Maggot untuk Masa Depan Desa: KKN Berdampak 120 Ubah Sampah Organik Jadi Peluang di Tlogorejo

Sosialisasi budidaya maggot bersama warga di Balai Desa Tlogorejo

Di Desa Tlogorejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, tumpukan galon air mineral bekas yang biasanya berakhir sebagai sampah kini menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti.

Di dalamnya, koloni larva maggot tumbuh perlahan, hasil dari tangan-tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang yang menjadikan budidaya maggot sebagai program kerja unggulan selama 21 hari masa pengabdian, terhitung sejak 3 hingga 24 Agustus 2026.

Gagasan ini tidak muncul begitu saja di atas meja diskusi, melainkan lahir dari sebuah obrolan ringan namun bermakna dengan Kepala Desa Tlogorejo di awal masa pengabdian. Kala itu, kepala desa menyinggung bahwa desanya sudah lebih dulu kedatangan kelompok KKN dari kampus lain yang tengah menggarap pengolahan sampah anorganik, dan menyarankan agar tim turut berkolaborasi di ranah persampahan.

Dari percakapan sederhana itulah benih gagasan mulai tumbuh: jika sampah anorganik sudah ada yang menanganinya, maka sampah organik yang selama ini terabaikan justru menjadi ladang yang tepat untuk digarap.

Ditambah dengan keberadaan tambak besar yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi sebagian warga melalui aktivitas memancing, gagasan itu pun mengerucut menjadi satu jawaban: mengubah sampah organik menjadi maggot, yang kelak dapat berfungsi sebagai pakan ternak, pakan ikan, bahkan umpan pancing bagi warga sendiri.

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, mahasiswa menyiapkan kandang sederhana dari galon air mineral bekas, mendatangkan bibit maggot jenis Black Soldier Fly (BSF), serta mengumpulkan sampah organik dari warga sekitar sebagai sumber pakan.

Agar proses budidaya berjalan dengan tepat, mahasiswa turut belajar langsung kepada salah satu kader lingkungan Desa Tlogorejo yang telah lebih dahulu berpengalaman dalam budidaya maggot. Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih matang mengenai takaran pakan, tingkat kelembapan media, hingga cara merawat kandang agar larva dapat tumbuh optimal.

Kandang budidaya maggot menggunakan galon air mineral bekas

Ilmu yang telah dikuasai itu kemudian tidak disimpan sendiri, melainkan dibagikan kembali kepada warga. Pada Kamis, 20 Agustus 2026, bertempat di Balai Desa Tlogorejo, tim menggelar sosialisasi budidaya maggot yang turut menghadirkan kader lingkungan setempat sebagai salah satu sumber informasi paling akurat, mengingat pengalamannya yang telah lebih dulu terjun langsung dalam budidaya ini.

Forum tersebut mengupas bagaimana sampah dapur yang selama ini terbuang percuma dapat disulap menjadi sesuatu yang bernilai, sekaligus mengajak warga untuk melanjutkan dan mengembangkan sendiri budidaya ini secara berkelanjutan.

BACA JUGA: Mahasiswa KKN Desa Purwoasri Kenalkan Teknologi Tepat Guna Pengolahan Sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos Ramah Lingkungan

Kiprah tim di Tlogorejo tidak berhenti pada urusan maggot semata. Untuk menanamkan kebiasaan baik sejak dini, mereka mengajarkan langkah-langkah cuci tangan yang benar kepada siswa-siswi SD 2 Tlogorejo, sekaligus mengajak siswa-siswi SMP PGRI 3 Tlogorejo berdiskusi terbuka mengenai bahaya perundungan atau bullying.

Di sisi lain, demi memperkuat identitas dan informasi kewilayahan, mereka juga merancang empat peta lengkap dengan fitur barcode—tiga di antaranya adalah peta dusun Dadapan, Judeg, dan Druju yang akan terpasang di Balai Desa, sementara satu peta besar Desa Tlogorejo akan berdiri kokoh di salah satu ruas jalan utama desa.

Peta Desa Tlogorejo hasil pemetaan tim KKN, dilengkapi fitur barcode

Melalui budidaya maggot, mahasiswa KKN berdampak 120 Universitas Muhammadiyah Malang menjawab persoalan yang selama ini luput dari perhatian: kekosongan pengelolaan sampah organik di tengah geliat pengelolaan sampah anorganik yang sudah lebih dulu berjalan.

Lebih dari sekadar solusi lingkungan, program ini membuka jalan bagi warga Tlogorejo untuk memiliki sumber pakan ternak, pakan ikan, hingga umpan pancing dari bahan yang sebelumnya tak bernilai sama sekali.

Dipadukan dengan edukasi kesehatan bagi anak sekolah dan penataan informasi wilayah lewat peta desa, rangkaian program ini menegaskan bahwa perubahan besar kerap kali berawal dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh.


Penulis: Kelompok KKN Berdampak 120 Universitas Muhammadiyah Malang


Dosen Pengampu: Muhammad Ainur Roziqi, S.Pd I., M.Pd


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses