Kesehatan mental mahasiswa merupakan isu yang semakin mendesak mengingat tingginya tekanan akademik dan non-akademik yang mereka hadapi dalam lingkungan perguruan tinggi.
Di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, mahasiswa tidak hanya dihadapkan pada materi pembelajaran yang kompleks seperti pemrograman dan sistem komputer, tetapi juga berbagai tanggung jawab non-akademik yang menuntut perhatian mereka.
Penelitian telah membuktikan bahwa tekanan ini dapat memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi yang pada gilirannya mempengaruhi kinerja akademik serta kualitas hidup mahasiswa secara keseluruhan.
Hasil wawancara dengan lima mahasiswa dari berbagai program studi menunjukkan realitas tekanan yang mereka hadapi.
Mahasiswa Teknik Informatika menyebutkan bahwa tugas kuliah yang menumpuk dan materi coding yang sulit menjadi sumber stres utama, sementara mahasiswa Teknik Komputer mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah membagi waktu antara kuliah, kegiatan organisasi, dan istirahat, terutama ketika deadline praktikum datang berurutan.
Tekanan non-akademik juga turut mempengaruhi kesehatan mental secara signifikan, seperti yang dialami mahasiswa Pendidikan Teknologi Informasi yang berstatus sebagai mahasiswa rantau dengan beban psikologis akibat kondisi ekonomi keluarga, hingga sempat berpikir untuk berhenti kuliah dan langsung mencari pekerjaan.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, seluruh responden sepakat bahwa pendidikan agama Islam memiliki pengaruh signifikan dalam membantu mereka menghadapi masalah. Yang menarik, terdapat perbedaan dampak yang cukup mencolok antara pendidikan agama formal dan non-formal dalam membentuk strategi koping mahasiswa.
Mahasiswa Sistem Informasi yang mendapat pendidikan agama intensif dari lingkungan keluarga sejak kecil menyatakan bahwa nilai-nilai agama yang dipelajari sangat membantu dalam menjaga sikap dan emosi, terutama dalam hal disiplin dan manajemen waktu.
Ketika menghadapi stres, ia memiliki kebiasaan otomatis untuk berzikir sebentar guna menenangkan pikiran, sehingga dapat kembali fokus dan merasa lebih tenang.
Berbeda dengan mahasiswa yang lebih mengandalkan pendidikan agama formal seperti mata kuliah Pendidikan Agama Islam di kampus, mereka memang merasakan manfaat dari pembelajaran tersebut, namun implementasinya cenderung lebih reflektif dan filosofis.
Mahasiswa Teknik Informatika menyatakan bahwa ketika tertekan, nilai-nilai agama membantu untuk lebih tenang dan memberikan arah saat menghadapi masalah, namun mereka mengingat dan merenungkan nilai-nilai yang dipelajari ketika menghadapi masalah, belum tentu memiliki kebiasaan praktik spiritual yang otomatis seperti mahasiswa dengan latar belakang pendidikan keluarga yang kuat.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Afifah et al. (2024) yang menemukan bahwa peran orang tua adalah kunci dalam menanamkan pendidikan agama, di mana pendidikan dari keluarga dinilai lebih dominan dalam membentuk karakter dan ketenangan hati serta berfungsi sebagai fondasi utama dalam menghadapi stres.
Nilai-nilai Islam seperti sabar, syukur, dan tawakal menjadi strategi koping utama yang dipraktikkan mahasiswa dalam menghadapi berbagai tekanan akademik. Kesabaran dipraktikkan dalam berbagai situasi akademik, mulai dari menghadapi materi kuliah yang sulit hingga menghadapi kegagalan dalam proyek atau praktikum.
Mahasiswa Teknik Informatika mempraktikkan kesabaran ketika tidak memahami materi dan bersyukur atas proses belajar yang dialami, sementara mahasiswa Teknik Komputer belajar untuk tetap sabar ketika rangkaian praktikum yang dibuat tidak berhasil meskipun sudah dicoba berkali-kali.
Praktik syukur juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental, di mana mahasiswa tidak hanya bersyukur saat berhasil tetapi juga bersyukur atas proses pembelajaran yang dijalani.
Tawakal menjadi tahap akhir dari strategi koping religius yang dipraktikkan mahasiswa, di mana setelah berusaha maksimal, mereka menyerahkan hasilnya kepada Allah sebagai bentuk penerimaan terhadap takdir dan ketentuan-Nya.
Mahasiswa Pendidikan Teknologi Informasi mengingat kalimat “innallaha ma’ashobirin” yang artinya Allah bersama orang-orang yang sabar sebagai pengingat saat mendapat tekanan, sementara mahasiswa Teknik Komputer mempercayai prinsip bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya.
Prinsip ini menjadikan mereka lebih sabar, optimis, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan akademik. Selain nilai-nilai filosofis tersebut, praktik spiritual konkret juga menjadi mekanisme koping yang efektif.
Mahasiswa Sistem Informasi memiliki kebiasaan berdzikir saat sedang stres untuk menenangkan pikiran, yang merupakan hasil dari pendidikan non-formal yang intensif dari keluarga yang sudah terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari sejak kecil.
Praktik keagamaan seperti shalat berjamaah juga menjadi sumber dukungan sosial dan spiritual yang penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tekanan perkuliahan.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan agama non-formal, khususnya yang diperoleh dari lingkungan keluarga, memiliki dampak yang lebih kuat dalam membentuk kebiasaan spiritual yang otomatis dan praktis dibandingkan pendidikan formal yang cenderung bersifat reflektif.
Mahasiswa dengan latar belakang pendidikan non-formal yang kuat menunjukkan internalisasi nilai-nilai agama yang lebih mendalam, dengan kebiasaan spiritual yang sudah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari seperti zikir otomatis saat tertekan atau disiplin dalam menjalankan ibadah meskipun sedang sibuk dengan urusan akademik.
Baca Juga: Ironi Kesehatan Mental Generasi Z
Hal ini mengindikasikan pentingnya peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai agama sejak dini melalui pembiasaan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, yang kemudian menjadi fondasi kuat bagi mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan di perguruan tinggi.
Implikasi dari temuan ini menunjukkan perlunya perguruan tinggi untuk tidak hanya mengandalkan mata kuliah Pendidikan Agama Islam sebagai satu-satunya jalur pendidikan agama bagi mahasiswa.
Kegiatan keagamaan non-formal seperti kajian rutin, mentoring spiritual, dan penguatan komunitas keagamaan di kampus perlu didorong dan difasilitasi untuk memberikan ruang bagi mahasiswa dalam mempraktikkan dan menginternalisasi nilai-nilai agama secara lebih mendalam.
Integrasi pendidikan agama Islam yang komprehensif dapat menjadi strategi preventif yang efektif dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa, sekaligus membentuk lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik tetapi juga tangguh secara mental dan spiritual dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Dengan demikian, pendidikan tinggi dapat menghasilkan lulusan yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual, yang pada akhirnya akan berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
Penulis:
1. Ahmad Syarif Musthafa
2. Muhammad Rizky Erta Pratama
3. Vina Dewi Ramadhani
4. Reno Saputra
5. Muhammad Hanif
Mahasiswa Teknologi Informasi Universitas Brawijaya
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












