Sukoharjo, MMI — Program Penguatan Kapasitas Ormawa (PPK Ormawa) yang dijalankan Unit Kegiatan Mahasiswa Pengembangan Prestasi dan Riset Mahasiswa (UKM Prisma) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Desa Blimbing, Kecamatan Gatak, mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo.
Hal ini mengemuka dalam audiensi bersama Pemkab, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) pada Rabu (23/7/2026), yang digelar untuk membangun dukungan lintas sektor bagi upaya penurunan angka stunting di wilayah tersebut.
Audiensi ini menjadi momentum awal untuk menyelaraskan program mahasiswa dengan arah kebijakan pembangunan daerah. Tim PPK Ormawa menegaskan, kegiatan yang dijalankan bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan upaya konkret menjawab persoalan yang dihadapi warga Desa Blimbing.
Melalui forum lintas sektor ini, tim berharap memperoleh dukungan kebijakan, pendampingan teknis, serta ruang keberlanjutan program setelah masa PPK Ormawa rampung.
Dalam pemaparannya, tim mengungkapkan bahwa fokus utama program adalah pencegahan stunting di Desa Blimbing, yang prevalensinya masih tergolong tinggi.
Data tahun 2026 yang disampaikan dalam audiensi mencatat, dari 266 balita di desa tersebut, 37 anak mengalami stunting atau setara 13,91 persen—lebih tinggi dari rata-rata prevalensi Kecamatan Gatak yang berada di angka 10,97 persen dari total 2.553 balita.
Sasaran program meliputi ibu hamil, ibu menyusui, calon pengantin, hingga keluarga dengan balita, lewat rangkaian kegiatan berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga, penguatan kelembagaan kelompok masyarakat, serta penerapan inovasi pemberdayaan berbasis keluarga.
Tak hanya stunting, tim PPK Ormawa turut menyoroti persoalan diare akut yang masih menjadi tantangan kesehatan di Desa Blimbing.
Data UPT Puskesmas Gatak tahun 2025 mencatat 175 kasus diare akut, yang dipicu sanitasi lingkungan belum optimal, pengelolaan sampah belum tertata, minimnya jamban sehat, serta rendahnya kesadaran warga terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Program ini menyasar ibu rumah tangga, keluarga dengan balita, hingga masyarakat secara luas melalui Kelas Ibu Atasi Diare (KIAD) berupa edukasi pembuatan oralit dan pemantauan kondisi anak, penyediaan fasilitas Cuci Tangan Pakai Sabun (SEKAKI), gotong royong warga (RINDANG), serta sosialisasi PHBS.
Audiensi bersama Pemkab Sukoharjo dibuka oleh dosen pendamping, Bapak Muhammad Al Fatih Hendrawan, yang memperkenalkan susunan tim pelaksana sekaligus menyampaikan permohonan dukungan pemerintah.
Baca Juga: Menuju Desa Sehat Berkelanjutan: PPK Ormawa PRISMA UMS Resmikan Lembaga Ibu Sigap
Perwakilan tim juga memaparkan skema pendanaan hibah PPK Ormawa agar dipahami sebagai bagian dari kolaborasi resmi antara kampus dan pemerintah daerah.
Ketua tim, Rengga Prayoga, memaparkan permasalahan, tujuan, dan indikator keberhasilan program, sekaligus melaporkan progres intervensi yang telah berjalan di lapangan. Ia turut meminta arahan, dukungan, dan sinergi lintas dinas agar intervensi dapat berjalan optimal dan berkelanjutan di tengah masyarakat Desa Blimbing.
Dalam sesi bersama DPPKBP3A yang diwakili Kepala Dinas DPPKBP3A, Ibu Sumini, dibahas keterkaitan program dengan aspek kesehatan masyarakat, terutama Surat Keputusan penanganan stunting yang selama ini dijalankan Dinas Kesehatan pada tahap pencegahan.
Ibu Sumini menerangkan, pendampingan keluarga sejak masa calon pengantin, kehamilan, menyusui, hingga anak berusia dua tahun—mengacu konsep 1.000 Hari Pertama Kehidupan—telah berjalan melalui Tim Pendamping Keluarga di seluruh desa se-Kabupaten Sukoharjo.
Ia menilai program yang dibawa UKM Prisma UMS sejalan dengan upaya tersebut dan berpeluang dikolaborasikan, termasuk lewat program tanaman obat keluarga dan penanganan diare yang selama ini digarap bersama Dinas Kesehatan.
Sementara itu, audiensi dengan DPPKBP3A turut dihadiri Bapak Yudianta selaku Ketua Bidang Keluarga Berencana, Ketahanan, dan Kesejahteraan Keluarga dan Bapak Titis selaku Tim Pendukung. Keduanya membahas peluang sinergi program dengan agenda penguatan ketahanan keluarga serta pelibatan kader di tingkat desa.
Bapak Yudianta memaparkan, Kecamatan Gatak memiliki 6 petugas PPKBD yang membawahi 14 desa, termasuk Desa Blimbing, lengkap dengan skema desa binaan dan forum rembuk stunting desa.
Dari total 2.100 anggota Tim Pendamping Keluarga se-Kabupaten Sukoharjo yang terbagi dalam 600 tim di 167 desa, Desa Blimbing mendapat pendampingan tiga tim beranggotakan tiga orang, termasuk bidan desa.
Tim PPK Ormawa turut memperoleh masukan agar pelaksanaan kegiatan memperhatikan kebutuhan kelompok sasaran dan melibatkan unsur masyarakat yang telah dibina pemerintah daerah.
“Audiensi ini bukan sekadar memperkenalkan program, tetapi juga untuk mendapatkan masukan agar kegiatan yang kami jalankan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat Desa Blimbing. Kami berharap kolaborasi dengan Pemkab Sukoharjo, Dinas Kesehatan, dan DPPKBP3A dapat memperkuat dampak dan keberlanjutan program ini,” ujar Rengga Prayoga, Ketua Tim PPK Ormawa UKM Prisma UMS.
Dosen pendamping, Bapak Muhammad Al Fatih Hendrawan, menambahkan bahwa keterlibatan pemerintah daerah dibutuhkan agar program mahasiswa tidak berjalan parsial.
“Sinergi dengan dinas terkait akan memperkuat kualitas program sekaligus membuka peluang keberlanjutan setelah periode PPK Ormawa berakhir,” katanya.
Wakil Bupati Sukoharjo, Bapak Eko Sapto Purnomo, menyampaikan apresiasi atas program yang diinisiasi Tim PPK Ormawa UKM Prisma UMS. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Ia menegaskan dukungan penuh terhadap program pencegahan stunting maupun penanganan diare yang dijalankan di Desa Blimbing, karena dinilai sejalan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat setempat.
Program ini, lanjutnya, tidak hanya memberi manfaat di bidang kesehatan, tetapi juga berpotensi berdampak lebih luas terhadap kesejahteraan masyarakat. Kabupaten Sukoharjo ingin mendorong perguruan tinggi lebih fokus pada pengembangan riset dan pemberdayaan masyarakat.
Kepala Dinas DPPKBP3A, Ibu Sumini, turut menyambut baik program yang dibawa mahasiswa, “Kegiatan PPK Ormawa ini bagus, nanti kita bisa berkolaborasi. Kami sangat mendukung program adik-adik, dan kami ingin program ini berkelanjutan serta dikembangkan menjadi kecamatan berdaya,” katanya.
Senada, Bapak Yudianta menyatakan kesiapan pihaknya membuka ruang koordinasi, “Kami sangat terbuka, monggo. Apa yang dibutuhkan bisa dikoordinasikan langsung dengan perwakilan kami di desa,” ujarnya.
Dukungan yang dibahas dalam audiensi menegaskan komitmen bersama dalam mendukung program pencegahan stunting dan diare, mencakup fasilitasi koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa, pelibatan tenaga kesehatan serta kader PPKBD dan PKK, penyediaan data pendukung, hingga penyelarasan kegiatan mahasiswa dengan program yang telah dijalankan masing-masing dinas.
Bapak Yudianta dan Bapak Titis bahkan menawarkan agar penyuluhan Keluarga Berencana di Kecamatan Gatak dapat didekatkan langsung ke Desa Blimbing, sehingga warga tidak perlu menempuh jarak jauh untuk berkoordinasi dengan Pemkab.
Sebagai tindak lanjut, tim menyampaikan bahwa hasil diskusi bersama bidan desa, PKK, Kelompok Wanita Tani, dan Karang Taruna Desa Blimbing telah menyepakati perluasan fokus intervensi—tidak hanya menyasar ibu, tetapi juga melibatkan peran ayah secara aktif dalam pencegahan stunting, sesuai usulan warga saat acara peluncuran program.
Program ini juga akan membahas Kegiatan Keluarga Sehat sebagai bagian dari rangkaian tindak lanjut. Pemkab melalui dinas terkait berkomitmen mengawal langsung kegiatan-kegiatan program di Desa Blimbing, sekaligus membuka ruang koordinasi rutin antara tim pelaksana, PPKBD, PPK, dan perangkat desa.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah, PPK Ormawa UKM Prisma UMS diharapkan mampu menghasilkan perubahan yang terukur dalam penurunan angka stunting dan kasus diare di Desa Blimbing, sekaligus membangun model pemberdayaan berbasis keluarga yang dapat dilanjutkan dan direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Sukoharjo.
Penulis: Himawari Kusuma Dinata Nurlia Sari
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Aktif juga di UKM PRISMA UMS
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













