Promosi Kesehatan sebagai Investasi Ekonomi dalam Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia

Promosi Kesehatan di Indonesia
Kegiatan Promosi Kesehatan (Foto: Dok. Penulis)

Saya mencoba menulis/mengangkat mengenai Promosi Kesehatan karena bagi saya, selaku tenaga promosi, kesehatan sangat penting. Akan tetapi, belum banyak dilirik.

Berkat menggaungkan promosi kesehatan, saya yang dulunya hanya tenaga honorer dipelosok negeri ini bisa bersaing menembus kancah nasional: dalam ajang bergengsi, yaitu Penganugrahan Tenaga Kesehatan Teladan tahun 2023 dan bisa diundang bersama Presiden Joko Widodo saat pelaksanan upacara 17 Agustus di Istana Negara, dengan mengusung promosi kesehatan untuk pencegahan & penurunan angka stunting di wilayah kerja saya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI
Foto: Dok. Penulis
Foto: Dok. Penulis

Selanjutnya, saya bisa bersaing di Penerimaan Tenaga Kesehatan Haji Tahun 2024. Promosi Kesehatan yang dilakukan yaitu untuk menekan angka kematian pada jamaah haji yang banyak dialami setiap tahunnya. Kemudian, berhasil menjadi Tenaga Promosi Kesehatan Terbaik dan Terfavorit di Saudi Arabia.

Foto: Dok. Penulis
Foto: Dok. Penulis

Dan saat ini saya juga masih bertekad untuk menjadi seorang promotor kesehatan yang handal di bidangnya, sehingga saya mempertajam ilmu saya dengan melanjutkan kuliah Magister Kesehatan Masyarakat karena saya yakin Promosi Kesehatan sangat berpengaruh terhadap investasi ekonomi kesehatan kedepannya.

Baca Juga: Apakah BPJS Telah Menjamin Pemerataan Akses Layanan Kesehatan di Seluruh Wilayah Indonesia

Opini Ekonomi Kesehatan di Indonesia

Di tengah derasnya arus informasi dan gaya hidup serba cepat, Indonesia diam-diam sedang menghadapi “tsunami sunyi”: meningkatnya Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, jantung, stroke, dan kanker.

Penyakit-penyakit ini tidak menular dari orang ke orang, tetapi menular melalui pola hidup, iklan makanan ultra-proses, rokok murah, serta minimnya ruang aktivitas fisik.

Dampaknya bukan hanya pada kesehatan, tetapi langsung menghantam ekonomi kesehatan nasional.

Data BPJS Kesehatan beberapa tahun terakhir menunjukkan hal yang mencemaskan: lebih dari 50% klaim JKN dihabiskan untuk PTM, terutama penyakit jantung, ginjal, dan kanker. Jika tren ini tidak ditekan, biaya untuk mengobati masyarakat akan terus naik, dan ruang fiskal pemerintah akan semakin sempit.

Di sinilah promosi kesehatan—sering dianggap “program kecil”—seharusnya dilihat sebagai investasi ekonomi jangka panjang, bukan sekadar kampanye seremonial.

PTM: Penyakit Mahal yang Sebenarnya Bisa Dicegah

PTM itu ibarat kebocoran pipa yang terus dibiarkan tanpa perbaikan. Kita tahu penyebabnya: merokok, pola makan tinggi gula dan garam, kurang gerak, stres berkepanjangan. Namun masyarakat cenderung hanya bertindak setelah sakit.

Padahal, PTM:

  • membutuhkan perawatan seumur hidup, sehingga biayanya terus naik,
  • mendorong masyarakat mengeluarkan out-of-pocket (OOP) besar untuk obat, diet khusus, dan pemeriksaan,
  • menurunkan produktivitas kerja dan kualitas hidup.

Jika dibiarkan, PTM bukan hanya masalah kesehatan—ia menjadi masalah ekonomi nasional.

Baca Juga: Integrasi Empati, Komunikasi, Kesehatan Mental, Edukasi Pasien, dan Etika dalam Pelayanan Radiografi: Pilar Humanisme dalam Praktik Radiologi Modern

Promosi Kesehatan: Intervensi Murah dengan Dampak Besar

Selama ini anggaran kesehatan lebih banyak diserap untuk pengobatan, bukan pencegahan. Padahal kajian WHO tegas menyatakan:

Setiap 1 dolar yang diinvestasikan untuk pencegahan PTM, menghasilkan rata-rata 7 dolar penghematan biaya kuratif.

Artinya, promosi kesehatan adalah investasi yang balik modal berkali-kali lipat.

Contohnya:

  • kampanye berhenti merokok jauh lebih murah dibanding biaya cuci darah akibat gagal ginjal,
  • edukasi gizi jauh lebih murah daripada perawatan diabetes dengan komplikasi,
  • program aktivitas fisik komunitas jauh lebih murah daripada operasi jantung.

Promosi kesehatan bukan slogan—ia adalah strategi ekonomi.

Manfaat Ekonomi Jangka Panjang

Jika promosi kesehatan dilakukan secara massif, konsisten, dan tidak sekadar seremoni tahunan, dampaknya akan terasa luas:

1. Penurunan biaya pelayanan kesehatan

Lebih sedikit warga yang jatuh ke kondisi kronis → lebih rendah klaim BPJS.

2. Meningkatkan produktivitas tenaga kerja

Pekerja sehat lebih produktif dan minim absen.

3. Membangun “human capital” yang kuat

Generasi muda lebih sehat → potensi ekonomi jangka panjang meningkat.

Dengan kata lain: mencegah PTM adalah strategi pembangunan nasional.

Tantangan Indonesia: Kenapa Promosi Kesehatan Sulit “Nendang”?

Beberapa tantangan yang masih harus dibereskan:

1. Literasi kesehatan rendah

Masyarakat lebih percaya promosi herbal instan ketimbang edukasi resmi.

2. Anggaran promotif dan preventif masih sangat kecil

Padahal inilah aspek yang justru paling menguntungkan negara.

3. Lingkungan belum mendukung hidup sehat

Ada lapangan, tapi jadi parkir. Ada posyandu, tapi minim kegiatan remaja.

4. Paradigma “obat dulu, gaya hidup nanti”

Masyarakat baru peduli setelah sakit parah.

Baca Juga: Analisis Dampak Pendidikan Agama Islam (Formal dan Non-Formal) terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa dalam Menghadapi Beban Akademik dan Non-Akademik

Solusi: Saatnya Promosi Kesehatan Naik Kelas

Promosi kesehatan tidak boleh lagi bersifat normatif. Butuh pendekatan baru yang lebih “ngena” dan relevan dengan kultur digital masyarakat sekarang:

1. Memperkuat anggaran promotif preventif

Bukan hanya brosur dan spanduk, tetapi program berbasis komunitas dan intervensi lingkungan.

2. Kolaborasi lintas sektor—pendidikan, desa, perusahaan, media

PTM bukan hanya urusan tenaga kesehatan, tetapi urusan bersama.

3. Kampanye digital yang kreatif dan adaptif

Video pendek, konten interaktif, influencer kesehatan, tantangan aktivitas fisik, gamifikasi pola makan—cara baru ini jauh lebih efektif.

4. Integrasi skrining PTM secara masif dan gratis

Skrining dini mengurangi biaya pengobatan jangka panjang.

5. Regulasi yang lebih tegas terhadap rokok, minuman manis, dan junk food

Masyarakat tidak bisa dituntut hidup sehat ketika lingkungan tidak mendukung.

Kesimpulan: Investasi Sehat, Negara Kuat

Promosi kesehatan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan ekonomi. Jika Indonesia ingin menekan biaya JKN, menjaga produktivitas, dan membangun generasi yang kuat, maka investasi terbesar harus diarahkan pada pencegahan, bukan pengobatan.

PTM bisa dicegah, biaya bisa ditekan, dan masyarakat bisa hidup lebih sehat—asalkan promosi kesehatan menjadi strategi inti pembangunan, bukan hanya pelengkap laporan tahunan.

 

Penulis: Febri Yanti, S.K.M.
Mahasiswa Magister Prodi Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia Maju

Dosen Pengampu: Rizky Kusuma Hartono, S.K.M., M.K.M., PhD

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses