Persoalan limbah peternakan kerap luput dari perhatian, padahal jika dibiarkan menumpuk tanpa pengelolaan yang tepat, limbah ini berpotensi mencemari lingkungan sekitar.
Bau menyengat dari kotoran ternak yang menumpuk dapat mencemari udara, sementara rembesannya berisiko mencemari sumur dan saluran air di sekitar lokasi peternakan, dengan warga di sejumlah daerah kerap melaporkan perubahan warna air, bau, hingga munculnya bakteri yang mengancam kesehatan akibat pencemaran semacam ini.
Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Kelompok 104 mengadakan pelatihan pengolahan limbah ternak menjadi pupuk kompos di Dusun Bunder, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 2 Agustus 2026 dan diikuti oleh sekitar 20 orang warga yang tergabung dalam kelompok peternak setempat.
Berbeda dari pelatihan sejenis yang biasanya mendatangkan narasumber dari luar, seluruh materi dan pendampingan dalam kegiatan ini diberikan langsung oleh mahasiswa KKN UMBY Kelompok 104.
Pendekatan ini dipilih agar mahasiswa dapat terlibat penuh dalam proses transfer pengetahuan, sekaligus mempraktikkan langsung ilmu yang mereka bawa dari kampus ke tengah masyarakat.
Limbah peternakan sejatinya menyimpan persoalan lingkungan yang nyata apabila tidak dikelola dengan baik. Limbah cair dari aktivitas peternakan diketahui mengandung polutan organik dalam kadar tinggi serta patogen yang berpotensi menjadi sumber penyakit berbahaya, sebuah temuan yang diperkuat oleh penelitian yang menyoroti risiko pencemaran akibat limbah cair peternakan terhadap kualitas air.
Sebaliknya, riset lain menunjukkan bahwa pengelolaan limbah peternakan yang dilakukan secara efisien justru dapat meningkatkan kandungan unsur hara tanah, memperbaiki struktur tanah, sekaligus menekan potensi pencemaran air dan udara di sekitar kawasan peternakan, sehingga sistem pengolahan yang tepat dinilai mampu memberikan manfaat ganda bagi lingkungan dan kesuburan lahan pertanian.
BACA JUGA: KKN Kelompok 63 UMBY Gelar Penyuluhan Penguatan Kapasitas Petani di Dusun Jetis
Bertolak dari persoalan itulah, mahasiswa KKN UMBY Kelompok 104 mengajak kelompok peternak di Dusun Bunder untuk tidak lagi memandang kotoran ternak sebagai limbah yang merepotkan, melainkan sebagai bahan baku yang bisa diolah menjadi produk bernilai: pupuk kompos.
Pelatihan dilaksanakan melalui dua tahap, yakni sosialisasi dan praktik langsung. Pada sesi sosialisasi, mahasiswa menjelaskan konsep dasar pengomposan sebagai proses biologis penguraian bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi aerobik, yang membutuhkan kelembapan dan suhu yang terjaga agar prosesnya berjalan optimal, sebagaimana dijelaskan dalam kajian mengenai pemanfaatan kotoran ternak sebagai bahan pengomposan.
Dalam praktiknya, bahan-bahan yang digunakan disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan di lokasi, meliputi kotoran ternak sebagai bahan utama, dedak atau sekam sebagai penyeimbang kelembapan, serta bioaktivator seperti EM4 dan molase untuk mempercepat proses fermentasi.
Penggunaan bioaktivator semacam ini diketahui dapat mempercepat penguraian bahan organik sekaligus meningkatkan kandungan nutrisi kompos yang dihasilkan, sebuah metode yang lazim diterapkan dalam pelatihan pengolahan limbah kotoran ternak menjadi pupuk kompos di berbagai daerah. Proses dilanjutkan dengan pencampuran bahan, pengadukan atau pembalikan tumpukan kompos secara berkala, hingga masa pematangan.
Hasilnya, dalam kurun waktu sekitar dua minggu, kompos yang dibuat bersama warga berhasil matang dan siap digunakan. Capaian ini menjadi momen yang membanggakan bagi mahasiswa KKN, mengingat proses pengomposan yang biasanya memakan waktu lebih lama dapat dipercepat berkat penerapan metode yang tepat.
“Kami bangga kompos yang kita buat, setelah dua minggu kami cek, ternyata berhasil dan bisa langsung digunakan warga,” ujar Jeri, mahasiswa KKN UMBY Kelompok 104 yang turut memandu pelatihan.
Sepanjang kegiatan berlangsung, warga kelompok peternak menunjukkan respons yang positif. Mereka mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini, terlebih karena selama ini limbah ternak yang mereka miliki belum dimanfaatkan secara maksimal.
Salah satu peternak sapi di Dusun Bunder, Naryo, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas pelatihan yang diberikan.
“Terima kasih mas, mba KKN Mercu Buana atas pelatihannya, sangat membantu, dan menambah pengetahuan kami, sehingga sekarang gak perlu beli pupuk lagi,” ujarnya.
Antusiasme warga tampak dari keterlibatan aktif mereka dalam setiap tahap praktik, mulai dari pencampuran bahan hingga proses pemantauan kompos.
Bagi warga, pelatihan ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga membuka peluang penghematan biaya produksi pertanian mereka sendiri.
Melalui program ini, mahasiswa KKN UMBY Kelompok 104 berharap warga Dusun Bunder dapat terus melanjutkan praktik pengolahan limbah ternak menjadi kompos secara mandiri, bahkan mengembangkannya lebih lanjut untuk mendukung kegiatan pertanian di lingkungan sekitar.
Langkah kecil dari Dusun Bunder ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi dusun-dusun lain dalam mengelola limbah peternakan secara lebih bijak dan berkelanjutan.
Penulis: Betha Laura
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY)
Dosen Pengampu: Valentina Dyah Arum Sari, S.Pd., M.Hum.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















