Tim BBK 8 Unair Dorong Kewirausahaan Warga Klakeh melalui Demonstrasi Pembuatan Jamu dan Pelatihan Bisnis

BBK 8 Unair
**Caption:** Tim BBK 8 Universitas Airlangga memberikan penyuluhan kepada warga Desa Klakeh mengenai pengelolaan usaha rumahan, pengemasan produk, serta potensi pemasaran jamu sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman kewirausahaan berbasis potensi lokal. (Foto: Dok. Penulis)

Tuban, MMI – Potensi ekonomi lokal berbasis ramuan obat tradisional sering kali belum dimanfaatkan secara optimal di tingkat desa. Terbatasnya pemahaman mengenai pengolahan produk yang higienis, pengemasan, serta kalkulasi bisnis rumahan membuat peluang usaha baru berbasis potensi daerah sulit berkembang.

Menanggapi kondisi tersebut, Tim Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga (Unair) menyelenggarakan demonstrasi pembuatan jamu kunir asam serta penyuluhan mengenai pengemasan dan potensi ekonomi bagi warga Desa Klakeh, Tuban, Jawa Timur  (01/08/2006).

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa ini menyasar ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai kelompok sasaran utama dengan menggandeng perangkat desa dan para kader setempat. Kegiatan tersebut diikuti oleh 25 peserta.

Tujuan utama program ini adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan warga, membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal, serta meningkatkan pemahaman masyarakat dalam mengelola bisnis rumahan.

Sebelum program dilaksanakan, sebagian warga belum memahami standar sanitasi dalam pengolahan jamu, pentingnya penggunaan kemasan yang higienis, hingga perhitungan modal dasar seperti Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Break Even Point (BEP).

Sebagai solusi, mahasiswa BBK 8 Unair merancang program pelatihan dengan metode demonstrasi langsung dan penyuluhan interaktif.

Baca Juga: Mahasiswa FKG Unair Berpartisipasi dalam Program BBK Internasional di Universitas Sains Islam Malaysia: Bukti Nyata untuk Mulai Bersaing Global

Dalam aspek produksi, peserta diajarkan cara mengolah jamu segar sesuai standar sanitasi, mulai dari pemilihan bahan baku, pencucian menggunakan air mengalir, penerapan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), hingga penggunaan perlengkapan yang bersih seperti sarung tangan dan masker.

Dari sisi pengemasan dan branding, mahasiswa mendorong penggunaan botol kaca yang bersih dan terstandar sebagai pengganti botol plastik bekas serta penempelan label produk yang menarik.

Selain itu, peserta juga dibekali materi mengenai strategi penjualan yang mencakup perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), penentuan Break Even Point (BEP) sebagai acuan jumlah penjualan minimum untuk mencapai titik impas, analisis tren pasar, serta standar pelayanan yang ramah dan higienis.

Dampak positif kegiatan mulai terlihat dari hasil evaluasi melalui pengisian kuesioner berupa pre-test dan post-test yang dibagikan kepada peserta sebelum dan sesudah kegiatan.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pemahaman warga terkait manajemen usaha rumahan dan penghitungan modal tercatat meningkat secara signifikan. Warga juga menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti seluruh rangkaian acara serta aktif berdiskusi mengenai peluang pemasaran produk.

Antusiasme peserta juga terlihat selama pelaksanaan kegiatan. Para peserta aktif berdiskusi secara mendalam mengenai potensi dan proses produksi jamu.

Meskipun pemahaman peserta mengenai dasar-dasar kewirausahaan dinilai mengalami peningkatan yang signifikan, peningkatan tersebut belum mencapai tahap implementasi praktis.

Hingga saat ini, belum ada kelompok maupun individu di Desa Klakeh yang benar-benar telah mulai merintis usaha baru di bidang produk jamu.

Tingginya rasa ingin tahu dan keaktifan peserta juga terlihat ketika mereka bertanya mengenai langkah-langkah dan cara pendaftaran izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Namun, pembahasan mengenai BPOM tersebut murni muncul dari inisiatif peserta dalam sesi diskusi atau tanya jawab dan bukan merupakan bagian dari materi utama yang disampaikan oleh pemateri dalam kegiatan tersebut.

“Ternyata membuat jamu kunir asam yang higienis dan menarik itu tidak sulit kalau tahu langkah-langkahnya,” ujar Ibu Ani, salah satu peserta PKK.

“Materi perhitungan modal HPP dan BEP juga sangat bermanfaat, jadi kami punya gambaran yang lebih jelas jika ingin memulai usaha rumahan,” lanjutnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Unair berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG) 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

Baca Juga: Dukung SDGs 9, KKN-BBK 7 Unair Desa Kresek Digitalisasi Informasi Sejarah Monumen Kresek

Kontribusi tersebut diwujudkan melalui upaya penumbuhan rintisan usaha baru, pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal, serta peningkatan pemahaman mengenai kewirausahaan bagi warga Desa Klakeh.

 


Penulis: Tim BBK 8 Universitas Airlangga – Klakeh


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses