Desa Silungkang Tigo, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, merupakan kawasan dengan aktivitas rumah tangga yang cukup tinggi. Di balik aktivitas tersebut, terdapat persoalan yang sering luput dari perhatian, yakni limbah minyak jelantah. Selama ini, sebagian warga masih membuang minyak goreng bekas ke saluran air atau tanah tanpa mengetahui dampaknya terhadap lingkungan.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Padang (UNP) yang bertugas di Desa Silungkang Tigo menghadirkan program pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Program ini tidak hanya bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga memperkenalkan peluang ekonomi berbasis limbah rumah tangga.
Mahasiswa KKN UNP Lakukan Observasi dan Edukasi Warga
Sebelum menjalankan program, mahasiswa KKN UNP terlebih dahulu melakukan observasi dan berdialog dengan warga mengenai kebiasaan pengelolaan minyak goreng bekas. Dari hasil pengamatan tersebut, mereka menemukan bahwa hampir setiap rumah tangga menghasilkan minyak jelantah secara rutin, tetapi belum ada upaya pengolahan yang dilakukan secara maksimal.
Berdasarkan temuan itu, mahasiswa merancang pelatihan pembuatan lilin aromaterapi sebagai salah satu program unggulan selama masa pengabdian.
Proses Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah
Pada 1 Agustus 2026, mahasiswa KKN UNP memperkenalkan tahapan pembuatan lilin aromaterapi kepada warga. Prosesnya dimulai dengan menyaring minyak jelantah untuk memisahkan sisa makanan dan kotoran. Selanjutnya, minyak dipanaskan bersama bahan pengeras, seperti stearin atau arang lilin, hingga meleleh sempurna.
Setelah itu, campuran diberi tambahan essential oil sesuai aroma pilihan, lalu dituangkan ke dalam cetakan yang telah dipasangi sumbu. Lilin kemudian didiamkan beberapa jam hingga mengeras dan siap digunakan.
Demonstrasi tersebut dipandu langsung oleh Reysa Fathia, mahasiswa Program Studi Pendidikan Musik.
“Awalnya saya kira warga akan canggung, tetapi ternyata mereka cepat tanggap begitu prosesnya dipraktikkan langsung, terutama saat mencampur pewangi dan mencetak lilin,” ujar Reysa.
Dari pelatihan perdana tersebut, mahasiswa dan warga berhasil menghasilkan lima lilin aromaterapi sebagai hasil uji coba.
Antusiasme Warga dan Potensi Ekonomi
Kegiatan ini diikuti oleh tujuh warga Desa Silungkang Tigo. Sebagian besar peserta mengaku baru mengetahui bahwa minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi memiliki nilai jual.
Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan mereka dalam setiap tahap pembuatan, mulai dari penyaringan minyak hingga proses pencetakan lilin.
Dari sisi ekonomi, lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk rumahan karena bahan bakunya mudah diperoleh. Namun, pengembangan tersebut masih berada pada tahap awal. Rencana mengenai harga jual maupun strategi pemasaran belum dirumuskan secara konkret.
Jika dikembangkan lebih lanjut, produk ini berpotensi menjadi salah satu usaha mikro yang khas dan ramah lingkungan di Desa Silungkang Tigo.
Tantangan dan Harapan Keberlanjutan Program
Meski demikian, program ini juga menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan waktu sosialisasi dan minimnya ketersediaan bahan tambahan, seperti essential oil dan cetakan lilin di wilayah setempat. Karena itu, keberlanjutan program sangat bergantung pada inisiatif warga untuk terus mempraktikkan keterampilan yang telah diperoleh.
Salah seorang peserta pelatihan, Marini Zalhery, mengaku senang dengan kegiatan tersebut.
“Selama ini minyak jelantah hanya dibuang begitu saja. Saya tidak pernah terpikir bahwa limbah itu bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, bahkan memiliki nilai jual,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat lebih sering dilakukan agar semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga secara kreatif dan berkelanjutan.
Ketua KKN UNP Desa Silungkang Tigo, Muhammad Rafly, menjelaskan bahwa program tersebut dipilih karena persoalan minyak jelantah hampir ditemui di setiap rumah tangga.
“Kami memilih program ini karena minyak jelantah adalah masalah yang hampir setiap rumah tangga di sini hadapi, tetapi jarang dianggap serius. Kami berharap keterampilan ini dapat terus ditularkan dari satu rumah ke rumah lain,” ujarnya.
Program pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi ini sejalan dengan semangat KKN Berdampak yang diusung Universitas Negeri Padang, yakni menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Meski masih berupa uji coba berskala kecil, mahasiswa berharap inovasi sederhana ini dapat tumbuh menjadi kebiasaan baru dalam mengelola limbah rumah tangga di Desa Silungkang Tigo.
Penulis:
- Aisyah Nuraini – Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam – 24231003
- Al Azim – Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi – 24086321
- Amelia Ramadani – Pendidikan Ekonomi – 24053075
- Aril Maulana – Ilmu Administrasi Negara – 24042012
- Cut Juliannisa – Pendidikan Bahasa Inggris – 24018012
- Elsa Aprilia – Administrasi Pendidikan – 24002107
- Gita Kharisma Azana – Pendidikan Kesejahteraan Keluarga – 23075072
- Ilma Yanti – Pendidikan Fisika – 24033018
- Muhammad Rafly – Pendidikan Jasmani, Kesehetan dan Rekreasi – 24086375
- Nada Fauziah – Ilmu Keolahragaan (NK) – 24089101
- Rahmanul Hakim Darli – Bahasa dan Sastra Inggris – 24019061
- Raisya Chairatul – Administrasi Pendidikan – 24002132
- Reysa Fathia – Pendidikan Musik – 24232028
- Ristian Ashari Anandef – Pendidikan Bahasa Inggris – 24018091
- Shinta Putri Chania – Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – 24016155
- Silvi Muliana – Pendidikan Tata Rias dan Kecantikan – 24078185
- Suci Ai’dila Fitri – Pendidikan Matematika – 24029106
- Suci Rahma Dina – Pendidikan Bahasa Jepang – 24180086
- Syfa Aulia – Pendidikan Fisika – 24033044
- Syifa’ul Jannah Retno Putri – Pendidikan Seni Rupa – 24020050
Mahasiswa KKN Universitas Negeri Padang (UNP)
Dosen Pembimbing Lapangan: Dr. Rika Sepriani, M.Farm., Apt.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















