Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti berhenti bermimpi. Di sela kesibukan mengurus keluarga, masih ada semangat untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik
Perjuangan ini bukan tentang memilih salah satu, tapi tentang menyeimbangkan keduanya.Karena setiap ibu berhak untuk terus bertumbuh tanpa meninggalkan perannya di rumah.
1. Stigma yang Mulai Luntur vs Realita Baru
“Ngapain kuliah,kan udah nikah?”
“Urus anak aja dulu,gelar nggak bisa dimasak.”
“Abis kuliah emang langsung bisa kerja?”
“Buang – buang duit aja.”
Hingga saat ini kalimat nyinyir itu masih ada,dan terkadang menggangu.
Dulu, cap “ibu rumah tangga ya di rumah aja” kental sekali. Kuliah dianggap urusan gadis lajang atau mereka yang belum berkeluarga. Tapi pandemi 2020 jadi titik balik. Kelas online booming, kampus buka program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau), dan biaya kuliah bisa dicicil. Data Kemendikbud 2025 mencatat 18% mahasiswa baru program S1 kelas karyawan adalah perempuan menikah usia 25-40 tahun. Angka ini naik 3x lipat dibanding 2019.
Artinya? Zaman sudah berubah. Daster dan popok bukan lagi alasan untuk berhenti bermimpi.
2. Tantangan: 24 Jam yang Tak Pernah Cukup
Jadi ibu rumah tangga mahasiswi itu rasanya seperti punya 2 shift kerja tanpa libur.
- Jam 04.30: Bangun, masak, siapin bekal suami & anak.
- Jam 08.00: Antar anak sekolah, langsung buka tugas -tugas kampus di HP maupun laptop.
- Jam 13.00: Anak tidur siang = waktu nugas. Tapi seringnya malah ikut ketiduran,hehe..
- Jam 18.20: Kelas mulai,baru mulai pembelajaran anak sudah WA ‘Mah pulang jam berapa?,Aku ada tugas sekolah dan harus dikumpulkan besok.Atau WA dari suami yang menanyakan apakah makan malam sudah siap?
Atau saat UTS/ UAS , anak sakit tapi tetap harus berangkat ke kampus karena komitmen yang sangat kuat dalam diri,aku harus menyelesaikan ini karena inilah mimpiku.
- Jam 23.00: Baru bisa baca jurnal setelah rumah sepi dan cicil tugas -tugas kuliah.
“Burnout itu nyata,” ujar Dita, mahasiswi UNPAM, teman sekelasku PRODI PGSD sekaligus ibu 1 anak. Ia bercerita bahwa anaknya sedang sakit,dan sebelum ke kampus,ia anter anak nya berobat terlebih dahulu.
3. Kenapa Tetap Nekat Kuliah?
Alasannya beragam, dan semuanya relevan dengan zaman sekarang:
- Mandiri Finansial: PHK massal & harga kebutuhan naik bikin banyak ibu sadar pentingnya punya skill & ijazah. Lulus kuliah = peluang kerja remote, freelance, atau buka les dari rumah.
- Role Model untuk Anak: Aku mau anakku lihat ibunya belajar. Biar dia tau pendidikan itu seumur hidup.
- Aktualisasi Diri: Setelah menikah, banyak perempuan merasa “hilang”. Kuliah jadi cara menemukan versi terbaik diri sendiri, bukan cuma “ibunya si A” atau “istrinya si B”.
- Memanfaatkan Teknologi: Kelas hybrid, rekaman materi, AI buat rangkum jurnal. Kuliah sekarang nggak harus 100% di kampus. Bisa sambil nemenin anak main.
4. Tips Bertahan dari Para ‘Pejuang 2 Peran’
Aku ngobrol dengan beberapa ibu rumah tangga mahasiswi. Ini rangkuman jurus mereka:
- Komunikasi dengan Keluarga: Minta suami & anak ngerti jadwal kuliah. “Hari Senin-Jumat jam 18.20 malam, mamah ngampus ya. Bapak yang jagain anak – anak.”
- Manajemen Waktu Mikro: Pakai teknik Pomodoro 25 menit. Nugas dicicil, bukan SKS = Sistem Kebut Semalam.
- Pilih Kampus yang Fleksibel: Kelas karyawan, atau kampus swasta dengan sistem blended learning. Misalnya : UT,UNPAM.
- Bangun Support System: Gabung komunitas “IRT Kuliah” di Telegram/FB. Tempat curhat, barter catatan, dan saling joki kalau anak sakit.
- Jangan Perfeksionis: Rumah berantakan gapapa. IPK 3.0 juga keren. Yang penting lulus waras.
- Nugas di coffe Shop juga boleh loh…
Baca Juga: Hubungan Penyesuain Diri dengan Interaksi Sosial Mahasiswi Baru IAI IMSYA Indonesia
Penutup: Merajut Cita, Bukan Mengejar Gengsi
Jadi ibu rumah tangga mahasiswi di 2026 bukan soal gaya-gayaan. Ini soal keberanian ambil hak atas pendidikan, soal kasih contoh ke anak, dan soal bertahan di dunia yang makin butuh skill.
Stigma “ibu-ibu ngapain kuliah” mungkin belum hilang 100%. Tapi makin banyak Dita dan saya sendiri, yang buktiin: mengasuh anak dan merajut cita bisa jalan beriringan. Asal mau capek sedikit, manajemen waktunya pas, dan support system-nya kuat.
Karena gelar “Ibu” dan “Sarjana” itu bukan pilihan. Kalau bisa keduanya, kenapa enggak?
Penulis: Elisabeth Stepani (NIM: 251012400253)
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Yunita Kwartarani, S.Pd., M.Pd.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













