Globalisasi dan Perubahan Sosial: Analisis Harapan dalam Menghadapi Perubahan Global

Firda Widia Sari
Firda Widia Sari (Foto: Doc Pribadi)

Adakah Harapan yang Lebih Baik dalam Perubahan Global?

Mengutip pandangan Anthony Giddens (2022) yang mengatakan bahwa globalisasi adalah kondisi di mana banyak orang yang awaree bahwa mereka ikut serta mengambil bagian dalam sebuah dunia yang terus berubah tanpa bisa dikendalikan.[1]

Di era modern yang terkoneksi secara global, fenomena globalisasi telah membawa perubahan sosial mencolok di berbagai aspek kehidupan. Meskipun memberikan harapan akan kemajuan, namun globalisasi juga menyiratkan beberapa aspek yang memunculkan ketidakpastian dan dampak terhadap perkembangan masyarakat global.

Globalisasi merupakan fenomena kompleks yang telah membawa perubahan sosial yang signifikan di seluruh dunia. Sementara itu, dampak globalisasi tidak hanya mencakup aspek ekonomi saja, tetapi juga menciptakan transformasi budaya, sosial, dan politik yang kuat.

Perluasan konektivitas global telah membuka pintu bagi kolaborasi internasional yang lebih luas dalam mengatasi masalah global, sementara peluang ekonomi semakin terbuka sehingga ada ketakutan akan perpecahan ekonomi yang lebih besar antara negara-negara dan dalam masyarakat sendiri. Faktor dari hal tersebut datang dari wacana globalisasi yang selama ini hanya didominasi oleh kegiatan ekonomi yang erat kaitannya dengan ideologi perdagangan bebas (Brecher and Costello, 1994).

Selanjutnya mengenai identitas budaya, meskipun terbuka untuk pengaruh luar, juga akan terancam keberlangsungannya dalam menghadapi arus informasi yang marak di media. Pada saat yang sama, meskipun terdapat akses yang lebih besar terhadap informasi, namun terdapat juga ketidakpastian tentang keberlangsungan keberagaman kultural lokal dan penyesuaian masyarakat terhadap perubahan yang cepat.

Terlepas dari kemajuan teknologi yang memudahkan kehidupan manusia, namun terdapat pula berbagai sudut pandang dalam mendiskusikan dampaknya. Pertama, teknologi telah memberikan akses informasi yang luas dan mempercepat komunikasi global. Hal ini memungkinkan pertukaran ide, pengetahuan, dan kolaborasi lintas batas secara lebih efisien, membuka peluang baru dalam pendidikan, bisnis, dan inovasi. Namun, dampak negatif juga perlu dipertimbangkan.

Perkembangan teknologi yang cepat seringkali mengakibatkan ketimpangan sosial dan ekonomi. Ada kemungkinan terjadinya kesenjangan digital di mana mereka yang tidak memiliki akses atau keterampilan dalam teknologi modern akan tertinggal.

Selain itu, perubahan teknologi juga berpengaruh pada kehidupan sehari-hari. Dalam sektor pekerjaan, otomatisasi dan kecerdasan buatan dapat menggantikan beberapa pekerjaan manusia, sehingga memunculkan isu tentang kehilangan lapangan kerja. Namun, teknologi juga memberikan solusi untuk banyak masalah sosial dan lingkungan. Misalnya, teknologi ramah lingkungan membantu mengatasi perubahan iklim dan polusi.

Dalam konteks perubahan global, globalisasi telah memperluas akses informasi dan memungkinkan perhatian internasional terhadap konflik dan isu-isu kemanusiaan.

Dalam esai ini, penulis akan mencoba menggali tentang Isu Genosida di Gaza-Palestina, sebagaimana yang marak di media sosial, liputan berita global, serta organisasi non-pemerintah, serta melihat bagaimana reaksi masyarakat global dalam menghadapi isu tersebut.

Dampak globalisasi terhadap genosida juga mencakup respon internasional yang lebih cepat dan lebih luas termasuk upaya diplomasi, bantuan kemanusiaan serta tekanan publik terhadap pemerintah untuk bertindak. Namun, di sisi lain globalisasi juga memperumit situasi dengan berbagai ketimpangan. Salah satu dampaknya misalnya dalam isu pemboikotan produk-produk sekutu Israel yang mempengaruhi perekonomian global termasuk perekonomian Indonesia.

Genosida ini sebagai salah satu isu yang menarik perhatian global, telah menyebabkan reaksi sosial dan politik di berbagai negara. Respon terhadap kejadian ini telah memicu serangkaian tindakan, termasuk pemboikotan produk Israel. Indonesia, dengan peduli kemanusiaan yang tinggi juga merespon hal tersebut dengan melakukan pemboikotan terhadap produk-produk Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina (Rahmani, 2023).

Pemboikotan produk Israel dan sekutu telah menunjukkan bagaimana globalisasi dapat memengaruhi perekonomian suatu negara (Musytari, 2023). Meskipun secara langsung dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi, seperti berkurangnya impor produk tertentu, namun pemboikotan ini juga mencerminkan harapan akan adanya keadilan sosial dan dukungan terhadap hak asasi manusia di tingkat global. Sebagai contoh, sikap solidaritas dalam bentuk pemboikotan dapat memperkuat suara Indonesia dalam menyuarakan keadilan bagi rakyat Palestina.

Namun demikian, Efek dari konflik tersebut menimbulkan banyak keresahan bagi masyarakat global. Di Indonesia sendiri, adanya seruan pemboikotan terhadap produk-produk yang disinyalir berkaitan erat terhadap penguatan ekonomi Israel yang pada akhirnya masyarakat mulai berinisiatif untuk menekan ekonomi Israel dengan melakukan pemboikotan.

Indonesia sebagai negara yang mengimpor beberapa produk sekutu Israel menghadapi tantangan dalam mencari alternatif pengganti yang sebanding dan kompetitif. Hal ini dapat mempengaruhi beberapa sektor industri di Indonesia. Bukan hanya itu, Aksi pemboikotan tersebut juga menuai beberapa permasalahan utamanya bagi pedagang kecil yang terlanjur menjualnya. K

eresahan lainnya juga terdengar dari suara masyarakat yang selama ini menjadi konsumen produk-produk yang disinyalir tersebut. Di mana, gerakan boikot terhadap produk yang di duga terafiliasi Israel membuat sejumlah kalangan khawatir, termasuk kalangan ibu rumah tangga yang juga menjadi sasaran boikot. Mulai dari kebutuhan bayi hingga produk kebutuhan dapur dan produk rumah tangga lainnya kerap ikut disebut-sebut (Hosen, 2023).

Dalam menghadapi perubahan global yang dipicu oleh isu genosida dan reaksi terhadapnya, penting bagi Indonesia untuk menemukan keseimbangan antara solidaritas global dan keberlangsungan ekonomi nasional. Ada kebutuhan untuk menjaga kohesi sosial dan moralitas bersama dalam konteks globalisasi, sambil tetap memperhatikan kepentingan ekonomi domestik.

Di tengah dinamika globalisasi, harapan masyarakat Indonesia terhadap pemerintah adalah untuk mengambil langkah-langkah yang seimbang dalam mengatasi isu-isu global dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap ekonomi lokal.[2]

Dukungan terhadap upaya perdamaian di Gaza haruslah diiringi dengan langkah-langkah strategis yang mempertimbangkan kesejahteraan ekonomi domestik, seperti pencarian alternatif produk atau kerjasama dengan negara lain dalam pengembangan industri tertentu.

Dengan demikian, dalam menghadapi perubahan global yang terkait dengan isu-isu sensitif seperti ini, kesadaran akan dampak sosial, politik, dan ekonomi menjadi sangat krusial.

Harapan terbesarnya, bahwa negara-negara akan terus bekerjasama secara global untuk mencapai perdamaian berkelanjutan sambi memperhatikan konsekuensi lokal yang mungkin timbul akibat tindakan-tindakan solidaritas tersebut. Dalam konteks ini, sikap kritis menghadapi isu tersebut serta kebijakan yang seimbang menjadi kunci utama.

 

Referensi :

Giddens, A. (2018). Sociology: Introductory Readings. Polity Press.

Held, D., McGrew, A., Goldblatt, D., & Perraton, J. (2019). Global Transformations: Politics, Economics and Culture. Polity Press.

Mansor, Fakih. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mintawati, Hesri. (2022). Demokratisasi dan Globalisasi. Lombok: Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya.

Nadiyah Rahmani, Annisa. (2023). Dampak Perang Israel-Hamas terhadap Minat Beli Masyarakat Produk Pendukung Israel. Academic of Education Journal 14 (2), 1444-1456.

Saputra, S. (2023). Kekerasan sebagai Kisah: Visualisasi Konflik Israel- Palestina dalam Novel Grafis Palestine dan Footnotes in Gaza. Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam 7(2) 138-168.

Simanjorang, Bartolomeus Marulitua, et, al. (2023).  Pengaruh Palestina-Israel Terhadap Gerakan Perlawanan Hamas dan Dampaknya Bagi Indonesia, Journal of Law, 24-30.

[1] Mintawati, Hesri, Demokratisasi dan Globalisasi, Cet. I; Lombok: Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya, 2022) h. 103

[2] Simanjorang, Bartolomeus Marulitua, et, al. (2023).  Pengaruh Palestina-Israel Terhadap Gerakan Perlawanan Hamas dan Dampaknya Bagi Indonesia, Journal of Law

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

1 Komentar

Komentar ditutup.