Curhat ke AI: Cara Baru Gen Z di Indonesia dalam Mengelola Emosi

curhat ke AI
Survei IDN Research Institute menunjukkan 81,1% Gen Z responden di Indonesia pernah curhat dengan AI. Kemudahan akses, sifatnya yang anonim, dan kesan tidak menghakimi membuat chatbot menjadi ruang untuk berbagi cerita dan persoalan pribadi. (Ilustrasi: Dok. Penulis)

Survei dari IDN Research Institute terhadap 183 responden Gen Z dan Milenial di Indonesia pada Januari hingga April 2026 menemukan bahwa mayoritas responden pernah curhat dengan AI, dengan proporsi kelompok Gen Z mencapai 81,1%, jauh melampaui kelompok Milenial sebesar 63,6%.

Temuan ini menunjukkan bahwa chatbot AI (Artificial Intelligence) mulai digunakan bukan hanya untuk mencari informasi, tetapi juga sebagai tempat untuk berbagi cerita dan persoalan pribadi.

Keterbatasan Layanan Kesehatan Mental

Meningkatnya kebiasaan curhat ke AI tidak lepas dari kondisi layanan kesehatan mental formal di Indonesia yang sampai saat ini masih terbatas.

Menurut data dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), jumlah psikiater di Indonesia saat ini berada di rasio 1:223.587 penduduk, sedangkan jumlah psikolog klinis berada di rasio 1:81.468 penduduk.

Tentu, angka ini sangat timpang dengan kebutuhan dan jumlah penduduk. Selain itu, kedua rasio ini masih jauh dari standar ideal WHO, yaitu 1:30.000 penduduk.

Di sisi lain, terdapat temuan dari Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, pada akhir Januari 2026.

Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap kurang lebih 70 juta penduduk Indonesia menunjukkan bahwa gejala depresi paling banyak ditemukan pada kelompok usia sekolah dan remaja.

Di tengah keterbatasan akses tersebut, layanan kesehatan mental digital pun mulai dilirik sebagai solusi. Sebagai tindak lanjut dari hal tersebut, Pusat Studi Intervensi Digital dan Kesejahteraan Mental Indonesia (PSIDAMAI) Fakultas Psikologi Universitas Yayasan Rumah Sakit Islam Indonesia (Yarsi) melakukan penelitian mengenai pengembangan layanan kesehatan mental digital di Indonesia pada Desember 2025 dengan melibatkan sekitar 960 responden.

Hasil survei tersebut mencatat bahwa 87,8% profesional kesehatan mental yang disurvei sudah merekomendasikan layanan kesehatan mental digital kepada kliennya, baik dalam bentuk telecounseling, layanan chat, maupun aplikasi mobile.

Chatbot AI sebagai Teman Curhat

Jurnal penelitian dengan judul Fenomena Chatbot AI Sebagai Teman Curhat: Implikasi pada Hubungan Antarpribadi di Era Digital yang dipublikasikan dalam CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi (Universitas Pelita Harapan, 2025) mengungkapkan adanya teknologi Natural Language Processing yang memungkinkan chatbot untuk meniru pola komunikasi manusia.

Hal inilah yang, menurut penulis, menjadikan chatbot mampu menyerupai interaksi antarmanusia, sehingga individu akan lebih nyaman untuk curhat dengan AI karena sifatnya yang anonim, tidak menghakimi, dan biasanya memberikan validasi.

Selain itu, chatbot juga tersedia kapan saja dan tidak memiliki batas waktu seperti manusia. Namun, ketergantungan pada chatbot akan mengurangi kemampuan individu untuk berkomunikasi secara mendalam dan bermakna dengan sesama manusia.

Selain itu, hal tersebut juga akan memperburuk isolasi sosial apabila chatbot malah menggantikan hubungan interpersonal.

Psikiater dari FKUI-RSCM, dr. Kristiana Siste, sebagaimana dikutip dari Detik, menyoroti kecenderungan sebagian remaja Gen Z dan Gen Alpha yang menggunakan chatbot AI untuk menanyakan dan menyimpulkan sendiri kondisi kepribadian.

Hal tersebut diperparah lagi dengan self-diagnosis gangguan mental yang mungkin dialami.

Padahal, hasil diagnosis dari chatbot AI kerap keliru, berlebihan, dan di luar konteks, sehingga tidak boleh dijadikan dasar dalam penanganan medis tanpa konsultasi dengan profesional.

Hal ini diperkuat dengan adanya data penelitian dari Universitas Drexel pada 2026 yang menganalisis 318 unggahan Reddit dari pengguna yang mengidentifikasi diri sebagai remaja berusia 13 hingga 17 tahun.

Hasil analisis menemukan pola penggunaan AI companion yang berkaitan dengan kesepian, tekanan emosional, kesulitan melepaskan diri dari chat, serta berdampak pada kesulitan tidur, sekolah, dan berhubungan dengan orang lain.

Selanjutnya, riset mengenai AI companion yang dilakukan oleh Harvard Business School Working Paper (2025) menemukan bahwa dalam analisis terhadap 1.200 percakapan, sejumlah AI companion dirancang menggunakan pendekatan yang memanfaatkan rasa bersalah dan kekhawatiran akan ketinggalan atau istilah slang yang sekarang dikenal dengan FOMO (Fear of Missing Out) dengan tujuan menahan pengguna agar tetap berinteraksi ketika mereka menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri percakapan.

Maka dari itu, penulis menganggap bahwa ketertarikan emosional pengguna terhadap chatbot turut dipengaruhi oleh desain sistem yang berorientasi pada keterlibatan pengguna yang terus berlanjut.

AI Bukan Pengganti Relasi Interpersonal

Dari data di atas, penulis menyimpulkan bahwa peningkatan penggunaan chatbot AI sebagai teman curhat di kalangan Gen Z Indonesia merupakan fenomena yang didukung oleh data kuantitatif, kajian akademik, serta konteks struktural berupa terbatasnya akses layanan kesehatan mental formal.

AI memang dapat menjadi ruang ekspresi yang mudah diakses ketika individu membutuhkan tempat untuk bercerita.

Namun, AI juga berisiko menyebabkan ketergantungan, kekeliruan self-diagnosis, dan berpotensi menurunkan kualitas relasi interpersonal apabila interaksi dengan AI menggantikan komunikasi dengan sesama manusia.

Daftar Pustaka:

  1. IDN Research Institute (dikutip dalam Oppal). (2026). Kenapa 81% Gen Z Indonesia Lebih Pilih Curhat ke AI? https://oppal.co.id
  2. Yoseppin, G., Dewi, P. A. M. N., & Purba, Y. K. (2025). Fenomena Chatbot AI Sebagai Teman Curhat: Implikasi pada Hubungan Antarpribadi di Era Digital. CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi, 7(1), 45–53.
  3. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. (2026). Atasi Masalah Kesehatan Jiwa, Kemenko PMK Dorong Upaya Preventif dari Hulu. https://www.kemenkopmk.go.id
  4. Universitas Yarsi. (2026). Layanan Kesehatan Mental Digital di Indonesia Diminati. https://www.yarsi.ac.id
  5. Namvarpour, M. M., Brofsky, B., Medina, J. Y., Akter, M., & Razi, A. (2026). Understanding Teen Overreliance on AI Companion Chatbots Through Self-Reported Reddit Narratives. Proceedings of the 2026 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 1–19. https://doi.org/10.1145/3772318.3790597
  6. De Freitas, J., Oğuz-Uğuralp, Z., & Uğuralp, A. K. (2025). Emotional Manipulation by AI Companions. Harvard Business School Working Paper No. 26-005. https://doi.org/10.2139/ssrn.5390377

Penulis: Aisyah Kusuma Dewi
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Siber Asia


Dosen Pengampu: Rosanah, S.S., M.I.Kom., AMIPR., C.PS.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses