Musik gamelan telah dikenal masyarakat sebagai salah satu warisan budaya yang statis, dimana musik tradisional ini telah hadir sejak dahulu dalam berbagai acara adat, pertunjukan tradisional, maupun kesenian. Bagi telinga masyarakat Indonesia musik gamelan sudah tidak asing, walaupun bukan berasal dari suku Jawa. Tetapi musik gamelan sangat jarang menembus industri musik popular terutama di kancah internasional.
Bagi generasi muda musik tradisional seperti gamelan dipandang sudah kuno dan tidak menarik. Padahal gamelan merupakan warisan budaya yang tidak ternilai dan telah diresmikan badan khusus PBB yang menangani tentang Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan (UNESCO) sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia ke-12. Karena itulah warisan budaya ini sudah selayaknya dijaga kelestariannya.
Tetapi dalam beberapa tahun terakhir situasi berubah secara signifikan. Muncul berbagai upaya kreatif yang menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap musik gamelan melalui kolaborasi dengan dunia musik pop. Beberapa seniman musik mulai menyisipkan gamelan dalam karya-karya mereka. Perpaduan bunyi khas gamelan dengan arasemen musik modern menghasilkan karya yang unik.
Di tengah dominasi musik pop, K-pop, dan tren musik yang lebih modern, musik tradisional gamelan justru mencuri perhatian dunia. Kini gamelan tidak hanya terdengar di keraton, upacara adat maupun sanggar seni, tetapi telah menjadi inspirasi musisi global. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya lokal tidak harus bertahan dengan menolak modernitas, tetapi sebaliknya budaya dapat hidup kembali melalui kreativitas dan media digital.
Dari Sanggar ke Layar Digital
Gamelan berkembang di ruang-ruang yang relative terbatas selama puluhan tahun seperti sanggar seni, upacara adat atau kelas ekstrakurikuler dalam dunia pendidikan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa banyak jenis dan ansambel musik tradisional nusantara justru mengalami tren menurun dan terancam dilupakan karena tergerus dengan musik modern. Namun semenjak banyaknya pengguna media sosial dengan berbasis video pendek seperti TikTok, Instagram Reels dan Youtube Short menjadi media baru bagi konten budaya, tren mulai beranjak naik.
Misalnya penelitian tentang komunitas gamelan digital seperti @SALGamelan menunjukkan bahwa dokumentasi konten di media sosial menjadi salah satu ide penting dalam upaya melestarikan kesenian tradisional, khususnya musik gamelan di tengah masyarakat urban.
Pola yang sama juga terlihat pada musik tradional lainnya seperti kolaborasi musik talempong Minangkabau dengan genre modern yang berhasil viral dengan puluhan ribu tayangan dan mendorong penonton muda untuk membuat cover maupun remix yang sama. Fenomena ini disebut peneliti sebagai regenerasi budaya digital. Dan gamelan dengan cara yang berbeda mengalami proses yang serupa lewat dua karya musisi Indonesia yang popular dan meledak di panggung Internasional.
“Lathi”: Ketika Gending Bertemu EDM (Electronic Dance Music)
Salah satu contoh menarik yaitu lagu “Lathi” yang merupakan karya musisi Weird Genius berkolaborasi dengan Sara Fajira yang dirilis pada Februari 2020. Lagu ini menjadi fenomena global karena memadukan musik elektronik (EDM) dengan unsur gamelan, lirik berbahasa Jawa, dan visual budaya tradisional. Liriknya mengangkat petuah Jawa kuno “Ajining diri ana ing lathi” (harga diri seseorang terletak pada ucapannya), dan video klipnya menghadirkan simbol budaya Jawa seperti dalang, wayang kulit, dan kuda lumping.
Hasilnya luar biasa dan mendapat respon yang positif baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Tantangan #Lathichalenge di TikTok menghasilkan ratusan juta tayangan video di seluruh dunia, lagunya bertahan di posisi pertama di Spotify Top 50 Indonesia selama enam minggu berturut-turut, meraih penghargaan Song of The Year di Indonesia Music Award, bahkan mengantarkan Weird Genius sebagai produsernya tampil di Videotron raksasa di Time Square, New York.
Tidak hanya itu, lagu ini mendapat pengakuan internasional karena dinilai berhasil memadukan musik elektronik modern dengan instrumen tradisional dan di cover penyanyi luar negeri.
Keberhasilan Lathi menunjukkan bahwa viralitas di media sosial bukan hanya milik konten hiburan semata, tetapi juga dapat menjadi strategi pelestarian budaya. Ketika jutaan pengguna TikTok menggunakan lagu tersebut sebagai latar belakang video, secara tidak langsung mereka ikut memperkenalkan bunyi gamelan dan budaya Jawa kepada audiens internasional.
“You’ll Be in My Heart Cover”: Lagu Disney Vibe Rasa Jawa
Cerita yang berbeda dengan musisi Niki (Nicole Zefanya), seorang musisi Indonesia yang telah lama berkecimpung di dunia musik internasional. Pada September 2022, Niki mengcover lagu “You’ll be in my heart” yang merupakan salah satu soundtrack Disney yang terkenal. Dalam cover lagu tersebut, Niki menyisipkan instrument gamelan sebagai latar musik yang lembut sehingga memberikan sentuhan nuansa lokal.
Yang menariknya, lagu Niki tidak langsung viral tetapi malah “tertidur” selama sekitar dua tahun sebelum akhirnya meledak sebagai tren TikTok dan Instagram Reels pada awal tahun 2025. Lagu Niki digunakan lebih dari 293 ribu video, sehingga berhasil masuk Top 50 Songs Global di platform Spotify dan puncak tangga lagu Billboard Indonesia.
Kisah ini membuktikan bahwa identitas budaya tidak selalu ditampilkan melalui alat musik tradisional semata, tetapi juga melalui representasi budaya, asal usul dan kebanggaan sebagai musisi Indonesia yang mampu bersaing di kancah global.
Budaya sebagai Kebanggaan, Bukan Beban
Jika “Lathi” menghadirkan budaya Indonesia melalui bunyi dan visual tradisional, maka Niki menunjukkan bahwa musisi Indonesia juga mampu menjadi bagian industri global tanpa kehilangan identitasnya. Keduanya memperlihatkan dua strategi revitalisasi budaya yang berbeda tetapi saling melengkapi: satu mengangkat tradisi secara eksplisit, sementara yang lain memperluas pengaruh Indonesia melalui prestasi di tingkat internasional.
Dalam perspektif komunikasi, media digital telah mengubah cara budaya diproduksi, didistribusikan, dan dikomsumsi. Teori Media Baru menjelaskan bahwa media baru seperti internet memungkinkan masyarakat tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai produsen budaya.
Baca juga: Televisi dalam Perubahan Budaya Menonton di Era Matriks Media Digital
Pengguna platform TikTok, Instagram, Youtube dapat mengolah ulang lagu, membuat konten kreatif, hingga menyebarkan kembali budaya kepada jutaan orang hanya dalam hitungan detik.
Marshall McLuhan melalui konsep “The Medium is Message” juga menjelaskan bahwa media tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi membentuk cara masyarakat memahami budaya. Dalam konteks ini, TikTok bukan hanya tempat mendengarkan musik, melainkan ruang baru tempat gamelan memperoleh makna baru sebagai bagian dari budaya popular.
Selain itu konsep “Glokalisasi (Glocalization)” menjelaskan bagaimana budaya lokal dapat berkembang dalam arus global tanpa kehilangan identitasnya. “Lathi” merupakan contoh nyata bagaimana unsur lokal dipadukan dengan musik elektronik modern sehingga dapat diterima oleh audiens internasional tanpa menghilangkan akar budayanya.
Di sisi lain media sosial juga telah menciptakan kebangkitan minat generasi terhadap musik tradisional. Banyak konten kreator menggabungkan musik tradisional dengan musik modern sehingga budaya lokal tidak lagi dipandanng kuno, tetapi menjadi sesuatu yang menarik. Fenomena ini juga membawa dampak yang lebih luas daripada sekedar tren sesaat.
Ketika jutaan pengguna media sosial di berbagai negara ikut menari, membuat konten, atau sekedar hanya mendengarkan lagu berbalut gamelan, secara tidak langsung mereka juga membentuk asosiasi positif terhadap Indonesia, dan menjadi sebuah bentuk diplomasi budaya.
Penutup: Tradisi yang Terus Mencari Panggung
Pada akhirnya revitalisasi budaya bukan berarti mengembalikan tradisi ke masa lalu, melainkan memberi ruang agar tradisi tetap hidup sesuai perkembangan zaman. Ketika lagu “Lathi” dan “You’ll be in my heart” memberi ruang untuk gamelan, atau ketika jutaan orang menemukan musik Indonesia melalui media digital, sesungguhnya yang sedang terjadi adalah dialog antara budaya lokal dan budaya global.
Di era digital, viral bukan lagi sekedar popularitas. Viral dapat menjadi jalan bagi budaya lokal untuk dikenal dunia. Gamelan mengajarkan bahwa warisan budaya tidak akan punah selama masih ada generasi yang bersedia memberi ruang dan panggung, mengembangkan dan memperkenalkannya melalui medium yang dekat kehidupan masyarakat modern.
Penulis: Ivander Malise Mangasi (2025620005)
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Sahid
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Cultura.id. (2020, 21 Juni). Weird Genius feat. Sara Fajira: Lathi single review. https://www.cultura.id/weird-genius-feat-sara-fajira-lathi
Fitriana, Y. N., Setiansah, M., & Santoso, E. Media Convergence in The Samutri Andaru Laras Gamelan Community in Preserving Traditional Arts. Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Sosial dan Informasi Volume 8. No. 2. (2023), hlm 171-179. http://dx.doi.org/ 10.52423/jikuho.v8i2.21
Kompasiana. (2025, 14 Maret). You’ll be in my heart – NIKI: Sentuhan gamelan di cover OST Tarzan. https://www.kompasiana.com/indikusumahati/67d3d825c925c451833e5d92/you-ll-be-in-my-heart-niki-sentuhan-gamelan-di-cover-ost-tarzan
Aldhe Vishal, & Alrizka Hairi Dilfa. (2025). Pemanfaatan Media Sosial sebagai Regenerasi Musik Tradisional Minangkabau kepada Generasi Muda Melalui Content Creator Musik Tradisi. Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu Seni, Media Dan Desain, 2(6), 34–51. https://doi.org/10.62383/abstrak.v2i6.967
MediaAku. (2025, 27 April). Nicole Zefanya (NIKI) memukau dunia dengan balutan gamelan dalam “You’ll Be in My Heart”. https://mediaaku.com/nicole-zefanya-niki-memukau-dunia-dengan-balutan-gamelan-dalam-youll-be-in-my-heart/
Rudiana, M. (2025). Pemanfaatan Media Baru Dalam Pengembangan Industri Musik Tradisi. Bookchapter ISBI Bandung.
Seasia.co. (2025, 25 November). Lathi: The Indonesian hit blending cultures. https://seasia.co/2025/04/27/lathi-the-indonesian-hit-blending-cultures
Seasia.co. (2026, 12 Februari). NIKI’s viral Disney cover is putting gamelan on the global spotlight. https://seasia.co/2025/05/02/nikis-viral-disney-cover-is-putting-gamelan-on-the-global-spotlight
UNESCO (2021). Gamelan, Another Indonesian Tradition on The UNESCO Representative List.
Yudarta, I. G., & Pasek, I. N. (2015). Revitalisasi Musik Tradisional Prosesi Adat Sasak Sebagai Identitas Budaya Sasak. Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni, 3. https://doi.org/10.31091/sw.v3i0.175
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














