Bayangkan sebuah negara yang 70 persen petaninya berusia di atas 45 tahun. Negara yang tanahnya subur, namun semakin sedikit tangan muda yang bersedia menggarapnya. Negara yang terus mengekspor bahan mentah sementara nilai tambah terbesarnya dinikmati orang lain. Negara tersebut bukan negara fiksi dalam novel distopia. Itu adalah Indonesia hari ini dan kita tidak punya banyak waktu untuk pura-pura tidak melihatnya.
Krisis yang Diam-diam Mengancam
Berdasarkan data BPS, lebih dari 70 persen petani Indonesia berusia di atas 45 tahun, dan hanya sekitar 8 persen yang berusia di bawah 35 tahun. Fenomena ini menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap dunia pertanian semakin menurun. Tanpa generasi penerus, keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan nasional bisa terancam.
Ini bukan sekadar angka demografi. Ini adalah bom waktu yang terus berdetak di bawah fondasi ketahanan pangan kita. Sektor pertanian Indonesia menghadapi krisis regenerasi, ditandai dominasi petani berusia di atas 45 tahun dan rendahnya keterlibatan pemuda di tengah bonus demografi. Ironinya, kita hidup di era bonus demografi yang seharusnya menjadi berkah namun energi produktif generasi muda itu mengalir deras ke kota, ke layar ponsel, ke sektor jasa dan digital, sementara ladang-ladang dibiarkan menua bersama pemiliknya.
Banyak anak muda menganggap pertanian sebagai pekerjaan yang berat, tidak bergengsi, dan berpenghasilan rendah. Kurangnya generasi muda di sektor pertanian membuat desa kehilangan sumber inovasi dan tenaga produktif, berakibat pada meningkatnya urbanisasi dan kesenjangan antara kota dan desa. Persepsi inilah yang paling berbahaya dan paling mendesak untuk diubah. Bukan dengan kampanye motivasi kosong, tetapi dengan membuktikan bahwa agribisnis modern bisa menghasilkan kemakmuran nyata.
Dari Bahan Mentah ke Nilai Tambah: Peluang yang Terus Dilewatkan
Kementerian Pertanian terus memperkuat hilirisasi komoditas perkebunan sebagai strategi meningkatkan nilai tambah, daya saing, dan kesejahteraan petani. Kebijakan ini diarahkan untuk menggeser pola produksi dari penjualan bahan mentah menuju pengolahan produk bernilai tambah tinggi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan menegaskan hal ini dengan lugas: kopi jangan diekspor mentahan, kakao jangan diekspor sebagai bahan baku, lada jangan diekspor raw material. Indonesia harus bergerak dari ketergantungan pada ekspor komoditas mentah menuju struktur ekonomi yang lebih maju dan bernilai tambah tinggi.
Ini bukan retorika kosong. Produk perkebunan mendominasi ekspor pertanian, mencakup 97 persen dari total nilai ekspor sebesar Rp 622 triliun pada 2022 dan kelapa sawit menjadi komoditas unggulan, menyumbang sekitar 75 persen dari total ekspor pertanian.
Namun sebagian besar dari nilai itu masih berupa bahan setengah jadi. Bayangkan jika sebagian besar komoditas itu diolah terlebih dahulu di dalam negeri berapa lapangan kerja baru yang bisa tercipta, berapa devisa tambahan yang bisa diraih, berapa wirausahawan agribisnis baru yang bisa lahir di sepanjang rantai nilai itu.
Tahun 2026, pemerintah telah memaparkan sedikitnya 18 proyek hilirisasi prioritas dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun yang diproyeksikan menciptakan sekitar 276 ribu lapangan kerja baru.
Angka investasi yang luar biasa besar namun pertanyaannya tetap sama: siapa yang akan mengisi peluang itu? Apakah wirausahawan muda kita siap masuk ke dalam rantai nilai yang sedang dibangun pemerintah, atau mereka akan menjadi penonton lagi sementara konglomerat besar yang menuai hasilnya?
Agripreneur: Identitas Baru yang Harus Dibangun
Seorang agripreneur bukan sekadar petani yang lebih muda. Ia adalah titik temu antara tradisi bertani dan logika bisnis modern seseorang yang tahu cara menanam sekaligus cara membaca margin, membangun brand, dan mengakses pasar ekspor dari genggaman tangannya.
Di Bali, seorang petani muda berhasil meraih omzet hingga Rp200 juta per 10 are lewat pemanfaatan teknologi digital pencapaian yang mustahil dengan cara bertani konvensional. Kisah ini bukan keajaiban, melainkan bukti bahwa ketika pertanian bertemu pola pikir wirausaha, hasilnya bisa jauh melampaui ekspektasi siapa pun.
Sinyal paling menarik datang dari sektor swasta. PT Petrokimia Gresik membuka program Beasiswa Petani Muda 2026 untuk mencetak agripreneur muda dari 50 siswa SMK Pertanian di Jawa Timur.
Daconi Khotob, Direktur Utamanya, menjelaskan bahwa seleksi tidak hanya dari nilai akademis, tapi juga dari gagasan: “Kami ingin menunjukkan bahwa petani masa depan adalah entrepreneur.” Ia bahkan berharap para penerima beasiswa kelak kembali ke daerah asal, membuka usaha, dan menciptakan lapangan kerja efek domino yang terencana, bukan sekadar harapan.
Yang menarik tentang agripreneur muda adalah: yang paling berhasil bukan yang paling bermodal, melainkan yang paling adaptif dan paling mampu berkolaborasi. Program pemberdayaan berbasis teknologi dan literasi digital terbukti meningkatkan pendapatan petani kecil hingga dua kali lipat.
Tantangan terbesarnya bukan teknologi, bukan regulasi melainkan narasi. Selama pertanian masih diceritakan sebagai pilihan terakhir orang yang gagal di kota, generasi muda akan terus memilih arah yang lain. Yang dibutuhkan adalah lebih banyak anak muda yang berani membuktikan bahwa ladang bisa menjadi panggung yang justru lebih menjanjikan.
Hilirisasi Inklusif: Bukan Hanya Urusan Konglomerat
Mengapa kita harus mengekspor komoditas mentah jika kita bisa mengolahnya sendiri di dalam negeri? Bayangkan berapa banyak lapangan kerja lokal yang bisa kita ciptakan jika kita menjaga nilai tambah tersebut tetap berada di dalam negeri.
Mari kita ambil sektor kopi sebagai contoh utama: sekitar 98% ekspor kopi Indonesia saat ini masih dikirim dalam bentuk biji kopi mentah (green beans) yang bernilai rendah.
Data agribisnis menunjukkan bahwa mengolah biji kopi mentah tersebut menjadi produk kopi olahan siap konsumsi dapat meningkatkan rasio nilai tambah hingga hampir 40%, sehingga mampu menjaga keuntungan besar dan lapangan kerja pengolahan tetap berada di dalam negeri, alih-alih mengirimkannya ke luar negeri.
Oleh karena itu, kebijakan hilirisasi perlu diarahkan tidak hanya pada komoditas ekspor unggulan. Kebijakan ini juga harus mencakup pangan pokok, buah-buahan, dan sayuran (hortikultura), dengan fokus pada penciptaan nilai tambah domestik dan penyerapan tenaga kerja.
Penguatan kelembagaan ekonomi petani, pengembangan skema kemitraan usaha, serta fasilitasi pembiayaan rantai nilai menjadi instrumen kunci untuk memastikan petani dan UMKM terlibat aktif dalam proses hilirisasi.
Dengan kata lain, hilirisasi yang hanya menguntungkan segelintir korporasi besar tanpa melibatkan petani kecil dan wirausahawan lokal adalah hilirisasi yang gagal secara sosial, meski berhasil secara statistik.
Indonesia 2045 yang berdaulat pangan bukan dibangun di atas angka ekspor semata ia dibangun di atas kesejahteraan jutaan petani yang menjadi pelaku utama, bukan sekadar penyedia bahan baku.
Pertanian Sebagai Panggilan, Bukan Keterpaksaan
Riset yang mencakup data dari program YESS (Youth Entrepreneurship and Employment Support Services) Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa kemandirian agropreneur muda dipengaruhi secara langsung dan positif oleh tingkat pengelolaan agribisnis serta kapasitas kewirausahaan mereka (yang mencakup kemampuan adaptasi, kepemimpinan, kemampuan mengelola usaha, dan menjalin kerja sama).
Ini adalah temuan riset yang sangat bermakna: wirausahawan agribisnis muda yang berhasil bukan mereka yang paling bermodal, melainkan yang paling adaptif dan paling mampu berkolaborasi.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan pada teknologi, bukan pada regulasi, dan bukan pula pada ketersediaan lahan. Tantangan terbesar adalah mengubah persepsi bahwa bertani adalah pilihan terakhir orang yang gagal di kota, menjadi keyakinan bahwa agribisnis inovatif adalah salah satu pilihan paling menjanjikan bagi generasi muda yang ingin menciptakan dampak nyata bagi bangsa.
Ladang yang menggunakan sensor tanah. Kebun yang dipantau dengan drone. Koperasi petani yang memasarkan produknya langsung ke konsumen global melalui platform digital.
Agroindustri kecil yang mengubah singkong menjadi tepung premium bernilai ekspor. Semua itu bukan mimpi jauh ke depan semua itu sedang terjadi, di tangan segelintir agripreneur muda yang sudah berani melangkah lebih awal.
Pertanyaannya adalah: kapan kita semua menyusul?
Penulis:
– Awara Al Gafar
– Mikha Daniel
– M Taufiq Rizqi Nursyamsi
– Eric Twambajimana
Mahasiswa Program Studi Agribisnis, IPB University
Dosen Pengampu: Dr. Ir. Burhanuddin, M.M.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












