ABSTRAK
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode pengasapan dalam pengendalian hama tikus pada tanaman padi melalui kolaborasi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), pemerintah daerah, dan masyarakat di Kabupaten Solok. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan partisipatif, di mana kegiatan dilakukan secara langsung di lahan persawahan melalui tahapan identifikasi liangaktif, penempatan bahan berupa sabut kelapa dan belerang, serta proses pengasapan. Data diperoleh melalui observasi lapangan dengan melihat jumlah liang aktif, jumlah tikus yang keluar dan tertangkap, serta perubahan aktivitas tikus setelah perlakuan. Hasil kegiatanmenunjukkan bahwa metode pengasapan cukup efektif dalam menekan populasi tikus, yang ditandai dengan berkurangnya aktivitas hama serta tidak aktifnya kembali beberapa liang. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengendalian hama secara terpadu dan berkelanjutan. Keterlibatan pemerintah daerah dan mahasiswa KKN memberikan dampak positif dalam memperkuat sinergi dan keberhasilan pelaksanaan kegiatan. Dengan demikian, metode ini dapat menjadi alternatif pengendalian hama tikus yang praktis, ekonomis, dan mudah diterapkan oleh petani.
Kata kunci: hama tikus, pengasapan, tanaman padi, KKN
ABSTRACT
This activity aims to determine the effectiveness of fumigation methods in controlling rat pests on rice plants through collaboration between RealWork Lecture (KKN) students, local governments, and communities in Solok Regency. The method used is descriptive with a participatory approach, where activities are carried out directly in rice fields through the stages of identification of active burrows, placement of materials in the form of coconut and sulfur coir, and the smoking process. Data were obtained through field observation by looking at the number of active burrows, the number of rats that came out and caught, and the change in rat activity after treatment. The results of the activity showed that the fumigationmethod was quite effective in suppressing the rat population, which was characterized by reduced pest activity and the reactivation of some burrows. In addition, this activity also increases public awareness and participation in integrated and sustainable pest control. The involvement of the local government and KKN students has a positive impact in strengthening the synergy and success of the implementation of activities. Thus,this method can be an alternative to rat pest control that is practical, economical, and easy to apply by farmers.
Keywords: rat pests, fumigation, rice crops, KKN
PENDAHULUAN
Pertanian padi merupakan sektor strategis dalam menunjang ketahanan pangan nasional, khususnya di daerah pedesaan seperti Nagari Cupak, Kabupaten Solok yang dikenal memiliki potensi lahan sawah yang cukup luas dan produktif. Keberhasilan produksi padi tidak hanya ditentukan oleh faktor kesuburan tanah dan ketersediaan air, tetapi juga oleh kemampuan petani dalam mengatasi berbagai kendala, salah satunya adalah serangan hama (Safitri, Sepri YH, et al., 2025).
Di Nagari Cupak, Kabupaten Solok, serangan hama tikus menjadi permasalahan serius yang dihadapi oleh petani. Banyaknya populasi tikus menyebabkan tanaman padi masyarakat mengalami kerusakan parah bahkan terancam gagal panen. Hama tikus dikenal memiliki daya reproduksi yang tinggi serta kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan, sehingga populasinya dapat meningkat dengan cepat dan sulit dikendalikan apabila tidak ditangani secara tepat (Kamil et al., 2023).
Permasalahan hama tikus tersebut tidak dapat ditangani secara individual oleh petani, melainkan memerlukan pendekatan yang terpadu dan melibatkan berbagai pihak (Usman Raidar et al., 2023). Upaya pengendalian yang tidak terkoordinasi sering kali kurang efektif karena tikus dapat berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara petani, pemerintah daerah, dan pihak lain yang memiliki peran dalam pemberdayaan masyarakat (Pramudi et al., 2024).
Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam membantu masyarakat mengatasi permasalahan di lapangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat berperan sebagai fasilitator dalam memperkenalkan metode pengendalian hama yang efektif, efisien, dan mudah diterapkan oleh masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengendalian hama secara bersama-sama.
Dalam konteks ini, kolaborasi antara mahasiswa KKN, pemerintah daerah, serta masyarakat di Nagari Cupak menjadi sangat penting.Keterlibatan Bupati Solok dalam
kegiatan pengendalian hama tikus menunjukkan adanya dukungan penuh dari pemerintah terhadap upaya penanggulangan permasalahan pertanian yang dihadapi masyarakat (Arifandi et al., 2021). Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat pelaksanaan kegiatan di lapangan serta meningkatkan partisipasi aktif masyarakat.
Salah satu metode yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah teknik pengasapan liang tikus menggunakan bahan sederhana seperti sabut kelapa dan belerang. Metode ini dinilai efektif dalam mengendalikan populasi tikus karena mampu menjangkau sarang yang berada di dalam tanah (Noviantoro et al., 2021). Selain itu, metode ini juga relatif mudah dilakukan oleh masyarakat dengan peralatan yang sederhana dan biaya yang terjangkau (Safitri, Ari, et al., 2025).
Dengan adanya kegiatan kolaboratif ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil pertanian serta mengurangi risiko gagal panen di Nagari Cupak, Kabupaten Solok. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan di masyarakat serta memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi permasalahan pertanian.
METODOLOGI
Alat dan Bahan
Berikut merupakan alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan pengendalian hama tikus pada tanaman padi:
Tabel 1. Alat dan Bahan

Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lahan persawahan masyarakat di Kabupaten Solok dalam rangka kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan melibatkan mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan partisipatif. Kegiatan diawali dengan identifikasi liang tikus aktif berdasarkan tanda-tanda seperti jejak, kotoran, dan lubang yang masih terbuka. Selanjutnya, sabutkelapa kering dimasukkan ke dalam mulut liang dan ditambahkan belerang, kemudian disusun agar mudah terbakar. Proses pengasapan dilakukan dengan menyalakan sabut kelapa menggunakan pemantik dan mengarahkan asap ke dalam liang dengan bantuan alat gas portable. Selama proses berlangsung, dilakukan pemantauan terhadap lubang lain di sekitar sebagai jalur keluar tikus. Tikus yang keluar dalam
kondisi lemah atau panik segera ditangkap menggunakan jaring atau alat bantu lainnya. Apabila tikus tidak keluar, liang ditutup dengan tanahagar asap tetap berada di dalam. Data kegiatan diperoleh melalui observasi langsung, meliputi jumlah liang aktif, jumlah tikus yang tertangkap,serta tingkat keberhasilan pengasapan, kemudian dianalisis secara deskriptif.
Prosedur Penelitian (Langkah-langkah)
- Mengidentifikasi liang tikus aktif berdasarkan tanda-tanda keberadaan tikus.
- Memasukkan sabut kelapa kering ke dalam mulut liang tikus.
- Menambahkan belerang secukupnya pada sabut
- Menyalakan sabut kelapa menggunakan
- Mengarahkan asap ke dalam liang dengan bantuan alat gas portable.
- Memantau lubang lain di sekitar sebagai jalur keluar
- Menangkap tikus yang keluar menggunakan jaring atau alat bantu lainnya.
- Menutup liang dengan tanah jika tikus tidak
- Mengumpulkan dan menganalisis data hasil kegiatan secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pembukaan Kegiatan Bersama Bupati Solok
Menyikapi meningkatnya serangan hama tikus pada tanaman padi, Pemerintah Kabupaten Solok melaksanakan gerakan pengendalian (Gerdal) hama tikus pada Kamis (29/01/26) sebagai upaya menjaga produktivitas pertanian masyarakat, khususnya pada sektor padi sawah. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menekan dampak kerusakan tanaman yang disebabkan oleh hama, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah melalui tindakan nyata di lapangan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah dan masyarakat, antara lain anggota DPRD Kabupaten Solok Iskan Nofis, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat Gunung Talang, unsur Forkopimcam, Wali Nagari, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta masyarakat setempat. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Negeri Padang yang turut berperan aktif dalam pelaksanaan pengendalian hama di lapangan. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan adanya sinergiyang kuat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menghadapi permasalahan hama pertanian.
Bupati Solok, Jon Firman Pandu, dalam sambutannya menyampaikan bahwa gerakan pengendalian hama tikus ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam upaya penguatan ketahanan pangan nasional dan pembangunan yang dimulai dari desa. Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan berawal dari nagari dan lahan pertanian yang dikelola oleh petani. Oleh karena itu, apabila produktivitas lahan terganggu, maka akan berdampak langsung terhadap ketersediaan pangan.
Lebih lanjut, Jon Firman Pandu menekankan bahwa pemerintah daerah akan terus mendorong program pertanian yang terintegrasi, mulai dari pengendalian hama, penyediaan sarana produksi, hingga peningkatan kapasitas petani melalui pendampingan dan penyuluhan.Gerakan pengendalian hama tikus ini tidak hanya bertujuan untuk menekan populasi hama, tetapi juga meningkatkan kesadaran
petani akan pentingnya pengendalian hama secara terpadu dan berkelanjutan. Dengan adanya keterlibatan mahasiswa KKN dari Universitas Negeri Padang, diharapkan kegiatan ini juga dapat menjadi sarana transfer pengetahuan dan pengalaman, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan menjadikan Kabupaten Solok sebagai salah satu lumbung pangan yang berkontribusi bagi kebutuhan daerah maupun nasional.
2. Pelaksanaan Pengendalian Hama Tikus di Lahan Persawahan
Pelaksanaan kegiatan pengendalian hama tikus dilakukan secara langsung di lahan persawahan masyarakat dengan melibatkan mahasiswa KKN dari Universitas Negeri Padang bersama warga setempat. Kegiatan diawali dengan identifikasi liang tikus aktif yang ditandai dengan adanya jejak, lubang terbuka, serta tanda-tanda aktivitas tikus lainnya. Setelah liang aktif ditemukan, kegiatan dilanjutkandengan penerapan metode pengasapan menggunakan sabut kelapa kering dan belerang sebagai bahan utama.
Proses pengasapan dilakukan dengan memasukkan sabut kelapa dan belerang ke dalam mulut liang, kemudian dibakar hingga menghasilkan asap yang diarahkan ke dalam sarang tikus menggunakan alat gas portable. Selama proses berlangsung, peserta kegiatanjuga melakukan pemantauan terhadap lubang-lubang lain di sekitar area sebagai jalur alternatif keluarnya tikus (Wardah et al., 2023). Tikusyang keluar dari liang dalam kondisi lemah atau panik kemudian ditangkap menggunakan jaring atau alat bantu lainnya yang telah disiapkan.

Kegiatan ini dilaksanakan secara gotong royong sehingga menciptakan kerja sama yang baik antara mahasiswa dan masyarakat. Penggunaan alat dan bahan yang sederhana membuat metode ini mudah diterapkan di lapangan tanpa memerlukan biaya yang besar. Selain itu, keterlibatan aktif masyarakat menunjukkan bahwa metode pengendalian yang dilakukan dapat diterima dengan baik serta berpotensi untuk diterapkan secara berkelanjutan.
Melalui pelaksanaan kegiatan ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan solusi langsung dalam mengendalikan hama tikus, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai teknik pengendalian yang efektif. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kemandirian petani dalam menjaga lahan pertanianmereka dari serangan hama di masa mendatang.
3. Hasil Pengendalian dan Efektivitas Metode
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama kegiatan berlangsung, metode pengasapan menunjukkan tingkat efektivitas yang cukup baik dalam mengendalikan hama tikus di lahan persawahan. Hal ini ditandai dengan menurunnya aktivitas tikus diarea pertanian setelah dilakukan pengasapan pada beberapa titik liang aktif. Selain itu, jumlah tikus yang berhasil keluar dari liang dan kemudian ditangkap juga menjadi indikator bahwa metode ini mampu memberikan dampaklangsung terhadap populasi hama. Pengamatan di lapangan juga menunjukkan bahwa sebagian besar liang tikus yang sebelumnya aktif tidak lagi memperlihatkan tanda-tanda aktivitas setelah dilakukan pengasapan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa asap yangdihasilkan dari pembakaran sabut kelapa dan belerang mampu masuk hingga ke bagian dalam sarang tikus, sehingga mengganggusistem pernapasan dan memaksa tikus keluar atau bahkan menyebabkan kematian di dalam liang.
Efektivitas metode ini juga didukung oleh kemampuannya menjangkau sarang tikus yang berada di dalam tanah, yang umumnya sulit diatasi dengan metode konvensional lainnya. Dengan demikian, pengasapan menjadi salah satu alternatif pengendalian yang cukup efisien, terutama ketika dilakukan secara serentak dan terkoordinasi oleh masyarakat.

Meskipun demikian, keberhasilan metode ini sangat dipengaruhi oleh ketepatan dalam mengidentifikasi liang aktif serta kerja sama antar peserta di lapangan. Oleh karena itu, pelaksanaan yang terorganisir dan partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam meningkatkan keberhasilan pengendalian hama tikus secara optimal.
4. Pembahasan dan Dampak Kegiatan
Kegiatan pengendalian hama tikus yang dilaksanakan melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN, pemerintah daerah, dan masyarakatmenunjukkan bahwa pendekatan partisipatif memiliki peran penting dalam keberhasilan program di lapangan. Keterlibatan berbagai pihak tidak hanya mempercepat proses pelaksanaan, tetapi juga meningkatkan rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga lahan pertanian dari serangan hama. Sinergi ini menjadi kunci utama dalam menciptakan pengendalian yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Dari sisi metode, teknik pengasapan menggunakan sabut kelapa dan belerang terbukti sebagai solusi yang praktis, ekonomis, dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Metode ini tidak memerlukan teknologi yang rumit sehingga dapat dilakukan secara mandiri oleh petani. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pengalaman langsung bagi masyarakat dalam menerapkan teknik pengendalian yang tepat, sehingga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka di bidang pertanian.
Dampak positif dari kegiatan ini terlihat dari meningkatnya kesadaran petani terhadap pentingnya pengendalian hama secara terpadu dan dilakukan secara serentak. Petani mulai memahami bahwa pengendalian yang dilakukan secara individu kurang efektif, sehingga diperlukan kerja sama antar pemilik lahan. Hal ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan baru dalam pengelolaan hama yang lebihterorganisir di tingkat nagari.

Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak jangka pendek berupa penurunan populasi tikus, tetapi juga dampak jangka panjang dalam bentuk peningkatan kapasitas masyarakat dan penguatan kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pengendalian hama yang berkelanjutan guna mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di Kabupaten Solok.
KESIMPULAN
Kegiatan pengendalian hama tikus pada tanaman padi di Kabupaten Solok yang dilaksanakan melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN Universitas Negeri Padang, pemerintah daerah, dan masyarakat menunjukkan hasil yang positif dan berjalan dengan baik. Pelaksanaan gerakan pengendalian (Gerdal) yang diawali dengan pembukaan bersama Bupati Solok mencerminkan adanya dukungan penuh dari pemerintah dalam menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah.
Metode pengasapan yang diterapkan terbukti cukup efektif dalam menekan populasi tikus, ditandai dengan berkurangnya aktivitas hama serta tidak aktifnya kembali beberapa liang setelah perlakuan. Selain itu, metode ini bersifat praktis, ekonomis, dan mudah diterapkan oleh masyarakat sehingga berpotensi untuk dilakukan secara berkelanjutan. Keterlibatan aktif masyarakat dan mahasiswa juga memberikan dampak positif berupa meningkatnya kesadaran serta pengetahuan petani mengenai pentingnya pengendalian hama secara terpadu dan serentak, sehingga kegiatan ini tidak hanya memberikan solusi jangka pendek, tetapi juga mendorong terbentuknya sistem pengendalian hama yang lebih efektif dan berkelanjutan di masa mendatang.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati Solok atas dukungan dan partisipasinya dalam kegiatan pengendalian hama tikus pada tanaman padi di Kabupaten Solok. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada masyarakat setempat yang telah berpartisipasi aktif dan bekerja sama dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Lapangan atas bimbingan dan arahan yang diberikan selama kegiatan berlangsung, serta kepada seluruh mahasiswa KKN yang telah berkontribusi dan bekerja sama dalam menyukseskan kegiatan ini. Dukungan dan keterlibatan semua pihak sangat berarti dalam keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Arifandi, R. J., Junus, M., & Kusumawardani, M. (2021). Sistem Pengusir Hama Burung dan Hama Tikus Pada Tanaman Padi Berbasis Raspberry pi. Jurnal Jartel: Jurnal Jaringan Telekomunikasi, 11(2), 92–95. https://doi.org/10.33795/jartel.v11i2.61
Kamil, H., Khumairoh, N. M. Al, Wildanati, L., Novitasari, E., Mustika, E. V., & Putri, I. F. R. (2023). Upaya Pemberantasan Hama Tikus dengan Pembangunan Rumah Burung Hantu dari Limbah Kayu. Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 13–22. https://doi.org/10.55506/arch.v3i1.83
Noviantoro, W., Septariani, D. N., & Poromarto, S. H. (2021). “ Membangun Sinergi antar Perguruan Tinggi dan Industri Pertanian dalam Rangka Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka ” [ Pengendalian Hama Tikus pada Pertanaman Padi di Palur , Sukoharjo , Jawa Tengah] : Review. Seminar Nasional Dalam Rangka Dies Natalis Ke-45 UNS Tahun 2021, 5(1), 1245–1252.
Pramudi, M. I., Marsuni, Y., & Rosa, H. O. (2024). Kombinasi Pemanfaatan RUBUHA dan Ekstrak Tanaman Tegari untuk Pengendalian Hama Tikus di Lahan Pertanian. 2(2), 90–97.
Safitri, A., Ari, A., Yh, S., & Pardani, N. (2025). Pembinaan Kelompok Tani Pengendalian Hama Tikus dengan Metode Gropyokan di Desa Sidowaluyo Kecamatan Sidomulyo Indonesia merupakan salah satu negara agraris , oleh karena itu negara Indonesia banyak lahan pokok sehari-hari . Mayoritas warga Desa Sidowaluy. 2(Hussain 2019), 9–14.
Safitri, A., Sepri YH, A. A., & Pardani, N. (2025). Pembinaan Kelompok Tani Pengendalian Hama Tikus dengan Metode Gropyokan di Desa Sidowaluyo Kecamatan Sidomulyo. Journal of Digital Community Services, 2(2), 09–14. https://doi.org/10.69693/dcs.v2i2.29
Usman Raidar, Farrizqie Ramadhan, Nyimas Ririn Khayatin Nufus, Muhammad Rizky Supriyatna, Elsa Azizah Pesema, Zhara Nabila, & Aulia Safitri. (2023). Penyuluhan Pertanian Pengendalian Hama Tikus Dan Pembuatan Biosaka Sebagai Upaya Mendukung Sistem Pertanian Berkelanjutan Di Pekon Banjarmasin. Buguh: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(2), 112–117. https://doi.org/10.23960/buguh.v3n2.1327
Wardah, E., Budi, S., & Lukman. (2023). Pemberdayaan Petani Padi Sawah Melalui Pemanfaatan Burung Hantu (Tyto Alba) untuk Pengendalian Hama Tikus (Rattus Argentiventer) di Gampong Pulo Iboh Kecamatan Kuta Makmur. Jurnal Solusi Masyarakat Dikara, 3(1), 12–16.
https://jsmd.dikara.org/jsmd/article/view/43#:~:text=P enerapan Inovasipengendalian hama tikus dengan pengadaan Rumah,pada khususnnya%2Cdan petani diareal pengabdian pada ummunya.
Penulis:
– Andria Catri Tamsin
– Winda Fransiska
– Siti Qur’aini Ilani
– Meli Aulia
– Firsty Rahmadilla
– Ayyasy Nabila Putri
Mahasiswa Universitas Negeri Padang
Dosen Pengampu: Andria Catri Tamsin
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














