Independent Student Exchange or often abbreviated as PMM is one of the MBKM programs in the form of a student exchange program for students in Indonesia to experience studying outside their home campus for one semester. This research aims to look at experiences, communication concepts, and meaning of intercultural communication among Telkom University Batch 2 Independent Student Exchange participants. This research uses a qualitative method with a constructivist approach. The subject studied were PMM2 TEL-U participants who experienced culture shock. The research results heading that culture and cultural shock are important things that every participant must go through from an early age and be directly involved in cultural learning. However, the participants who took part in this program considered that culture shock was just a form of feeling shocked when individuals were in a new environment. Although, culture shock covers all problems in various field because culture is an inseparable part of human life. In this research, researches discovered several concepts such as cultural differences, cultural learning, communicating challenge, environmental adaptation, and changes in attitudes and behavior. Communication carried out by participants uses verbal communication with good and correct use of Indonesian and understanding language differences. Meanwhile, non-verbally what is implemented is changes attitudes and behavior as a form of tolerance for cultural diversity and learn about the culture. Through this communication, participants understand the meaning of experience, especially in West Java province.
Keywords: Participant Communication Experience, Intercultural Communication, Culture Shock, Independent Student Exchange
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan salah satu inovasi dalam bidang pendidikan yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengambil peran, pengalaman, serta pembelajaran di luar kampus. Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk konversi nilai hingga 20 SKS serta mendapatkan fasilitas seperti biaya hidup per bulan selama mengikuti program MBKM tersebut. Untuk proses pencairan dana bantuan Kampus Merdeka, langsung melalui kerjasama antara Kemendikbud dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).
Merdeka Belajar Kampus Merdeka terdiri dari berbagai macam program yang sangat direkomendasikan untuk diikuti oleh mahasiswa di Indonesia. Hal ini dikarenakan mahasiswa tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga mahasiswa turut mempelajari kondisi lingkungan di sekitarnya, memberikan kontribusi yang berdampak, serta mampu bersaing di dunia kerja melalui proses revolusi industri 4.0. Dilansir dari website Kampus Merdeka Kemendikbud, terdapat beberapa program unggulan yang dapat diikuti oleh mahasiswa seperti Kampus Mengajar, Magang Merdeka, Studi Independen, Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Wirausaha Merdeka, Indonesian International Student Mobility Awards, Praktisi Mengajar, Bangkit by Google, GoTo, and Traveloka, dan Kementerian ESDM – GERILYA.
Berdasarkan Permendikbud RI no. 73 tahun 2013 tentang penerapan kerangka kualifikasi nasional Indonesia di bidang pendidikan yaitu terdapat beberapa ketentuan dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka yaitu antara lain seperti mahasiswa dibebaskan mengambil minimal 6 SKS mata kuliah di luar program studi, mahasiswa mengikuti beberapa kegiatan seperti magang, KKN tematik, kewirausahaan, dan studi independen, proses pembelajaran berfokus pada mahasiswa, dan lulusan program MBKM diharapkan mampu bersaing di dunia kerja serta mengetahui pengetahuan dasar secara teoritis.
Nadiem Makariem, selaku Menteri Pendidikan berpendapat bahwa tujuan dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka ini untuk memberikan kebebasan kepada mahasiswa serta seluruh civitas akademika untuk mencoba bidang di luar program studi serta menjadikan perguruan tinggi semakin menjadi tempat yang berkualitas dan berbadan hukum.
Berdasarkan buku Sosialisasi Pendaftaran Mahasiswa PMM Tahun 2023, terdapat enam elemen utama di dalam program ini yaitu seperti program pertukaran pelajar dilakukan berdasarkan antar pulau, terdapat pengakuan mata kuliah hingga 20 SKS, memungkinkan perpindahan mahasiswa PTN ke PTS dan begitu juga sebaliknya, program diikuti oleh mahasiswa semester 3, 5, dan 7, terdapat eksplorasi program melalui program Modul Nusantara, dan mekanisme pertukaran bersifat linear sarjana ke sarjana maupun yang vokasi juga demikian.
Pengalaman komunikasi merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan aspek komunikasi yang terdiri dari proses, simbol, makna, dan dorongan dari suatu hal (Moustakas, 1994: 44). Sedangkan menurut Hafiar (2012, 1966:308-309), pengalaman komunikasi merupakan segala sesuatu hal yang bisa menjadi sebuah pengalaman yang akan diingat oleh suatu individu.
Salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang menjadi perguruan tinggi tujuan dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yaitu Universitas Telkom. Kampus ini dikenal sebagai salah satu universitas terbaik yang ada di Indonesia. Kampus berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Pada seleksi PMM 2 tahun 2022 selalu, kampus ini membuka jumlah mahasiswa peserta sekitar 40 mahasiswa. Setelah program ini berjalan selama kurang lebih 4.5 bulan sejak bulan September 2022 hingga Januari 2023, Universitas Telkom berhasil menjalankan program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan kedua dengan total peserta yaitu 39 orang mahasiswa dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia.
Peneliti mengambil pengalaman komunikasi antar budaya dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat pada peserta pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Hal ini dikarenakan penerapan program MBKM khususnya pada program PMM Angkatan 2 dinilai sangat efektif walaupun dengan jumlah peserta yang sedikit. Selain itu, peneliti juga tertarik untuk menganalisis bagaimana pengalaman komunikasi antar budaya Pertukaran Mahasiswa Merdeka Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom. Di dalam penelitian ini, juga dilakukan berdasarkan hasil penelitian sebelumnya pada fokus pengalaman komunikasi lintas budaya yang sama. Hal yang menjadi perbedaan di dalam penelitian ini yaitu pada objek penelitian yaitu mahasiswa luar pulau Jawa berkuliah di Universitas Ciputra. Salah satu penelitian yang pernah membahas ini dari skripsi yang berjudul “Peran Komunikasi Lintas Budaya Terhadap Proses Adaptasi Mahasiswa Luar Pulau Jawa di Universitas Ciputra” oleh Maria Kartikawati Lado. Penelitian ini membahas mengenai bagaimana pengalaman komunikasi mahasiswa yang berasal dari luar pulau Jawa mengenai peran komunikasi lintas budaya selama mereka berkuliah di Universitas Ciputra. Program tersebut telah dilakukan selama 4,5 bulan yaitu dimulai pada akhir September 2022 hingga akhir Januari 2024. Program ini berlokasi di Universitas Telkom tepatnya pada daerah Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk merealisasikan salah satu program dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka yaitu PMM yang berfokus pada bidang pertukaran pelajar di tingkat nasional serta memberikan kesempatan bagi mahasiswa di seluruh Indonesia untuk menuntut ilmu di berbagai kampus yang ada di Indonesia. Selain itu, program ini merupakan kegiatan PMM pertama yang dilakukan secara offline di Universitas Telkom.
Berdasarkan observasi awal, peneliti menemukan pentingnya program Pertukaran Mahasiswa ini digelar karena para peserta dari kalangan mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Indonesia menyadari akan pentingnya meningkatkan pengalaman baik itu komunikasi antar budaya, komunikasi verbal, komunikasi non verbal, serta permasalahan dalam menghadapi gegar budaya tersebut. Para peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom merupakan mahasiswa-mahasiswa yang terpilih dalam seleksi Pertukaran Mahasiswa Merdeka. Para peserta tertarik memilih Universitas Telkom dalam pilihan perguruan tinggi tujuan PMM karena kampus ini merupakan salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) terbaik di Indonesia. Selain itu, di dalam program ini mahasiswa tidak hanya mengikuti perkuliahan secara akademik di kampus, namun juga mengikuti pembelajaran secara non akademik di luar kampus dengan mengikuti rangkaian Modul Nusantara seperti dengan mengikuti kegiatan kebhinekaan, inspirasi, refleksi, dan kontribusi sosial.
Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mampu menggugah semangat para peserta secara keseluruhan selama program ini berlangsung. Hal ini dikarenakan di dalam setiap bulannya, PMM mewajibkan setiap peserta untuk mengikuti rangkaian kegiatan dari Modul Nusantara. Program ini sendiri, mahasiswa banyak mempelajari bagaimana kebudayaan di provinsi Jawa Barat, mengikuti rangkaian forum group discussion bersama para tokoh yang berkompeten di bidangnya, evaluasi bersama mengenai kegiatan Modul Nusantara yang telah berlangsung, serta program pengabdian masyarakat di sekitar masyarakat Bandung. Selain itu, program ini juga mempererat hubungan persaudaraan dan persatuan antar peserta. Walaupun para peserta berasal dari berbagai provinsi di Indonesia yang notabenenya juga memiliki perbedaan kebudayaan, namun dengan program Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini mampu menyatukan berbagai perbedaan tersebut.
Budaya merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai rohani, moral, etika, dan keindahan suatu bangsa (Marzali, 2014: 256). Sedangkan kebudayaan dalam antropologi yaitu segala sesuatu yang menjadi dasar-dasar makna yang berkaitan secara kognitif, simbolik, struktural dan sistem adaptif (Marzali, 2016: 259). Gegar budaya merupakan suatu situasi dimana terjadinya gangguan secara fisik maupun psikis ketika individu berada lingkungan kebudayaan yang berbeda sehingga kebiasaannya selama di daerah asal tidak berarti di daerah baru tersebut (Ridwan, 2016: 199). Hal yang menarik yang dikaji dari gegar budaya ialah untuk melihat bagaimana pengalaman komunikasi mulai dari proses awal hingga akhir yang dilakukan oleh individu ketika berada di lingkungan yang baru.
Tantangan yang dihadapi oleh para mahasiswa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom ialah tantangan mengenai kesiapan mental untuk mampu berkuliah sementara di pulau Jawa serta selama mengikuti program ini peserta harus mampu untuk tinggal berjauhan dengan keluarga mereka. Kemudian, tantangan selanjutnya yang dihadapi oleh mahasiswa luar pulau Jawa yaitu tantangan mengenai adaptasi terhadap lingkungan tempat tinggal, lingkungan kampus, maupun budaya. Berdasarkan, tantangan-tantangan yang terjadi tersebut berdampak secara sosio-psikologis. Hal ini dikarenakan para peserta PMM2 Tel-U yang keseluruhannya berasal dari pulau Jawa mengalami stress akulturasi yang dimana dapat berhubungan langsung dengan proses adaptasi yang mereka lakukan (Nugraha, 2018).
Salah satu fenomena gegar budaya yang sering terjadi pada mahasiswa Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu perbedaan bahasa. Hal ini disebabkan karena para peserta tersebut berasal dari luar pulau Jawa. Di dalam melaksanakan program ini, setiap peserta diberikan fasilitas asrama kampus serta memberikan pembagian nama peserta pada setiap kamar. Di dalam penentuan ini, pihak kampus memang sengaja memasukkan mahasiswa yang berbeda asal PT (Perguruan Tinggi). Hal ini yang menjadi tantangan bagi mahasiswa tersebut untuk saling berkomunikasi. Dengan adanya perbedaan penggunaan bahasa dari setiap daerah di Indonesia, menuntut mereka untuk beradaptasi. Keseluruhan 39 peserta tersebut, sebagian besar mengalami gegar budaya dalam penggunaan bahasa. Peserta-peserta tersebut kerap masih terbiasa dengan dialek bawaan dari bahasa daerah masing-masing. Di antara para peserta tersebut mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri selama berkuliah di Universitas Telkom. Bahkan, kesulitan untuk menjalin komunikasi dengan para mahasiswa yang sudah menjadi mahasiswa asli di Universitas Telkom. Fenomena ini menyebabkan sebagian peserta kebingungan dalam mengerjakan tugas secara berkelompok dengan mahasiswa lain sehingga kesulitan dalam mengerjakan beberapa tugas kelompok yang diberikan oleh dosen di instansi tersebut.
Kemudian, fenomena gegar budaya yang dialami oleh peserta dalam program PMM2 Universitas Telkom yaitu pada permasalahan agama, tepatnya ketika melakukan kunjungan suatu daerah di Ciparay, Jawa Barat. Daerah tersebut terdapat perkampungan khusus yang menganut aliran kebatinan perjalanan. Ketika melakukan kunjungan tersebut, peserta mengalami proses gegar budaya berupa ilmu pengetahuan, sejarah, kurikulum pembelajaran, prosesi ibadah serta bentuk pemakaman dari aliran kepercayaan tersebut. Para peserta terkejut bahwa aliran keagamaan tersebut belum diakui secara resmi oleh Kementerian Agama. Namun, termasuk ke dalam bentuk warisan budaya yang ada di tanah Sunda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupa adanya kurikulum sekolah terkait pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang terdiri dari sejarah, budi pekerti, keagungan Tuhan, martabat spiritual, serta larangan dan kewajiban. Hal ini membuat masyarakat penganut aliran tersebut memiliki dua jenis Kartu Tanda Penduduk (KTP) yaitu KTP dengan kepercayaan agama hindu dan KTP dengan kepercayaan aliran kebatinan. Hal inilah yang menjadi keunikan tersendiri pada aliran tersebut sehingga membuat para peserta pada waktu itu baru mengetahui informasi terkait kepercayaan tersebut.
Selain itu, fenomena gegar budaya yang dihadapi oleh para peserta pada program tersebut seperti adanya perbedaan pandangan terhadap beberapa peserta PMM2 TEL-U yang lain terkait suku tertentu. Para peserta beranggapan bahwa pandangan awal mereka terhadap beberapa suku yang ada di Indonesia itu akan sama dengan setelah mengikuti kegiatan. Namun, setelah mengikuti kegiatan secara langsung, para peserta menemukan keunikan tersendiri baik itu peserta yang berasal Aceh, Padang, Medan, Manado, Makassar, hingga Ambon. Hal ini membuat semakin kuatnya hubungan persaudaraan yang kuat karena pada saat itulah, para peserta harus dituntut untuk mampu beradaptasi dan berkomunikasi dengan peserta yang lain berbeda kebudayaan.
Para peserta PMM2 Universitas Telkom kerap mengalami gegar budaya ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti berkurangnya kemampuan dalam bersosialisasi serta kurangnya kemampuan dalam berkomunikasi. Lalu, faktor yang mendukung fenomena ini yaitu perbedaan latar belakang budaya antar peserta serta karakter dari setiap individu dalam melakukan kegiatan toleransi dan mandiri pada saat tidak tinggal bersamaan lagi dengan keluarga terdekat (Nugraha, 2018: 2-5).
Ketika suatu individu berada pada lingkungan baru, memang hal wajar jika mengalami kegelisahan, ketakutan, dan terkadang munculnya sikap kurang percaya diri. Hal ini dikarenakan bahwa gegar budaya merupakan respon alamiah manusia ketika berada pada tempat yang baru (Ridwan, 2016: 200). Untuk menghadapi fenomena tersebut, tentu ada beberapa tahapan yang dialami individu agar mampu bertahan hidup seperti memiliki ekspektasi yang besar terhadap budaya, menjalani kebudayaan tersebut dengan penuh suka cita, individu mengalami beberapa gangguan dalam menghadapi kebudayaan berbeda, dan akhirnya terbiasa akan perubahan tersebut (Ridwan, 2016: 201). Hal inilah nanti berkaitan langsung mengenai konsep yang lahir dari fenomena tersebut seperti perbedaan budaya, belajar budaya, tantangan komunikasi, adaptasi lingkungan, serta perubahan sikap dan perilaku.
Hal ini juga didukung bahwa hubungan antara komunikasi dengan budaya yaitu membentuk suatu hubungan yang timbal balik dan berpengaruh antara satu sama lain. Komunikasi memiliki peran terpenting dalam mengatasi segala permasalahan terhadap dari banyaknya perbedaan budaya (Mellani, 2017: 192-193). Selain itu, komunikasi lintas budaya sendiri dapat terjadi oleh setiap institusi pendidikan manapun yang di dalamnya terdiri dari kumpulan individu yang berbeda budaya (Samovar, Porter, & McDaniel, 2014).
Berdasarkan observasi awal penulis terhadap topik penelitian mengenai pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta yang telah mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka ini bersifat baru serta masih sedikit penelitian khususnya pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka. Padahal, program MBKM ini sudah dimulai sejak tahun 2020 dan banyak memiliki manfaat baik itu bagi mahasiswa maupun bagi perguruan tinggi. Salah satu manfaatnya ialah dapat meningkatkan kualitas pendidikan serta menambah pengalaman bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar kampus Selain itu, pada saat ini program MBKM, merupakan salah satu rekomendasi kegiatan yang bisa diikuti oleh mahasiswa untuk meningkatkan prestasi akademik dan non akademik serta bisa menjadi pertimbangan bagi mahasiswa baru untuk mengikuti berbagai macam rangkaian program Kampus Merdeka. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui dan meneliti bagaimana “Pengalaman Komunikasi Antar Budaya pada Mahasiswa Dalam Menghadapi Gegar Budaya di Provinsi Jawa Barat (Studi Fenomenologi Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom)”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka didapatkan rumusan masalah pada penelitian ini yaitu “Bagaimana pengalaman komunikasi peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat?”
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
- Menjelaskan pengalaman komunikasi antar budaya peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat.
- Menemukan konsep-konsep komunikasi dari pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta yang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat.
- Menginterpretasikan makna dari pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta yang mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Teoritis
- Penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi yang ingin mempelajari lebih dalam tentang Komunikasi Antar Budaya dan Gegar Budaya.
- Penelitian ini diharapkan menjadi acuan teoritik dalam pendidikan mengenai program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Indonesia.
- Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya.
1.4.2 Manfaat Praktis
- Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi mahasiswa dalam melakukan komunikasi dengan berbagai perbedaan kebudayaan yang bertujuan untuk memberikan edukasi bahwa pentingnya mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka.
- Penelitian ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam menghadapi perbedaan budaya dalam mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka.
- Penelitian ini diharapkan dapat menambah variasi dalam masalah-masalah komunikasi antar budaya dan gegar budaya khususnya dalam hal Pertukaran Mahasiswa Merdeka.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan peneliti merupakan penelitian yang menjadi rujukan bagi peneliti berdasarkan tujuan penelitian serta topik penelitian yang akan diambil. Penelitian yang menjadi referensi berasal dari penelitian terdahulu agar menjadi bahan perbandingan dan acuan dalam melakukan penelitian. Selain itu, dengan adanya beberapa penelitian tersebut bisa menjadi bahan pertimbangkan dalam menemukan analisis dari suatu penelitian.
Sebagai bahan rujukan di dalam penelitian, peneliti menjadikan beberapa penelitian sebelumnya dengan topik yang sama. Namun, peneliti menyajikan dengan objek yang berbeda sehingga nantinya penelitian yang dihasilkan berbeda dengan penelitian sebelumnya. Kegiatan ini dilakukan berdasarkan kegiatan telaah pustaka dengan topik pembahasan yang hampir sama. Berikut beberapa penelitian terdahulu yang menjadi bahan rujukan bagi peneliti di dalam penelitian ini, antara lain :
Pertama, pada Skripsi Jurusan Marketing Communication International Business Management Universitas Ciputra tahun 2019 yang ditulis oleh Maria Kartikawati Lado. Penulis merupakan salah satu mahasiswa Marketing Communication International Business Management Universitas Ciputra. Skripsi ini berjudul “Peran Komunikasi Lintas Budaya Terhadap Proses Adaptasi Mahasiswa Luar Pulau Jawa di Universitas Ciputra”. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk menganalisis pengalaman komunikasi lintas budaya mahasiswa yang berasal dari luar pulau Jawa yang berkuliah di Universitas Ciputra. Metode yang digunakan di dalam penelitian tersebut yaitu dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi deskriptif dan paradigma konstruktivisme untuk menjelaskan data-data baik itu data primer maupun data sekunder. Hasil penelitian dari skripsi ini ialah Mahasiswa luar pulau Jawa yang berkuliah di Universitas Ciputra memiliki peran dalam proses adaptasi.
Kedua, pada Jurnal Mahasiswa Komunikasi. Dengan volume 3 no. 1 tahun 2023 yang ditulis oleh Chhivly Freslialdo, Ferly Tanggu Hana, dan Maria Yulita Nara. Penulis merupakan peneliti yang berasal dari Universitas Nusa Cendana. Jurnal ini berjudul “Pengalaman Komunikasi Antar Budaya Peserta Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka”. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk menganalisis sejauh mana pengalaman komunikasi antar budaya yang diterapkan oleh peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang berasal dari Universitas Nusa Cendana. Hasil penelitian dari jurnal ini ialah peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka mengalami beberapa proses pengalaman komunikasi antar budaya berupa adaptasi dalam mempelajari bahasa, berani melakukan komunikasi, dan membuka diri, melakukan kebiasaan setempat.
Ketiga, pada Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB yang diterbitkan tahun 2020 yang ditulis oleh Normadiyanah, Sanusi, dan Shen Shadiqien. Penulis merupakan mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi. Jurnal ini berjudul “Peran Komunikasi Lintas Budaya Dalam Fungsi Sosial (Studi Kasus Alumni Mahasiswa Pertukaran Pelajar Uniska Banjarmasin Tahun 2019)”. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk mengetahui bagaimana peran komunikasi lintas budaya di lingkungan masyarakat baru dan faktor pendukung maupun faktor penghambat terjalinnya keberfungsian sosial dalam Komunikasi Lintas Budaya. Hasil penelitian dari jurnal ini ialah mahasiswa pertukaran pelajar lebih cenderung mengalami perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan dalam melakukan interaksi dalam menjalankan fungsi sosial.
Keempat, pada Jurnal Politikom Indonesia: Kajian Ilmu Pemerintahan, Ilmu Politik, dan Ilmu Komunikasi. Dengan volume 5 no. 1 tahun 2020 yang ditulis oleh Jefriyanto, Mayasari, Fardiah Oktariani Lubis, dan Kusrin. Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Kerawang. Jurnal ini berjudul “Culture Shock dalam Komunikasi Lintas Budaya pada Mahasiswa”. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk menganalisis tahapan culture shock yang dihadapi oleh mahasiswa etnis Minangkabau pada komunitas Ikatan Mahasiswa Minangkabau Universitas Singaperbangsa Kerawang serta hambatan komunikasi dalam lintas budaya. Hasil penelitian dari jurnal ini ialah Tahapan culture shock yang dihadapi oleh mahasiswa etnis Minangkabau pada komunitas Ikatan Mahasiswa Minangkabau Universitas Singaperbangsa Karawang dan hambatan yang dialami komunitas lintas budaya.
Kelima, pada Journal Riset Public Relation. Dengan volume 1 no. 1 tahun 2021 yang ditulis oleh Daulat Ilmi Maldani dan Erik Setiawan. Penulis merupakan mahasiswa magister yang berasal dari Universitas Islam Bandung. Jurnal ini berjudul “Pengalaman Komunikasi Lintas Budaya Mahasiswa Undergraduate Indonesia di Belanda”. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk menguraikan cara apa saja yang dapat dilakukan untuk pengalaman komunikasi lintas budaya serta makna komunikasi lintas budaya bagi mahasiswa sarjana (S1) Indonesia yang berkuliah di negeri kincir angin, Belanda. Hasil penelitian dari jurnal ini ialah pengalaman komunikasi pada mahasiswa undergraduate yang berkuliah di Belanda Peneliti membahas berbagai pernyataan makna yang terbentuk dari pernyataan mengenai komunikasi lintas budaya di Belanda.
Tabel 1 Penelitian Relevan
| No. | Nama | Judul/Tahun | Hasil Penelitian | Persamaan/
Perbedaan |
| 1. | Maria Kartikawati Lado
(Skripsi Jurusan Marketing Communication International Business Management Universitas Ciputra ) |
Peran Komunikasi Lintas Budaya Terhadap Proses Adaptasi Mahasiswa Luar Pulau Jawa di Universitas Ciputra (2019). |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa :
Mahasiswa luar pulau Jawa yang berkuliah di Universitas Ciputra memiliki peran dalam proses adaptasi. Mereka dapat melakukan komunikasi dengan baik dan memperoleh berbagai prestasi di bidang akademik maupun non akademik. Hal ini dikarenakan mereka menerapkan dengan baik mengenai komunikasi lintas budaya itu sendiri. |
Persamaan dari penelitian ini ialah menganalisis pengalaman komunikasi antar budaya.
Perbedaan dari penelitian ini ialah objek penelitian yang digunakan berbeda yaitu menggunakan mahasiswa luar pulau Jawa yang mengikuti perkuliahan di Universitas Ciputra. |
| 2. | Chhivly Freslialdo, Ferly Tanggu Hana, dan Maria Yulita Nara
( Jurnal Mahasiswa Komunikasi ) |
Pengalaman Komunikasi Antar Budaya Peserta Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (2023). | Hasil penelitian menunjukkan bahwa :
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka mengalami beberapa proses pengalaman komunikasi antar budaya berupa adaptasi dalam mempelajari bahasa, berani melakukan komunikasi, membuka diri, melakukan kebiasaan setempat. Kemudian, dilanjutkan dengan membangun relasi melalui perkenalan langsung, perkenalan dengan bantuan media sosial media menawarkan bantuan. Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari peserta, sehingga dapat menjadi salah satu lompatan dan inovasi yang penting bagi pengalaman komunikasi antar budaya yang dilakukan oleh peserta PMM yang berasal Universitas Nusa Cendana. Persepsi positif merupakan instrumen penting setiap pelaksanaan pengalaman komunikasi. Selain itu, program PMM juga memberikan pengalaman komunikasi berupa faktor pendukung dan penghambat komunikasi, intensitas komunikasi serta motif peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka. |
Persamaan dari penelitian ini ialah menganalisis pengalaman komunikasi.
Perbedaan dari penelitian ini ialah inti pembahasan penelitian yang dilakukan Perguruan Tinggi (PT) tujuan yang berbeda yaitu mengenai pengalaman komunikasi pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka dari Universitas Nusa Cendana. |
| 3. | Normadaniyah, Sanusi, dan Shen Shadiqien
(Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB) |
Peran Komunikasi Lintas Budaya Dalam Fungsi Sosial (Studi Kasus Alumni Mahasiswa Pertukaran Pelajar Uniska Banjarmasin Tahun 2019
(2020). |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Mahasiswa pertukaran pelajar lebih cenderung mengalami perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan dalam melakukan interaksi dalam menjalankan fungsi sosial. Diperlukannya persiapan sarana teknis yang memadai dan bahasa asing atau daerah setempat yang harus dikuasai. |
Persamaan dari penelitian ini ialah menganalisis pengalaman komunikasi antar budaya.
Perbedaan dari penelitian ini ialah objek penelitian yang digunakan berbeda yaitu menggunakan mahasiswa pertukaran pelajar Uniska Banjarmasin pada tahun 2019. |
| 4. | Jefriyanto, Mayasari, Fardiah Oktariani Lubis, dan Kusrin
(Jurnal Politikom Indonesiana: Kajian Ilmu Pemerintahan, Ilmu Politik, dan Ilmu Komunikasi) |
Culture Shock dalam Komunikasi Lintas Budaya pada Mahasiswa
(2020). |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa :
Tahapan culture shock yang dihadapi oleh mahasiswa etnis Minangkabau pada komunitas Ikatan Mahasiswa Minangkabau Universitas Singaperbangsa Karawang dan hambatan yang dialami komunitas lintas budaya. |
Persamaan dari penelitian ini ialah menganalisis pengalaman komunikasi antar budaya.
Perbedaan dari penelitian ini ialah inti pembahasan mengenai pengalaman komunikasi antar budaya pada mahasiswa etnis Minangkabau pada komunitas Ikatan Mahasiswa Minangkabau Universitas Singaperbangsa Karawang.. |
| 5. | Daulat Ilmi Maldani dan Erik Setiawan
(Journal Riset Public Relation) |
Pengalaman Komunikasi Lintas Budaya Mahasiswa Undergraduate Indonesia di Belanda (2021). | Hasil penelitian menunjukkan bahwa :
Pada hasil dan pembahasan, peneliti tersebut menjelaskan apa saja yang dapat dilakukan untuk menjalankan pengalaman komunikasi pada mahasiswa undergraduate yang berkuliah di Belanda Peneliti membahas berbagai pernyataan makna yang terbentuk dari pernyataan mengenai komunikasi lintas budaya di Belanda. |
Persamaan dari penelitian ini ialah menganalisis pengalaman komunikasi.
Perbedaan dari penelitian ini ialah inti pembahasan mengenai pengalaman komunikasi pelajar undergraduate Indonesia yang berkuliah di Belanda. |
Sumber : Data Olahan Peneliti, 2023
2.2 Kerangka Konseptual
2.2.1 Komunikasi Antarbudaya
Menurut E.T Hall dalam Ridwan (2010: 25), budaya merupakan komunikasi serta komunikasi merupakan budaya. Budaya merupakan segala sesuatu yang menunjukkan simbol khas baik itu dari segi bahasa, gesture, maupun pakaian yang dijadikan sebagai bentuk refleksi budaya yang ditonjolkan. Samovar dan Porter (1976:4) berpendapat bahwa komunikasi antar budaya adalah proses pertukaran informasi yang terjadi pada latar belakang budaya yang berbeda antara pihak yang menjadi sumber pemberi pesan kepada pihak yang menjadi sumber penerima. Kemudian, komunikasi antar budaya ialah jenis komunikasi yang melibatkan komunikator dan komunikan yang berbeda budaya (Mulyana, 2014: 20). Secara umum, komunikasi antar budaya merupakan segala seluruh kegiatan komunikasi yang dimana di setiap kebudayaan tersebut memiliki ciri khas kebudayaan yang unik sehingga menghasilkan identitas, cara pandang, dan cara berpikir yang berbeda pula.
Menurut Liliweri (2001: 24), menyatakan bahwa terdapat tujuh proses dari komunikasi antarbudaya yaitu:
- Komunikator-komunikator dalam komunikasi antarbudaya merupakan pihak yang menjadi pemimpin dalam proses komunikasi.
- Komunikan-komunikan dalam komunikasi antarbudaya merupakan pihak yang menjadi penerima segala informasi atau pesan yang disampaikan oleh komunikator-komunikator.
- Pesan-pesan dalam komunikasi antarbudaya merupakan intisari yang menjadi penentu dalam proses komunikasi.
- Media dalam komunikasi antarbudaya merupakan tempat yang menghubungkan proses komunikasi antara komunikator-komunikator dengan komunikan-komunikan.
- Efek dan umpan balik dalam komunikasi antarbudaya merupakan segala sesuatu hal yang diharapkan untuk memperoleh hasil respon dari setiap unsur komunikasi serta bertujuan untuk mendapatkan tanggapan yang bisa mempengaruhi orang lain,
- Suasana dalam komunikasi antarbudaya merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat, waktu, dan suasana terjadinya proses komunikasi,
- Gangguan dalam komunikasi antarbudaya merupakan segala sesuatu yang menjadi faktor penghambat dari proses komunikasi.
2.2.1.1 Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal merupakan segala sesuatu bentuk komunikasi yang berbentuk tulisan maupun dalam bentuk tertulis (Hardjana, 2003: 22-24). Lalu, terdapat dua unsur penting dalam komunikasi verbal, yaitu sebagai berikut.
- Bahasa, ialah salah satu pusat terbesar yang menjadi penentu dalam pembagian makna. Pada komunikasi verbal, bahasa yang digunakan dapat berupa bahasa lisan, tertulis pada media kertas maupun elektronik. Bahasa berasal dari kumpulan beberapa hubungan antar manusia dengan manusia lainnya.
- Kata, ialah salah satu pusat terkecil yang menjadi perwakilan suatu hal. Yang dimana perwakilan tersebut mewakili suatu kejadian maupun keadaan. Kata tidak berhubungan langsung dengan manusia. Namun, berhubungan langsung dengan pikiran manusia.
Komunikasi verbal ialah jenis komunikasi yang bertujuan untuk membentuk untuk menciptakan suatu keharmonisan sosial (Mulyana, 2012: 204). Lalu komunikasi verbal terjadi sebagai bentuk pemahaman dari suatu makna oleh individu (Budyatna, 2015: 26). Ridwan (2016: 156), berpendapat bahwa komunikasi verbal dan komunikasi non verbal digunakan oleh individu untuk melakukan adaptasi dengan lingkungan barunya. Hal ini disebabkan karena keduanya menggunakan lambang atau simbol, dihasilkan oleh individu tertentu yaitu manusia, dan individu yang menginterpretasikan pesan tersebut.
2.2.1.2 Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non verbal merupakan segala bentuk komunikasi yang berbentuk kata-kata (Hardjana, 2003: 27-29). Komunikasi jenis ini merupakan salah satu jenis komunikasi yang sering digunakan oleh manusia. Selain itu komunikasi non verbal terdiri dari beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut.
- Tanda, ialah salah satu bagian dari komunikasi non verbal yang dimana tanda mampu menggantikan kata-kata seperti rambu lalu lintas dan bendera.
- Objek, ialah salah satu bagian dari komunikasi non verbal yang dimana objek mampu menyampaikan suatu informasi seperti pakaian, aksesoris, dan kendaraan.
- Tindakan, ialah satu bagian dari komunikasi non verbal yang dimana tindakan mampu menggantikan kata serta mengantarkan sebuah makna seperti membantingkan pintu ketika keluar rumah.
Bahasa tubuh, ialah salah satu bagian dari komunikasi non verbal yang dimana bahasa tubuh mampu mengungkapkan isi hati maupun pikiran seseorang pada saat berkomunikasi seperti raut wajah, gerakan kepala, dan gerakan tangan Komunikasi non verbal ialah salah faktor penentu yang membuat orang lain merasa tertarik dengan perilaku suatu individu (Mulyana, 2019: 235). Lalu, komunikasi non verbal berperan sebagai penentu untuk melakukan suatu tindakan (Budyatna, 2015: 27). Menurut Ridwan (2016: 157), komunikasi non verbal sangat menentukan keberhasilan proses kebudayaan. Hal disebabkan oleh dua alasan. Pertama, kebudayaan melambangkan perilaku dari komunikasi non verbal itu sendiri seperti pemikiran, perasaan, serta kondisi dari pihak yang menyampaikan pesan atau komunikator. Kedua, kebudayaan merupakan cara yang tepat untuk menyampaikan komunikasi non verbal itu sendiri yang bersifat universal serta melibatkan waktu, pelaku, dan tempat untuk menyalurkan proses-proses komunikasi.
Ridwan (2016: 157), menjelaskan bahwa terdapat tiga kunci kesuksesan komunikasi antar budaya ketika menerapkan komunikasi non verbal yaitu dapat mengetahui sikap dasar kebudayaan, memberikan informasi mengenai kebudayaan, serta menekan rasa etnosentrisme atau sikap merasa kebudayaan daerahnya yang lebih baik.
2.2.2 Pengalaman Komunikasi
Menurut Moustakas (1994: 44), pengalaman komunikasi merupakan segala sesuatu yang pernah dialami oleh setiap individu yang memberikan individu tersebut banyak ilmu pengetahuan. Sedangkan menurut Schutz dalam Moustakas (1966: 56), pengalaman komunikasi merupakan kumpulan dari beberapa kejadian yang pernah dilalui oleh manusia berupa pengetahuan yang nantinya menimbulkan banyak pemaknaan di dalamnya. Lalu, Radford dalam Moustakas (2005: 151) mengatakan bahwa pengalaman komunikasi merupakan segala pengalaman yang dialami oleh individu dalam suatu fenomena. Sedangkan menurut Chatra (2023: 3), pengalaman komunikasi adalah suatu fenomena yang dialami oleh manusia yang pada hakikatnya terdiri dari proses komunikasi intra-pribadi, antar-pribadi, dan kelompok yang mampu memberikan dampak yang berbeda-beda pada setiap individu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pengalaman komunikasi adalah segala sesuatu proses atau kegiatan yang pernah dialami oleh manusia di masa hidupnya sehingga memberikan kesan dan makna yang mendalam berdasarkan fenomena dan perspektif individu tersebut.
2.2.3 Hambatan Komunikasi
Menurut Tatang (2016: 97), terdapat empat faktor yang menjadi penghambat komunikasi, yaitu sebagai berikut.
Hambatan Sosiologis, Antropologis, dan Psikologis
- Hambatan Sosiologis: Hambatan sosiologis merupakan segala sesuatu yang menjadi penghambat komunikasi yang dimana terdapat perbedaan golongan, agama, ideologi, pendidikan, kekayaan, dan lapisan.
- Hambatan Antropologis: Hambatan antropologis merupakan segala sesuatu yang menjadi penghambat komunikasi yang dimana tidak mengenal komunikan yang menjadi sasaran baik itu dari segi ras, bangsa, maupun suku.
- Hambatan Psikologis: Hambatan psikologis merupakan segala sesuatu yang menjadi penghambat komunikasi yang dimana komunikasi terkendala jika sepenuhnya melibatkan emosional seperti sedih, bingung, marah, kecewa, dan lain-lain.
Hambatan Semantis
Hambatan semantis merupakan segala sesuatu yang menjadi penghambat komunikasi yang dimana terjadinya kesalahan pengucapan, penulisan sehingga mengakibatkan kesalahpahaman.
Hambatan Mekanis
Hambatan mekanis merupakan segala sesuatu yang menjadi penghambat komunikasi yang dimana terjadinya kesalahan cetak pada ketikan huruf yang buram atau suara telepon yang samar-samar.
Hambatan Ekologis
Hambatan ekologis merupakan segala sesuatu yang menjadi penghambat komunikasi yang dimana terjadinya gangguan pada lingkungan pada saat berlangsungnya proses komunikasi seperti kebisingan suara.
2.2.4 Gegar Budaya (Culture Shock)
Mulyana (2001: 171) berpendapat bahwa gegar budaya merupakan suatu proses yang dialami oleh individu yang memiliki kecemasan terhadap perubahan sosial yang terjadi di lingkungan baru yang ditempatinya sehingga individu tersebut merasa belum memiliki banyak pengetahuan mengenai kebiasaan yang terjadi di lingkungan tersebut. Sedangkan, Adler (1975) dalam Mulyana (2001: 171) berpendapat bahwa gegar budaya adalah proses perubahan secara emosional yang dihadapi oleh individu tertentu karena terjadi ketidakpahaman akan budaya baru yang tidak sesuai dengan budaya sebelumnya yang dihadapi oleh individu tersebut. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa gegar budaya adalah suatu fenomena sosial yang umum dialami oleh manusia ketika dirinya berada pada lingkungan dan masyarakat yang baru sehingga individu tersebut perlu memahami kembali bagaimana kondisi sosial pada daerah baru yang dikunjungi.
Menurut Dodd dalam Ridwan (2016: 201), terdapat empat tahapan yang terjadi dalam fenomena gegar budaya yaitu:
- Harapan Besar (Eager Expectations): Pada tahapan pertama ini, individu memasuki lingkungan yang baru yang didukung rasa optimis yang tinggi serta juga diikuti dengan perasaan gelisah yang dihadapi oleh individu tersebut.
- Semua Begitu Indah (Everything Is Beautiful): Pada tahapan kedua ini, individu memasuki fase yang dimana memiliki perasaan senang dan bahagia dengan kondisi lingkungan baru yang dihadapi.
- Semua Tidak Menyenangkan (Everything Is Awful): Pada tahapan ketiga ini, individu mengalami ketidaknyamanan terhadap konflik yang terjadi pada lingkungan yang baru ditempatinya sehingga individu tersebut merasa stress dan depresi.
- Semua Berjalan Lancar (Everything Is Okay): Pada tahapan akhir ini, individu menghadapi perasaan yang nyaman kembali karena sudah menerima permasalahan tersebut dari sisi positif serta berusaha untuk berbaur dan menjadi bagian dari masyarakat di lingkungan tersebut.
2.2.5 Merdeka Belajar Kampus Merdeka
Dikutip dari website resmi Kampus Merdeka Kemendikbud, MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) merupakan salah satu bentuk brand pendidikan yang diciptakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Program ini sudah berjalan sejak tahun 2020 di saat Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Program MBKM ini dicanangkan langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makariem. Program tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi seluruh mahasiswa di Indonesia untuk mengambil kesempatan melakukan kegiatan di luar kampus. Kegiatan yang ditawarkan sangat beragam mulai dari program kegiatan mengajar ke beberapa sekolah, pertukaran pelajar tingkat nasional maupun internasional, magang berbayar, kursus, pengabdian masyarakat, dan KKN tematik di wilayah 3T ( Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Keseluruhan program tersebut dapat diikuti secara gratis dan dibiayai langsung oleh pemerintah dengan berbagai proses terlebih dahulu.
Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka pada saat ini menjadi tren terkini di kalangan mahasiswa. Semakin banyaknya mahasiswa yang mencoba mendaftarkan diri di dalam program ini serta semakin banyaknya alumni dari program MBKM ini semakin sukses di dunia akademik maupun non akademik setelah mengikuti program ini. Hal ini disebabkan karena manfaat yang dirasakan oleh mahasiswa ini tidak hanya sekedar pengakuan atau konversi SKS hingga 20 SKS saja. Namun, juga banyak mahasiswa yang berpendapat bahwa program ini mendorong para pesertanya untuk mengasah keahlian yang nantinya dibutuhkan di dalam dunia kerja nantinya. Selain itu, program MBKM memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti program ini maksimal dua jenis kegiatan yang berbeda dalam semester perkuliahan yang berbeda. Potensi inilah menjadi daya tarik utama dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka lebih banyak diminati oleh mahasiswa di Indonesia pada saat ini.
2.2.6 Pertukaran Mahasiswa Merdeka
PMM atau kependekan dari Pertukaran Mahasiswa Merdeka yaitu merupakan salah satu program dari MBKM yang bergerak pada bidang pertukaran pelajar tingkat nasional. Pada program ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk merasakan perkuliahan di luar kampus di luar provinsi domisilinya. Misalnya, siswa tersebut berasal dari provinsi Sumatera Barat, maka ia diperbolehkan untuk memilih perguruan tinggi tujuan di luar pulau Sumatera. Program tersebut nantinya dilakukan selama empat bulan. Di dalam kegiatan ini mahasiswa mengikuti perkuliahan di luar perguruan tinggi asal.
Salah satu yang membedakan program Pertukaran Mahasiswa Merdeka dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang lainnya yaitu terletak pada program Modul Nusantara. Program ini merupakan suatu proses rangkaian kegiatan yang terdiri dari kegiatan kebhinekaan, inspirasi, refleksi, dan kontribusi sosial yang dilakukan secara berurutan dan berulang. Total kegiatan Modul Nusantara di dalam program PMM berjumlah 16 kegiatan.
Berdasarkan buku panduan pendaftaran PMM tahun 2023, manfaat yang akan diberikan kepada mahasiswa yang terpilih di dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yaitu antara lain seperti mendapatkan pengalaman terbaru mengenai nilai-nilai kebhinekaan, memperkuat jalinan pertemanan serta adat istiadat, berkembangnya kemampuan soft skill, kesempatan untuk mengambil mata kuliah di luar program studi saat berada di PT asal, pengakuan mata kuliah hingga 20 SKS, mendapatkan sertifikat elektronik peserta PMM di tingkat nasional, dan mahasiswa mendapatkan bantuan biaya penuh selama satu semester selama mengikuti program PMM.
2.2.7 Mahasiswa Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom
Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka membuka sejumlah pendaftaran di beberapa PTN (Perguruan Tinggi Negeri) maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di seluruh penjuru Indonesia. Salah satu perguruan tinggi yang menjadi PT Penerima PMM yaitu Universitas Telkom. Universitas Telkom sendiri sudah membuka program mahasiswa inbound sebanyak empat kali periode. Periode pertama yaitu tepatnya pada program PMM angkatan pertama yang dilakukan secara online karena situasi pandemi Covid-19. Kemudian, pada periode angkatan kedua, ketiga, dan keempat dilakukan secara offline. Pada program PMM 2 (Pertukaran Mahasiswa Merdeka) Angkatan 2 di Universitas Telkom kali ini menerima sekitar 40 mahasiswa. Namun, pada akhirnya, jumlah total mahasiswa yang akhirnya yang mengikuti program secara aktif yaitu sebanyak 39 mahasiswa. Hal ini bisa dikatakan, kampus ini membuka sedikit pendaftar dibandingkan dengan beberapa universitas lain. Walaupun demikian, hal itu tidak menyurutkan kualitas pelayanan dari Universitas Telkom yang diberikan kepada mahasiswa peserta PMM 2. Dari permasalahan ini, peneliti tertarik menganalisis bagaimana pengalaman komunikasi antar budaya dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka ini bisa memberikan pengalaman positif bagi mahasiswa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom berdasarkan wawancara secara langsung kepada beberapa alumni PMM 2 Universitas Telkom.

2.3 Kerangka Teoritis
2.3.1 Teori Fenomenologi Edmund Husserl
Husserl dalam Kuswarno (2009: 39) berpendapat bahwa fenomenologi merupakan ilmu yang fundamental dalam berfilasafat. Teori ini mengemukakan bahwa setiap individu memiliki persepsi, ingatan, fantasi, dan ekspektasi yang berbeda antar satu sama lain (Rofiah, 2023: 35). Fenomenologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang hakikat yang bersifat a priori. Secara umum, fenomenologi merupakan segala sesuatu hal yang sudah menjadi pengalaman dari seorang individu secara sadar. Dalam logical investigations (1990), Husserl berpendapat bahwa fenomenologi merupakan sistem yang sangat kompleks dari filsafat dimulai dari logika, filsafat, bahasa, ontologi, kesengajaan, dan fenomenologi pengetahuan.
Pada Ideas I (1913) Husserl dalam Kuswarno (2009: 39) mengelompokkan pembahasan mengenai fenomemologi dalam kelompok pokok-pokok kesadaran (the science of the essence of consciousness). Menurut Husserl, fenomenologi mempelajari suatu fenomena dari berbagai sudut pandang sehingga fenomena yang dikaji tersebut dapat dirasakan oleh individu tertentu. Fenomenologi bersifat tidak hanya membahas suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang, tetapi juga dapat memprediksikan fenomena yang akan terjadi selanjutnya di masa depan pada individu tersebut.
Fenomenologi Husserl merupakan suatu bentuk corak idealistik. Hal dikarenakan bahwa fenomenologi langsung meneliti berdasarkan sumber asli pada diri subjek dan kesadaran. Menurut Kuswarno (2009: 39), berpendapat bahwa terdapat empat pokok pemikiran Husserl mengenai fenomenologi, yaitu sebagai berikut.
- Fenomena ialah realitas sendiri yang terlihat.
- Tidak terdapat batasan antara subjek dengan realitas.
- Terjadinya kesadaran yang bersifat intensional.
- Terjadinya interaksi antara tindakan kesadaran dengan objek yang disadari.
2.4 Kerangka Pemikiran
Kriyantono (2020: 95) berpendapat bahwa salah satu manfaat yang dirasakan jika peneliti membuat sebuah kerangka penelitian kualitatif yaitu bisa menjadi arahan dan panduan dari proses penelitian yang akan diambil. Secara umum, kerangka penelitian adalah segala sesuatu yang menjadi panduan serta arahan di dalam meneliti suatu permasalahan yang diangkat menjadi tema dari penelitiannya.
Adapun kerangka penelitian dimulai terlebih dahulu melalui tinjauan pustaka serta penelitian yang relevan dengan tema penelitian yang peneliti ambil. Peneliti tertarik mengangkat permasalahan pengalaman komunikasi antar budaya serta bagaimana analisis pengalaman komunikasi antar budaya peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka angkatan 2 di Universitas Telkom. Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan salah satu inovasi program bidang pendidikan yang diciptakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Program ini bertujuan untuk memberikan fasilitas kepada seluruh pelajar dan mahasiswa di Indonesia untuk mengambil pengalaman pembelajaran di luar kampus serta pengakuan kredit mata kuliah hingga 20 SKS. Selain itu, program yang ditawarkan oleh MBKM sangat beragam. Salah satu program MBKM yang ingin peneliti bahas yaitu mengenai Pertukaran Mahasiswa Merdeka atau disingkat dengan PMM. PMM merupakan salah satu jenis program MBKM yang berfokus pada bidang pertukaran pelajar tingkat nasional. Bahkan, di dalam program ini memiliki program khusus yang menjadi pembeda dari program MBKM lainnya yaitu mata kuliah Modul Nusantara. Modul Nusantara menitikberatkan kepada mahasiswa bahwa pembelajaran akademik maupun non akademik tidak hanya melalui internal institusi. Namun, juga dapat dilakukan di tempat manapun.
Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memahami makna komunikasi antar budaya dan gegar budaya pada generasi muda tentang pentingnya kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengadakan program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang dimana salah perguruan tinggi tujuannya yaitu Universitas Telkom pada angkatan kedua. Peneliti ingin melihat bagaimana pengalaman komunikasi yang dirasakan peserta setelah mengikuti berbagai rangkaian kegiatan Modul Nusantara dalam menyelami keragaman budaya Sunda.
Kerangka penelitian dalam penelitian ini diarahkan untuk mengetahui sejauh mana pengalaman komunikasi peserta Merdeka Belajar Kampus Merdeka pada salah satu studi fenomenologi mahasiswa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat yang selanjutnya peneliti menggunakan teori fenomenologi Husserl dan teori gegar budaya (culture shock). Sebagaimana penjelasan di atas, maka dapat dijelaskan dalam bahan kerangka penelitian ini sebagai berikut:
Gambar 1 Kerangka Berpikir

BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Kriyantono (2007: 49) berpendapat bahwa pendekatan adalah suatu falsafah yang mendasari suatu penelitian yang nantinya menentukan suatu jenis metodologi penelitian. Kemudian Suriasumantri dalam Kriyantono (2014: 49) juga berpendapat bahwa metodologi penelitian adalah gabungan dari beberapa rangkaian aturan yang baru terdapat di dalam sebuah penelitian. Di dalam penelitian ini, pendekatan penelitian yang peneliti ambil yaitu dengan metode kualitatif.
Moleong (2021:6) berpendapat bahwa pada penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena mengenai subjek penelitian yang diteliti baik itu berupa perilaku, persepsi, motivasi, maupun tindakan. Peneliti menggunakan jenis metode penelitian dikarenakan sesuai dengan hal yang peneliti teliti yaitu bagaimana pengalaman komunikasi antar budaya pada mahasiswa dalam menghadapi gegar budaya pada studi fenomenologi mahasiswa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom.
Pendekatan penelitian yang teliti ambil di dalam penelitian ini yaitu berupa studi fenomenologi. Kuswarno (2009: 37) berpendapat bahwa pendekatan penelitian fenomenologi merupakan salah satu pendekatan penelitian yang dimana peneliti menemukan fokus sesuatu yang nampak, mencari makna, mendeskripsikan pengalaman, serta menghubungkan dengan pertanyaan yang mengacu kepada fenomena yang akan diteliti. Sedangkan dalam bahasa Yunani, kata fenomenologi berasal dari kata phainomai yang artinya menampak. Secara umum, studi fenomenologi merupakan salah satu jenis penelitian yang dimana bertujuan untuk memahami segala sesuatu berdasarkan pengalaman secara langsung.
Penelitian studi fenomenologi dilakukan guna untuk mempelajari secara mendalam mengenai analisis pengalaman komunikasi peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat. Program PMM merupakan salah satu program unggulan MBKM yang berfokus pada bidang pertukaran pelajar tingkat nasional. Peneliti ingin menganalisis bagaimana pengalaman komunikasi pendidikan dan komunikasi antar budaya pada peserta PMM ini terealisasikan khususnya pada mahasiswa peserta PMM Angkatan 2 di Universitas Telkom berdasarkan pengalaman peserta pada angkatan sebelumnya selama mengikuti program ini selama kurang lebih 4.5 bulan. Oleh karena itu, peneliti memilih studi fenomenologi sebagai jenis penelitian agar nantinya peneliti mampu menganalisis secara lebih mendalam berdasarkan informasi secara langsung berdasarkan pengalaman komunikasi peserta PMM ini ketika menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat.
3.2 Paradigma Penelitian
Mulyana (2007:16) berpendapat bahwa paradigma merupakan cara pandang seseorang dalam memahami suatu permasalahan. Sedangkan menurut Moleong (2021: 49) berpendapat bahwa paradigma merupakan suatu model bagaimana seseorang dalam memahami bagian-bagian yang berperan penting di dalam suatu permasalahan.
Paradigma penelitian yang digunakan di dalam penelitian yaitu menggunakan paradigma konstruktivisme. Kriyantono (2020: 29) berpendapat bahwa paradigma konstruktivisme merupakan salah satu jenis paradigma penelitian yang dimana suatu individu memahami suatu permasalahan melalui realitas sosial yang terjadi di sekitarnya dengan latar belakang yang berbeda. Sedangkan Busti (2019: 29) berpendapat bahwa paradigma konstruktivisme merupakan salah satu jenis paradigma penelitian yang dimana bahwa suatu permasalahan realitas sosial diciptakan oleh berbagai individu yang berbeda pandangan. Secara umum, paradigma konstruktivisme adalah salah satu jenis paradigma penelitian yang dimana peneliti memandang suatu realitas sosial dapat terjadi dan dirasakan secara relatif oleh setiap individu.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara lebih mendalam mengenai pengalaman, konsep komunikasi, dan makna komunikasi antar budaya pada peserta PMM2 TEL-U. Dengan menggunakan paradigma konstruktivisme ini, peneliti mencoba menganalisis dan mendeskripsikan bagaimana pengalaman komunikasi peserta PMM pada program Pertukaran Mahasiswa Mereka Angkatan 2 di Universitas Telkom dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat ketika mengikuti program tersebut.
3.3 Subjek Penelitian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, subjek adalah pihak yang menjadi sumber dalam memberikan informasi di dalam penelitian. Sedangkan menurut Kriyantono (2007: 317), subjek merupakan pihak-pihak terpilih yang bersedia untuk melakukan observasi yang berkaitan dengan penelitian yang diambil. Secara umum, subjek merupakan segala pihak yang berperan dan berkenan dalam memberikan segala informasi terkait penelitian yang diobservasi oleh peneliti.
Sistem pemilihan subjek yang dipilih peneliti di dalam penelitian ini yaitu dengan teknik purposive sampling. Kriyantono (2007: 156) berpendapat bahwa purposive sampling merupakan salah satu teknik dalam pemilihan subjek berdasarkan pihak-pihak yang paling mengetahui beberapa hal yang menyesuaikan dengan topik penelitian yang diambil oleh peneliti. Subjek tersebut dibutuhkan guna untuk bagaimana pengalaman komunikasi yang dilakukan oleh peserta PMM khususnya pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom.
Subjek dalam penelitian ini berasal dari pihak Universitas Telkom yang berperan dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka khususnya pada program PMM2 TEL-U yang sudah berjalan sebelumnya serta dari beberapa mahasiswa alumni peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom. Kriteria subjek yang dipilih dalam penelitian ini dipilih berdasarkan beberapa hal seperti peserta yang mengalami gegar budaya selama mengikuti PMM2 TEL-U yang berasal dari daerah Manado, Denpasar, Palembang, Padang, dan Mentawai.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Menurut Kriyantono (2007:56) bahwa metode pengumpulan data kualitatif merupakan salah cara untuk memperoleh data penelitian yang dimana dilakukan berdasarkan kebutuhan peneliti di dalam penelitian tersebut baik melalui wawancara mendalam, observasi, maupun dokumentasi. Secara umum, metode pengumpulan data adalah salah cara-cara yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh beberapa data pendukung untuk penelitiannya. Pada penelitian ini, peneliti menerapkan tiga metode pengumpulan data kualitatif yaitu melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.
3.4.1 Wawancara
Pawito (2007: 132) berpendapat bahwa wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dimana melibatkan manusia secara langsung karena berhubungan langsung dengan realitas sosial pada penelitian yang diteliti. Kriyantono (2007: 100) berpendapat bahwa wawancara merupakan suatu kegiatan bertukar pikiran antara individu dengan individu lainnya atau individu dengan kelompok sehingga menghasilkan informasi mengenai data-data penelitian yang diteliti. Secara umum, wawancara adalah suatu metode pengumpulan data yang dimana peneliti langsung berinteraksi dengan pihak sumber pemberi informasi. Terdapat tiga teknik wawancara yaitu seperti wawancara terstruktur, wawancara semi struktur, dan wawancara tidak terstruktur.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam secara semi struktur. Kriyantono (2007: 291) berpendapat bahwa wawancara mendalam merupakan suatu kegiatan pertukaran informasi secara langsung antara peneliti dan informan dengan tujuan untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin dari pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan topik penelitian serta dilakukan dalam frekuensi tinggi dan intensif. Sebelumnya, peneliti sudah melakukan wawancara mendalam sebelum pra peneliti yaitu pada saat peneliti masih mengikuti secara langsung program PMM2 TEL-U. Hal ini bertujuan untuk memperoleh beberapa data yang diperoleh untuk bahan penelitian ke depannya. Pada penelitian ini, peneliti menerapkan wawancara semi struktur untuk memperoleh informasi secara terbuka mengenai analisis pengalaman komunikasi antar budaya studi fenomenologi peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat.
3.4.2 Observasi
Pawito (2007:111) berpendapat bahwa observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dimana peneliti secara langsung melacak segala gejala permasalahan yang terjadi berdasarkan ide penelitian yang diambil. Kriyantono (2007: 110) berpendapat bahwa observasi merupakan suatu kegiatan untuk melihat secara langsung bagaimana fenomena dan gejala sosial dalam realitas sosial. Secara umum, observasi adalah suatu metode pengumpulan data yang dimana peneliti secara langsung terlibat dalam menganalisis subjek yang diteliti. Terdapat dua teknik observasi yaitu seperti observasi partisipan dan observasi non-partisipan.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik observasi secara observasi partisipan. Kriyantono (2014: 112) berpendapat bahwa observasi partisipan merupakan suatu kegiatan observasi yang dimana peneliti tidak hanya melakukan observasi, namun juga terlibat langsung di dalam program berdasarkan topik penelitian yang diteliti yaitu pada saat menjadi mahasiswa peserta PMM2 TEL-U. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan data-data penelitian yang komprehensif berdasarkan pengalaman pribadi secara langsung dari peneliti. Peneliti melakukan observasi partisipan pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom untuk melihat mengamati pengalaman komunikasi pada peserta program tersebut melalui berbagai program akademik dan non akademik yang telah diikuti penulis selama mengikuti program tersebut.
3.4.3 Dokumentasi
Kriyantono (2007:308) berpendapat bahwa dokumentasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dimana peneliti mendapatkan bukti kegiatan yang telah berlangsung sebagai fungsi dari data yang diteliti. Kriyantono (2007: 108) berpendapat bahwa dokumentasi merupakan suatu kegiatan mengumpulkan beberapa dokumen pendukung berupa tulisan, gambar, atau karya pendukung lainnya. Secara umum, dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data yang dimana peneliti mengumpulkan beberapa bukti pendukung yang digunakan sebagai data di dalam sebuah penelitian. Di dalam penelitian ini, menggunakan beberapa dokumentasi berupa dokumentasi wawancara bersama lima informan mahasiswa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom selama mengikuti kegiatan. Selain itu, peneliti juga menggunakan beberapa sumber referensi dari beberapa buku maupun jurnal yang membahas topik terkait di dalam penelitian ini.
3.5 Sumber Data
Moleong (2021:157) berpendapat bahwa sumber data pada penelitian kualitatif merupakan suatu data penelitian berupa kata-kata, tindakan, serta didukung dengan bukti dokumen yang mendukung di dalam penelitian tersebut. Secara umum, sumber data penelitian kualitatif merupakan segala kumpulan data-data pendukung yang merujuk pada satu penelitian tertentu. Berdasarkan sumbernya, sumber data terdiri dari dua jenis yaitu seperti data primer dan data sekunder. Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder.
3.5.1 Data Primer
Kriyantono (2007:41) berpendapat bahwa data primer merupakan salah satu jenis sumber data yang dimana peneliti mendapatkan langsung data-data pendukung penelitian langsung dari informan penelitian. Secara umum, data primer merupakan suatu jenis sumber data di dalam penelitian yang dimana peneliti memperoleh secara langsung mengenai informasi-informasi pendukung di dalam penelitiannya. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan data primer berupa wawancara mendalam dan observasi partisipan yang dilakukan terkait pengalaman komunikasi peserta studi fenomenologi peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom.
3.5.2 Data Sekunder
Kriyantono (2007:42) berpendapat bahwa data sekunder merupakan salah satu jenis sumber data yang dimana peneliti tidak mendapatkan secara langsung data-data pendukung penelitian dari informan penelitian. Secara umum, data sekunder merupakan suatu jenis sumber data di dalam penelitian yang dimana peneliti memperoleh berbagai informasi-informasi lain yang menjadi pendukung dan penguat dari data primer. Pada penelitian ini, menggunakan data sekunder berupa kegiatan dokumentasi kegiatan berupa foto, video, press release, sosial media, dan jurnal pengabdian sosial yang didapatkan oleh peneliti guna menganalisis pengalaman komunikasi fenomenologi peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom.
3.6 Teknik Analisis Data
Bogdan dan Biklen dalam Moleong, (2021: 248) berpendapat bahwa teknik analisis data pada penelitian kualitatif merupakan rangkaian kegiatan yang dimana penulis menganalisis penelitiannya dengan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah data, mensintesiskan data, menemukan pola data, menemukan hal yang penting, dan memutuskan hal yang akan dikembangkan. Pawito (2007: 101) berpendapat bahwa teknik analisis data penelitian kualitatif merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan penelitian untuk memberi makna pada data dan menafsirkan data melalui narasi kata-kata.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data model reduksi fenomenologis dari Edmund Husserl. Pada proses pengolahan data kualitatif, peneliti menggunakan aplikasi NVivo 12 Pro untuk melakukan proses coding data-data wawancara. Menurut Miles (1994: 6), coding merupakan salah satu teknik analisis data yang bertujuan untuk merefleksikan, menganalisis, serta menginterpretasikan data secara lebih mendalam. Peneliti menggunakan analisis coding dengan aplikasi ini untuk mempermudah peneliti dalam menemukan serta menjelaskan konsep-konsep utama secara lebih komprehensif.
Husserl dalam Hardiansyah (2013: 235), berpendapat bahwa teknik analisis data yang digunakan melalui pengamatan secara langsung dari peneliti. Sedangkan Sudaryono (1998) dari Husserl (1954) dalam Hardiansyah (2013: 235) berpendapat bahwa metode kerja dari reduksi fenomenologis ini berakar dari pengalaman pribadi, bagaimana cara berpikir seseorang terhadap suatu masalah, serta pandangan dari partisipan.
Terdapat tiga proses dalam teknik analisis data model Reduksi Fenomenologis Husserl yaitu seperti reduksi fenomenologis, reduksi eidetis, dan transendental.
3.6.1 Reduksi Fenomenologis
Husserl dalam Hardiansyah (2013: 236) berpendapat bahwa reduksi fenomenologis merupakan salah satu proses di dalam teknik analisis data penelitian kualitatif yang dimana peneliti melakukan pengurangan jumlah pengalaman penelitian yang bersifat inderawi dan subjektif sehingga menghasilkan data yang tidak bias serta tidak mengandung prasangka di dalamnya serta memberikan kemudahan bagi peneliti untuk melakukan pengumpulan data di langkah selanjutnya. Secara umum, reduksi fenomenologi merupakan tahapan dimana peneliti melakukan pengurangan jumlah pengalaman partisipan yang tidak objektif sehingga menghasilkan data-data yang sederhana dan mudah dipahami.
3.6.2 Reduksi Eidetis
Husserl dalam Hardiansyah (2013: 236) berpendapat bahwa reduksi eidetis merupakan salah satu proses di dalam teknik analisis data penelitian kualitatif yang dimana peneliti melakukan penjabaran dan penjelasan pada pengalaman partisipan penelitian secara naratif dengan tujuan untuk menemukan esensi dari data yang telah didapatkan. Secara umum, reduksi eidetis merupakan tahapan dimana peneliti melakukan pemahaman mengenai segala sesuatu yang menjadi inti permasalahan di dalam pengalaman partisipan tersebut secara berlanjut di dalam penelitian tersebut.
3.6.3 Reduksi Transendental
Husserl dalam Hardiansyah (2013: 236) berpendapat bahwa reduksi transendental merupakan salah satu proses di dalam teknik analisis data penelitian kualitatif yang dimana peneliti melakukan pemahaman terhadap subjek yang akan diteliti. Secara umum, reduksi transendental merupakan tahapan dimana peneliti melakukan peninjauan kembali mengenai subjek di dalam penelitian terhadap pengalaman-pengalaman yang sudah diperoleh sebelumnya di dalam penelitian.
3.7 Uji Reflekivitas Peneliti
Creswell (2015: 120) berpendapat bahwa uji reflekivitas pada penelitian kualitatif merupakan suatu tahapan yang dimana peneliti melakukan pembatasan bias dan subjektivitas pada penelitiannya. Salah satu cara untuk melakukan uji reflekivitas peneliti yaitu dengan melakukan analisis secara kritis pada penelitian tersebut berdasarkan latar belakang sosial, asumsi, posisi, dan dampak perilaku peneliti pada penelitiannya. Secara umum, uji reflekivitas peneliti merupakan salah satu cara untuk memperoleh data penelitian dengan cara memahami secara kritis dan keseluruhan dari berbagai sudut pandang agar penelitian yang dihasilkan tidak bersifat bias dan subjektif.
3.8 Lokasi Penelitian
Penelitian ini masih berlangsung dilakukan sejak peneliti berperan langsung menjadi mahasiswa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 di Universitas Telkom sejak bulan September 2022 hingga Januari 2023. Di dalam program ini, peneliti melakukan penelitian berupa kegiatan observasi dan dokumentasi kegiatan. Universitas Telkom sendiri berlokasi di Jl. Telekomunikasi. 1, Terusan Buahbatu – Bojongsoang, Telkom University, Sukapura, Kec. Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40257.
3.9 Jadwal Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari akhir bulan September 2022. Kegiatan Penelitian terdiri dari observasi awal, pengajuan flowchart, penyusunan proposal, seminar proposal, pengambil data lapangan, penulisan skripsi, sidang skripsi, dan perbaikan laporan penelitian. Jadwal penelitian dapat diuraikan di dalam tabel berikut:
Tabel 2 Jadwal Penelitian
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)
4.1.1 Sejarah Merdeka Belajar Kampus Merdeka
Merdeka Belajar Kampus Merdeka atau sering disebut dengan MBKM didirikan pada Januari 2020. Pada awal pembentukan program ini, tepatnya pada tahun itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia membentuk Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 sebagai bentuk standar nasional pendidikan tinggi tentang hak belajar selama tiga semester di luar program studi. Bentuk-bentuk kegiatan belajar di luar kampus tersebut yaitu magang atau praktik kerja, pertukaran pelajar, asistensi mengajar di satuan pendidikan, kegiatan wirausaha, studi atau proyek independen, bela negara, kuliah kerja nyata tematik, penelitian ata riset, dan proyek kemanusiaan.
Kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka ini sendiri terbagi dari dua jenis ketegori. Pertama, MBKM Flagship yaitu segala jenis kegiatan dari program MBKM yang didirikan di bawah naungan langsung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Contoh dari kegiatan MBKM Flagship ini seperti Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA), Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM), Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB), Wirausaha Merdeka, Praktisi Mengajar, serta Kampus Mengajar. Kedua, MBKM Mandiri yaitu segala jenis kegiatan MBKM yang didirikan dari hasil perjanjian kerja sama antara perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lain atau antara perguruan tinggi dengan industri.
4.1.2 Tugas dan Fungsi Merdeka Belajar Kampus Merdeka
Mengutip dari buku Ragam Program Kampus Merdeka, bahwa pada tahun 2020, program ini sebagai wujud inovasi pada kualitas pendidikan di Indonesia. Merdeka Belajar Kampus Merdeka menyelenggarakan tujuan:
- Meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skill maupun hard skill, agar lebih siap dan relevan dengan perkembangan zaman.
- Memberikan fasilitas kepada mahasiswa mengembangkan potensi sesuai minat dan bakatnya.
- Menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian.
4.1.3 Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang Menyebabkan Gegar Budaya
Berdasarkan buku Ragam Program Kampus Merdeka, berikut kegiatan yang menyebabkan kerap terjadinya fenomena gegar budaya di kalangan para peserta yang terlibat pada kegiatan yang ada di Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
- Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB)
MSIB merupakan salah satu program dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang berfokus pada kegiatan magang dan studi independen yang dimana dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan umum yang sebelumnya yang dialami oleh mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan tersebut seperti kesulitan mencari tempat magang, minimnya supervisi atas proses magang yang ada, tidak selarasnya durasi dan waktu magang antara kampus dengan industri, kebijakan yang belum mendukung, serta minimnya kontribusi hasil magang bagi industri.
Maka, Magang Merdeka hadir untuk bertujuan untuk memberikan pengalaman kerja yang cukup kepada mahasiswa, mendapatkan pembelajaran langsung di tempat kerja, dan mendapatkan sejumlah hardskill maupun softskill. Kemudian, manfaat dari Magang Merdeka yaitu memberikan pengalaman bekerja di mitra industri dan dunia kerja selama 1-2 semester penuh di perusahaan yang diakui Kemendikbudristek, mendapatkan uang saku dan biaya hidup selama magang yang akan disubsidi oleh Kemendikbudristek, serta menerima sertifikat kompetensi dari mitra setelah selesai magang.
Sedangkan tujuan dari Studi Independen ialah mewujudkan gagasan mahasiswa dalam mengembangkan produk inovatif yang menjadi gagasannya, serta meningkatkan prestasi mahasiswa dalam ajang nasional dan internasional. Lalu, manfaat dari Studi Independen ialah kesempatan untuk melakukan program sertifikasi yang diakui oleh Kemendikbudristek selama 1-2 semester penuh, dan menerima sertifikat jika lulus program sertifikasi atau short course dari mitra.
- Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM)
PMM merupakan salah satu program dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang berfokus pada kegiatan pertukaran mahasiswa di dalam negeri selama 1 semester. Salah satu keunikan dari program ini ialah Modul Nusantara. Yang dimana pada kegiatan ini terdiri empat kegiatan yaitu Kebhinekaan, Inspirasi, Refleksi, dan Kontribusi Sosial. Kebhinekaan ialah kegiatan eksplorasi keragaman yang diadakan PT Penerima. Inspirasi ialah kegiatan diskusi dengan figur-figur inspirasi daerah. Refleksi ialah kegiatan merefleksikan pengalaman kegiatan kebhinekaan dan inspirasi untuk memahami dan menghargai keberagaman. Kontribusi Sosial ialah kegiatan melaksanakan kontribusi sosial di daerah PT penerima.
Manfaat dari program PMM ini antara lain pengalaman baru berupa nilai-nilai keberagaman suku, agama, kepercayaan, kebudayaan, dan bahasa, ajang refleksi nilai kebangsaan dan kebhinekaan, kemampuan membangun persatuan dalam keberagaman, keterampilan, kepemimpinan, kepercayaan diri, dan kepekaan sosial, kesempatan mengambil mata kuliah di luar program studi sesuai dengan pilihan, menambah teman sesama mahasiswa dari PT berbeda, pengetahuan akademik yang lebih luas dan mendalam, pengakuan kredit mata kuliah dari PT pengirim, serta sertifikat elektronik PMM dari Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek.
- Kampus Mengajar
Kampus Mengajar merupakan salah satu program dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang berfokus pada kegiatan mengajar dan pembelajaran ke beberapa sekolah yang sangat membutuhkan, khususnya pada daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Tujuan dari program ini ialah memberikan kesempatan bagi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan soft skill dan mendampingi guru untuk berkolaborasi merancang strategi, metode, dan model pembelajaran khususnya pada aspek akselerasi kemampuan literasi dan numerasi di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di daerah yang ditetapkan Kemendikbudristek.
Selain itu, manfaat dari program ini ialah eksplorasi pengetahuan dan kemampuan dengan menjadi mitra guru di sekolah, kesempatan menjadi agen perubahan untuk pendidikan di Indonesia, mengasah soft skill mahasiswa, serta konversi SKS selama masa penugasan di sekolah.
- Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA)
IISMA merupakan salah satu program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang berfokus pada kegiatan mobilitas di perguruan tinggi terkemuka di dunia. Tujuan dari program ini ialah memberikan beasiswa bagi mahasiswa terbaik Indonesia untuk mengikuti mobilitas luar negeri di universitas terkemuka di dunia, mempromosikan dan mendorong perguruan tinggi dalam negeri untuk berpartisipasi dalam program ini, membuka peluang untuk memulai dan memperkuat kerja sama antar perguruan tinggi dalam dan luar negeri, serta mempersiapkan komunitas alumni yang memiliki pengetahuan, soft skill, dan pemahaman lintas budaya, serta jejaring global dan berkontribusi secara sinergis untuk kepentingan bangsa.
Selain itu, manfaat dari program ini ialah mendapatkan kesempatan belajar selama satu semester di perguruan tinggi di luar negeri, memberikan pengalaman belajar bermakna, meningkatkan pemahaman budaya antarbangsa, serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi antarbangsa, mengambil mata kuliah atau aktivitas pembelajaran yang diminati, mendapatkan pengakuan capaian pembelajaran setara 20 SKS, membangun jejaring global, serta membangun kompetensi masa depan.
- Wirausaha Merdeka
Wirausaha Merdeka merupakan salah satu program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang berfokus pada kegiatan untuk berkolaborasi, beraksi, dan berbakti untuk negeri dalam perkembangan ekonomi masyarakat Indonesia serta pengembangan diri menjadi calon entrepreneur. Tujuan dari program ini ialah membentuk dan menanamkan mindset dan kompetensi dasar di bidang kewirausahaan, memberikan peningkatan pengalaman wirausaha, meningkatkan kemampuan daya kerja, memberi manfaat bagi mahasiswa untuk mengasah jiwa kewirausahaan, soft skill, dan manajerial dalam berinovasi dan berkolaborasi, penguatan metode pengembangan kewirausahaan di PT, membantu meningkatkan kapasitas dan kualitas lulusan PT, membantu mengurangi potensi tingkat pengangguran terdidik dari PT, meningkatkan peran dan kontribusi nyata dalam pembangunan nasional, serta memberikan fasilitas bagi mahasiswa untuk memperoleh tempat pendidikan dan pengalaman berwirausaha yang berkualitas, yang layak diberikan kredit maksimal 20 SKS.
Selain itu, manfaat dari program ini yaitu pembekalan mindset dan kompetensi kewirausahaan, praktek dan pengembangan wirausaha, kesempatan belajar di luar kampus untuk mengembangkan ilmu bidang kewirausahaan, pengembangan dan penciptaan peluang usaha, serta mendapat pengakuan SKS maksimal 20 SKS.
- Praktisi Mengajar
Praktisi Mengajar merupakan salah satu program dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang berfokus pada kegiatan yang menghubungkan mahasiswa dengan praktisi yang kompeten melalui mata kuliah kolaborasi bersama akademisi agar lulusan memperoleh ilmui dan kecakapan yang relevan dengan kebutuhan dan tantangan di dunia kerja. Tujuan dari program ini ialah menawarkan pengalaman pembelajaran yang lebih dinamis, kompetitif, kolaboratif, dan partisipatif, yang didorong dengan permintaan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, serta kompetensi yang diperlukan dalam berbagai bidang keilmuan sesuai kebutuhan dunia kerja dan profesional, memberikan kesempatan kepada perguruan tinggi untuk berkolaborasi dengan praktisi dunia kerja dalam menyelenggarakan pembelajaran dengan pendekatan praktis, serta menjadi media yang mampu menjembatani kesenjangan antara perguruan tinggi dengan dunia kerja dan profesional.
Sedangkan manfaat dari program ini ialah memperoleh pengalaman belajar ilmu praktis yang aktual, relevan, bermanfaat, dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, mendapat pendampingan (mentorship) dari praktisi panutan, berjejaring dengan pengajar praktisi ahli dan menyadarkan mahasiswa akan potensi mereka di dunia kerja, memperoleh pengalaman belajar hard skill dan soft skill sebagai keterampilan mahasiswa, mendukung pelaksanaan program MBKM bagi mahasiswa, dan memperkuat dan menambah kompetensi mahasiswa.
4.2 Deskripsi Informan
Pada penelitian ini informan penelitian yang diwawancarai ditentukan dari beberapa kriteria untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian. Penelitian ini melakukan wawancara dengan lima orang mahasiswa yang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang mengalami gegar budaya. Dua informan di antaranya merupakan pada program tersebut yang berdomisili di provinsi Sumatera Barat secara offline dan 3 informan yang juga merupakan peserta pada program ini, namun bukan berasal dari domisili provinsi Sumatera Barat secara online. Berikut informan yang telah peneliti wawancarai:
4.2.1 Informan 1
Nama : Ilwan
Domisili : Manado, Sulawesi Utara
Umur : 23 tahun
Informan pertama bernama Ilwan, seorang mahasiswa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Ilwan beralamat di Manado, Sulawesi Utara. Ilwan merupakan mahasiswa jurusan Teknik Informatika Universitas Negeri Manado. Wawancara ini dilakukan secara online dengan informan 1. Peneliti berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan aplikasi Google Meet bersama informan 1 sebanyak satu kali serta melalui Whatsapp Messenger sebanyak dua kali. Kegiatan wawancara pertama peneliti lakukan dengan informan 1 di pada tanggal 1 Maret 2024 pukul 15.55 WIB. Wawancara kedua pada tanggal 16 Mei 2024 pukul 19.33 WIB. Terakhir, pada wawancara ketiga dilakukan pada tanggal 22 Juni 2024 pukul 12.31 WIB.
Peneliti mengenal Ilwan sebagai Kepala Suku Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Ilwan merupakan peserta yang sangat aktif pada komunitas jelajah alam di daerah asalnya, Manado. Peneliti memilih Ilwan sebagai salah satu informan dikarenakan bahwa dirinya lebih mengetahui lebih banyak terkait pengalaman dan seluk beluk dari kegiatan PMM2 TEL-U dan keseluruhan rangkaian kegiatan Modul Nusantara secara gabungan maupun khusus kelas Modul Nusantara 02 Wiranata Kusumah.
4.2.2 Informan 2
Nama : Salsabila Puspita Ayu Putri
Domisili : Denpasar, Bali
Umur : 21 tahun
Informan kedua bernama Salsa, seorang mahasiswi peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Informan 2 beralamat di Denpasar, Bali. Salsa merupakan mahasiswa jurusan Manajemen Universitas Udayana. Wawancara ini dilakukan secara online. Peneliti berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan informan 2 sebanyak satu kali serta melalui Whatsapp Messenger sebanyak dua kali. Kegiatan wawancara peneliti lakukan dengan informan 2 di aplikasi Zoom pada tanggal 3 Maret 2024 pukul 19.40 WIB. Wawancara kedua pada tanggal 20 Mei 2024 pukul 15.14 WIB. Terakhir, pada wawancara ketiga pada tanggal 23 Juni 2024 pukul 18.10 WIB.
Peneliti mengenal Salsa sebagai teman yang satu kelas Modul Nusantara 02 Wiranata Kusumah. Salsa merupakan informan yang berkepribadian introvert dan menyenangkan. Peneliti memilih Salsa sebagai salah satu informan dikarenakan dirinya merupakan pribadi yang tetap tenang walaupun dihadapi oleh berbagai gejolak kebudayaan yang ada di Jawa Barat sehingga menarik perhatian peneliti untuk menelusuri bagaimana cara dirinya untuk mampu beradaptasi dan berkomunikasi dengan peserta PMM2 TEL-U yang lain.
4.2.3 Informan 3
Nama : Amanda Putri Fransiska
Domisili : Palembang, Sumatera Selatan
Umur : 20 tahun
Informan ketiga bernama Amanda, seorang mahasiswi peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Informan 3 beralamat di Palembang, Sumatera Selatan. Amanda merupakan salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya. Wawancara ini dilakukan secara online dengan informan 3. Peneliti berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan informan 3 sebanyak satu kali serta melalui Whatsapp Messenger sebanyak dua kali. Kegiatan wawancara peneliti lakukan dengan informan 3 melalui platform Zoom pada tanggal 3 Maret 2024 pukul 22.27 WIB. Wawancara kedua pada tanggal 14 Mei 2023 pukul 16.21 WIB. Terakhir, wawancara ketiga pada tanggal 25 Juni 2024 pukul 10.28 WIB.
Peneliti mengenal Amanda sebagai salah satu teman satu kamar Oncom dengan peneliti ketika mengikuti PMM2 TEL-U. Pada saat itu, seluruh peserta pada program ini, ditempatkan pada Asrama Lingian Universitas Telkom. Selain itu, dirinya juga satu kelas Modul Nusantara 02 Wiranata Kusumah dengan peneliti. Amanda merupakan salah satu peserta yang berprestasi, memiliki personal branding yang baik, serta lebih mudah bergaul dengan peserta PMM yang lain. Peneliti memilih Amanda sebagai salah satu informan dikarenakan peneliti ingin mendalami lebih dalam terkait pengalaman komunikasi antar budaya dan gegar budaya pada orang yang berkepribadian.
4.2.4 Informan 4
Nama : Afdal Yusuf Efi
Domisili : Padang, Sumatera Barat
Umur : 22 tahun
Informan keempat bernama Afdal, seorang mahasiswa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Informan 4 beralamat di Padang, Sumatera Barat. Afdal merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Hukum Universitas Andalas. Wawancara ini dilakukan secara langsung dengan informan 4. Peneliti berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan informan 4 sebanyak satu kali serta melalui Whasapp Messenger sebanyak dua kali. Kegiatan wawancara peneliti lakukan dengan informan 4 melalui tatap muka langsung pada tanggal 4 Maret 2024 pukul 13.44 WIB. Wawancara kedua pada tanggal 20 Mei 2024 pukul 19.38 WIB. Terakhir, wawancara ketiga pada tanggal 24 Juni 2024 pukul 01.07 WIB.
Peneliti mengenal Afdal sebagai salah saru peserta PMM2 TEL-U yang berasal dari kelas Modul Nusantara 01 RAA Martanegara. Selain itu, peneliti juga pernah satu kelas dengan dirinya pada saat mengikuti kelas Coorporate Social Responsibility (CSR). Afdal merupakan salah satu peserta yang cukup aktif di berbagai komunitas dan organisasi di kampus asalnya. Serta merupakan pribadi yang cerdas dan kritis. Peneliti memilih Afdal sebagai salah satu informan dikarenakan agar peneliti mudah melakukan wawancara langsung dan asal kampusnya, juga sama dengan peneliti, yaitu Universitas Andalas.
4.2.5 Informan 5
Nama : La Bamba Puang Putra Tamarine Sirirui Kami
Domisili : Mentawai, Sumatera Barat
Umur : 21 tahun
Informan kelima bernama Bamba, seorang mahasiswa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Informan 5 beralamat di Mentawai, Sumatera Barat. Bamba merupakan salah satu mahasiswa jurusan Sistem Informasi Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang. Wawancara ini dilakukan secara langsung dengan informan 5. Peneliti berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan informan 5 sebanyak satu kali serta melalui Whatsapp Messenger sebanyak dua kali. Kegiatan wawancara peneliti lakukan dengan informan 5 melalui tatap muka langsung pada tanggal 4 Maret 2024 pukul 15.45 WIB. Wawancara kedua pada tanggal 18 Mei 2024 pukul 04.04 WIB. Terakhir, wawancara ketiga pada tanggal 26 Juni 2024 pukul 21.02 WIB.
Peneliti mengenal Bamba sebagai salah satu peserta PMM2 TEL-U yang juga satu kelas Modul Nusantara 02 Wiranata Kusumah dengan peneliti. Bamba merupakan seseorang yang berkepribadian menyenangkan dan baik dengan peneliti. Peneliti memilih Bamba sebagai salah satu informan dikarenakan dirinya juga berkuliah pada salah saru kampus swasta di Padang, Sumatera Barat. Selain itu, peneliti juga ingin memahami terkait bagaimana cara dirinya menyesuaikan dirinya dengan berbagai kebudayaan ganda yang dihadapinya baik itu dari budaya etnis Mentawai, Minang, maupun Sunda.
Proses pertemuan peneliti dengan kelima informan dilakukan dalam beberapa proses. Pertama, peneliti melakukan diskusi bersama dosen pembimbing untuk menentukan beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan dalam pedoman wawancara. Hal ini dilakukan agar wawancara menjadi lebih terarah dan mampu memperoleh informasi sebanyak mungkin dari para informan mengenai topik penelitian yang sedang diteliti. Setelah peneliti mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing untuk melakukan penelitian dan perolehan data di lapangan, peneliti mulai mencoba menghubungi secara pribadi melalui aplikasi Whatsapp Messenger kepada lima informan yang akan dipilih. Alasan peneliti tidak melampirkan surat izin penelitian lapangan karena peneliti memiliki hubungan personal yang cukup dekat dengan peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom karena peneliti pernah terlibat secara aktif dan langsung sebagai peserta pada program ini sehingga pengurusan surat izin lapangan tidak terlalu diperlukan.
Pertama, pada informan Ilwan, peneliti terlebih dahulu mulai menghubungi dan menentukan jadwal wawancara pada tanggal 1 Maret 2024. Lalu, informan bersedia untuk diwawancarai pada hari yang sama pada pukul 14.00 WIB dan peneliti langsung memberikan arahan yang tertera pada pedoman wawancara kepada informan. Peneliti mengalami sedikit kendala seperti permasalahan dalam menyesuaikan waktu yang tepat antara informan dengan peneliti. Ketika melakukan penentuan jadwal, informan tiba-tiba memberikan informasi jadwal wawancara sehingga peneliti harus mampu menyesuaikan waktu yang agak mendesak dalam satu hari yang sama. Selain itu, peneliti harus mampu menyesuaikan perbedaan waktu antara WIB dan WITA karena informan sedang berdomisili di Manado, Sulawesi Utara. Lalu, kendala yang peneliti hadapi yaitu peneliti mengalami permasalahan teknis melalui aplikasi Zoom karena link tautan tidak bisa disalin sehingga wawancara dialihkan ke aplikasi Google Meet. Selain itu, kendala yang peneliti hadapi yaitu gangguan teknis lainnya bahwa suara rekaman dari informan tidak ada suara, yang terdengar hanyalah suara peneliti. Solusi yang dapat dilakukan peneliti yaitu dengan segera mencatat poin-poin penting yang diucapkan oleh informan serta meminta bantuan informan untuk memberikan jawaban singkat secara tertulis sesuai dengan urutan pertanyaan yang telah diberikan sebagai bukti penguat lainnya dalam menuliskan transkrip wawancara. Pada akhir wawancara, peneliti meminta izin memperoleh data-data pribadi informan seperti domisili dan umur. Kemudian, untuk wawancara kedua dan ketiga dilajutkan melalui via Whatsapp Messenger pada tanggal 16 Mei 2024 dan 22 Juni 2024.
Kedua, pada informan Salsa, peneliti terlebih dahulu mulai menghubungi dan menentukan jadwal wawancara pada tanggal 1 Maret 2024. Lalu, informan bersedia untuk diwawancarai pada tanggal 3 Maret 2024 pukul 19.00 WIB dan peneliti langsung memberikan arahan yang tertera pada pedoman wawancara kepada informan. Peneliti mengalami sedikit kendala seperti permasalahan dalam menyesuaikan waktu yang tepat antara informan dengan peneliti. Ketika melakukan penentuan jadwal, informan sedang berada di kampung halaman dan jaringan di tempat tinggalnya bisa dikatakan kurang baik. Selain itu, peneliti harus mampu menyesuaikan perbedaan waktu antara WIB dan WITA karena informan sedang berdomisili di Denpasar, Bali. Lalu, kendala yang peneliti hadapi yaitu peneliti mengalami pengunduran jadwal karena informan masih melakukan beberapa aktivitas yang bertabrakan dengan jadwal wawancara sehingga wawancara awalnya direncanakan dilaksanakan pada pukul 16.00 WIB diundur menjadi pukul 19.00 WIB. Selain itu, kendala yang peneliti hadapi yaitu gangguan teknis lainnya bahwa suara rekaman dari informan tidak ada suara, yang terdengar hanyalah suara peneliti. Solusi yang dapat dilakukan peneliti yaitu dengan segera mencatat poin-poin penting yang diucapkan oleh informan serta meminta bantuan informan untuk memberikan jawaban singkat secara tertulis sesuai dengan urutan pertanyaan yang telah diberikan sebagai bukti penguat lainnya dalam menulis transkrip wawancara. Pada akhir wawancara, peneliti meminta izin memperoleh data-data pribadi informan seperti domisili dan umur. Kemudian, untuk wawancara kedua dan ketiga dilanjutkan melalui via Whatsapp Messenger pada tanggal 20 Mei 2024 dan 23 Juni 2024.
Ketiga, pada informan Amanda, peneliti terlebih dahulu mulai menghubungi dan menentukan jadwal wawancara pada tanggal 1 Maret 2024. Lalu, informan bersedia untuk diwawancarai pada tanggal 3 Maret 2024 pukul 21.45 WIB dan peneliti langsung memberikan arahan yang tertera pada pedoman wawancara kepada informan. Peneliti mengalami sedikit kendala seperti permasalahan dalam menyesuaikan waktu yang tepat antara informan dengan peneliti. Ketika melakukan penentuan jadwal, informan sedang memiliki beberapa jadwal organisasi yang cukup padat. Lalu, kendala yang peneliti hadapi yaitu peneliti mengalami pengunduran jadwal karena informan masih melakukan beberapa aktivitas organisasi maupun kegiatan keluarga yang bertabrakan dengan jadwal wawancara sehingga wawancara awalnya direncanakan akan dilaksanakan pada pukul 17.00 WIB diundur menjadi pukul 21.45 WIB. Selain itu, kendala yang peneliti hadapi yaitu gangguan teknis lainnya bahwa suara rekaman dari informan tidak ada suara, yang terdengar hanyalah suara peneliti. Solusi yang dapat dilakukan peneliti yaitu dengan segera mencatat poin-poin penting yang diucapkan oleh informan serta meminta bantuan informan untuk memberikan jawaban singkat secara tertulis sesuai dengan urutan pertanyaan yang telah diberikan sebagai bukti penguat lainnya dalam menulis transkrip wawancara. Pada akhir wawancara, peneliti meminta izin memperoleh data-data pribadi informan seperti domisili dan umur. Kemudian, untuk wawancara kedua dan ketiga dilanjutkan melalui via Whatsapp Messenger pada tanggal 14 Mei 2024 dan 25 Juni 2024.
Keempat, pada informan Afdal, peneliti terlebih dahulu mulai menghubungi dan menentukan jadwal wawancara pada tanggal 3 Maret 2024. Lalu, informan bersedia untuk diwawancarai pada tanggal 4 Maret 2024 pukul 14.00 WIB dan peneliti langsung memberikan arahan yang tertera pada pedoman wawancara kepada informan. Wawancara berlokasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Andalas. Peneliti mengalami sedikit kendala seperti permasalahan dalam menyesuaikan waktu yang tepat antara informan dengan peneliti. Ketika melakukan penentuan jadwal, informan sedang memiliki beberapa jadwal organisasi yang cukup padat. Lalu, kendala yang peneliti hadapi yaitu peneliti mengalami keterlambatan jadwal selama 30 menit karena informan izin ke kantin FISIP UNAND untuk makan siang sebentar sehingga wawancara awalnya direncanakan akan dilaksanakan pada pukul 13.30 WIB diundur menjadi pukul 14.00 WIB. Solusi yang dapat dilakukan peneliti yaitu dengan segera mencatat poin-poin penting yang diucapkan oleh informan, izin melakukan perekaman suara ketika dilakukannya wawancara antara informan dengan peneliti, dan menuliskan segera transkrip wawancara pada hari yang sama. Pada akhir wawancara, peneliti meminta izin memperoleh data-data pribadi informan seperti domisili dan umur. Kemudian, wawancara kedua dan ketiga dilanjutkan melalui via Whatsapp Messenger pada tanggal 20 Mei 2024 dan 24 Juni 2024.
Kelima, pada informan Bamba, peneliti terlebih dahulu mulai menghubungi dan menentukan jadwal wawancara pada tanggal 1 Maret 2024. Lalu, informan bersedia untuk diwawancarai pada tanggal 4 Maret 2024 pukul 15.00 WIB dan peneliti langsung memberikan arahan yang tertera pada pedoman wawancara kepada informan. Wawancara berlokasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Andalas. Peneliti mengalami sedikit kendala seperti permasalahan dalam menyesuaikan waktu yang tepat antara informan dengan peneliti. Ketika melakukan penentuan jadwal, informan bersifat fleksibel bergantung pada jadwal peneliti serta aktivitas informan tidak terlalu padat karena aktivitas informan hanya ke kampus untuk bimbingan skripsi saja. Lalu, kendala yang peneliti hadapi yaitu peneliti mengalami keterlambatan jadwal selama 60 menit karena informan izin sedang dilanda hujan yang lebat ketika menuju lokasi sehingga wawancara awalnya direncanakan akan dilaksanakan pada pukul 14.00 WIB diundur menjadi pukul 15.00 WIB. Solusi yang dapat dilakukan peneliti yaitu dengan segera mencatat poin-poin penting yang diucapkan oleh informan, izin melakukan perekaman suara ketika dilakukannya wawancara antara informan dengan peneliti, dan menuliskan segera transkrip wawancara pada hari yang sama. Pada akhir wawancara, peneliti meminta izin memperoleh data-data pribadi informan seperti domisili dan umur. Kemudian, untuk wawancara kedua dan ketiga dilanjutkan melalui via Whatsapp Messenger pada tanggal 18 Mei 2024 dan 26 Juni 2024.
4.3 Hasil Penelitian
4.3.1 Pengalaman Komunikasi Antar Budaya dalam Menghadapi Gegar Budaya pada Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom Berdasarkan Tahapan Gegar Budaya
Pada penelitian ini, peneliti melakukan penjabaran mengenai data hasil wawancara dengan subjek penelitian sebagaimana yang telah dijelaskan oleh subjek peneliti bahwa data yang diperoleh mengalami reduksi data yang dikenal reduksi epoche. Pada reduksi epoche, segala sesuatu yang berkaitan dengan penilaian, pemahaman, dan pengetahuan dari informan secara langsung, sehingga menghasilkan data yang bersifat murni dan menjadi perwakilan dari informan itu sendiri. Dengan kata lain, di dalam reduksi ini, peneliti hanya menjelaskan penilaian, pemahaman, dan pengetahuan dari perspektif subjek penelitian saja. Data-data penelitian bersumber dari hasil wawancara semi terstruktur secara online maupun offline dari para peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai pengalaman komunikasi antar budaya dalam menghadapi gegar budaya. Hasil dari penelitian diperoleh dari jawaban-jawaban dari para subjek penelitian berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti langsung.
4.3.1.1 Tahapan Harapan Besar (Eager Expectation)
4.3.1.1.1 Informan 1 Ilwan
Informan Ilwan merupakan salah satu peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang berasal dari Universitas Negeri Manado. Ilwan mengalami tahapan harapan besar (eager expectation) terhadap kegiatan PMM yaitu program ini merupakan kegiatan yang sangat direkomendasikan untuk diikuti dan seharusnya memang dari dulu, pemerintah mencanangkan program ini agar nantinya manfaat dari PMM atau kegiatan sejenis ini bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, Ilwan juga tidak menyangka sebelumnya jika Universitas Telkom yang ditujunya merupakan salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia dan mengikuti kegiatan Modul Nusantara yang menurutnya itu sangat baru baginya.
“…agar program ini tetap dilanjutkan siapapun nanti yang akan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia…seharusnya PMM ini sudah dimulai sejak dahulu agar memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi generasi muda Indonesia agar menjadi insan yang unggul dan berkompeten di bidangnya. Saya tidak menyangka bahwa Universitas Telkom merupakan universitas swasta terbaik di Indonesia yang dimana fasilitas kampus sangat canggih dan memiliki civitas akademika yang berkompeten di bidangnya…hal yang paling tidak pernah saya bayangkan yaitu mempelajari alat musik Sunda, Silat Sunda, dan Wayang Golek.” (Wawancara Ilwan, Aplikasi Google Meet 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian, Ilwan juga tidak terlalu berharap banyak mengenai keberangkatan program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom dan kurang dalam melakukan observasi awal terkait perguruan tinggi tujuan PMM yang ditujunya tersebut. Namun, setelah di Bandung, informan baru menyadari bahwa kampus yang dituju merupakan perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia.
“Ekspektasi saya waktu itu tidak terlalu banyak. Hal ini dikarenakan saya tidak mengecek dan membayangkan terlebih dahulu terkait Universitas Telkom ini seperti apa. Setelah saya mengikuti PMM2 TEL-U, barulah saya tahu bahwa kalau TEL-U itu merupakan universitas swasta yang masuk peringkat 10 besar di Indonesia. Menurut saya, kampus tersebut merupakan kampus terbaik.” (Wawancara Ilwan, 22 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Lalu, Ilwan mengaku bahwa memang memiliki harapan yang indah terkait Jawa Barat. Hal ini disebabkan karena masyarakat Bandung itu mayoritas terkenal dengan masyarakatnya yang cantik dan tampan rupawan. Kemudian, hal ini juga didukung dengan banyaknya budaya yang unik yang ada disana.
“Untuk budaya di Jawa Barat, juga saya tidak terlalu banyak. Akan tetapi, ketika saya berada di Bandung, memang saya akui bahwa wanita disana memang berparas cantik (geulis). Lalu budayanya itu sangat kaya sekali seperti tentang Suling Sunda, Wayang Golek, dan sebagainya. Hal itu membuat ekspektasi saya terhadap budaya di Bandung sangat bagus.” (Wawancara Ilwan, 22 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, Ilwan juga berpendapat bahwa dirinya pada awal mengikuti PMM, memiliki beberapa pandangan tertentu terhadap peserta yang berasal dari pulau Sumatera dan Papua. Informan beranggapan bahwa masyarakat pada dua daerah itu berperilaku keras. Namun, setelah di lapangan, Ilwan mengaku bahwa anggapannya salah, malah menurutnya teman-teman yang berasal dari Sumatera maupun Papua itu mereka suka diajak berdiskusi.
“Kalau ini, saya rasa ada. Misal, teman-teman yang berasal dari pulau Sumatera, saya kira awalnya, orang-orang disana keras-keras. Baik itu dari nada bicara maupun berperilaku. Ketika saya mengikuti PMM2 TEL-U, saya menemukan bahwa peserta dari pulau Sumatera itu juga tidak keras-keras juga. Terus teman-teman yang dari Papua, yang awalnya saya kira, orangnya itu sangar-sangar. Ternyata, tidak juga seperti Rusdy misalnya. Bahkan, di antara kita masih asik diajak mengobrol dan lain sebagainya.” (Wawancara Ilwan, 22 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Dapat disimpulkan bahwa Ilwan mengalami perbedaan budaya pada segi makanan maupun kebiasaan masyarakat yang berkembang pada suatu daerah yang baru dikunjungi. Hal ini membuat semakin membuat menjadi tertantang dengan budaya tersebut.
4.3.1.1.2 Informan 2 Salsa
Informan Salsa merupakan salah satu peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang berasal dari Universitas Udayana. Salsa mengalami tahapan harapan besar (eager expectation) pada kegiatan PMM yaitu tidak sabar untuk berdiskusi dengan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Selain itu, Salsa juga tidak sabar untuk mempelajari bidang di luar program studi di perguruan tinggi (PT) tujuan PMM.
“…saya dapat mengenal kebudayaan, memperoleh kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dengan berdialog serta berdiskusi, serta dapat meminimalisir prasangka akan suatu kebudayaan suatu daerah…saya banyak belajar hal baru, banyak mempelajari ilmu di luar program studi yang dimana saya berasal dari jurusan Ekonomi di kampus asal saya.” (Wawancara Salsa, 23 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, Salsa juga berpendapat bahwa dia tidak terlalu banyak harapan sebelum mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka. Yang hanya informan Salsa pikirkan kala itu ialah bagaimana nanti setelah di Bandung maupun untuk bersosialisasi dengan peserta yang lain.
“Pada awalnya, saya tidak terlalu berekspektasi tinggi ketika berangkat ke Bandung untuk mengikuti PMM2 TEL-U. Namun, saya hanya berpikir karena saya akan pergi ke tempat baru, maka saya perlu mengeluarkan effort lebih agar dapat berbaur dengan teman-teman yang berasal dari beragam daerah.” (Wawancara Salsa, 23 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian, Salsa mengatakan bahwa memang budaya yang diharapkannya ketika di Bandung itu sangat sesuai dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Setelah berada di Bandung selama 4,5 bulan, Salsa melihat banyak sekali budaya-budaya Sunda yang perlu digali lagi lebih mendalam.
“Saya berekspektasi bahwa Bandung merupakan tempat yang nyaman untuk ditinggali. Faktanya, memang benar adanya,. Di media sosial, Bandung seringkali digambarkan sebagai tempat dengan atmosfir unik seperti halnya di Yogyakarta. Menurut, saya hampir di setiap sudut Bandung, menyimpan hal yang menarik untuk dijelajahi, termasuk juga budaya-budaya yang berkembang disana.” (Wawancara Salsa, 20 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Salsa bereksepektasi bahwa budaya Sunda sangat kaya sehingga membuat juga untuk menariknya untuk tertantang dengan budaya tersebut.
4.3.1.1.3 Informan 3 Amanda
Informan Amanda merupakan salah peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang berasal dari Universitas Sriwijaya. Amanda mengaku bahwa mengalami tahapan harapan besar (eager expectation) pada program PMM ini seperti sebagai sarana pertukaran informasi antar mahasiswa dalam lingkup nasional serta sarana untuk melatih mental. Selain itu, Amanda berharap dengan mengikuti kegiatan ini, bisa menjadi sarana baginya untuk mempelajari lebih dalam mengenai budaya suatu daerah.
“…merupakan sebuah proses pertukaran informasi yang terjadi dalam suatu budaya yang berbeda…saya belajar bagaimana mengontrol emosi serta mempelajari bagaimana memahami kebudayaan melalui tarian daerah asal pada kegiatan perpisahan PMM2 Universitas Telkom.” (Wawancara Amanda, 25 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian Amanda mengaku bahwa harapannya sebelum berangkat PMM2 TEL-U bisa dikatakan cukup positif. Hal ini dikarenakan dengan adanya program ini dapat menjadi sarana baginya untuk menambah pengalaman di luar kampus dan mampu untuk berkolaborasi dengan berbagai macam latar belakang daerah di Indonesia.
“Sebelum berangkat PMM2 TEL-U, ekspektasi saya sangat tinggi. Saya berharap program ini menjadi pengalaman yang memperkaya, baik dari segi akademis maupun sosial. Saya membayangkan akan terlibat dalam banyak kegiatan yang akan memperluas pengetahuan saya, terutama di bidang yang saya pelajari. Selain itu, saya mengharapkan dapat bertemu dengan banyak teman baru dari berbagai daerah di Indonesia, yang akan membuka wawasan saya tentang keragaman budaya di negara kita. Saya juga berharap bahwa program ini membantu saya meningkatkan keterampilan komunikasi dan adaptasi, yang sangat penting dalam kehidupan profesional di masa depan. Singkatnya, saya berharap bahwa pengalaman ini akan memberi saya banyak pelajaran berharga dan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.” (Wawancara Amanda, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, Amanda juga menambahkan bahwa memiliki beberapa harapan terhadap beberapa budaya yang ada di Jawa Barat. Hal ini membuatnya lantas semakin tertantang untuk mencoba menyelami program PMM ini dan berusaha untuk memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya.
“Sebelum berangkat, saya memiliki banyak ekspektasi positif tentang budaya di Jawa Barat. Saya tahu bahwa Jawa Barat terkenal dengan kekayaan budayanya, terutama budaya Sunda yang memiliki tradisi dan adat istiadat yang sangat unik. Saya berharap bisa merasakan langsung keramahan masyarakat Sunda, yang sering digambarkan sebagai sangat ramah dan hangat. Saya juga sangat tertarik untuk mencoba berbagai kuliner khas Jawa Barat, seperti nasi liwet, lotek, dan surabi. Selain itu, saya berharap bisa belajar lebih banyak tentang seni dan budaya lokal, seperti tari jaipong dan angklung. Saya juga tertarik untuk mengunjungi berbagai tempat wisata budaya di Jawa Barat dan belajar tentang sejarah serta kebudayaan setempat” (Wawancara Amanda, 25 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.1.4 Informan 4 Afdal
Informan Afdal merupakan salah satu peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang berasal dari Universitas Andalas. Afdal berpendapat bahwa mengalami tahapan harapan besar (eager expectation) terhadap kegiatan PMM ini terkait beragamnya isu kebudayaan yang dihadirkan dan fenomena gegar budaya merupakan hal yang biasa terjadi khususnya pada lingkungan yang baru. Selain itu, Afdal berharap kegiatan ini semakin ditingkatkan kualitasnya, agar makin banyak mahasiswa yang bisa menikmati manfaat dari program PMM ini.
“…Di antara perbedaan ini, bisa mengangkat isu kebudayaan sehingga dibutuhkan toleransi antara budaya yang satu dengan budaya yang lain…gegar budaya atau culture shock ialah segala sesuatu yang menjadi konsekuensi dari perbedaan budaya dan komunikasi antar budaya…Saya berharap bahwa untuk program ini diperjelas lagi dengan sistem pengelolaan dan kebijakan khusus agar tidak merugikan para mahasiswa PMM yang telah terlibat serta meningkatkan minat mahasiswa tersebut.” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian Afdal mengaku bahwa harapannya sebelum mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu akan bertemu dengan berbagai macam peserta dari seluruh Indonesia. Informan sangat bersyukur bisa menjadi salah satu bagian dalam kegiatan ini.
“Ekspektasi saya ialah dapat bertemu dengan orang-orang dari berbagai daerah, dengan berbagai bahasa, dan juga perbedaan kebiasaan. Karena saya merasa hal-hal tersebut akan sangat menarik untuk dipelajari dan dipahami sebagai pengetahuan dan ilmu-ilmu baru.” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Afdal juga menambahkan bahwa informan tidak memiliki banyak harapan terhadap budaya Sunda. Hal ini dikarenakan informan ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, informan sudah pernah bersekolah di Jawa Barat sehingga budaya Sunda, bukan menjadi suatu hal yang baru baginya.
“Tidak ada ekspektasi mengenai budaya di Jawa Barat karena saya menyelesaikan persekolahan hingga kelas 1 SMP di Jawa Barat.” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Dengan demikian informan Afdal tidak banyak berekspektasi terkait budaya Sunda sebelumnya karena dirinya sudah berpengalaman sejak kecil berpindah sekolah pada daerah-daerah yang beragam.
4.3.1.1.5 Informan 5 Bamba
Informan Bamba merupakan salah satu peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang berasal dari Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang. Bamba mengatakan bahwa mengalami tahapan besar (eager expectation) terhadap kegiatan PMM merupakan kegiatan memahami budaya suatu daerah serta mempelajari individu yang berbeda budaya. Selain itu, LBPPK mengaku bahwa kegiatan PMM ini semakin ditingkatkan kualitas program ke depannya.
“…komunikasi antar budaya sendiri merupakan bagaimana kita memahami sifat dan adat istiadat pada suatu daerah…gegar budaya yaitu bagaimana cara kita berkomunikasi dengan individu yang berbeda kebudayaan agar tidak terlalu kaget dengan perbedaan budaya…Harapan saya sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu lebih diperbagus dan diperbanyak lagi bagaimana kebudayaan yang ada di Bandung sendiri…” (Wawancara Bamba, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian, Bamba berpendapat bahwa harapannya sebelum berangkat mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu menemui berbagai macam peserta dari berbagai daerah di Indonesia serta menemukan dan mempelajari kebudayaan yang ada di daerah tersebut.
“Bayangan saya sebelum berangkat untuk melaksanakan kegiatan PMM2 TEL-U adalah dimana saya akan mendapatkan banyak ilmu dan banyak teman, serta mendapatkan budaya yang baru yang belum saya kenal di tempat saya berada di awal serta cara beradaptasi dengan sesama.” (Wawancara Bamba, Padang 4 Maret 2024).
Dengan demikian, Bamba memiliki banyak ekspektasi terhadap budaya Sunda dimana ia mengenal budaya Sunda sebagai warisan budaya terunik yang pernah dirinya temui.
4.3.1.2 Tahapan Semua Begitu Indah (Everything is Beautiful)
4.3.1.2.1 Informan 1 Ilwan
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, Ilwan mengaku bahwa selama mengikuti kegiatan PMM2 TEL-U, Ilwan mengalami tahapan semua begitu indah (everything is beautiful) dengan banyak mengikuti berbagai kegiatan menarik dan menantang dari Modul Nusantara seperti mengunjungi situs sejarah alam Gunung Puntang. Selain itu, salah satu ciri khas dari kegiatan ini ialah para peserta diajak untuk belajar memahami bagaimana sikap dan perilaku masyarakat Sunda di lapangan.
“…Salah satu program Modul Nusantara yang menarik perhatian saya kegiatan kunjungan ke salah satu situs alam bersejarah di provinsi Jawa Barat yaitu Gunung Puntang. Pada kegiatan ini, saya mengikuti kegiatan berkemah bersama para peserta PMM2 TEL-U…Selain itu, yang sangat saya apresiasi dari masyarakat Jawa Barat, bahwa mereka tersebut bersikap sopan santun dalam berbicara dan berperilaku.” (Wawancara Ilwan, 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, Ilwan juga berpendapat bahwa selama mengikuti PMM2 TEL-U, informan mendapatkan gambaran bagaimana pandangannya kepada beberapa peserta, terutama yang berasal dari Padang, Sumatera Barat. Informan beranggapan bahwa dirinya sudah seringkali bertemu dengan mahasiswa Padang yang ada di Manado. Menurutnya, yang menjadi ciri khas masyarakat Minang ialah pada segi makanan daerah dan logat bahasa daerahnya.
“Kalau stereotip dan prasangka saya kepada peserta PMM2 TEL-U yang berasal dari Padang, saya tidak banyak prasangka. Hal ini dikarenakan dari tempat saya sebelumnya di Manado, tepatnya di kampus saya tersebut, ada beberapa orang yang dari Padang. Jadi, saya sudah mengetahui orangnya seperti apa. Saya mengenal orang Padang itu, identik dengan makanan daerahnya yang banyak sekali yang mengandung rempah. Selain itu, logat bahasa Minang itu, menurut saya ada logatnya tersendiri yang membuat bahasanya itu unik juga.” (Wawancara I, 22 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.2.2 Informan 2 Salsa
Salsa mengaku selama mengikuti PMM2 TEL-U, Salsa mengalami tahapan semau begitu indah (everything is beautiful). Menurutnya, banyak kegiatan menarik dari Modul Nusantara dengan mempelajari sejarah di berbagai situs wisata alam maupun tempat-tempat bersejarah yang ada di provinsi Jawa Barat. Selain itu, Salsa juga berpendapat bahwa keunikan budaya dari Sunda itu ialah Wayang Golek yang dimana sangat berbeda dari jenis wayang yang ada di pulau Jawa yang lain.
“…Pengalaman Modul Nusantara yang pernah saya ikuti yaitu ketika mengikuti kegiatan tersebut, saya banyak menemukan berbagai sejarah dari kota Bandung serta melakukan kegiatan eksplorasi bersama…Yang dimana wayang golek ini sangat berbeda dengan wayang kulit dari Jawa Tengah yang umumnya lebih bersifat dua dimensi saja.” (Wawancara Salsa, 22 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, ekspektasi Salsa dengan peserta PMM2 TEL-U yang lain tidak terlalu yang negatif. Bahkan, Salsa beranggapan bahwa semua peserta itu sama dan selaras. Hal ini dikarenakan perbedaan budaya bukanlah sesuatu yang membuat antar peserta bercerai justru hal itulah yang semakin memperkuat kerjasama antar tim.
“Sedari awal, saya tidak terlalu memiliki stereotip kepada asing-masing teman dari beragam daerah. Saya pikir kita hanya terbiasa dengan gaya hidup yang berkembang di daerah asal kita. Namun, secara garis besar, kita tetap sama dan selaras. Jadi dari awal, saya pribadi tidak ada stereotip ke masing-masing daerah, termasuk teman-teman PMM dari Padang.” (Wawancara Salsa, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Salsa juga menambahkan bahwa ketika mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, informan bahkan dengan sesama peserta dari Bali, ia juga tidak ada pandangan yang negatif. Hanya dari perbedaan kosakata bahasa Bali tertentu yang menunjukkan bahwa hanya digunakan pada daerah Denpasar saja.
“Untuk sesama peserta PMM2 TEL-U yang sama-sama dari provinsi Bali, bahasanya tidak berbeda jauh. Tidak seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.” (Wawancara Salsa, 23 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.2.3 Informan 3 Amanda
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, Amanda berpendapat bahwa mengalami tahapan semua begitu indah (everything is beautiful) dengan menemukan hal yang menarik seperti keunikan antara rumpun Melayu yang ada di pulau Sumatera, mempelajari alat musik tradisional yang hanya ada di Sunda yaitu angklung, memahami bagaimana perilaku masyarakat suku Sunda, serta adanya aliran kepercayaan yang unik dari bumi Pasundan yaitu agama kebatinan perjalanan. Selain itu, selama mengikuti PMM ia juga banyak belajar menggunakan bahasa asing.
“…saya banyak menemukan perbedaan bahasa antara Melayu Aceh dan Melayu Palembang…Kegiatan memainkan alat musik angklung ini terjadi ada saat kita mengikuti kegiatan kunjungan budaya Sunda di Saung Angklung Udjo…saya mengetahui banyak cara bagaimana menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat Sunda itu sendiri…kami mengikuti kunjungan belajar sejarah dan perkembangan kebatinan perjalanan…saya banyak mengikuti kegiatan lain seperti kegiatan budaya, sejarah, dan pengembangan soft skill…” (Wawancara Amanda, Aplikasi Zoom 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Amanda menambahkan bahwa dirinya juga memiliki pendapat yang beragam kepada beberapa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, terutama kepada peserta yang berasal dari Bali yang mudah bergaul, Palembang dengan jiwa semangat yang tinggi, Padang yang dikenalnya sebagai sosok pekerja keras, dan Medan dengan loyalitasnya.
“Sebelum mengikuti program, saya memang memiliki beberapa stereotip dan prasangka terhadap beberapa peserta dari daerah lain. Misalnya, peserta dari daerah Bali adalah daerah wisata yang terkenal dengan keramahan penduduknya. Untuk peserta dari Palembang, sebagai sesama orang Sumatera, saya mengira akan memiliki semangat juang yang tinggi dan mungkin sedikit keras kepala. Peserta dari Padang, saya bayangkan sebagai orang yang disiplin dan pekerja keras, mengingat budaya Minang yang terkenal dengan semangat merantau dan kerja keras. Sedangkan peserta dari Medan, saya bayangkan memiliki kepribadian yang kuat, vokal, dan mungkin sedikit kasar dalam berbicara, namun sangat loyal kepada teman-teman mereka. Tentu saja, saya juga memiliki prasangka negatif, seperti kekhawatiran adanya konflik budaya atau perbedaan cara berkomunikasi yang bisa menyebabkan kesalahpahaman.” (Wawancara Amanda, 25 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Amanda mengaku bahwa dengan adanya perbedaan pandangan ini justru mendorongnya untuk memperkuat persatuan dan kesatuan antara berbeda kebudayaan. Budaya justru akan lebih indah jika terdiri dari berbagai ragam latar belakang.
“Pengalaman ini membantu saya memahami bahwa stereotip dan prasangka seringkali tidak akurat dan bisa menghambat pemahaman yang lebih mendalam tentang seseorang. Saya belajar untuk lebih terbuka dan menerima perbedaan, serta menghargai keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Pengalaman ini juga mengajarkan saya untuk lebih berhati-hati dalam menilai orang berdasarkan asal daerah mereka dan lebih fokus pada kepribadian kualitas individu.” (Wawancara APF, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.2.4 Informan 4 Afdal
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, Afdal mengaku bahwa hal yang paling menarik dari kegiatan PMM yaitu seperti tinggal di asrama kampus dengan kamar yang anggota dipilih secara acak oleh Universitas Telkom, pengalaman pindah sekolah yang begitu sering sejak di bangku sekolah dasar, serta mempelajari logat-logat bahasa daerah tertentu. Selain itu, dengan mengikuti PMM, Afdal bisa belajar untuk lebih bersyukur lagi dan memperdalam potensi yang ada di dalam dirinya.
“…Hal ini menjadi hal yang sangat baru bagi saya karena ini merupakan pengalaman pertama saya merasakan tinggal di asrama… Sejak usia kecil hingga berada di bangku kelas 1 SMP, saya dibesarkan di Depok, Jawa Barat. Lalu, ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMP, barulah saya pindah ke Padang, Sumatera Barat…Hal ini dikarenakan saya dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik serta mempelajari logat-logat bahasa daerah tersebut…Hal itu menjadi pelajaran bagi saya bahwa kita bisa dikatakan lebih sempurna dari mereka, seharusnya kita mensyukuri kehidupan kita ini.” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, Afdal menambahkan juga bahwa informan tidak memiliki pandangan yang negatif kepada peserta PMM2 TEL-U yang lain. Bahkan, informan beranggapan bahwa hal ini bisa menjadi pemicu bagi dirinya untuk memahami perbedaan di kalangan masyarakat sekitarnya.
“Saya sejak awal, tidak memiliki prasangka apapun mengenai kebiasaan yang dimiliki oleh latar belakang yang berbeda-beda, bagi saya hal yang baik dan buruk, menurut saya yang berbeda-beda terhadap yang dipahami mahasiswa dengan latar belakang budaya yang lain, merupakan suatu hal yang menarik dari keberagaman Indonesia, sehingga itu menjadi sesuatu yang dipahami dan dinikmati sebagai bentuk indahnya pergaulan yang beragam.” (Wawancara AYE, 24 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.2.5 Informan 5 Bamba
Bamba berpendapat bahwa hal yang paling menarik yang didapatkan mengikuti PMM ialah mendapatkan teman-teman yang tidak terlupakan serta masyarakat Sunda yang sangat ramah akan pendatang. Selain itu, saya juga bisa berdiskusi serta bertukar pikiran dengan peserta PMM lain.
“…saya banyak menemukan teman-teman yang asyik, saling mendukung satu sama lain, saya sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri, serta orang-orangnya sulit dilupakan sampai sekarang…ketika saya berada di Jawa Barat, sebagian masyarakatnya masih mengedepankan budaya sapa menyapa…Sebagian besar peserta PMM2 TEL-U, tidak terlalu menyombongkan diri, saling berbaur, dan menceritakan keunikan daerahnya sendiri…” (Wawancara Bamba, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Berbeda dengan Afdal, informan Bamba justru mengatakan bahwa ketika ia menjadi peserta PMM2 TEL-U ia belajar membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta ingin tahu dengan kosa kata bahasa daerah yang masih belum diketahui. Selain itu, Bamba berpendapat bahwa dengan mempelajari budaya, ia dapat mendapatkan banyak sahabat yang tak terlupakan di dalam hidupnya.
“…Lalu, komunikasi antar budaya sendiri merupakan bagaimana kita memahami sifat dan adat istiadat pada suatu daerah. Komunikasi sehari-hari saya dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu dengan sesama peserta PMM2 TEL-U, saya menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia serta saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi yaitu dengan saya selalu menanyakan beberapa kosa kata bahasa daerah yang belum saya ketahui. Selain itu, kita juga harus mampu berbaur dengan peserta yang lain dari PMM2 TEL-U, agar bisa menjalin persahabatan di tempat yang baru kita kunjungi.” (Wawancara Bamba, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.3 Tahapan Semua Tidak Menyenangkan (Everything is Awful)
4.3.1.3.1 Informan 1 Ilwan
Kemudian, Ilwan mengatakan bahwa selama mengikuti kegiatan Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, Ilwan mengalami tahapan semua tidak menyenangkan (everything is awful) dengan melihat berbagai masalah yang dimana adanya perbedaan karakter dari setiap peserta pertukaran yang dimana sangat berbeda antara kegiatan awal hingga kegiatan akhir dari PMM2 TEL-U, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru khususnya pada makanan daerah dan kebiasaan masyarakat Sunda, mengalami hambatan ketika menjalin kerja sama dengan peserta lain terutama peserta yang berbeda daerah dan berkepribadian introvert, perbedaan makanan daerah dan jumlah rumah ibadah, serta pergaulan dari pelajar di Bandung itu sendiri yang cenderung agak bebas seperti minuman keras, seks bebas, serta geng motor. Oleh karena itu, dari beberapa sisi gelap dari masyarakat Sunda, membuatya untuk bisa menjaga diri dan pergaulan agar tidak ikut terbawa arus pada hubungan yang negatif.
“…Ada peserta yang orangnya sedikit pemalu dan jarang banyak berbicara. Namun, ada juga pesertanya yang sangat aktif, suka banyak berbicara, dan lebih supel dengan peserta yang lain…Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai mahasiswa rantau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebudayaan antar dua provinsi tersebut…Hambatan saya pada proses perbedaan budaya yaitu terkadang saya mengalami kesulitan untuk menyatukan berbagai perbedaan pendapat dari para peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom…di Manado sendiri, sangat banyak sekali gereja, sedangkan Bandung memiliki banyak masjid…Ketika itu, saya mengikuti kelas Manajemen Acara pada jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Telkom, banyak dari mahasiswanya yang mengonsumsi alkohol dengan dalih sebagai penyemangat kerja pada saat menyiapkan tugas besar tersebut.” (Wawancara Ilwan, 16 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan kepada Ilwan, informan tersebut berpendapat bahwa mengalami tahapan semua tidak menyenangkan (everything is awful) dengan terdapat beberapa permasalahan yang dihadapinya ketika berusaha agar bisa menyesuaikan diri dan bertahan hidup selama di Bandung. Selain itu, Ilwan juga mengaku bahwa permasalahan yang dihadapi ketika di Bandung yaitu pada saat informan tidak menyangka akan mendatangi daerah yang sangat dingin seperti Gunung Puntang tanpa persiapan apapun. Tetapi, karena dirinya sudah terbiasa di daerah Manado yang dingin serta pernah beberapa mengikuti kegiatan jelajah alam, semua permasalahan tersebut bisa diatas dengan baik dengan menyiapkan beberapa pakaian hangat di dalam tasnya.
“Sebelumnya, di Manado ini, untuk suhu udaranya memang dingin, khususnya di kawasan Universitas Negeri Manado. Jadi, suhunya, sama dengan suhu Gunung Puntang yang dingin. Jadi, ekspektasi saya pada saat itu, memang tidak tertebak bahwa akan ke daerah tersebut. Hal ini dikarenakan bahwa sebelumnya, saya berkuliah di daerah yang bersuhu dingin juga Jadi tidak masalah dan tidak jatuh sakit dan juga memang sudah terbiasa dengan suhu dingin. Bahkan, saya sudah biasa pergi menjelajahi beberapa gunung yang ada di Indonesia.” (Wawancara Ilwan, 22 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian, pada permasalahan makanan daerah di Jawa Barat. Ilwan mengaku bahwa makanan di Bandung cenderung bercita rasa manis dan tidak ada yang pedas sama sekali seperti makanan-makanan daerah di Manado. Hal yang dilakukan oleh Ilwan agar bertahan hidup yaitu dengan membiasakan diri untuk tidak memilih-milih makanan yang diberikan selama program Modul Nusantara. Walaupun makanan tersebut bercita rasa pedas maupun manis.
“Kalau untuk makanan, saya tidak pilih-pilih sebenarnya, yang penting makanannya enak. Walaupun makanan tersebut bercita rasa manis atau pedas. Tetapi, perbedaan utama ialah jumlah makanan pedas atau manisnya. Kalau di pulau Jawa, mayoritas masyarakatnya tidak menyukai makanan yang pedas. Sedangkan di Manado, biasanya makanannya pedas semua, tidak ada yang manis. Hal itulah yang menjadi culture shock pertama bagi saya waktu itu. Setelah 4,5 bulan di Bandung, saya sudah terbiasa dengan makanan yang pedas maupun manis. Jadi, bukan suatu kendala yang berarti bagi saya.” (Wawancara Ilwan, 22 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.3.2 Informan 2 Salsa
Salsa mengatakan bahwa selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, SPAP mengalami tahapan semua tidak menyenangkan (everything is awful) dengan melihat terdapat berbagai permasalahan yang dihadapinya selama mengikuti program ini yaitu seperti sering mengucapkan pengucapan kata yang salah antar sesama peserta PMM yang juga berasal dari provinsi Bali, yang dimana penggunaan kata “nok” itu hanya berlaku di daerah Denpasar saja, terhambat dengan berbagai cara berkomunikasi yang beragam antar peserta karena beragamnya asal daerah dan latar belakang kebudayaan daerah masing-masing, dan perbedaan kebiasaan hidup masyarakat Bandung pada kualitas pendidikan dan transportasi, yang menurutnya lebih baik daripada di Bali. Selain itu, Salsa juga mengaku sangat terkejut dengan kebiasaan masyarakat di Bandung yang sering menggunakan plastik asongan, karena di Bali memiliki kebijakan tersendiri terkait penggunaan plastik.
“…Terkadang kami keceplosan berbicara menggunakan bahasa daerah atau bahkan lupa ternyata kata yang kita gunakan bukan bahasa Indonesia…Hal yang saya lakukan ketika mengalami hambatan pada proses perbedaan budaya yaitu dengan cara berkomunikasi dengan berbagai peserta PMM2 TEL-U yang berasal dari daerah yang beragam…Ditambah lagi dengan aplikasi MyTelU yang semakin memudahkan mahasiswa dalam melihat jadwal perkuliahan, berbeda dengan universitas asal saya yang belum memiliki aplikasi sejenis ini…saya masih sering melihat masyarakat bepergian menggunakan transportasi umum…Bahkan, saya juga agak kaget ketika beli barang kecil saja diberikan kantong kecil.” (Wawancara Salsa, 20 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Salsa berpendapat bahwa mengalami tahapan semua tidak menyenangkan (everything is awful) yaitu selama terdapat permasalahan yang terjadi selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu dengan sikap toleransi akan perbedaan walaupun menurutnya kebudayaan itu tidak sesuai bagi dirinya, dan ikut serta dalam mempelajari budaya daerah tersebut, khususnya budaya Sunda. Selain itu, Salsa berpendapat bahwa upaya lain yang bisa dilakukan yaitu dengan pentingnya keterlibatan kita secara aktif di lingkungan masyarakat agar bisa diterima dan memahami sikap, perilaku, maupun kebiasaan masyarakat yang ada di Bandung.
“…Upaya yang saya lakukan dalam menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan dengan memupuk sikap hormat menghormati dan menghargai perbedaan tersebut. Selain itu, yang dapat dilakukan yaitu mempelajari dan mencari tahu daerah asal dan kebiasaan teman-teman yang lain. Upaya yang saya lakukan untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu mempelajari budaya lain, saling menghormati, menghargai perbedaan, mencari tahu daerah asal teman-teman lainnya. Selain itu, saya juga bertanya secara langsung dan belajar kebudayaan teman lain agar lebih paham dan tidak menimbulkan prasangka.” (Wawancara Salsa, 23 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.3.3 Informan 3 Amanda
Amanda mengaku bahwa mengalami tahapan semua tidak menyenangkan (everything is awful) dengan sering mengalami permasalahan seperti perundungan secara verbal karena logat bahasanya yang agak keras serta sering lupa untuk mengatur nada bicara dan perkataan. Akhirnya dirinya pun mulai belajar tata krama dalam berbicara agar masyarakat Sunda merasa tidak tersinggung. Selain itu, terkadang ada beberapa kegiatan Modul Nusantara yang menurutnya itu tidak menarik karena menurutnya terlalu membosankan. Walaupun demikian, hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk mengeksplor keberagaman daerah selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom.
“…saya selalu mendapatkan bisikan dari para siswa Sunda bahwa kalau logat bahasa yang saya gunakan agak kasar karena saya berasal dari Palembang yang terbiasa menggunakan logat bahasa yang agak kasar…saya juga masih berusaha untuk mengingatkan diri sendiri agar ketika berbicara tidak terlalu ceplas-ceplos dan berusaha mengatur nada suara agar tidak terlalu tinggi…saya bisa dikatakan kurang tertarik dengan hal yang berbau seni seperti puisi ini karena saya tidak terlalu tertarik dengan seni kontemporer sehingga ketika saya mengikuti kegiatan ini saya merasa agak sedikit malas dan bosan.” (Wawancara Amanda, 14 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, tahapan yang informan alami Amanda setelah mendapatkan beberapa bisikan secara tidak langsung dari beberapa masyarakat Bandung, dirinya terkadang merasakan ketidaknyamanan dan sulitnya untuk di awal menyesuaikan dengan budaya yang ada di Sunda. Hal itu terjadi karena perbedaan logat bahasa antara Sunda dan Palembang yang cukup signifikan yang dimana bahasa Sunda cenderung lembut, akan tetapi bahasa Palembang sudah terbiasa menggunakan logat bahasa yang agak keras.
“Awalnya, ketika saya mendengar bahwa ada beberapa orang yang menganggap logat bahasa saya kasar. Sebagai seseorang yang berasal dari Sumatera Selatan, logat dan intonasi bicara kami memang sedikit berbeda dari masyarakat di Jawa Barat. Ada saat dimana saya merasa tidak nyaman dan khawatir akan menyinggung perasaan orang lain tanpa sengaja. Saya juga merasa saat dimana saya merasa tidak nyaman dan khawatir menyinggung perasaan orang lain tanpa sengaja. Saya juga merasa sedikit terisolasi karena perbedaan tersebut membuat saya khawatir dalam berinteraksi, terutama ketika berkomunikasi dengan masyarakat lokal.” (Wawancara Amanda, 25 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian, dilanjutkan pada Amanda yang berpendapat bahwa mengalami tahapan semua tidak menyenangkan (everything is awful) berupa permasalahan-permasalahan yang dihadapinya pada saat melakukan penyesuaian budaya di Bandung yaitu dengan belajar untuk memperbaiki diri dan mulai mengeksplor lebih mendalam terkait budaya yang di Jawa Barat. Menurutnya, banyak sekali potensi-potensi budaya yang belum digali lebih banyak dari budaya Sunda, sehingga hal itu mendorongnya untuk lebih memahami masyarakat itu sendiri.
“Namun, saya tidak membiarkan hal tersebut menghalangi aktivitas saya selama di Bandung. Saya memutuskan untuk melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Saya mulai lebih banyak mendengarkan cara berbicara mereka yang lebih lembut dan halus. Saya juga meminta bantuan teman-teman yang berasal dari Jawa Barat untuk memberikan masukan dan saran mengenai cara berkomunikasi yang lebih sesuai.” (Wawancara Amanda, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Lalu, Amanda berpendapat bahwa ketika informan menghadapi segala permasalahan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, justru membuatnya menjadi lebih terbuka dengan perbedaan-perbedaan budaya yang ada. Contohnya, pada saat berkuliah di Universitas Telkom, dirinya mulai belajar berbicara dengan menggunakan logat-logat bahasa Sunda kepada sejumlah mahasiswa yang sekelas dengannya.
“Dengan pendekatan tersebut, saya merasa lebih nyaman dan mampu berkomunikasi dengan masyarakat Sunda tanpa merasa canggung. Pengalaman ini juga memperkaya saya dengan pemahaman baru tentang keberagaman budaya Indonesia dan pentingnya keterbukaan serta adaptasi dalam berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda.” (Wawancara Amanda, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selaras dengan Amanda, dirinya mengaku bahwa adaptasi yang informan lakukan dalam menghadapi permasalahan selama di provinsi Jawa Barat seperti fokus dalam meningkatkan pengalaman selama perkuliahan dengan bergabung dengan komunitas-komunitas yang menunjang softskill dan hardskill, menyesuaikan diri dengan masyarakat dengan mempelajari kebudayaan yang ada di negeri Pasundan, memahami karakteristik individu tanpa memandang bagaimana kepribadian maupun asal daerahnya. Selain itu, Amanda berpendapat bahwa upaya lain yang bisa dilakukan yaitu dengan memperbaiki cara berkomunikasi agar bisa membuat orang lain memberikan pandangan yang positif terhadap diri kita.
“Upaya yang saya lakukan dalam menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan dengan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada di provinsi Jawa Barat serta mempelajari bagaimana kebudayaannya. Selain itu, kita juga harus belajar untuk mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Upaya yang dapat kita hadapi ketika menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu kita harus mengetahui bagaimana kepribadian setiap individu, harus memahami bagaimana kepada siapa kita akan berbicara. Selain itu, kita juga harus memahami latar belakang dari masyarakat yang berbeda kebudayaan dengan daerah asal kita.” (Wawancara Amanda, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.3.4 Informan 4 Afdal
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, Afdal berpendapat bahwa permasalahan yang dihadapinya selama mengikuti PMM yaitu seperti permasalahan makanan yang menurutnya kurang cocok di lidahnya, karena makanan Bandung yang kebanyakan kuliner yang manis, kesulitan ketika melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan terutama cuaca Bandung yang cenderung dingin, serta kesulitan menyesuaikan kebiasaan mengenai cara berkomunikasi antar masyarakat berbeda provinsi karena perbedaan logat, gaya bahasa, maupun asal daerah. Selain itu, masalah lain yang dihadapinya yaitu tidak cocok dengan suhu daerah yang terlalu dingin, dirinya mengakui bahwa ketika awal-awal kegiatan PMM2 TEL-U, dirinya sering mengalami penyakit flu dan batuk.
“…Saya banyak menemukan hal ini di dalam kehidupan sehari-hari seperti dari segi makanan yang terkadang menjadi permasalahan dalam segi selera makanan…Hambatan saya pada proses perbedaan budaya yaitu lebih membiasakan diri dengan lingkungan…yang ditekankan disini bahwa buka mengenai bahasa di Bandung lembut atau di Padang kasar, tetapi lebih menekankan pada kebiasaan cara berbicara masyarakat tersebut…Sebenarnya, hal inilah yang benar-benar tidak saya ekspektasikan sebelumnya, pasti jika saya tidak mengikuti kegiatan PMM, tentu saya menghindari untuk tidak berkunjung ke daerah yang bersuhu dingin tersebut.” (Wawancara Afdal, 20 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Afdal mengaku bahwa mengalami tahapan semua tidak menyenangkan (everything is awful) berupa permasalahan yang kurang menyenangkan pada saat melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan di Jawa Barat ialah dengan mempersiapkan banyak pakaian hangat untuk mampu bertahan hidup di cuaca Bandung yang cenderung dingin. Dengan demikian, permasalahan lingkungan alam yang dialaminya bisa dihadapi, walaupun sebenarnya dari dirinya sendiri kurang menyukai daerah-daerah yang bersuhu dingin.
“Untuk mengenai suhu, memang ada 1-2 kali flu ringan saja,. Tapi. tidak yang sampai berlebihan begitu, karena memang sudah menyiapkan banyak baju hangat sebelum berangkat. Tetapi, memang di minggu-minggu pertama, saya memakai baju dua lapis sama baju hangat di luarnya.” (Wawancara Afdal, 20 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.3.5 Informan 5 Bamba
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, Bamba mengalami tahapan semua tidak menyenangkan (everything is awful) dengan permasalahan yang dialami Bamba yaitu seperti merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi dengan peserta PMM yang lain karena merasa bingung akan berbicara apa dan kesulitan untuk mengatur keuangan karena harga makanan di Bandung, menurutnya lebih mahal dibandingkan dengan harga makanan di Padang maupun Mentawai. Hal yang dilakukannya ialah dengan menabung dan mengatur catatan pengeluaran selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom.
“…saya terkadang khawatir dan bingung ketika berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya, serta masih terbawa logat bahasa daerah ketika berkomunikasi…saat saya memesan makanan yang ada di Bandung dimana saya kaget karena porsi makanan yang tidak terlalu sebanyak di tempat asal itu…saya juga harus memutar akal agar bisa menyesuaikan kondisi yang ada di Bandung.” (Wawancara Bamba, 18 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Lalu, Bamba berpendapat bahwa selama mengikuti PMM2 TEL-U, dirinya mengalami tahapan semua tidak menyenangkan (everything is awful) dengan terdapat beberapa permasalahan yang dialaminya agar mampu bertahan hidup di daerah rantau seperti untuk terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini dikarenakan bahasa tersebut merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Permasalahan yang sering kali terjadi pada dirinya ketika mencoba berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat Bandung, yang menurutnya memiliki tantangannya tersendiri dan cukup menguras energinya.
“Cara saya berinteraksi dengan masyarakat di Jawa Barat yaitu dengan memulai pembicaraan dalam bahasa Indonesia dan untungnya mereka bisa mengerti dan lambat laun bisa menyesuaikan dengan para masyarakat di Jawa Barat ketika berbelanja.” (Wawancara Bamba, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.4 Tahapan Semua Berjalan Lancar (Everything is Okay)
4.3.1.4.1 Informan 1 Ilwan
Ilwan mengatakan bahwa selama mengikuti PMM2 TEL-U, Ilwan berpendapat bahwa mengalami tahapan semau berjalan lancar (everything is okay) yaitu permasalahan yang terjadi harus dipahami dengan baik, segala sesuatu yang menganggu harus dihadapi dengan memberanikan diri untuk mempelajari budaya daerah tersebut, pentingnya bersosialisasi dengan peserta lain dan masyarakat, serta pentingnya mempelajari budaya daerah.
“…Dengan memahami keduanya, kita bisa berkomunikasi dengan efektif dan membangun hubungan yang kuat dengan teman-teman dari berbagai budaya…Obrolan tidak hanya mengenai budaya masing-masing, namun juga obrolan ringan juga akan membantu dalam menghadapi permasalahan budaya tersebut…Belajar mengenai budaya orang lain menjadi salah satu cara untuk menghadapi permasalahan itu.” (Wawancara Ilwan, 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.4.2 Informan 2 Salsa
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, Salsa berpendapat bahwa mengalami tahapan semua berjalan lancar (everything is okay) berupa budaya yang berbeda sangat erat kaitannya komunikasi antar budaya, dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak bisa terpisah dari segala macam perbedaan, pentingnya toleransi dan membiasakan bahasa Indonesia, serta pentingnya mempelajari kebudayaan. Selain itu, Salsa menjelaskan bahwa selama mengikuti PMM, dia lebih banyak belajar bersosialisasi dan bercerita dengan peserta lain.
“…Komunikasi antar budaya melibatkan perbedaan budaya…Terkait gegar budaya, wajar saja terjadi, namun itu bukan menjadi alasan kita untuk tidak berkomunikasi…Komunikasi sehari-hari saya dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom bisa dikatakan tidak terlalu ada masalah yang cukup menganggu karena saya menerapkan sikap saling toleransi…Teman-teman peserta PMM2 TEL-U sangat toleransi dan saling menghargai…yang dapat dilakukan yaitu mempelajari dan mencari tahu daerah asal dan kebiasaan teman-teman yang lain…saya juga bertanya secara langsung dan belajar kebudayaan teman lain agar lebih paham dan tidak menimbulkan prasangka…Kami saling terkesan dan tertarik dengan cara hidup dan kebudayaan dari sesama teman-teman.” (Wawancara Salsa, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian Salsa berpendapat bahwa manfaat dari kegiatan Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom ini memberikan perubahan baginya dalam memahami perbedaan. Menurutnya dengan adanya perbedaan dari berbagai macam peserta dari Sabang hingga Merauke, hal itulah yang membuat semakin kuatnya hubungan personal antar peserta.
“Setelah saya mengikuti PMM2 TEL-U, saya semakin yakin bahwa perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami hanyalah perbedaan kebiasaan di daerah asal. Namun, secara garis besar, kami tetap sama dan selaras satu sama lainnya.” (Wawancara Salsa, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.4.3 Informan 3 Amanda
Amanda mengaku bahwa dengan mengikuti PMM dirinya mengalami tahapan semua berjalan lancar (everything is okay) yaitu dapat membuatnya mampu untuk memahami masyarakat dan belajar mengenai manajemen emosi, lebih membiasakan bahasa Indonesia ketika berada di luar daerah asalnya, serta belajar beradaptasi dengan lingkungan. Selain itu, selama Amanda mengikuti PMM, informan lebih mudah untuk memahami karakter seseorang.
“…saya lebih bisa mengatur ego atau kemauan, dan lebih mudah dalam mengendalikan emosi…kami sebagai peserta menggunakan bahasa Indonesia…berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada di provinsi Jawa Barat serta mempelajari bagaimana kebudayaannya…kita juga harus memahami latar belakang dari masyarakat yang berbeda kebudayaan dengan daerah asal kita.” (Wawancara Amanda, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Lalu, Amanda mengaku bahwa setelah di lapangannya, terdapat perbedaan pandangan setelah informan secara langsung berinteraksi dengan beberapa peserta PMM2 TEL-U yang lain yang berasal dari Bali, Palembang, Padang, maupun Medan. Namun, perbedaan tersebut bukanlah penghalang baginya untuk saling menghormati budaya-budaya kedaerahan.
“Setelah, mengikuti PMM2 TEL-U, banyak stereotip dan prasangka saya yang berubah. Saya menyadari bahwa setiap individu memiliki keunikan masing-masing yang tidak bisa diukur hanya dari asal daerah mereka. Peserta dari Bali, misalnya, tidak semuanya santai dan terbuka. Beberapa diantaranya sangat serius dan ambisius. Begitu juga dengan peserta dari Palembang, yang ternyata memiliki kepribadian yang sangat beragam, ada yang sangat serius dan ambisius. Begitu juga dengan peserta dari Palembang, yang ternyata memiliki kepribadian yang sangat beragam, ada yang sangat ramah dan mudah bergaul. Peserta dari Padang tidak semuanya disiplin dan pekerja keras, ada juga yang santai dan humoris. Sementara itu, peserta dari Medan, meskipun memiliki kepribadian yang kuat, ternyata sangat peduli dan suportif.” (Wawancara Amanda, 25 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.4.4 Informan 4 Afdal
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan bahwa Afdal mengalami tahapan semua berjalan lancar (everything is okay) dengan merasakan bahwa Afdal sudah terbiasa tinggal berpindah-pindah provinsi sejak usia masih kecil serta bisa merasakan berkuliah di kampus yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik. Selain itu, Afdal juga belajar untuk mampu mengatur waktu agar mampu menyelesaikan beberapa tugas yang cukup banyak.
“…saya membiasakan diri dengan perubahan lingkungan tersebut yaitu memaksakan diri untuk berpindah-pindah tempat tinggal…Ketika saya berkuliah di Universitas Telkom, etos kerjanya lebih tinggi dibandingkan dengan Universitas Andalas, lebih bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas…dengan memaksakan diri untuk mengerjakan tugas secara maksimal…” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.1.4.5 Informan 5 Bamba
Berdasarkan hasil wawancara yang sudah dilakukan, Bamba merasakan bahwa mengalami tahapan semua berjalan lancar (everything is okay) ketika setelah mengikuti PMM merasakan bahwa lebih terbiasa untuk mempelajari berbagai macam budaya daerah, sering bertanya mengenai budaya-budaya baru, lebih fleksibel akan perbedaan kebudayaan, dan lebih menelusuri seluk beluk dan sejarah suatu masyarakat Sunda. Selain itu, Bamba mengaku bahwa PMM mendorongnya untuk belajar lebih dalam lagi mengenai budaya yang ada di daerahnya maupun budaya di berbagai daerah di Indonesia.
“…saya menggunakan bahasa Indonesia bahasa pengantar bahasa Indonesia serta saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi yaitu saya selalu menanyakan beberapa kosa kata bahasa daerah yang belum saya ketahui…Cara saya menghadapi perbedaan budaya tersebut yaitu dengan awalnya diam sejenak. Kemudian, mencoba menanyakan budaya tersebut…kita juga harus mampu berbaur dengan peserta yang lain dari PMM2 TEL-U, agar bisa menjalin persahabatan di tempat yang baru dikunjungi…belajar dengan budaya yang baru…menggali lebih budaya yang ada…” (Wawancara Bamba, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian, Bamba menambahkan bahwa setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, semua baginya terasanya begitu lancar. Hal itu dikarenakan bahwa program tersebut sangat mengesankan baginya serta menemukan relasi luas antar seluruh daerah dari Sabang hingga Merauke.
“Pandangan saya adalah ketika saya berpisah, maka saya akan mendapatkan banyak relasi dan tidak akan melupakan semua yang telah didapat ketika mengikuti PMM dan tetap berkomunikasi dengan teman sesama PMM.” (Wawancara Bamba, 26 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.2 Konsep Komunikasi Antar Budaya dalam Menghadapi Gegar Budaya pada Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom Berdasarkan Kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)
4.3.2.1 Konsep Kegiatan Kebhinekaan
4.3.2.1.1 Informan 1 Ilwan
Selanjutnya, Ilwan juga berpendapat bahwa ketika mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, Ilwan banyak mendapatkan pembelajaran positif yang tidak ekspektasikan sebelumnya terkait kualitas kampus, tenaga pendidik, pemahaman kebudayaan serta ikut berpartisipasi secara langsung dalam lingkungan masyarakat di Bandung, Jawa Barat.
“…saya tidak pernah menyangka bahwa Universitas Telkom merupakan universitas swasta terbaik di Indonesia yang dimana fasilitas kampus yang sangat canggih dan memiliki civitas akademika yang berkompeten di bidangnya. Selain itu, saya tidak pernah menyangka jika budaya di Jawa Barat itu sangat ramah sekali terhadap pelajar.” (Wawancara Ilwan, , 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.2.1.2 Informan 2 Salsa
Salsa menyampaikan bahwa terdapat budaya yang berbeda dari segi budaya wayang golek yang merupakan salah satu jenis wayang yang menjadi ciri khas dari provinsi Jawa Barat. Selain itu, Salsa juga merasakan bahwa ketika berkunjung ke provinsi Jawa Barat, dia menemukan banyak hal-hal yang unik yang sangat berbeda dengan provinsi asalnya di provinsi Bali.
“…Selain itu, Jawa Barat juga memiliki berbagai keunikan budaya seperti wayang golek. Yang dimana wayang golek ini sangat berbeda sekali dengan wayang Bali dan wayang kulit dari Jawa Tengah yang umumnya lebih bersifat dua dimensi saja. Pada saat kegiatan berkunjung ke Saung Angklung Udjo, saya ikut mencoba bagaimana cara melukis karakter wayang golek serta bagaimana memahami makna dari kegiatan pertunjukan wayang tersebut.” (Informan Salsa, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selaras dengan Ilwan, informan Salsa berpendapat bahwa dirinya mendapatkan kegiatan pembelajaran yang sangat banyak seperti mempelajari provinsi Jawa Barat melalui tempat wisata bersejarah, memahami individu-individu yang berbeda budaya, belajar untuk lebih toleransi akan budaya baru, serta mengenal budaya-budaya yang baru. Selain itu, Salsa berpendapat bahwa dengan mempelajari budaya, dapat meningkatkan produktivitas dengan kegiatan positif seperti berdiskusi mengenai budaya secara lebih mendalam.
“…Di dalam Modul Nusantara, tidak hanya sekedar jalan-jalan atau refreshing saja, tetapi juga diajarkan untuk mengenali lebih jauh tentang Bandung baik itu tempat wisata sejarah seperti Braga, menonton dan melukis wayang golek, menggambar batik pakai canting dan lilin, belajar bermain suling dan angklung, mencoba kuliner Bandung seperti seblak dan lontong sayur dekat Universitas Telkom, hingga wisata alam seperti Kawah Putih, Situ Patengaggangan, dan Taman Langit. Pada keseluruhan kegiatan Modul Nusantara, saya banyak mendapatkan informasi sejarah dari setiap tempat yang dikunjungi serta memahami bagaimana masyarakat yang ada di sana.” (Wawancara Salsa, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.2.1.3 Informan 3 Amanda
Amanda juga mengatakan bahwa budaya yang berbeda dialaminya ketika mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu aliran kebatinan perjalanan yang ada di provinsi Jawa Barat. Amanda merasa jika aliran ini merupakan hal yang sangat baru baginya untuk diketahui. Pasalnya, agama kebatinan perjalanan ini belum diakui secara resmi oleh Kementerian Agama, namun diakui kurikulum pembelajarannya sebagai warisan budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“…Saya juga banyak menemukan bahwa khususnya di pulau Jawa, masih terdapat aliran-aliran kepercayaan daerah yang masih lestari hingga saat ini. Salah satunya, pada saat kami mengikuti kunjungan belajar sejarah dan perkembangan penganut kebatinan perjalanan. Pada kegiatan ini, saya melihat kalau penduduk disana memiliki dua jenis KTP dan uniknya ketika saya sekilas melihat bentuk kubah rumah ibadahnya sangat mirip dengan kubah segi lima masjid. Namun, pada prosesi ibadah, lebih cenderung mirip dengan cara ibadah umat Hindu.” (Informan Amanda, 14 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Amanda juga berargumen bahwa berubahnya kebiasaan yang diterimanya ketika berada di Bandung, Jawa Barat berupa ketidaksamaan pandangan pada salah satu program Modul Nusantara yaitu Jambore On Air yang awalnya akan tidak menarik, berubah menjadi lebih menarik untuk diikuti.
“…Salah satunya hal yang membuat saya kaget sekali pada kegiatan Jambore On Air yang dilaksanakan oleh Gugus Depan Pramuka Universitas Telkom. Saya awalnya berekspektasi jika kegiatan pramuka yang akan kami lakukan seperti pramuka pada umumnya yang cenderung menurutku sangat membosankan. Namun, pada saat itu, kami mengenal beberapa relasi luas secara internasional mengenai hubungan beberapa pramuka di Indonesia dengan pramuka di Malaysia. Hal ini menjadi pendorong saya untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa asing terhadap peserta pramuka yang di Malaysia.” (Wawancara Amanda, 14 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.2.1.4 Informan 4 Afdal
Selanjutnya, Afdal mengatakan pada kegiatan PMM2 TEL-U ini, dia merasakan budaya yang berbeda yaitu pada salah satu situs sejarah telekomunikasi yang ada di Jawa Barat, Gunung Puntang. Konon, sejak zaman penjajahan Belanda, di daerah tersebut didirikannya Stasiun Malabar yang menjadi cikal bakal pembangunan telekomunikasi di Jawa Barat. Selain itu, Afdal juga pernah mengunjungi Gedung Sate yang sejak dulu terkenal sebagai gedung pusat pemerintahan di Jawa Barat.
“Selain itu, dengan mengikuti PMM2 TEL-U saya mendapatkan pengalaman yang paling mengesankan salah satunya pada kegiatan kunjungan ke salah satu wisata alam bersejarah di Jawa Barat yaitu Gunung Puntang serta banyak mengunjungi berbagai museum peninggalan sejarah seperti Gedung Sate.” (Informan Afdal, Padang, 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.2.2 Konsep Kegiatan Inspirasi
4.3.2.2.1 Informan 1 Ilwan
Selanjutnya, berkaitan dengan pendapat informan mengenai pengalaman dalam mempelajari budaya bagi peserta PMM. Pasalnya, dari penuturan informan Ilwan, selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, informan banyak mendapatkan pemahaman baru. Hal-hal baru tersebut terkait pentingnya mempelajari budaya baru, menjalin komunikasi dengan banyak kalangan mahasiswa yang berbeda budaya, mengenal budaya-budaya lain, serta dapat menjadi sarana dalam menghadapi permasalahan gegar budaya. Selain itu, Ilwan berpendapat bahwa dengan mempelajari budaya, dapat membuka peluang besar baginya menjadi Kepala Suku PMM2 TEL-U. Hal inilah yang paling menarik ia rasakan. Hal ini dikarenakan Ilwan mendapatkan ilmu mengenai budaya yang baru secara lebih luas serta membuka baginya untuk menjalin relasi.
“…Dengan menjadi kepala suku, saya banyak mempelajari bagaimana menghadapi perbedaan budaya, pemikiran, maupun adat istiadat dari para peserta PMM. Selain itu, saya juga mendapatkan relasi yang cukup luas dari kalangan mahasiswa PMM di seluruh Indonesia. Selain itu, saya juga belajar bagaimana cara saya pandai-pandai dalam membagi waktu baik itu membagi waktu berkuliah di kampus asal maupun kampus tujuan PMM.” (Wawancara Ilwan, 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.2.2.2 Informan 3 Amanda
Amanda menambahkan bahwa kegiatan dalam mempelajari budaya yang dilakukan berupa banyak kegiatan budaya, sejarah, dan pengembangan soft skill. Hal inilah sesuatu yang baru Amanda dapatkan karena dirinya berharap di awal bahwa kegiatan ini hanya berkutat pada pembelajaran di dalam kelas saja. Namun, anggapannya itu tidak sepenuhnya benar.
“Hal-hal yang belum pernah dibayangkan sebelumnya ketika saya mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu pada awalnya, saya hanya beranggapan bahwa kegiatan PMM ini hanya berupa pembelajaran di kelas saja. Namun, setelah saya terjun langsung pada kegiatan ini, saya banyak mengikuti kegiatan lain seperti kegiatan budaya, sejarah, dan pengembangan soft skill sehingga saya mendapatkan banyak pengalaman berharga selama program ini berlangsung.” (Wawancara Amanda, 14 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian, Amanda juga berpendapat bahwa permasalahan yang dihadapinya selama mengikuti program Modul Nusantara yaitu pada saat mengikuti kegiatan Apresiasi Puisi. Amanda mengaku bahwa tidak bersemangat ketika mengikuti kegiatan ini, hal ini dikarenakan bahwa dirinya tidak menyukai karya seni yang kuno. Amanda lebih menyukai kegiatan yang lebih menarik dan menantang seperti pertunjukan drama seni daerah.
“Pengalaman yang menurut saya merasakan paling gegar budaya selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu kegiatan motivasi atau apresiasi puisi bersama Windhihati Kurnia. Di dalam kegiatan ini, saya mengikuti kegiatan pembelajaran mengenai kebudayaan seni sastra. Saya bisa dikatakan kurang tertarik dengan hal berbau seni seperti puisi ini karena saya tidak terlalu tertarik dengan seni kontemporer sehingga saya mengikuti kegiatan ini saya merasa agak sedikit malas dan bosan.” (Wawancara Amanda, 14 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.2.3 Konsep Kegiatan Refleksi
4.3.2.3.1 Informan 1 Salsa
Salsa juga mengungkapkan bahwa ketika mengikuti kegiatan Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, Salsa belajar banyak hal mengenai beberapa perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di dalam Learning Management System (LMS), aplikasi MyTelU, dan mata kuliah. Perkembangan dari situs itu sangat optimal dan patut dicontoh oleh kampus asalnya, Universitas Udayana. Hal yang menjadi gegar budaya pada LMS ini ialah terkait kesulitannya untuk memahami fitur-fitur pada portal tersebut. Hal ini dikarenakan oleh perbedaan dari segi kualitas pembelajaran secara aplikatif sehingga membutuhkan beberapa waktu untuk mampu menggunakannya selama perkuliahan di Bandung.
“Pertama, terkait di lingkungan kampus. Saya cukup merasakan adanya perbedaan sistem belajar berbasis teknologi berupa Learning Management System (LMS), namun implementasinya cukup berbeda. Saya merasa penggunaan LMS di Universitas Telkom lebih optimal digunakan jika dibandingkan di Universitas Udayana. Ditambah lagi dengan aplikasi MyTelU yang semakin memudahkan mahasiswa dalam melihat jadwal perkuliahan, berbeda dengan universitas asal saya yang belum memiliki aplikasi sejenis ini. Adanya perbedaan pemanfaatan teknologi ini cukup saya rasakan dampak dari perbedaannya. Selain itu, di Universitas Telkom saya dominan mengambil mata kuliah berbasis seni dan teknologi, hal ini sangat berbeda dengan rumpun ilmu saya yakni ekonomi (manajemen). Tugas-tugas dan mata kuliah yang saya ambil di sana lebih sering diberikan dalam bentuk proyek. Sedangkan, pembelajaran di program studi asal saya lebih condong ke materi dan presentasi.” (Wawancara Salsa, 20 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Sama halnya dengan Salsa, perubahan kebiasaan yang dilakukan seperti baru mengetahui banyak keunikan di Bandung. Selain itu, Salsa berpendapat bahwa upaya lain yang bisa dilakukan yaitu dilakukan yaitu dengan mempelajari bidang di luar program studi sehingga mendorongnya untuk belajar lebih giat lagi selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom.
“…Pengaruh yang saya dapat setelah mengikuti PMM yaitu saya banyak belajar hal baru, banyak mempelajari ilmu di luar program studi yang dimana saya berasal dari jurusan Ekonomi di kampus asal saya. Namun, ketika saya mengikuti PMM, saya mencoba pengalaman berkuliah di Fakultas Ilmu Kreatif Universitas Telkom, serta bertemu dengan macam orang.” (Wawancara Salsa, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.2.3.2 Informan 2 Afdal
Selanjutnya Afdal, menambahkan bahwa perubahan kebiasaan yang Afdal alami selama mengikuti PMM2 TEL-U yaitu dengan bertanggung jawab penuh dengan tugas yang diberikan. Hal ini dilakukan Afdal agar dirinya bisa tetap membagi waktu belajar antara di Universitas Telkom dengan Universitas Andalas.
“…Ketika saya berkuliah di Universitas Telkom, etos kerjanya lebih tinggi dibandingkan dengan Universitas Andalas, lebih bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas. Upaya saya untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu dengan memaksakan diri untuk mengerjakan tugas maksimal sehingga Universitas Andalas mampu bersaing dengan kampus yang ada di pulau Jawa. Cara saya sendiri membagi waktu ketika saya mengikuti PMM2 TEL-U dengan berbagai kegiatan yang saya ikuti yaitu dengan bertanggung jawab penuh dengan tugas yang telah diemban, memahami skala prioritas, izin ketika terdapat jadwal yang bertabrakan, serta tepat dan disiplin waktu.” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.2.3.3 Informan 3 Bamba
Kemudian, Bamba berpendapat bahwa ketika mengikuti program PMM2 Universitas Telkom, dirinya mengaku merasakan kesulitan dengan sistem pembelajaran disana sehingga mengharuskannya untuk mempelajari terlebih dahulu bagaimana sistematika perkuliahan dalam beberapa tertentu. Hal ini informan lakukan agar mampu menyesuaikan diri dengan kebiasaan civitas akademika di Universitas Telkom.
“Yang membuat saya culture shock saat di Bandung itu ketika awal mulai melakukan pembelajaran di kelas dimana pada saat pertama kali belajar dalam kelas, saya sangat shock karena cara belajarnya yang sangat berbeda dengan kampus asal saya…” (Wawancara Bamba, Aplikasi Whatsapp Messenger 26 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.2.4 Konsep Kegiatan Kontribusi Sosial
4.3.2.4.1 Informan 1 Amanda
Berbeda dengan Amanda mengaku bahwa informan mendapatkan mempelajari budaya berupa kegiatan pengabdian sosial di bidang lingkungan kepada masyarakat di Bandung, Jawa Barat. Selain itu, Amanda berpendapat bahwa dengan mempelajari budaya, dapat melatih kepekaan terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar sehingga diharapkan dari program Kontribusi Sosial Clean River yang telah dilakukannya dapat terealisasikan dalam waktu jangka yang berkelanjutan.
“…Salah satunya pada saat saya terlibat dalam Kontribusi Sosial Clean River, tim kami harus mampu beradaptasi dengan kebiasaan masyarakat Sunda yaitu dengan berbahasa halus dan mempelajari kebudayaan daerah setempat seperti waktu itu kami mempelajari bagaimana cara memainkan alat musik Gamelan. Pada kegiatan ini, kami benar-benar terlibat penuh karena program ini merupakan program pengabdian sosial yang didanai langsung oleh LPDP sehingga kami harus mampu merealisasikan ide proyek dan menuliskan laporan akhir kontribusi sosial.” (Wawancara Amanda, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3 Makna Pengalaman Komunikasi Antar Budaya dalam Menghadapi Gegar Budaya pada Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom Berdasarkan Personal Individu
4.3.3.1 Makna Pengalaman Perbedaan Bahasa
4.3.3.1.1 Informan 1 Ilwan
Selanjutnya, Ilwan mengaku, bahwa dirinya juga merasakan bahwa setiap peserta PMM2 TEL-U, masih terbiasa menggunakan dialek bahasa daerahnya ketika berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia.
“…Banyak dari peserta PMM2 TEL-U dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang masih terbawa dialek daerah asalnya. Misalnya, ada beberapa teman saya yang berasal dari Aceh, ketika berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, mereka masih terdapat dialek bahasa daerah Acehnya. Terkadang, saya kesulitan untuk memahami maksud perkataan yang mereka sampaikan.” (Ilwan, 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Ilwan juga menambahkan bahwa antara bahasa serta logat daerah suatu daerah itu pasti berbeda. Hal tersebut merupakan hal yang sangat unik sekali bagi dirinya dalam memahami perbedaan budaya itu sendiri.
“Sejauh ini sangat unik, saya melihat mengenai bahasa-bahasa daerah itu berbeda-beda. Misal, dalam bahasa Lombok, kata amak biasa itu diartikan dengan sebutan ayah. Sedangkan, dalam bahasa Minang, kata amak itu berarti sebutan untuk ibu. Hal itulah yang menurut saya itu unik. Jadi, menurut saya, semua bahasa daerah itu unik serta logat bahasa daerah itu memiliki logat bahasanya yang unik.” (Wawancara Ilwan, 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3.1.2 Informan 2 Salsa
Sama halnya dengan Salsa, yang mengaku bahwa beberapa permasalahan komunikasi seperti mengalami perasaan kaget akan perbedaan, serta gangguan penggunaan bahasa daerah yang sulit dimengerti. Selain itu, Salsa berpendapat bahwa yang menjadi masalahnya selama mengikuti program ini ialah masalah perbedaan makna kosa kata daerah.
“…Masyarakat Bali sering ketika berbicara sering diakhiri dengan kata nok. Ternyata penggunaan kata nok ini hanya berlaku di daerah Denpasar saja. Kemudian, sering kerap terjadi perbedaan makna dan miskomunikasi dalam penggunaan bahasa. Terkadang saya dengan beberapa peserta PMM2 TEL-U yang lain yang juga berasal dari provinsi Bali sempat beberapa kali keceplosan berbicara menggunakan bahasa daerah atau bahkan lupa ternyata kata yang kita gunakan bukan bahasa Indonesia.” (Wawancara Salsa, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3.1.3 Informan 3 Afdal
Afdal menambahkan bahwa beberapa hal lain mengenai budaya berbeda yang dihadapi berupa cara pandang berkomunikasi dan kebiasaan berkomunikasi menjadi suatu daya keunikan sendiri bagi suatu daerah untuk menarik para wisatawan maupun pelajar untuk datang ke Bandung.
“Pengalaman yang paling gegar budaya bagiku itu yaitu pada cara berkomunikasinya dimana Bandung cara berkomunikasinya sangat lembut sekali, jadi kita harus menyesuaikan banget mengenai nada-nada bicara orang Sunda itu dengan baik serta harus terbiasa berbicara dengan lemah lembut. Hal ini berbeda dengan masyarakat Minang yang memang dari dulu cara berkomunikasi agak sedikit lebih keras. Namun, yang ditekankan disini bahwa bukan mengenai bahasa di Bandung lembut atau di Padang kasar, tetapi lebih menekankan pada kebiasaan cara berbicara masyarakat tertentu.” (Wawancara Afdal, 24 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3.1.4 Informan 4 Bamba
Selain itu, Bamba juga berargumen bahwa permasalahan yang dialaminya berupa dua gegar budaya sekaligus baik itu ketika ia berkuliah di Padang yang berdomisili di Mentawai maupun ketika mengikuti program PMM di Bandung. Selain itu, Bamba berpendapat bahwa yang menjadi masalahnya selama mengikuti program ini ialah perasaan tidak nyaman berkomunikasi dengan orang berbeda budaya serta penggunaan dialek bahasa daerah.
“…Selain itu, saya juga menghadapi dua kebudayaan sekaligus, karena saya berasal dari Mentawai yang berkuliah di Padang, Sumatera Barat yang mayoritas masyarakatnya dari etnis Minang serta juga mengikuti PMM di Bandung, Jawa Barat. Hambatan saya pada proses perbedaan budaya yaitu saya terkadang khawatir dan bingung ketika berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya, serta masih terbawa logat bahasa daerah ketika berkomunikasi.” (Wawancara Bamba, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Lalu, Bamba juga mengaku bahwa kegiatan solusi yang dilakukan sebagai salah peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka yaitu berupa cara berkomunikasi dengan masyarakat Sunda pada transaksi ekonomi berupa kegiatan jual beli. Pada saat itu, terdapat beberapa perkataan beberapa pedagang disana yang tidak dipahaminya sehingga terkadang membuat dirinya bingung dan merasa tidak nyaman ketika berbelanja. Lantas, hal ini yang mendorongnya untuk banyak mempelajari kembali mengenai kosa kata bahasa Sunda
“…Cara beradaptasi menghadapi sesama saat di dalam kelas serta tata cara berkomunikasi ketika ada beberapa penjual yang ketika kita membeli, mengeluarkan Bahasa Sunda yang membuat saya agak kaget serta kebingungan.” (Wawancara Bamba, 18 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3.2 Makna Pengalaman Perbedaan Nilai-Nilai Norma Sosial
4.3.3.2.1 Informan 1 Ilwan
Berdasarkan pengalaman Ilwan, menyatakan bahwa melihat banyak sekali budaya berbeda yang dialaminya ketika mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu perbedaan dari segi makanan daerah yang sangat berbeda antara daerah perguruan tinggi asal dengan daerah perguruan tinggi tujuan.
“…Perbedaan-perbedaannya seperti perbedaan makanan. Jika di daerah di Manado, Sulawesi Utara, mayoritas makanan daerahnya itu bercita rasa pedas. Namun, ketika saya berada di Bandung, Jawa Barat, cenderung makanan daerahnya yaitu bercita rasa manis.” (Informan Ilwan, 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Bagi Ilwan, budaya yang berbeda antar satu sama lain yang informan rasakan ketika berada di Jawa Barat, bahwa dirinya sangat terkejut bahwa di Bandung sangat banyak sekali masjid di setiap sudut daerah di Jawa Barat. Hal ini, berbeda pada saat ditemui biasanya ketika di Sulawesi Utara mayoritas masyarakatnya menganut agama kristen.
“ Kemudian, dari segi tempat ibadah, yang dimana di Manado sendiri sangat banyak sekali gereja, sedangkan di Bandung memiliki banyak masjid. Oleh karena itu, bagi saya sangat terasa sekali perbedaannya di sana.” (Informan Ilwan, 16 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selanjutnya adalah penjelasan tentang berubahnya kebiasaan yang dilakukan informan dalam menghadapi permasalahan kebudayaan. Hal ini erat kaitannya dengan agama, norma, dan budaya. Kelima informan setuju bahwa hal tersebut sangat berpengaruh terhadap berubahnya cara individu dalam bersikap dan berperilaku. Ilwan mengaku bahwa ternyata semua peserta PMM itu sangat menarik untuk diajak berdiskusi dan berkolaborasi bersama. Walaupun, banyak di antara beberapa peserta yang introvert, hal ini tidak menjadi masalah.
“Setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom ini, stereotipnya yaitu berbeda lagi karena apa yang saya pikirkan dengan apa yang saya alami di Bandung sangat berbeda. Jadi, tidak semua hal jelek yang saya bayangkan. Sebelum ke Bandung itu, benar-benar terjadi. Ternyata oh ternyata semua peserta PMM2 TEL-U itu asik-asik orangnya dengan latar belakang budaya yang berbeda. Semua orang perlu pendekatan yang berbeda-beda. Tidak semua orang bisa dalam satu pendekatan. Misal kayak Vania dan Ame yang pendiam-pendiam. Makanya, saya katakan bahwa stereotip buruknya tidak terlalu berpengaruh disana.” (Wawancara Ilwan, 22 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Ilwan mengaku bahwa telah mengalami beberapa perubahan kebiasaan ketika mengikuti program PMM TEL-U seperti perasaan canggung di lingkungan baru serta pada awal pertemuan para peserta PMM2 TEL-U kerap belum percaya
diri untuk mulai bersosialisasi. Selain itu, Ilwan berpendapat bahwa sikap dan perilaku lain yang bisa dilakukan yaitu dengan mempelajari budaya.
“Komunikasi sehari-hari saya dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom pada awalnya sedikit canggung pada awal dimulainya program ini. Hal itu saya lihat pada awal keberangkatan para peserta PMM2 TEL-U, yang dimana sebagian besar di antara mereka masih malu-malu untuk memulai pembicaraan. Ada peserta yang orang sedikit pemalu dan jarang berbicara. Namun, ada juga pesertanya yang sangat aktif, suka banyak berbicara, dan lebih supel dengan peserta yang lain. Namun, hal ini tidak menjadi masalah karena setiap peserta terbuat pasti memiliki caranya masing-masing dalam menjalin komunikasi.” (Wawancara Ilwan, 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Ilwan juga berpendapat bahwa anggapan bahwa Bandung merupakan kota Paris Van Java, tidak sepenuhnya benar. Hal ini dikarenakan bahwa informan tidak berekspektasi sebelumnya bahwa terdapat beberapa mahasiswa Universitas Telkom itu pergaulannya sangat bebas seperti minuman keras dan prostitusi sudah merajalela di sana. Hal itu ia akui terjadi pada saat mengikuti kelas Manajemen Acara. Ilwan mengambil pelajaran dari fenomena tersebut agar dapat menjaga diri lebih baik lagi dan memilih pertamanan yang sehat dimana pun kita berada.
“Untuk negatifnya, Bandung sangat terkenal dengan masyarakatnya yang meminum alkohol serta banyaknya kasus prostitusi sehingga membuat kita harus berhati-hati ketika berkuliah di daerah tersebut. Saya melihat beberapa mahasiswa TEL-U tersebut, pergaulannya cukup bebas. Ketika itu, saya mengikuti kelas Manajemen Acara pada jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Telkom, banyak dari mahasiswanya yang mengonsumsi alkohol dengan dalih sebagai penyemangat kerja pada saat menyiapkan tugas besar tersebut.” (Wawancara Ilwan, 16 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3.2.2 Informan 2 Salsa
Selain itu, Salsa mengaku bahwa selama di Bandung, informan terkadang mengalami perasaan rindu dengan keluarga dan teman-teman maupun dengan makanan di provinsi Bali. Solusi yang dilakukannya pada saat itu ialah dengan tetap menjaga silaturahmi dengan keluarganya serta tetap mengonsumsi makanan di Bandung.
“Selain itu, ketika saya mengikuti PMM, saya terkadang mengalami homesick atau merasa rindu dengan keluarga dan makanan di Bali. Namun, hal itu tidak sampai menganggu aktivitas karena kami alhamdulillahnya masih selalu berkabar melalui video call, telepon, dan chatting dengan keluarga maupun teman di Bali. Makanan Bali dan Bandung rata-rata berempah-rempah yang kuat. Jadi, tidak terlalu berbeda. Meskipun rasa rempahnya berbeda.” (Wawancara Salsa, Aplikasi Whatsapp Messenger 23 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian Salsa berpendapat bahwa hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya ketika mengikuti PMM2 TEL-U ini yaitu dapat berbaur dengan satu sama lain, padahal bisa dikatakan SPAP merupakan orang yang berkepribadian introvert. Awalnya, dirinya beranggapan akan merasakan kesulitan yang tidak berarti selama di Bandung.
“Ketika saya mengikuti PMM2 TEL-U, saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah. Awalnya, saya mengira akan sulit untuk kami berinteraksi. Saya tidak membayangkan bahwa kami dapat dengan mudah berbaur dengan satu sama lain. Meskipun banyak perbedaan di antara kami. Kami saling terkesan dan tertarik dengan cara hidup dan kebudayaan dan sesama teman-teman. Dari sanalah kami sering bercerita tentang daerah asal kami. Dari hal tersebut kami menjadi lebih mengenal dan mengetahui berbagai kebiasaan dari daerah-daerah yang ada di Indonesia.” (Wawancara Salsa, 20 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3.2.3 Informan 3 Amanda
Amanda selanjutnya memaparkan bahwa ketika Amanda mencoba berkomunikasi dengan peserta PMM2 TEL-U dari provinsi Aceh dan Riau, dia menemukan banyak budaya yang berbeda pada budaya Melayu baik itu Melayu Palembang, Melayu Aceh, dan Melayu Riau. Amanda berpendapat bahwa walaupun terdapat banyak sekali rumpun Melayu di Indonesia, namun masih ada terdapat perbedaan yang menjadi keunikan dari rumpun tersebut.
“…Selain itu, saya banyak menemukan berbagai keunikan selama mengikuti program ini seperti saya banyak menemukan perbedaan bahasa antara Melayu Aceh dan Melayu Palembang. Perbedaan antara Melayu Aceh cenderung mengandung budaya yang diadaptasi dari budaya Arab. Sedangkan Melayu Palembang, cenderung kental dengan logat khas Palembangnya. Begitu juga dengan Melayu Riau, juga memiliki keunikan sendiri. Selain itu, pada Melayu Palembang sendiri cenderung arah kebudayaannya berkiblat pada budaya dari Cina.” (Informan Amanda, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Senada dengan informan selanjutnya yaitu Amanda, beliau mengalami permasalahan berupa kebingungan dalam berkomunikasi, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, serta merasa dikucilkan karena terbiasa menggunakan logat bahasa daerah asal. Selain itu, Amanda berpendapat bahwa yang menjadi masalahnya selama mengikuti program ini ialah memahami budaya baru, serta belajar bertutur kata yang sopan dan santun.
“…Pengalaman lucu yang saya alami seperti saya merasa tidak tahu berbicara. Sedangkan, dampak negatifnya ialah individu tersebut merasa kaget dan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Bisa dikatakan, saya sudah berpengalaman pertama kalinya duduk di bangku sekolah menengah atas di provinsi Jawa Barat. Pada saat saya bersekolah di sana, saya selalu mendapatkan bisikan dari para siswa Sunda bahwa kalau logat bahasa yang saya gunakan agak kasar karena saya berasal dari Palembang, Sumatera Selatan yang terbiasa menggunakan logat bahasa yang agak kasar. Hambatan saya pada proses perbedaan budaya yaitu terkadang saya harus lebih berusaha lebih maksimal dalam memahami budaya baru di suatu daerah. Selain itu, terkadang saya juga masih berusaha untuk mengingatkan diri sendiri agar ketika berbicara tidak terlalu ceplas-ceplos dan berusaha mengatur nada suara agar tidak terlalu tinggi.” (Wawancara Amanda, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Amanda juga setuju bahwa perubahan kebiasaan yang dialaminya ketika menghadapi gegar budaya yaitu menjaga tingkah laku selama berada di Bandung, Jawa Barat. Amanda harus mampu memahami bagaimana masyarakat Bandung itu sendiri.
“Dampak positifnya yaitu saya bisa belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, saya lebih bisa mengatur ego atau kemauan, dan lebih mudah dalam mengendalikan emosi ketika suatu kondisi dihadapkan dengan perbedaan budaya pada lingkungan yang baru ditempati.” (Wawancara Amanda, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3.2.4 Informan 4 Afdal
Selanjutnya pada Afdal, menyatakan bahwa telah mempelajari budaya yang telah dipelajari seperti mengenal teman dari berbagai budaya, mengikuti kegiatan kebudayaan, serta belajar dalam berkata-kata. Selain itu, Afdal berpendapat bahwa dengan mempelajari budaya, ia dapat belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan orang yang berbeda latar belakang budaya.
“…Pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu pengalaman mengenal teman-teman dari budaya yang berbeda dari Sabang hingga Merauke. Saya juga bisa berkomunikasi lebih banyak dan lebih mengenal Indonesia lebih banyak. Ketika saya berkuliah di Telkom University, saya memiliki banyak relasi persahabatan yang cukup dekat khususnya antara mahasiswa Minang baik itu dari peserta PMM maupun dari beberapa mahasiswa Minang yang ada di kampus tersebut.” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Afdal menambahkan bahwa permasalahan lain yang juga dihadapinya berupa permasalahan pada makanan daerah dan suhu di daerah Jawa Barat. Namun, permasalahan tersebut hanya berselang singkat. Hal ini dikarenakan karena dirinya sudah terbiasa sejak kecil pindah sekolah yang berbeda kota.
“Untuk makanan dan suhu daerah dua-duanya sama Vania, kan pas wawancara pertama saya sudah cerita, memang saya dari kecil beberapa kali pindah-pindah sekolah dan juga pindah-pindah kota. Jadi, untuk hal-hal seperti makanan dan suhu, walaupun ada perbedaan di awal, akan tetapi setelah 2-3 hari juga sudah tidak ada lagi masalah dan seperti biasa saja tanpa terlalu memilih-milih banget.” (Wawancara Afdal, 25 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selanjutnya Afdal, menjelaskan bahwa solusi yang dilakukannya seperti menghadapi orang-orang dalam lintas usia, pentingnya bahasa Indonesia, mempelajari logat bahasa daerah, menikmati proses pembelajarannya, serta selalu berusaha melakukan yang terbaik. Selain itu, Afdal berpendapat bahwa upaya lain yang bisa dilakukan yaitu menerapkan sikap saling toleransi.
“…Hal ini menjadi tantangan bagi saya sendiri karena adanya perbedaan komunikasi antara yang lebih muda dengan yang lebih tua. Hal ini dikarenakan saya dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik serta mempelajari logat-logat bahasa daerah tersebut. Hal inilah yang membuat saya sudah terbiasa hidup berpindah-pindah tempat tinggal. Upaya yang saya lakukan dalam menghadapi perbedaan kebudayaan ini esensi permasalahannya bukan pada adat, komunikasi, dan sosial. Namun, melainkan pada kebudayaan dan kebiasaan dalam proses pembelajarannya. Upaya saya untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu dengan memaksakan diri untuk mengerjakan tugas maksimal sehingga Universitas Andalas mampu bersaing dengan kampus-kampus yang ada di pulau Jawa. Hal ini dikarenakan karena saya menggunakan bahasa Indonesia dan lebih mengedepankan sikap toleransi dalam menanggapi berbagai perbedaan kebudayaan.” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian, Afdal mengaku bahwa salah satu perubahan kebiasaan yang didapatkan ketika mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu pada saat melakukan kegiatan edukasi langsung pada Sekolah Luar Biasa di lapangan. Pada kegiatan tersebut, memberikan peringatan bagi dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih bersyukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa.
“Selain itu, di dalam kegiatan Kontribusi Sosial, saya melakukan kegiatan edukasi di Sekolah Luar Biasa. Pada saat itu, saya benar-benar merasakan kesedihan bahwa di luar kekurangan anak-anak yang berkekurangan secara fisik maupun mental, mereka tetap semangat, tersenyum, dan bisa hidup dengan kebahagiaan mereka masing-masing. Hal itu menjadi pelajaran bagi saya bahwa kita yang bisa dikatakan lebih sempurna dari mereka, seharusnya kita harus mensyukuri kehidupan kita ini. Mereka saja bisa bersyukur dengan kekurangan kita, tetapi kenapa kita tidak. Hal itulah yang mendorong saya untuk mensyukuri dan menghargai apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita. (Wawancara Afdal, 20 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, perubahan kebiasaan yang dirasakan oleh Afdal berupa dengan adanya perbedaan latar belakang, justru membuat semakin menikmati keindahan dari keberagaman budaya tersebut. Hal ini membuatnya semakin terbuka dengan beberapa suku budaya di seluruh Indonesia.
“Karena sejak awal tidak memiliki stereotip terhadap perbedaan latar belakang budaya, maka setelah kembali juga tidak ada hal yang berhubungan dengan itu, yang ada adalah kehangatan terhadap fakta keberagaman yang dimiliki Indonesia dan kebahagiaan untuk dapat lebih jauh memahami berbagai macam perspektif kedaerahan.” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Afdal sebenarnya memahami bagaimana sebelumnya budaya Sunda secara keseluruhan karena pengalamannya yang pernah mengunjungi dalam beberapa waktu sewaktu dirinya berpindah sekolah ke Bogor.
4.3.3.2.5 Informan 5 Bamba
Bamba juga menambahkan bahwa juga melihat bahwa jumlah beberapa porsi makanan di Bandung sangat sedikit dibandingkan dengan di Mentawai maupun Padang. Padahal perbandingan harga makanannya hampir sama dengan daerah asalnya. Hal ini menuntutnya mampu memutar otak bagaimana cara agar bisa bertahan hidup selama di Bandung dengan modal keuangan yang dimiliki.
“…dan juga cara beradaptasi dengan makanan yang ada di Bandung, dimana saat saya memesan makanan, saya merasa kaget dengan porsi makanan, saya merasakan kaget karena porsi makanan yang tidak terlalu banyak sebanyak di tempat asal dan itu membuat saya sangat kaget dan juga harus memutar akal agar bisa menyesuaikan kondisi yang ada di Bandung dan lewat itu saya bisa melaluinya dengan baik.” (Wawancara Bamba, 18 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, Bamba mengatakan bahwa mempelajari budaya yang ia dapatkan selama mengikuti PMM2 TEL-U yaitu berupa dapat menggali secara lebih mendalam mengenai kebudayaan Sunda dan budaya lainnya yang ada Indonesia.
“…Sedangkan, sisi positifnya, saya merasa bersyukur bisa mengetahui budaya Sunda yang begitu unik dan beraneka ragam yang membuat saya ingin lebih baik lagi untuk menggali lebih dalam lagi mengenai budaya yang tidak hanya ada di Bandung, namun juga di tempat lain.” (Wawancara Bamba, 18 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, informan Bamba juga mengaku bahwa harapannya terhadap budaya yang ada di Bandung yaitu berupa perilaku masyarakat Sunda itu sendiri. Menurutnya, orang Sunda itu merupakan suku daerah yang dari dulu dikenal dengan orangnya yang suka tolong menolong.
“Bayangan saya tentang budaya di Jawa Barat yaitu adalah orangnya yang sangat ramah dan lemah lembut, serta cara berperilaku masyarakat di Jawa Barat yang membuat saya terkejut karena orangnya di sana ketika kita meminta bantuan, pasti mereka akan selalu mau, meskipun mereka juga sedang sibuk.” (Wawancara Bamba, Aplikasi Whatsapp Messenger 26 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Bamba juga berpendapat bahwa permasalahan yang sebagian besar dialaminya sebagai peserta PMM2 TEL-U yaitu berupa cara meningkatkan interaksi dan hubungan yang solid antar peserta.
“Pandangan saya dengan peserta lain itu dalam hal cara bersikap, berbudaya, dan cara bergaul dengan sesama terutama teman yang kuat dan kental dalam berbahasa daerahnya ketika bergaul.” (Wawancara Bamba, 26 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Hal ini pula yang dialami oleh Bamba. Dirinya mengakui bahwa cara yang perlu dilakukan dalam menghadapi permasalahan di daerah yang berbeda yaitu dengan kita mempelajari sendiri budaya tersebut dari internet atau sumber lain terlebih dahulu. Tindakan ini dilakukan untuk lebih memahami bagaimana gambaran budaya yang biasanya dilakukan oleh masyarakat di daerah itu.
“…Upaya saya untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu untuk tidak terlalu dibawa pusing dengan segala permasalahan perbedaan budaya, belajar dengan budaya yang baru, tidak terlalu sok tahu dengan budaya orang lain, serta mencari tahu keunikan budaya di suatu daerah melalui media internet.’’ (Wawancara Bamba, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Hal ini pula yang dialami Bamba. Dirinya mengakui bahwa perubahan kebiasaan yang harus dilakukan dalam menghadapi segala permasalahan selama di negeri Pasundan yaitu seperti saling berbaur dengan seluruh civitas akademikaUniversitas Telkom serta tidak terlalu dibawa pusing dengan berbagai perbedaan yang ada.
“Sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom sangat beragam. Sebagian besar peserta PMM2 TEL-U tidak terlalu menyombongkan diri, saling berbaur, dan menceritakan keunikan daerahnya sendiri. Perbedaan tidak dijadikan masalah utama. Namun, juga dijadikan sebagai bahan untuk guyonan dan lelucon bersama, serta juga menambah ilmu baru.” (Wawancara Bamba, 18 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Bamba mengaku bahwa ketika berada di Bandung, Jawa Barat dirinya kerap mengalami perubahan sikap dan perilaku berupa sulitnya dalam membina hubungan dengan masyarakat sehingga terkadang menyulitkan ketika berkomunikasi dengan mereka tersebut.
“Hal-hal yang belum saya bayangkan ketika mengikuti PMM2 TEL-U yaitu cara beradaptasi dengan masyarakat dan bergaul dengan masyarakat disana dimana di sisi negatifnya saya sangat takut untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.” (Wawancara Bamba, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3.3 Makna Pengalaman Gaya Hidup
4.3.3.3.1 Informan 1, Ilwan
Bagi Ilwan, tantangan komunikasi yang dialaminya berupa perbedaan cuaca antar daerah di Indonesia. Ilwan mengaku bahwa jika di Bandung terutama di wilayah dataran tinggi, memiliki suhu yang sangat tinggi sehingga ke depannya perlu untuk mempersiapkan bekal berupa pakaian hangat dan persediaan makanan yang cukup.
“…Hal yang paling pada saat itu ialah ketika para peserta kegiatan ini, kita tidak berekspektasi sebelumnya akan mengunjungi daerah tersebut (Gunung Puntang). Banyak dari peserta yang mengira bahwa suhu ruangan yang akan kami datangi tersebut tidak terlalu ekstrim. Namun, tiba-tiba, saya terkejut bahwa Gunung Puntang tersebut memiliki suhu ruangan yang sangat dingin. Kebetulan pada saat itu, saya tidak mempersiapkan pakaian tebal yang cukup ketika berkemah sehingga banyak di antara peserta yang mengalami kedinginan. Bahkan, pada saat kegiatan berlangsung, ada beberapa peserta yang jatuh sakit karena suhu cuaca yang cukup ekstrim.” (Wawancara Ilwan, 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Sebelum mengikuti kegiatan ini, para informan telah menerapkan cara bersosialisasi dan menghadapi segala permasalahan yang terjadi selama di Bandung. Namun, solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut masih mendasar karena beberapa alasan. Ilwan berpendapat bahwa solusi yang dilakukannya dalam menghadapi permasalahan tersebut yaitu dengan bersikap mandiri dan selalu antusias akan perbedaan budaya, selalu menjalin komunikasi dua arah, serta berinisiatif untuk memulai obrolan terlebih dahulu. Selain itu, Ilwan juga berpendapat bahwa upaya lain yang bisa dilakukan yaitu dengan menerima dan menghadapi gegar budaya tersebut.
“…Hal ini menjadi tantangan sendiri bagi saya sebagai mahasiswa rantau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebudayaan antara dua provinsi tersebut. Dengan mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, saya semakin tertantang untuk melatih sikap mandiri dan rasa ingin tahu saya untuk menempuh pendidikan di pulau Jawa. Sebelum mengikuti PMM, saya sudah merantau. Jadi, sebelum itu, saya sudah merantau. Jadi, sebelum itu, saya sudah ada pengalaman bagaimana cara beradaptasi dengan wilayah dan budaya yang baru.” (Wawancara Ilwan, Aplikasi Google Meet 1 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3.3.2 Informan 2 Salsa
Selain itu, Salsa menambahkan bahwa budaya yang berbeda selama di Bandung yaitu ketika di daerah tersebut mayoritas masyarakat menggunakan kendaraan umum di bandingkan kendaraan pribadi. Hal ini berbeda dengan Bali yang dimana mayoritas masyarakatnya terbiasa menggunakan transportasi pribadi. Salsa berpendapat bahwa di Bandung, masyarakatnya memiliki kesadaran yang cukup baik untuk menggunakan kendaraan umum. Hal ini berbeda dengan daerahnya di Bali, penggunaan kendaraan umum masih cukup jarang dan baru di beberapa titik saja yang ramai digunakan.
“Kedua, terkait dengan kebiasaan hidup di Bandung. Di Bandung, saya masih sering melihat masyarakat bepergian menggunakan transportasi umum. Saya pun cukup sering menggunakan transportasi umum daripada transportasi pribadi. Bahkan, saya pernah mengantri dan berdempet-dempetan di bus karena bus sudah sangat penuh. Jika dibandingkan dengan Bali, menggunakan transportasi publik. Bus-bus yang ada seringkali masih banyak bangku yang kosong. Hanya beberapa bus dengan tujuan tertentu yang cukup banyak membawa penumpang. Selain itu, penggunaan angkutan kota (angkot) masih banyak digunakan oleh masyarakat Bandung, sedangkan daerah di Bali, sudah jarang ditemukan angkot. Angkot ini hanya masih dijumpai di beberapa daerah saja. (Wawancara Salsa, 20 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian, Salsa juga menambahkan bahwa dengan adanya kebijakan penggunaan kendaraan umum dan penggunaan kantong plastik untuk berbelanja di sana. Hal tersebut membuat dirinya sangat terkejut dan secara tidak langsung mulai melupakan kebiasaannya ketika di Bali yang lebih terbiasa menggunakan kendaraan pribadi dan tas belanja.
“Ketika saya di Bandung, saya melihat kalau masyarakatnya cenderung menggunakan kendaraan umum dan plastik ketika berbelanja. Hal ini justru membuat saya merasa malas dalam tanda kutip. Hal ini dikarenakan saya jadi tidak perlu membawa totebag kemana-mana. Kalau untuk kendaraan, jelas iya karena kalau ada kendaraan pribadi, jadi lebih hemat ongkos dan waktu juga. Tetapi, di satu sisi, saya oke-oke saja, karena jadi bisa memiliki pengalaman yang baru. Saya justru merasa kebalikannya, saya agak kaget ketika tidak membawa totebag lagi karena saya baru ingat kalau di Bandung, sudah pasti kan dikasih kantong plastik.” (Wawancara Salsa, 20 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, Salsa mengaku bahwa solusi lain ketika berbelanja di Bandung yaitu dengan tidak membawa tas kecil untuk ketika berbelanja. Hal inilah yang membuatnya terkejut karena di Denpasar, Bali, masyarakatnya terbiasa untuk tidak menggunakan kantong plastik sehingga masyarakat disana lebih terbiasa membawa tas kecil kemanapun mereka pergi.
“Kalau triggered negatifnya mungkin bisa dilihat di penggunaan kantong plastik sudah lumayan gentar disosialisasikan. Jadi, di mal-mal atau toko-toko sudah sangat jarang menyediakan kantong plastik. Masyarakat disini sudah terbiasa membawa totebag kemana-man untuk wadah belanja. Tapi, untuk di pasar tradisional dan toko kecil pinggir jalan memang kadang masih diberikan kantong plastik. Hal ini salah satu culture shock yang saya rasakan ketika di Bandung. Seperti yang kita tau juga, kalau di Bandung setiap belanja apapun masih diberikan plastik sama pedagangnya kan? Bahkan, saya juga agak kaget ketika beli barang kecil saja diberikan kantong kecil. Hal itu yang saya rasa berbeda antara Bandung dan Bali dimana di Bali kami sudah lumayan berusaha mengurangi penggunaan kantong plastik meskipun belum secara keseluruhan.” (Wawancara Salsa, 20 Mei 2024, Wawancara dengan peneliti).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Salsa mengalami proses gegar budaya khususnya pada lingkungan tempat tinggalnya yang berbeda dengan daerah asalnya, Bali. Terdapat beberapa kebijakan daerah yang menurutnya itu unik dan patut dicontoh.
4.3.3.3.3 Informan 3 Amanda
Kemudian, Amanda juga menambahkan beberapa cara yang dilakukannya agar mampu bertahan dan terbiasa dengan kebudayaan yang di Bandung seperti mempelajari bahasa dan logat lokal, bersikap terbuka dan ramah, mendengarkan lebih banyak, bertanya dan meminta masukan, serta berpartisipasi dalam kegiatan lokal.
“Saya berusaha mempelajari kata-kata dan frasa dalam bahasa Sunda, serta mencoba meniru intonasi dan logat berbicara masyarakat setempat. Ini membantu saya tidak hanya dalam berkomunikasi sehari-hari, tetapi juga menunjukkan bahwa saya menghargai dan berusaha memahami budaya mereka…Saya lebih banyak tersenyum dan menunjukkan sikap ramah kepada orang-orang di sekitar saya. Sikap positif dan ramah seringkali dapat mengatasi perbedaan budaya dan membuat interaksi menjadi lebih menyenangkan…Saya berusaha mendengarkan lebih banyak ketika orang lain berbicara. Ini tidak hanya membantu saya memahami cara berbicara mereka, tetapi juga membuat saya lebih peka terhadap norma-norma sosial yang berlaku…Saya tidak ragu untuk bertanya jika ada hal yang tidak saya mengerti atau jika saya merasa ada potensi kesalahpahaman. Teman-teman lokal yang sangat membantu dalam memberikan masukan yang konstruktif…Saya aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan dan acara-acara sosial. Ini memberikan saya kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak dengan masyarakat Sunda dan belajar lebih dalam tentang budaya mereka.” (Wawancara Amanda, 3 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Dengan demikian, Amanda mengalami perbedaan-perbedaan pada segi perilaku masyarakatnya. Dia beranggapan nbahwa budaya Sunda cenderung lembut lembut dalam berkata dan berperilaku.
4.3.3.3.4 Informan 4 Afdal
Informan Afdal juga menjelaskan perbedaan cara belajar ketika berkuliah selama mengikuti PMM di Universitas Telkom dengan cara belajar ketika berkuliah di kampus asalnya di Universitas Andalas. Sebagai salah satu mahasiswa departemen Ilmu Hukum Universitas Andalas, Afdal berpendapat bahwa ketika mengikuti perkuliahan di TEL-U, mahasiswanya cenderung memiliki etos kerja yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan bahwa dari kampusnya, memang sangat memaksimalkan pembelajaran kepada para mahasiswanya. Hal ini nantinya diharapkan dapat dijadikan saran ke depannya bagi UNAND untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang diberikan kepada mahasiswanya.
“…Ketika saya berkuliah di Universitas Telkom, etos kerjanya lebih tinggi dibandingkan dengan Universitas Andalas, lebih bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas. Selain itu, kita juga pernah satu kelas CSR (Coorporate Social Responsibilty), kita mengetahui bahwa pembelajarannya sangat dimaksimalkan diberikan kepada para mahasiswanya. Sedangkan, ketika saya berkuliah di kampus asal saya di Universitas Andalas, mahasiswa mengerjakan tugas hanya sebagai bukti telah mengumpulkan tugas saja.” (Informan Afdal, Padang, 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Informan Afdal menyatakan bahwa ia menghadapi beberapa permasalahan seperti mengalami perbedaan komunikasi selama pindah sekolah, serta sudah terbiasa pindah sekolah sebanyak tujuh kali. Selain itu, Afdal berpendapat bahwa yang menjadi masalahnya selama mengikuti program ini masalah beradaptasi dengan lingkungan.
“…Sejak usia kecil hingga berada di bangku kelas 1 SMP, saya dibesarkan di Depok, Jawa Barat. Lalu, ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMP, barulah saya pindah ke Padang, Sumatera Barat. Hal ini menjadi tantangan bagi saya sendiri karena adanya perbedaan komunikasi antara yang lebih muda dengan yang lebih tua. Selain itu, saya juga mendapatkan tantangan bahwa ketika saya berkomunikasi dengan peserta PMM2 TEL-U yang bersuku Minang, cenderung menggunakan logat bahasa yang sedikit halus. Sedangkan, ketika saya berkomunikasi dengan peserta yang bersuku Batak, cenderung menggunakan logat yang agak keras.” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Selain itu, Afdal berpendapat bahwa ketika di Bandung, ia lebih membiasakan menggunakan bahasa yang lembut dan memperhatikan lawan bicaranya.
Hambatan saya pada proses perbedaan budaya yaitu lebih membiasakan diri dengan lingkungan. Misal ketika saya berada di provinsi Jawa Barat, sering menggunakan kata-kata seperti punten atau mangga, agar lebih sopan ketika berbicara dengan masyarakat di Jawa Barat.” (Wawancara Afdal, Padang 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Lalu, Afdal juga menambahkan bahwa permasalahan yang dihadapinya pada saat di Bandung ialah suhu ruangan yang dingin dan sulitnya beradaptasi dengan daerah tersebut terkait cuacanya yang cenderung lembab dan basah.
“Hal yang belum pernah saya bayangkan yaitu pada kegiatan Modul Nusantara di Gunung Puntang. Saya pribadi memang kurang cocok dengan daerah yang bersuhu dingin. Ditambah lagi ketika itu, saya harus mengikuti kegiatan ini yang dimana suhunya lebih dingin lagi. Sebenarnya, pasti jika saya tidak mengikuti PMM, tentu saya menghindari tidak berkunjung ke daerah yang bersuhu dingin tersebut.” (Wawancara Afdal, 24 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
4.3.3.3.5 Informan 5 Bamba
Senada dengan Afdal, informan Bamba menjelaskan tentang budaya yang berbeda dari segi kebiasaan masyarakat, dan sikap serta perilaku masyarakatnya yang ada di provinsi Jawa Barat. Selain itu, Bamba berpendapat bahwa keunikan inilah yang jarang ditemui di daerah asalnya Mentawai, Sumatera Barat. Bamba berpendapat bahwa masyarakat Sunda memiliki budi pekerti halus melalui cara berbicara dan berperilaku.
“…Ketika saya berada di Jawa Barat, sebagian besar masyarakatnya masih mengedepankan budaya sapa menyapa. Pada saat disana, saya waktu itu ada tugas untuk mewawancarai masyarakat Bandung. Misalnya mereka sering menggunakan kata permisi kang atau permisi teh serta masih kentalnya nilai kebudayaan. Selain itu, masyarakat Sunda cenderung lebih suka membantu orang lain yang membutuhkan, walaupun orang tersebut merupakan orang yang baru dikenalnya.” (Informan Bamba, Padang, 4 Maret 2024, Wawancara dengan peneliti).
Kemudian, Bamba juga menambahkan terkait cara lain yang dilakukannya khususnya dalam mengatur keuangan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu dengan berhemat dan mengatur kembali terkait anggaran belanja setiap bulannya.
“Cara saya mengatur keuangan selama di Bandung yaitu dengan cara membuat daftar belanja dalam sebulan dan membeli barang yang paling utama dan penting agar bisa memenuhi kebutuhan hidup.” (Wawancara Bamba, 26 Juni 2024, Wawancara dengan peneliti).
Berdasarkan beberapa hasil analisis mengenai gambaran dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa setiap informan baik itu informan Ilwan, Salsa, Amanda, Afdal, dan Bamba mengalami setiap pengalaman yang beragam selama mengikuti PMM2 TEL-U. Pada pengalaman informan yang memiliki harapan besar yang paling banyak dialami oleh Afdal dan Bamba. Sedangkan harapan yang lebih sedikit dialami oleh Salsa. Lalu, pada pandangan selanjutnya yaitu informan mengalami hal yang begitu menyenangkan yang banyak dialami oleh Amanda. Sedangkan yang paling sedikit ialah informan Ilwan dan Salsa. Kemudian, pada pandangan selanjutnya yaitu informan mengalami berbagai permasalahan yang banyak dialami oleh informan Ilwan dan yang paling sedikit yaitu Bamba. Lalu, pada pandangan bahwa semua masalah dapat teratasi dengan baik, yang banyak dialami oleh Salsa. Sedangkan yang paling terakhir yaitu informan Afdal. Secara keseluruhan pendapat, informan Salsa paling banyak mengalami keseluruhan pengalaman tersebut dan informan Amanda yang paling sedikit diantara subjek yang lain. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa setiap pengalaman yang dialami oleh setiap informan berbeda-beda tergantung bagaimana permasalahan yang diterima informan serta bagaimana langkah yang dihadapi informan tersebut.
Menurut penjelasan seluruh informan, bahwa kegiatan komunikasi antar budaya dan masalah gegar budaya ini sangat beragam dan memiliki keunikan dari setiap informan penelitian. Pada saat mengikuti kelas Modul Nusantara setiap informan mengalami proses perbedaan budaya, kegiatan pembelajaran kebudayaan, mengalami tantangan komunikasi, melakukan adaptasi lingkungan, dan mengalami perubahan sikap dan perilaku yang terjadi di provinsi Jawa Barat. Selanjutnya, hal-hal inilah menjadi permasalahan utama yang dialami oleh informan dalam memaknai komunikasi antar budaya dan gegar budaya, khususnya pada lingkungan atau tempat yang berbeda budaya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kelima informan yaitu Ilwan, Salsa, Amanda, Afdal, dan Bamba sama-sama mengalami pengalaman komunikasi antar budaya dan gegar budaya selama mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom.
4.4 Pembahasan
4.4.1 Pengalaman Komunikasi Antar Budaya dalam Menghadapi Gegar Budaya
Komunikasi antar budaya dan gegar budaya merupakan dua hal penting yang kerap dialami oleh individu terutama ketika pada suatu lingkungan yang baru. Hal ini dikarenakan kedua hal ini berpengaruh dalam menentukan bagaimana pengalaman komunikasi terhadap bagaimana memahami makna kebudayaan serta mempelajari budaya yang baru tersebut. Berdasarkan hasil wawancara mendalam peneliti dengan kelima informan menyatakan bahwa peserta mendapatkan banyak pengalaman baik itu pengalaman akademik maupun non akademik. Hal-hal yang diperoleh seperti bagaimana pengalaman yang dirasakan langsung oleh peserta dalam perbedaan budaya, pengalaman dalam mempelajari budaya, pengalaman tantangan komunikasi, pengalaman melakukan adaptasi lingkungan, serta pengalaman yang dirasakan individu terhadap perubahan yang terjadi pada sikap maupun perilaku.
Selain itu, di dalam program ini peserta mengikuti mata kuliah Modul Nusantara. Pada kegiatan tersebut, peserta mengikuti rangkaian kegiatan untuk menyelaraskan pemahaman mengenai kebhinekaan, inspirasi, refleksi, dan kontribusi sosial. Di dalam rangkaian tersebut, para peserta menghadapi perbedaan budaya yang berbeda dengan budaya daerah asalnya. Pertama, program kebhinekaan merupakan kegiatan promosi kebhinekaan berupa kegiatan eksplorasi budaya. Kedua, program inspirasi merupakan kegiatan talkhsow dari beberapa figur yang inspiratif. Ketiga, program refleksi merupakan kegiatan merefleksikan kegiatan kebhinekaan yang sudah dilakukan berupa kegiatan diskusi kelompok. Keempat, program kontribusi sosial merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat secara berkelompok yang didanai oleh LPDP. Bentuk dan hasil dari komunikasi pada peserta yang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu perbedaan budaya, belajar budaya, tantangan komunikasi, adaptasi lingkungan, dan perubahan sikap dan perilaku. Berdasarkan hasil komunikasi yang diperoleh memiliki tujuan yang sama yaitu bahwa pentingnya menghadapi fenomena gegar budaya pada kalangan mahasiswa pertukaran pelajar.
Perbedaan budaya pada dasarnya terjadi setelah informan berada dalam beberapa hari pada suatu daerah yang baru serta telah diketahui oleh informan. Namun, masih perlu digali lagi, agar para peserta mengetahui secara lebih mendalam mengenai komunikasi antar budaya dan gegar budaya dari berbagai sudut pandang, misalnya adat istiadat, budaya, dan agama. Selain itu, informan merasakan keunikan dari setiap perbedaan budaya yang disajikan di setiap rangkaian kegiatan Modul Nusantara. Maka dari itu diperlukan banyak informasi bagi para peserta PMM agar bisa menerima segala perbedaan kebudayaan tersebut dengan cara yang tepat seperti untuk lebih bersikap toleransi akan perbedaan.
Berdasarkan enam aspek terjadinya gegar budaya yaitu antara lain ketegangan, rasa kehilangan, ditolak atau menolak, kebingungan, kejutan, dan perasaan tidak berdaya (Tilburg, 2005:18). Pertama, aspek ketegangan maksudnya ialah suatu kondisi dimana individu memperlukan adaptasi psikologis ketika berada pada lingkungan baru. Pengalaman peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom merasa gugup ketika awal kegiatan pada program. Hal ini dikarenakan oleh adanya peralihan antara budaya lingkungan yang lama dengan budaya lingkungan yang baru sehingga berdampak pada psikis seseorang.
Kedua, aspek rasa kehilangan maksudnya ialah suatu kondisi dimana individu merasakan ada sesuatu yang berkurang baik itu dari teman, status, profesi, maupun harta benda. Pengalaman peserta PMM2 TEL-U mengalami berbagai permasalahan seperti kesulitan untuk menjalin hubungan pertamanan yang berbeda budaya serta merasa khawatir untuk tidak bisa berkomunikasi dengan peserta yang lain.
Ketiga, aspek ditolak atau menolak maksudnya ialah suatu kondisi dimana individu merasakan perbedaan tertentu dari budaya-budaya yang baru. Pengalaman peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengalami kekhawatirkan untuk menjadi korban diskriminasi selama di Bandung. Namun, hal tersebut berbeda ketika mereka di Jawa Barat, yang mulai beranggapan bahwa masyarakat Sunda itu sangat ramah dengan kaum pendatang.
Keempat, aspek kebingungan maksudnya ialah suatu kondisi dimana individu bimbang dalam menentukan peran, harapan, nilai, perasaan, maupun identitas dirinya masing-masing. Pengalaman peserta PMM2 TEL-U yaitu memang pada awalnya sangat bimbang dalam menentukan kegiatan atau tujuan yang apa yang akan nanti dilakukan pada saat kegiatan ini berlangsung. Dengan adanya rangkaian program Modul Nusantara, dapat mengatasi rasa kebingungan peserta ketika berada di provinsi Jawa Barat.
Kelima, aspek kejutan maksudnya ialah suatu kondisi dimana individu mengalami permasalahan seperti rasa kecemasan, jijik, maupun marah dengan segala perbedaan budaya yang ada. Pengalaman peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu mengalami ketidakcocokan pada makanan, bahasa, dan kebiasaan masyarakat. Hal ini disebabkan karena berbedanya budaya antara budaya Sunda dengan budaya-budaya dari peserta PMM ini yang sebagian besar berasal dari luar pulau Jawa.
Keenam, perasaan tidak berdaya maksudnya ialah kondisi dimana individu mengalami kelelahan secara mental karena ketidakmampuan dirinya dalam menghadapi lingkungan yang baru. Pengalaman peserta PMM2 TEL-U berupa banyak di antara para peserta yang merasakan perbenturan budaya yang sangat signifikan sehingga membutuhkan beberapa waktu bagi peserta tersebut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.
Melalui kegiatan ini, menjadi wadah bagi peserta untuk mempelajari budaya baru, serta merubah pandangan peserta terkait komunikasi antar budaya dan gegar budaya. Hal yang awalnya mengetahui budaya provinsi Jawa Barat hanya melalui internet saja, menjadi lebih mengetahui banyak hal mengenai budaya Sunda secara lebih mendalam. Kegiatan ini juga menjadi ajang bertukar pikiran antara peserta mengenai pemahaman-pemahaman nilai kebudayaan ketika mengikuti rangkaian kegiatan Modul Nusantara seperti kebhinekaan, inspirasi, refleksi, dan kontribusi sosial. Para informan merasakan pengalaman yang sangat unik dan tak terlupakan dari rangkaian kegiatan yang mereka ikuti. Selain itu, program ini juga mendorong peserta untuk memberikan dampak secara langsung kepada lingkungan dan masyarakat.
Berdasarkan model komunikasi antar budaya, terdapat lima karakteristik dari komunikasi antar budaya yaitu seperti pertukaran simbolis, proses, komunitas budaya yang berbeda, menegosiasikan makna bersama, dan situasi interaktif (Suryani, 2013:9). Pertama, pertukaran simbolis ialah salah satu karakteristik dari komunikasi antar budaya yang melibatkan simbol verbal maupun non verbal. Komunikasi antar budaya secara verbal pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu berupa terjalinnya komunikasi antara peserta yang memiliki keragaman budaya. Sedangkan, secara non verbal dengan memahami perilaku dan kebiasaan masyarakat Sunda.
Kedua, proses ialah salah satu karakteristik dari komunikasi antar budaya yang berkaitan dengan sikap saling ketergantungan yang berakhir pada terbentuk dan terjalinnya kesan antar kelompok manusia yang lain. Proses yang dialami oleh peserta PMM2 TEL-U yaitu pada awalnya para peserta merasa canggung untuk memulai pembicaraan dengan peserta yang lain. Namun, seiring berjalannya waktu dan rangkaian program Modul Nusantara, pada akhirnya setiap peserta memiliki hubungan persaudaraan yang erat, walaupun terdiri dari latar belakang suku, ras, agama yang berbeda-beda.
Ketiga, komunitas budaya yang berbeda ialah salah satu karakteristik dari komunikasi antar budaya yang berkaitan dengan komunitas budaya yang lebih luas dan melibatkan masyarakat banyak. Komunitas budaya yang berbeda yang dialami oleh peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu pada kegiatan ini melibatkan seluruh peserta yang berasal dari daerah yang bermacam-macam mulai dari provinsi Aceh hingga Papua.
Keempat, menegosiasikan makna bersama ialah salah satu karakteristik dari komunikasi antar budaya yang berkaitan dengan tercapainya berbagai tujuan dari komunikasi antar budaya itu sendiri. Menegosiasikan makna bersama yang dialami oleh peserta PMM2 TEL-U yaitu pada kegiatan Kontribusi Sosial, para peserta melakukan diskusi dengan kelompoknya terkait konsep, pelaksanaan, dan gambaran dari kegiatan pengabdian yang akan dilakukan. Hal ini dilakukan agar tercapainya musyawarah dan mufakat dan kebermanfaatan program bagi masyarakat sekitar.
Terakhir, situasi interaktif ialah salah satu karakteristik dari komunikasi antar budaya yang berkaitan dengan interaksi atau hubungan antar individu dengan individu yang lain. Situasi interaktif yang dialami oleh peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu pada setiap rangkaian kegiatan Kebhinekaan, Inspirasi, Refleksi, dan Kontribusi Sosial yang diikuti peserta merupakan kegiatan budaya yang unik untuk diikuti. Hal ini disebabkan pada kegiatan tersebut terdapat tantangan tersendiri untuk mendalami hakikat kebudayaan tersebut.
Kemudian, komunikasi antar budaya merupakan suatu proses kepastian yang dialami oleh etnis tertentu jika etnis tersebut saling memahami kebudayaannya masing-masing (Hasibuan, 2017:108). Hal ini terjadi pada peserta PMM2 TEL-U yang dimana tetap menghargai kebudayaan Sunda, tanpa melupakan kebudayaan daerahnya masing- masing.
Komunikasi antar budaya ialah proses komunikasi yang terjadi pada kepercayaan, kebiasaan, nilai, bahasa, serta cara berpikir yang sangat beragam (Nugroho, 2012:407). Hal ini terjadi pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana pada kegiatan memang bertujuan untuk mewujudkan komunikasi antar budaya ini karena dari berbagai ragam latar belakang peserta yang terlibat secara langsung pada program ini.
Lalu, terdapat tujuh jenis identitas budaya. Identitas budaya tersebut yaitu seperti persepsi diri, cara berkomunikasi dengan simbol-simbol inti, sudut pandang individu, kelestarian dan perubahan, komponen afektif, kognitif, dan behavioral identitas, isi dan hubungan, serta kemenonjolan dan intensitas (Iskandar, 2004:128). Pertama, persepsi diri maksudnya ialah berkaitan dengan penggambaran baik itu dari diri sendiri maupun orang lain. Hal tersebut terjadi pada peserta PMM2 TEL-U yang memiliki berbagai perbedaan pandangan pada setiap daerah yang dimana hal ini sangat berbeda ketika mereka sebelum keberangkatan PMM dengan setelah kegiatan PMM ini.
Kedua, cara berkomunikasi dengan simbol-simbol inti maksudnya ialah memahami simbol yang meliputi definisi, premis, dan preposisi mengenai manusia dan alam. Hal tersebut terjadi pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom ketika mengunjungi daerah penganut aliran Kebathinan Perjalanan yang dimana peserta memahami bagaimana kebiasaan masyarakat dan bagaimana cara mereka beribadah, serta memahami lebih mendalam terkait kurikulum pembelajarannya.
Ketiga, sudut pandang individu maksudnya ialah individu mampu memahami identitas dirinya berdasarkan sudut pandang individu itu sendiri. Hal tersebut terjadi pada peserta PMM2 TEL-U yang dimana memahami kebudayaan daerah asalnya masing-masing dan mampu menjaga marwah dari budaya mereka, walaupun dihadapkan dengan beberapa sisi buruk masyarakat Sunda yang kurang baik, seperti meminum alkohol.
Keempat, kelestarian dan perubahan maksudnya ialah individu mengalami perubahan dari segi ekonomi, politik, sosial, psikologis, dan konteks. Hal tersebut terjadi pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana mengalami banyak kasus gegar budaya di berbagai bidang. kembali pada perbedaan latar belakang dari masing-masing peserta yang terlibat.
Kelima, kompenen afektif, kognitif, dan behavioral identitas maksudnya ialah segala hal yang bisa mempengaruhi identitas budaya dari emosi, rasa, world review, tindakan verbal, serta tindakan non verbal. Hal tersebut terjadi pada terjadi pada peserta PMM2 TEL-U yang dimana setiap kegiatan Kebhinekaan yang telah diikuti mampu menggugah fisik maupun psikis peserta terkait informasi kebudayaan.
Keenam, isi dan hubungan maksudnya ialah segala informasi yang diberikan mengandung pesan yang meliputi jangkauan pesan, tingkat keterlingkupan serta ketidakterlingkupan. Hal tersebut terjadi pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana segala informasi, perilaku masyarakat, dan bagaimana kualitas kampus dapat dirasakan oleh masing-masing individu dengan kualitas pemaknaan yang berbeda-beda.
Ketujuh, kemenonjolan dan intensitas maksudnya ialah segala sesuatu terjadi berdasarkan pada konteks dan waktunya. Hal ini terjadi pada peserta PMM2 TEL-U yang dimana telah mengalami masa-masa kegiatan sewaktu mengikuti MBKM yang hingga tidak luput hilang dari kenangan masing-asing peserta. Hal ini disebabkan karena keunikan program ini untuk menjaga keberagaman budaya yang ada di Indonesia.
Lalu, terdapat tiga fungsi dari komunikasi antar budaya seperti sebagai identitas sosial, sebagai integrasi sosial, serta sebagai pengetahuan (Karmilah, 2019:49). Pertama, sebagai identitas sosial ialah komunikasi antar budaya berguna untuk memberikan dan memperlihatkan suatu budaya. Hal ini berkaitan dengan Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari lebih mendalam terkait budaya-budaya yang ada di Indonesia, khususnya pada provinsi Jawa Barat.
Kedua, sebagai integrasi sosial ialah komunikasi antar budaya berguna untuk mempersatukan individu dengan individu yang lain. Hal ini berkaitan dengan PMM2 TEL-U yang dimana untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan antar setiap peserta yang beragam budaya.
Ketiga, sebagai pengetahuan ialah komunikasi antar budaya berguna untuk memberikan wawasan terbaru terkait kebudayaan. Hal ini berkaitan dengan Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana peserta mendapatkan banyak khazanah ilmu pengetahuan yang luas mengenai budaya di tanah Pasundan seperti wayang golek, angklung, batik Sunda, silat Sunda, dan lain-lain.
Pengalaman komunikasi merupakan segala sesuatu hal yang dapat menjadi ilmu pengetahuan serta dapat menjadi suatu landasan bagi individu dalam bertindak dan berperilaku (Fitriyani, 2018:67). Hal ini sesuai pada Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana peserta menjadi seluruh kegiatan Kebhinekaan, Inspirasi, Refleksi, serta Kontribusi Sosial sebagai pengalaman pertukaran mahasiswa yang sangat berharga. Hal ini dikarenakan para peserta bertemu dan berinteraksi langsung dengan berbagai orang yang berbeda kebudayaan.
Lalu pengalaman komunikasi merupakan suatu tindakan untuk mendapatkan identitas serta memberikan kesempatan bagi individu tersebut untuk berkolaborasi dengan peserta yang lain (Juddi, 2019:67). Hal ini sesuai pada PMM2 TEL-U yang dimana pada setiap rangkaian Modul Nusantara pasti selalu melibatkan tokoh inspiratif, komunitas, maupun masyarakat sekitar yang ada di daerah Bojongsoang, Kabupaten Bandung Barat.
Berdasarkan jenisnya, pengalaman komunikasi terdiri dari dua macam yaitu pengalaman komunikasi positif dan pengalaman komunikasi negatif (Afra, 2023:132). Pertama, pengalaman komunikasi positif yaitu segala jenis pengalaman komunikasi yang menyenangkan dan dapat memberikan inspirasi bagi individunya seperti penerimaan, motivasi, pertemanan, dan pembelajaran Hal ini sesuai pada Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang mendapatkan penerimaan oleh civitas akademika TEL-U, meningkatkan motivasi belajar selama mengikuti PMM, bertambahnya relasi pertemanan di lingkup nasional, serta mendapatkan banyak pembelajaran berharga selama di Bandung, Jawa Barat.
Kedua, pengalaman komunikasi negatif yaitu segala jenis pengalaman komunikasi yang tidak menyenangkan dan dapat memberikan kesalahpahaman bagi individunya seperti tidak didengarkan, diskriminasi, miskomunikasi, serta pelecehan secara verbal maupun non verbal. Selama mengikuti program PMM2 TEL-U, sebagian peserta mengalami gangguan selama berada di daerah baru sehingga memerlukan beberapa waktu untuk beradaptasi.
Kemudian, pengalaman komunikasi antar budaya ialah segala jenis bentuk komunikasi yang melibatkan bahasa yang beragam (Aprila, 2024:76). Hal ini sesuai pada Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang sering menggunakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk mempermudah dalam berkomunikasi dengan peserta yang berbeda daerah.
Lalu, pengalaman komunikasi antar budaya ialah segala jenis bentuk komunikasi yang berlaku pada lingkungan sosial yang berbeda lata belakang budaya (Hidayat, 2022:77). Hal ini sesuai pada PMM2 TEL-U yang dimana setiap peserta yang terlibat pada kegiatan ini berasal dari daerah di luar provinsi Jawa, baik itu dari Sabang hingga Merauke.
Berdasarkan penyebab terjadinya hambatan komunikasi antar budaya, maka dapat disebabkan oleh lima hal yaitu seperti berbedanya tujuan komunikasi, etnosentrisme, tidak ada saling percaya, menarik diri, dan kecilnya empati (Cahyono, 2018:118). Pertama, perbedaan tujuan komunikasi maksudnya ialah salah satu jenis hambatan komunikasi yang bertujuan untuk bergabung dengan budaya tertentu sekaligus sebagai rasa untuk mementingkan budaya sendiri. Hal ini terjadi pada Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana pada awalnya peserta sulit untuk menjalin hubungan dengan peserta lain dikarenakan perbedaan suku dan asal daerah. Pada awal kegiatan PMM, para peserta cenderung lebih mudah akrab dengan peserta lain yang sesama provinsi.
Kedua, etnosentrisme maksudnya ialah salah satu jenis hambatan komunikasi yang bertujuan untuk mementingkan dan menganggap budaya daerah sendirilah yang paling terbaik dibandingkan budaya yang lain. Untuk permasalahan ini hampir sama sekali terjadi pada PMM2 TEL-U karena peserta lebih mengedepankan sikap saling toleransi akan perbedaan baik itu dari suku, ras, agama, dan lain sebagainya.
Ketiga, tidak ada saling percaya ialah salah satu jenis hambatan komunikasi yang bertujuan untuk menjaga kepercayaan seseorang kepada individu yang lain. Untuk permasalahan ini juga hampir tidak sama sekali terjadi pada Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana setiap anggaran pembelanjaan program Kontribusi Sosial selalu dicatat ke dalam bentuk laporan sehingga meminimalisir tindakan kecurangan.
Keempat, menarik diri ialah salah satu jenis hambatan komunikasi yang bertujuan untuk sebagai bentuk ungkapan tidak setuju serta takut terpengaruh dengan budaya yang lain. Hambatan ini juga hampir tidak terjadi selama PMM2 TEL-U karena walaupun terdapat beberapa peserta yang pendiam, para peserta yang lain, berinisiatif untuk mengajak peserta tersebut dan bercerita mengenai hal-hal yang unik.
Kelima, kecilnya empati ialah salah satu jenis hambatan komunikasi yang bertujuan untuk menghindar dari berbagai persoalan yang rumit. Hambatan ini juga hampir tidak terjadi selama Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom karena setiap segala permasalahan internal yang terjadi pasti diadakan ruang diskusi dan musyawarah bersama agar tidak munculnya konflik berkepanjangan.
Hambatan komunikasi merupakan segala sesuatu baik itu dari perencanaan, pengawasan, koordinasi, maupun kepemimpinan yang cenderung menyebabkan konflik tertentu (Wahyudi, 2015:8). Selama mengikuti PMM2 TEL-U, memiliki beberapa hambatan komunikasi yang lebih bersifat individu serta mampu diselesaikan oleh individu tersebut dalam kurun waktu tertentu.
Lalu, hambatan komunikasi merupakan segala sesuatu terjadinya gangguan pada cara berkomunikasi antar individu dengan individu yang lain (Sembada, 2022:222). Hal ini terjadi pada Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana sulitnya peserta yang berkepribadian introvert untuk bersosialisasi dengan peserta PMM yang lain. Hal ini yang menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk lebih membuka diri dalam memulai obrolan dengan peserta lain.
Berdasarkan jenis hambatan komunikasi pada pembelajaran ada dua yaitu hambatan fisik dan hambatan non fisik (Sawitri, 2019:212). Pertama, hambatan fisik ialah segala sesuatu gangguan yang berkaitan dengan sarana dan prasarana. Untuk hal ini, tidak terjadi pada PMM2 TEL-U. Hal ini dikarenakan oleh fasilitas kampusnya yang lengkap dan canggih serta ditambah lagi sebagai kampus swasta terbaik di Indonesia sehingga hal inilah yang menjadi keunggulannya.
Kedua, hambatan non fisik ialah segala sesuatu gangguan yang berkaitan dengan kepercayaan diri, kompetensi, serta sikap resistensi akan perubahan. Hal ini terjadi pada Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom karena lebih berfokus pada hambatan masing-masing individu terkait penerimaan akan inovasi teknologi terbaru sehingga terdapat beberapa peserta yang membutuhkan waktu untuk bisa menyesuaikan dirinya dengan sistem informasi teknologi di TEL-U, contohnya seperti Learning Management System (LMS).
Kemudian, hambatan komunikasi merupakan segala sesuatu terjadinya gangguan pada peran suatu individu untuk aktif pada kegiatan tertentu sehingga mempengaruhi kepercayaan diri individu tersebut (Rahmawati, 2018:71). Hal ini terjadi pada PMM2 TEL-U yang dimana, terdapat beberapa peserta yang tidak mengikuti kegiatan Modul Nusantara dengan baik. Hak ini dikarenakan bahwa beberapa peserta ada yang kurang menyukai kegiatannya karena kegiatannya membosankan sehingga ke depannya diperlukan inovasi kegiatan yang lebih menantang.
Berdasarkan kegiatan proses aktifnya, gegar budaya terbagi pada tiga proses aktif yaitu seperti affective, behavior, dan cognitive (Liliweri, 2022:201). Pertama, affective merupakan salah satu proses aktif dari gegar budaya yang berkaitan dengan perasaan dan emosi yang mampu berubah secara positif maupun negatif. Hal ini terjadi pada Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana terdapat beberapa peserta yang merasakan emosi positif seperti bahagia ketika bertemu banyak teman baru ataupun banyak mempelajari hal-hal yang unik dan menarik dari kegiatan Modul Nusantara baik dari kebhinekaan, inspirasi, refleksi, maupun kontribusi sosial. Sedangkan, emosi negatif yang terkadang terjadi kepada beberapa peserta yaitu berupa perasaan sedih karena tinggal berjauhan dengan orang-orang terkasih ataupun merasakan ketidaknyamanan terkait gejolak budaya yang terjadi.
Kedua, behavior merupakan salah satu proses aktif dari gegar budaya yang berkaitan dengan perubahan perilaku sehingga dibutuhkan pembelajaran budaya serta pengembangan keterampilan dan sosial. Hal ini terjadi pada PMM2 TEL-U yang dimana terdapat beberapa peserta yang membutuhkan waktu yang cepat atau pun lambat dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hal yang mereka lakukan yaitu menambah pengalaman kegiatan yang baru dan menantang serta memperluas jaringan relasi baik itu dengan teman sesama PMM, teman satu kelas, maupun dengan seluruh civitas akademika Universitas Telkom yang lain.
Terakhir, cognitive merupakan salah satu proses aktif dari gegar budaya yang berkaitan dengan perubahan persepsi individu tentang etnis dan nilai-nilai kontak budaya. Hal ini terjadi pada Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana terdapat beberapa peserta yang mengalami perubahan terhadap stigma, stereotip, maupun pandangan terhadap beberapa peserta lain berdasarkan asal provinsinya. Bahkan, terdapat dari beberapa pandangan mereka sangat berbeda antar sebelum mengikuti PMM maupun setelah mengikuti PMM. Hal ini kembali lagi pada setiap karakter masing-masing individu dalam menghadapi lingkungan yang baru.
Gegar budaya merupakan suatu kondisi yang dialami oleh suatu individu ketika berpapasan dengan lingkungan agama, pendidikan, kerja, keluarga yang baru (Siregar, 2022:10). Hal ini terjadi PMM2 TEL-U yang dimana keseluruhan peserta dihadapkan dengan beragamnya agama peserta baik itu yang beragama islam, kristen, katholik, maupun hindu. Lalu, pada bagian lingkungan dihadapkan dengan kampus swasta terbaik di Indonesia yang tentunya sangat berbeda dengan kampus negeri. Perbedaan kebiasaan masyarakat Sunda yang menjadi pendorong terjadinya gegar budaya. Terakhir, para peserta juga dihadapkan dengan keluarga baru selama mengikuti PMM seperti dosen Modul Nusantara, mentor kelas PMM, tenaga pendidik, maupun mahasiswa yang berkuliah di Universitas Telkom.
Berdasarkan aspek penyebab terjadinya gegar budaya ada empat yaitu seperti stress reaction, cognitive fatigue, role shock, dan personal shock (Pramudiana, 2019:132). Pertama, stress reaction yaitu salah penyebab terjadinya gegar budaya yang menyebabkan terjadinya gangguan pada tubuh baik secara fisiologis seperti penyakit maupun psikologis seperti perasaan stress, cemas, depresi, dan gelisah. Hal ini terjadi pada Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang dimana sebagian besar peserta PMM mengalami stress karena kesulitan beradaptasi dengan pembelajaran di luar kampus serta mengalami penyakit ringan seperti flu dan batuk karena cuaca di Jawa Barat cenderung dingin.
Kedua, cognitive fatigue yaitu salah satu penyebab terjadinya gegar budaya yang menyebabkan terjadinya kelelahan mental karena kesulitan memahami komunikasi verbal. Hal ini terjadi pada PMM2 TEL-U yang dimana beberapa peserta ada yang membutuhkan beberapa waktu untuk memahami bahasa Sunda karena sebelumnya belum pernah ke Bandung. Ada juga pesertanya yang pernah sebelumnya ke Bandung, sehingga tidak merasa asing lagi ketika mendengar bahasa Sunda.
Ketiga, role shock yaitu salah satu penyebab terjadinya gegar budaya yang menyebabkan terjadinya gangguan pada kesejahteraan dan konsep diri sehingga individu merasa adanya ketidakjelasan terhadap posisi sosial, relasi, maupun peran sosial. Hal ini sebagian besar tidak terjadi pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka karena peserta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya terlepas itu apakah dia adalah orang yang introvert maupun ekstrovert.
Terakhir, personal shock yaitu salah satu penyebab terjadinya gegar budaya yang menyebabkan terjadinya gangguan pada harga diri, identitas diri, kesejahteraan maupun kepuasan hidup. Hal ini sebagian besar tidak terjadi pada PMM2 TEL-U karena kegiatan PMM yang menunjang kreativitas dan perkembangan soft skill maupun hard skill dari para peserta.
Lalu, gegar budaya merupakan proses ketika individu mulai memahami budaya yang berbeda dengan daerah atau lingkungan lamanya (Wahyutama, 2022:378). Hal ini sebagian besar terjadinya pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom karena setiap rangkaian Modul Nusantara khususnya kegiatan Kebhinekaan, peneliti menemukan banyak keunikan budaya Sunda.
Kemudian, gegar budaya merupakan salah satu bentuk gangguan berupa kecemasan terhadap kehilangan akan tanda maupun lambang yang berkaitan hubungan sosial (Khoirunnisa, 2019:254). Hal ini terjadi pada PMM2 TEL-U yang dimana pada sebelum kegiatan PMM dimulai maupun pada awal kegiatan, para peserta cenderung mengkhawatirkan dirinya bahwa takut untuk tidak mendapatkan banyak teman maupun kesulitan selama mengikuti kegiatan tersebut.
4.4.2 Konseptualisasi Pengalaman Komunikasi dalam Menghadapi Gegar Budaya
Tujuan penelitian yang dirujuk pada bagian konseptualisasi pengalaman komunikasi antar budaya yaitu menemukan konsep-konsep komunikasi dari pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta yang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat. Teori fenomenologi Edmund Husserl merupakan salah teori yang membahas mengenai pengalaman terkait budaya berdasarkan pemilik budaya atau pelakunya (Supriadi, 2015:57). Hal ini berkaitan dengan konseptualisasi pengalaman komunikasi dalam menghadapi gegar budaya karena peneliti menjabarkan beberapa konsep yang dilahirkan berdasarkan hasil analiss data wawancara dari para informannya. Berdasarkan analisis data dari hasil wawancara dengan keseluruhan informan mengenai pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta yang mengikuti PMM2 TEL-U, peneliti memperoleh pengalaman komunikasi tersebut dengan menggunakan aplikasi NVivo 12 Pro. Peneliti menentukan konsep berdasarkan data hasil wawancara yang telah dilakukan dengan melakukan reduksi eidetik. Untuk menggali bagaimana pengalaman komunikasi yang dilakukan peserta setelah mengikuti PMM2 TEL-U, peneliti menggunakan lima konsep-konsep komunikasi utama yang sering muncul berdasarkan hasil frekuensi data yang didapatkan yaitu perbedaan budaya, belajar budaya, tantangan komunikasi, adaptasi lingkungan, serta perubahan sikap dan perilaku. Alasan peneliti menggunakan lima konsep tersebut karena berdasarkan hasil analisis olah data didapatkan bahwa kelima konsep tersebut merupakan konsep yang banyak dibahas di dalam wawancara subjek.
Alasan peneliti membahas pandangan peserta ini karena konsep ini sangat berkaitan langsung dengan penelitian fenomenologi yang melibatkan berbagai perspektif subjek terhadap suatu fenomena yang terjadi. Konsep perbedaan budaya yang merujuk pada tujuan penelitian yaitu menjelaskan pengalaman komunikasi antar budaya peserta PMM2 TEL-U dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat.
Pandangan peserta pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom terhadap perbedaan budaya yaitu seperti informan berpendapat terkait keunikan daerah, keragaman budaya Sunda, banyaknya hal-hal yang menarik untuk dipelajari, serta kualitas dari masyarakat di Jawa Barat sendiri. Hal ini berkaitan langsung dengan kerangka konseptual gegar budaya atau culture shock. Gegar budaya merupakan suatu bentuk respon yang diberikan oleh individu ketika berada pada suatu lingkungan yang baru. Lalu, gegar budaya terjadi karena kurangnya informasi dari individu dalam memahami lingkungan baru sehingga dapat dikatakan dapat mempengaruhi dalam meningkatkan kualitas stress pada individu itu sendiri (Maizan, 2018: 152). Fenomena gegar budaya terjadi dalam bentuk yang berbeda-beda pada setiap individu (Devinta, 2015: 13). Kemudian, gegar budaya itu sendiri hal yang biasa terjadi pada individu yang dapat menganggu secara psikologis (Siregar, 2018: 52). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa gegar budaya sangat erat kaitannya dengan perbedaan budaya.
Perbedaan budaya merupakan suatu fenomena dimana terjadinya multikulturalisme dan kesederajatan antar berbagai budaya baik itu dari suku, budaya, agama, ras, maupun suku. Kemudian, perbedaan budaya merupakan segala sesuatu yang menunjukkan sebuah persamaan dan penghargaan terhadap hak-hak asasi, keadilan, hukum, politik, dan budaya (Wihardit, 2010: 96). Lalu, perbedaan budaya adalah perbedaan cara pandang yang disebabkan oleh proses globalisasi itu sendiri menjadi sebuah identitas suatu wilayah dan menjadi alat pemersatu bangsa (Adha, 2015: 4). Secara umum, perbedaan budaya merupakan segala seluruh kegiatan komunikasi yang melibatkan kebudayaan yang berbeda antar daerah yang nanti berpengaruh terhadap keanekaragaman budaya serta yang menjadi pemersatu norma di kalangan masyarakat.
Secara umum, Cupsa (2018: 186) berpendapat bahwa individu mengalami empat tahapan gegar budaya yaitu tahapan bulan madu, tahapan disintegrasi (kejatuhan), tahapan reintegrasi (belajar berjalan), tahapan otonomi (juggling), dan tahapan saling ketergantungan (berjalan). Pertama, tahapan bulan madu atau kebangkitan ialah tahapan gegar budaya yang dimana individu melakukan pengharapan yang lebih terhadap suatu lingkungan baru yang akan ditempatinya. Individu kerap merasa bahagia dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terkait daerah baru tersebut. Mahasiswa PMM2 TEL-U memiliki harapan yang besar ketika nantinya berada di Bandung seperti berharap mengenai mempelajari keragaman budaya Sunda, perilaku masyarakat yang ramah dan menarik, serta berharap mendapatkan pelayanan dan fasilitas terbaik selama mengikuti program ini.
Kedua, tahapan disintegrasi atau kejatuhan yaitu tahapan gegar budaya yang dimana individu mengalami ketidaknyamanan dan berbagai permasalahan di lingkungan sekitarnya seperti kewalahan dalam menyelesaikan beberapa permasalahan baru yang sebelumnya belum dialami di daerah asalnya. Selama mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, peserta pada umumnya mengalami masalah dalam melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan budaya yang berbeda serta menjalin hubungan personal yang dekat baik itu antara peserta yang lain, dosen Modul Nusantara, civitas akademika Universitas Telkom, maupun dengan masyarakat Sunda itu sendiri
Ketiga, tahapan reintegrasi atau belajar berjalan lagi yaitu tahapan gegar budaya yang dimana individu merasa lingkungannya itu sangat tidak cocok dengan dirinya. Bahkan, mempengaruhi psikologisnya untuk kembali ke daerah asalnya karena individu tersebut merasa tidak sanggup dengan perubahan lingkungan yang terjadi. Para peserta PMM2 TEL-U pada awalnya merasa sangat tidak nyaman dengan perubahan lingkungan yang ada baik itu dari segi makanan, bahasa daerah, perilaku masyarakat maupun ciri khas budaya-budaya di Jawa Barat sehingga mempengaruhi psikologis yang terkadang membuat para peserta tersebut merasakan kerinduan akan kampung halamannya.
Keempat, tahapan otonomi atau juggling yaitu tahapan gegar budaya yang dimana individu tersebut mulai terlatih dan terbiasa dengan berbagai permasalahan yang sebelumnya membuat kesulitan. Selain itu, individu tersebut sudah memahami bagaimana cara bertahan hidup akan perbedaan budaya yang terjadi. Berdasarkan berbagai permasalahan yang dialami oleh setiap mahasiswa PMM ketika di Bandung, membuat para peserta untuk belajar dan memutar pikiran maupun sikap agar bisa bertahan hidup di tengah gejolak budaya tersebut seperti mulai menghargai perbedaan etnis, semakin mengeksplor lebih mendalam terkait budaya yang ada di daerah asalnya dengan berbagai daerah di Indonesia, serta memanfaatkan media sebagai pusat informasi bagi mahasiswa untuk memahami keunikan budaya yang ada disana pada saat melakukan kegiatan Modul Nusantara.
Terakhir, tahapan saling ketergantungan atau berjalan yaitu tahapan gegar budaya yang dimana individu tersebut sudah mulai merasa nyaman, terbiasa, serta ingin belajar lebih banyak lagi dengan budaya daerah baru tersebut. Selain itu, individu tersebut sudah tidak mempermasalahkan lagi terkait hambatan-hambatan dari budaya baru yang sudah dihadapi. Akhirnya, dengan berbagai gejolak budaya tersebut, mahasiswa PMM2 TEL-U mampu mengatasi masalah seiring dengan berjalannya waktu dengan menjadi bagian dari masyarakat Bandung dan juga daerah asalnya masing-masing.
Pandangan pribadi peneliti tentang konsep perbedaan budaya ialah konsep ini mengajarkan bahwa di setiap daerah memiliki keunikan budayanya tersendiri. Argumentasi peneliti berpendapat seperti itu karena budaya sudah menjadi bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Selain itu, dengan berbagai perbedaan budaya yang ada, individu harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tujuan penelitian yang dirujuk pada konsep belajar budaya ialah menginterpretasikan makna dari pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta yang mengikuti PMM2 TEL-U.
Pandangan peserta pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom terhadap belajar budaya yaitu seperti informan berpendapat terkait mempelajari berbagai kegiatan sosial dari Modul Nusantara, memahami lingkungan sekitar, mendapatkan pengalaman baru, bersosialisasi dengan orang lain, serta mampu berbaur dengan lingkungan masyarakat yang ada di provinsi Jawa Barat. Hal ini berkaitan langsung dengan kerangka konseptual pengalaman komunikasi. Pengalaman komunikasi merupakan suatu bentuk komunikasi yang memberikan makna tersendiri bagi individu yang dipengaruhi oleh perilaku komunikasi individu itu sendiri. Lalu, pengalaman komunikasi terjadi karena beberapa faktor seperti perbedaan individu yang berbeda latar belakang, kualitas fasilitas sosial yang diberikan, serta polarisasi yang nantinya menciptakan sebuah kesamaan pendapat (Banunaek, 2021: 167). Pengalaman komunikasi dapat memberikan makna berupa adaptasi, hambatan, serta kompetensi komunikasi (Mardhiyani, 2014: 21). Kemudian, pengalaman komunikasi juga berdampak dalam mengasah skill dan kompetensi yang dibutuhkan oleh individu tersebut di masa depan (Nurhadi, 2024: 17). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pengalaman komunikasi sangat erat kaitannya dengan belajar budaya.
Belajar budaya merupakan proses kegiatan penanaman karakter suatu individu terkait nilai-nilai kebudayaan yang nantinya akan menjadi cikal bakal dari peradaban suatu bangsa. (Alawi, 2022: 2514). Lalu, belajar budaya merupakan kumpulan dari beberapa kejadian yang pernah dilalui oleh manusia berupa pengetahuan yang nantinya menimbulkan banyak pemaknaan di dalamnya (Trisnawati, 2019: 209). Kemudian, belajar budaya merupakan segala bentuk edukasi pendidikan yang berbasis kebudayaan dan penggunaan media secara tepat guna sebagai sarana media komunikasi (Julianto, 2016: 250). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa belajar budaya adalah segala sesuatu proses atau kegiatan yang pernah dialami oleh manusia di masa hidupnya serta berkaitan dengan cara hidup manusia sehingga memberikan kesan dan makna yang mendalam berdasarkan berbagai fenomena dan perspektif individu tersebut.
Secara umum, Krzaklewska (2013: 11), berpendapat bahwa dimensi-dimensi yang terlibat dalam gegar budaya yaitu dimensi sosio-kultural, dimensi psikologis atau emosional, dan dimensi fisik. Pertama, dimensi sosio-kultural yaitu dimensi gegar budaya yang dimana peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengalami hambatan dalam menjalin hubungan dengan orang lain serta adanya norma budaya dan peran sosial yang baru pada masyarakat tersebut. Selain itu, peserta juga kerap mengalami ketakutan selama mengikuti pertukaran, serta adanya perbedaan antara hubungan antara pria dan wanita dalam segi perbedaan umur.
Kedua, dimensi psikologis atau emosional yaitu dimensi gegar budaya yang dimana peserta mengalami perasaan negatif maupun positif. Selama program PMM2 TEL-U berlangsung, para peserta kerap mengalami perasaan negatif yang dialami berupa stress yang cukup tinggi dan kesepian. Sedangkan perasaan positifnya berupa ketertarikan akan tantangan-tantangan kegiatan yang dilakukan selama melakukan kegiatan pembelajaran di Universitas Telkom.
Ketiga dimensi fisik yaitu dimensi gegar budaya yang dimana peserta mengalami beberapa permasalahan kesehatan setelah mengikuti pertukaran seperti mengalami penyakit, perubahan jam tidur, gangguan perubahan iklim. Para peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka ada mengalami penyakit flu, batuk, demam. Hal ini disebabkan karena cuaca di daerah tersebut cenderung dingin. Hal ini membuat beberapa peserta yang sudah terbiasa di suhu yang sedikit panas, merasa ketidaknyamanan.
Pandangan individu periset tentang konsep belajar budaya ini mengarahkan kalau kita wajib menguasai sesuatu fenomena secara totalitas. Argumentasi periset berkomentar semacam itu, sebab di dalam memastikan pembelajaran budaya ini, periset wajib menggali secara lebih mendalam menimpa hakikat komunikasi yang terjalin pada proses melaksanakan pendidikan kebudayaan.
Konsep tantangan komunikasi yang merujuk pada tujuan penelitian ialah menemukan konsep-konsep komunikasi dari pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta yang mengikuti PMM2 TEL-U dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat.
Pandangan peserta pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom terhadap tantangan komunikasi yaitu seperti informan berpendapat terkait menghadapi bagaimana dinamika komunikasi dan lingkungan, perbedaan kebiasaan masyarakat, kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan hal-hal yang baru, perbedaan selera makanan dan kecocokan alam, serta perubahan kebiasaan yang individu harus mampu beradaptasi dengan cepat. Hal ini berkaitan langsung dengan kerangka konseptual hambatan komunikasi. Hambatan komunikasi merupakan suatu permasalahan yang membuat individu terhalang untuk berkomunikasi secara lebih baik itu dari segi bahasa, pergaulan, dan stereotip dan prasangka (Anwar, 2018: 148). Lalu hambatan komunikasi juga dapat berupa menarik diri dari kehidupan awal, prasangka sosial, serta etnosentrisme (Dianto, 2019: 188). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hambatan komunikasi sangat erat kaitannya dengan tantangan komunikasi.
Tantangan komunikasi ialah sebuah fenomena yang terjadi ketika suatu individu dihadapkan dengan dua kebudayaan yang bersifat satu arah sehingga berdampak pada memicunya suatu individu dalam memahami norma dan budaya yang berbeda dalam waktu yang cukup singkat. (Nuzuli, 2021: 26). Kemudian, tantangan komunikasi merupakan sebuah gangguan menyebabkan terjadinya distorsi pesan seperti persepsi, norma, stereotip, filosofi bisnis, aturan, jaringan, nilai, dan grup cabang (Muchtar, 2016: 121). Secara umum, dapat disimpulkan bahwa tantangan komunikasi adalah seluruh proses yang menyebabkan perubahan sikap, perilaku, maupun upaya yang dilakukan oleh individu dalam proses penyampaian informasi dari komunikator (pemberi pesan) kepada komunikannya (penerima pesan).
Secara umum, Swallow (2022: 39) berpendapat bahwa tahapan gegar budaya yang terjadi yaitu tahapan bulan madu, tahapan krisis, dan tahapan pemulihan. Pertama, tahapan bulan madu yaitu tahapan gegar budaya yang dimana individu mengalami kegirangan dan kesenangan dengan lingkungan barunya. Hal ini dikarenakan individu tersebut memiliki beberapa tujuan baru yang akan dilakukan di daerah tersebut. Pada saat sebelum keberangkatan dan awal kegiatan PMM Universitas Telkom, mahasiswa merasakan kegembiraan sebagai ungkapan syukur menjadi salah satu peserta yang berhasil dalam seleksi Pertukaran Mahasiswa Merdeka oleh MBKM. Bahkan, kebahagiaan tersebut ditambah lagi dengan mereka lulus pada salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia.
Kedua, tahapan krisis yaitu tahapan gegar budaya yang dimana individu mengalami beberapa keluhan karena merasakan kerinduan akan kampung halamannya. Hal ini dikarenakan bahwa individu tersebut merasa jika ia berada di daerah asalnya, lebih terbiasa berbicara dan berperilaku layaknya bahasa ibunya. Pada saat kegiatan Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom berlangsung, sebagian peserta kerap terbawa dengan dialek bahasa daerahnya. Bahkan, ketika mereka menggunakan bahasa Indonesia, masih terdapat logat dan kosakata bahasa tertentu, yang terkadang membuat peserta lain merasakan kebingungan dengan maksud perkataan yang diucapkan.
Ketiga, tahapan pemulihan yaitu tahapan gegar budaya yang dimana individu melakukan berbagai cara agar terbiasa akan perbedaan pola kehidupan yang dialaminya. Hal ini dilakukan oleh mahasiswa PMM2 Universitas Telkom berupa membangun hubungan baik dengan sesama dan mempelajari budaya yang menjadi ciri khas tersendiri di tanah Sunda seperti mempelajari budaya Wayang Golek, Batik Sunda, Suling Sunda, Silat Sunda, dan lain sebagainya.
Keempat, tahapan penyesuaian yaitu tahapan gegar budaya yang dimana individu sudah berhasil menyesuaikan dirinya dengan lingkungan barunya serta mampu menjalin hubungan komunikasi dengan orang-orang yang ada di lingkungan barunya tersebut. Hal inilah yang dilakukan oleh mahasiswa PMM yaitu menyesuaikan diri dengan budaya yang ada di Bandung, walaupun menurut mereka ada beberapa budaya yang kurang sesuai dengan daerah asalnya. Hal itu tidak menggoyahkan semangat mereka untuk menjalin persatuan dan kesatuan akan keberagaman budaya.
Pandangan pribadi peneliti terhadap konsep ini adalah bahwa konsep ini adalah konsep tantangan komunikasi mengajarkan bahwa orang-orang yang berbeda budaya harus mampu menghadapi segala perubahan dan kebaruan dari berbagai inovasi komunikasi yang muncul. Peneliti berpendapat bahwa komunikasi yang terjadi dalam komunikasi lintas budaya disebabkan oleh keragaman tujuan komunikasi, etnosentrisme, kurangnya kepercayaan, penarikan diri dari pergaulan, kurangnya empati, derajat persamaan dan perbedaan, pendidikan budaya, dan lain-lain.
Tujuan penelitian yang dirujuk pada konsep adaptasi lingkungan adalah untuk menjelaskan pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta PMM2 TEL-U dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat.
Pandangan peserta pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom terhadap adaptasi lingkungan yaitu seperti informan berpendapat terkait persiapan materi serta makanan yang perlu dibawa pada saat keberangkatan, cara menyesuaikan diri dengan lingkungannya, memaksimalkan dalam memahami esensi budaya, menyesuaikan diri dengan budaya yang ada, serta berubahnya kebiasaan suatu individu. Hal ini berkaitan langsung dengan kerangka konseptual hambatan komunikasi. Hambatan komunikasi dapat diatasi dengan baik jika individu meningkatkan kesadaran dan kesetaraan di dalam dirinya serta menghindari dari pola komunikasi yang bersifat koersif dan agresif (Anwar, 2018: 149). Lalu, hambatan komunikasi ialah suatu fenomena dimana terjadinya perbenturan pesan sehingga komunikan tidak dapat menerima pesan dengan baik (Ananda, 2017: 146). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hambatan komunikasi sangat erat kaitannya dengan adaptasi lingkungan.
Adaptasi lingkungan merupakan segala sesuatu bentuk tindakan reaksi yang dilakukan oleh individu ketika dihadapi dengan suatu kondisi yang berbeda pada lingkungan fisik maupun biologis (Simajuntak, 2020: 431). Lalu, adaptasi lingkungan digunakan oleh individu untuk melakukan penyesuaian dan perubahan dirinya terhadap lingkungannya. Hal ini disebabkan karena keduanya menggunakan adaptasi budaya dengan melakukan perubahan terhadap unsur kebudayaan dan adaptasi sosial dengan melakukan perubahan pada kelompok sosial tertentu (Simajuntak, 2020: 431). Secara umum, adaptasi lingkungan merupakan salah satu jenis bentuk pertukaran informasi menggunakan indera tubuh secara langsung terutama pada indera mulut yang kerap kali digunakan sebagai sarana ketika individu sedang berbicara serta sarana bagi individu sedang berbicara serta sarana bagi individu tersebut mempelajari kebudayaan bahasa pada kebudayaan yang baru.
Secara umum, Xia (2009: 99) berpendapat bahwa terdapat beberapa adaptasi psikologis gegar budaya yaitu percaya diri dan optimisme, penerimaan budaya, dan dukungan sosial. Pertama, percaya diri dan optimisme yaitu salah satu adaptasi psikologis yang dilakukan mahasiswa PMM2 TEL-U yang telah memiliki keyakinan penuh terhadap dirinya bahwa mampu mengatasi segala hambatan yang terjadi. Peserta yang memiliki optimis yang tinggi, maka akan berusaha penuh untuk tidak cemas, melaksanakan tugas dengan baik, serta memiliki keyakinan penuh bahwa mereka akan sukses jika berusaha maksimal dalam program MBKM ini. Namun, begitu sebaliknya, jika mahasiswa tersebut memiliki optimisme yang rendah, maka cenderung merasa tidak bersemangat dan kesulitan dalam menghadapi gegar budaya.
Kedua, penerimaan budaya yaitu salah satu adaptasi psikologis yang dilakukan individu untuk berusaha menerima perbedaan yang ada. Perbedaan yang diterima tidak hanya sekedar melakukan toleransi akan perbedaan. Namun, juga terkait bagaimana individu tersebut mampu menerima sepenuhnya sesuai dengan budaya daerah asalnya. Hal ini dilakukan oleh mahasiswa PMM2 TEL-U yang sangat antusias untuk mendalami budaya yang tidak hanya budaya di Sunda, namun juga budaya daerah provinsi lain antar peserta PMM tersebut.
Ketiga, dukungan sosial yaitu salah satu adaptasi psikologis yang dilakukan individu untuk mampu menjalin relasi luas dengan individu lain. Mahasiswa PMM2 Universitas Telkom yang mampu bergaul, akan lebih mudah dalam memperoleh bimbingan dari individu lain ketika dihadapkan dengan fenomena gegar budaya tertentu. Sedangkan, individu yang kurang bergaul atau dapat dikatakan sedikit pemalu, justru lebih beresiko mengalami gegar budaya yang lebih besar.
Pemikiran individu periset tentang konsep adaptasi lingkungan ini mengarahkan jika komunikasi tersebut sangat berarti dalam menunjang pesan yang diinformasikan bersumber pada kenyataan. Argumentasi periset berkomentar semacam itu sebab adaptasi lingkungan berperan selaku perlengkapan yang digunakan orang dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kebudayaan yang baru baik itu dari metode berdialog, metode berkata, metode mencermati, intonasi, gaya kaku maupun puitis, serta bahasa tidak langsung.
Konsep perubahan sikap dan perilaku merujuk pada tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta PMM2 TEL-U dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat.
Pandangan peserta pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom terhadap perubahan sikap dan perilaku yaitu seperti informan berpendapat terkait pentingnya bermasyarakat serta mengambil hal-hal yang positif saja, sedangkan yang hal negatifnya dibuang saja, perubahan individu menjadi individu yang lebih baik, lahirnya berbagai pemahaman budaya yang baru, serta lebih berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini berkaitan langsung dengan kerangka konseptual komunikasi antar budaya. Komunikasi antar budaya merupakan salah jenis bentuk komunikasi yang dimana dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaan yang nantinya melahirkan sebuah integrasi sosial sehingga individu diharapkan mampu mengelola pesan serta membangun persepsi agar komunikasi tersebut berjalan dengan lancar (Milyane, 2023: 20). Lalu, komunikasi antar budaya merupakan suatu proses pertukaran pikiran dan makna oleh beberapa kumpulan orang dengan latar belakang budaya berbeda (Heryadi, 2013: 97). Selain itu, komunikasi antar budaya ialah suatu bentuk kesatuan komunikasi interpersonal yang melibatkan keterbukaan, empati, perasaan positif, dukungan serta keseimbangan (Suryani, 2013: 96). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa komunikasi antar budaya sangat erat kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku.
Perubahan sikap dan perilaku merupakan segala bentuk komunikasi yang dimana terjadinya perubahan dari segi pikiran, kemauan, perasaan, dan karya manusia ketika dihadapkan dengan multikutural budaya (Ningsih, 2022: 1084). Kemudian, perubahan sikap perilaku merupakan proses yang terjadi pada individu ketika individu tersebut menjalani proses yang terjadi pada individu ketika individu tersebut menjalani proses belajar kebudayaan secara kontinu (Hanafy, 2014: 67). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perubahan sikap dan perilaku yaitu segala sesuatu yang mendorong individu untuk melakukan kelangsungan hidupnya melalui dorongan secara fisiologis dan psikis.
Secara umum, Zhou (2008: 70) berpendapat bahwa adaptasi model akulturasi pada gegar budaya terdiri dari adaptasi sosial dan perilaku, adaptasi afektif, dan adaptasi kognitif. Pertama, adaptasi sosial dan perilaku yaitu adaptasi yang dimana individu cenderung berlangsung dalam jaringan sosial berbeda dalam fungsi psikologis tertentu. Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom terhubung dengan media internet, peserta PMM lain, dosen Modul Nusantara, serta memiliki ikatan persahabatan yang baik dengan individu yang lain. Hal inilah yang menjadi penguat ikatan batin antar peserta sehingga permasalahan gegar budaya yang terjadi dapat teratasi dengan baik.
Kedua, adaptasi afektif yaitu adaptasi yang dimana individu cenderung mengalami peningkatan kesejahteraan secara psikologis, jika ada dukungan sosial dari masyarakat sekitar sehingga individu tersebut mampu berkontribusi di daerah baru tersebut. Ketika para peserta PMM2 TEL-U melakukan kegiatan Kontribusi Sosial, mereka harus mampu mempersiapkan segala bentuk, tujuan, gambaran awal, pengeluaran, dan manfaat yang akan diberikan kepada masyarakat di Jawa Barat sebagai wujud implementasi dari program MBKM.
Ketiga, adaptasi kognitif yaitu adaptasi yang dimana individu saling merasakan prasangka dan diskriminasi selama berinteraksi dengan individu di lingkungan sekitarnya. Hal ini terutama terjadi pada individu asing yang merupakan pendatang baru. Secara umum, masyarakat Sunda justru beranggapan bahwa masyarakat pendatang itu cenderung memiliki perkataan maupun perilaku yang cukup keras sehingga terkadang membuat mereka merasa tidak nyaman. Namun, hal itu tidak sepenuhnya benar, karena tidak semua dari perkataan dan perilaku keras tersebut bertujuan buruk. Bahkan, setelah program ini selesai, banyak stereotip dan pandangan baru terkait masyarakat suku budaya tertentu.
Pandangan pribadi peneliti tentang konsep ialah konsep perubahan sikap dan perilaku ini mengajarkan bahwa salah satu bentuk penyampaian informasi yang melibatkan seluruh rangsangan, kecuali verbal. Argumentasi peneliti berpendapat seperti itu karena perubahan sikap dan perilaku ini dihasilkan langsung dari individu secara langsung, memiliki makna di dalamnya, serta melibatkan bahasa diam, konsep waktu, serta pengaturan ruang.
4.4.3 Analisis Makna Pengalaman Komunikasi Antar Budaya dalam Menghadapi Gegar Budaya pada Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom
Maksud dari analisis makna pengalaman komunikasi antar budaya ialah salah satu tahapan untuk memahami secara lebih mendalam terkait bagaimana fenomena gegar budaya yang telah terjadi. Tujuan penelitian yang dirujuk pada bagian analisis pengalaman komunikasi antar budaya dalam menghadapi gegar budaya pada peserta PMM2 TEL-U yaitu menginterpretasikan makna dari pengalaman komunikasi antar budaya. Segala sesuatu hal yang berkaitan pemaknaan di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Teori Fenomenologi yang dikemukakan oleh Edmund Husserl. Teori ini digunakan untuk menganalisa bagaimana pengalaman komunikasi dari setiap informan yang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Selanjutnya, nantinya lahirlah sebuah makna pengalaman komunikasi informan pada program tersebut. Husserl (2009: 10) berpendapat bahwa fenomenologi berfungsi untuk mempelajari pengalaman individu dari berbagai sudut pandang orang yang mengalaminya secara langsung.
Pada bagian ini, peneliti melakukan interpretasi makna berdasarkan konsep-konsep pengalaman yang dialami oleh setiap informannya yaitu seperti peserta mengalami gegar budaya, peserta mempelajari budaya, peserta mengalami hambatan komunikasi, peserta harus mampu beradaptasi lingkungan berbeda, serta peserta mengalami perubahan sikap dan perilaku. Berdasarkan hasil dari makna yang dihasilkan, inilah yang disebut reduksi transendental. Reduksi transendental adalah proses pemaknaan suatu fenomena berdasarkan subjek yang dituju sehingga menghasilkan makna yang berasal dari kesadaran sendiri (Daulay, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa pemaknaan subjek terhadap pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta PMM2 TEL-U dalam menghadapi gegar budaya yaitu peserta mengalami perbedaan budaya, peserta mempelajari kebudayaan, peserta mengalami tantangan komunikasi, peserta harus mampu beradaptasi dengan lingkungan berbeda, serta peserta mengalami perubahan sikap dan perilaku. Adapun pemaknaan yang muncul dari pengalaman para informan yaitu tentang perbedaan bahasa, perbedaan nilai-nilai dan norma sosial, dan gaya hidup.
Perbedaan bahasa menjelaskan mengenai terdapat berbagai macam keragaman kebudayaan dari berbagai hal pada suatu daerah yang baru ditinggali yang dimana menjadi daya tarik keunikan sendiri. Hal ini menyebabkan kerap terjadinya fenomena gegar budaya atau culture shock.
Peserta yang menjadi subjek dari penelitian ini, memiliki perbedaan bahasa dari berbagai hal terutama mengenai kebudayaan. Bahkan, dari kelima peserta, beberapa informan menemui banyak hal-hal yang baru dan unik di provinsi Jawa Barat. Perbedaan budaya yang ditemukan berupa makanan tradisional, sifat perilaku masyarakat, tradisi, dialek, dialek bahasa daerah, wisata alam, alat musik tradisonal, aliran kepercayaan masyarakat, wilayah, serta kebiasaan masyarakatnya.
Maka, peneliti dapat menyimpulkan bahwa perbedaan bahasa kerap kali dihadapi oleh individu ketika berada pada suatu daerah yang baru. Selain itu pula, ketika peserta mengikuti kelas Modul Nusantara, para peserta mengikuti secara antusias. Walaupun budaya yang mereka pelajari itu sangat berbeda jauh dengan kebudayaan yang ada di daerah asal, hal ini tidak mengurungkan niat para peserta untuk menghadapi fenomena gegar budaya tersebut.
Melalui kegiatan ini, membuka pikiran informan bahwa kebudayaan merupakan suatu hal baru yang harus dipelajari dan diterima. Hal yang awalnya, peserta hanya mengetahui kebudayaan Sunda melalui media internet saja, namun setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, peserta mengetahui berbagai informasi kebudayaan Jawa Barat secara lebih mendalam. Kegiatan ini juga menjadi ajang bertukar pikiran antara peserta mengenai penyampaian dan pengalaman yang dimiliki saat melakukan proses komunikasi antar budaya serta menjadi sarana akulturasi dan pertukaran budaya di Indonesia.
Penelitian ini sangat erat kaitannya dengan studi fenomenologi. Di dalam studi fenomenologi membahas mengenai pemahaman serta pengalaman yang terjadi di dalamnya. Menurut Husserl, dengan mempelajari fenomenologi, kita dapat mempelajari bagaimana bentuk pengalaman dari berbagai sudut pandang secara langsung. Fenomenologi tidak hanya mengelompokkan tindakan secara sadar, tetapi juga memprediksikan tindakan-tindakan yang terjadi masa mendatang berdasarkan aspek-aspek yang dimilikinya serta bergantung bagaimana individu memahami suatu objek.
Hasil wawancara tentang pengalaman komunikasi dengan peserta yang mengikuti PMM2 TEL-U menghasilkan sebuah pemahaman bahwa pengetahuan peserta tentang komunikasi antar budaya dan gegar budaya sebelumnya sudah ada, tetapi hanya sedikit karena hanya memanfaatkan media internet saja. Namun, setelah mengikuti kegiatan ini secara langsung, peserta merasakan pengalaman yang sangat banyak mengenai budaya-budaya yang ada di Jawa Barat. Selain itu, peserta juga andil berkontribusi pada masyarakat di Jawa Barat sehingga menuntut mereka untuk menerima segala perbedaan yang ada.
Perbedaan nilai-nilai dan norma sosial ini berkaitan dengan beberapa tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis bagaimana pengalaman komunikasi serta makna dari pengalaman komunikasi itu sendiri. Pada konsep ini, menjelaskan mengenai terdapat beberapa proses komunikasi antar budaya pada suatu daerah yang baru ditempati oleh suatu individu yang dimana juga harus dihadapkan dengan permasalahan ketika mengalami gegar budaya. Dengan proses yang dilakukan secara perlahan dan terjadi dalam beberapa waktu yang cukup lama sehingga dapat menanggulangi masalah gegar budaya tersebut.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konsep yang lebih utama atau esensial dalam konteks gegar budaya yaitu konsep perbedaan nilai-nilai dan norma sosial. Hal ini dikarenakan dari proses peneliti menentukan argumen berdasarkan wawancara yang telah dilakukan ditemukan bahwa peneliti melihat masing-masing keunikan pengalaman yang dialami oleh setiap informannya. Selain itu, dengan mempelajari budaya, merupakan wujud cinta tanah air dan lebih mengenal hakikat kebudayaan yang tidak pernah lepas dari kehidupan kita sehari-hari.
Pada proses perbedaan nilai-nilai dan norma sosial, para informan penelitian skripsi menghadapi fenomena gegar budaya yang berbeda-beda. Ketika mereka menghadapi hal tersebut, mereka menghadapinya dengan sikap keterbukaan, perasaan empati, perasaan positif, memberi dukungan, serta memelihara keseimbangan. Ketika para informan melakukan proses belajar budaya, mereka saling menghormati perbedaan budaya baik itu kepada sesama peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, maupun dengan masyarakat di provinsi Jawa Barat yang mayoritas merupakan masyarakat Sunda.
Selain itu, di dalam proses perbedaan nilai-nilai dan norma sosial ini, para peserta PMM2 TEL-U menggunakan bahasa Indonesia ketika melakukan komunikasi dengan peserta lain dan juga kepada masyarakat di provinsi Jawa Barat. Walaupun terkadang dari para peserta tersebut kerap kali terbawa bahasa daerahnya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa berperan sebagai media untuk memudahkan proses komunikasi, terutama pada masyarakat yang berbeda kebudayaan. Selain itu, bahasa merupakan unsur dari kebudayaan itu sendiri. Kita tidak bisa lepas dari kebudayaan itu tanpa adanya bahasa. Bahasa sudah menjadi unsur dari kebudayaan yang mencakup seluruh bidang kehidupan manusia seperti sistem pengetahuan, mata pencaharian, adat istiadat, kesenian, sistem peralatan hidup, dan lain-lain.
Kemudian, di dalam melakukan proses perbedaan nilai-nilai dan norma sosial, tentunya diperlukan etika dalam memahami perbedaan nilai dan norma sosial pada suatu tempat. Hal ini kerap menjadi salah satu masalah dan hambatan ketika melangsungkan komunikasi antar budaya. Kita harus mampu memahami etika-etika tersebut baik itu secara verbal, non verbal, maupun dari segi orientasi nilai budayanya. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki keunikan budaya masing-masing. Setiap daerah memiliki perbedaan makna mengenai etika komunikasi pada masyarakatnya.
Perbedaan nilai-nilai dan norma sosial sangat dibutuhkan untuk memupuk rasa persatuan dan sikap toleransi. Belajar budaya umumya selalu terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari karena meliputi dari pengetahuan, motivasi, dan kemampuan individu dalam menghadapi perbedaan nilai dan norma sosial. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa fenomena gegar budaya terjadi karena beberapa faktor seperti pergaulan, teknologi, geografis, bahasa, ekonomi, adat istiadat, dan agama.
Perbedaan nilai-nilai dan norma sosial menjelaskan terdapat berbagai permasalahan-permasalahan yang kerap menjadi penyebab terjadinya fenomena gegar budaya. Fenomena ini terjadi dari awal penelitian, langkah-langkah yang terjadi pada masalah tersebut, hingga bagaimana akhir permasalahan ini berupa solusi.
Permasalahan yang diberikan ketika peserta mengalami perbedaan nilai dan norma sosial selama mengikuti PMM2 TEL-U sangatlah beragam. Beberapa perbedaan nilai dan norma sosial yang terjadi melibatkan kondisi psikologi dari setiap peserta seperti merasa terasingkan, terkejut dengan perbedaan budaya tertentu, sulit beradaptasi, dan perbedaan bahasa. Hal inilah yang menjadi pemicu utama pada setiap peserta untuk menghadapi gegar budaya dengan cara melakukan proses komunikasi secara bertahap dan berlangsung dalam beberapa waktu untuk bisa menjadi bagian dari kebudayaan tersebut.
Berangkat dari kerangka konseptual dan teori yang telah disampaikan pada bab sebelumnya dapat dinyatakan bahwa Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom ialah bentuk komunikasi interpersonal yang terjadi antara komunikator dengan komunikan. Komunikasi interpersonal adalah proses penyampaian informasi berupa hal-hal baru yang dialami oleh individu yang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom tentang komunikasi antar budaya dan gegar budaya. Dengan demikian, program ini telah menciptakan dialog yang cukup dekat antara komunikator dengan komunikan tentang pentingnya kebudayaan.
Berdasarkan uraian di atas, makan dapat disimpulkan bahwa program telah menciptakan kesadaran kepada peserta bahwa pentingnya menerima dan menghadapi segala hambatan komunikasi yang terjadi pada saat mereka merasakan ketidaknyamanan di lingkungan kebudayaan Sunda. Kesadaran ini berhubungan dengan apa yang dikemukakan oleh Husserl bahwa pengalaman manusia berasal dari adanya kegiatan dan susunan kesadaran individu itu sendiri.
Menurut Husserl, fenomenologi tidak hanya sekedar membahas mengenai kesadaran, tetapi juga membahas mengenai gambaran yang terjadi masa depan terhadap aspek yang berhubungan dengan individu tersebut. Semua hal yang didapatkan berasal dari bagaimana cara seseorang tersebut dalam memaknai objek dan pengalaman yang terjadi. Berdasarkan ini, kesadaran peserta untuk berproses ke arah lebih baik ketika dihadapkan dengan berbagai tantangan komunikasi yang terjadi bahwa peserta harus menerapkan sikap toleransi setiap perbedaan baik itu dari suku, ras, agama, dan lain sebagainya.
Gaya hidup menjelaskan terdapat beberapa tahapan atau langkah-langkah yang harus dilakukan agar ditemukannya sebuah solusi serta jalan keluar dari permasalahan gegar budaya yang terjadi.
Gaya hidup yang dilakukan oleh para peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom berupa menerapkan sikap mandiri, menghargai segala perbedaan kebudayaan yang ada di lingkungan sekitar, meningkatkan keterampilan baru, menggunakan bahasa Indonesia, serta menambah pengetahuan mengenai bahasa daerah.
Pengalaman komunikasi peserta telah menimbulkan gaya hidup bagi para peserta ketika berada di suatu lingkungan baru dan berbeda dengan budaya daerah asalnya, dimana peserta menyadari bahwa pentingnya komunikasi antar budaya ketika menghadapi fenomena gegar budaya. Namun, ditemukan terlihat para peserta mengalami beberapa tantangan dalam mengkomunikasikan mengenai komunikasi antar budaya.
Hal ini terlihat dari pengakuan peserta yang menganggap gegar budaya hanya terkait mengenai sikap terkejut suatu individu dengan lingkungan yang baru. Padahal gegar budaya merupakan suatu gangguan yang terjadi pada seorang individu berupa kecemasan berlebihan akan perubahan budaya yang terjadi sehingga mempengaruhi fisik maupun psikis dari individu tersebut (Mulyana, 2001: 171). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gegar budaya yang terjadi saat ini tidak terlepas dari kurangnya gaya hidup serta komunikasi antar budaya yang dilakukan oleh peserta.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa peserta PMM2 TEL-U melakukan gaya hidup ini guna membantu mereka dalam menjalin komunikasi di lingkungan kebudayaan berbeda. Gaya hidup yang dilakukan melibatkan penggunaan bahasa dan kata. Dengan demikian, akan melahirkan pemahaman yang utuh mengenai komunikasi antar budaya dan gegar budaya.
Gaya hidup menjelaskan terdapat berbagai keunikan mengenai bagaimana pesan, makna, serta bagaimana dampak yang berkepanjangan yang dirasakan oleh individu tersebut terhadap fenomena gegar budaya.
Pada umumnya, peserta mengalami gaya hidup dalam segi tanda, objek, maupun tindakan. Perubahan sikap dan perilaku yang ditemukan pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom berupa perbedaan kondisi alam, lebih banyak mengetahui hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah diketahui, mencoba menjalin komunikasi yang lebih dekat dengan peserta yang lain, perubahan kebiasaan, serta dapat menjadikan sarana untuk terjalinnya relasi dan solidaritas yang kuat bagi setiap peserta.
Peserta berpendapat bahwa komunikasi antar budaya penting untuk diaplikasikan pada peserta agar nantinya peserta lebih mampu untuk menerima segala perubahan sikap dan perilaku. Peserta memberikan reaksi terhadap apa yang mereka terima dari masyarakat.
Gaya hidup tidak terjadi secara begitu saja. Perubahan pandangan yang baik terjadi ketika peserta menerima segala fenomena gegar budaya yang dihadapi serta komunikasi yang bersifat berkelanjutan agar terbentuk dengan baik. Capaian dari pengubahan sikap dan perilaku ini adalah berupa menyadari pentingnya komunikasi antar budaya dan menganggap gegar budaya adalah hal yang biasa terjadi terutama pada lingkungan kebudayaan yang berbeda.
Berdasarkan hasil olah data pada penelitian ini, hasil gambar coding data dengan menggunakan analisis data kualitatif dari aplikasi NVivo 12 Pro. Aplikasi ini merupakan aplikasi olah data kualitatif yang berfungsi untuk mengolah beberapa data hasil penelitian seperti dokumen, jurnal, website, media online, konferensi, catatan lapangan, dan lain-lain. Secara umum, aplikasi NVivo 12 Pro digunakan oleh pra peneliti untuk melakukan pengolahan data, pengkajian pustaka, triangulasi, serta visualisasi data (Priyatni, 2020: 7). Peneliti menggunakannya dengan tujuan untuk dapat melakukan pengelompokkan data secara lebih mudah dan terfokus pada beberapa konsep utama terkait pengalaman komunikasi antar budaya dalam menghadapi gegar budaya di provinsi Jawa Barat pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Peneliti mengelompokkan konsep dalam tiga tahapan yaitu open coding, axial coding, dan selective coding.
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan proses penelitian pengalaman komunikasi antar budaya pada peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom tentang gegar budaya, peneliti telah menemukan beberapa poin kesimpulan. Berikut adalah kesimpulannya:
- Peserta mengalami pengalaman komunikasi antar budaya berupa fenomena gegar budaya yang dimana peserta mengetahui secara lebih mendalam mengenai komunikasi antar budaya dan gegar budaya dari berbagai perspektif. Selain itu, informan berpendapat bahwa gegar budaya hanyalah sekedar perasaan kaget terhadap perbedaan lingkungan. Namun, pengalaman gegar budaya juga melibatkan seluruh bidang kehidupan manusia.
- Proses gegar budaya yang dialami oleh peserta dilakukan dengan konsep perbedaan budaya, belajar budaya, tantangan komunikasi, adaptasi lingkungan, serta perubahan sikap dan perilaku. Hal-hal tersebut erat kaitannya dengan komunikasi antar budaya, komunikasi verbal, komunikasi non verbal, pengalaman komunikasi, hambatan komunikasi, serta gegar budaya yang dilakukan oleh peserta berupa kegiatan kebudayaan. Tentunya, penyampaian pesan ini disampaikan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga peserta yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia mengerti mengenai esensi pesan yang dilakukan. Proses komunikasi non verbal yang dilakukan oleh peserta dalam menghadapi gegar budaya berupa sikap dan perilaku yang mereka lakukan sebagai wujud toleransi terhadap keberagaman budaya khususnya di provinsi Jawa Barat.
- Makna-makna pengalaman komunikasi antar budaya yang dialami oleh peserta selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu seperti peserta memahami makna keberagaman bahasa, pentingnya mengeksplor perbedaan nilai-nilai dan norma sosial secara lebih mendalam, serta cara menghadapi, menyesuaikan diri dengan, serta dengan adanya gaya hidup antara lingkungan lama dan lingkungan baru menuntut individu merubah segala kebiasaan .
5.2 Saran
- Para generasi muda sebaiknya mempelajari kebudayaan dari berbagai daerah sejak dini agar memahami pentingnya menghadapi gegar budaya di lingkungan masyarakat agar tidak menimbulkan fenomena gegar budaya yang baru lagi. Walaupun hal tersebut hanya dianggap sebagai bentuk perasaan terkejut saja, namun permasalahan isu kebudayaan ini sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri supaya peserta mampu bersosialisasi dan memberikan dampak positif terhadap lingkungan masyarakatnya.
- Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) diharapkan memahami proses komunikasi antar budaya antara peserta agar berjalan lancar dan dibangun dengan hubungan personal yang cukup dekat, walaupun dari beberapa peserta tersebut berasal dari beragam budaya dari Sabang hingga Merauke. Hal ini perlu dilakukan agar peserta mampu berkomunikasi dalam berbagai hal terkait kebudayaan sehingga tidak terjadi lagi miskomunikasi, serta antar peserta mampu menerapkan sikap toleransi akan perbedaan suku, budaya, ras, dan agama. Hal ini sejalan dengan motto PMM yaitu “Bertukar Sementara, Bermakna Selamanya”. Oleh karena itu, pihak Pertukaran Mahasiswa Merdeka serta instansi pendidikan agar bisa berkolaborasi memberikan pelayanan program yang lebih menarik lagi serta memberikan pembekalan terkait gegar budaya agar fenomena gegar budaya kepada setiap pesertanya semakin beragam dan hal-hal apa saja yang bisa menjadi bekal bagi para peserta untuk mampu menyesuaikan dirinya pada lingkungan provinsi yang berbeda dan perguruan tinggi tujuan PMM.
- Peneliti berharap pada penelitian selanjutnya mengkaji terkait fenomena gegar budaya pada kegiatan kepemudaan, pertukaran pelajar, serta pertukaran mahasiswa serupa baik itu di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini berperan penting dalam memberikan pengalaman komunikasi antar budaya dan gegar budaya kepada generasi muda di Indonesia. Keputusan ini berbanding lurus dengan kebutuhan pemuda akan kekayaan pengetahuan kebudayaan serta sebagai wujud dari peserta untuk meningkatkan prestasinya baik di dalam kampus maupun di luar kampus.
Penulis: Vania Rey Syifa, S.I.Kom.
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas
Dosen Pembimbing:
1. Dr. Emeraldy Chatra, M.I.Kom.
2. Dr. Sarmiati, M.Si.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Budyatna, Muhammad. (2015). Teori-Teori Mengenai Komunikasi Antar-Pribadi. Jakarta: Prenamedia Group.
Busti, F. L (2019). Memahami Pendekatan Positivis, Konstruktivis, dan Kritis dalam Metode Penelitian Komunikasi. Communique, 2(1), 1-8, http://ejurnal.stikmedan.ac.id/index.php/JIKQ/article/view/27.
Chatra, Emeraldy. (2023). Pengalaman Komunikasi Untuk Analisis Fenomenologi Komunikasi. Padang: Sekolah Komunikasi Limau Manis.
Creswell, J. W.. (2015). Penelitian Kualitatif dan Desain Riset : Memilih Data Di Antara Lima Pendekatan (S. Z. Qusdy (ed.); Indonesia). Pustaka Pelajar.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Sosialisasi Pendaftaran Pertukaran Mahasiswa Merdeka Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Tahun 2023. Jakarta: Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Hafiar, Hanny. (2012). Problematika Atlet Penyandang Cacat, Studi Komunikasi Mengenai Kompleksitas Komunikasi Atlet Penyandang Cacat. Bandung: UNPAD Press.
Hall, E.T. (1973). The Silent Languange. Anchor Books, New York: AchorPress.
Handini, D. P. (2023). Ragam Program Kampus Merdeka. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Hardani, Auliya, N. H., Biotech, G.C., Andriani, H. Fardani, R. A., Ustiawaty, J., Utami, E.F., Apt, M.F., Sukmana, D.J., & Istiqomah , R. R. (n.d). Metode Penelitian Kualitatif &Kuantitatif. Pustaka Ilmu.
Hardjana, A.M. (2003). Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Kanisius.
Juddi, Moh Faidol., dkk. (2019). Communication and Information Beyond Boundaries. AKSEL MEDIA AKSELERASI.
Kriyantono, R. (2007). Teknik Praktis Riset Komunikasi : Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran (2nd ed.) Kencana.
Kuswarno, E. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi : Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Widya Padjadjaran.
Liliweri, A. (2007). Makna Budaya dalam Komunikasi AntarBudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Littlejohn, Stephen W. Foss, Karen A. (2009). Encyclopaedia of Communication Theory, United States of America: SAGE Publication, Inc.
Miles, Matthew. B. Huberman, Michael. Saldana, Johnny. (1994). Qualitative Data Analysis. SAGE Publication, Inc.
Milyane, Tita Melia., dkk. (2023). Komunikasi Antarbudaya. Widina Media Utama.
Moleong, L. J. (2021). Metodologi Penelitian Kualititatif. PT. Remaja Rosdakarya.
Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Method. London: Sage Publications.
Mulyana, D. (2001). Komunikasi Antarbudaya. Remaja Rosdakarya.
Mulyana, D. (2005). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar . PT. Remaja Rosdakaya..
Mulyana, D. (2019). Pengantar Komunikasi Lintas Budaya Menerobos Era Digital dengan Sukses. Remaja Rosdakarya.
Mulyana, D., & Rakhmat, J. (2014). Komunikasi AntarbBudaya Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Remaja Rosdakarya.
Mulyana, D., & Solatun. (2007). Metode Penelitian Komunikasi : Contoh-Contoh Penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Praktis. Remaja Rosdakarya.
Mulyana, D., (2012). Cultures and Communications An Indonesian Scholar’s Perspective. Remaja Rosdakarya.
Murdiyanto, E. (2020). Metode Penelitian Kualitatif (Teori dan Aplikasi Disertai Contoh Proposal). In Bandung: Rosda Karya. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat UPN “Veteran” Yogyakarta Press.
Oberg, K. (1960). Symptoms of Culture Shock. Practical Antropology, 177-182.
Pawito. (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif (1st ed.). LKiS.
Priyatni, Endah Tri. (2020). Pemanfaatan NVivo Dalam Penelitian Kualitatif. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M).
Ridwan, Beni Aang. (2016). Komunikasi Antarbudaya. Bandung: CV Pustaka Setia.
Rofiah. (2023). Metode Penelitian Fenomenologi. Malang: PT Literasi Nusantara Abadi Group.
Samovar, L., Porter, R., & Mc Daniel, E. (2014). Komunikasi Lintas Budaya. Jakarta: Salemba Humanika.
Schutz, Alfred. (1972). The Phenomenology of the Social World. London: Heinemann Educational Book.
Tatang. (2016). Dinamika Komunikasi. Pustaka Setia.
Tilburg, Miranda van. Vingerhoets, Ad (eds.). (2005). Psychological Aspects of Geographical Moves: Homesickness and Acculturation Stress. Amsterdam University Press: Amsterdam Academic Archive.
Ting-Toomey, S. (1999). Communicating Across Cultures. New York: Guilford Press.
Jurnal:
Adha, Muhammad Mona. (2015). “Pendidikan Kewarganegaraan Mengoptimalisasikan Pemahaman Perbedaan Budaya Warga Masyarakat Indonesia di Era Globalisasi”. Jurnal Ilmiah Mimbar Demokrasi. 14(2), 1-10.
Afra, Afifa. (2023). “Pengalaman Komunikasi Lintas Budaya Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Kora Selatan Studi Fenomenologi Mengenai Pengalaman Komunikasi Peserta Pertukaran Mahasiswa Indonesia di Ajou University, Korea Selatan Periode Musim Gugur 2022”. Jurnal Manajemen Komunikasi. 1(4), 129-154.
Alawi, Dindin. Ahmad, Nurwadjah. Suhartini, Andewi. (2022). “Pendidikan Karakter Melalui Konsep Budaya Islami dan Sekolah Ramah Anak di SMP Islam Cendekia Cianjur”. Jurnal Pendidikan dan Konseling. 4(3), 2514-2520.
Ananda, Lingga Detia. Sarwoprasodjo, Sarwititi. “Pengaruh Hambatan Komunikasi Antarbudaya Suku Sunda dengan Non-Sunda Terhadap Efektivitas Komunikasi”. Jurnal Komunikasi Pembangunan. 15(2), 144-160.
Anwar, Rostini. (2018). “Hambatan Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Pelajar Asli Papua dengan Siswa Pendatang di Kota Jayapura”. Jurnal Common. 2(2), 139-149.
Aprila, Bebi Sintia. (2024). “Pengalaman Komunikasi Antar Budaya Tahun 2022-2023 (Studi Fenomenologi Komunikasi Antarbudaya Pertukaran Mahasiswa Merdeka Medan Dalam Melaksanakan Adaptasi di Universitas Amikom Yogyakarta)”. Universitas Medan Area. 1-98.
Banunaek, Pricha Cornelia. Aloysius, Liliweri. Manafe, Dj. Yermia. (2021). “Pengalaman Komunikasi Kelompok (Kajian Fenomenologi pada Kelompok Pemuda Jemaat Pniel Sikuman”. Jurnal Ilmu Komunikasi. 10(2), 159-168.
Cahyono, Hery Bambang. (2018). “Hambatan Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Thailand di Jember”. Jurnal Ilmu Komunikasi MEDIAKOM. 1(2), 114-128.
Cupsa, Ioana. (2018). “Culture Shock and Identity”. Transactional Analysis Journal. 48(42), 181-191.
Devinta, Marshellena. Hidayah, Nur. Hendrastomo, Grendi. (2015). “Fenomena Culture Shock (Gegar Budaya) pada Mahasiswa Perantauan di Yogyakarta”. E-Societes: Jurnal Pendidikan Sosiologi. 5(3), 1-15.
Dianto, Icol. (2019). “ Hambatan Komunikasi Antar Budaya (Menarik Diri, Prasangka Sosial dan Etnosentrisme”. Jurnal HIKMAH. 13(2), 185-204.
Fitriyani, Andi. (2018). “Fenomena Komunikasi Multikultural di Kota Ambon”. Jurnal Dialetika: Jurnal Pemikiran Islam dan Ilmu Sosial. 11(1), 56-72.
Freslialdo, Chhivly. Hana, Ferly Tanggu. Nara, Maria Yulita. (2023). “Pengalaman Komunikasi Antar Budaya Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka”. Jurnal Mahasiswa Komunikasi. 3(1), 96-114.
Hanafy, Muh., Sain. (2014). Konsep Belajar dan Pembelajaran”. Jurnal Lentera Pendidikan. 17(1), 66-79.
Hardiansyah, A. (2013). “Teori Pengetahuan Edmund Husserl”. 15(2), 228-238.
Hasibuan, Effiati Juliana. Muda, Indra. (2017). “Komunikasi Antar Budaya pada Etnis Gayo dengan Etnis Jawa”. Jurnal SIMBOLIKA. 3(2), 106-113.
Heryadi, Hedi. Silvana, Hana. (2013). “Komunikasi Antarbudaya dalam Masyarakat Multikultur”. Jurnal Kajian Komunikasi. 1(1), 95-108.
Hidayat, Zaki. Suminar, Jenny Ratna, Prasanti, Ditha. “Pengalaman Komunikasi Adaptasi Mahasiswa Minangkabau (Studi Fenomenologi Mengenai Komunikasi Adaptasi Mahasiswa Minangkabau Program Studi di Luar Kampus Utama Universitas Padjadjaran Pangandaran)”. Komunikologi: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi. 19(2), 75-84.
Iskandar, Dadan. (2004). “Identitas Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya: Kasus Etnik Madura dan Etnik Dayak”. Jurnal Masyarakat dan Budaya. 6(2), 119-140.
Jefriyanto, dkk. (2020). “Culture Shock dalam Komunikasi Lintas Budaya pada Mahasiswa”. Jurnal Politikom Indonesiana: Kajian Ilmu Pemerintahan, Ilmu Politik, dan Ilmu Komunikasi. 5(1), 175-195.
Julianto, I Nyoman Larry. (2016). “Keterlibatan Simbol Tradisi Sebagai Stimulus bagi Anak-Anak dalam Proses Mempelajari Budaya Bali”. Jurnal SOSIOHUMANIKA: Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan. 9(2), 249-268.
Karmilah. Sobarudin. (2019). “Konsep dan Dinamika Komunikasi Antarbudaya di Indonesia”. Jurnal Dakwah dan Komunikasi. 4(1), 41-56.
Khoirunnisa, Yusnia. Soemantri, Nathalia Perdhani. (2019). “Fenomena Gegar Budaya pada Warga Negara Perancis yang Bekerja di Jakarta”. 21(2), 254-261.
Krzaklewska, Ewa. Skorska, Paulina. (2013). “Culture Shock during The ERASMUS Exchange – Determinants, Processes, Prevention”. The ERASMUS Phenomenon – Symbol of New European Generation. 105-126.
Lado, Maria Kartikawati. (2019). “Peran Komunikasi Lintas Budaya Terhadap Proses Adaptasi Mahasiswa Luar Pulau Jawa di Universitas Ciputra”. Skripsi Marketing Communication International Business Management. Universitas Ciputra. Surabaya.
Liliweri, Alo. Nara, Maria Yulita. Swan, Maria V.D.P. (2022). “Gegar Budaya di Era New Normal”. Jurnal Communio: Jurnal Ilmu Komunikasi. 11(2), 193-205.
Maizan, S. H., dkk. (2020). “Analytical Theory: Gegar Budaya (Culture Shock)”. PSYCHO IDEA, 147-154.
Maldani, Daulat Ilmi. (2021). “Pengalaman Komunikasi Lintas Budaya Mahasiswa Undergraduate Indonesia di Belanda”. 1(1), 79-89.
Mardhiani, Nur Laili. (2015). “Memahami Pengalaman Komunikasi Warga Multietnis”. 12(1), 16-25.
Marzali, Amri. (2014). “Memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia”. 26(3), 251-265.
Mellani, D. (2014). “Komunikasi Lintas Budaya di Institusi Pendidikan Studi Kasus: Perguruan Tinggi Mayoritas Mahasiswa Tianghoa dengan Pengajar Pribumi”. Sociae Polities. 192-193.
Muchtar, Khoiruddin. Koswara, Iwan. Setiaman, Agus. (2016). “Komunikasi Antar Budaya Dalam Perspektif Antropologi”. Jurnal Manajemen Komunikasi. 6(1), 1083-1091.
Muhammad, A. D., dkk. (2023). “Stop Perundungan, Mari Kita Berteman!” Penyuluhan dan Edukasi Anti Perundungan Untuk Siswa Sekolah Dasar. KACANEGARA Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3-7.
Ningsih, Indah Wahyu. Mayasari, Annisa. Ruswandi, Uus. (2022). “Konsep Pendidikan Multikultural di Indoenesia”. Jurnal; Edusmaspul: Jurnal Pendidikan. 16(1), 25-36.
Normadaniyah. Sanusi. Shadiqien, Shen. (2020). “Peran Komunikasi Lintas Budaya Dalam Fungsi Sosial (Studi Kasus Alumni Mahasiswa Pertukaran Pelajar Uniska Banjarmasin Tahun 2019”. Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB. 96-114.
Nugraha. A. (2018). “Interaksi Struktur Dan Agency: Studi Kasus Migrasi Pendidikan Mahasiswa. Interaksi Struktur Dan Agency: Studi Kasus Migrasi Pendidikan Mahasiswa Perempuan Luar Jawa Ke, 2-5.
Nugroho, Adi Bagus. Lestari, Puji. Wiendijarti, Ida. (2012). “Pola Komunikasi Antarbudaya Batak dan Jawa di Yogyakarta”. Jurnal Komunikasi. 1(5), 403-418.
Nurhadi, Zikri Fachrul., dkk. (2024). “Pengalaman Komunikasi Program MSIB MBKM Bagi Mahasiswa”. Jurnal Digital Media & Relationship. 6(1), 9-18.
Nuzuli, Ahmad Khairul, Astria, Kadek Kiki. (2021). Pembelajaran On Line di Perguruan Tinggi: Analisis Hambatan Komunikasi”. Jurnal Bina’ Al-Ummah. 16(1), 25-36.
Pramudiana, Inosensia Dini. Setyorini, Theresia Dewi. “Hubungan Antara Gegar Budaya Dengan Penyesuaian Sosial Siswa Papua di Magelang”. Jurnal PRAXIS. 1(2), 125-138.
Rahmawati, Rafika. (2018). “Teams Games Tournament (TGT) sebagai Strategi Mengaktifkan Kelas dengan Mahasiswa yang Mengalami Hambatan Komunikasi. Jurnal Pendidikan Khusus. 14(2), 70-76.
Santoso, A., & Nurisman, E. (2022). “Analisis Hukum dalam Pencegahan Tindak Pidana Kesusilaan Eksibionis”. Media Keadilan: Jurnal Ilmu Hukum, 13(1), 176-201.
Sawitri, Erwin. Astiti, Made Sumiati, Fitriani, Yessi. (2019). “Hambatan dan Tantangan Pembelajaran Berbasis Tekonologi Informasi dan Komunikasi”. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang. 202-213.
Sembada, Widhiadi Yoga. Melinda, Adella. Sutowo, Irpan Ripa’i. (2022). “Hambatan Komunikasi Organisasi Mahasiswa Selama Masa Pembelajaran Jarak Jauh pada Perguruan Tinggi di Jakarta”. Jurnal Pustaka Komunikasi. 5(2), 218-232.
Simajuntak, Diana. Fitrianan, Rina. (2020). “Gegar Budaya Adaptasi, dan Konsep Diri Sumber Daya Manusia Pariwisata dalam Menyongsong Era New Normal”. Jurnal Society. 8(2), 427-443.
Siregar, Astrid Oktaria A. Kustanti, Erin Ratna. (2018). “Hubungan Antara Gegar Budaya dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Bersuku Minang di Universitas Diponegoro”. Jurnal Empati. 7(2), 48-65.
Siregar, Rezky Sulhana. (2022). “Fenomena Gegar Budaya dan Adaptasi Budaya Mahasiswa Sumatera Utara di Yogyakarta”. Universitas Islam Indonesia. 1-99.
Suryani, Wahidah. (2013). “Komunikasi Antarbudaya yang Efektif”. Jurnal Dakwah Tabligh. 14(1), 91-100.
Suryani, Wahidah. (2013). “Komunikasi Antarbudaya: Berbagi Budaya Berbagi Makna”. Jurnal Farabi. 10(1), 1-14.
Supriadi. (2015). “Perkembangan Fenomenologi pada Realitas Sosial Mayarakat dalam Pandangan Edmund Husserl”. Jurnal SCRIPTURA. 5(2), 52-61.
Swallow, Deborah. Tomalin, Barry. (2022). “Culture Shock and Student Engagement”. Training, Language, and Culture Journal. 6(2), 35-44.
Syamaun, Syukri. (2019). “Pengaruh Budaya Terhadap Sikap dan Perilaku Keberagaman”. Jurnal At-Taujih: Bimbingan dan Konseling Islam. 2(2), 81-95.
Wahyudi, Andri. (2015). “Konflik, Konsep Teori, dan Pembahasan”. Jurnal PUBLICIANA. 8(1), 1-15.
Wahyutama. Maulani, Safira. (2022). “Gegar Budaya dan Strategi Adaptasi Budaya Mahasiswa Perantauan Minang di Jakarta”. Jurnal Konvergensi. 3(2), 377-391.
Wihardit, Kuswaya. (2010). “Pendidikan Multikultural: Suatu Konsep, Pendekatan, dan Solusi”. Jurnal Pendidikan. 11(2), 95-105.
Xia, Junzi. (2009). “Analysis of Impact of Culture Shock on Individual Psychology”. International Journal of Psycological Studies. 1(2), 97-101.
Zhou, Yuefang. Jindal-Snape, Divya. John Todman & Keith. (2008). “Theoritical Models of Culture Shock and Adaptation in International Students in Higher Education”. Studies in Higher Education Journal. 33(1), 63-75.
Peraturan dan Undang-Undang:
Indonesia, K. P. (2013). Permendikbud Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknolog Hui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Website:
Syifa, V. R. (2022, Desember 28). Cerita Kampus Merdeka. Dipetik Desember 28, 2023, dari Pengalaman Pertamaku Mengikuti PMM: https://cerita.kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/detail/pengalaman-pertamaku-mengikuti-pmm
LAMPIRAN
Lampiran 1: Transkrip Wawancara
Informan 1
Nama : Ilwan
Lokasi : Aplikasi Google Meet
Tanggal : 1 Maret 2024
| Peneliti | Bagaimana pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan yang masih anda ingat pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Ilwan | Pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu program Modul Nusantara. Hal ini dikarenakan di dalam Modul Nusantara kita banyak melakukan berbagai aktivitas yang sangat menarik dan menantang. Salah satu program Modul Nusantara yang menarik perhatian saya yaitu kegiatan kunjungan ke salah satu situs alam bersejarah di provinsi Jawa Barat yaitu Gunung Puntang. Pada kegiatan ini, saya mengikuti kegiatan berkemah bersama para peserta PMM2 TEL-U. Hal yang paling unik pada saat itu ialah ketika para peserta mengikuti kegiatan ini, kita tidak berekspektasi sebelumnya akan mengunjungi daerah tersebut. Banyak dari peserta yang mengira bahwa suhu ruangan yang akan kami datangi tersebut tidak terlalu ekstrim. Namun, tiba-tiba, saya terkejut bahwa Gunung Puntang tersebut memiliki suhu ruangan yang sangat dingin. Kebetulan pada saat itu, saya tidak mempersiapkan pakaian tebal yang cukup ketika berkemah sehingga banyak di antara peserta yang mengalami kedinginan. Selain itu, di dalam kelas Modul Nusantara ini, kita bisa belajar mengenai suatu budaya dan kesenian daerah sehingga kita banyak belajar banyak hal mengenai suatu budaya dan kesenian dari daerah tersebut secara langsung. Kemudian, kebersamaan dengan teman-teman berbeda budaya dan daerah menjadi lebih menarik karena kita bisa belajar banyak hal mengenai budaya dari teman-teman yang berbeda daerah tersebut. |
| Peneliti | Bagaimana pengalaman anda setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat? |
| Ilwan | Pengalaman saya setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat sangat banyak sekali. Perbedaan-perbedaannya seperti perbedaan makanan. Jika di daerah asal saya di Manado, Sulawesi Utara, mayoritas makanan daerahnya itu bercita rasa pedas. Namun, ketika saya berada di Bandung, Jawa Barat, cenderung makanan daerahnya itu bercita rasa manis. Selain itu, yang sangat saya apresiasi dari masyarakat Jawa Barat, bahwa mereka tersebut bersikap sopan santun dalam berbicara dan berperilaku. Sebelumnya, saya hanya mengenal budaya Jawa Barat melalui media. Namun, melalui program ini, saya dapat merasakan secara langsung perbedaan budaya yang ada di Jawa Barat dan Sulawesi Utara. Terdapat perbedaan dalam berbagai aspek, seperti makanan, sifat orang, dan tradisi. Hal ini membuat saya lebih memahami kekayaan budaya Indonesia dan pentingnya mempelajari budaya lain. Mempelajari budaya ialah kewajiban bagi setiap warga negara Indonesia. Dengan mempelajari budaya lain, dapat memperluas wawasan, meningkatkan toleransi, dan memperkuat rasa persatuan bangsa. |
| Peneliti | Apakah sebelumnya anda sudah mengetahui tentang apa itu komunikasi antar budaya dan gegar budaya? |
| Ilwan | Komunikasi antar budaya merupakan sebuah fenomena yang dimana terjadinya perbedaan komunikasi seperti bahasa. Ketika saya menjadi peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Banyak dari para peserta PMM2 TEL-U dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang masih terbawa dialek daerah asalnya. Misalnya, ada beberapa teman saya yang berasal dari Aceh, ketika berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, mereka masih terdapat dialek bahasa daerah Acehnya. Komunikasi antar budaya dan gegar budaya merupakan dua hal yang saling terkait. Komunikasi antar budaya merupakan proses komunikasi yang terjadi antara orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Gegar budaya merupakan perasaan disorientasi dan kebingungan yang dialami seseorang saat memasuki budaya baru. |
| Peneliti | Bagaimana esensi mengenai komunikasi antar budaya dan gegar budaya? |
| Ilwan | Komunikasi antar budaya dan gegar budaya ini sangatlah berkaitan dengan permasalahan yang saya alami ketika berkomunikasi dengan peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang lain. Permasalahan ini menuntut saya untuk mampu beradaptasi dan berkomunikasi dengan para peserta yang berbeda budaya, suku, ras, dan agama. Komunikasi antar budaya dan gegar budaya merupakan dua hal yang saling terkait sehingga saya bisa analogikan seperti ini. Komunikasi antar budaya merupakan jembatan penghubung antar budaya, sedangkan gegar budaya merupakan goncangan yang terjadi saat kita melintasi jembatan tersebut. Dengan memahami keduanya, kita bisa berkomunikasi dengan efektif dan membangun hubungan yang kuat dengan teman-teman dari berbagai budaya. Tidak hanya itu, kita juga bisa mempercepat orientasi untuk mengenal lingkungan yang baru. |
| Peneliti | Bagaimana komunikasi sehari-hari dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Ilwan | Komunikasi sehari-hari saya dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom pada awalnya sedikit canggung pada awal dimulainya program ini. Hal itu saya lihat pada awal keberangkatan para peserta PMM2 TEL-U, yang dimana sebagian besar di antara mereka masih malu-malu untuk memulai pembicaraan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, di antara kita memiliki keterikatan hubungan yang sangat erat. Bahkan, pada saat kepulangan pada program ini, saya sendiri juga merasakan kesedihan yang cukup mendalam karena harus berpisah dengan semua teman-teman PMM2 TEL-U. Untuk komunikasi saya dengan teman-teman PMM2 TEL-U, sangat baik. Hal ini dikarenakan saya sendiri sangat antusias mengenai budaya baru serta saya juga tidak segan untuk bertanya mengenai budaya dari daerah teman-teman PMM. |
| Peneliti | Bagaimana sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, anda sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat? |
| Ilwan | Sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom sangat beragam. Terdapat perbedaan kepribadian dari setiap peserta. Ada peserta yang orang sedikit pemalu dan jarang banyak berbicara. Namun, ada juga pesertanya yang sangat aktif, suka banyak berbicara, dan lebih supel dengan peserta yang lain. Namun, hal ini tidak menjadi masalah karena setiap peserta tersebut pasti memiliki caranya masing-masing dalam menjalin komunikasi. Selain itu, di antara para peserta tersebut ada juga yang terlibat hubungan asmara dari daerah yang cukup berjauhan. Ketika melihat hal tersebut, saya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena hal itu merupakan urusan personal dari peserta tersebut. Dapat dikatakan ada yang menerima serta ada yang belum menerima. Saya bisa melihat ada beberapa teman-teman PMM yang belum bisa menerima orang baru di keseharian mereka. Entah itu mereka itu pendiam atau memang tidak mau bicara. Namun, yang saya amati beberapa teman PMM tidak bicara karena mereka canggung. |
| Peneliti | Apakah sebelum mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, anda sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan? |
| Ilwan | Iya, saya sebelumnya sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan. Saya berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur dan saya berkuliah di Manado, Sulawesi Utara. Hal ini menjadi tantangan sendiri bagi saya sebagai mahasiswa rantau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebudayaan antara dua provinsi tersebut. Dengan mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, saya semakin tertantang untuk melatih sikap mandiri dan rasa ingin tahu saya untuk menempuh pendidikan di pulau Jawa. Sebelum mengikuti PMM, saya sudah merantau. Jadi, sebelum itu, saya sudah ada pengalaman bagaimana cara beradaptasi dengan wilayah dan budaya yang baru. |
| Peneliti | Apa upaya terdahulu anda menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Ilwan | Upaya yang saya lakukan dalam menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan dengan tetap saling berkomunikasi. Saya selalu menjaga hubungan dekat dengan keluarga serta teman-teman yang ada di Kupang, Manado, dan Bandung. Saya selalu memberi kabar kepada mereka mengenai kondisi terkini selama berada di lingkungan perantauan yang baru. Selain itu, saya juga melakukan dengan cara bersosialisasi dan mengobrol. Obrolan tidak hanya mengenai budaya masing-masing, namun juga obrolan ringan juga akan membantu dalam menghadapi permasalahan budaya tersebut. |
| Peneliti | Apakah ada upaya anda untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Ilwan | Upaya itu memang harus kita terima dan lakukan karena segala permasalahan yang terjadi memang setiap kita pasti mengalaminya tanpa dapat kita hindari sekalipun. Belajar mengenai budaya orang lain menjadi salah satu cara untuk menghadapi permasalahan itu. Terlebih, pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini, kami berasal dari budaya dan daerah yang berbeda-beda. |
| Peneliti | Apakah ada hambatan pada proses menghadapi perbedaan budaya? |
| Ilwan | Hambatan saya pada proses perbedaan budaya yaitu terkadang saya mengalami kesulitan untuk menyatukan berbagai perbedaan pendapat dari para peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom. Hal inilah yang mendorong saya untuk tertarik menjadi kepala suku PMM2 TEL-U. Dengan menjadi kepala suku, saya banyak mempelajari bagaimana menghadapi berbagai perbedaan budaya, pemikiran, maupun adat istiadat dari para peserta PMM. Selain itu, saya juga mendapatkan relasi yang cukup luas dari kalangan mahasiswa PMM di seluruh Indonesia. Hambatan yang biasa terjadi yaitu belum terbiasa dalam beradaptasi mengenai budaya baru. |
| Peneliti | Apa harapan anda sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Ilwan | Harapan saya sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu agar program ini tetap dilanjutkan siapapun nanti yang akan menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Selain itu, peluncuran program ini cukup terlambat, seharusnya PMM ini sudah dimulai sejak dahulu agar memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi generasi muda Indonesia agar menjadi insan yang unggul dan berkompeten di bidangnya. Semoga ke depannya program ini seperti ini dapat ditingkatkan lagi. Jika perlu, sejak pendidikan di bangku menengah atas, sudah ada program seperti ini, sehingga siswa menjadi lebih mengenal budaya mereka sendiri. |
| Peneliti | Apa saja pengalaman yang menurut Anda bahwa Anda merasakan paling gegar budaya selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Ilwan | Pengalaman yang menurutku paling culture shock yaitu pada segi makanan karena dari Manado, makanannya juga cenderung pedas. Sedangkan di Bandung, itu makanannya bercita rasa manis. Kemudian, dari segi tempat ibadah, yang dimana di Manado sendiri sangat banyak sekali gereja, sedangkan di Bandung memiliki banyak masjid. Oleh karena itu, bagi saya sangat terasa sekali perbedaannya di sana. |
| Peneliti | Hal-hal apa saja yang belum pernah dibayangkan sebelumnya ketika Anda mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Ilwan | Hal yang saya belum pernah bayangkan sebelumnya ketika ikut PMM TEL-U yaitu untuk yang positifnya, saya tidak pernah menyangka bahwa Universitas Telkom merupakan universitas swasta terbaik di Indonesia yang dimana fasilitas kampus sangat canggih dan memiliki civitas akademika yang berkompeten di bidangnya. Selain itu, saya tidak pernah menyangka jika budaya di Jawa Barat itu sangat ramah sekali terhadap pelajar. Pada kegiatan Modul Nusantara, hal yang saya tidak pernah bayangkan yaitu mempelajari alat musik Suling Sunda, Silat Sunda, Wayang Golek, Hal tersebut merupakan hal yang baru saya lihat disana karena di Manado sendiri tidak ada yang seperti itu. Kemudian, pada program Kontribusi Sosial, saya ikut berkontribusi dalam masyarakat dalam membuat plang untuk memahami orang tentang buah dan plang penunjuk jalan. Kegiatan merupakan hal-hal baik yang menurut saya bagus dan berkesan. Untuk yang negatifnya, Bandung sangat terkenal dengan masyarakatnya yang meminum alkohol serta banyaknya kasus prostitusi sehingga membuat kita harus berhati-hati ketika berkuliah di daerah tersebut. Saya melihat beberapa mahasiswa TEL-U tersebut, pergaulannya cukup bebas. Ketika itu, saya mengikuti kelas Manajemen Acara pada jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Telkom, banyak dari siswanya yang mengonsumsi alkohol dengan dalih sebagai penyemangat kerja pada saat menyiapkan tugas besar tersebut. |
| Peneliti | Bagaimana ekspektasi Anda sebelum berangkat Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Ilwan | Ekspektasi saya waktu itu tidak terlalu banyak. Hal ini dikarenakan saya tidak mengecek dan tidak membayangkan terlebih dahulu terkait Universitas Telkom itu seperti apa. Setelah saya mengikuti PMM2 TEL-U, barulah saya tahu bahwa kalau TEL-U itu merupakan universitas swasta yang masuk peringkat 10 terbesar di Indonesia. Menurut saya, kampus tersebut merupakan kampus terbaik. |
| Peneliti | Bagaimana ekspektasi Anda sebelumnya terhadap budaya yang di Jawa Barat? |
| Ilwan | Untuk budaya di Jawa Barat, juga saya tidak terlalu banyak. Akan tetapi, ketika saya berada di Bandung, memang saya akui bahwa wanita-wanita disana memang berparas cantik (geulis). Lalu, budayanya itu sangat kaya sekali seperti tentang Suling Sunda, Wayang Golek, dan sebagainya. Hal itu membuat ekspektasi saya terhadap budaya di Bandung sangat bagus.
Sebelumnya, di Manado ini, untuk suhu udaranya memang dingin, khususnya di kawasan Universitas Negeri Manado. Jadi suhunya, sama dengan suhu Gunung Puntang itu. Yang dingin. Jadi, ekspektasi saya pada saat itu memang tidak tertebak bahwa akan ke daerah tersebut. Tetapi, setelah disana, saya menjadi lebih terbiasa. Hal ini dikarenakan bahwa sebelumnya, saya berkuliah di daerah yang bersuhu dingin juga. Jadi, tidak masalah dan tidak jatuh sakit dan juga memang sudah terbiasa dengan suhu dingin. Bahkan, saya sudah biasa pergi menjelajahi beberapa gunung yang ada di Indonesia. Kalau untuk makanan, saya tidak pilih-pilih sebenarnya, yang penting makanannya enak. Walaupun makanan tersebut bercita rasa manis atau pedas. Tetapi, perbedaan yang utama ialah jumlah makanan pedas atau manisnya. Kalau di pulau Jawa, mayoritas masyarakatnya tidak menyukai makanan yang pedas. Sedangkan di Manado, biasanya makanannya pedas semua, tidak ada yang manis. Hal itulah yang menjadi culture shock pertama bagi saya waktu itu. Setelah 4,5 bulan di Bandung, saya sudah terbiasa dengan makanan yang pedas maupun manis. Jadi, bukan suatu kendala yang berarti bagi saya. |
| Peneliti | Bagaimana stereotip dan prasangka baik itu secara positif dan negatif terhadap beberapa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang lain, misal yang berasal dari Bali, Palembang, Padang, Medan, dan lain-lain? |
| Ilwan | Kalau ini, saya rasa ada. Misal, teman-teman yang berasal dari pulau Sumatera, saya kira awalnya, orang-rang disana keras-keras. Baik itu dari nada bicara maupun perilaku. Ketika saya mengikuti PMM2 TEL-U, saya menemukan bahwa peserta dari pulau Sumatera itu juga tidak keras-keras juga. Terus teman-teman yang dari Papua, yang awalnya saya kira, orangnya itu sangar-sangar. Ternyata, tidak juga seperti Rusdy misalnya. Bahkan, di antara kita masih asik diajak mengobrol dan lain sebagainya.
Kalau stereotip dan prasangka saya kepada peserta PMM2 TEL-U yang berasal dari Padang, saya tidak banyak prasangka. Hal ini dikarenakan dari tempat saya sebelumnya di Manado, tepatnya di kampus saya tersebut, ada beberapa orang yang dari Padang. Jadi, saya sudah mengetahui orangnya seperti apa. Saya mengenal orang Padang itu, identik dengan makanan daerahnya yang banyak sekali yang mengandung rempah. Selain itu, logat bahasa Minang itu, menurut saya ada logatnya tersendiri yang membuat bahasanya itu unik juga. |
| Peneliti | Setelah Anda mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, apakah tetap sama stereotip dan prasangka Anda terhadap beberapa peserta yang lain? |
| Ilwan | Setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom ini, stereotipnya yaitu berbeda lagi karena apa yang saya pikirkan dengan apa yang saya alami di Bandung sangat berbeda. Jadi, tidak semua hal jelek yang saya bayangkan. Sebelum ke Bandung itu, benar-benar terjadi. Ternyata, oh ternyata semua peserta PMM2 TEL-U itu asik-asik orangnya dengan latar belakang budaya yang berbeda. Semua orang memang perlu pendekatan yang berbeda-beda. Tidak semua orang bisa dalam satu pendekatan. Misal kayak Vania dan Ame yang pendiam-pendiam. Makanya, saya katakan bahwa stereotip buruknya itu tidak terlalu berpengaruh disana
Sejauh ini sangat unik saya melihat mengenai bahasa-bahasa daerah itu berbeda-beda. Misal, dalam bahasa Lombok, kata “amak” biasa itu diartikan sebagai sebutan ayah. Sedangkan, dalam bahasa Minang, kata “amak” itu berarti itu sebutan untuk ibu. Hal itulah yang menurut saya itu unik. Jadi, menurut saya, semua bahasa daerah itu unik serta logatnya bahasa daerah itu memiliki logat bahasanya tersendiri. |
Informan 2
Nama : Salsabila Puspita Ayu Putri
Lokasi : Aplikasi Zoom
Tanggal : 3 Maret 2024
| Peneliti | Bagaimana pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan yang masih anda ingat pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Salsa | Pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu keseluruhan dari program ini sangat menarik terutama pada program Modul Nusantara. Pengalaman Modul Nusantara yang pernah saya ikuti yaitu ketika mengikuti kegiatan Tour Asia Afrika, di dalam kegiatan tersebut, saya banyak menemukan berbagai sejarah dari kota Bandung serta melakukan kegiatan eksplorasi bersama. Selain itu, hal yang paling seru ketika saya mengikuti PMM2 TEL-U yaitu kegiatan kunjungan menikmati indahnya Bandung Atas tepatnya di wisata Taman Langit. Pada kegiatan tersebut, kami melakukan kegiatan berkemah bersama, menceritakan tentang hal apapun, serta melakukan kegiatan keakraban, bakar-bakar makanan dan makan bersama. Di dalam Modul Nusantara, tidak hanya sekedar jalan-jalan atau refreshing saja, tetapi juga diajarkan untuk mengenali lebih jauh tentang Bandung baik itu dari tempat wisata sejarah seperti Braga, menonton dan melukis wayang golek, menggambar batik pakai canting dan lilin, belajar bermain suling dan angklung, mencoba kuliner Bandung seperti seblak dan lontong sayur dekat Universitas Telkom, hingga wisata alam seperti Kawah Putih, Situ Patenggangan, dan Taman Langit. |
| Peneliti | Bagaimana pengalaman anda setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat? |
| Salsa | Pengalaman saya setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat sangat banyak sekali. Hal ini dikarenakan Bandung yang selama identik dengan seblaknya. Ternyata memiliki berbagai kuliner lain yang tidak kalah lebih menarik seperti kupat tahu. Selain itu, Jawa Barat juga memiliki berbagai keunikan budaya seperti wayang golek. Yang dimana wayang golek ini sangat berbeda sekali dengan wayang Bali dan wayang kulit dari Jawa Tengah yang umumnya lebih bersifat dua dimensi saja. Selama ini, saya mengenal Bandung hanya melalui internet saja. Ternyata setelah ke Bandung, Bandung mengandung banyak hal indah yang tidak saya ketahui sebelumnya. Terkait perbedaan budaya, justru membuat sesuatu menjadi lebih unik. |
| Peneliti | Apakah sebelumnya anda sudah mengetahui tentang apa itu komunikasi antar budaya dan gegar budaya? |
| Salsa | Komunikasi antar budaya merupakan sebuah kondisi dimana terjadinya perbedaan budaya. Sedangkan gegar budaya saya lebih mendengar istilahnya dengan sebutan culture shock. Komunikasi antar budaya melibatkan perbedaan budaya. Lalu, gegar budaya merupakan hal-hal yang membuat kita kaget karena adanya perbedaan. |
| Peneliti | Bagaimana esensi mengenai komunikasi antar budaya dan gegar budaya? |
| Salsa | Komunikasi antar budaya menjadi sesuatu yang pasti akan dialami. Hal ini dikarenakan negara Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan daerah. Tentunya, antara suku dan daerah tersebut akan menjadi interaksi di dalamnya. Terkait gegar budaya, wajar saja terjadi, namun itu bukan menjadi alasan kita untuk tidak berkomunikasi. Justru seharusnya hal itu menjadi alasan kita untuk lebih mengenal lagi budaya saudara kita dari daerah yang lain. |
| Peneliti | Bagaimana komunikasi sehari-hari dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Salsa | Komunikasi sehari-hari saya dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom bisa dikatakan tidak terlalu ada masalah yang cukup menganggu karena saya menerapkan sikap saling toleransi. Selama saya mengikuti PMM2 TEL-U kemarin, komunikasi kami berjalan dengan cukup baik. Meskipun kita dari berbagai daerah dan bahasanya berbeda, tetapi semua fasih menggunakan bahasa Indonesia. Jadi, tidak ada masalah komunikasi yang berarti. |
| Peneliti | Bagaimana sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, anda sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat? |
| Salsa | Sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom sangat menarik. Teman-teman peserta PMM2 TEL-U sangat toleransi dan saling menghargai. Meskipun, mungkin ada perbedaan-perbedaan kebiasaan dari daerah asal masing-masing selama di Bandung, kita tetap saling menghormati. |
| Peneliti | Apakah sebelum mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, anda sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan? |
| Salsa | Iya, saya sebelumnya sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan. Saya berkuliah di Universitas Udayana, Bali. Ketika saya berkuliah saya kerap mengalami gangguan dalam segi bahasa ketika berkomunikasi dengan teman-teman dari Jawa. Terdapat beberapa bahasa daerah yang sulit dimengerti. Contohnya dalam bahasa Bali, kata ledeng, berarti sebuah tempat penampungan air. Sedangkan teman-teman saya, tidak mengetahui apa itu maksud dari kata ledeng itu. Lalu, sejak saya menempuh pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, saya sudah bersekolah di provinsi Bali. Masyarakat Bali sering ketika berbicara sering diakhiri dengan kata nok. Ternyata penggunaan kata nok ini hanya berlaku di daerah Denpasar saja. Kemudian, sering kerap terjadi perbedaan makna dan miskomunikasi dalam penggunaan bahasa. Terkadang kami keceplosan berbicara menggunakan bahasa daerah atau bahkan lupa ternyata kata yang kita gunakan bukan bahasa Indonesia. Namun, hal itu tidak menjadi masalah bagi kami. |
| Peneliti | Apa upaya terdahulu anda menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Salsa | Upaya yang saya lakukan dalam menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan dengan memupuk sikap saling hormat menghormati dan menghargai perbedaan tersebut. Selain itu, yang dapat dilakukan yaitu mempelajari dan mencari tahu daerah asal dan kebiasaan teman-teman yang lain. Banyak selama ini orang beranggapan bahwa Bali identik dengan masyarakatnya yang bisa berbahasa Inggris dan banyak profesi menjadi pemandu wisata. Lalu, banyak masyarakat Indonesia yang beranggapan bahwa Bali dikenal dengan wisata pantai. Namun, di Bali sebenarnya juga menyimpan potensi wisata lain seperti wisata pegunungan seperti Gunung Bukit Cinta. |
| Peneliti | Apakah ada upaya anda untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Salsa | Upaya yang saya lakukan untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu mempelajari budaya lain, saling menghormati, menghargai perbedaan, mencari tahu daerah asal teman-teman lainnya. Selain itu, saya juga bertanya secara langsung dan belajar kebudayaan teman lain agar lebih paham dan tidak menimbulkan prasangka. |
| Peneliti | Apakah ada hambatan pada proses menghadapi perbedaan budaya? |
| Salsa | Hambatan saya pada proses perbedaan budaya yaitu saya tidak merasakan hambatan yang terlalu signifikan. Tidak ada hambatan yang berarti. Hanya sebatas penggunaan kata di daerahnya. Hal yang saya lakukan ketika mengalami hambatan pada proses perbedaan budaya yaitu dengan cara berkomunikasi dengan berbagai peserta PMM2 TEL-U yang berasal dari daerah yang beragam. |
| Peneliti | Apa harapan anda sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Salsa | Harapan saya sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu dengan mengikuti program ini saya dapat mengenal berbagai kebudayaan, memperoleh kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dengan berdialog serta berdiskusi, serta dapat meminimalisir prasangka akan suatu kebudayaan suatu daerah. Pengaruh yang saya dapat setelah mengikuti PMM yaitu saya banyak belajar hal baru, banyak mempelajari ilmu di luar program studi yang dimana saya berasal dari jurusan Ekonomi di kampus asal saya. Namun, ketika saya mengikuti PMM, saya mencoba pengalaman berkuliah di Fakultas Ilmu Kreatif Universitas Telkom, serta bertemu berbagai macam orang. Saya berharap ke depannya, semoga lebih banyak lagi diadakan kegiatan seperti PMM ini yang mempertemukan orang-orang dari berbagai daerah. Hal ini agar tercipta ruang dialog yang dapat digunakan untuk lebih mengenal saudara kita dari daerah lain. Upaya ini juga bisa meminimalisir prasangka-prasangka kepada saudara kita dari daerah yang berbeda agar dapat meredam kemungkinan konflik ke depannya. |
| Peneliti | Apa saja pengalaman yang menurut Anda merasakan paling gegar budaya selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Salsa | Selama menjalani program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Universitas Telkom Bandung saya merasakan perbedaan kebudayaan dan kebiasaan hidup. Perbedaan yang saya rasakan umumnya terkait dengan perbedaan yang ada di lingkungan kampus baru dari kebiasaan hidup di Bandung.
Pertama, terkait lingkungan kampus. Saya cukup merasakan adanya perbedaan sistem belajar di Universitas Telkom dengan universitas asal saya yakni Universitas Udayana. Meskipun sama-sama menerapkan sistem belajar berbasis teknologi berupa Learning Management System (LMS), namun implementasinya cukup berbeda. Saya merasa penggunaan LMS di Universitas Telkom lebih optimal digunakan jika dibandingkan di Universitas Udayana. Ditambah lagi dengan aplikasi MyTelU yang semakin memudahkan mahasiswa dalam melihat jadwal perkuliahan, berbeda dengan universitas asal saya yang belum memiliki aplikasi sejenis ini. Adanya perbedaan pemanfaatan teknologi ini cukup saya rasakan dampak dari perbedaannya. Selain itu, di Universitas Telkom saya dominan mengambil mata kuliah berbasis seni dan teknologi, hal ini sangat berbeda dengan rumpun ilmu asal saya yakni ekonomi (manajemen). Tugas-tugas dan mata kuliah yang saya ambil di sana lebih sering diberikan dalam bentuk proyek. Sedangkan pembelajaran di program studi asal saya lebih condong ke materi dan presentasi. Kedua, terkait dengan kebiasaan hidup di Bandung. Di Bandung saya masih sering melihat masyarakat bepergian menggunakan transportasi umum. Saya pun cukup sering menggunakan transportasi umum daripada transportasi pribadi. Bahkan saya pernah mengantri dan berdempet-dempetan di bus karena bus sudah sangat penuh. Jika dibandingkan dengan Bali, saya tidak terlalu sering melihat masyarakat umum Bali menggunakan transportasi publik. Bus-bus yang ada seringkali masih banyak bangku yang kosong. Hanya beberapa bus dengan tujuan tertentu yang cukup banyak membawa penumpang. Selain itu, penggunaan angkutan kota (angkot) masih banyak digunakan oleh masyarakat Bandung, sedangkan daerah di Bali sudah jarang ditemukan angkot. Angkot ini hanya masih dijumpai di beberapa daerah saja. |
| Peneliti | Hal-hal apa saja yang belum pernah dibayangkan sebelumnya ketika Anda mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Salsa | Ketika saya mengikuti PMM2 TEL-, saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah. Awalnya, saya mengira akan sulit untuk kami berinteraksi. Saya tidak membayangkan bahwa kami dapat dengan mudah berbaur satu sama lain. Meskipun banyak perbedaan di antara kami,. Kami saling terkesan dan tertarik dengan cara hidup dan kebudayaan dari sesama teman-teman. Dari sanalah kami sering bercerita tentang daerah asal kami. Dari hal tersebut kami jadi lebih mengenal dan mengetahui berbagai kebiasaan dari daerah-daerah yang ada di Indonesia.
Kalau trigger negatifnya mungkin bisa dilihat di penggunaan kantong plastik sudah lumayan gentar disosialisasikan. Jadi di mal-mal atau toko-toko sudah sangat jarang menyediakan kantong plastik. Masyarakat disini sudah terbiasa membawa totebag kemana-man untuk wadah belanja. Tapi, untuk di pasar tradisional dan toko kecil pinggir jalan memang kadang masih diberikan kantong plastik. Hal ini salah satu culture shock yang saya rasakan ketika di Bandung. Seperti yang peneliti tau juga, kalau di Bandung setiap belanja apapun masih diberikan plastik sama pedagangnya kan? Bahkan, saya juga agak kaget ketika beli barang kecil saja diberikan kantong kecil. Hal itu yang saya rasa berbeda antara Bandung dan Bali dimana di Bali kami sudah lumayan berusaha mengurangi penggunaan kantong plastik meskipun belum secara keseluruhan |
| Peneliti | Bagaimana ekspektasi Anda sebelum berangkat Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Salsa | Pada awalnya, saya tidak terlalu berekspektasi tinggi ketika berangkat ke Bandung untuk mengikuti PMM2 TEL-U. Namun, saya hanya berpikir karena saya akan pergi ke tempat baru, maka saya perlu mengeluarkan effort lebih agar dapat berbaur dengan teman-teman yang berasal dari beragam daerah. |
| Peneliti | Bagaimana ekspektasi Anda sebelumnya terhadap budaya yang di Jawa Barat? |
| Salsa | Saya berekspektasi bahwa Bandung merupakan tempat yang nyaman untuk ditinggali. Faktanya, memang benar adanya. Di media sosial, Bandung seringkali digambarkan sebagai tempat dengan atmosfir unik seperti halnya di Yogyakarta. Menurut, saya, hampir di setiap sudut Bandung, menyimpan hal yang menarik untuk dijelajahi, termasuk juga budaya-budaya yang berkembang disana.
Ketika saya di Bandung saya melihat kalau masyarakatnya cenderung menggunakan kendaraan umum dan plastik ketika berbelanja. Hal ini justru membuat saya malah lebih merasa malas dalam tanda kutip. Hal ini dikarenakan saya jadi tidak perlu membawa totebag kemana-mana. Kalau untuk kendaraan, jelas iya karena kalau ada kendaraan pribadi, jadi lebih hemat ongkos dan waktu juga. Tetapi, di satu sisi, saya oke-oke saja karena jadi bisa memiliki pengalaman yang baru. Saya justru merasa kebalikannya, saya agak kaget karena tidak membawa totebag lagi karena saya baru ingat kalau di Bandung, udah pasti kan dikasih kantong plastik. Selain itu, ketika saya mengikuti PMM, saya terkadang mengalami homesick atau merasa rindu dengan keluarga dan makanan di Bali. Namun, hal itu tidak sampai menganggu aktivitas karena kami alhamdulillahnya masih selalu berkabar melalui video call, telpon, dan chatting dengan keluarga maupun teman di Bali. Makanan Bali dan Bandung rata-rata berempah-rempah yang kuat. Jadi, tidak terlalu berbeda. Meskipun rasa rempahnya berbeda. |
| Peneliti | Bagaimana stereotip dan prasangka baik itu secara positif dan negatif terhadap beberapa peserta yang lain, misal yang berasal dari Bali, Palembang, Padang, Medan, dan lain-lain? |
| Salsa | Sedari awal, saya tidak terlalu memiliki stereotip kepada masing-masing teman dari beragam daerah. Saya pikir kita hanya terbiasa dengan gaya hidup yang berkembang di daerah asal kita. Namun, secara garis beras, kita tetap sama dan selaras. Jadi, dari awal, saya pribadi tidak stereotip ke masing-masing daerah, termasuk teman-teman PMM dari Padang.
Untuk sesama peserta PMM2 TEL-U yang sama-sama dari provinsi Bali, bahasanya tidak berbeda jauh. Tidak seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. |
| Peneliti | Setelah Anda mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, apakah tetap sama stereotip dan prasangka Anda terhadap beberapa peserta yang lain? |
| Salsa | Setelah saya mengikuti PMM2 TEL-U, saya semakin yakin bahwa perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami hanyalah perbedaan kebiasaan di daerah asal. Namun, secara garis besar, kami tetap sama dan selaras satu sama lainnya. |
Informan 3
Nama : Amanda Putri Fransiska
Lokasi : Aplikasi Zoom
Tanggal : 3 Maret 2024
| Peneliti | Bagaimana pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan yang masih anda ingat pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Amanda | Pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu saya dapat berkenalan dengan peserta yang memiliki budaya yang berbeda-beda. Pengalaman lucu yang saya alami seperti terkadang saya merasa tidak tahu berbicara. Selain itu, saya banyak menemukan berbagai keunikan selama mengikuti program ini seperti saya banyak menemukan perbedaan bahasa antara Melayu Aceh dan Melayu Palembang, Orang Makassar, Sulawesi Utara cenderung menyukai memakan pisang goreng dengan saus pedas. Perbedaan antara Melayu Aceh dan Melayu Palembang yaitu Melayu Aceh cenderung mengandung budaya yang diadaptasi dari budaya Arab. Sedangkan Melayu Palembang, cenderung kental dengan logat khas Palembangnya. Begitu juga dengan Melayu Riau juga memiliki keunikan sendiri. |
| Peneliti | Bagaimana pengalaman anda setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat? |
| Amanda | Pengalaman saya setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai perbedaan dari segi berbahasa. Ketika saya mengikuti PMM2 TEL-U, saya melihat teman-teman yang berasal pulau Sumatera, cenderung memiliki logat bahasa yang agak keras. Sedangkan, masyarakat Sunda sendiri, cenderung menggunakan logat bahasa yang lembut. Selain itu, saya menemukan salah satu alat musik tradisional Jawa Barat yang menjadi ciri khas yaitu angklung. Kegiatan memainkan alat musik ini terjadi pada saat kita mengikuti kegiatan kunjungan budaya Sunda di Saung Angklung Udjo. |
| Peneliti | Apakah sebelumnya anda sudah mengetahui tentang apa itu komunikasi antar budaya dan gegar budaya? |
| Amanda | Komunikasi antar budaya dari perspektif mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya merupakan sebuah proses pertukaran informasi yang terjadi dalam suatu budaya yang berbeda. Sedangkan gegar budaya itu merupakan suatu fenomena yang dialami individu tersebut ketika berada dalam suatu budaya yang baru sehingga terkadang membuat mereka merasa kaget terhadap perubahan budaya yang terjadi. |
| Peneliti | Bagaimana esensi mengenai komunikasi antar budaya dan gegar budaya? |
| Amanda | Pandangan saya terhadap komunikasi antar budaya dan gegar budaya ini yaitu terdiri dari dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya yaitu saya bisa belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, saya lebih bisa mengatur ego atau kemauan, dan lebih mudah dalam mengendalikan emosi ketika suatu kondisi dihadapkan dengan perbedaan budaya pada lingkungan yang baru ditempati. Sedangkan, dampak negatifnya ialah individu tersebut merasa kaget dan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Bisa dikatakan, saya sudah berpengalaman pertama kalinya duduk di bangku sekolah menengah atas di provinsi Jawa Barat. Pada saat saya bersekolah di sana, saya selalu mendapatkan bisikan dari para siswa Sunda bahwa kalau logat bahasa yang saya gunakan agak kasar karena saya berasal dari Palembang, Sumatera Selatan yang terbiasa menggunakan logat bahasa yang agak kasar. |
| Peneliti | Bagaimana komunikasi sehari-hari dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Amanda | Komunikasi sehari-hari saya dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu berlangsung baik karena kami sebagai peserta menggunakan bahasa Indonesia dan terkadang masih terbawa dengan logat daerah asal masing-masing. Selain itu, saya memiliki pengalaman pernah menjalin hubungan asmara dengan salah satu peserta PMM2 TEL-U yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Namun, setelah program ini berakhir, maka berakhir pulalah hubungan asmara kami. Setelah hubungan kami kandas, saya mendapatkan banyak pelajaran seperti dari segi budaya antara budaya Palembang dan Makassar hampir mirip karena menggunakan logat bahasa daerah yang agak kasar, lebih bijak dalam menyikapi masalah pribadi, serta lebih selektif dalam memilih pasangan. Proses yang saya lalui setelah kejadian itu, saya lebih berdamai dengan diri sendiri dan mencoba melupakan masa lalu dengan meningkatkan prestasi di dalam maupun di luar kampus. |
| Peneliti | Bagaimana sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, anda sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat? |
| Amanda | Sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu sering kerap terjadi perbedaan bahasa. Salah satunya pada saat saya terlibat dalam Kontribusi Sosial Clean River, tim kami harus mampu beradaptasi dengan kebiasaan masyarakat Sunda yaitu dengan berbahasa halus dan mempelajari kebudayaan daerah setempat seperti waktu itu kami mempelajari bagaimana cara memainkan alat musik Gamelan. Selain itu, saya juga sudah memiliki pengalaman duduk selama tiga tahun di bangku SMA di provinsi Jawa Barat. Dengan mengikuti program PMM ini, saya lebih mengetahui banyak cara bagaimana menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat Sunda itu sendiri. |
| Peneliti | Apakah sebelum mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, anda sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan? |
| Amanda | Iya, saya sebelumnya sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan. Saya kerap mengalami fenomena gegar budaya ketika melakukan proses komunikasi. Saya juga banyak menemukan bahwa khususnya di pulau Jawa, masih terdapat aliran-aliran kepercayaan daerah yang masih lestari hingga saat ini. Salah satunya, pada saat kami mengikuti kunjungan belajar sejarah dan perkembangan penganut kebatinan perjalanan. |
| Peneliti | Apa upaya terdahulu anda menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Amanda | Upaya yang saya lakukan dalam menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan dengan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada di provinsi Jawa Barat serta mempelajari bagaimana kebudayaannya. Selain itu, kita juga harus belajar untuk mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. |
| Peneliti | Apakah ada upaya anda untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Amanda | Upaya yang dapat kita hadapi ketika menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu kita harus mengetahui bagaimana kepribadian setiap individu, harus memahami bagaimana kepada siapa kita akan berbicara. Selain itu, kita juga harus memahami latar belakang dari masyarakat yang berbeda kebudayaan dengan daerah asal kita. |
| Peneliti | Apakah ada hambatan pada proses menghadapi perbedaan budaya? |
| Amanda | Hambatan saya pada proses perbedaan budaya yaitu terkadang saya harus lebih berusaha lebih maksimal dalam memahami budaya baru di suatu daerah. Selain itu, terkadang saya juga masih berusaha untuk mengingatkan diri sendiri agar ketika berbicara tidak terlalu ceplas-ceplos dan berusaha mengatur nada suara agar tidak terlalu tinggi. |
| Peneliti | Apa harapan anda sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Amanda | Harapan saya sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu saya banyak mempelajari banyak hal seperti saya belajar bagaimana mengontrol emosi serta mempelajari bagaimana memahami kebudayaan melalui tarian daerah asal pada kegiatan perpisahan PMM2 Universitas Telkom. Alasan saya sendiri memilih Universitas Telkom ketika mengikuti PMM yaitu fasilitas kampus yang memadai, provinsi Jawa Barat merupakan pusat pendidikan setelah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dosennya berpengalaman di bidangnya, dan saya banyak mendapatkan koneksi pertemanan yang luas dari seluruh Indonesia. |
| Peneliti | Apa saja pengalaman yang menurut Anda merasakan paling gegar budaya selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Amanda | Pengalaman yang menurut saya merasakan paling gegar budaya selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu kegiatan motivasi atau apresiasi puisi bersama Windhihati Kurnia. Di dalam kegiatan ini Modul Nusantara ini, saya mengikuti kegiatan pembelajaran mengenai kebudayaan seni sastra. Saya bisa dikatakan kurang tertarik dengan hal yang berbau seni seperti puisi ini karena saya tidak terlalu tertarik dengan seni kontemporer sehingga ketika saya mengikuti kegiatan ini saya merasa agak sedikit malas dan bosan. |
| Peneliti | Hal-hal apa saja yang belum pernah dibayangkan sebelumnya ketika Anda mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Amanda | Hal-hal yang belum pernah dibayangkan sebelumnya ketika saya mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu pada awalnya saya hanya beranggapan bahwa kegiatan PMM ini hanya berupa pembelajaran di kelas saja. Namun, setelah saya terjun langsung pada kegiatan ini saya banyak mengikuti kegiatan lain seperti kegiatan budaya, sejarah, dan pengembangan soft skill sehingga saya mendapatkan banyak pengalaman berharga selama program ini berlangsung. Salah satunya hal yang membuat saya kaget sekali pada kegiatan Jambore On Air yang dilaksanakan Gugus Depan Pramuka Universitas Telkom. Says awalnya berekspektasi jika kegiatan pramuka yang akan kami lakukan seperti pramuka pada umumnya yang cenderung menurutku sangat membosankan. Namun, pada saat itu, kami mengenal beberapa relasi luas secara internasional mengenai hubungan beberapa pramuka di Indonesia dengan pramuka di Malaysia. Hal ini menjadi pendorong saya untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa asing terhadap peserta pramuka yang di Malaysia. |
| Peneliti | Bagaimana ekspektasi Anda sebelum berangkat Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Amanda | Sebelum berangkat PMM2 TEL-U, ekspektasi saya sangat tinggi. Saya berharap program ini akan menjadi pengalaman yang memperkaya, baik dari segi akademis maupun sosial. Saya membayangkan akan terlibat dalam banyak kegiatan yang akan memperluas pengetahuan saya, terutama di bidang yang saya pelajari. Selain itu, saya mengharapkan dapat bertemu dengan banyak teman baru dari berbagai daerah di Indonesia, yang akan membuka wawasan saya tentang keragaman budaya di negara kita. Saya juga berharap bahwa program ini akan membantu saya meningkatkan keterampilan komunikasi dan adaptasi, yang sangat penting dalam kehidupan profesional di masa depan. Singkatnya, saya berharap bahwa pengalaman ini akan memberi saya banyak pelajaran berharga dan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan. |
| Peneliti | Bagaimana ekspektasi Anda sebelumnya terhadap budaya di Jawa Barat? |
| Amanda | Sebelum berangkat, saya memiliki banyak ekspektasi positif tentang budaya di Jawa Barat. Saya tahu bahwa Jawa Barat terkenal dengan kekayaan budayanya, terutama budaya Sunda yang memiliki tradisi dan adat istiadat yang sangat unik. Saya berharap bisa merasakan langsung keramahan masyarakat Sunda, yang sering digambarkan sebagai sangat ramah dan hangat. Saya juga sangat tertarik untuk mencoba berbagai kuliner khas Jawa Barat, seperti nasi liwet, lotek, dan surabi. Selain itu, saya berharap bisa belajar lebih banyak tentang seni dan budaya lokal, seperti tari jaipong dan angklung. Saya juga tertarik untuk mengunjungi berbagai tempat wisata budaya di Jawa Barat dan belajar tentang sejarah serta kebudayaan setempat. |
| Peneliti | Bagaimana stereotip dan prasangka baik itu secara positif dan negatif terhadap beberapa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yang lain, misal yang berasal dari Bali, Palembang, Padang, Medan, dan lain-lain? |
| Amanda | Sebelum mengikuti program, saya memang memiliki beberapa stereotip dan prasangka terhadap beberapa peserta dari daerah lain. Misalnya, peserta dari daerah Bali, saya anggap akan terbuka, ramah, dan santai. Mengingat Bali adalah daerah wisata yang terkenal dengan keramahan penduduknya. Untuk peserta dari Palembang, sebagai sesama orang Sumatera, saya mengira akan memiliki semangat juang yang tinggi dan mungkin sedikit keras kepala. Peserta dari Padang saya bayangkan sebagai orang yang disiplin dan pekerja keras, mengingat budaya Minang yang terkenal dengan semangat merantau dan kerja keras. Sedangkan peserta dari Medan saya bayangkan memiliki kepribadian yang kuat, vokal, dan mungkin sedikit kasar dalam berbicara, namun sangat loyal kepada teman-teman mereka. Tentu saja, saya juga memiliki prasangka negatif, seperti kekhawatiran akan adanya konflik budaya atau perbedaan cara komunikasi yang bisa menyebabkan kesalahpahaman.
Awalnya, ketika saya mendengar bahwa ada beberapa orang yang menganggap logat bahasa saya kasar. Sebagai seseorang yang berasal dari Sumatera Selatan, logat dan intonasi bicara kami memang sedikit berbeda dari masyarakat di Jawa Barat. Ada saat-saat dimana saya merasa tidak nyaman dan khawatir akan menyinggung perasaan orang lain tanpa sengaja. Saya juga merasa sedikit terisolasi karena perbedaan tersebut membuat saya khawatir dalam berinteraksi, terutama ketika berkomunikasi dengan masyarakat lokal. Namun, saya tidak membiarkan hal tersebut menghalangi aktivitas saya selama di Bandung. Saya memutuskan untuk melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Saya mulai lebih banyak mendengarkan cara berbicara masyarakat Sunda, dan mencoba menyesuaikan diri dengan cara berbicara mereka yang lebih lembut dan halus. Saya juga meminta bantuan teman-teman yang berasal dari Jawa Barat untuk memberikan masukan dan saran mengenai cara berkomunikasi yang lebih sesuai. |
| Peneliti | Setelah Anda mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Universitas Telkom, apakah tetap sama stereotip dan prasangka Anda terhadap beberapa peserta yang lain? |
| Amanda | Setelah mengikuti PMM2 TEL-U , banyak stereotip dan prasangka saya yang berubah. Saya menyadari bahwa setiap individu memiliki keunikan masing-masing yang tidak bisa diukur hanya dari asal daerah mereka. Peserta dari Bali, misalnya, tidak semuanya santai dan terbuka. Beberapa diantaranya sangat serius dan ambisius. Begitu juga dengan peserta dari Palembang, yang ternyata memiliki kepribadian yang sangat beragam, ada yang sangat ramah dan mudah bergaul. Peserta dari Padang tidak semuanya disiplin dan pekerja keras, ada juga yang santai dan humoris. Sementara itu, peserta dari Medan, meskipun memiliki kepribadian yang kuat, ternyata sangat peduli dan suportif.
Pengalaman ini membantu saya memahami bahwa stereotip dan prasangka seringkali tidak akurat dan bisa menghambat pemahaman yang lebih mendalam tentang seseorang. Saya belajar untuk lebih terbuka dan menerima perbedaan, serta menghargai keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Pengalaman ini juga mengajarkan saya untuk lebih berhati-hati dalam menilai orang berdasarkan asal daerah mereka dan lebih fokus pada kepribadian kualitas individu. Beberapa langkah yang saya ambil untuk menyesuaikan diri agar mampu berkomunikasi dengan masyarakat Sunda antara lain:
Saya berusaha mempelajari kata-kata dan frasa dalam bahasa Sunda, serta mencoba meniru intonasi dan logat berbicara masyarakat setempat. Ini membantu saya tidak hanya dalam berkomunikasi sehari-hari, tetapi juga menunjukkan bahwa saya menghargai dan berusaha memahami budaya mereka.
Saya lebih banyak tersenyum dan menunjukkan sikap ramah kepada orang-orang di sekitar saya. Sikap positif dan ramah seringkali dapat mengatasi perbedaan budaya dan membuat interaksi menjadi lebih menyenangkan.
Saya berusaha mendengarkan lebih banyak ketika orang lain berbicara. Ini tidak hanya membantu saya memahami cara berbicara mereka, tetapi juga membuat saya lebih peka terhadap norma-norma sosial yang berlaku.
Saya tidak ragu untuk bertanya jika ada hal yang tidak saya mengerti atau jika saya merasa ada potensi kesalahpahaman. Teman-teman lokal yang sangat membantu dalam memberikan masukan yang konstruktif.
Saya aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan lokal dan acara-acara sosial. Ini memberikan saya kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak dengan masyarakat Sunda dan belajar lebih dalam tentang budaya mereka. Dengan pendekatan tersebut, saya merasa lebih nyaman dan mampu berkomunikasi dengan masyarakat Sunda tanpa merasa canggung. Pengalaman ini juga memperkaya saya dengan pemahaman baru tentang keragaman budaya Indonesia dan pentingnya keterbukaan serta adaptasi dalam berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. |
Informan 4
Nama : Afdal Yusuf Efi
Lokasi : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas, Padang
Tanggal : 4 Maret 2024
| Peneliti | Bagaimana pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan yang masih anda ingat pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Afdal | Pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu pengalaman mengenal teman-teman dari budaya yang berbeda dari Sabang hingga Merauke. Saya juga bisa berkomunikasi lebih banyak dan lebih mengenal Indonesia lebih banyak. Pengalaman lucu yang saya dapatkan ketika mengikuti PMM2 TEL-U yaitu saya bisa dikatakan sebagai individu yang santai dan luwes. Pada saat mengikuti program ini, saya tinggal di kehidupan asrama Lingian dengan bangun pagi dan makan bersama teman-teman. Hal ini menjadi hal yang sangat baru bagi saya karena ini merupakan pengalaman pertama saya merasakan tinggal di asrama. |
| Peneliti | Bagaimana pengalaman anda setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat? |
| Afdal | Pengalaman saya setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat sangat banyak sekali. Sejak usia saya kecil hingga berada di bangku kelas 1 SMP, saya dibesarkan di Depok, Jawa Barat. Lalu, ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMP, barulah saya pindah ke Padang, Sumatera Barat. Hal ini menjadi tantangan bagi saya sendiri karena adanya perbedaan komunikasi antara yang lebih muda dengan yang lebih tua. Ketika saya berada di provinsi Jawa Barat, pada umumnya, masyarakat harus menggunakan bahasa yang sopan dan tidak perlu melakukan penghormatan kepada orang yang lebih tua. Misal tidak mementingkan pengguna akhir kalimat dengan sebutan kak atau bang. Selain itu, saya juga merasakan perbedaan antara masyarakat Padang dengan Depok ketika berkomunikasi. Dapat dikatakan, tidak terlalu ada perbedaan yang signifikan, karena dari kecil sudah belajar mengenai perbedaan budaya antara budaya di Padang dengan budaya yang ada di Depok. |
| Peneliti | Apakah sebelumnya anda sudah mengetahui tentang apa itu komunikasi antar budaya dan gegar budaya? |
| AYE | Komunikasi antar budaya sendiri sangat berkaitan erat dengan diri saya sendiri karena saya sudah berpengalaman dalam banyak kegiatan khususnya pada bidang kebudayaan. Hal ini disebabkan karena di Indonesia sendiri itu terdiri dari budaya serta adat istiadat yang berbeda-beda. Di antara perbedaan ini bisa mengangkat isu kebudayaan sehingga dibutuhkan toleransi antara budaya yang satu dengan budaya yang lain. Sedangkan gegar budaya ialah suatu kondisi dimana terjadi pada orang-orang yang tidak terbiasa hidup di lingkungan budaya yang berbeda. Salah satunya yaitu permasalahan bahasa yang dimana masih banyak penggunaan logat bahasa daerah serta penyesuaian komunikasi dengan budaya yang berbeda. Misal di daerah Depok, Jawa Barat, cenderung menggunakan aksen bahasa Betawi. |
| Peneliti | Bagaimana esensi mengenai komunikasi antar budaya dan gegar budaya? |
| Afdal | Komunikasi antar budaya dan gegar budaya ini memang harus dijaga dan dipelajari oleh mahasiswa sebagai wujud menjalankan semboyan negara Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu. Sedangkan gegar budaya atau culture shock ialah segala sesuatu yang menjadi konsekuensi dari perbedaan budaya dan komunikasi antar budaya. |
| Peneliti | Bagaimana komunikasi sehari-hari dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Afdal | Komunikasi sehari-hari saya dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom bersifat lancar. Hal ini dikarenakan saya dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik serta mempelajari logat-logat bahasa daerah tersebut. Selain itu, saya juga mendapatkan tantangan bahwa ketika saya berkomunikasi dengan peserta PMM2 TEL-U yang bersuku Minang, cenderung menggunakan logat bahasa yang sedikit halus. Sedangkan, ketika saya berkomunikasi dengan peserta yang bersuku Batak, cenderung menggunakan logat yang agak keras. |
| Peneliti | Bagaimana sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, anda sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat? |
| Afdal | Sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom sangat beragam. Saya banyak menemukan hal ini di dalam kehidupan sehari-hari seperti dari segi makanan yang terkadang menjadi permasalahan dalam segi selera makanan. Misalnya makanan Sunda cenderung bercita rasa manis. Hal ini sangat berbeda, ketika saya berada di Sumatera Barat, yang sebagian besar makanannya bercita rasa pedas. Selain itu, dengan mengikuti PMM2 TEL-U saya mendapatkan pengalaman yang paling mengesankan salah satunya pada kegiatan kunjungan ke salah satu alam bersejarah di Jawa Barat yaitu Gunung Puntang serta banyak mengunjungi berbagai museum peninggalan sejarah seperti Gedung Sate. |
| Peneliti | Apakah sebelum mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, anda sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan? |
| Afdal | Tidak, saya sebelumnya sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan. Semua ini dimulai sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar, yang dimana saya sudah pernah pindah sekolah selama lima kali. Kemudian, pada bangku SMP, sudah pindah sekolah sebanyak dua kali. Hal inilah yang membuat saya sudah terbiasa hidup berpindah-pindah. Daerah-daerah yang pernah saya tinggali seperti Batam, Pekanbaru, Depok, dan Bandung. Oleh karena itu, saya membiasakan diri dengan perubahan lingkungan tersebut yaitu untuk memaksakan diri untuk berpindah-pindah tempat tinggal. |
| Peneliti | Apa upaya terdahulu anda menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Afdal | Upaya yang saya lakukan dalam menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan ini pada esensi permasalahannya bukan pada adat, komunikasi, dan sosial. Namun, melainkan pada kebudayaan dan kebiasaan dalam proses pembelajarannya. Ketika saya berkuliah di Universitas Telkom, etos kerjanya lebih tinggi dibandingkan dengan Universitas Andalas, lebih bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas. Selain itu, kita juga pernah satu kelas CSR (Coorporate Social Responsibility), kita mengetahui bahwa untuk pembelajarannya sangat dimaksimalkan diberikan kepada para mahasiswanya. Sedangkan, ketika saya berkuliah di kampus asal saya di Universitas Andalas, mahasiswa mengerjakan tugas hanya sebagai bukti telah mengumpulkan tugas saja. |
| Peneliti | Apakah ada upaya anda untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Afdal | Upaya saya untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu dengan memaksakan diri untuk mengerjakan tugas maksimal sehingga Universitas Andalas mampu bersaing dengan kampus-kampus yang ada di pulau Jawa. Selain itu, untuk kesulitan saya ketika berkomunikasi dengan mahasiswa Universitas Telkom yang mayoritas bersuku Sunda, tidak terlalu ada permasalahan yang tidak terlalu signifikan. Hal ini dikarenakan karena saya menggunakan bahasa Indonesia dan lebih mengedepankan sikap toleransi dalam menanggapi berbagai perbedaan kebudayaan. |
| Peneliti | Apakah hambatan pada proses menghadapi perbedaan budaya? |
| Afdal | Hambatan saya pada proses perbedaan budaya yaitu lebih membiasakan diri dengan lingkungan. Misal ketika saya berada di provinsi Jawa Barat, sering menggunakan kata-kata seperti punten atau mangga, agar lebih sopan ketika berbicara dengan masyarakat di Jawa Barat. Sedangkan hambatan dari pribadi saya sendiri, dapat dikatakan hampir tidak ada. |
| Peneliti | Apa harapan anda sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Afdal | Harapan saya sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu agar ke depannya Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini lebih fleksibel lagi, penerimaan mahasiswa PMM lebih luas lagi, diperbanyak lagi jumlah perguruan tinggi tujuannya, serta lebih diperkuat lagi pada mata kuliahnya. Saya berharap bahwa untuk program ini diperjelas lagi dengan sistem pengelolaan dan kebijakan khusus agar tidak merugikan para mahasiswa PMM yang telah terlibat serta meningkatkan minat mahasiswa tersebut. Program ini sangat baik, karena untuk lulus kuliah, tidak hanya diperlukan pengalaman akademik di dalam kampus, namun juga, pengalaman di luar kampus. Dibutuhkan ilmu dalam beradaptasi dengan lingkungan yang nantinya diharapkan akan menjadi bekal bagi mahasiswa setelah lulus. Manfaat PMM bagi saya sendiri yaitu saya dapat belajar untuk bersosialisasi dengan para mahasiswa dari berbagai ragam kebudayaan. Cara saya sendiri membagi waktu ketika saya mengikuti PMM2 TEL-U dengan berbagai kegiatan yang saya ikuti yaitu dengan bertanggung jawab penuh dengan tugas yang telah diemban, memahami skala prioritas, izin ketika terdapat jadwal yang bertabrakan, serta tepat dan disiplin waktu. |
| Peneliti | Apa saja pengalaman yang menurut Anda merasakan paling gegar budaya selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Afdal | Pengalaman yang paling gegar budaya bagiku itu yaitu pada cara berkomunikasinya dimana di Bandung cara berkomunikasinya sangat lembut sekali, jadi kita harus menyesuaikan banget mengenai nada-nada bicara orang Sunda itu dengan baik serta harus terbiasa untuk berbicara dengan lemah lembut. Hal ini berbeda dengan masyarakat Minang yang memang dari dulu cara berkomunikasi agak sedikit keras. Namun, yang ditekankan disini bahwa bukan mengenai bahasa di Bandung lembut atau di Padang kasar, tetapi lebih menekankan pada kebiasaan cara berbicara masyarakat tersebut. |
| Peneliti | Hal-hal apa saja yang belum pernah dibayangkan ketika Anda mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Afdal | Hal yang belum pernah saya bayangkan yaitu pada kegiatan Modul Nusantara di Gunung Puntang. Saya pribadi memang kurang cocok dengan daerah yang bersuhu dingin. Ditambah lagi ketika itu, saya harus mengikuti kegiatan ini yang dimana suhunya lebih dingin lagi. Sebenarnya hal inilah yang benar-benar tidak saya ekspektasikan sebelumnya, pasti jika saya tidak mengikuti kegiatan PMM, tentu saya menghindari tidak berkunjung ke darah yang bersuhu dingin tersebut.
Selain itu, di dalam kegiatan Kontribusi Sosial, saya melakukan kegiatan edukasi di Sekolah Luar Biasa. Pada saat itu, saya benar-benar merasakan kesedihan bahwa di luar kekurangan anak-anak yang berkekurangan secara fisik maupun mental, mereka tetap semangat, tersenyum, dan bisa hidup dengan kebahagiaan mereka masing-masing. Hal itu menjadi pelajaran bagi saya bahwa kita yang bisa dikatakan lebih sempurna dari mereka, seharusnya kita harus mensyukuri kehidupan kita ini. Mereka saja bisa bersyukur dengan kekurangan kita, tetapi kenapa kita tidak. Hal itulah yang mendorong saya untuk mensyukuri dan menghargai apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita. |
| Peneliti | Bagaimana ekspektasi Anda sebelum berangkat Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Afdal | Ekspektasi saya ialah dapat bertemu dengan orang-orang dari berbagai daerah, dengan berbagai bahasa, dan juga perbedaan kebiasaan. Karena saya merasa hal-hal tersebut akan sangat menarik untuk dipelajari dan dipahami sebagai pengetahuan dan ilmu-ilmu baru. |
| Peneliti | Bagaimana ekspektasi Anda sebelumnya terhadap budaya yang ada di Jawa Barat? |
| Afdal | Tidak ekspektasi mengenai budaya di Jawa Barat karena saya menyelesaikan persekolahan hingga kelas 1 SMP di Jawa Barat.
Untuk makanan dan suhu daerah dua-duanya sama Vania, kan pas wawancara pertama saya udah cerita, memang saya dari kecil, beberapa kali pindah-pindah sekolah dan juga pindah-pindah kota. Jadi, untuk hal-hal seperti makanan dan suhu, walaupun ada perbedaan di awal, akan tetapi setelah 2-3 hari juga sudah tidak ada lagi masalah dan makanan seperti biasa saja tanpa terlalu memilih-milih banget. Untuk mengenai suhu memang ada 1-2 kali flu ringan saja. Tapi, tidak yang sampai berlebihan begitu, karena memang sudah menyiapkan banyak baju hangat sebelum berangkat. Tetapi memang di minggu-minggu pertama, saya memakai baju dua lapis sama baju hangat di luarnya. |
| Peneliti | Bagaimana stereotip dan prasangka baik itu secara positif dan negatif terhadap beberapa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang lain, misal yang berasal dari Bali, Palembang, Padang, Medan, dan lain-lain? |
| Afdal | Saya sejak awal, tidak memiliki prasangka apapun mengenai kebiasaan yang dimiliki oleh latar belakang yang berbeda-beda bagi saya hal yang baik dan buruk, menurut saya yang berbeda terhadap yang dipahami mahasiswa dengan latar belakang yang lain, merupakan suatu hal yang menarik dari keberagaman Indonesia, sehingga itu menjadi sesuatu yang dipahami dan dinikmati sebagai bentuk indahnya pergaulan yang beragam. |
| Peneliti | Setelah Anda mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, apakah tetap sama stereotip dan prasangka Anda terhadap beberapa peserta yang lain? |
| Afdal | Karena sejak awal tidak memiliki stereotip terhadap perbedaan latar belakang budaya, maka setelah kembali juga tidak ada hal yang berhubungan dengan itu, yang ada adalah kehangatan terhadap fakta keberagaman yang dimiliki Indonesia dan kebahagiaan untuk dapat lebih jauh memahami berbagai macam perspektif kedaerahan. |
Informan 5
Nama : La Bamba Puang Putra Tamrine Sirirui Kami
Lokasi : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas, Padang
Tanggal : 4 Maret 2024
| Peneliti | Bagaimana pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan yang masih anda ingat pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Bamba | Pengalaman yang paling menarik dan sulit dilupakan pada saat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu dari pesertanya, saya banyak menemukan teman-teman yang asyik, saling mendukung satu sama lain, saya sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri, serta orang-orangnya sulit dilupakan sampai sekarang. Sedangkan untuk kegiatan PMMnya seperti kita mengunjungi berbagai tempat wisata bersejarah seperti kegiatan wisata bersejarah di Ciwidey dan Gunung Puntang. Kegiatan tersebut menjadi momen yang sulit dilupakan, walaupun PMM2 TEL-U sudah berlewat sejak satu tahun silam. Kemudian, untuk kegiatan Modul Nusantara yang paling lucu pada kegiatan refleksi. Bisa dikatakan, saya merupakan pribadi yang menyukai lelucon. Ketika saya mengikuti PMM, Dosen Modul Nusantara 02 Wiranata Kusumah, Dr. Achmad Rizal, merupakan seseorang yang berkepribadian menyenangkan. Setiap kegiatan selalu pasti melontarkan lelucon khas bapak-bapak. Hal ini yang menjadi hal yang paling lucu yang sulit untuk dilupakan serta mendapatkan banyak teman yang sefrekuensi. |
| Peneliti | Bagaimana pengalaman anda setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat? |
| Bamba | Pengalaman saya setelah mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom mengenai perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat sangat banyak sekali. Saya menemukan perbedaan kebudayaan antara provinsi Jawa Barat dan Sumatera Barat yang sangat jauh berbeda sekali. Ketika saya berada di Jawa Barat, sebagian besar masyarakatnya masih mengedepankan budaya sapa menyapa. Misalnya mereka sering menggunakan kata permisi kang atau permisi teh serta masih kentalnya nilai kebudayaan. Selain itu, masyarakat Sunda cenderung lebih suka membantu orang lain yang membutuhkan, walaupun orang tersebut merupakan orang yang baru dikenalnya. |
| Peneliti | Apakah sebelumnya anda sudah mengetahui tentang apa itu komunikasi antar budaya dan gegar budaya? |
| Bamba | Istilah komunikasi, saya sudah mengetahuinya, yang artinya kegiatan yang kita lakukan dengan berbicara dengan sesama. Lalu, komunikasi antar budaya sendiri merupakan bagaimana kita memahami sifat dan adat istiadat pada suatu daerah. Gegar budaya itu suatu hal yang membuat kita menjadi kaget terhadap daerah atau situasi baru yang belum kita ketahui. |
| Peneliti | Bagaimana esensi mengenai komunikasi antar budaya dan gegar budaya? |
| Bamba | Komunikasi antar budaya ialah bagaimana cara kita untuk berkomunikasi dengan baik, meskipun kita menemukan perbedaan budaya dengan berbeda dengan daerah asal agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman antar individu yang berbeda budaya. Sedangkan gegar budaya yaitu bagaimana cara kita berkomunikasi dengan individu yang berbeda kebudayaan agar tidak terlalu kaget dengan perbedaan budaya. |
| Peneliti | Bagaimana komunikasi sehari-hari dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Bamba | Komunikasi sehari-hari saya dengan peserta lain selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu dengan sesama peserta PMM2 TEL-U, saya menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia serta saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi yaitu dengan saya selalu menanyakan beberapa kosa kata bahasa daerah yang belum saya ketahui. Selain itu, saya juga menghadapi dua kebudayaan sekaligus, karena saya berasal dari Mentawai yang berkuliah di Padang, Sumatera Barat yang mayoritas masyarakatnya dari etnis Minang serta juga mengikuti PMM di Bandung, Jawa Barat. |
| Peneliti | Bagaimana sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, anda sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan yang ada di provinsi Jawa Barat? |
| Bamba | Sikap dan perilaku peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom sangat beragam. Sebagian besar peserta PMM2 TEL-U tidak terlalu menyombongkan diri, saling berbaur, dan menceritakan keunikan daerahnya sendiri. Perbedaan tidak dijadikan masalah utama. Namun dijadikan sebagai bahan untuk guyonan dan lelucon bersama, serta juga menambah ilmu baru. |
| Peneliti | Apakah sebelum mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, anda sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan? |
| Bamba | Iya, saya sebelumnya sudah mengalami permasalahan perbedaan kebudayaan. Saya dari kecil sudah bersekolah di Mentawai, Sumatera Barat. Tepatnya pada ibukota Mentawai, Sipora, juga terdapat masyarakat yang berasal dari suku Minang. Cara saya menghadapi perbedaan budaya tersebut yaitu dengan awalnya diam sejenak. Kemudian, mencoba menanyakan budaya tersebut. Hal inilah saya dilakukan ketika di Bandung, Jawa Barat, sehingga tidak terlalu kaget dengan perbedaan budaya. |
| Peneliti | Apa upaya terdahulu anda menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Bamba | Upaya yang saya lakukan dalam menghadapi permasalahan perbedaan kebudayaan yaitu memang manusia memang dianugerahkan oleh Tuhan dengan sifat takut. Namun, kita harus menghadapi hal tersebut dengan santai dan jangan terlalu kaku. Selain itu, kita juga harus mampu berbaur dengan peserta yang lain dari PMM2 TEL-U, agar bisa menjalin persahabatan di tempat yang baru kita kunjungi. |
| Peneliti | Apakah ada upaya anda untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Bamba | Upaya saya untuk menghadapi permasalahan kebudayaan selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu untuk tidak terlalu dibawa pusing dengan segala permasalahan perbedaan budaya, belajar dengan budaya yang baru, tidak terlalu sok tahu dengan budaya orang lain, serta mencari tahu keunikan budaya di suatu daerah melalui media internet. |
| Peneliti | Apakah ada hambatan pada proses menghadapi perbedaan budaya? |
| Bamba | Hambatan saya pada proses perbedaan budaya yaitu saya terkadang khawatir dan bingung ketika berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya, serta masih terbawa logat bahasa daerah ketika berkomunikasi. Namun, hambatannya tidak terlalu besar. |
| Peneliti | Apa harapan anda sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Bamba | Harapan saya sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom yaitu lebih diperbagus dan diperbanyak lagi bagaimana kebudayaan yang ada di Bandung itu sendiri serta kegiatan baik di PMM2 TEL-U dapat dilanjutkan pada PMM angkatan selanjutnya. |
| Peneliti | Apa saja pengalaman yang menurut Anda merasakan paling gegar budaya selama mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Bamba | Yang membuat saya culture shock saat di Bandung itu ketika awal mula melakukan pembelajaran di kelas dimana pada saat pertama kali masuk belajar dalam kelas, saya sangat shock karena cara belajarnya yang sangat berbeda dengan kampus asal saya dan juga cara beradaptasi dengan makanan yang ada di Bandung dimana saat saya memesan makanan yang ada di Bandung dimana saat saya memesan makanan yang ada di Bandung dimana saat saya merasa kaget dengan porsi makanan, saya merasakan kaget karena porsi makanan yang tidak terlalu sebanyak di tempat asal dan itu membuat saya sangat kaget dan juga harus memutar akal agar bisa menyesuaikan kondisi yang ada di Bandung dan lewat itu saya bisa melaluinya dengan baik. |
| Peneliti | Hal-hal apa saja yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya ketika Anda mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Bamba | Hal-hal yang belum saya bayangkan ketika mengikuti PMM2 TEL-U yaitu cara beradaptasi dengan masyarakat dan bergaul dengan masyarakat disana dimana di sisi negatifnya, saya sangat takut untuk beradaptasi dan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Sedangkan sisi positifnya, saya merasa bersyukur bisa mengetahui budaya Sunda yang begitu unik dan beraneka ragam yang membuat saya ingin lebih lagi untuk menggali lebih lagi mengenai budaya yang tidak hanya di Bandung, namun juga di tempat lain. Cara beradaptasi menghadapi sesama saat di dalam kelas serta tata cara berkomunikasi ketika ada beberapa penjual yang ketika kita membeli, mengeluarkan bahasa Sunda yang membuat saya agak kaget serta kebingungan. |
| Peneliti | Bagaimana ekspektasi Anda sebelum berangkat Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom? |
| Bamba | Bayangan saya sebelum berangkat untuk melaksanakan kegiatan PMM2 TEL-U adalah dimana saya akan mendapatkan banyak ilmu dan banyak teman serta mendapatkan budaya yang baru yang belum saya kenal di tempat saya berada di awal serta cara beradaptasi dengan sesama. |
| Peneliti | Bagaimana ekspektasi Anda sebelumnya terhadap budaya yang di Jawa Barat? |
| Bamba | Bayangan saya tentang budaya di Jawa Barat yaitu adalah orangnya yang sangat ramah dan lemah lembut, serta cara berperilaku masyarakat di Jawa Barat yang membuat saya terkejut karena orangnya di sana ketika kita meminta bantuan, pasti mereka akan selalu mau meskipun itu mereka juga sedang sibuk.
Cara saya berinteraksi dengan masyarakat di Jawa Barat yaitu dengan memulai pembicaraan dalam bahasa Indonesia dan untungnya mereka bisa mengerti dan lambat laun bisa menyesuaikan dengan para masyarakat di Jawa Barat ketika berbelanja. Cara saya mengatur keuangan selama di Bandung yaitu dengan cara membuat daftar belanja dalam sebulan dan membeli barang yang paling utama dan penting agar bisa memenuhi kebutuhan hidup. |
| Peneliti | Bagaimana stereotip dan prasangka baik itu secara positif dan negatif terhadap beberapa peserta yang lain, misal yang berasal dari Bali, Palembang, Padang, Medan, dan lain-lain? |
| Bamba | Pandangan saya dengan peserta lain itu dalam hal cara bersikap, berbudaya, serta cara bergaul dengan sesama terutama teman yang kuat dan kental dalam berbahasa daerahnya ketika bergaul. |
| Peneliti | Setelah Anda mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2 Universitas Telkom, apakah tetap sama stereotip dan prasangka Anda terhadap beberapa peserta yang lain? |
| Bamba | Pandangan saya adalah ketika saya berpisah, maka saya akan mendapatkan banyak relasi dan tidak akan melupakan semua yang telah didapat ketika mengikuti PMM dan tetap berkomunikasi dengan teman sesama PMM. |
Lampiran 2: Dokumentasi















Lampiran 3: Gambar Coding Data
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














