Oleh: Siti Julaeha
Mahasiswa Program Studi PJJ Akuntansi, Universitas Siber Asia
Pernah Menemukan Kesalahan, tetapi Justru Dianggap Menyalahkan?
Kesalahan data mungkin terlihat sederhana. Namun, cara menyampaikan temuan tersebut dapat menentukan apakah sebuah masalah menjadi lebih mudah diselesaikan atau justru menimbulkan kesalahpahaman baru.
Saya pernah mengalami situasi tersebut ketika menjalani magang. Saat menemukan perbedaan data pada invoice, saya berpikir bahwa menyampaikan informasi secara langsung merupakan hal yang tepat. Namun, respons yang saya terima membuat saya menyadari bahwa ketelitian saja tidak cukup. Ada kemampuan lain yang tidak kalah penting, yaitu kemampuan mengelola emosi, memahami orang lain, dan berkomunikasi dengan baik.
Dari pengalaman tersebut, saya mulai memahami pentingnya Emotional Intelligence atau kecerdasan emosional di tempat kerja.
Ketika Menemukan Kesalahan Bukan Berarti Menyalahkan
Dalam pekerjaan administrasi, ketelitian merupakan bagian penting dari tanggung jawab. Dokumen seperti invoice dan dokumen pendukung perlu diperiksa dengan cermat karena perbedaan kecil dapat memengaruhi proses berikutnya.
Suatu hari, saya menemukan adanya perbedaan harga antara invoice dan data pada dokumen internal. Saya juga menemukan ketidaksesuaian tanggal pengiriman antara invoice dan dokumen pendukung yang saya gunakan sebagai acuan.
Sebagai mahasiswa magang, saya merasa perbedaan tersebut perlu segera diklarifikasi. Saya kemudian menyampaikan temuan tersebut kepada pihak terkait.
Namun, respons yang saya terima tidak sepenuhnya seperti yang saya harapkan. Cara penyampaian saya dianggap terlalu tegas sehingga menimbulkan kesan seolah-olah saya sedang menyalahkan pihak lain. Padahal, tujuan saya hanya ingin memastikan data yang digunakan sudah sesuai.
Saat itu saya mendapatkan pelajaran penting: Informasi yang benar belum tentu diterima dengan baik jika disampaikan dengan cara yang kurang tepat.
Emotional Intelligence Bukan Sekadar Mengendalikan Emosi
Menurut Daniel Goleman, kecerdasan emosional mencakup lima komponen utama, yaitu self-awareness, self-management, motivation, empathy, dan social skills. Kelima komponen tersebut membantu seseorang mengenali emosinya, mengelola respons diri, memahami orang lain, serta membangun hubungan yang baik.
Konsep tersebut menjadi lebih mudah saya pahami setelah mengalaminya secara langsung.
Ketika mendapatkan respons yang kurang menyenangkan, saya merasa kecewa. Namun, saya mencoba berhenti sejenak sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut.
Saya bertanya kepada diri sendiri: apakah saya ingin membuktikan bahwa saya benar atau ingin menyelesaikan masalah?
Pertanyaan tersebut membantu saya melihat situasi dengan cara yang berbeda. Saya mulai memahami bahwa tujuan utama dalam pekerjaan bukanlah memenangkan pendapat, tetapi mencari solusi.
Kemampuan mengenali perasaan diri sendiri merupakan bagian dari self-awareness dan self-management yang dijelaskan dalam konsep Emotional Intelligence Goleman.
Cara Berkomunikasi Dapat Mengubah Situasi
Pada kesempatan berikutnya, saya mencoba menggunakan pendekatan yang berbeda. Saya tidak lagi langsung mengatakan bahwa terdapat kesalahan pada invoice. Saya menyampaikan bahwa terdapat perbedaan data yang perlu dikonfirmasi bersama dan menjelaskan kemungkinan dampak administratif apabila data tersebut tidak segera disesuaikan.
Hasilnya ternyata berbeda. Rekan kerja menjadi lebih terbuka untuk melakukan pengecekan ulang terhadap dokumen. Pembicaraan yang sebelumnya terasa kaku berubah menjadi proses bersama untuk mencari solusi.
Dari pengalaman tersebut, saya memahami bahwa komunikasi yang baik bukan berarti mengurangi ketelitian. Kita tetap dapat menyampaikan sesuatu yang benar tanpa membuat orang lain merasa diserang.
Kemampuan membangun hubungan dan berkomunikasi dengan orang lain inilah yang berkaitan dengan social skills dalam konsep Emotional Intelligence.
Empati Membantu Kita Melihat dari Sudut Pandang Orang Lain
Selain belajar mengendalikan emosi, saya juga mulai memahami pentingnya empati.
Setiap orang di tempat kerja memiliki tanggung jawab dan tekanan masing-masing. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan tepat waktu dan koordinasi dengan berbagai pihak.
Ketika seseorang sedang berada dalam tekanan, cara penyampaian sebuah informasi dapat memengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima. Saya mulai memahami bahwa kalimat yang menurut saya hanya bertujuan memberikan informasi bisa saja terdengar seperti kritik bagi orang lain.
Di sinilah empathy menjadi penting.
Empati bukan berarti membenarkan kesalahan. Empati berarti berusaha memahami kondisi orang lain sebelum memberikan penilaian. Dengan memahami sudut pandang orang lain, kita dapat menyampaikan masalah dengan cara yang lebih tepat sekaligus tetap menjaga tujuan pekerjaan.
Ketelitian dan Empati Seharusnya Berjalan Bersama
Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa ketelitian dan empati bukan dua hal yang bertentangan.
Ketelitian membantu kita menemukan masalah, sedangkan empati membantu kita menyampaikan masalah tersebut dengan cara yang lebih manusiawi. Keduanya diperlukan agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik.
Hal ini juga sejalan dengan pembahasan dalam mata kuliah Estetika Humanisme. Dalam artikel awal saya, materi tersebut dikaitkan dengan gagasan bahwa manusia tetap menjadi pusat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan teknologi seharusnya tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan seperti kerja sama, komunikasi, dan sikap saling menghargai.
Dengan demikian, kecerdasan emosional bukan hanya persoalan bagaimana seseorang mengelola perasaannya sendiri. Lebih luas dari itu, kecerdasan emosional berkaitan dengan bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain dalam proses bekerja.
Emotional Intelligence sebagai Bekal Memasuki Dunia Kerja
Bagi mahasiswa, kemampuan teknis tentu penting. Kita perlu menguasai ilmu sesuai bidang masing-masing, mampu menggunakan teknologi, dan memahami pekerjaan yang akan dilakukan. Namun, pengalaman magang menunjukkan bahwa kemampuan tersebut belum tentu cukup.
Dunia kerja juga membutuhkan orang yang mampu menerima masukan, mengendalikan emosi ketika menghadapi tekanan, berkomunikasi dengan baik, dan bekerja sama dengan orang lain.
Goleman melalui konsep Working with Emotional Intelligence juga menempatkan kecerdasan emosional dalam konteks kemampuan seseorang untuk berinteraksi dan bekerja secara efektif dengan orang lain.
Karena itu, Emotional Intelligence sebaiknya tidak dianggap sebagai kemampuan tambahan. Kecerdasan emosional merupakan salah satu bekal penting untuk menghadapi dunia kerja.
Baca Juga: Coaching Intercultural Leadership: Upaya Membangun Kepemimpinan Adaptif dan Inklusif di Era Global
Bekerja Bukan Hanya tentang Menyelesaikan Tugas
Pada akhirnya, pengalaman sederhana dengan sebuah invoice memberikan pelajaran yang cukup besar bagi saya.
Pekerjaan membutuhkan ketelitian. Tetapi pekerjaan juga membutuhkan manusia yang mampu memahami manusia lainnya.
Ketelitian membantu kita menemukan masalah. Emotional Intelligence membantu kita menyelesaikannya tanpa kehilangan rasa saling menghargai.
Bagi saya, inilah salah satu bentuk nyata dari Estetika Humanisme dalam kehidupan profesional: menggunakan kemampuan yang kita miliki bukan hanya untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga untuk menciptakan hubungan kerja yang lebih manusiawi.
Dosen Pengampu: Lia Amelia Nurkhazanah, S.Pd., M.Hum.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.
Goleman, D. (1998). Working with Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.
Universitas Siber Asia. (2026). Materi Mata Kuliah Umum Estetika Humanisme.
Video Pembelajaran MKU Estetika Humanisme Universitas Siber Asia. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=qWBE08TXkKs
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













