Kolaborasi Arsitektur Pradita dan UMN: Desain Taman Mangrove Patikang untuk Pariwisata Lokal

Desa Wisata Lembur Mangrove Patikang
Kolaborasi Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pradita dan Universitas Multimedia Nusantara. (Foto: Dok. Penulis)

Desa wisata dapat mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif masyarakat, mengembangkan peluang bisnis lokal, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru. Salah satu kawasan yang memiliki potensi ini adalah Lembur Mangrove Patikang, sebuah daerah wisata yang berlokasi di Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Nama destinasi ini berasal dari Kampung Patikang yang berada di daerah tersebut. Kawasan ini merupakan hutan mangrove dan rawa seluas 4 hektar yang dihuni oleh 30 kepala keluarga.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Selain menjadi penghasil bibit mangrove di Kabupaten Pandeglang, mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan serta pengrajin olahan makanan dan minuman berbahan dasar mangrove.

Pada tahun 2017, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) lokal mulai berbenah dan menjadikan kawasan ini sebagai desa wisata. Langkah ini diambil mengingat letaknya yang strategis di buffer zone (zona penyangga) Tanjung Lesung.

Tanjung Lesung juga memiliki potensi alam yang menarik untuk berswafoto maupun fotografi bentang alam, fasilitas wisata jungle trekking, serta wisata kuliner lokal.

Desa Wisata Lembur Mangrove Patikang
Desa Wisata Lembur Mangrove Patikang. (Foto: Dok. Penulis)

Masalah dan Tantangan di Taman Lembur Mangrove Patikang

Berdasarkan hasil kunjungan awal, survei, observasi, serta dialog langsung untuk menyerap aspirasi warga lokal, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) menemukan beberapa kendala utama di desa:

Aksesibilitas dan Area Penerima yang Kurang Memadai

Meskipun pemandangan alamnya sangat menarik, lokasi Lembur Mangrove Patikang yang cukup jauh dari pusat kota berpotensi menyulitkan pengunjung.

Setelah menempuh perjalanan jauh, pengunjung dirasa “belum disambut” di area yang layak karena pintu masuk utama (main entrance) hanya sebatas gerbang seadanya. Selain itu, belum ada titik temu (meeting point) sekaligus pusat informasi (information center) bagi wisatawan.

Belum Tersedianya Rest Area dan Fasilitas Kuliner

Wisatawan domestik maupun mancanegara tentu merasa lelah saat mencapai lokasi. Hal ini memunculkan kebutuhan akan tempat istirahat (rest area) serta area makanan & minuman (food & beverage area) yang sekaligus potensial menjadi wadah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) warga setempat.

Ketiadaan Area Parkir yang Terorganisir

Wisatawan masih kesulitan memarkirkan kendaraannya. Sebagai lokasi wisata, diperlukan area parkir khusus untuk motor, mobil, hingga bus. Keberadaan lahan parkir ini tidak hanya menertibkan kawasan, tetapi juga dapat memberdayakan warga lokal sebagai juru parkir serta menjadi sumber pemasukan tambahan untuk meningkatkan perekonomian desa.

Kolaborasi Arsitektur untuk Pemberdayaan Desa

Melihat tantangan tersebut, Universitas Pradita bersama dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) melakukan kolaborasi pengabdian kepada masyarakat, khususnya antar-program studi Arsitektur. Melalui program ini, upaya peningkatan wisata lokal dilakukan dengan merencanakan Taman Lembur Mangrove Patikang.

Taman ini dirancang untuk mengintegrasikan fungsi reception area (area penerima), meeting point, information center, rest area, serta food & beverage area sebagai wadah UMKM. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

Desa Wisata Lembur Mangrove Patikang
Pemetaan Hasil Survey Kondisi Eksisting. (Foto: Dok. Penulis)

Keterangan:

  1. Area Parkir Eksisting.
  2. Gerbang masuk ke Desa Citeureup.
  3. Jalan internal Desa Citeureup.
  4. Area pengelola kawasan wisata Lembur Mangrove Patikang 5–9. Jalur luar atau jalur depan.
  5. Area peristirahatan 11–12. Jalur tepi sungai.
  6. Ruang sekretariat pariwisata.
  7. Area penerima kawasan wisata Lembur Mangrove Patikang 15–16. Jalur dalam atau jalur belakang.

Tim melihat adanya potensi peningkatan nilai wisata yang dapat didukung melalui perencanaan, perancangan, pengawasan, pendampingan, serta edukasi. Fokus kegiatan meliputi tata letak zonasi, analisis perilaku pengunjung, pemilihan material, serta studi ergonomi untuk menentukan besaran ruang yang tepat demi kenyamanan pengunjung.

Desa Wisata Lembur Mangrove Patikang
Dosen Arsitektur (kanan) dari Universitas Pradita sedang konsultasi dengan perwakilan desa (kiri). (Foto: Dok. Penulis)

 

Desa Wisata Lembur Mangrove Patikang
Pertemuan dengan warga membahas perencanaan taman. (Foto: Dok. Penulis)

Desain Taman Bersama Warga (Pendekatan PAR)

Metode pelaksanaan kegiatan ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan masyarakat secara aktif di setiap tahapan, mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi. Tahapan kegiatannya meliputi:

Sosialisasi

Melakukan Focus Group Discussion (FGD) dan dialog dengan warga untuk menyerap aspirasi, keluhan, dan kebutuhan mereka. Tim PkM juga memaparkan manfaat ekonomi serta peluang keterampilan yang bisa didapat dari proyek ini.

Edukasi

Memberikan pelatihan dasar membaca gambar kerja (perencanaan dan perancangan) agar warga lokal mampu mengaplikasikannya secara mandiri pada tahap konstruksi.

Implementasi Teknologi

Memperkenalkan konsep perencanaan dan perancangan taman. Tim bersama warga memilih material lokal yang ramah lingkungan dan sesuai dengan prinsip keberlanjutan (sustainability).

Supervisi/Pendampingan

Tim melakukan pendampingan dan pengawasan langsung selama proses konstruksi fisik fasilitas wisata berdasarkan gambar kerja.

Evaluasi

Penilaian berkala untuk mengukur keberhasilan pelatihan dan kesesuaian pembangunan. Masukan dari masyarakat dikumpulkan untuk penyempurnaan demi menciptakan rasa kepemilikan (sense of ownership).

Keberlanjutan Program (Sustainability)

Tim PkM tetap membuka ruang diskusi berkala pasca-proyek untuk memantau keluhan atau kebutuhan baru di masa depan.

Desa Wisata Lembur Mangrove Patikang
Hasil Perencanaan dan Perancangan Taman Bersama Warga. (Ilustrasi: Dok. Penulis)

Saat ini, hasil perencanaan desain telah selesai dibuat dan diserahkan secara resmi kepada masyarakat Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Kegiatan kolaborasi ini juga melibatkan mahasiswa dari program studi Arsitektur Universitas Pradita dan UMN sebagai bagian dari implementasi nyata ilmu arsitektur di masyarakat.


Penulis:
Associate Prof. Aulina Adamy, ST., MSc., IPM.
Dosen Senior Program Studi Arsitektur, Universitas Pradita
Abdullah Hibrawan P., S.T., M.T.
Dosen Program Studi Arsitektur, Universitas Pradita
Imaniar Sofia Asharhani, S.Ars., M.T.
Kepala Program Studi Arsitektur, Universitas Pradita
Ar. Hanugrah Adhi Buwono, IAI
Dosen Program Studi Arsitektur, Universitas Pradita
Surya Romadhoni
Mahasiswa Program Studi Arsitektur, Universitas Pradita
Aura Valencia Vidurez Neda Sampoerno
Mahasiswa Program Studi Arsitektur, Universitas Pradita
Jonathan Sebastian Wibowo
Mahasiswa Program Studi Arsitektur, Universitas Pradita

 


Dosen Pengampu: Associate Prof. Aulina Adamy, ST., MSc., IPM.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses