Merdeka dari Cinta Dunia: Studi Kasus Kajian Tauhid di Masjid Daarut Tauhid, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

merdeka dari cinta dunia
Merdeka dari Cinta Dunia: Studi Kasus Kajian Tauhid di Masjid Daarut Tauhid, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sumber: MMI.

Merdeka dari Cinta Dunia

Merdeka dari cinta dunia bukan berarti meninggalkan dunia, tidak bekerja, atau hidup miskin. Tetapi artinya, hati tidak bergantung kepada dunia, namun tangan tetap bekerja untuk dunia.

Dunia dijadikan sebagai jembatan ke akhirat, bukan tujuan akhir.

Umar bin Khattab r.a. mempunyai wasiat yang dikutip dari Surah An-Nisa ayat 6 yang berbunyi:

وَبْتَلُ الْيَتَامَ إذَا بَلَغُ النِّكَاح

Pada ayat ini berisi perintah Allah kepada para wali untuk menguji kemampuan dan kecerdasan anak yatim dalam mengelola harta sebelum usia dewasa atau cukup umur menikah agar harta mereka dapat diserahkan secara adil dan amanah.

Anas bin Malik menyebutkan bahwa kita harus melewati jembatan jika balik ke rumahnya dan ini disebut dengan jembatan dunia. Sebagaimana kita harus sampai ke rumahnya, maka dia harus mengutamakan jembatan Allah untuk menggapai surga-Nya.

Zaid bin Tsabit meriwayatkan dalam hadis, “Barangsiapa yang mengutamakan cinta dunia atau tujuan dunia, maka sebagai berikut:

  1. Allah akan mencerai-beraikan urusannya.
  2. Menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya.

Dan bisa juga:

  1. Orang memberikan harta dunianya secara terus-menerus, maka ia sedekahkan kepada fakir miskin.
  2. Kepada orang yang dititipi ilmu.
  3. Dan ia tidak mendapatkan dunia-Nya jika Allah mengiringi harta-Nya.

Barangsiapa yang mengutamakan cinta akhirat atau negeri akhirat-Nya, maka:

  1. Allah akan mengumpulkan urusannya.
  2. Allah akan menjadikan kekayaan di hatinya sebagaimana dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syura: 20.
    مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ
    Yang artinya: Siapa yang menghendaki balasan di akhirat, akan Kami tambahkan balasan itu baginya. Siapa yang menghendaki balasan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (balasan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat.
    Maka dalam ayat ini dapat dikaitkan dengan Tafsir Wajiz yang menggambarkan bahwa Allah menggambarkan orang-orang yang membantah terjadinya Kiamat, sedangkan dalam ayat ini Allah menggambarkan keuntungan di akhirat bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat melalui amal-amal yang dilakukannya di dunia ini dengan niat yang ikhlas, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dengan melipatgandakan keuntungannya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia melalui usaha dan kegiatan yang semata-mata ingin mendapatkan keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari hasil usahanya itu berupa keuntungan dunia sesuai dengan kehendak Kami, tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat kelak.
  1. Dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.

Baca Juga: Menjemput Kemerdekaan Berpikir: Menakar Ulang Budaya Membaca Kita Hari Ini

Merdeka dari Ketergantungan kepada Makhluk

Menurut Aa Gym (KH Abdullah Gymnastiar), merdeka dari cinta dunia terutama ialah orang yang merdeka dengan julukan tauhid لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dan hamba yang tidak memikirkan jabatan tertinggi. Maka, jika kita ingin berharap kepada cinta akhirat:

  1. Banyak berharap dari makhluk. Jika kita ingin merdeka, maka LAA HAULAA WAA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH, tidak akan berbuat tamak jika kita berbuat kepada Allah.
  2. Milik Allah-lah semua yang ada di bumi ini dan nikmat Allah yang ada padamu.
  3. Semua tercantum pada Surah Qaf ayat 16 yang berbunyi:
    وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
    Dalam Tafsir Wajiz, pada ayat ini diterangkan bahwa Allah mengetahui apa yang dibisikkan oleh manusia dan tidak ada sesuatu pun yang samar atau tersembunyi bagi-Nya. Dan sungguh, Kami, yakni Allah dengan kuasa-Nya bersama ibu bapak yang dijadikannya sebagai perantara, telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, baik kebaikan maupun kejahatan, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Yakni Allah Maha Mengetahui keadaan manusia walau yang paling tersembunyi sekalipun.
  1. Stop dilatih jika dikagumi, dicintai, dan lainnya. Itu semuanya yang bikin sakit hati, dan Allah-lah yang membolak-balikkan hati manusia.
  2. Kalau tidak ada apa-apa selalu mencari kambing hitam, maka kita muhasabahlah yang terkandung dalam Surah Asy-Syura: 30 yang berbunyi:
    وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
    Pada ayat ini, Allah menyatakan bahwa musibah yang kamu peroleh adalah akibat perbuatanmu sendiri. Allah berfirman, “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu, kapan dan di mana pun, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Itu semua karena kecerobohan, kesalahan, dan kemaksiatan yang kamu lakukan sendiri, dan walaupun begitu, Allah tetap memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu itu.”
  3. Kembali kepada Allah dan syukuri apa yang ada dalam diri kita serta jangan membebani hidup kita dengan sesuatu yang belum terjadi.
  4. Kita bebani dengan ikhtiar dan jangan diperbudak terus dengan duniawi.
  5. Boleh senang dengan dunia, akan tetapi dunia ini milik Allah dan jangan menyombongkan diri kita terhadap dunia saja, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah tujuan akhirat.

Baca Juga: Pengalaman Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa dalam Menghadapi Gegar Budaya di Provinsi Jawa Barat (Studi Fenomenologi Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom)

Dunia sebagai Jembatan ke Akhirat

Dapat disimpulkan bahwa jadikan dunia ini sebagai jembatan saja dan sebagai alat, sebab merdeka dari cinta dunia adalah kemerdekaan yang paling hakiki. Karena selama hati masih terikat dunia, maka kita akan menjadi budak: budak jabatan, budak harta, budak penilaian manusia.

Sebaliknya, ketika hati hanya bergantung kepada Allah, maka dunia akan mengejar kita, bukan kita yang mengejar dunia.

Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib: “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.”

اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا ولا مبلغ علمنا

“Ya Allah jangan jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak ilmu kami.”


Penulis: Teuku Muhammad Fauzan Robbani, S.Li.
Mahasiswa Magister Ilmu Al Qur’an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Al-Fauzan, S. (2021). Fikih Kehidupan Muslim: Bahaya Cinta Dunia. Riyadh: Dar Ibnu Jauzi.

Al-Harawi, A. I. (2023). Madarij As-Salikin: Tangga Menuju Allah. Terj. Jakarta: Darus Sunnah.

Al-Baidhawi, M. (2020). Tafsir Al-Baidhawi: Tafsir Ayat-ayat tentang Dunia dan Akhirat. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Basalamah, S. (2023). Merdeka dari Perbudakan Dunia. Bogor: Pustaka At-Taqwa.

Rasyid, A. (2024). Qana’ah: Kunci Bahagia di Zaman Materialisme. Jakarta: Republika Penerbit.

Rahman, F. (2025). Peran Dakwah Tabligh Akbar dalam Menanamkan Sikap Zuhud di Masyarakat Urban. Jurnal Dakwah Islamiyah, 16(1), 77–93.

Nurhadi, A. (2025). Psikologi Zuhud: Ketenangan di Tengah Badai Dunia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

International Institute of Islamic Thought. (2024). Proceedings of Conference: Islamic Ethics in the Age of Consumerism. Herndon: IIIT Press.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses