ berikan setiap hari? Dari udara yang kita hirup hingga detak jantung yang terus berdetak tanpa kita sadari — semua itu adalah bukti kasih sayang Allah ﷻ yang tak terhingga.

Maka, mulai hari ini, berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan fokuslah untuk mengubah insecure menjadi bersyukur. Jadikan rasa syukur sebagai motivasi utama untuk menjalani hidup yang lebih positif, tenang, dan penuh makna.

Sampai sini kita paham bahwa hati kita lah yang harus dibersihkan. Insecurity ada karena kita yang merasa kurang, insecurity hadir karena minimnya rasa syukur pada proses yang kita jalani atau bisa jadi karena langkah kaki yang masih stagnan ditempat (enggan bergerak).

Kita harus lebih mencintai kelebihan yang telah Allah ﷻ berikan, menetapkan tujuan hidup, memiliki target aktivitas tertentu, dan sibuk mengevaluasi progress.

Maka Insya Allah ﷻ, Insecure itu lambat laun akan berkurang. Tidak ada yang sia-sia, jangan anggap dirimu tidak berguna, mustahil Allah ﷻ menciptakan mu menjadi Makhluk yang sia-sia. Bahkan debu sekalipun berguna untuk tayamum. Saat pikiranmu meremehkan dirimu sendiri, Allah ﷻ tetap mendukungmu dengan mengatakan kau ciptaan terbaiknya.

Penulis: Kelompok 1

  1. Aldo Arifka
  2. Assifa Retno Devanti
  3. Atiqotul Maula
  4. Muhammad Naufal Aditya

Mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

Daftar Pustaka

Faujiah, A., & Elfairuza, Z. (2019). Filosofi Syukur Dalam Perspetif Ekonomi Islam. EKOSIANA: Jurnal Ekonomi Syari’ah, 6(2), 38–59. http://ejournal.stainim.ac.id/index.php/ekosiana %7C

Hajar, S., & Aji, T. S. (2021). Hakikat syukur perspektif Al-Qur’an. Al-Mufassir, 3(1), 1–19. https://doi.org/10.32534/amf.v3i1.1737

Hakim, A. R. (2021). Insecure dalam Ilmu Psikologi ditinjau dari Perspektif Al-Qur’an. Diss. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU, 56.

Kurniawan, Rahmat. Belajar Bersyukur. Elex Media Komputindo, 2016.

Mardiana, N., Yosep, I., Widianti, E., Keperawatan, D., & Fakultas Keperawatan, J. (2021). Fenomena Insecure Pada Remaja Di Era Pandemic Covid-19: Studi Literature. Jurnal Ilmu Kesehatan, 10(2), 21–29. https://ojs3.umc.ac.id/index.php/JIK/article/view/2565

Valentina, A., Putri, G. L., Valiani, & Putri, O. H. (2022). Komunikasi Visual Untuk Edukasi Insecurity Pada Remaja Perempuan Yang Diakibatkan Oleh Penggunaan Media Sosial. Jurnal Bahasa Rupa, 05(02), 237–245.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait