Parijoto sebagai Potensi Lokal: Mahasiswa KKN Edukasi Masyarakat Desa Candiretno melalui Sosialisasi dan Pelatihan

Tanaman Parijoto
Warga RT 03 Dusun Salam mengikuti kegiatan sosialisasi dan pelatihan Pepatah yang membahas pengenalan, budidaya, serta pemanfaatan tanaman parijoto sebagai potensi lokal. (Foto: Dok. Penulis)

Magelang, MMI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Candiretno melaksanakan salah satu program kerja bertajuk Pepatah (Pengenalan dan Pelatihan pada Tanaman Obat Keluarga Parijoto) sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Program ini diselenggarakan di salah satu rumah warga RT 03 Dusun Salam, Desa Candiretno, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dan dihadiri oleh warga setempat (25/07/2026).

Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan tanaman parijoto sebagai salah satu tanaman obat keluarga yang memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan.

Selain itu, juga memberikan pelatihan mengenai teknik penanaman, perawatan, dan pengolahannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sebagai potensi lokal.

Potensi Tanaman Parijoto sebagai Tanaman Obat Keluarga

Pemilihan tanaman parijoto sebagai fokus kegiatan didasarkan pada potensi tanaman lokal yang masih belum banyak dikenal oleh masyarakat, meskipun memiliki kandungan senyawa aktif yang bermanfaat bagi kesehatan.

Selama ini, masyarakat lebih mengenal tanaman obat seperti jahe, kunyit, atau temulawak, sedangkan parijoto masih jarang dimanfaatkan secara luas.

Baca Juga: Pemanfaatan Lahan Kosong untuk Disulap Menjadi Taman TOGA (Tanaman Obat Keluarga)

Selain itu, tanaman parijoto juga merupakan tanaman yang biasa ditemui di daerah lereng gunung dan dataran tinggi, seperti di lereng Gunung Muria, tempat tanaman ini tumbuh subur dan dimanfaatkan oleh warga sekitar menjadi berbagai produk, seperti obat-obatan dan sirup.

Kondisi Desa Candiretno yang juga berada di dataran tinggi menjadikan daerah ini memiliki potensi untuk budidaya dan pengolahan tanaman parijoto.

Berdasarkan penjelasan tersebut, melalui program Pepatah, mahasiswa KKN berupaya memperkenalkan kembali potensi tanaman parijoto sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian tanaman obat lokal yang dapat dibudidayakan di lingkungan rumah.

Pelaksanaan Sosialisasi dan Penyampaian Materi

Kegiatan sosialisasi dimulai pukul 19.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) dan berlangsung hingga 21.00 WIB. Acara diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan dengan pembukaan oleh pembawa acara, pembacaan doa, serta sambutan dari Ketua Kelompok KKN dan perwakilan perangkat desa.

Dalam sambutannya, perangkat desa menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KKN atas terselenggaranya program yang mengangkat potensi lokal Desa Candiretno.

Beliau juga berharap kegiatan ini dapat memberikan wawasan baru kepada masyarakat serta mendorong pemanfaatan lahan pekarangan sebagai media budidaya tanaman obat keluarga.

Memasuki acara inti, pemateri dari tim KKN menggunakan alat peraga berupa tanaman parijoto yang siap berbuah untuk menyampaikan materi mengenai pengenalan tanaman parijoto, mulai dari karakteristik tanaman, bentuk, hingga habitat tumbuhnya.

Tanaman Parijoto
Tim KKN Desa Candiretno menyampaikan materi pengenalan tanaman parijoto kepada warga dengan menggunakan tanaman parijoto sebagai alat peraga dalam kegiatan Pepatah di RT 03 Dusun Salam, Desa Candiretno. (Foto: Dok. Penulis)

Selain itu, dalam penyampaian materi, khususnya terkait kandungan dan khasiat tanaman parijoto, tim KKN menggunakan jurnal berjudul “Review Article: Aktivitas Farmakologi Tanaman Parijoto (Medinilla speciosa)” yang ditulis oleh Nafiah (2022).

Berdasarkan penelitian tersebut, tanaman parijoto memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder, di antaranya flavonoid, terpenoid, saponin, dan tanin, yang berkhasiat sebagai antibakteri, antibiofilm, antidiabetik, antifungi, antikolesterol, antioksidan, dan sitotoksik.

Selain menjelaskan manfaat parijoto bagi kesehatan, pemateri juga memberikan informasi mengenai potensi tanaman ini sebagai tanaman obat keluarga yang dapat dibudidayakan secara mandiri oleh masyarakat.

Baca Juga; Tingkatkan Kelestarian Lingkungan: Mahasiswa KKN UIN Walisongo Tanam Tanaman Obat Keluarga Bersama PKK Desa Mojo

Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh seluruh peserta yang hadir.

Pelatihan Budidaya dan Pengolahan Parijoto

Selain pengenalan manfaatnya, peserta juga mendapatkan pelatihan mengenai teknik budidaya tanaman parijoto.

Materi yang diberikan meliputi pemilihan bibit yang baik, persiapan media tanam, teknik penanaman, penyiraman, pemupukan, hingga perawatan rutin agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Tidak hanya itu, peserta juga diperkenalkan pada berbagai bentuk pengolahan sederhana tanaman parijoto sehingga hasil budidaya nantinya tidak hanya dimanfaatkan sebagai tanaman hias atau tanaman obat, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Kegiatan kemudian diakhiri dengan penyerahan bibit parijoto siap tanam kepada warga.

Tim KKN menyerahkan bantuan untuk mendukung budidaya tanaman parijoto kepada warga dalam rangkaian kegiatan Pepatah di Desa Candiretno. (Foto: Dok. Penulis)

Dengan demikian, setiap warga dapat mencoba membudidayakan sendiri tanaman parijoto serta mengolahnya menjadi produk obat maupun produk lain yang bernilai ekonomis.

Antusiasme Masyarakat

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada pemateri, mulai dari cara memperoleh bibit parijoto, teknik perawatan agar tanaman cepat berbuah, hingga manfaat buah parijoto bagi kesehatan.

Beberapa peserta juga bertanya mengenai potensi ekonomi tanaman parijoto, seperti harga buah parijoto di pasaran dan berbagai produk yang dapat dihasilkan.

Suasana diskusi yang aktif menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pemanfaatan tanaman obat keluarga dan produk bernilai tambah, khususnya tanaman parijoto yang masih tergolong baru bagi sebagian besar peserta.

Harapan dan Keberlanjutan Program

Melalui program Pepatah ini, diharapkan masyarakat Desa Candiretno, khususnya warga RT 03 Dusun Salam, semakin mengenal dan memahami potensi tanaman parijoto sebagai salah satu tanaman obat keluarga yang bermanfaat.

Selain mendukung pemanfaatan lahan pekarangan, budidaya tanaman parijoto juga diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam melestarikan kekayaan hayati lokal sekaligus membuka peluang pengembangan produk herbal berbasis potensi desa.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat dari segi kesehatan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai ekonomi melalui pemanfaatan tanaman parijoto.

Kegiatan sosialisasi dan pelatihan ini menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa KKN kepada masyarakat melalui pemberdayaan berbasis potensi lokal.

Besar harapannya, ilmu dan keterampilan yang telah diberikan dapat terus diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat sehingga tanaman parijoto semakin dikenal dan dimanfaatkan secara luas.

Ke depan, program seperti ini diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam mendorong pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, mandiri, serta mampu mengoptimalkan potensi lokal yang dimiliki Desa Candiretno.

Sumber

Nafiah, L. N. 2022. Review Article: Aktivitas Farmakologi Tanaman Parijoto (Medinilla speciosa). Jurnal Jurrikes: Riset Rumpun Ilmu Kesehatan, 1(1), 9–18. https://doi.org/10.55606/jurrikes.v1i1.172.

 


Penulis: Julian Hakim
Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Universitas Tidar


Dosen Pengampu: Ir. Historiawati, M.P.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses