FYP is King: Mengejar Viralitas dengan Menjual Tragedi?

Etika media sosial
FYP is King: Mengejar Viralitas dengan Menjual Tragedi? Sumber: Penulis.

FYP atau For Your Page, ialah jantung dari algoritma suatu media sosial. Gunanya untuk menahan kita selama mungkin untuk tetap membuka aplikasi tersebut. Algoritma mempelajari dari data klik, tonton, dan interaksi kita.

Semakin sering kita berinteraksi atau mengklik suatu konten, semakin banyak pula konten serupa lewat beranda media sosial kita.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Beberapa waktu lalu, media sosial diramaikan dengan konten-konten yang menggunakan audio, “Aa kasihan Aa” atau bahkan ada yang memparodikannya. Audio itu milik Ibu Baliah, seorang wanita paruh baya asal kawasan Gunung Salak, Bogor, yang mengemis untuk menyambung hidupnya.

Tidak butuh waktu lama, sosok Ibu Baliah menjadi komoditas digital. Audionya banyak dipakai, kejadiannya banyak yang memparodikannya, penderitaannya dijadikan konten hiburan. Menimbulkan pertanyaan di benak, apakah semua itu etis untuk dilakukan?

Baca Juga: Ketika Media Sosial Melelahkan: Pengaruh Social Media Fatigue terhadap Online Shopping Addiction pada  Mahasiswa Generasi Z

Penderitaan Adalah Bahan Komedi?

Kasus Ibu Baliah atau “Aa Kasihan Aa” ini pertama kali meledak dan viral secara masif di media sosial sekitar bulan Januari 2024. Kronologinya kurang lebih seperti ini:

  • 12-13 Januari 2024, video rekaman Ibu Baliah yang mengemis sambil berkata “Aa Kasihan Aa” di kawasan Gunung Salak, Bogor, mulai menyebar luas di platform media sosial seperti TikTok, hingga diparodikan oleh ribuan netizen;
  • 14-15 Januari 2024, konten kreator mulai mendatangi langsung Ibu Baliah di lapangan untuk diwawancarai, yang kemudian mengungkap sisi pilu kehidupannya;
  • 16 Januari 2024, pihak Satpol PP Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, bersama Kepala Desa setempat merilis hasil investigasi resmi ke rumah pihak keluarga untuk klarifikasi bahwa Ibu Baliah sendiri ternyata memiliki keterbatasan mental, serta suaminya juga ternyata merupakan penyandang tunarungu dan tunawicara;
  • Pada Februari 2024, Ibu Baliah mulai mendapatkan beberapa bantuan sosial dan modal dari donatur, hingga akhirnya dilaporkan bahwa Ibu Baliah resmi berhenti mengemis dan mulai berjualan keripik dengan jargon “Aa dibeli Aa.”

Baca Juga: Ketika Media Sosial Menggerus Dialog

Kasus Ibu Baliah ini harus menjadi alarm bagi kita semua, di mana manusia, dengan segala kerapuhan dan perjuangannya, bukanlah bahan komedi. Di balik candaan dan parodi “Aa kasihan Aa”, ada perjuangan hidup yang berdarah-darah, trauma yang tidak tersorot kamera, serta martabat yang harus dijaga.

Media sosial mungkin dapat membuat fisik kita berjauhan, namun jangan sampai merenggut kewarasan nurani kita pula.

Sebelum membagikan atau memparodikan nasib seseorang, alangkah baiknya diam dulu sejenak untuk berpikir “Apakah ini layak untuk dijadikan bahan komedi? Atau kita sedang menertawakan nasib dan luka seseorang?”


Penulis: Dian Sukma Wijaya
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Dr. Surti Wardani, S.Sos., M.Si.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses