Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara manusia membangun hubungan. Media sosial memungkinkan orang berkomunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Namun, di balik kemudahan tersebut, relasi antarmanusia justru semakin rentan terhadap konflik, kesalahpahaman, dan keterasingan emosional.
Banyak hubungan pertemanan, keluarga, bahkan percintaan mengalami keretakan bukan karena kurangnya komunikasi, melainkan karena komunikasi yang kehilangan kedalaman makna.
Fenomena saling menyindir di media sosial, pertengkaran di ruang digital, hingga budaya saling menghakimi menjadi persoalan aktual yang semakin sering terjadi di tengah masyarakat saat ini.
Situasi ini dapat dipahami melalui Teori Dialektika Relasional (Relational Dialectics Theory) yang dikembangkan oleh Leslie Baxter dan W. K. Rawlins. Teori ini menjelaskan bahwa hubungan interpersonal pada dasarnya selalu dipenuhi oleh ketegangan, pertentangan, dan negosiasi yang berlangsung secara terus-menerus.
Menurut Baxter dan Rawlins, konflik bukanlah sesuatu yang abnormal dalam sebuah hubungan, melainkan bagian alami dari kehidupan manusia yang justru dapat menghadirkan kedalaman pemahaman dan pertumbuhan relasional.
Ketegangan muncul ketika individu berusaha mempertahankan kebutuhan, keinginan, dan identitasnya masing-masing dalam proses interaksi dengan orang lain yang memiliki pandangan, pengalaman, dan latar belakang berbeda.
Dalam setiap hubungan, individu tidak hidup di ruang yang kosong, melainkan berada dalam jaringan sosial, budaya, dan emosional yang kompleks. Setiap orang membawa harapan, nilai, serta aspirasi pribadi yang sering kali berbeda satu sama lain sehingga menciptakan dinamika hubungan yang tidak selalu mudah dijalani.
Oleh karena itu, hubungan menuntut adanya proses negosiasi dan kompromi yang terus-menerus agar keseimbangan antara keterhubungan dan kemandirian tetap terjaga.
Melalui perspektif Teori Dialektika Relasional, konflik tidak dipandang sebagai akhir dari sebuah hubungan, melainkan sebagai peluang untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam, memperkuat kedewasaan emosional, serta mendorong pertumbuhan bersama dalam relasi antarmanusia.
Pandangan tersebut dipengaruhi oleh pemikiran Mikhail Bakhtin tentang dialogika yang memandang kehidupan sebagai ruang perjumpaan berbagai suara yang saling berinteraksi, berdebat, bahkan bertentangan.
Dalam konteks media sosial yang berkembang pesat saat ini, ruang digital telah berubah menjadi arena dialog yang sangat ramai dan dinamis. Namun, di tengah derasnya arus komunikasi tersebut, masyarakat justru semakin kehilangan kemampuan untuk mendengarkan secara sungguh-sungguh.
Banyak orang lebih sibuk mempertahankan pendapatnya sendiri dan terjebak dalam perdebatan tanpa akhir daripada berusaha memahami sudut pandang orang lain yang berbeda.
Baca Juga: Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja
Akibatnya, komunikasi yang seharusnya menjadi sarana pertukaran gagasan dan pencarian pemahaman bersama berubah menjadi ruang saling menyerang dan mencari pembenaran atas posisi masing-masing.
Situasi ini menciptakan iklim komunikasi yang tidak sehat karena dialog yang konstruktif sering kali terabaikan oleh dominasi emosi, ego, dan keinginan untuk menang sendiri.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu kembali merefleksikan cara berinteraksi di ruang digital agar media sosial tidak sekadar menjadi tempat pertentangan, melainkan juga ruang yang memungkinkan terjadinya percakapan yang lebih bermakna, terbuka, dan saling menghargai di tengah keberagaman pandangan.
Fenomena ini terlihat jelas dalam budaya cancel culture, kebencian, serta pertikaian antarwarganet yang marak terjadi saat ini. Banyak orang yang merasa bebas untuk menghakimi pihak lain hanya berdasarkan potongan informasi yang tersebar di media sosial, tanpa memeriksa kebenaran atau konteks di balik berita tersebut.
Situasi ini menciptakan ruang bagi misinformasi untuk berkembang dan sering kali membentuk stigma yang tidak adil terhadap individu atau kelompok tertentu.
Tidak sedikit hubungan pertemanan dan keluarga yang terputus karena perbedaan pandangan politik, agama, atau gaya hidup, yang diperbesar oleh algoritma digital yang dirancang untuk mengedepankan konten sensasional.
Media sosial, yang seharusnya berfungsi mendekatkan kita, justru sering kali menciptakan jarak emosional yang semakin melebar.
Dalam situasi seperti ini, penting untuk menyadari dampak interaksi online kita dan berusaha untuk mendekati perbedaan dengan sikap saling menghormati serta dialog yang konstruktif, demi membangun hubungan yang lebih sehat di dunia maya.
Dalam Teori Dialektika Relasional, kondisi tersebut mencerminkan adanya ketegangan antara keterbukaan dan privasi, antara kebebasan individu dan kebutuhan akan kedekatan sosial. Di satu sisi, media sosial mendorong orang untuk terus terbuka dan membagikan kehidupannya kepada publik.
Namun, di sisi lain, keterbukaan yang berlebihan sering memicu konflik, tekanan sosial, dan hilangnya ruang pribadi. Selain itu, terdapat pula ketegangan antara stabilitas dan perubahan. Hubungan yang sebelumnya harmonis dapat berubah drastis hanya karena perbedaan pandangan yang viral di ruang digital.
Persoalannya, masyarakat modern semakin kehilangan budaya dialog. Komunikasi digital cenderung berlangsung cepat, singkat, dan emosional. Orang lebih mudah menulis komentar kasar dibandingkan dengan berbicara secara langsung dengan empati.
Padahal, menurut Baxter, hubungan yang sehat tidak dibangun melalui kesamaan mutlak, melainkan melalui kemampuan mengelola perbedaan secara terbuka dan dewasa.
Baca Juga: Dampak Media Sosial terhadap Pola Komunikasi Generasi Z
Karena itu, komunikasi perlu dikembalikan pada hakikatnya sebagai sarana membangun pengertian, bukan sekadar memenangkan perdebatan. Media sosial seharusnya menjadi ruang dialog, bukan arena permusuhan. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir pada kebencian, sebab setiap individu memiliki pengalaman dan latar belakang yang berbeda.
Pada akhirnya, Teori Dialektika Relasional mengingatkan kita bahwa konflik dalam hubungan antarmanusia adalah sesuatu yang hampir selalu tidak dapat dihindari, termasuk di era digital yang penuh dengan tantangan saat ini.
Yang benar-benar menentukan kualitas hubungan bukanlah sekadar ada atau tidaknya konflik dalam interaksi tersebut, tetapi lebih tentang bagaimana manusia mengelola ketegangan yang muncul melalui komunikasi yang jujur, terbuka, dan penuh empati.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi oleh beragam opini dan pertikaian di ruang digital, kemampuan untuk berdialog secara manusiawi dan saling menghormati menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Dalam situasi di mana kulit tipis menjadi lebih mudah terdistorsi dan pemahaman sering kali terdistorsi, kemampuan mendengarkan dan merespons dengan penuh perhatian menjadi sangat penting.
Keterampilan ini tidak hanya bermanfaat untuk hubungan pribadi, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih harmonis, di mana perbedaan pandangan dapat menjadi jembatan, bukan penghalang.
Dengan pendekatan seperti ini, kita dapat membangun koneksi yang lebih kuat dan lebih autentik, meskipun ada sikap serta pandangan yang berbeda.
Penulis: Karlius Manto (NPM: 23757579)
Mahasiswa Filsafat IFTK Ledalero
Dosen Pengampu: Amandus Benediktus Seran Klau, S.Fil., M.I.K.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












