Dari Limbah Jadi Lumbung: Strategi Blue Economy dalam Mengolah Sampingan Perikanan

nilai ekonomi perikanan
Ilustrasi Limbah Ikan (Foto: Dok. MMI)

Potensi perikanan Indonesia sering kali hanya dihitung dari jumlah tangkapan ikan segar. Padahal, nilai ekonomi sektor kelautan kita justru dapat didongkrak signifikan dari sesuatu yang selama ini dianggap remeh dan terbuang: limbah atau sampingan hasil perikanan.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2023 menyebutkan bahwa total produksi perikanan nasional yang mencapai lebih dari 28 juta ton menghasilkan sekitar 30-40% berupa limbah, seperti kepala, tulang, jeroan, sisik, dan kulit.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hal ini menunjukkan sebanyak 8-11 juta ton bahan biomassa berpotensi mencemari lingkungan atau menjadi sampah tak bernilai setiap tahunnya.

Ini adalah sebuah paradoks di negara maritim yang menerapkan prinsip ekonomi biru (blue economy), di mana efektivitas dan keberlanjutan sumber daya menjadi tulang punggung. 

Konsep blue economy yang digaungkan pemerintah menekankan pada pemanfaatan sumber daya laut secara optimal, efisien, dan berkelanjutan, tanpa menghasilkan limbah (zero waste).

Limbah perikanan bukanlah sampah, melainkan “lumbung baru” yang kaya nutrisi bernilai tinggi dan bernilai tambah.

Baca Juga: Berupaya Tingkatkan Ekonomi, Mahasiswa KKNT Unhas Menginspirasi Ibu-Ibu Desa Tonrong Rijang dalam Mengolah dan Memasarkan Nugget Ikan

Dengan teknologi sederhana hingga mutakhir, limbah perikanan dapat diolah menjadi tepung ikan dan minyak ikan untuk pakan ternak atau akuakultur, kolagen dan gelatin dari kulit dan sisik untuk industri kosmetik dan farmasi, kitin dan khitosan dari cangkang udang dan kepiting untuk biomedical maupun penjernih air, serta kalsium hidroksiapatit dari tulang ikan untuk suplemen.

Nilai ekonomi dari pengolahan limbah ikan dapat meningkat dan menciptakan lapangan kerja baru di sentra-sentra perikanan, sekaligus menyelesaikan masalah lingkungan. Namun, strategi ini memerlukan langkah konkret.

Pertama, dukungan teknologi dan akses permodalan bagi UMKM pengolah ikan untuk membangun unit pengolahan limbah terintegrasi.

Kedua, pendampingan dan literasi kepada nelayan dan petambak untuk memilah limbah sejak dini.

Ketiga, insentif bagi industri besar untuk berinvestasi di hilirisasi limbah dan membangun klaster industri berbasis bahan baku sampingan perikanan.

Baca Juga: Fortifikasi Konsentrat Protein Ikan sebagai Intervensi Pencegahan Stunting pada Balita

Masa depan sektor kelautan tidak lagi hanya tentang berapa ton ikan yang ditangkap, tetapi seberapa bijak kita memanfaatkan setiap bagian dari hasil laut secara berkelanjutan.

Dengan mengubah limbah menjadi lumbung bernilai, tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mewujudkan kedaulatan maritim yang sesungguhnya. 


Penulis: Aulia Andhikawati
Dosen Prodi Perikanan Laut Tropis, Universitas Padjadjaran


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses