Fenomena gaslighting awalnya dikaji dalam psikologi sosial sebagai bentuk manipulasi emosional yang membuat seseorang meragukan persepsi dan realitas yang ia alami (Abramson, 2014). Bentuk manipulasi ini dilakukan melalui penyangkalan, pembalikan fakta, atau pelecehan verbal halus untuk melemahkan kepercayaan diri korban terhadap kemampuan berpikirnya sendiri (Dickson, Ireland, & Birch, 2021).
Dalam perkembangannya, konsep gaslighting tidak lagi terbatas pada ranah relasi personal, tetapi juga merambah ranah sosial dan institusional yang sarat dengan ketimpangan kekuasaan, seperti tempat kerja dan lingkungan pendidikan (Bagnoli, 2023). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gaslighting dapat beroperasi secara halus dalam struktur sosial yang hierarkis dan menormalisasi dominasi satu pihak terhadap pihak lain.
Dalam dunia akademik, relasi dosen dan mahasiswa merupakan bentuk hubungan hierarkis yang memiliki potensi besar bagi terjadinya gaslighting. Dosen memiliki otoritas pengetahuan, legitimasi sosial, dan kekuasaan dalam penilaian akademik, sementara mahasiswa berada dalam posisi yang lebih lemah secara struktural (AlSabbagh, 2023).
Ketika otoritas ini digunakan untuk menolak pengalaman mahasiswa, merendahkan pandangan mereka, atau menyalahkan korban atas perlakuan tidak adil, maka terjadilah bentuk interpersonal gaslighting yang tidak hanya merusak kepercayaan diri, tetapi juga integritas akademik.
Watson-Creed (2022) menegaskan bahwa praktik semacam ini menciptakan epistemic injustice, yakni situasi ketika kapasitas seseorang untuk dipercaya sebagai pembawa pengetahuan dilemahkan. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk memahami fenomena ini secara kritis agar relasi dosen–mahasiswa tetap berpijak pada empati, etika profesional, dan kesetaraan dalam proses akademik.
Gaslighting interpersonal dalam relasi dosen–mahasiswa merupakan bentuk manipulasi psikologis yang berakar pada ketimpangan kekuasaan akademik, yang dapat merusak integritas emosional, epistemik, dan profesional mahasiswa.
Gaslighting dalam hubungan akademik tidak dapat dilepaskan dari ketimpangan kekuasaan antara dosen dan mahasiswa. Menurut Bagnoli (2023), gaslighting merupakan bentuk dominasi yang bertujuan menundukkan korban melalui erosi self-respect rasa hormat terhadap kemampuan diri dalam menilai dan memahami kenyataan.
Dalam relasi dosen dan mahasiswa, dominasi ini muncul ketika dosen menggunakan otoritas akademik untuk mendeligitimasi pengalaman mahasiswa, misalnya dengan menyebut kritik atau perasaan mahasiswa sebagai “emosional” atau “tidak objektif.”
Utoft dan Pradhan (2024) menambahkan bahwa universitas modern yang berorientasi pada performa cenderung memperkuat relasi kekuasaan ini melalui mekanisme penilaian dan pengawasan. Dalam konteks ini, gaslighting bukan sekadar perilaku individu, melainkan cerminan struktur sosial yang menormalisasi ketimpangan hierarkis di kampus.
Namun, perlu disadari bahwa tidak semua bentuk koreksi atau kritik dosen dapat dikategorikan sebagai gaslighting. Menurut Abramson (2014), gaslighting berbeda dari koreksi akademik biasa karena melibatkan intensi untuk merusak kapasitas epistemik individu dalam mempercayai penilaiannya sendiri.
Dickson, Ireland, dan Birch (2021) menegaskan bahwa gaslighting bertujuan menciptakan kebingungan emosional dan kognitif, bukan memberikan klarifikasi terhadap kesalahan. Sebaliknya, dalam hubungan akademik yang sehat, interaksi kritis justru diperlukan untuk membangun kemampuan berpikir reflektif mahasiswa (AlSabbagh, 2023).
Perbedaannya terletak pada intensi dan pola komunikasi: gaslighting menolak realitas mahasiswa, sedangkan bimbingan akademik sejati membantu mahasiswa menata kembali realitasnya melalui empati dan argumentasi rasional. Dengan demikian, membedakan antara kritik akademik dan gaslighting sangat penting agar analisis tetap berimbang dan tidak menegasikan fungsi pendidikan.
Bentuk gaslighting dalam relasi dosen–mahasiswa dapat berupa penyangkalan terhadap peristiwa yang dialami mahasiswa, pembalikan tanggung jawab, atau penghinaan terselubung yang membuat mahasiswa meragukan kompetensinya.
Alsabbagh (2023) menjelaskan bahwa gaslighting di ruang kelas menurunkan kredibilitas dan kepercayaan diri korban karena pelaku berperan sebagai otoritas yang dipercaya. Ketika dosen meremehkan kemampuan mahasiswa dengan ungkapan seperti “kamu terlalu sensitif” atau “kamu salah paham,” mahasiswa kehilangan kepercayaan pada persepsi dan kemampuan akademiknya sendiri.
Watson-Creed (2022) menyebut dampak gaslighting akademik sebagai bentuk epistemic injustice, yakni ketidakadilan terhadap kapasitas seseorang sebagai pembawa pengetahuan yang sah. Dalam situasi ini, mahasiswa tidak hanya mengalami kerusakan emosional, tetapi juga kehilangan posisi epistemik dalam ruang akademik.
Efek jangka panjangnya mencakup kecemasan, menurunnya performa akademik, dan hilangnya rasa profesionalitas mahasiswa terhadap dirinya.
Gaslighting di dunia pendidikan sering muncul secara sistemik melalui kebijakan kampus yang menekankan performa akademik dibanding kesejahteraan emosional mahasiswa. Rewriting Reality: The Sociological Context of Gaslighting (2023) dan Utoft & Pradhan (2024) menjelaskan bahwa orientasi berlebihan pada prestasi dapat mengabaikan kebutuhan psikologis mahasiswa.
Fenomena ini terlihat dalam laporan CNN Indonesia (2024) dan Detik.com (2024) yang menyoroti meningkatnya tekanan akademik dan gangguan mental di kalangan mahasiswa akibat lemahnya dukungan pembimbing. Situasi ini menunjukkan bentuk institutional gaslighting di mana lembaga menormalisasi tekanan psikologis dengan dalih pencapaian akademik (Wescott & Roberts, 2025).
Untuk mengatasinya, universitas perlu menumbuhkan empati dan emotional intelligence di kalangan dosen. Menurut Shekhar dan Tripathi (2024), kemampuan memahami dan merespons emosi mahasiswa penting untuk menciptakan interaksi akademik yang sehat. Pelatihan etika profesional, sebagaimana disarankan Watson-Creed (2022), juga diperlukan agar otoritas akademik tidak berubah menjadi bentuk manipulasi psikologis.
Gaslighting interpersonal antara dosen dan mahasiswa mencerminkan ketimpangan kekuasaan yang terselubung di lingkungan akademik. Melalui manipulasi emosional dan epistemik, pelaku dapat membuat mahasiswa meragukan persepsi, kompetensi, dan harga dirinya.
Fenomena ini bukan hanya masalah individu, tetapi juga bagian dari struktur dan budaya institusional yang menormalisasi relasi hierarkis dan menekan suara kritis.
Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk membangun sistem yang mendorong empati, keterbukaan, dan kesadaran kekuasaan agar ruang akademik menjadi tempat yang aman untuk belajar dan bertumbuh secara intelektual maupun emosional. Menghadirkan pendidikan yang berkeadilan berarti memastikan bahwa relasi pengetahuan terbebas dari bentuk gaslighting dalam wujud apa pun.
Penulis: Adelia Ruth Tesa Sitepu
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi
Referensi
Abramson, K. (2014). Turning up the lights on gaslighting. Philosophical Perspectives, 28(1), 1– 30.
AlSabbagh, Z. A. A. (2023). Gaslighting in the classroom: Teacher–student gaslighting.
University of Bahrain.
Bagnoli, C. (2023). Normative isolation: The dynamics of power and authority in gaslighting.
Aristotelian Society Supplementary Volume, 97(1), 146–168.
Dickson, A., Ireland, C., & Birch, P. (2021). Gaslighting: Psychological manipulation in relationships. Psychology Press.
Shekhar, S., & Tripathi, K. M. (2024). Impact of gaslighting on mental health among young adults.
International Journal of Indian Psychology, 12(2), 3941–3945.
Utoft, E. H., & Pradhan, A. (2024). Dehumanized and objectified: How student evaluations of teaching become neoliberal technologies to control lecturers. Tijdschrift voor Genderstudies, 27(2–3), 151–170.
Watson-Creed, G. (2022). Gaslighting in academic medicine: Where anti-Black racism lives.
CMAJ, 194(42), E1451–E1454.
Wescott, S., & Roberts, S. (2025). Conceptualising school-level responses to sexual harassment of women teachers as institutional gaslighting. British Journal of Sociology of Education, 46(1), 1–18.
Rewriting Reality: The Sociological Context of Gaslighting. (2023). Sociological Inquiry, 95(2), 311–327.
CNN Indonesia. (2021, Oktober 22). Diduga stres tugas kuliah, mahasiswi di Yogya bunuh diri. Retrieved from https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211022132907-12- 710976/diduga-stres-tugas-kuliah-mahasiswi-di-yogya-bunuh-diri
Detikcom. (2021, Agustus 10). Peneliti Psikologi UI: Mahasiswa rentan kecemasan, depresi, dan rasa stres. Retrieved from https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d- 5650448/peneliti-psikologi-ui-mahasiswa-rentan-kecemasan-depresi-dan-rasa-stres
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












