Di balik fitur kecil Instagram itu, tersimpan rasa takut yang jarang kita akui.
Jam dua malam. Lagi Asik rebahan, layar HP nyala, dan jari-jari mulai ngetik. Bukan ke WhatsApp siapa-siapa, bukan juga ke kolom komentar postingan foto atau video orang lain. Tapi kamu buka Instagram, pilih close friend, lalu nulis atau menceritakan lewat video tentang hal-hal yang bahkan nggak berani kamu ucapkan langsung ke sahabat yang tidurnya mungkin cuma dua kamar dari kamu atau bahkan sekamar dengan kamu.
Kalau kamu pernah begitu, kamu nggak sendirian.
Fitur close friend Instagram awalnya hanya dirancang untuk berbagi story ke orang-orang pilihan. Tapi pelan-pelan, ia berubah fungsi menjadi tempat paling jujur yang dimiliki banyak anak muda hari ini. Aneh, sekaligus masuk akal. Kok bisa kita lebih berani membuka diri ke layar dari pada ke orang yang duduk di sebelah kita?
Jawabannya mungkin lebih sederhana dari yang kita kira: layar memberikan jarak. Dan jarak itu terasa aman.
Dalam psikologi, ada Namanya fear of vulnerability yaitu rasa takut terlihat rapuh di depan orang lain. Bukan karena kita lemah, tapi justru karena kita terlalu peduli. Kita takut jadi beban bagi mereka. Takut reaksi mereka nggak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kita takut setelah kita curhat, suasananya malah jadi canggung.
Di close friend, rasa-rasa takut itu terasa lebih mudah diabaikan. Kita nggak harus menatap mata siapapun. Nggak ada ekspresi yang harus kita baca.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Memilih Menggunakan Second Account Instagram?
Kalau nggak ada yang balas pun, ada pembenaran yang bisa kita berikan ke diri sendiri: “Mungkin mereka belum lihat.” Dan bagi sebagian orang, tujuannya memang bukan untuk direspon hanya ingin meluapkan apa yang dirasakan.
Itulah yang membuat close friend terasa berbeda dari sekadar fitur biasa. Ada jarak layar yang menghapus tekanan sosial. Ada ilusi privasi yang terasa personal, meski tetap berada di ruang digital.
Ada kontrol penuh di tangan kita bisa dihapus kapan saja tanpa perlu penjelasan. Dan yang paling penting: nggak ada kewajiban untuk menunggu respon, nggak ada rasa bersalah karena ‘merepotkan’.
Dari sini muncul fenomena yang menarik: kita sering justru lebih mudah terbuka ke orang yang ‘agak jauh’ dibanding ke yang paling dekat. Alasannya sederhana ekspektasi kita lebih rendah pada mereka.
Kalau teman jauh nggak merespon seperti yang kita harapkan, kita bisa menerimanya. Tapi kalau sahabat sendiri yang nggak ngerti? Itu lain ceritanya. Sakitnya beda.
Dan ini bukan kebetulan terjadi pada generasi sekarang. Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh dengan komunikasi yang sejak awal dimediasi oleh layar dari chat di BB Messenger waktu SD, feed Instagram waktu SMP, sampai FYP TikTok yang menemani begadang.
Baca Juga: The Psychology behind Emotional Reactions and Self-Control
Bagi mereka, mengekspresikan diri lewat teks, video pendek, atau story bukan sekadar alternatif komunikasi. Itu adalah komunikasi.
Maka wajar kalau kemudian ruang digital terasa lebih natural untuk jujur. Bukan karena generasi ini nggak mau dekat dengan orang lain justru sebaliknya.
Tapi kedekatan yang mereka kenal sejak kecil seringkali berbentuk layar, bukan tatap muka. Curhat lewat close friend bukan pelarian. Bagi banyak dari mereka, itu adalah bahasa yang paling mereka kuasai.
Yang jadi pertanyaan adalah: apakah bahasa itu cukup? Apakah kedekatan yang dibangun lewat piksel dan notifikasi bisa menggantikan kehadiran seseorang yang benar-benar duduk di sebelah kita, mendengarkan tanpa mengetik?
Tentu, nggak ada yang salah dengan curhat di close friend. Itu valid, dan kadang memang itulah yang paling kita butuhkan di momen tertentu.
Tapi kalau close friend sudah menjadi satu-satunya tempat kita jujur sementara orang-orang di sekitar kita sama sekali nggak tahu apa yang sedang kita rasakan mungkin ada sesuatu yang perlu kita pertanyakan.
Bukan soal siapa yang salah. Tapi soal apakah kita sudah memberi kesempatan kepada orang di sekitar kita untuk benar-benar hadir.
Karena mungkin, orang yang paling ingin kamu curhati itu sedang menunggu kamu duluan yang mulai bicara.
Penulis: Arfa Nafisa Putri
Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh (UINAR)
Dosen Pengampu:
1. Iklima Ritmiani, S.Psi., M.A.
2. Siti Hajar Sri Hidayati, M.A.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













