Ilmu dalam Pandangan Hadis

Ilmu dalam Hadis

Rasilah Akmal
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Nabil Basmallah
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Dosen Pengampu: Fitriana, M.A., M.Ed., Ph.D.

BAB I

Pendahuluan

Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan melalui banyak ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW yang mendorong umat Islam untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, menuntut ilmu tidak hanya bertujuan memperoleh pengetahuan duniawi, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setiap muslim diwajibkan mencari ilmu dunia dan akhirat sebagai bekal selama hidup di dunia dan di akhirat. Mencari ilmu dunia dan akhirat merupakan kewajiban bagi setiap muslim karena Nabi Muhammad SAW memerintahkan setiap muslim untuk mencari ilmu Allah dan ilmu pengetahuan yang ada dengan tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan hadis. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia, bukan digunakan untuk merugikan atau merusak kehidupan.

Hadis-hadis Nabi menjelaskan bahwa orang yang berilmu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT dan akan memperoleh berbagai kemuliaan. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik ilmu agama maupun ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti kedokteran, pertanian, matematika, dan teknologi.

Di era modern saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut manusia untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Namun, ilmu yang dimiliki harus disertai nilai-nilai moral dan ajaran agama agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta tidak disalahgunakan untuk hal-hal yang merugikan.

Oleh karena itu, pemahaman mengenai ilmu dalam pandangan hadis sangat penting agar umat Islam memiliki kesadaran untuk terus menuntut ilmu, mengamalkannya, serta menyebarkannya kepada orang lain sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT dan kontribusi bagi kemajuan masyarakat.

BAB II

Keutamaan Ilmu

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang dianugerahi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari No. 71 dan Muslim No. 1037).

Dikutip dalam Syaikh Yusuf An-Nabhani, Ringkasan Riyadhush Shalihin: Mukhtashor Riyadhush Shoolihin (Bandung, 16 September 2006), hlm. 53.

Berdasarkan ayat dan hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa mencari ilmu merupakan amalan yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ilmu agama dan ilmu dunia saling berhubungan sehingga tidak dapat dipertentangkan. Keduanya saling melengkapi dan sama-sama memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

وعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِعَلِيٍّ رضي الله عنه:

“فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ”

“Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui dirimu, maka hal itu lebih baik bagimu daripada memperoleh seekor unta merah.” (HR. Al-Bukhari No. 4210 dan Muslim No. 2406).

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

“بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ”

“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. Tidak mengapa kalian menceritakan kisah Bani Israil. Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari).

Dikutip dalam Syaikh Yusuf An-Nabhani, Ringkasan Riyadhush Shalihin: Mukhtashor Riyadhush Shoolihin (Bandung, 16 September 2006), hlm. 55.

Hadis tersebut menjelaskan bahwa seorang muslim berkewajiban mengajarkan serta menyampaikan ilmu kepada siapa pun dengan benar, tanpa kebohongan dan tanpa tujuan menyesatkan orang lain. Nabi Muhammad SAW sebagai teladan selalu mengajarkan kejujuran, termasuk dalam menyampaikan ilmu dan informasi. Ilmu yang benar dan bermanfaat lebih utama daripada kebohongan yang hanya menguntungkan kepentingan pribadi.

وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

“وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.” (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

وعنه أيضًا رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

“مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا.” (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW juga bersabda, “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim).

Dikutip dalam Syaikh Yusuf An-Nabhani, Ringkasan Riyadhush Shalihin: Mukhtashor Riyadhush Shoolihin (Bandung, 16 September 2006), hlm. 55–56.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa siapa saja yang menempuh jalan untuk mencari ilmu akan dimudahkan jalannya menuju surga oleh Allah SWT. Menempuh jalan tersebut dapat dimaknai secara fisik, yaitu melakukan perjalanan menuju majelis ilmu, maupun secara maknawi, yaitu mencurahkan usaha, waktu, dan kesungguhan dalam belajar. Ilmu yang dimaksud terutama adalah ilmu yang mendekatkan seseorang kepada Allah SWT sehingga menjadi cahaya yang membimbing setiap amal.

Hadis berikutnya menunjukkan bahwa orang yang mengajak kepada kebaikan akan memperoleh pahala yang sama seperti orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Mengajak kepada petunjuk dapat dilakukan dengan mengajarkan ilmu, memberikan nasihat, ataupun menunjukkan jalan menuju kebaikan.

Hukum Ilmu dalam Hadis

Seiring perkembangan zaman, dunia menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Dari aspek sosial, ekonomi, hingga lingkungan, ilmu memiliki peranan penting dalam memberikan jalan keluar terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Islam, melalui hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, memberikan dorongan yang kuat kepada umatnya untuk tidak berhenti menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah No. 224 dari sahabat Anas bin Malik RA; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir No. 3913).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa mencari ilmu bukan hanya pilihan, melainkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim. Keutamaan menuntut ilmu tidak hanya terbatas pada aspek duniawi, tetapi juga memengaruhi kehidupan spiritual. Dalam Islam, ilmu menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seseorang yang berilmu memiliki kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah SWT dibandingkan mereka yang tidak berilmu.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699).

Dengan demikian, menuntut ilmu bukan hanya mengantarkan seseorang pada kesuksesan duniawi, tetapi juga membuka pintu-pintu kebaikan di akhirat. Dalam konteks kehidupan modern, pentingnya menuntut ilmu semakin relevan. Pendidikan menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat yang maju dan beradab.

Dalam Islam, pendidikan tidak hanya mencakup penguasaan pengetahuan teknis, tetapi juga pembentukan karakter dan etika yang mulia. Nabi Muhammad SAW mencontohkan pentingnya mengajarkan ilmu dengan bijaksana, penuh kesabaran, dan kasih sayang sehingga ilmu tidak hanya menjadi alat untuk mencari harta, tetapi juga menjadi jalan memperoleh kedamaian hati dan keberkahan hidup. Banyak hadis menjelaskan keutamaan ilmu dalam berbagai aspek kehidupan (Kusumawati et al., 2023).

Dikutip dalam Muhammad Abdullah Fauzan, Amanah Qurota A’yun, Alfi Nur Azizah, dan Ngatmin Abbas, “Analisis Hadis Keutamaan Ilmu dalam Konteks Pendidikan Islam”, Jurnal Studi Keagamaan Islam, Volume 2 Nomor 4 Tahun 2024, hlm. 11.

Peran Ulama terhadap Ilmu dan Hadis

Dalam Islam, ulama memiliki kedudukan yang sangat mulia karena mereka merupakan pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan harta, melainkan ilmu yang menjadi pedoman hidup umat manusia. Oleh sebab itu, ulama memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga, mengamalkan, serta menyampaikan ilmu kepada masyarakat berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Artinya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut kepada Allah SWT. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula kesadaran akan kebesaran Allah dan semakin baik pula akhlaknya.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya, “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, melainkan mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu tersebut, maka sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kedudukan ulama sangat tinggi karena mereka bertugas melanjutkan perjuangan para nabi dalam menyampaikan ajaran Islam. Tugas tersebut tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam mengamalkan ilmu yang dimiliki.

Peran ulama dalam kehidupan masyarakat antara lain sebagai berikut.

  1. Menyampaikan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.
  2. Memberikan bimbingan kepada masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
  3. Menjaga kemurnian ajaran Islam dari penyimpangan.
  4. Menjadi teladan dalam akhlak, ibadah, dan kehidupan bermasyarakat.
  5. Mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat.

Keberadaan ulama menjadi sangat penting dalam menjaga kesinambungan ilmu pengetahuan Islam. Melalui peran mereka, ajaran Rasulullah SAW dapat terus dipelajari, dipahami, dan diamalkan oleh generasi berikutnya. Oleh karena itu, menghormati ulama dan mengambil ilmu dari mereka merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu.

Dikutip dalam Titin Yuniartin, Achsin Ibad, Indah Darojah, dan Arda Julhusni, Urgensi Ilmu dan Ulama dalam Al-Qur’an dan Hadis: Sebuah Tinjauan Teoritis, Vol. 2, No. 2, Desember 2024.

Hubungan Ilmu Dunia dengan Hadis

Islam tidak membatasi ilmu hanya pada ilmu agama. Segala ilmu yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia merupakan bagian dari anugerah Allah SWT yang patut dipelajari dan dikembangkan. Oleh karena itu, ilmu dunia dan ilmu agama bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi.

Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk terus belajar dan mengambil manfaat dari berbagai bidang ilmu selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Ilmu pengetahuan menjadi sarana untuk memakmurkan bumi, meningkatkan kesejahteraan manusia, serta memperkuat keimanan kepada Allah SWT.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini menunjukkan bahwa umat Islam perlu memiliki kemampuan untuk menguasai berbagai disiplin ilmu. Kemajuan dalam bidang kesehatan, pendidikan, pertanian, ekonomi, teknologi, maupun ilmu sosial merupakan bentuk ikhtiar manusia dalam memanfaatkan akal yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT.

Dalam perspektif hadis, ilmu yang bermanfaat merupakan ilmu yang dapat membawa manusia kepada kebaikan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat. Oleh karena itu, setiap ilmu hendaknya digunakan secara bertanggung jawab serta dilandasi nilai-nilai kejujuran, amanah, dan kemaslahatan.

Ilmu agama berfungsi sebagai pedoman moral dan spiritual, sedangkan ilmu dunia menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Keduanya harus berjalan secara seimbang agar tercipta kehidupan yang harmonis. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan tanpa akhlak berpotensi menyalahgunakan ilmunya, sedangkan semangat beragama tanpa didukung pengetahuan yang memadai dapat menghambat kemajuan.

Dengan demikian, hadis-hadis Nabi Muhammad SAW memberikan landasan bahwa umat Islam harus terus menuntut ilmu dalam berbagai bidang selama ilmu tersebut membawa manfaat. Semakin luas ilmu yang dimiliki, semakin besar pula peluang seseorang untuk memberikan kontribusi positif bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.

Dikutip dalam Suja’i Sarifandi, “Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Hadis Nabi”, Jurnal Ushuluddin, Vol. XXI No. 1, Januari 2014, serta Su’eb, Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Hadis Nabi, Institut Agama Islam Al Khoziny Buduran Sidoarjo, 2020.

BAB III

Penutup

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Menuntut ilmu bukan hanya merupakan anjuran, tetapi juga kewajiban bagi setiap muslim sesuai dengan kapasitas dan kebutuhannya. Ilmu menjadi sarana untuk mengenal Allah SWT, meningkatkan kualitas ibadah, serta membangun kehidupan individu dan masyarakat yang lebih baik.

Hadis-hadis Nabi SAW menunjukkan bahwa orang yang menuntut ilmu akan memperoleh keutamaan dan kemuliaan di sisi Allah SWT, bahkan dimudahkan jalannya menuju surga. Selain itu, mengajarkan dan menyebarkan ilmu kepada orang lain juga merupakan amalan yang pahalanya terus mengalir selama ilmu tersebut memberikan manfaat kepada sesama.

Islam juga memandang ilmu pengetahuan secara menyeluruh, tidak terbatas pada ilmu agama semata, tetapi juga mencakup ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti bahasa, kedokteran, matematika, astronomi, teknologi, dan berbagai bidang ilmu lainnya. Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai bentuk kontribusi terhadap kemajuan peradaban.

Di samping itu, para ulama memiliki peran penting sebagai pewaris para nabi yang bertugas menjaga, mengamalkan, dan menyampaikan ilmu kepada masyarakat. Ilmu yang dimiliki seorang ulama tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga harus melahirkan ketakwaan, akhlak yang mulia, dan tanggung jawab dalam membimbing umat menuju kebenaran.

Dengan demikian, ilmu dalam perspektif hadis merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim, baik untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun keselamatan di akhirat. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya memiliki semangat untuk terus menuntut ilmu, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta menyebarkannya kepada orang lain agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Daftar Pustaka

Imam Nawawi, Syaikh Yusuf An-Nabhani. Ringkasan Riyadhush Shalihin: Mukhtashor Riyadhush Shoolihin. Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006.

Muhammad Abdullah Fauzan, Amanah Qurota A’yun, Alfi Nur Azizah, dan Ngatmin Abbas. “Analisis Hadis Keutamaan Ilmu dalam Konteks Pendidikan Islam.” Jurnal Studi Keagamaan Islam, Vol. 2, No. 4, 2024.

Suja’i Sarifandi. “Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Hadis Nabi.” Jurnal Ushuluddin, Vol. XXI, No. 1, Januari 2014.

Su’eb. Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Hadis Nabi. Institut Agama Islam Al Khoziny Buduran Sidoarjo, 2020.

Titin Yuniartin, Achsin Ibad, Indah Darojah, dan Arda Julhusni. Urgensi Ilmu dan Ulama dalam Al-Qur’an dan Hadis: Sebuah Tinjauan Teoritis. Vol. 2, No. 2, Desember 2024.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses