Sinetron merupakan salah satu bentuk hiburan yang mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai cerita ditampilkan dengan beragam tema, mulai dari keluarga, persahabatan, pendidikan, hingga percintaan. Tayangan tersebut dapat menjadi hiburan, tetapi bagi anak-anak, tidak semua isi tayangan sesuai dengan tahap perkembangan dan usia mereka.
Persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah sinetron memiliki genre percintaan atau tidak. Hal yang lebih penting adalah isi tayangan, kesesuaian usia, intensitas menonton, serta pendampingan orang tua.
Anak yang masih berada pada usia sekolah dasar belum tentu mampu memahami seluruh konteks perilaku yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Karena itu, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa apa yang ditampilkan di televisi merupakan bagian dari cerita dan tidak selalu tepat untuk ditiru dalam kehidupan nyata.
Mengapa Tayangan Televisi Dapat Memengaruhi Anak?
Anak belajar tidak hanya melalui sekolah dan keluarga, tetapi juga melalui lingkungan di sekitarnya, termasuk media yang mereka konsumsi.
Ketika melihat tokoh dalam sinetron melakukan sesuatu dan perilaku tersebut terus-menerus ditampilkan sebagai sesuatu yang menarik, anak dapat membangun pemahaman tertentu mengenai perilaku, hubungan sosial, maupun cara menyelesaikan masalah.
Namun, pengaruh media tidak dapat disederhanakan menjadi hubungan langsung bahwa menonton sinetron tertentu pasti membuat anak memiliki perilaku buruk. Setiap anak memiliki lingkungan keluarga, pengalaman, karakter, dan tingkat pemahaman yang berbeda.
Karena itu, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana anak memahami tayangan tersebut dan apakah terdapat pendampingan ketika mereka menemukan konten yang belum sesuai dengan usianya.
Sinetron Bergenre Cinta Tidak Selalu Menjadi Masalah
Sinetron yang memiliki cerita percintaan tidak otomatis berarti buruk bagi semua penonton. Persoalan utamanya adalah ketika materi yang ditampilkan tidak sesuai dengan usia anak.
Adegan, bahasa, konflik hubungan, atau perilaku tertentu yang ditujukan untuk penonton remaja maupun dewasa dapat menjadi kurang tepat apabila dikonsumsi anak usia sekolah dasar tanpa pendampingan.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya melihat judul atau genre sebuah program. Perhatikan pula isi ceritanya.
Apakah terdapat adegan yang tidak sesuai usia? Apakah bahasa yang digunakan pantas untuk anak? Apakah perilaku tokoh dalam cerita berpotensi disalahpahami atau ditiru?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekadar memberikan label bahwa semua sinetron bertema percintaan adalah buruk.
Ketika Waktu Menonton Mengganggu Aktivitas Anak
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara menonton dan aktivitas sehari-hari.
Masalah dapat muncul ketika waktu menonton membuat anak mengabaikan kegiatan lain yang penting, seperti belajar, bermain secara aktif, berinteraksi dengan keluarga, membaca, atau beristirahat.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kebiasaan anak. Apabila anak mulai sulit berhenti menonton, terus meminta menonton meskipun ada kegiatan lain, atau waktu bersama keluarga dan aktivitas sehari-harinya terganggu, penggunaan media perlu dievaluasi.
American Academy of Pediatrics (AAP) juga menekankan bahwa pengelolaan media untuk anak tidak hanya berkaitan dengan jumlah waktu di depan layar, tetapi juga kualitas konten, komunikasi keluarga, dan keseimbangan dengan aktivitas lain.
Dengan demikian, persoalannya bukan hanya berapa lama anak menonton, tetapi juga apa yang ditonton dan bagaimana media tersebut digunakan.
Pentingnya Pendampingan Orang Tua
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menemani anak ketika menonton tayangan yang berpotensi mengandung materi yang belum mereka pahami.
Pendampingan tidak harus dilakukan dengan cara memarahi atau melarang setiap kali anak melihat sesuatu yang dianggap kurang sesuai. Orang tua dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk mengajak anak berdiskusi.
Misalnya, ketika terdapat perilaku tokoh yang kurang baik, orang tua dapat bertanya:
“Menurut kamu, apakah perilaku tokoh itu baik?”
Atau:
“Kalau hal seperti itu terjadi di kehidupan nyata, apa yang sebaiknya dilakukan?”
Cara seperti ini membantu anak belajar menilai isi media, bukan hanya menerima informasi secara pasif.
AAP menyebut praktik menonton bersama atau co-viewing sebagai salah satu cara untuk memahami pengalaman media anak sekaligus membuka ruang percakapan antara anak dan orang tua.
Pilih Tayangan yang Sesuai dengan Usia
Orang tua juga perlu mempertimbangkan kesesuaian usia ketika memilih tontonan.
Penilaian usia dapat membantu, tetapi bukan satu-satunya pertimbangan. AAP menyarankan orang tua memperhatikan isi media dan, jika memungkinkan, menonton bersama anak untuk memahami apa yang mereka lihat.
Anak dapat diarahkan kepada tayangan yang memberikan pengalaman positif, seperti cerita tentang persahabatan, keluarga, pengetahuan, kreativitas, atau pembelajaran.
Namun, memberikan tontonan yang dianggap “mendidik” saja belum cukup. Anak juga tetap membutuhkan interaksi langsung dengan orang tua, teman, lingkungan sekolah, dan aktivitas nyata di luar layar.
Membangun Literasi Media Sejak Dini
Daripada hanya melarang anak menonton, orang tua juga perlu mengembangkan literasi media.
Anak dapat diajarkan untuk memahami beberapa hal sederhana:
- tidak semua perilaku tokoh di televisi boleh ditiru;
- cerita dalam sinetron berbeda dengan kehidupan nyata;
- setiap tindakan memiliki konsekuensi;
- tidak semua hubungan yang ditampilkan dalam cerita merupakan contoh hubungan yang sehat;
- anak boleh bertanya apabila menemukan adegan yang tidak dipahami.
Komunikasi seperti ini membantu anak menjadi penonton yang lebih kritis.
AAP juga mendorong komunikasi mengenai media sejak dini karena percakapan yang terbuka dapat membantu anak membangun kemampuan memahami dan menggunakan media secara lebih sehat.
Orang Tua Tidak Cukup Hanya Membatasi
Membatasi tontonan tetap penting, tetapi aturan akan lebih efektif apabila disertai komunikasi.
Orang tua dapat membuat kesepakatan sederhana mengenai penggunaan media di rumah, misalnya menentukan waktu bebas layar ketika makan bersama keluarga atau ketika anak harus mengerjakan tugas sekolah.
Selain itu, orang tua dapat menyediakan kegiatan alternatif seperti membaca, bermain di luar rumah, berolahraga, membantu pekerjaan rumah, atau melakukan kegiatan kreatif.
AAP merekomendasikan agar aturan penggunaan media dibangun bersama komunikasi keluarga dan aktivitas lain, bukan sekadar memberikan larangan.
Dengan demikian, anak tidak merasa bahwa televisi merupakan satu-satunya sumber hiburan.
Pendidikan Moral Tidak Hanya Dibentuk oleh Tayangan
Penting pula untuk tidak meletakkan seluruh tanggung jawab pembentukan moral anak pada televisi.
Moral anak dibentuk oleh banyak faktor, termasuk keluarga, sekolah, lingkungan pertemanan, budaya, pengalaman sehari-hari, serta cara orang dewasa memberikan contoh.
Tayangan televisi hanyalah salah satu bagian dari lingkungan tersebut.
Karena itu, apabila orang tua khawatir anak mendapatkan contoh perilaku yang kurang baik dari sebuah sinetron, respons yang lebih tepat bukan hanya melarang, tetapi memberikan penjelasan dan contoh perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Anak akan lebih mudah memahami nilai tertentu ketika nilai tersebut tidak hanya dijelaskan, tetapi juga mereka lihat dalam perilaku orang-orang di sekitarnya.
Penutup
Sinetron bergenre cinta tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai penyebab rusaknya moral anak. Pengaruh suatu tayangan bergantung pada banyak hal, termasuk isi tayangan, usia anak, frekuensi menonton, lingkungan keluarga, serta pendampingan orang tua.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah sebuah tayangan sesuai dengan usia anak dan apakah penggunaan media mulai mengganggu kegiatan penting lainnya.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pendamping. Menonton bersama, mengajak anak berdiskusi, memilih tayangan yang sesuai usia, dan membangun kebiasaan media yang sehat dapat membantu anak memahami apa yang mereka lihat.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan anak bukan sekadar menjauhkan mereka dari tayangan yang dianggap kurang baik, tetapi membantu mereka memiliki kemampuan untuk memahami, menilai, dan menyikapi media secara bijak.
Lina Agustin
Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah IAIN Pekalongan
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














