Hubungan Penyesuain Diri dengan Interaksi Sosial Mahasiswi Baru IAI IMSYA Indonesia

Analisis hubungan mahasiswa baru
Mahasiswi Baru IAI IMSYA Indonesia (Foto: Dok. Penulis)

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penyesuaian diri dengan interaksi sosial mahasiswi baru Institut Agama Islam Imam Syafi’i (IAI IMSYA) Indonesia.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teknik wawancara semi-terstruktur dan observasi non-partisipan terhadap lima mahasiswi semester 1.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian diri mahasiswi baru tidak berlangsung secara instan, melainkan melalui proses bertahap yang dipengaruhi aspek emosional, sosial, kepercayaan diri, dukungan teman sebaya, serta pengalaman berorganisasi.

Mahasiswi yang mampu menyesuaikan diri dengan baik cenderung memiliki interaksi sosial yang positif, aktif, dan luas.

Sebaliknya, mahasiswi dengan hambatan adaptasi emosional atau rasa minder cenderung mengalami interaksi sosial yang terbatas.

Kegiatan kampus seperti PBAK, UKM, kajian, dan tugas kelompok terbukti menjadi faktor penting dalam memperkuat relasi sosial serta mempercepat adaptasi.

Dengan demikian, terdapat hubungan erat antara kualitas penyesuaian diri dan interaksi sosial mahasiswi baru di lingkungan kampus.

Kata kunci: Komunikasi, Interaksi Sosial, Mahasiswi Baru, Penyesuaian Diri, IAI IMSYA Indonesia

This study aims to examine the relationship between self-adjustment and social interaction among first-year female students at the Imam Syafi’i Islamic Institute (IAI IMSYA) Indonesia.

The research employed a descriptive qualitative approach using semi-structured interviews and non-participant observation involving five first-semester students.

The findings indicate that self-adjustment among new students does not occur instantly, but rather through a gradual process influenced by emotional, social, and self-confidence factors, as well as peer support and prior organizational experience.

Students who are able to adjust well tend to develop positive, active, and extensive social interactions. Conversely, those experiencing emotional adaptation barriers or feelings of insecurity tend to have more limited social interactions.

Campus activities such as orientation programs (PBAK), student clubs, Islamic study circles, and group assignments play a crucial role in strengthening social relationships and accelerating the adjustment process.

Thus, a strong relationship exists between the quality of self-adjustment and the social interaction of new female students in the campus environment.

Keywords: Communication, Social Interaction, First-Year Female Students, Self-Adjustment, IAI IMSYA Indonesia

Pendahuluan

Masuk ke lingkungan kampus adalah salah satu momen besar bagi mahasiswi baru. Banyak hal yang berubah secara tiba-tiba.

Mulai dari cara belajar yang berbeda, teman-teman baru yang datang dari berbagai latar belakang, hingga suasana kampus yang jauh lebih luas dan dinamis dibandingkan sekolah sebelumnya.

Semua perubahan ini membuat mahasiswi baru perlu melakukan penyesuaian diri agar bisa merasa nyaman dan menjalani aktivitas perkuliahan dengan baik.

Penyesuaian diri bukan hanya soal bagaimana seseorang mengikuti aturan atau kebiasaan yang ada di kampus, tetapi juga bagaimana ia mengelola perasaan, memahami situasi baru, dan menyesuaikan perilaku dengan lingkungan sekitar.

Mahasiswi yang mampu menyesuaikan diri biasanya akan lebih cepat merasa betah, lebih berani mencoba hal baru, dan lebih mudah membangun hubungan dengan orang lain.

Di sisi lain, interaksi sosial juga memiliki peranan besar dalam kehidupan mahasiswi baru. Melalui interaksi sosial, mereka bisa saling mendukung, berbagi informasi, dan menciptakan lingkungan belajar yang positif.

Namun, kemampuan berinteraksi ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang beradaptasi.

Jika penyesuaian dirinya baik, biasanya ia akan lebih mudah berkomunikasi, berbaur, dan menjalin pertemanan.

Sebaliknya, jika penyesuaiannya kurang, maka ia bisa merasa canggung, malu, atau bahkan terisolasi.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua mahasiswi baru mampu beradaptasi dengan cepat.

Ada yang merasa bingung dengan budaya kampus, ada yang kesulitan bergaul, dan ada pula yang mengalami tekanan emosional karena belum terbiasa dengan perubahan yang terjadi.

Dari sinilah muncul pertanyaan penting, apakah ada hubungan antara penyesuaian diri dan interaksi sosial pada mahasiswi baru?

Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan memahami hubungan keduanya, diharapkan hasil penelitian dapat membantu kampus dan mahasiswi itu sendiri dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman, mendukung, dan memudahkan proses adaptasi di tahun-tahun awal perkuliahan.

Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus untuk memahami secara mendalam proses penyesuaian diri mahasiswi baru serta bagaimana penyesuaian tersebut berkaitan dengan interaksi sosial mereka di lingkungan kampus.

Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti menggali pengalaman, pendapat, serta dinamika sosial yang muncul secara alami dalam kehidupan sehari-hari mahasiswi.

Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Institut Agama Islam Imam Syafi’i Indonesia teruntuk mahasiswi semester I.

Pemilihan subjek tersebut dilakukan secara purposive sampling. Teknik ini digunakan karena informan dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yaitu merupakan mahasiswi baru, aktif dalam kegiatan kampus, memiliki pengalaman adaptasi social dan akadaemik, bersedia memberikan informasi lengkap.

Teknik pengumpulan data penelitian dikumpulkan melalui dua cara, yaitu wawancara dan observasi.

Jenis wawancara yang diguanakan adalaha wawancara sem-terstruktur, dimana peneliti menyediakan pertanyaan dan memberikan ruang bagi informan untuk menjelaskan pengalaman secara bebas.

Sedangkan observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung mahasiswi baru dalam berinterkasi dan penyesuain diri.

Obsevasi yang digunakan adalah observasi non-pastisipan, dimana peneliti tidak langsung turun lapangan dalam aktivitas informan.

Aspek yang diamati mencakup, cara berkomunikasi dengan teman, keaktifan dalam kegiatan kampus, mampu bekerja sama dalam tugas kelompok, dan respon terhadap lingkunagn baru.

Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil wawancara lansung dan catatan observasi dari lingkungan kampus, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatul pendukung seperti buku, jurnal, dan hasil yang relevan dengan hubungan penyesuain diri dengan interaksi social.

Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Pada tahap reduksi data, peneliti menyaring informasi yang relevan dari hasil wawancara dan observasi.

Selanjutnya, pada tahap penyajian data, hasil temuan disusun secara sistematis dalam bentuk uraian deskriptif agar mudah dipahami.

Tahap terakhir adalah penarik kesimpulan, yaitu dengan menghubungkan dengan temuan lapangan untuk menegaskan hubungan antara penyesuain diri dengan interaksi social mahasisiwi baru dengan teori psikologi sosial dan Pendidikan.

Kajian Literatur

Kajian literatur berfungsi untuk memberikan dasar teori yang menjadikan landasan dalam penelitian ini.

Peneliti mengacu pada berbagai sumber yang relevan untuk memahami keterkaitan antara hubungan penyesuain diri dengan interaksi social mahasiswi baru di lingkunagan kampus.

Penyesuaian diri merupakan proses penting ketika individu memasuki lingkungan baru. Menurut Rakhmat (2020) menjelaskan bahwa penyesuaian diri adalah kemampuan seseorang untuk mencapai keselarasan antara tuntutan lingkungan dengan kondisi internalnya.

Dalam konteks mahasiswa baru, penyesuaian diri biasanya mencakup kemampuan memahami sistem pembelajaran, peraturan kampus, serta membentuk hubungan sosial yang baru.

Mahasiswi yang dapat menyesuaikan diri dengan baik akan jauh lebih mudah menghadapi tekanan akademik maupun perubahan sosial.

Sebaliknya, mahasiswa yan kurang mampu beradaptasi cenderung mengalami kecemasan, ketidaknyamanan emosional, dan kesulitan dalam berinteraksi.

Dalam penyesuain diri tentunya mahasiswi baru memerlukan interaksi sosial yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, menurut Soekanto (2020) menyatakan bahwa interaksi sosial terbentuk melalui dua unsur pokok, yaitu kontak sosial dan komunikasi.

Semakin aktif individu melakukan kontak dan menjalin komunikasi, semakin besar pula peluang terbentuknya hubungan sosial yang positif.

Bagi mahasiswa baru, interaksi sosial biasanya tumbuh melalui kegiatan organisasi, UKM, kelas, kerja kelompok, PBAK, dan berbagai aktivitas kampus lainnya.

Lingkungan kampus yang mendukung akan mempermudah mahasiswa membangun relasi yang sehat dan produktif.

Mahasiswa baru umumnya berada pada fase perkembangan remaja akhir. Menurut Santrock (2019) menekankan bahwa pada fase ini, dukungan teman sebaya, kelompok sosial, dan relasi interpersonal menjadi kebutuhan utama dalam membangun identitas dan kepercayaan diri.

Dalam konteks kampus, mahasiswa baru sangat dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan, pengalaman berorganisasi, dan aktivitas kelompok.

Interaksi sosial yang baik dapat meningkatkan kenyamanan, motivasi belajar, dan stabilitas emosional mahasiswi.

Willis (2022) menegaskan bahwa individu yang mampu menyesuaikan diri secara adaptif akan memiliki hubungan sosial yang lebih positif.

Penyesuaian diri yang baik ditandai dengan fleksibilitas, kemampuan komunikasi, dan kemampuan mengelola emosi. Ketiga aspek tersebut sangat berkaitan dengan kualitas interaksi sosial.

Dalam konteks mahasiswa baru, semakin baik proses adaptasi mereka terhadap lingkungan kampus, semakin mudah mereka menjalin pertemanan, terlibat dalam aktivitas kelompok, dan merasa diterima.

Sebaliknya, mahasiswa yang kurang mampu beradaptasi cenderung menarik diri, pemalu, atau memiliki kesulitan untuk membangun relasi.

Willis (2022) juga menjelaskan bahwa penyesuaian diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kepribadian (introver/ekstrover), dukungan sosial dari teman dan keluarga, pengalaman sebelumnya, termasuk pengalaman organisasi, lingkungan kampus, kondisi emosional. Faktor-faktor ini dapat mempercepat atau menghabat adaptasi mahasisiwi baru.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan mahasisiwi semester 1 baru di Institut IMSYA Indonesia ditemukan bahwa penyesuaian diri terbukti memiliki hubungan yang kuat dengan interaksi sosial mahasiswi baru.

Analisis ini disusun dengan mengaitkan hasil wawancara dari mahasiswi semester 1 dengan teori-teori yang relevan dari berbagai sumber pustaka (buku 5 tahun terakhir).

Secara umum, mahasiswi baru menunjukkan proses adaptasi yang bertahap, dipengaruhi faktor emosional, lingkungan sosial, serta kegiatan kampus yang memberi wadah interaksi.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap lima mahasiswi baru Institut IMSYA Indonesia, diperoleh beberapa temuan mengenai penyesuaian diri dan interaksi sosial.

Responden 1 menunjukkan peningkatan penyesuaian diri setelah mengikuti kegiatan PBAK dan mulai membuka diri dalam pergaulan.

Responden 2 mengalami perkembangan interaksi sosial karena dukungan teman-teman sekelas yang ramah, sehingga rasa percaya dirinya meningkat.

Responden 3 mengalami hambatan penyesuaian diri karena kewalahan dengan aturan kampus dan jadwal kuliah, berdampak pada minimnya interaksi sosial.

Responden 4 mampu menyesuaikan diri dengan cepat karena aktif mengikuti organisasi kampus, sehingga membangun banyak relasi sosial.

Responden 5 menunjukkan penyesuaian diri yang rendah disebabkan rasa minder dan kekhawatiran dalam situasi akademik, terutama tugas kelompok.

Dari keseluruhan responden, tiga di antaranya menunjukkan penyesuaian diri yang baik dan memiliki interaksi sosial yang luas.

Dua responden lainnya memiliki hambatan penyesuaian diri sehingga interaksi sosial mereka terbatas.

Penyesuaian Diri Mahasiswi Baru

Penyesuaian diri mahasiswa baru tidak berlangsung secara instan. Berdasarkan wawancara, sebagian besar responden menyatakan bahwa masa awal perkuliahan dipenuhi kecanggungan, tekanan emosional, dan kebingungan menghadapi aturan atau kebiasaan kampus yang berbeda dari sekolah.

Penyesuaian diri emosional berlangsung lebih lambat Banyak mahasiswa mengaku mudah merasa cemas dan takut salah saat awal memasuki kampus.

Responden R1 dan R2 menyatakan bahwa mereka memerlukan waktu untuk “stabil secara emosional”.

Mahasiswa sering mengalami shock karena perpindahan lingkungan sosial yang lebih kompleks.

Perubahan lingkungan sosial menjadi faktor terbesar teman yang beragam, budaya komunikasi baru, dan tuntutan interaksi intens membuat mahasiswa harus lebih fleksibel.

Adanya norma-norma kesantunan mendorong mahasiswa untuk menjaga cara bicara, sikap tubuh, serta tatakrama.

Struktur pembelajaran kampus menuntut kemandirian mahasiswa harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran mandiri, diskusi kelas, serta tugas kelompok.

Sebagian responden merasa terbantu karena sistem ini membuat mereka otomatis berinteraksi lebih banyak.

Aspek Penyesuaian Diri: Akademik Mudah, Sosial-Emosional Menjadi Tantangan Utama

Mengacu teori Mudjijah (2021), penyesuaian diri mahasiswa mencakup empat aspek. Hasil penelitian menunjukkan. Aspek Akademik Hampir semua responden mengatakan bahwa sistem pembelajaran mudah dipahami.

Mahasiswa cepat beradaptasi dengan tugas dan ritme kuliah. Aspek Sosial Mahasiswa awalnya canggung berkomunikasi dengan teman baru.

Mereka mengaku kesulitan menentukan gaya komunikasi yang sesuai, terutama karena norma kesantunan Melayu cukup kuat. Rasa malu dan takut salah menjadi faktor penghambat.

Aspek Personal Mahasiswa dengan rasa percaya diri rendah mengalami adaptasi lambat. Responden R5 menceritakan bahwa sifat pemalu membuatnya tidak nyaman dalam tugas kelompok.

Keterikatan pada Kampus Mengikuti UKM, PBAK, mentoring, dan kajian membuat mahasiswa merasa diterima. Aktivitas kampus menciptakan rasa memiliki (sense of belonging)

Interaksi Sosial Mahasiswa: Terbentuk dari Kontak, Komunikasi, dan Budaya Kampus

Hasil observasi memperlihatkan bahwa mahasiswa membangun interaksi sosial melalui dua jalur utama aktivitas formal kegiatan PBAK, kelas, organisasi, dan tugas kelompok memaksa mahasiswa untuk berkomunikasi.

Interaksi formal biasanya berlangsung sopan, tertib, dan penuh penghormatan. Aktivitas nonformal di lingkungan santai seperti kantin atau asrama, bahasa yang digunakan lebih bebas tetapi tetap sopan.

Mereka cenderung berbicara lembut, menjaga nada suara, dan menghindari konflik. Hal-hal ini menguatkan teori Soekanto (2020) bahwa interaksi sosial memerlukan kontak dan komunikasi yang konsisten.

Interaksi Sosial sebagai Kebutuhan Remaja Akhir

sangat membutuhkan validasi sosial,sedang membentuk identitas diri,bergantung pada dukungan teman sebaya.

Hasil wawancara menunjukkan teman sangat berperan dalam membantu mereka beradaptasi.

Dukungan moral dari teman membuat mahasiswa merasa lebih percaya diri. R3 menyatakan bahwa “kepribadian dan pengalaman berorganisasi” memengaruhi kemampuan interaksi sosialnya.

Artinya, pergaulan teman sebaya merupakan fondasi penting dalam penyesuaian diri mahasiswa baru.

Hubungan Penyesuaian Diri dan Interaksi Sosial: Hubungan Dua Arah yang Sangat Kuat

Penyesuaian diri yang baik adalah interaksi sosial positif mahasiswa yang cepat menyesuaikan diri lebih mudah memiliki teman baru. Mereka aktif, komunikatif, dan percaya diri.

Penyesuaian diri rendah interaksi sosial terhambat mahasiswa pemalu atau kurang percaya diri lebih sering menarik diri. Mereka mengalami hambatan membangun relasi.

Kegiatan kampus sebagai penghubung aktivitas kampus mempercepat proses interaksi dan adaptasi. Hasil ini mendukung teori Willis (2022) bahwa adaptasi emosional adalah fondasi terbentuknya hubungan sosial yang sehat.

Tabel 1. Perbandingan Teori dan Hasil Wawancara Tentang Hubungan Penyesuaian Diri dengan Interaksi Sosial Mahasisiwi Baru

 

 

 

Analisis dan Implikasi

Berdasarkan Tabel 1 di atas, terlihat bahwa seluruh teori hubungan penyesuaian diri dan interaksi social yang dijadikan acuan penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian diri mahasiswi baru berjalan bertahap dan paling dipengaruhi aspek sosial serta emosional.

Mahasiswa yang mampu mengelola kecemasan, memahami lingkungan, dan berkomunikasi dengan baik cenderung lebih cepat membangun interaksi sosial.

Kegiatan kampus (UKM, PBAK, kajian, kerja kelompok) menjadi faktor penting yang membantu mahasiswa beradaptasi.

Temuan ini sejalan dengan teori bahwa interaksi sosial membutuhkan kontak dan komunikasi yang konsisten serta sangat dipengaruhi dukungan teman sebaya.

Bagi mahasiswa perlu aktif berinteraksi dan mengikuti kegiatan kampus untuk mempercepat adaptasi mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi interpersonal.

Bagi kampus perlu menyediakan program pendampingan atau mentoring untuk mahasiswa baru. Menciptakan kegiatan yang mendorong kolaborasi dan interaksi sosial positif.

Bagi Dosen menggunakan pendekatan komunikasi yang lebih hangat dan mendukung \proses adaptasi mahasiswa.

Bagi penelitian selanjutnya dapat memperluas subjek dan menggunakan metode kuantitatif untuk mengukur tingkat penyesuaian diri secara lebih akurat.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri memiliki hubungan kuat dan signifikan dengan interaksi sosial mahasiswi baru di IAI IMSYA Indonesia.

Proses adaptasi berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi oleh aspek sosial, emosional, dukungan teman sebaya, kepribadian, serta pengalaman sebelumnya.

Mahasiswi yang mampu mengelola kecemasan, memahami lingkungan baru, dan menunjukkan fleksibilitas komunikasi lebih mudah menjalin relasi sosial, aktif dalam kegiatan kampus, serta merasa diterima oleh lingkungan sekitar.

Sebaliknya, mahasiswi dengan rasa malu, kurang percaya diri, atau kewalahan dengan perubahan kampus cenderung memiliki interaksi sosial terbatas dan lebih lambat beradaptasi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Rakhmat, Mudjijah, Soekanto, Santrock, dan Willis yang menegaskan bahwa penyesuaian diri dan interaksi sosial merupakan dua aspek yang saling memengaruhi dan berperan penting dalam keberhasilan adaptasi mahasiswa baru di lingkungan pendidikan tinggi.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran dapat diajukan sebagai berikut:

Bagi Mahasiswi Baru

Lebih aktif terlibat dalam kegiatan kampus seperti UKM, kajian, organisasi, dan kerja kelompok untuk memperluas interaksi sosial.

Mengembangkan kepercayaan diri, keberanian berbicara, dan kemampuan komunikasi interpersonal. Mengelola emosi dengan baik dan mencari dukungan teman sebaya untuk membantu proses adaptasi.

Bagi Pihak Kampus (IAI IMSYA Indonesia)

Menyediakan program pendampingan/mentoring bagi mahasiswa baru untuk membantu adaptasi sosial dan akademik.

Meningkatkan kegiatan yang mendorong kolaborasi, diskusi kelompok, dan interaksi lintas angkatan. Menciptakan lingkungan kampus yang suportif dan ramah bagi mahasiswa baru.

Bagi Dosen

Menggunakan pendekatan komunikasi yang lebih terbuka, ramah, dan mendorong mahasiswi untuk aktif dalam diskusi kelas.

Memberikan ruang bagi mahasiswa baru untuk menyesuaikan diri tanpa tekanan berlebihan.

Bagi Penelitian Selanjutnya

Disarankan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur tingkat penyesuaian diri secara lebih objektif.

Menambah jumlah responden dan memperluas variabel penelitian agar hasil lebih komprehensif.

 

Penulis:
1. Siti Salsabila Saputra
2. Hersa Zerlinda
3. Khairani Makky
4. Najwa Alba
5. Dhea Ananda Putri
6. Nazi’ah Khaira Maulida
7. Qurratul Aini
8. Sri Akrima Zawati Agustian
9. Hanifah Annajiya
10. Hilyahh Salsabila
11. Khairani
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Institut Agama Islam Imam Syafi’i Indonesia

Dosen Pengampu: Ere Mardella Arbiani, M.Pd.

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses