Monumen Kresek menjadi fokus digitalisasi informasi sejarah oleh mahasiswa KKN-BBK 7 Universitas Airlangga. (Foto: Dok. Tim KKN-BBK 7 Unair Desa Kresek)
Madiun, MMI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) 7 Universitas Airlangga (Unair) Desa Kresek melaksanakan program Kresek Goes Digital.Program ini sebagai upaya digitalisasi informasi sejarah Monumen Kresek. Dan langkah awalnya adalah memantik kepedulian mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian sejarah lokal agar tetap relevan dan mudah diakses oleh masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital.
Dari langkah itu, diharapkan nanti akses masyarakat terhadap sejarah lokal melalui media digitallebih meluas. Sekaligus menjangkau generasi muda agar lebih mengenal Monumen Kresek sebagai salah satu situs sejarah penting di Kabupaten Madiun.
Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI
Pemasangan plang informasi dan Linktree sebagai bagian dari upaya digitalisasi informasi sejarah Monumen Kresek oleh mahasiswa KKN-BBK 7 Unair (20 & 23/01). (Foto: Dok. Tim KKN-BBK 7 Unair Desa Kresek)
Monumen Kresek yang terletak di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, merekam salah satu episode paling kelam dalam sejarah lokal pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Menurut penuturan Heri (20/01), Kepala Desa Kresek periode 1989–2008, “Monumen Kresek dibangun untuk mengenang para korban Peristiwa Madiun 1948, sebuah konflik ideologis yang meninggalkan luka sosial mendalam bagi masyarakat setempat dan memiliki posisi penting dalam sejarah nasional.”
Lebih lanjut menurutnya, peristiwa yang terjadi September 1948 ketika pecah pemberontakan yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) di wilayah Madiun dan sekitarnya itu, dalam waktu singkat memicu kekerasan terhadap aparat negara, tokoh masyarakat, serta warga sipil.
Wawancara bersama Heri (kiri), Kepala Desa Kresek periode 1989–2008, terkait sejarah Monumen Kresek. (Foto: Dok. Tim KKN-BBK 7 Unair Desa Kresek)
Heri juga menjelaskan mengenai sejumlah catatan sejarah yang menyebutkan adanya pembunuhan dan pembuangan korban di beberapa lokasi. Salah satu lokasi itu kini adalah sekitar area berdirinya Monumen Kresek. Peristiwa itu jadi salah satu titik krusial dalam proses konsolidasi kekuasaan negara pasca-kemerdekaan.
Bagi masyarakat Desa Kresek dan sekitarnya, keberadaan monumen ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda sejarah. Tapi juga sebagai pengakuan simbolik atas pengalaman traumatis yang pernah dialami komunitas setempat.
Sejarah kelam yang direpresentasikan di kawasan Monumen Kresek tak hanya mencatat kronologi peristiwa. Namun, ia juga menggambarkan dampak sosial dari konflik ideologis, seperti rusaknya tatanan sosial dan hilangnya rasa aman warga.
Dalam perkembangannya, monumen ini kerap dijadikan lokasi kunjungan pelajar dan mahasiswa sebagai sarana pembelajaran sejarah. Dari monumen ini, kita bisa melihat, bahwa perjalanan bangsa Indonesia diisi tak hanya kisah-kisah heroik yang cuma menerakan segelintir nama di atas buku-buku sejarah kita selama ini. Namun juga sejumlah episode konflik berisi lembaran-lembaran kekerasan terhadap orang-orang biasa. Dan semua itu sebenarnya turut membentuk sejarah nasional negara ini.
Relevansi Monumen Kresek kembali mengemuka di tengah perdebatan nasional mengenai arah penulisan sejarah Indonesia. Wacana ini mencuat setelah Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan, seperti dilansir Detik.com berjudul Menbud Fadli Zon Launching Buku Sejarah Indonesia Versi Terbaru, menyampaikan rencana penyusunan ulang buku sejarah nasional yang akan digunakan sebagai rujukan pendidikan. Pemerintah menyatakan, bahwa penulisan ulang itu bertujuan memperluas perspektif sejarah dan memperkuat pemahaman kebangsaan generasi muda.
Monumen Kresek pun sejalan dengan konteks itu. Ia jadi contoh konkret, bahwa sejarah nasional tak dapat dilepaskan dari pengalaman lokal yang nyata. Situs memorial ini tidak dimaksudkan untuk membuka kembali konflik lama. Melainkan sebagai pengingat atas konsekuensi ekstremisme ideologis dan kekerasan politik, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara narasi besar negara dan realitas kemanusiaan masyarakat.
Selain fungsi memorial dan edukatif, Monumen Kresek juga berkembang sebagai destinasi wisata sejarah yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Keberadaan monumen ini tak hanya jadi ruang pengingat sejarah, tapi juga memiliki potensi sebagai sarana edukasi dan pengembangan wisata berbasis sejarah lokal.
Sehingga melalui program Kresek Goes Digital, mahasiswa KKN BBK 7 Unair berupaya menyajikan informasi sejarah Monumen Kresek secara digital agar lebih mudah diakses, relevan dengan perkembangan teknologi, serta menjangkau masyarakat secara lebih luas. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran Monumen Kresek sebagai ruang pembelajaran sejarah yang adaptif dan berkelanjutan.
Penulis: Tim BBK 7 Universitas Airlangga Desa Kresek