Cara mengatasi rasa lapar saat jadwal kuliah padat perlu diperhatikan agar kesibukan tidak membuat pola makan menjadi berantakan. Jadwal kelas yang berdekatan, praktikum, tugas, kegiatan organisasi, hingga perjalanan menuju kampus terkadang membuat mahasiswa menunda makan.
Padahal, aktivitas perkuliahan tetap membutuhkan energi dan asupan zat gizi yang memadai. Ketika waktu makan terus terlewat, rasa lapar juga dapat mengganggu kenyamanan saat mengikuti perkuliahan.
Solusinya bukan sekadar membeli makanan apa pun yang paling cepat tersedia. Perencanaan waktu makan, pilihan makanan, kecukupan cairan, dan kemampuan mengenali pola makan saat stres juga perlu diperhatikan.
Berikut tujuh cara yang dapat kamu terapkan ketika jadwal kuliah sedang padat.
1. Usahakan Sarapan Sebelum Memulai Kuliah
Jika aktivitas dimulai sejak pagi, sarapan dapat menjadi kesempatan untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi dan zat gizi sebelum mengikuti perkuliahan.
Hubungan sarapan dengan konsentrasi mahasiswa juga pernah diteliti di Indonesia.
Hanafiani Lestari, Windi Setiasih, dan Anzella Lovelly Vadincha melalui penelitian Sarapan Memengaruhi Tingkat Konsentrasi Belajar Mahasiswa Universitas Bhayangkara membandingkan konsentrasi mahasiswa dalam kondisi sarapan dan tidak sarapan.
Penelitian eksperimental tersebut melibatkan 15 mahasiswa. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan konsentrasi belajar yang signifikan antara kondisi sarapan dan tidak sarapan.
Temuan tersebut tidak berarti sarapan menjadi satu-satunya penentu kemampuan belajar. Konsentrasi dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk kualitas tidur, kondisi kesehatan, lingkungan belajar, stres, dan metode belajar.
Namun, jika kamu memiliki jadwal kuliah pagi yang panjang, berangkat tanpa persiapan makanan dapat membuat kesempatan untuk makan semakin terbatas.
Sarapan juga tidak harus berupa menu yang rumit. Kamu dapat menyesuaikannya dengan kebiasaan dan kebutuhan, misalnya nasi dengan lauk sederhana, roti dan telur, oatmeal, buah dengan sumber protein, atau menu lain yang mudah disiapkan.
Baca juga: 7 Cara Mengatasi Homesick bagi Mahasiswa Baru agar Lebih Mudah Beradaptasi
2. Rencanakan Waktu Makan Berdasarkan Jadwal Kuliah
Coba periksa jadwal kuliah sebelum berangkat ke kampus.
Cari tahu kapan kamu mempunyai jeda yang cukup untuk makan. Jika kelas berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 kemudian dilanjutkan pukul 13.00, jeda tersebut dapat dimanfaatkan untuk makan.
Sebaliknya, jika beberapa mata kuliah berlangsung berurutan, persiapkan makanan sebelum kelas dimulai.
Cara sederhana ini membantu kamu menghindari kebiasaan baru mencari makanan ketika sudah merasa sangat lapar.
Tidak ada aturan bahwa semua mahasiswa harus makan setiap dua atau tiga jam. Kebutuhan energi, aktivitas fisik, kebiasaan makan, kondisi kesehatan, dan jadwal setiap orang dapat berbeda.
Karena itu, kamu tidak perlu mengikuti jadwal makan yang terlalu kaku.
Hal yang lebih penting adalah mengenali pola aktivitasmu sendiri. Jika setiap Selasa, misalnya, kamu memiliki kelas dari pagi hingga sore, persiapkan makanan sejak pagi atau malam sebelumnya.
Perencanaan seperti ini lebih realistis daripada mengandalkan kesempatan makan yang belum tentu tersedia.
3. Siapkan Bekal atau Camilan untuk Jeda Antarkelas
Membawa makanan dari rumah atau tempat tinggal dapat menjadi pilihan praktis ketika kamu mengetahui waktu istirahat akan terbatas.
Bekal tidak harus selalu berupa makanan lengkap dalam kotak besar.
Untuk jeda singkat, kamu dapat membawa makanan yang praktis sesuai kebutuhan, seperti buah, roti, telur matang, kacang-kacangan, atau makanan lain yang mudah dibawa.
Jika mempunyai waktu makan lebih panjang, kamu dapat menyiapkan makanan utama dengan komposisi yang lebih beragam.
Persiapan tersebut membuat kamu memiliki pilihan makanan ketika kantin penuh, lokasi tempat makan jauh, atau waktu pergantian kelas terlalu singkat.
Perhatikan pula keamanan makanan.
Makanan yang mudah rusak tidak sebaiknya disimpan terlalu lama pada suhu ruang. Gunakan wadah yang bersih dan penyimpanan yang sesuai, terutama untuk makanan yang memerlukan suhu dingin.
Membawa bekal bukan jaminan pola makan otomatis menjadi lebih sehat. Jenis dan jumlah makanan yang dibawa tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan.
Tujuan utamanya adalah mengantisipasi kondisi ketika jadwal kuliah membuat akses terhadap makanan menjadi terbatas.
Baca juga: 7 Cara Memilih Perguruan Tinggi Agar Tidak Salah Jurusan
4. Pilih Camilan Berdasarkan Kandungannya, Bukan Sekadar Rasa
Camilan dapat menjadi pilihan ketika waktu makan utama masih cukup lama, sedangkan kamu mulai merasa lapar.
Namun, jangan hanya mempertimbangkan rasa atau kemasannya.
Kamu dapat memilih makanan yang memberikan kombinasi zat gizi, misalnya karbohidrat dengan protein atau makanan yang mengandung serat.
Buah dapat dipadukan dengan kacang-kacangan. Roti dapat dikombinasikan dengan telur atau sumber protein lain. Pilihan makanan tentu dapat disesuaikan dengan ketersediaan di sekitar kampus.
Tidak ada satu jenis camilan yang harus dianggap sebagai makanan paling baik untuk meningkatkan konsentrasi.
Pola konsumsi secara keseluruhan lebih penting daripada mengandalkan satu makanan tertentu.
Hal tersebut juga perlu diperhatikan ketika memilih makanan cepat saji karena praktis.
Penelitian Nadia Salsabilla dan Utami Wahyuningsih berjudul Frekuensi Pembelian Makanan Online, Konsumsi Fast Food, dan Sedentary Lifestyle dengan Status Gizi Mahasiswa Gizi UPNVJ yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik meneliti mahasiswa Gizi UPN Veteran Jakarta.
Penelitian tersebut menggambarkan bagaimana kemudahan memperoleh makanan melalui layanan daring dan pilihan fast food menjadi bagian dari pola konsumsi mahasiswa.
Karena itu, kepraktisan boleh menjadi pertimbangan ketika memilih makanan, tetapi sebaiknya bukan satu-satunya pertimbangan.
5. Jangan Melupakan Kebutuhan Cairan
Jadwal kuliah yang padat juga dapat membuat mahasiswa lupa minum.
Membawa botol air minum sendiri merupakan cara sederhana agar kamu lebih mudah memenuhi kebutuhan cairan selama berada di kampus.
Kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda berdasarkan aktivitas fisik, kondisi tubuh, lingkungan, suhu, makanan yang dikonsumsi, dan faktor lainnya.
Penelitian Sabrina Early Almufit dan rekan-rekan berjudul Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Hidrasi pada Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia mengkaji aktivitas fisik dan status hidrasi pada mahasiswa kedokteran.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa status hidrasi merupakan aspek yang relevan diperhatikan pada mahasiswa dengan aktivitas akademik dan fisik.
Namun, jangan menggunakan air sebagai cara untuk menggantikan makanan ketika memang merasa lapar.
Artikel lama menyebut bahwa rasa haus dapat dianggap sebagai “lapar palsu”. Klaim tersebut terlalu menyederhanakan mekanisme lapar dan haus.
Jika kamu lapar, tubuh mungkin memang membutuhkan makanan. Jika haus, kamu membutuhkan cairan. Keduanya perlu diperhatikan sesuai kondisi tubuh.
Baca juga: 27 Tips Agar Awet Muda dan Cantik Secara Alami Tanpa Skincare Mahal
6. Kenali Rasa Lapar yang Muncul ketika Sedang Stres
Deadline tugas, ujian, masalah organisasi, skripsi, atau persoalan pribadi dapat memengaruhi pola makan mahasiswa.
Sebagian orang makan lebih banyak ketika mengalami tekanan emosional. Sebagian lainnya justru kehilangan selera makan.
Fenomena makan sebagai respons terhadap kondisi emosional dikenal sebagai emotional eating.
Endriani Gusni, Susmiati, dan Esthika Ariany Maisa melalui penelitian Stres dan Emotional Eating pada Mahasiswa S1 Fakultas Keperawatan yang diterbitkan dalam jurnal LINK meneliti 82 mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Andalas.
Penelitian tersebut mengkaji stres dan perilaku emotional eating pada mahasiswa menggunakan pendekatan cross-sectional.
Hal ini penting karena keinginan makan tidak selalu muncul dalam konteks yang sama.
Cobalah mengenali kondisi diri ketika ingin makan.
Apakah kamu belum makan selama beberapa jam dan benar-benar merasa lapar? Atau keinginan untuk terus ngemil justru muncul ketika sedang mengerjakan tugas yang membuat stres?
Kamu tidak perlu merasa bersalah ketika pola makan berubah saat sedang tertekan. Namun, mengenali pemicunya dapat membantu menentukan respons yang lebih sesuai.
Jika memang lapar, makanlah sesuai kebutuhan. Jika keinginan makan berkaitan dengan tekanan emosional, kamu juga dapat mencoba mengatasi sumber stres melalui istirahat, aktivitas fisik ringan, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau strategi pengelolaan stres lainnya.
7. Jangan Menjadikan Makanan Cepat Saji sebagai Pilihan Otomatis
Ketika hanya mempunyai waktu istirahat singkat, makanan cepat saji memang terlihat praktis.
Kamu tidak perlu menganggap semua makanan cepat saji sebagai makanan yang harus sepenuhnya dihindari. Namun, frekuensi dan pola konsumsi secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.
Aurelita Dwiokti Arvia dan Sri Sumarmi melalui penelitian Perbedaan Konsumsi Fast Food dan Status Gizi pada Mahasiswa Rantau dan Non Rantau Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga mengkaji konsumsi fast food pada mahasiswa rantau dan nonrantau.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pola konsumsi makanan cepat saji merupakan salah satu aspek yang relevan dikaji dalam kehidupan mahasiswa, termasuk pada mereka yang tinggal jauh dari keluarga.
Bagi mahasiswa, persoalannya sering kali bukan sekadar mengetahui makanan mana yang lebih baik, melainkan ketersediaan waktu dan pilihan makanan.
Karena itu, persiapan menjadi penting.
Jika kamu mengetahui besok akan menjalani kuliah dari pagi hingga sore, pertimbangkan menyiapkan makanan atau mencari terlebih dahulu tempat makan yang memungkinkan dikunjungi ketika jeda.
Cara tersebut dapat membantu agar keputusan makan tidak selalu dibuat ketika kamu sudah sangat lapar dan hanya memiliki waktu beberapa menit.
Jangan Menunggu Sampai Terlalu Lapar
Jadwal kuliah memang tidak selalu dapat disesuaikan dengan keinginan.
Ada hari ketika kelas berlangsung hampir tanpa jeda. Ada pula praktikum yang membutuhkan waktu berjam-jam atau kegiatan organisasi yang berlangsung setelah perkuliahan selesai.
Hal yang dapat kamu lakukan adalah mengantisipasinya.
Periksa jadwal sebelum berangkat, tentukan kemungkinan waktu makan, dan bawa makanan ketika diperlukan.
Jika mulai merasa lapar ketika masih berada di kelas, kamu setidaknya sudah mengetahui kapan dapat makan dan makanan apa yang tersedia.
Kebiasaan tersebut lebih realistis daripada terus mengabaikan rasa lapar atau membuat aturan makan yang terlalu ketat.
Bagaimana jika Sering Merasa Lapar meskipun Sudah Makan?
Rasa lapar merupakan respons tubuh yang normal.
Namun, perhatikan jika kamu merasa sangat sering lapar meskipun sudah makan dalam jumlah yang biasanya cukup.
Coba periksa terlebih dahulu pola makanmu.
Apakah makanan yang dikonsumsi sangat sedikit? Apakah jadwal makan berubah? Apakah aktivitas fisik meningkat? Apakah kamu sedang mengalami stres atau perubahan rutinitas?
Jangan langsung menyimpulkan penyebabnya sendiri.
Rasa lapar yang berlebihan atau perubahan nafsu makan dapat memiliki banyak penyebab dan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu gejala.
Jika perubahan rasa lapar berlangsung terus-menerus atau disertai keluhan lain, seperti perubahan berat badan yang tidak direncanakan, rasa lemas berat, rasa haus atau buang air kecil berlebihan, gangguan pencernaan berkepanjangan, atau keluhan kesehatan lainnya, pertimbangkan berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Kesimpulan
Cara mengatasi rasa lapar saat jadwal kuliah padat dapat dimulai dari perencanaan sederhana.
Usahakan memiliki waktu untuk sarapan jika aktivitas dimulai pagi, periksa jeda antarkelas, siapkan bekal atau camilan ketika diperlukan, pilih makanan dengan mempertimbangkan kandungan gizinya, dan jangan melupakan kebutuhan cairan.
Perhatikan juga kondisi emosional.
Stres dapat berkaitan dengan perubahan perilaku makan pada mahasiswa sehingga penting untuk mengenali apakah pola makan berubah ketika tekanan akademik meningkat.
Makanan cepat saji tetap dapat menjadi bagian dari pilihan makan. Namun, jangan sampai keterbatasan waktu membuatnya menjadi satu-satunya pilihan setiap kali jadwal kuliah sedang padat.
Tidak ada pola makan tunggal yang cocok untuk semua mahasiswa. Kebutuhan setiap orang dapat berbeda berdasarkan kondisi tubuh, aktivitas, kebiasaan, dan kesehatan.
Hal terpenting adalah tidak terus-menerus mengabaikan kebutuhan tubuh hanya karena jadwal kuliah sedang penuh.
Persiapan beberapa menit sebelum berangkat dapat membantu kamu memiliki pilihan yang lebih baik ketika rasa lapar muncul di tengah kesibukan kampus.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














