Mengapa Orang Mudah Terpancing Emosi oleh Konten Viral? Tinjauan Kecerdasan Emosional di Era Media Sosial

kecerdasan emosional di era media sosial
Konten viral bisa memancing emosi dalam hitungan detik. Namun, sebelum ikut berkomentar, mungkin kita perlu berhenti sejenak: memahami konteks, mengenali emosi, dan mengingat bahwa di balik setiap akun ada manusia yang bisa terluka. Karena cerdas bermedia sosial bukan hanya soal cepat merespons, tetapi juga tahu kapan harus berhenti, berpikir, dan berempati. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Fenomena Hujatan di Media Sosial

Kasus penghujatan terhadap seorang ibu yang sedang melakukan aktivitas jualan melalui siaran langsung menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu digunakan untuk membangun komunikasi yang positif.

Ruang digital juga dapat menjadi tempat seseorang melampiaskan kemarahan atau emosi negatif kepada orang lain.

Insitut Pertanian Bogor (IPB) University mencatat bahwa sifat media sosial yang anonim dan instan dapat membuat seseorang merasa lebih aman untuk mengeluarkan kata-kata kasar secara spontan karena tidak berhadapan langsung dengan orang yang menjadi sasaran.

Pada remaja, kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan kemampuan pengendalian emosi dan kontrol diri yang masih berkembang.

Hal ini menjadi persoalan karena komentar yang ditulis di media sosial bukan hanya sekadar tulisan.

Komentar negatif yang dilakukan secara berulang dapat berubah menjadi bentuk perundungan digital dan memberikan dampak terhadap orang yang menjadi sasaran.

Emotional Intelligence dalam Menghadapi Konten Viral

Menurut Salovey dan Mayer, kecerdasan emosional mencakup kemampuan untuk menilai dan mengekspresikan emosi secara tepat, mengatur emosi diri maupun orang lain, serta menggunakan perasaan untuk membantu proses berpikir dan mencapai tujuan.

Jika dikaitkan dengan penggunaan media sosial, kecerdasan emosional dapat membantu seseorang agar tidak langsung bereaksi terhadap suatu konten hanya karena merasa marah atau tersinggung.

Misalnya, ketika seseorang melihat sebuah video yang dianggap tidak pantas, reaksi pertama yang muncul mungkin adalah rasa marah.

Orang yang mampu mengelola emosinya akan menyadari bahwa dirinya sedang marah dan tidak langsung memberikan komentar kasar. Ia dapat mengambil waktu untuk memahami konteks video tersebut terlebih dahulu.

Sebaliknya, ketika seseorang tidak mampu mengendalikan emosinya, reaksi spontan dapat muncul dalam bentuk komentar negatif, penghinaan, atau bahkan ajakan kepada orang lain untuk ikut menyerang seseorang.

Dengan demikian, kecerdasan emosional menjadi salah satu kemampuan yang penting dalam menghadapi informasi yang cepat menyebar di media sosial.

Mengapa Orang Mudah Terpancing Emosi?

Ada beberapa hal yang dapat membuat seseorang mudah terpancing oleh konten viral. Salah satunya adalah kecepatan penyebaran informasi.

Pengguna dapat melihat potongan video atau informasi tertentu sebelum mengetahui cerita secara lengkap.

Selain itu, komentar dari pengguna lain juga dapat memengaruhi respons seseorang. Ketika seseorang melihat banyak komentar yang marah atau menghujat, ia dapat terdorong untuk mengikuti reaksi tersebut tanpa melakukan pertimbangan sendiri.

Faktor lainnya adalah jarak antara pengguna dan orang yang menjadi sasaran komentar. Ketika berkomunikasi secara langsung, seseorang dapat melihat ekspresi dan perasaan lawan bicaranya.

Di media sosial, hubungan tersebut tidak selalu terlihat sehingga sebagian orang menjadi lebih berani mengatakan sesuatu yang mungkin tidak akan mereka katakan secara langsung.

Dalam kasus yang dibahas IPB University, sifat media sosial yang anonim dan instan disebut dapat membuat remaja lebih mudah mengekspresikan kata-kata kasar secara spontan.

Pentingnya Empati dalam Bermedia Sosial

Kecerdasan emosional tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengendalikan emosi sendiri, tetapi juga kemampuan memahami emosi orang lain. Karena itu, empati menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang sehat.

Ketika melihat seseorang melakukan kesalahan atau sesuatu yang tidak kita sukai, kita tetap perlu mengingat bahwa orang tersebut adalah manusia yang memiliki perasaan.

Kritik boleh diberikan, tetapi sebaiknya disampaikan dengan cara yang tidak merendahkan atau menyakiti.

Dalam kasus penghujatan terhadap penjual saat live, IPB University menyebutkan bahwa serangan verbal di ruang digital dapat berdampak pada kondisi emosional korban, seperti stres, kecemasan, dan menurunnya kepercayaan diri.

Karena itu, sebelum memberikan komentar, kita dapat mencoba bertanya kepada diri sendiri: “Jika komentar ini ditujukan kepada saya, bagaimana perasaan saya?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang melihat situasi dari sudut pandang orang lain.

Bagaimana Seharusnya Kita Bersikap?

Menurut saya, salah satu cara sederhana untuk meningkatkan kecerdasan emosional dalam menggunakan media sosial adalah dengan membiasakan diri berhenti sejenak sebelum bereaksi.

Ketika melihat konten yang membuat marah, kita tidak harus langsung memberikan komentar. Kita dapat melakukan beberapa hal sederhana.

Pertama, mengenali emosi yang sedang muncul. Apakah kita sedang marah, kecewa, tersinggung, atau hanya terbawa suasana?

Kedua, mencari informasi dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan. Konten viral tidak selalu memberikan gambaran lengkap mengenai suatu peristiwa.

Ketiga, mempertimbangkan dampak dari komentar yang akan diberikan. Jika ingin memberikan kritik, kritik dapat disampaikan dengan bahasa yang sopan dan fokus pada persoalan, bukan menyerang pribadi seseorang.

Keempat, menggunakan empati. Kita perlu menyadari bahwa di balik sebuah akun media sosial terdapat manusia yang dapat merasa malu, sedih, tertekan, atau kehilangan kepercayaan diri akibat komentar orang lain.

IPB University juga menekankan pentingnya literasi digital yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga etika berkomunikasi, empati, dan penghargaan terhadap orang lain.

Kesimpulan

Fenomena mudahnya masyarakat terpancing emosi oleh konten viral menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan media sosial tidak cukup hanya dengan memahami teknologi.

Pengguna juga membutuhkan kemampuan untuk mengelola emosi dan memahami perasaan orang lain.

Kasus penghujatan terhadap seorang ibu yang sedang berjualan melalui live streaming menjadi salah satu contoh bagaimana emosi yang tidak dikendalikan dapat berkembang menjadi tindakan perundungan verbal di ruang digital.

Dari perspektif Emotional Intelligence, seseorang perlu mampu mengenali emosinya, mengendalikan respons, memahami perasaan orang lain, dan mempertimbangkan dampak dari tindakan yang dilakukan.

Menurut saya, menjadi pengguna media sosial yang bijak bukan berarti kita tidak boleh marah, tidak boleh berbeda pendapat, atau tidak boleh memberikan kritik.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengelola emosi tersebut agar tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan orang lain.

Pada akhirnya, sebelum menekan tombol “kirim”, kita sebaiknya membiasakan diri untuk berhenti, berpikir, memahami, kemudian merespons. Sikap sederhana tersebut dapat menjadi salah satu bentuk kecerdasan emosional dalam kehidupan digital.

Daftar Referensi

IPB University. (2026, 25 Juni). Viral Remaja Hujat Penjual saat Live, Pakar IPB University Ingatkan Dampak Fatal Bullying Digital. IPB University.

Salovey, P., & Mayer, J. D. (1990). Emotional Intelligence.Imagination, Cognition and Personality, 9(3), 185–211.

 


Penulis: Renata Azzahra Putri
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Siber Asia


Dosen Pengampu: Dr. Nurhasanah Haspiaini, S.Sos., M.Si.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses