Papua: Kami Ingin “Di-Indonesiakan” dengan Baik

Ketika kita mendengar kata Papua, saya yakin tentu banyak pemikiran atau pandangan yang akan muncul. Banyak orang berpikir bahwa Papua adalah tempat dengan sumber daya alam yang berlimpah, tembaga dan emas dimana mana. Ada juga yang berpikir bahwa Papua masih memiliki jalan pikiran yang tradisional dengan menolak untuk bersentuhan dengan negara mengingat pembangunan Jalan tol di papua mengalami banyak hambatan dan problematika. Kita seolah membuat narasi dan jalur pikiran kita sendiri untuk meniai papua. Papua adalah provinsi yang orang orangnya masih awam dengan pendidikan dan juga kemajuan teknologi sehingga banyak yang menganggap remeh bahkan merendahkan orang papua. Hingga kini, pandangan dan tuduhan tersebut masih saja eksis dalam lingkungan sosial kita. Ketika mereka membuat perkumpulan mereka dianggap separatis, di cap tidak cinta Indonesia, dan dicurigai banyak orang.

Tidak dapat dipungkiri bahwasannya banyak terjadi tindakan diskriminasi ataupun pandangan miring tentang orang Papua yang masih terjadi hingga saat ini. Salah satunya dibidang pendidikan dan pergaulan. Tak sedikit orang yang merasa sungkan atau bahkan tidak mau berteman dan bergaul dengan orang atau mahasiswa Papua yang mengenyam pendidikan di luar Papua. Ketika saya mengobrol dengan teman saya yang berasal dari Papua, pasti ada salah satu teman saya juga yang mengatakan “ngapain kamu berteman dengan dia, dapat mengurangi eksistensi kita” selain itu, hal kecil yang biasa terjadi di lingkungan pergaulan adalah ketika kita melihat orang Papua, mata orang akan tertuju pada mereka dan memperhatikan dengan cara yang kurang enak dilihat. Teman saya yang berasal dari Papua itu pernah bercerita bahwa ketika dia jalan ke Mall atau tempat umum lainnya dan memakain pakaian yang lengkap ada yang bertanya, ”kenapa kamu tidak pakai Koteka saja?”

Tindakan serta pandangan inilah yang memang secara langsung dihadapi oleh orang orang Papua yang dengan keberanian yang tinggi meningggalkan kampung halamannya untuk mengenyam pendidikan atau mencari pengalaman ke pulau Jawa atau sekitarnya. Pandangan yang harusnya lenyap atau bahkan tidak boleh ada di setiap manusia mengingat kita sebagai negara Kepulauan yang memiliki keberagaman yang memang harus dihargai seperti agama, warna kulit, suku etnis dan ras. Lalu, kalau pandangan atau pemikiran seperti ini masih saja ada di dalam pikiran orang lain, Apakah Papua biasa saja? Apakah Papua memang sudah biasa diperlakukan seperti itu sehingga mereka menganggap itu sebagai hal yang sudah harus dibiasakan dan dianggap tidak ada pengaruhnya? Apakah orang Papua bukan bagian dari Indonesia sehingga mereka tidak memiliki hak hak yang memang dimilki setiap warga negara layaknya orang lain di Indonesia?

Dengan sangat jelas bahwasannya jawabannya tidak. Papua adalah bagian dari Indonesia, Papua bukan hanya terkenal sumber daya alamnya yang berlimpah namun saudara kita yang patut kita perlakukan dengan baik layaknya saudara kita sendiri. Mari kita lihat realita yang masih ada di Papua. Papua masih tertinggal dari wilayah-wilayah lain yang ada di indonesia. Papua bagaikan “anak tiri” Indonesia yang hanya diperlukan untuk membiayai kepentingan nasional dengan mengambil sumber daya alam yang ada, namun terabaikan dalam kesejahteraan masyarakat dan pembagunan nasional. Papua merasakan sakitnya diabaikan sejak dulu. Mereka merasakan pedihnya tersampingkan dari kemajuan, terlupakan dari pembangunan, tersingkirkan dari persaingan, tertindas dalam perekonomian, tertinggal dalam pemberdayaan masyarakat, namun terdepan dalam menyokong perekonomian nasional.

Terlebih lagi berita nasional akhir-akhir ini yang kembali membawa nama Papua. Kerusuhan yang terjadi di asrama mahasiswa Papua di Surabaya yang diduga mengalami persekusi terkait dengan dugaan perobekan dan penurunan bendera kenegaraan kita, Merah Putih yang sampai saat ini belum diketahui kebenaannya. Mahasiswa Papua yang sedang menyenyam pendidikan di Surabaya diduga membuang bendera tersebut ke selokan yang berimbas pada pengepungan yang dilakukan oleh Ormas serta masyarakat umum di sekitar Asrama.

Tak hanya itu, terdapat indikasi ujaran-ujaran diskriminasi dan kebencian yang mengandung makna rasisme dan perendahan harkat dan martabat mereka sebagai Orang Papua yang menyulut kemarahan warga Papua. Dugaan baru pun ikut muncul, adanya keterlibatan aparat kepolisian yang juga ikut melakukan tindakan-tindakan diskriminasi serta ujaran rasisme yang selayaknya tidak boleh dilakukan. Polri dirasa kurang bijak dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Asrama mahasiswa di Surabaya dengan membiarkan para Ormas serta masyarakat umum untuk mendobrak pagar asrama serta melempari asrama dengan benda benda berbahaya.

Hal itupun membuat hari nurani orang Papua bergetar dan menginginkan pembelaan diri terhadap nama baik mereka. Tidak dapat kita pungkiri, kemarahan warga papua terjadi beriringan dengan banyaknya info hoax yang beredar di Papua menambah daftar panjang kemarahan mereka sehingga melakukan aksi pembelaan diri hingga berujung pada aksi aksi inkosntitusional. Pembakaran Gedung DPRD papua, blokade jalan di Manokwari dan beberapa daerah di sekitar Papua hingga Pembakaran Lapas di Sorong merupakan reaksi atas kejadian ini. Hal itu pun berimbas kepada kebijakan nasional yang diambil seperti pelambatan Internet di wilayah Papua hingga pemadaman lampu untuk meredam situasi yang terjadi disana. Hingga kini, banyak warga Papua yang masih menyampaikan pendapatnya dengan mengibarkan bendera Bintang Kejora sebagai bentuk kekecewaaanya hingga issue terkait ingin melepaskan diri dengan Indonesia melalui referendum.

Untuk itu, Warga Papua meminta pemerintah untuk hadir dan menjadi mediator dalam permasalahan ini. Tidak boleh lagi ada tindakan tindakan ataupun ucapan yang berbau SARA terjadi di Indonesia. Warga Papua sudah cukup meraskaan ini semua. Jangan kita biarkan saudara kita sendiri melakukan kolonialisme terhadap orang Papua. Papua perlu “di-Indonesiakan” dengan baik. Mendapatkan perlakuan, hak, serta rasa nyaman yang sama seperti orang lain di Indonesia. Sudah cukup mereka merasakan kalimat-kalimat hinaan, diskriminasi atau bahkan persekusi di tanah air sendiri. Mari saling merangkul satu sama lain untuk mewujudkan visi Indonesia maju. Karena jika kita terus terpecah belah dengan saudara sendiri hanya karena isu rasisme atau diskriminasi, kapan kita akan berbenah dan menatap masa depan yang lebih cerah?

Indah Oktapiani

 

Baca juga:
Amanat Undang-Undang dan Ajaran Sosial Gereja untuk Keadilan Hak Asasi Manusia Papua
Masa Depan Papua, Menjadi Indonesia Seutuhnya
OPM (Organisasi Papua Merdeka)

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI