Abstrak
Peralihan besar-besaran dari perkuliahan luring ke perkuliahan daring telah secara mendasar mengubah dinamika komunikasi dalam interaksi dosen-mahasiswa. Perkuliahan daring kerap memicu tantangan psikologis, seperti stres, kelelahan media (Zoom Fatigue), serta perasaan terisolasi yang berisiko menurunkan motivasi belajar.
Komunikasi interpersonal telah diidentifikasi sebagai faktor eksternal krusial yang memengaruhi motivasi belajar mahasiswa. Artikel konseptual ini berfokus membandingkan bagaimana komunikasi empatik dosen dipahami sebagai kepedulian serta kemampuan memahami perasaan dan perspektif mahasiswa memberi dampak pada motivasi belajar mahasiswa di konteks perkuliahan daring versus luring.
Di dalam konteks luring, komunikasi empatik serta motivasi ekstrinsik terbentuk lebih alami dan menunjukkan efektivitas hasil belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, perkuliahan daring menciptakan hambatan psikologis dan teknis, yang menyebabkan dosen lebih sulit menunjukkan kepedulian (caring).
Studi ini menyimpulkan bahwa komunikasi empatik, dalam wujud instructor caring dan social presence, memegang peran vital sebagai mediator motivasi di kedua lingkungan.
Dalam perkuliahan daring, pemenuhan kebutuhan psikologis akan keterhubungan (relatedness) memerlukan strategi yang lebih disengaja (intensional) dari dosen, misalnya melalui umpan balik personal dan kehadiran yang aktif, guna mendukung motivasi mahasiswa dalam menyelesaikan studi.
Kata Kunci: Komunikasi Empatik, Motivasi Belajar, Perkuliahan Daring, Perkuliahan Luring, Interaksi Dosen-Mahasiswa
Pendahuluan
Akibat pandemi COVID-19, institusi pendidikan tinggi di seluruh dunia terpaksa memindahkan perkuliahan mereka ke sistem daring (dalam jaringan). Perubahan yang cepat dalam metode pembelajaran ini bukan hanya sekadar transisi teknologi, melainkan telah mengubah dinamika fundamental terkait proses komunikasi dalam pendidikan. Berbagai penelitian menyoroti tantangan yang muncul akibat pergeseran ini.
Mahasiswa melaporkan mengalami perasaan terisolasi dan terputus dari komunitas belajar mereka , serta menghadapi masalah yang berdampak pada kesehatan psikis. Sebuah studi (Pustikasari & Fitriyanti, 2021) secara spesifik mengidentifikasi fenomena stres dan kelelahan (fatigue) atau Zoom Fatigue selama pembelajaran daring.
Penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan Zoom dalam pembelajaran meningkatkan risiko stres hingga empat kali lipat
Lebih lanjut, problematika komunikasi dalam perkuliahan daring seringkali bersifat teknis, seperti kendala jaringan atau sinyal.
Kendala ini mendorong banyak dosen memilih menggunakan WhatsApp sebagai media penyampaian tugas tanpa penjelasan materi, sehingga interaksi menjadi transaksional dan menurunkan pemahaman mahasiswa. Faktor-faktor tersebut dapat melemahkan motivasi belajar, yang seharusnya ditopang oleh lingkungan belajar dan interaksi bermakna dengan dosen.
Motivasi belajar adalah pendorong utama dalam pembelajaran. Salah satu faktor eksternal terkuat yang memengaruhinya adalah lingkungan belajar, terutama interaksi dengan dosen.
Penelitian oleh (Abubakar, 2015) secara spesifik menemukan bahwa keterampilan komunikasi interpersonal yang efektif dari dosen terbukti memberikan dampak positif yang besar, baik terhadap semangat belajar mahasiswa maupun terhadap persentase kelulusan mereka. Komunikasi empatik mencakup kemampuan memahami dan merasakan kondisi emosional mahasiswa serta menanggapinya secara tepat.
Komunikasi interpersonal yang positif berpusat pada empati , yakni “The ability to comprehend and feel another person’s experience from their own point of view.” (Kemampuan untuk memahami dan merasakan pengalaman orang lain dari sudut pandang mereka sendiri.).
Dalam konteks pendidikan, komunikasi berbasis empati merupakan pendekatan untuk memahami kebutuhan emosional dan akademik siswa. Wujud empati ini dapat berupa instructor caring (kepedulian dosen) , yang berfungsi memenuhi kebutuhan psikologis dasar mahasiswa akan keterhubungan (relatedness).
Mengingat komunikasi dalam perkuliahan daring seringkali bersifat impersonal dan penuh hambatan, baik secara teknis maupun psikologis, timbul pertanyaan mengenai bagaimana komunikasi empatik dosen memengaruhi motivasi belajar mahasiswa secara berbeda di lingkungan daring dibandingkan luring.
Artikel konseptual ini bertujuan untuk membandingkan peran komunikasi empatik dosen dalam menumbuhkan motivasi belajar mahasiswa di kedua modalitas pembelajaran tersebut, dengan mensintesis temuan dari berbagai studi terkait.
Tinjauan Pustaka
Motivasi Belajar dalam Konteks Daring vs. Luring
Motivasi belajar adalah keadaan internal yang mendorong dan mengarahkan perilaku mahasiswa untuk mencapai tujuan belajar. Motivasi ini dipengaruhi oleh faktor internal (intrinsik) dan eksternal (ekstrinsik).
Sebuah studi komparatif oleh (Rusdiawan et al., 2023) meneliti perbedaan motivasi belajar antara mahasiswa yang belajar secara daring dan luring. Menariknya, mereka tidak menemukan perbedaan yang signifikan pada motivasi intrinsik mahasiswa di kedua lingkungan tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa dorongan dari dalam diri mahasiswa untuk belajar relatif stabil. Namun, penelitian yang sama menemukan bahwa motivasi ekstrinsik motivasi yang berasal dari lingkungan, seperti kegiatan yang menarik atau penghargaan secara signifikan lebih tinggi pada pembelajaran luring.
Temuan ini diperkuat oleh penelitian (Fitriani et al., 2023) yang secara kuantitatif membandingkan efektivitas kedua metode di era new normal. Studi tersebut menemukan bahwa metode luring terbukti lebih efektif daripada metode daring.
Hasil belajar mahasiswa (nilai rata-rata) pada kelas luring secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelas daring. Hal ini diduga karena dalam pembelajaran luring, interaksi langsung antara dosen dan mahasiswa memungkinkan dosen untuk melihat langsung sikap mahasiswa dan mahasiswa dapat lebih fokus pada interaksi tatap muka.
Teori Determinasi Diri (Self-Determination Theory) dan Instructor Caring
Self-Determination Theory (SDT) atau Teori Determinasi Diri oleh (Ryan & Edward L. Deci., 2000) adalah kerangka kerja yang kuat untuk memahami motivasi. SDT menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk bertumbuh dan termotivasi secara mandiri.
Namun, motivasi yang optimal ini bergantung pada pemenuhan tiga kebutuhan psikologis dasar bawaan (innate psychological needs): otonomi (rasa memiliki pilihan), kompetensi (rasa mampu), dan keterhubungan (relatedness).
Dalam konteks pendidikan, “keterhubungan” secara langsung dipengaruhi oleh interaksi dengan dosen. (Lawrence, 2018) mengkonseptualisasikan “keterhubungan” ini sebagai instructor caring (kepedulian dosen).
Instructor caring didefinisikan sebagai persepsi mahasiswa bahwa dosen mereka peduli, sensitif, tidak egois, dan mengutamakan kepentingan mahasiswa. Kebutuhan akan “relatedness” ini adalah kebutuhan untuk merasa terhubung dan dipedulikan oleh orang lain.
Pentingnya instructor caring terletak pada perannya sebagai mediator. Penelitian (Lawrence, 2018) menemukan bahwa caring tidak secara langsung memengaruhi hasil belajar kognitif, tetapi memiliki efek tidak langsung yang signifikan.
Dosen yang menunjukkan kepedulian (caring) memenuhi kebutuhan “keterhubungan” mahasiswa, yang pada gilirannya meningkatkan motivasi dan afeksi mahasiswa. Motivasi dan afeksi inilah yang kemudian secara langsung berdampak pada peningkatan pembelajaran.
Komunikasi Empatik sebagai Wujud Instructor Caring
Jika instructor caring adalah tujuannya, maka komunikasi empatik adalah sarananya. Komunikasi empatik adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan serta pengalaman orang lain, yang dilandasi oleh kesadaran untuk peduli dan memberi perhatian. Ini bukan sekadar mendengar, tetapi “mendengarkan secara aktif” (active listening) untuk mengerti, bukan untuk menjawab.
Dalam penelitian (Abubakar, 2015), komunikasi interpersonal yang efektif antara dosen dan mahasiswa memiliki lima indikator kunci: (1) Keterbukaan (openness), (2) Empati (empathy), (3) Dukungan (supportiveness), (4) Rasa positif (positiveness), dan (5) Kesetaraan (equality) .
Studi oleh (Anastasia Desmeria Br Ginting et al., 2025) lebih lanjut memecah empati dalam konteks pendidikan menjadi tiga komponen:
1. Empati Kognitif
Kemampuan untuk mengenali cara berpikir serta sudut pandang mahasiswa, termasuk bagaimana mereka memahami dan mengolah informasi.
2. Empati Afektif
Kemampuan untuk ikut merasakan keadaan emosional mahasiswa, seperti rasa cemas, bingung, atau beban perasaan yang muncul dalam proses belajar.
3. Empati Perilaku
Kemampuan untuk memberikan tanggapan atau tindakan yang sesuai berdasarkan pemahaman terhadap perspektif dan emosi yang telah diidentifikasi.
Dalam perkuliahan daring, komunikasi empatik ini seringkali diistilahkan sebagai social presence (kehadiran sosial). Studi (Alhanif et al., 2021) menemukan bahawa kepuasan belajar mahasiswa pada sistem perkuliahan online ditemukan meningkat secara signifikan ketika tingkat social presence dalam kelas tersebut juga tinggi.
Pembahasan
Berdasarkan tinjauan pustaka, komunikasi empatik (yang diwujudkan sebagai instructor caring dan social presence) adalah faktor krusial untuk pemenuhan kebutuhan “keterhubungan” yang berdampak langsung pada motivasi. Namun, implementasinya sangat berbeda antara lingkungan luring dan daring.
Komunikasi Empatik dalam Perkuliahan Luring
Dalam perkuliahan luring, komunikasi empatik dapat terjalin secara alami. Dosen dan mahasiswa berbagi ruang fisik yang sama, memungkinkan terjadinya interaksi interpersonal secara langsung.
Dosen dapat mengamati bahasa tubuh mahasiswa, ekspresi wajah, dan tingkat keterlibatan mereka. Hal ini memudahkan dosen memberikan respons yang tepat dan menciptakan suasana belajar yang mendukung. Penelitian (Fitriani et al., 2023) juga memperkuat bahwa interaksi langsung meningkatkan efektivitas belajar dan hasil akademik mahasiswa.
Selain itu, lingkungan fisik kelas turut memberikan motivasi ekstrinsik bagi mahasiswa. Interaksi sosial antar mahasiswa dan dosen menciptakan suasana belajar yang lebih hidup. Oleh karena itu, pembelajaran luring memungkinkan penyampaian instructor caring secara lebih spontan dan efektif.
Komunikasi Empatik dalam Perkuliahan Daring
Perkuliahan daring memutus sebagian besar saluran komunikasi alami tersebut. Dosen tidak dapat lagi “membaca ruangan”, dan mahasiswa tidak dapat merasakan kehadiran fisik dosen. Hal ini menciptakan serangkaian hambatan unik.
Baca juga: Dampak Negatif Pembelajaran secara Daring Berkepanjangan Sampai Saat Ini
1. Hambatan 1: Teknologi sebagai Dinding
Media itu sendiri menjadi penghalang. Seperti yang ditemukan (Anrial et al., 2022), kendala jaringan dan sinyal adalah masalah utama.
Ironisnya, solusi untuk mengatasi kendala sinyal (menggunakan WhatsApp) justru memperburuk masalah komunikasi, karena interaksi berubah menjadi satu arah di mana dosen hanya memberi tugas. Sementara itu, solusi untuk interaksi (menggunakan Zoom) justru menimbulkan kelelahan fisik dan stres psikologis yang signifikan.
2. Hambatan 2: Kesulitan Menunjukkan Kepedulian (Caring)
Dalam studi (Lawrence, 2018), dosen secara eksplisit melaporkan bahwa mereka merasa sulit untuk menunjukkan kepedulian (caring) dalam lingkungan daring. Tanpa interaksi tatap muka, mahasiswa merasa terisolasi.
Sebuah studi oleh (Nensi, 2023) menyoroti bahwa menjaga komunikasi yang baik antara dosen pembimbing dan mahasiswa adalah “cara paling ampuh” untuk menghindari konflik dalam penyelesaian skripsi, namun hal ini sering terkendala. Dosen yang tidak mampu melakukan komunikasi interpersonal dengan baik dapat menyebabkan mahasiswa kurang paham dan proses penyusunan skripsi berjalan lebih lama.
3. Hambatan 3: Beban Beralih pada Dosen
Studi oleh Vo & Ho (2024) menemukan temuan yang mengejutkan: student connectedness (keterhubungan antar mahasiswa) ternyata tidak memprediksi motivasi atau keterlibatan (engagement). Temuan ini menyiratkan bahwa dalam lingkungan daring, beban untuk memenuhi kebutuhan psikologis “keterhubungan” (relatedness) hampir seluruhnya jatuh pada dosen.
Komunikasi Empatik sebagai Strategi Daring
Karena komunikasi empatik tidak terjadi secara alami di lingkungan daring, maka ia harus diubah dari asumsi implisit menjadi strategi intensional (disengaja). Jika dosen tidak secara aktif mempraktikkan empati, mahasiswa tidak akan merasakannya, dan motivasi akan tergerus.
Bagaimana komunikasi empatik diwujudkan secara intensional dalam perkuliahan daring? Studi oleh (Lawrence, 2018) memberikan jawaban yang selaras antara persepsi dosen dan mahasiswa. Dua perilaku utama yang diidentifikasi sebagai wujud caring secara online adalah:
1. Kehadiran (Presence)
Ini bukan sekadar menyalakan video. Ini adalah kehadiran komunikatif yang aktif, seperti merespons email dan forum diskusi secara tepat waktu (timely responses) dan berkomunikasi secara frekuen.
2. Umpan Balik (Feedback)
Ini adalah wujud “mendengarkan secara aktif” dalam konteks daring. Mahasiswa merasa diperhatikan ketika dosen memberikan umpan balik yang berkualitas tinggi dan dipersonalisasi, bukan sekadar nilai atau komentar umum.
Dosen yang menerapkan Empathic Approaach ini terbukti lebih efektif dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman, meningkatkan partisipasi mahasiswa , dan mampu mengenali tantangan yang dihadapi siswa.
Penelitian (Nensi, 2023) juga mengkonfirmasi bahwa mahasiswa sangat membutuhkan dosen yang sabar memberikan pemahaman, memahami kesulitan mahasiswa, dan memberikan ruang untuk berdiskusi, yang semuanya berkontribusi positif pada penyelesaian studi mereka.
Simpulan
Komunikasi empatik dosen berperan penting dalam meningkatkan motivasi belajar mahasiswa, baik dalam pembelajaran luring maupun daring. Pada pembelajaran luring, empati terwujud secara natural melalui interaksi langsung.
Sebaliknya, pembelajaran daring menuntut strategi empatik yang lebih intensional untuk mengatasi hambatan psikologis dan teknis. Kehadiran aktif dan umpan balik personal merupakan strategi empatik yang paling efektif dalam konteks daring.
Oleh karena itu, dosen perlu menyesuaikan pendekatan komunikasi sesuai dengan karakteristik modalitas pembelajaran agar dapat memenuhi kebutuhan psikologis mahasiswa dan meningkatkan motivasi belajar mereka.
Penulis:
- Aryo Dwika Pangestu
- Anggita Martha
- Ere Mardella Arbiani
- Haniyah Azzarah
- Sherin Syifa Yuswendya
Mahasiswa Teknik Sipil, Universitas Riau
Dosen Pengampu: Ere Mardella Arbiani
Referensi
Abubakar, F. (2015). Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antara Dosen dan Mahasiswa terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Akademik Mahasiswa. Jurnal Pekommas, 1(1), 18.
Alhanif, Y. S., Susilaningsih, & jaryanto. (2021). Yuqa Suhha Alhanif 1 , Susilaningsih 2 , dan Jaryanto 3. Pengaruh Kehadiran Sosial Pada Perkuliahan Daring Terhadap Kepuasan Belajar Mahasiswa. Tata Arta” UNS, 7(1), 74–87.
Anastasia Desmeria Br Ginting, Mutiara Ayudya, Putri Theresa Siagian, & Tania Simbolon. (2025). Peran Komunikasi Berbasis Empati dalam Meningkatkan Interaksi Guru dalam Mengajar. Jurnal Insan Pendidikan Dan Sosial Humaniora, 3(2), 30–38. https://doi.org/10.59581/jipsoshum-widyakarya.v3i2.4830
Anrial, Yansah, S., & Mulkati. (2022). Problematika Komunikasi Mahasiswa dan Dosen Pada Perkuliahan Daring di Masa Pendemi. Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab Dan Dakwah, 4(1), 75–92. https://doi.org/10.32939/ishlah.v4i1.193
Fitriani, N., Nikensari, S. I., & Handaru, A. W. (2023). COMPARISON OF THE EFFECTIVENESS OF OFFLINE AND ONLINE LEARNING. International Journal of Education and Social Science Research, 6(6), 117–126. https://doi.org/10.37500/IJESSR.2023.6608
Lawrence, A. J. (2018). Instructor Caring : Using Self- Determination Theory To Understand Perceptions , Measurement , and Impact of Instructor Caring on Motivation and Learning in Online Contexts.
Nensi, L. N. (2023). PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL DOSEN TERHADAP TINGKAT MOTIVASI MAHASISWA TAHAP PENYELESAIAN STUDI JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM UIN ALAUDDIN MAKASSAR. In Journal of Engineering Research (Vol. 10, Issue 1). Universitas Islam negeri Alauddin Makassar.
Pustikasari, A., & Fitriyanti, L. (2021). Stress dan Zoom Fatigue pada Mahasiswa Selama Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 13(1), 25–37. https://doi.org/10.37012/jik.v13i1.467
Rusdiawan, A., Irmawati, F., Fajar, M. K., & Ilmah, N. K. (2023). Perbandingan Tingkat Motivasi Belajar Mahasiswa S1 Pendidikan Jasmani Kesehatan Dan Rekreasi Dalam Pembelajaran Secara Online Maupun Offline. JOSSAE (Journal of Sport Science and Education), 7(2), 66–73. https://doi.org/10.26740/jossae.v7n2.p66-73
Ryan, R. M., & Edward L. Deci. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being.” American psychologist: 68. Journal of the Science of Food and Agriculture, 55(4), 1–68. https://doi.org/10.1037110003-066X.55.1.68
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












