Viral Hari ini, Hilang Besok? Mengapa Etika Menentukan Umur Panjang UMKM

etika bisnis UMKM
Viral Hari ini, Hilang Besok? Mengapa Etika Menentukan Umur Panjang UMKM. Sumber: MMI.

Pendahuluan

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, sektor UMKM berkontribusi sebesar 61,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja di Indonesia. Kontribusi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan UMKM tidak hanya menentukan pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Memasuki tahun 2026, lanskap bisnis UMKM mengalami perubahan yang sangat cepat akibat transformasi digital. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan berbagai platform e-commerce memungkinkan sebuah produk menjadi viral hanya dalam hitungan jam. Di saat yang sama, perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin mempercepat proses pemasaran, analisis perilaku konsumen, pelayanan pelanggan, hingga pengelolaan operasional usaha. Pemerintah Indonesia bahkan menilai bahwa pemanfaatan AI berpotensi meningkatkan produktivitas nasional dan menambah kontribusi hingga 3,67% terhadap PDB Indonesia, sehingga AI dipandang sebagai salah satu penggerak utama daya saing ekonomi di masa depan.

Namun, di balik besarnya peluang tersebut, muncul tantangan baru bagi pelaku UMKM. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital menegaskan bahwa persoalan utama UMKM saat ini bukan lagi sekadar akses terhadap internet, melainkan bagaimana menciptakan pasar digital yang adil, meningkatkan daya saing, menjaga kualitas produk, dan membangun kepercayaan konsumen agar mampu bertahan dalam persaingan yang semakin ketat. Transformasi digital tidak lagi diukur dari banyaknya UMKM yang hadir di platform digital, tetapi dari kemampuan mereka untuk naik kelas, produktif, dan berkelanjutan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa viralitas memang mampu meningkatkan penjualan dalam waktu singkat, tetapi belum tentu menjamin keberlangsungan usaha. Banyak UMKM berhasil menarik perhatian publik melalui konten yang viral, namun kemudian menghadapi penurunan kepercayaan pelanggan akibat kualitas produk yang tidak sesuai dengan promosi, pelayanan yang lambat, kurangnya transparansi, maupun lemahnya penanganan keluhan konsumen. Di era digital, pengalaman negatif pelanggan dapat dengan cepat menyebar melalui ulasan dan media sosial sehingga berdampak langsung terhadap reputasi bisnis. Kondisi ini memperlihatkan bahwa popularitas bersifat sementara, sedangkan kepercayaan dibangun melalui konsistensi perilaku etis.

Secara teoritis, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui konsep etika bisnis yang dikemukakan oleh Velasquez (2017), yaitu penerapan prinsip moral dalam setiap keputusan dan aktivitas bisnis agar tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan kepentingan seluruh pemangku kepentingan. Sementara itu, Robbins dan Coulter (2021) menjelaskan bahwa keberhasilan organisasi sangat dipengaruhi oleh penerapan fungsi manajemen yang meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (leading), dan pengendalian (controlling). Dalam konteks UMKM, kedua teori tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan usaha tidak cukup ditentukan oleh strategi pemasaran yang efektif, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha mengelola bisnis secara profesional dan berlandaskan etika.

Meskipun berbagai penelitian telah membahas digitalisasi UMKM, pemasaran digital, maupun pemanfaatan AI dalam dunia usaha, masih terdapat keterbatasan kajian yang menghubungkan viralitas digital, penerapan etika bisnis, dan keberlanjutan UMKM dalam satu pembahasan yang utuh. Padahal, perkembangan teknologi telah mengubah indikator keberhasilan bisnis dari sekadar peningkatan penjualan menjadi kemampuan mempertahankan kepercayaan dan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana etika bisnis menjadi faktor utama yang menentukan umur panjang UMKM di tengah fenomena viralitas digital dan perkembangan Artificial Intelligence (AI). Selain itu, artikel ini juga mengkaji peran manajemen UMKM dalam membangun kepercayaan pelanggan sebagai strategi untuk menciptakan daya saing dan keberlanjutan usaha pada era ekonomi digital.

Baca Juga: Ketika Bencana Alam Menghentikan Operasi Bisnis UMKM

Pembahasan

Manajemen UMKM di Era Digital: Lebih dari Sekadar Menjual

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara UMKM menjalankan usahanya. Jika sebelumnya keberhasilan usaha lebih banyak ditentukan oleh lokasi strategis dan promosi konvensional, kini media sosial, marketplace, dan Artificial Intelligence (AI) menjadi faktor penting dalam memenangkan persaingan. Konten yang menarik dapat membuat sebuah produk dikenal luas dalam waktu singkat, bahkan meningkatkan penjualan secara drastis. Namun, keberhasilan tersebut sering kali bersifat sementara apabila tidak didukung oleh sistem manajemen yang baik.

Menurut Robbins dan Coulter (2021), manajemen merupakan proses mengoordinasikan dan mengawasi aktivitas kerja agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif dan efisien. Proses tersebut meliputi empat fungsi utama, yaitu planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), leading (kepemimpinan), dan controlling (pengendalian).

Dalam konteks UMKM, keempat fungsi tersebut memiliki peran yang sangat penting. Perencanaan diperlukan untuk menentukan target pasar, strategi pemasaran, kapasitas produksi, serta penggunaan teknologi digital secara tepat. Pengorganisasian membantu pelaku usaha membagi tugas agar operasional berjalan efektif. Kepemimpinan berperan dalam membangun budaya kerja yang berorientasi pada pelayanan pelanggan, sedangkan pengendalian diperlukan untuk mengevaluasi kualitas produk, kepuasan pelanggan, dan efektivitas strategi pemasaran.

Banyak UMKM yang mengalami lonjakan pesanan setelah produknya viral, tetapi tidak siap menghadapi peningkatan permintaan. Akibatnya, proses produksi menjadi terlambat, kualitas produk menurun, serta pelayanan kepada pelanggan tidak optimal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa viralitas tidak dapat menggantikan pentingnya penerapan fungsi manajemen secara menyeluruh.

Etika Bisnis sebagai Fondasi Keberlanjutan UMKM

Keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memperoleh keuntungan, tetapi juga oleh bagaimana usaha tersebut dijalankan secara bertanggung jawab. Velasquez (2017) menjelaskan bahwa etika bisnis merupakan penerapan prinsip moral dalam pengambilan keputusan bisnis sehingga kepentingan perusahaan dapat berjalan selaras dengan kepentingan konsumen, karyawan, pemasok, maupun masyarakat.

Dalam praktik UMKM, etika bisnis dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan, seperti memberikan informasi produk yang jujur, menjaga kualitas barang sesuai dengan promosi, menetapkan harga secara transparan, melindungi data pelanggan, serta memberikan pelayanan yang adil kepada seluruh konsumen. Penerapan prinsip-prinsip tersebut akan meningkatkan kepercayaan pelanggan dan memperkuat reputasi usaha.

Sebaliknya, praktik promosi yang berlebihan (overclaim), manipulasi ulasan pelanggan, penggunaan foto produk yang tidak sesuai, atau mengabaikan komplain konsumen dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat. Pada era digital, informasi negatif dapat menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial sehingga berdampak langsung terhadap citra dan keberlangsungan usaha. Oleh karena itu, etika bisnis bukan lagi sekadar kewajiban moral, tetapi telah menjadi strategi kompetitif dalam membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Contoh Kasus: Ketika Viral Tidak Menjamin Keberlanjutan

Fenomena UMKM yang viral di media sosial semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu contohnya adalah berbagai pelaku usaha kuliner yang memperoleh lonjakan pesanan setelah produknya dipromosikan oleh kreator konten atau menjadi tren di TikTok. Dalam banyak kasus, peningkatan permintaan tersebut mampu meningkatkan omzet secara signifikan dalam waktu singkat.

Namun, sebagian pelaku usaha justru mengalami penurunan kepercayaan pelanggan karena tidak mampu menjaga kualitas pelayanan. Keluhan mengenai waktu pengiriman yang terlambat, kualitas produk yang tidak konsisten, serta pelayanan yang kurang responsif banyak ditemukan dalam ulasan pelanggan di marketplace maupun media sosial. Akibatnya, meskipun sempat memperoleh popularitas yang tinggi, jumlah pelanggan kembali menurun setelah tren tersebut berakhir.

Sebaliknya, terdapat pula UMKM yang mampu mempertahankan pertumbuhan usahanya meskipun tidak selalu menjadi viral. Hal tersebut terjadi karena mereka lebih mengutamakan kualitas produk, pelayanan yang konsisten, komunikasi yang jujur dengan pelanggan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan pasar. Reputasi yang dibangun melalui etika bisnis menjadikan pelanggan tidak hanya melakukan pembelian ulang, tetapi juga merekomendasikan produk kepada orang lain. Dengan demikian, keberhasilan UMKM tidak hanya bergantung pada kemampuan menarik perhatian konsumen, tetapi juga pada kemampuan mempertahankan kepercayaan mereka dalam jangka panjang.

Baca Juga: Penerapan Praktik Pembukuan Berbasis Digital pada Usaha UMKM

Analisis

Fenomena UMKM yang mudah viral melalui media sosial menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola persaingan bisnis. Algoritma media sosial, pemasaran digital, dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) memberikan peluang bagi pelaku UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya yang relatif rendah. Namun, viralitas hanya berfungsi sebagai pemicu meningkatnya perhatian konsumen, bukan sebagai jaminan keberhasilan usaha dalam jangka panjang.

Berdasarkan teori manajemen Robbins dan Coulter (2021), keberlangsungan sebuah organisasi sangat dipengaruhi oleh efektivitas fungsi planning, organizing, leading, dan controlling. Dalam praktiknya, masih banyak UMKM yang berfokus pada peningkatan penjualan tanpa mempersiapkan kapasitas produksi, sistem pelayanan, maupun pengelolaan sumber daya manusia. Akibatnya, ketika permintaan meningkat secara drastis, pelaku usaha kesulitan memenuhi ekspektasi konsumen sehingga menimbulkan keluhan dan menurunkan tingkat kepuasan pelanggan.

Dari perspektif etika bisnis, Velasquez (2017) menjelaskan bahwa keputusan bisnis seharusnya tidak hanya mempertimbangkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan nilai kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan penghormatan terhadap hak-hak konsumen. Dalam era digital, penerapan etika menjadi semakin penting karena pengalaman pelanggan dapat dengan mudah disebarkan melalui ulasan di marketplace maupun media sosial. Reputasi usaha yang telah dibangun selama bertahun-tahun dapat menurun hanya karena beberapa pengalaman negatif yang tersebar secara luas.

Oleh karena itu, keberhasilan UMKM pada era digital tidak lagi diukur dari seberapa sering produknya muncul di media sosial, melainkan dari kemampuan pelaku usaha mempertahankan kualitas produk, memberikan pelayanan yang konsisten, serta membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Dengan kata lain, viralitas dapat membuka peluang, tetapi etika bisnis dan manajemen yang baik merupakan faktor utama yang menentukan keberlanjutan usaha.

Solusi

Berdasarkan hasil analisis, terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh pelaku UMKM agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan digital.

Pertama, memperkuat fungsi manajemen melalui perencanaan kapasitas produksi, pengelolaan keuangan, pembagian tugas, serta evaluasi terhadap kepuasan pelanggan. Langkah ini penting agar peningkatan permintaan tidak menurunkan kualitas produk maupun pelayanan.

Kedua, menerapkan prinsip etika bisnis secara konsisten, seperti memberikan informasi produk yang jujur, menjaga kualitas sesuai dengan promosi, menetapkan harga secara transparan, dan memberikan layanan purna jual yang responsif. Penerapan etika akan meningkatkan kepercayaan pelanggan sekaligus memperkuat citra positif UMKM.

Ketiga, memanfaatkan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) secara bertanggung jawab. AI dapat digunakan untuk membantu analisis pasar, pembuatan konten pemasaran, pelayanan pelanggan melalui chatbot, serta pengelolaan stok barang. Namun, penggunaannya harus tetap memperhatikan keamanan data pelanggan, transparansi informasi, dan menghindari penyebaran informasi yang menyesatkan.

Keempat, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui pelatihan digital marketing, literasi AI, pelayanan pelanggan, dan etika bisnis. Peningkatan kualitas SDM akan membantu UMKM lebih adaptif terhadap perubahan teknologi sekaligus mampu mempertahankan standar pelayanan.

Kelima, membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan melalui komunikasi yang terbuka, penanganan keluhan secara cepat, serta evaluasi terhadap umpan balik konsumen. Loyalitas pelanggan merupakan aset yang lebih berharga dibandingkan peningkatan penjualan yang hanya bersifat sementara.

Baca Juga: Mahasiswa FEB UGJ Dampingi Dua UMKM Buah Tingkatkan Pengelolaan Keuangan Usaha

Kesimpulan

Transformasi digital telah memberikan peluang besar bagi UMKM untuk berkembang melalui media sosial, marketplace, dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Viralitas mampu meningkatkan popularitas serta penjualan dalam waktu singkat, tetapi tidak dapat menjamin keberlangsungan usaha apabila tidak didukung oleh manajemen yang baik dan penerapan etika bisnis. Keberhasilan UMKM pada era digital bergantung pada kemampuan pelaku usaha mengelola operasional secara profesional, menjaga kualitas produk, memberikan pelayanan yang konsisten, serta membangun kepercayaan pelanggan.

Penerapan fungsi manajemen yang efektif dan prinsip-prinsip etika bisnis menjadi fondasi utama dalam menciptakan daya saing yang berkelanjutan. Etika tidak hanya berfungsi sebagai pedoman moral, tetapi juga sebagai strategi untuk membangun reputasi, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan memperkuat posisi UMKM di tengah persaingan yang semakin kompetitif. Dengan demikian, pelaku UMKM perlu memandang teknologi sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi, sementara etika menjadi nilai yang menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka panjang. Oleh karena itu, slogan “Viral Hari Ini, Hilang Besok?” menjadi pengingat bahwa popularitas dapat bersifat sementara, tetapi integritas dan kepercayaan merupakan investasi yang menentukan umur panjang sebuah UMKM.


Oleh:
1. Alfira Wulandary (103240163)
2. Aulia Lintang Ayu (103240194)
3. Muhammad Rafi Bahtiar (103240335)
4. Endang Supriatna
Mahasiswa Manajemen Universitas Linggabuana Sukabumi (Unlip)


Dosen Pengampu: Endang Supriatna


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Kementerian Komunikasi dan Digital. (2026). Menkomdigi: AI bisa tambah 3,67 persen PDB Indonesia. https://portal.komdigi.go.id/kanal-publik/berita-kini/10166

Kementerian Komunikasi dan Digital. (2026). UMKM tak lagi butuh internet, pemerintah fokus benahi agar pasar digital lebih adil. https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/umkm-tak-lagi-butuh-internet-pemerintah-fokus-benahi-agar-pasar-digital-lebih-adil

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Arah kebijakan pembangunan UMKM 2025–2029. https://umkm.go.id

Robbins, S. P., & Coulter, M. (2021). Management (15th ed.). Pearson.

Velasquez, M. G. (2017). Business ethics: Concepts and cases (8th ed.). Pearson.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses