Dari Galon Bekas Jadi Pangan: Program Lelonik Ajak Warga Glagahwero Budidayakan Lele dan Kangkung

Budidaya lele dan kangkung

Mahasiswa KKN Kelompok 89 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) melaksanakan program “Lelonik” (Lele Galon Hidroponik) pada Kamis, 30 Juli 2026, di Dusun Glagahwero, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan 53 dari total 73 kepala keluarga (KK) di Dusun Glagahwero atau sekitar 72,6% dari keseluruhan KK.

Program Lelonik dilaksanakan sebagai upaya memanfaatkan limbah galon rumah tangga menjadi media budidaya lele dan kangkung melalui sistem akuaponik sederhana, sekaligus mendorong pemanfaatan ruang terbatas untuk mendukung ketahanan pangan rumah tangga.

Program Lelonik berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu keberadaan limbah galon plastik rumah tangga dan keterbatasan lahan pekarangan untuk melakukan budidaya pangan. Melalui program ini, galon bekas yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dialihkan menjadi media yang dapat digunakan untuk menghasilkan pangan. Konsep tersebut memadukan pemanfaatan limbah dengan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem sederhana yang dapat diterapkan pada skala rumah tangga.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan observasi dan identifikasi kondisi masyarakat, terutama berkaitan dengan ketersediaan lahan, pemanfaatan limbah galon, serta minat masyarakat terhadap budidaya pangan skala rumah tangga. Setelah itu, masyarakat dilibatkan dalam pengumpulan galon bekas dengan mekanisme setiap kepala keluarga mengumpulkan dua galon. Galon yang terkumpul kemudian dibersihkan dan dimodifikasi agar dapat digunakan sebagai media budidaya lele sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman kangkung.

Sistem yang digunakan dalam Lelonik menerapkan prinsip akuaponik sederhana, yaitu mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu media. Dalam pelaksanaannya, setiap media menggunakan delapan ekor lele dengan kangkung sebagai komponen tanaman.

Air dari wadah ikan dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem pertumbuhan tanaman sehingga kegiatan budidaya dapat dilakukan dengan kebutuhan ruang yang relatif terbatas. Konsep ini memungkinkan masyarakat memanfaatkan lingkungan rumah untuk menghasilkan dua jenis komoditas pangan sekaligus, yaitu ikan sebagai sumber protein hewani dan kangkung sebagai sumber sayuran.

Kegiatan Lelonik tidak berhenti pada pembuatan media. Masyarakat juga mendapatkan pelatihan dan praktik langsung mengenai cara menyiapkan air, memasukkan bibit lele, menanam kangkung, memberikan pakan, serta menjaga kondisi media budidaya.

Setelah proses tersebut, sarana budidaya berupa bibit lele, pakan pelet, dan bibit tanaman didistribusikan kepada 53 KK yang berpartisipasi. Masyarakat kemudian diarahkan untuk melakukan pemeliharaan secara mandiri dengan tetap mendapatkan pemantauan dan pendampingan dari mahasiswa.

Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan program. Dari 73 KK yang terdapat di Dusun Glagahwero, sebanyak 53 KK atau 72,6% mengikuti program Lelonik. Tingkat partisipasi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi turut terlibat sejak proses pengumpulan galon hingga pengelolaan media budidaya. Melalui keterlibatan tersebut, masyarakat memperoleh pengalaman teknis dalam mengolah galon bekas menjadi media produktif serta memelihara ikan dan tanaman secara mandiri.

Dalam proses pemeliharaan, masyarakat diarahkan untuk memberikan pakan secara rutin, mengamati kondisi ikan dan tanaman, serta mengganti sebagian air apabila kondisi air mulai keruh atau menimbulkan bau.

Pemeliharaan tersebut menjadi bagian penting agar sistem dapat terus berjalan setelah kegiatan pendampingan selesai. Dengan demikian, tujuan program tidak hanya menghasilkan media budidaya, tetapi juga membekali masyarakat dengan keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan rumah.

Selain memberikan alternatif budidaya pangan, Lelonik juga menjadi upaya pemanfaatan kembali limbah plastik rumah tangga. Galon bekas yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diubah menjadi sarana produksi yang memiliki nilai guna.

Pemanfaatan tersebut sekaligus memperkenalkan cara sederhana bagi masyarakat untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar. Di sisi lain, integrasi lele dan kangkung dalam satu media memberikan alternatif produksi pangan bagi rumah tangga yang memiliki keterbatasan lahan.

Dalam pelaksanaannya, program Lelonik juga menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan waktu dan tenaga pelaksana memengaruhi proses persiapan, pembuatan media, distribusi, hingga pemantauan karena kegiatan harus disesuaikan dengan rangkaian kegiatan lainnya.

Perawatan lele pada wadah galon juga menjadi tantangan tersendiri karena ukuran wadah yang relatif terbatas membuat pengamatan ikan, pembersihan wadah, dan pengontrolan kondisi air menjadi lebih sulit dibandingkan wadah budidaya yang lebih besar.

Selain kendala teknis, kondisi cuaca yang tidak menentu turut memengaruhi proses pemeliharaan. Sebagai pengalaman awal dalam menerapkan sistem akuaponik menggunakan galon, mahasiswa juga perlu melakukan adaptasi dalam menentukan pola pemberian pakan, pengelolaan air, dan perawatan tanaman.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran bahwa keberlanjutan budidaya tidak hanya bergantung pada pembuatan media, tetapi juga pada kemampuan dalam melakukan pemeliharaan secara berkala.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, program Lelonik memberikan alternatif bagi masyarakat Dusun Glagahwero untuk memanfaatkan limbah rumah tangga sekaligus melakukan produksi pangan dengan ruang yang terbatas. Melalui 53 KK yang berpartisipasi, program ini tidak hanya memperkenalkan pemanfaatan galon bekas sebagai media budidaya, tetapi juga memberikan pengalaman dalam mengelola lele dan kangkung secara mandiri.

Program Lelonik diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat setelah rangkaian kegiatan berakhir. Keberlanjutan program terutama membutuhkan perhatian pada pemeliharaan ikan, pengelolaan kualitas air, dan perawatan tanaman.

Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar rumah, Lelonik menunjukkan bahwa limbah galon dapat memiliki fungsi baru sebagai media budidaya sederhana yang menggabungkan pemanfaatan limbah, produksi pangan, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu kegiatan.


Penulis: Kelompok 89 KKN-PPM Universitas Mercu Buana Yogyakarta


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses