Semarang – Banyak masyarakat menganggap vertigo hanya sebagai keluhan pusing biasa. Padahal, kondisi ini merupakan gangguan sistem keseimbangan tubuh yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, kesehatan mental, hingga kualitas hidup penderitanya.
Vertigo adalah sensasi seolah-olah tubuh atau lingkungan sekitar berputar akibat gangguan pada sistem vestibular, yaitu sistem yang berfungsi menjaga keseimbangan tubuh. Kondisi ini umumnya disertai mual, muntah, kehilangan keseimbangan, hingga kesulitan melakukan aktivitas normal.
Selain disebabkan oleh gangguan pada telinga bagian dalam atau sistem saraf, vertigo juga memiliki kaitan erat dengan kondisi psikologis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres, kecemasan, depresi, dan pola pikir yang dipenuhi kekhawatiran dapat memperburuk gejala vertigo maupun meningkatkan risiko kekambuhan.
Dalam kajian psikologi kesehatan, vertigo dipahami melalui pendekatan biopsikososial, yaitu kondisi yang dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial secara bersamaan. Artinya, penanganan vertigo tidak cukup hanya dengan pengobatan medis, tetapi juga memerlukan perhatian terhadap kesehatan mental dan lingkungan sosial penderita.
Faktor Pemicu Vertigo
Berbagai faktor dapat memicu munculnya vertigo, mulai dari gangguan telinga bagian dalam seperti Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV), penyakit Meniere, gangguan saraf vestibular, hingga faktor usia dan penyakit metabolik.
Di sisi lain, kondisi psikologis seperti stres berkepanjangan, kecemasan, depresi, overthinking, serta trauma emosional juga dapat memperburuk fungsi sistem keseimbangan tubuh. Tidak hanya itu, tekanan pekerjaan, konflik keluarga, kurang tidur, kelelahan, serta minimnya dukungan sosial menjadi faktor yang turut meningkatkan risiko kekambuhan vertigo.
Dampak Tidak Hanya Fisik
Vertigo tidak hanya menyebabkan sensasi berputar atau kehilangan keseimbangan. Penderita juga sering mengalami ketakutan saat beraktivitas karena khawatir serangan datang secara tiba-tiba. Akibatnya, sebagian memilih membatasi aktivitas, menghindari keramaian, sulit berkonsentrasi, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, stres, bahkan depresi yang akhirnya membentuk siklus berulang. Kondisi psikologis memperparah vertigo, sementara vertigo kembali memperburuk kesehatan mental.
Dampak ini juga berpengaruh terhadap produktivitas kerja, hubungan sosial, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Pentingnya Pengelolaan Stres
Para ahli menekankan bahwa pengelolaan stres merupakan salah satu langkah penting dalam mengurangi frekuensi kekambuhan vertigo. Aktivitas seperti relaksasi, meditasi, mindfulness, olahraga ringan, tidur yang cukup, serta menjaga pola pikir positif dapat membantu menurunkan ketegangan sistem saraf yang berkaitan dengan keseimbangan tubuh.
Selain itu, penderita juga dianjurkan menjalani pola hidup sehat dengan memenuhi kebutuhan cairan, mengonsumsi makanan bergizi, mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, serta mematuhi terapi maupun pengobatan yang diberikan tenaga kesehatan. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga berperan penting dalam membantu proses pemulihan.
Jangan Abaikan Gejala
Apabila seseorang mengalami sensasi berputar yang berulang, kehilangan keseimbangan, mual, atau kesulitan berjalan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat. Penanganan sejak dini tidak hanya membantu mengurangi risiko komplikasi, tetapi juga mencegah dampak psikologis yang dapat memperburuk kondisi.
Vertigo bukan sekadar pusing biasa. Dengan memahami penyebab, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta menerapkan pola hidup sehat, masyarakat dapat menurunkan risiko kekambuhan sekaligus meningkatkan kualitas hidup.
Penulis: Desy Wulandari
Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Semarang
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















